cover
Contact Name
Febri Arif Cahyo Wibowo
Contact Email
febriarif14@umm.ac.id
Phone
+6282257852386
Journal Mail Official
febriarif14@umm.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang Universitas Muhammadiyah Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Forest Science Avicennia
ISSN : 27227928     EISSN : 26228505     DOI : https://doi.org/10.22219
Core Subject : Agriculture,
Journal of Forest Science Avicennia fokus pada semua bidang tentang kehutanan (Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, Konservasi Sumber Daya Hutan dan Teknologi Hasil Hutan). Jurnal yang sesuai untuk publikasi akan dilakukan proses review.
Articles 110 Documents
Resiliensi dan Dukungan Masyarakat Terhadap Pengelolaan Wisata Alam Selama Pandemi COVID-19: Studi Kasus Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Gumilar, Edwin; Nugroho, Prasetyo
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 6 No. 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v6i2.30038

Abstract

Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan dampak yang sangat besar terhadap pengelolaan wisata, termasuk wisata alam yang melibatkan masyarakat lokal di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pandemi COVID-19 telah menimbulkan guncangan yang besar terhadap aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan tata kelola masyarakat. Berbagai penelitian tentang resiliensi masyarakat terhadap pandemi COVID-19 telah banyak dilakukan, namun penelitian spesifik tentang resiliensi masyarakat penyangga taman nasional yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di TN di negara berkembang masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat resiliensi masyarakat (sosial, ekologi, ekonomi, dan tata kelola masyarakat) dan korelasinya terhadap dukungan pengelolaan wisata alam selama pandemi COVID-19. Secara total, 94 responden terkumpul dan in-depth interview terhadap tokoh kunci telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat resiliensi sosial dan tata kelola termasuk kategori baik, resiliensi ekonomi dan ekologis memiliki kategori sangat baik. Korelasi resiliensi sosial menunjukkan lemah dan negatif, resiliensi tata kelola sedang dan negatif, resiliensi ekonomi dan ekologis menunjukkan sedang dan positif terhadap dukungan pengelolaan wisata alam. Penelitian ini mengkonfirmasi kemungkinan masyarakat untuk menjadi tangguh selama pandemi COVID-19 dan menyiratkan bahwa pemangku kepentingan harus fokus tidak hanya pada aktivitas wisata ditengah pandemi COVID-19 dan alokasi manfaat wisata alam tetapi juga meminimalkan tingkat kerentanan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan resiliensi dan bertransformasi mewujudkan wisata alam yang berkelanjutan.
Karateristik Sifat Fisika Mekanika Papan Laminasi Sengon dan Papan Laminasi Bambu Petung Wulandari, Febriana; Amin, Radjali
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 6 No. 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v6i2.30045

Abstract

Kayu sengon dipilih sebagai bahan baku papan laminasi karena memiliki berat jenis yang ringan sehingga memudahkan proses perekatan dan bambu petung digunakan karena memiliki dinding batang yang tebal dan kuat serta serat yang panjang.  Perekat yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan perekat Polyvinyl Acetat (PVAC) yang memiliki keunggulan antara lain adalah bersih, memiliki waktu penyimpanan tidak terbatas, dan tahan terhadap mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan membandingkan kekuatan fisika dan mekanika antara papan laminasi kayu sengon dengan papan laminasi bambu petung untuk dapat menentukan kelas kuat dari masing-masing papan tersebut berdasarkan standar papan laminasi SNI 03-2105-2006 dan JAS 234-2007. Metode penelitian yang digunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial. Berdasarkan hasil uji statistik analisis keragaman terdapat perbedaan nyata nilai sifat fisika dan mekanika antara papan laminasi kayu sengon dengan papan laminasi bambu petung.  Pengujian sifat fisika dan mekanika papan laminasi bambu petung telah memenuhi SNI 03-2105-2006 dan JAS 234-2007 sedangkan untuk papan laminasi kayu sengon untuk pengujian kerapatan, penyusutan tebal, dan MoR tidak memenuhi standar SNI 03-2105-2006 dan JAS 234-2007. Papan laminasi kayu sengon masuk dalan kelas kuat V yang digunakan untuk pekerjaan yang sifatnya sementara dan papan laminasi bambu petung masuk dalam kelas kuat III untuk keperluan konstruksi ringan yang terlindungi.
Komposisi Jenis Mamalia Dan Kajian Etnozoologi Di Kawasan PBPH PT. Ekosistem Khatulistiwa Lestari Kalimantan Barat: Mammal Species Composition and Ethnozoological Study in the PBPH Area of PT. Ekosistem Khatulistiwa Lestari West Kalimantan Sri Rahmawati; Aryanti, Nirmala Ayu; Hermiandra, Dennis Wara; Wardatutthoyyibah, Wardatutthoyyibah; Ardiansyah, Iqbal Nur; Reynaldy, Andreas Hendra; Naufal, Muhammad Al-Fatih
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.30506

Abstract

Mamalia berperan penting dalam ekosistem, Penurunan keanekaragaman mamalia akibat hilangnya habitat, tingginya gangguan pada habitat dan interaksi antar jenis. Pemilihan habitat oleh mamalia merupakan sifat alami dalam mendukung keberlangsungan hidup dan pengembangan populasi. Pemanfaatan mamalia secara umum oleh manusia berupa konsumsi, komersial, pengobatan, adat dan kesenian. Perbedaan bentuk pemanfaatan merupakan implikasi dari adanya perbedaan etnik, jenis mamalia, dan bagian yang dimanfaatkan. Penelitian dilakukan dua tipe tutupan lahan yaitu hutan mangrove sekunder dan lahan pertanian kering campur semak untuk mengetahui karakteristik dan ethnozoologi mamalia di PT. Ekosistem Khatulistiwa Lestari. Mamalia yang ditemukan sebanyak 15 spesies, pada hutan mangrove enam spesies dan pada lahan pertanian kering campur semak ditemukan 12 spesies, terdiri dari lima spesies kelompok karnivora, tiga spesies kelompok herbivora dan tujuh spesies merupakan kelompok omnivora. H’ sebesar 1<2,15≤3 (sedang), E sebesar 0,3<0,79≤1 (sedang), dan dmg sebesar 2,5<3,13≤4 (sedang). INP hutan mangrove mangrove tingkat tumbuhan bawah tertinggi sebesar 89% (Bakau), pancang sebesar 300% (Bakau), pohon sebesar 199% (Nipah). INP pertanian lah kering campur semak tingkat tumbuhan bawah tertinggi sebesar 98% (Lemidi), pancang sebesar 262% (Buta-Buta), tiang sebesar 143% (Buta-Buta), pohon sebesar 111% (Sengon). Ethnozoologi areal PT. Ekosistem Khatulistiwa Lestari Sui Kubu yaitu konsumsi (39%), komersial (29%), pengobatan (6%), dan koleksi (26%).
Minat Warga dalam Memanfaatkan RTH Saat Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Taman Kota Syech Kukut, Kota Solok) : (Studi Kasus Taman Kota Syech Kukut, Kota Solok) Sapriyadi, Muhammad; Milantara, Noril; Fauzan, Fauzan; Haria Aditia Putra, Teguh; Fakhruzy, Fakhruzy
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.31203

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi wadah bagi warga untuk berkomunikasi dan berbagai aktivitas sosial, namun pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya pembatasan sosial. Beberapa fakta justru menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan bahkan terjadi peningkatan aktivitas masyarakat di RTH pada masa pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi masyarakat memanfaatkan RTH, manfaat RTH yang dirasakan masyarakat, protokol pencegahan Covid-19, dan persepsi masyarakat tentang bahaya Covid-19 terhadap minat warga dalam memanfaatkan RTH. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pengguna Taman Syech Kukut, dengan sampel berjumlah 50 responden yang diambil melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (motivasi, manfaat RTH, pelaksanaan protokol Covid-19 dan persepsi warga terhadap Covid-19) terhadap variabel terikat (minat) baik secara simultan maupun secara parsial. Hasil analisis menunjukkan semua variabel bebas mempengaruhi minat warga dalam memanfaatkan RTH secara simultan, namun secara parsial variabel yang mempengaruhi minat warga dalam memanfaatkan RTH adalah motivasi dan manfaat RTH, sedangkan variabel protokol Covid-19 dan persepsi bahaya Covid-19 tidak mempengaruhi minat warga dalam memanfaatkan RTH.
Perbandingan Sifat Fisika Mekanika Papan Laminasi Bambu Petung dengan Papan Laminasi Kombinasi Kayu Kemiri Bambu Petung dan Kayu Sengon Bambu Petung Sebagai Bahan Konstruksi Wulandari, Febriana
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.31308

Abstract

Guna mengembangkan sifat papan laminasi kombinasi antara kayu maupun bambu perlu dikaji lebih lanjut. Kayu kemiri dan Sengon merupakan jenis kayu yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan baku papan laminasi. Kayu Sengon merupakan salah satu jenis kayu cepat tumbuh Leguminoceae yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan permintaannya di pasaran terus meningkat. Kayu cepat tumbuh memiliki beberapa karakteristik antara lain berdiameter kecil, memiliki kualitas yang rendah, memiliki kandungan kayu juvenil yang lebih banyak, dan menghasilkan kayu dengan jumlah yang lebih sedikit. Kayu Kemiri merupakan jenis kayu ringan, dengan kelas kuat IV dan kelas awet IV-V. Untuk itu peningkatan nilai tambah penggunaan kayu sengon dan kayu kemiri harus terus dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan sifat fisika dan mekanika papan laminasi yang terbuat dari bambu petung, kombinasi kayu kemiri bambu petung dan kombinasi kayu sengon bambu petung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode ekspertimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan tiga perlakuan. Hasil pengujian sifat fisika dan mekanika papan laminasi kombinasi Kemiri Bambu Petung, Sengon Bambu Petung dan papan laminasi bambu petung tidak bepengaruh nyata kecuali pada pengujian kadar air, penyusutan tebal dan MoE berpengaruh nyata. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika dan mekanika maka papan laminasi kombinasi Kemiri Bambu Petung, Sengon Bambu Petung dan papan laminasi bambu petung masuk dalam kelas kuat III dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi berat yang terlindungi dan terjadi peningkatan kelas kuat IV menjadi kelas kuat III setelah dikombinasikan dengan bambu petung menjadi papan lamianasi
Perhutanan Sosial: Pengelolaan Hutan Nagari (HN) Berbasis Masyarakat di Pesisir Selatan: Social Forestry: Community-Based Village Forest Management in Pesisir Selatan District. Irwandi, Ade; Rahman, Fajri
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.31399

Abstract

Ancaman terhadap hutan yang paling sering terjadi bukan hanya deforestasi maupun degrasi hutan, namun ekspansi perusahan kelapa sawit. Di Pesisir Selatan, banyak hutan-hutan gambut sudah menjadi tanaman monokultur kelapa sawit. Sehingga, masyarakat Lunang khawatir dengan hutan mereka akan berubah. Tahun 2016, tokoh masyarakat mulai mengusulkan untuk perlindungan hutan dengan melarang segala aktivitas pengrusakan hutan dan tidak memperbolehkan jual beli lahan di dalam kawasan hutan. Sehingga, pada tahun 2018, hutan mereka menjadi Hutan Nagari (HN) dalam skema Perhutanan Sosial. Hal ini membantu legitimasi terhadap perlindungan, pelestraian hutan dan pengembangan ekonomi masyarakat. Maka dari itu, seperti apa pengelolaan Hutan Nagari di Pondok Parian Lunang dan sejauh apa keterlibatan masyarakat serta dampaknya. Tujuan penelitian untuk menjelaskan seperti apa pengeloaan Hutan Nagari (HN) di Pondok Parian Lunang dalam konsep Perhutanan Sosial atau Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) yang sudah ditetapkan sejak tahun 2018 hingga sekarang. Untuk menjawab pertanyaan, digunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data melalui wawacara mendalam, observasi dan dokumentasi untuk mendapatkan pandangan dari masyarakat. Hasilnya menunjukkan Hutan Nagari terbentuk atas keinginan masyarakat, dengan tujuan perlindungan agar hutan tidak rusak. Hutan merupakan sumber air bagi pertanian sawah masyarakat, jika hutan terganggu maka sumber air mereka juga akan terganggu dan sawah tidak akan bisa digarap. LPHN (Lembaga Pengelola Hutan Nagari) memiliki wewenang dalam pengelolaan hutan, melakukan patroli dan pembentukan KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui kerjasama dengan KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) dan KKI Warsi. Sehingga Hutan Nagari memberikan dampak bukan hanya perlindungan, pelestarian tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
Analisis Kesehatan Pohon di Hutan Kota Selong dan Taman Rinjani Kota Selong Kabupaten Lombok Timur: Analysis of Tree Health in Selong City Forest and Rinjani Park, Selong City, East Lombok Regency Shafwati Munawarah; Latifah, Sitti; Aji, Irwan Mahakam Lesmono
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.31833

Abstract

Abstract The green open spaces of Selong City Forest and Rinjani Park Selong City are areas that are used by the community to support economic, social, sports, and educational activities. The large number of activities carried out in the green open space can affect the health of the trees and it is feared that this will impact the safety of the visitors. This research aims to determine the health condition of trees in the Selong City Forest and Rinjani Park Selong City using the Forest Health Monitoring (FHM) method. Health measurements and assessments were carried out on all trees in the Selong City Forest were in healthy condition with an interval of (0-3,8) totaling 219 trees (93,3%) while for trees in the Rinjani Park Selong City which is in the healthy category with an interval of (-3,19) has 63 trees (90%). This shows that all the trees are in healthy condition both in the Selong City Forest and Rinjani Park, Selong City. Key Words: Tree Health, FHM, Selong City Forest, Rinjani Park Selong City. Abstrak Ruang terbuka hijau Hutan Kota Selong dan Taman Rinjani Kota Selong merupakan kawasan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai penunjang dalam kegiatan ekonomi, sosial, olahraga, dan pendidikan. Banyaknya aktivitas yang dilakukan di RTH tersebut dapat mempengaruhi kesehatan pohon dan dikhawatirkan berdampak terhadap keselamatan pengunjung. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan pohon di Hutan Kota Selong dan Taman Rinjani Kota Selong dengan menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Pengukuran dan penilaian kesehatan dilakukan terhadap seluruh pohon dan pengukuran dilakukan secara sensus dan hasil penelitian menunjukkan pohon di Hutan Kota Selong berada pada kondisi sehat dengan interval sebesar (0–3,8) berjumlah 219 pohon (93,3%) sementara untuk pohon di Taman Rinjani Kota Selong yang berada pada kategori sehat dengan interval sebesar (0–3,19) berjumlah 63 pohon (90%). Hal ini menunjukkan bahwa seluruh pohon berada dalam kondisi sehat baik di Hutan Kota Selong maupun di Taman Rinjani Kota Selong. Kata Kunci : Kesehatan Pohon, FHM, Hutan Kota Selong, Taman Rinjani Kota Selong.
Model Alometrik Penduga Aboveground Biomass Gigantochloa atter di Desa Alu, Kabupaten Polewali Mandar.: Allometric Model to Estimate Aboveground Biomass of Gigantochloa atter in Alu Village, Polewali Mandar Regency. Irundu, Daud; RM, rahmania; Wahyudi; Ritabulan; alviani, Mila
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.32057

Abstract

Biomass allometric models are needed to determine the carcon content absorbed by bamboo plants. There are still many bamboo plants that do not have a local allometric model to estimate their biomass, one of which is Gigantochloa atter bamboo. This research aims to produce an allometric model for estimating the biomass of Gigantochloa atter bamboo found in Alu Village, Polewali Mandar Regency, West Sulawesi Province. Dustructive sampling method of 30 bamboo plants, to obtain wet weight and water content, starting with measuring the diameter and total height. Water content to determine biomass. Biomass, diameter and height values ​​were analyzed by regression to develop allometric models according to predetermined equations. Substitution of measurement values ​​into the allometric equation and data analysis using the coefficient of determination (R2), bias, error index and Mean Square Error Prediction variable scoring method. The scoring results of six models for estimating the biomass of Gigantochloa atter bamboo plants in Alu Village, Polewali Mandar Regency were selected as the best model Y = 0.785+0.011(D2H) with the highest score values ​​including R2 value (0.982), Bias value (0.124), IE value (25.086 ) and MSEP (1.435).
Evaluasi Pertumbuhan Hasil Hutan Bukan Kayu Di Hutan Kemasyarakatan Aik Bual Kabupaten Lombok Tengah: Growth Evaluation of Non-Timber Forest Products in The Aik Bual Community Forest, Central Lombok Regency fadila, mia; Idris, Muhamad Husni; Lesmono Aji, Irwan Mahakam
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.33936

Abstract

The sustainable management of forest resources has become increasingly important, particularly in community-managed forests where non-timber forest products (NTFPs) play a crucial role in local livelihoods and biodiversity conservation. This study aims to identify the types of NTFPs, the density and diversity of vegetation, and the average growth of NTFPs in the Community Forest (HKm) of Aik Bual. The research utilized a descriptive method and was conducted from August to September 2022 on HKm land in Aik Bual Village, Central Lombok, which received enrichment assistance for NTFP plants. The study population consisted of 164 HKm farmers, with an average land ownership of 50-60 ares. The sample used in this study comprised 20 plots managed by farmers. On these plots, a main plot of 25 m x 40 m and subplots of 20 m x 20 m and 10 m x 10 m were established. In the 25 m x 40 m plots, all NTFPs were surveyed, while other vegetation at tree and pole levels was measured in the 20 m x 20 m and 10 m x 10 m subplots. Parameters measured included diameter, height, and vegetation type. The analysis included vegetation diversity, density, dominance index, and NTFP growth. The results showed that there are nine types of NTFPs in the Community Forest of Aik Bual, namely avocado, durian, guava, mango, jackfruit, cocoa, silk cotton tree, melinjo tree, and sapodilla. Additionally, five types of non-wood forest products were identified. The vegetation density at the tree level in HKm Aik Bual was 515 individuals/ha, while at the pole level it was 545 individuals/ha. The highest importance value index (IVI) at the tree level was recorded for rajumas and mahogany, with values of 82% and 78,70%, respectively. At the pole level, durian and avocado had the highest IVI, with values of 123,69% and 70,08%, respectively. The dominance index at the tree level was dominated by rajumas and mahogany with a value of 0,07, while at the pole level, durian dominated with a value of 0,17. The average diameter growth for avocado at ages 1, 4, 5, 10, and 20 years was 1,49 cm/year, 2,42 cm/year, 2,55 cm/year, 1,98 cm/year, and 1,64 cm/year, respectively. For durian, the average diameter growth at these ages was 1,43 cm/year, 2,76 cm/year, 2,35 cm/year, 1,68 cm/year, and 1,71 cm/year. The average height growth for avocado at ages 1, 4, 5, 10, and 20 years was 1,33 m/year, 1,42 m/year, 1,62 m/year, 1 m/year, and 0,60 m/year, respectively. For durian, the average height growth at these ages was 1,24 m/year, 1,39 m/year, 1,50 m/year, 1,07 m/year, and 0,71 m/year. Keywords: NTFS, Growth, Dominance Index, Vegetation Density
Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Jati Plus Perhutani Umur 3 Tahun di KPH Ngawi Sinta Nuriyah; Erni Mukti Rahayu; Mochammad Chanan
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 7 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v7i1.36067

Abstract

Pertumbuhan pohon dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya jarak tanam. Jarak tanam mampu memberikan ruang tumbuh untuk proses perkembangannya yang berpengaruh pada kemampuan menyerap unsur hara dan memperoleh cahaya matahari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan klon Jati Plus Perhutani. Penelitian dilakukan di Resort Pengelolaan Hutan Kricak, Kesatuan Pengelolaan Hutan Ngawi, pada tanaman Jati Plus Perhutani berumur 3 tahun. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan jarak tanam yang diuji yaitu 3x3m, 6x6m, 8x4m, dan 8x6m dengan pengulangan sebanyak lima kali. Indikator penelitian diantaranya diameter pohon, tinggi total, diameter tajuk serta dilakukan perhitungan riap diameter pohon. Hasil menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh signifikan terhadap diameter pohon, tinggi total, diameter tajuk dan riap pertumbuhan diameter. Diameter pohon terbaik pada jarak tanam 8x6m sebesar17,96 cm. Diameter tajuk terbaik pada jarak 8x6 m yakni sebesar 4,94 m. Sementara itu jarak tanam 8x4 menghasilkan perlakuan tertinggi berdasarkan tinggi total pohon sebesar 12,29 m. Terjadi fluktuasi pada pertumbuhan Mean Annual Increment (MAI) namun terjadi peningkatan pertumbuhan pada Current Annual Increment (CAI). Pertumbuhan riap diameter pohon paling optimal terjadi pada perlakuan jarak 8x6m baik itu berdasarkan MAI sebesar 4,96 cm/tahun maupun CAI sebesar 5,38 cm/tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa jarak tanam berperan penting dalam meningkatkan pertmbuhan jati plus perhutani secara optimal.

Page 11 of 11 | Total Record : 110