cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2: Januari 2024" : 11 Documents clear
Memaknai Konsep Firman Menjadi Manusia dalam Bingkai Resiliensi Iman Kristen: Studi Eksegesis Yohanes 1:14 Susanto Dwiraharjo
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i2.59

Abstract

The various perspectives on Christology often create confusion among the people of God. Each perspective presents different arguments, making conducting a biblical study necessary. Therefore, this paper attempts to provide an answer based on the foundations of the Bible. The method employed is exegesis. Exegesis is a method of interpreting the Bible that emphasizes an approach with various analyses using the original language of the Bible as its primary foundation. Thus, it is hoped that a biblical truth will be obtained to address the abovementioned perspectives.  AbstrakAdanya berbagai pandangan tentang Kristologi seringkali menimbulkan kebingungan bagi umat Tuhan. Masing-masing pandangan memberi argumentasi yang berbeda-beda. Berkenaan dengan itu diperlukan suatu kajian Alkitabiah terkait hal tersebut. Oleh karena itu, makalah ini mencoba memberi suatu jawaban yang didasarkan pada dasar-dasar Alkitab. Metode yang digunakan adalah eksegesis. Eksegesis adalah metode tafsir Alkitab yang mengedepankan pendekatan dengan berbagai analisis dengan bahasa asli Alkitab sebagai dasar utamanya. Dengan demikian diharapkan nanti akan mendapat suatu kebenaran Alkitabiah yang dapat memberi jawaban atas berbagai pandangan di atas.  
Berjumpa Kemajemukan dalam Ruang Virtual: Upaya Membangun Toleransi melalui Pendidikan Kristen Hakmoni Daud Parhusip; Yohanes Joko Saptono
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.203

Abstract

This article investigates and describes the role of virtual space in dealing with religious pluralism in the context of Christian religious education. Considering digital technology's advanced and massive development, virtual space has become an essential platform for interfaith interaction. Both as broadcasting and spiritual formation, but the main focus is on how individuals and Christian communities use virtual space to promote tolerance and mutual respect as the basis of social life and, of course, as an understanding of various beliefs through a descriptive qualitative method with a study approach and literature review. This journal article analyzes the strategies and practices used by Christian communities in facing the challenges of religious pluralism in virtual space. The results show the importance of inclusive approaches and inter-religious dialog in building tolerance and respect amidst the challenges of a fast-paced era full of modern technological sophistication. The practical and theoretical implications of the findings are discussed, as well as recommendations for developing Christian religious education that is more adaptive to the increasingly complex realities of virtual space.  AbstrakArtikel ini menginvestigasi dan mendeskripsikan peran ruang virtual dalam menghadapi kemajemukan agama dalam konteks pendidikan agama Kristen. Menilik semakin maju dan massifnya perkembangan teknologi digital, ruang virtual menjadi platform penting bagi interaksi lintas agama. Baik sebagai siar maupun pembinaan rohani, namjun fokus utama adalah bagaimana personal maupun komunitas kekristenan menggunakan ruang virtual untuk mempromosikan toleransi dan saling menghargai sebagai dasar dari hidup bermasyarakat, tentunya hal itu sebagai pengertian di antara berbagai kepercayaan. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi dan tinjauan literatur. Maka artikel jurnal ini menganalisis strategi dan praktek yang digunakan oleh komunitas Kristen dalam menghadapi tantangan kemajemukan agama dalam ruang virtual. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya pendekatan inklusif dan dialog antar-agama dalam membangun toleransi dan bentyuk menghargai yang kokoh di tengah tantangan zaman yang cepat penuh dengan kecanggihan teknologi yang modern. Implikasi praktis dan teoritis dari temuan ini dibahas, serta rekomendasi untuk pengembangan pendidikan agama Kristen yang lebih adaptif terhadap realitas ruang virtual yang semakin kompleks.  
Foso Rumages Um Banua: Fungsi Pastoral Memelihara Nilai Religius Tradisi Pengucapan Syukur di Minahasa Ruty Jacoba Kapoh; Evi Kapoh; Andries Yosua; Timotius Tan; Buyung Kosaputera
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.200

Abstract

Thanksgiving is a prevalent tradition among the Minahasa tribe. It is a tradition carried out in the middle of the year when the harvest season arrives. This tradition is carried out with pure intentions as a form of gratitude to God for blessing the harvest. As time goes by, the implementation of thanksgiving increasingly experiences a shift in meaning. Its implementation is characterized by eating and drinking parties that cost a lot of money. This can cause economic problems in the family. It often causes negative things for young people, and social conflicts can also occur. This research aims to explain and describe the function of pastoral care in preserving religious values in the tradition of thanksgiving in Minahasa. The method used is descriptive qualitative based on phenomenology. Data was obtained through in-depth interviews with traditional leaders, religious leaders, cultural observers, researchers, and researchers as critical instruments. The research results concluded that the meaning of implementing the tradition of giving thanks has experienced a shift. For this reason, this research recommends that churches create creative and targeted programs to increase understanding and awareness of the people so that the religious values in this tradition will not be lost. The church and government need to work together to hold programs to educate the public.  AbstrakTradisi Pengucapan Syukur adalah tradisi yang sangat populer di suku Minahasa. Sebuah tradisi yang dilakukan pada pertengahan tahun ketika musim panen tiba. Tradisi ini dilakukan dengan niat yang murni sebagai bentuk syukur kepada Tuhan karena sudah memberkati hasil panen. Seiring waktu berjalan pelaksanaan pengucapan syukur semakin mengalami pergeseran makna. Saat ini pelaksanaannya diwarnai dengan pesta makan minum yang menghabiskan uang banyak. Hal ini dapat menimbulkan masalah ekonomi dalam keluarga. Tidak jarang menimbulkan hal-hal yang negatif bagi kaum muda dan konflik sosial juga bisa terjadi dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan fungsi pelayanan pastoral untuk melestarikan nilai religi dalam tradisi pengucapan syukur di Minahasa. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berbasis fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, pemerhati dan peneliti budaya dan peneliti sendiri sebagai instrumen kunci. Hasil penelitian yang ditemukan disimpulkan bahwa makna pelaksanaan tradisi pengucapan syukur telah mengalami pergeseran. Untuk itu, penelitian ini merekomendasikan kepada gereja untuk membuat program kreatif dan tepat sasaran agar dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat sehingga nilai religius dalam tradisi ini tidak akan hilang. Gereja dan pemerintah perlu bekerja sama dalam mengadakan program-program untuk mengedukasi masyarakat.  
Membumikan Injil: Menjangkau Generasi Milenial dengan Pesan Injil yang Relevan Pontus Sitorus
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.179

Abstract

This article narrates the importance of presenting a relevant gospel message in responding to the millennial generation's spiritual needs and challenges. In an era dominated by the rapid advancement of technology and massive information in all lifelines, millennials often face uncertainty, difficulty understanding life's meaning, and the search for a clear identity and purpose due to the amount of false content and information spread in the digital world. Therefore, churches and spiritual leaders need to understand the context of habits and values believed by this generation. Grounding the gospel so that it can be adjusted to deliver the gospel message without reducing the substance, essence, and norms of the truth of God's word. By utilizing language, media, and communication formats relevant to the millennial generation, churches can build strong relationships and empower them to live meaningful lives based on the teachings of Christ. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the church's role in grounding the gospel to reach the millennial generation with relevant gospel messages is necessary to understand the nature and importance of preaching the gospel to Christianity. This aims to equip it to reach the millennial generation and its existing challenges so that actualization in grounding the gospel can be accepted. It also uses evangelization strategies for the relevant Millennial generation. AbstrakArtikel ini menarasikan pentingnya menghadirkan pesan Injil yang relevan dalam merespons kebutuhan kerohanian dan tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial. Dalam era yang didominasi oleh pesatnya kemajuan teknologi dan informasi yang masif disegala lini kehidupan, generasi milenial sering kali menghadapi ketidakpastian, kesulitan dalam memahami makna hidup, dan pencarian akan identitas serta tujuan yang jelas. Akibat banyaknya konten dan informasi palsu yang tersebar di dunia digital. Oleh karena itu, penting bagi gereja dan pemimpin rohani untuk memahami konteks habit dan nilai-nilai yang diyakini oleh generasi ini. Membumikan Injil agar dapat penyesuaian dalam penyampaian pesan Injil, tanpa mengurangi substansi dan esensi serta norma kebenaran firman Tuhan. Dengan memanfaatkan bahasa, media, dan format komunikasi yang relevan dengan generasi milenial, gereja dapat membangun hubungan yang kuat dan memberdayakan mereka untuk menjalani kehidupan yang bermakna berdasarkan ajaran Kristus. Mengunakan Metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkana bahwa peran gereja dalam membumikan injil sebagai usaha untuk menjangkau generasi milenial dengan pesan injil yang relevan, maka diperlukan pemahaman terkait hakikat dan Pentingnya memberitakan Injil kepada kekristenan. Hal ini bertujuan memperlangkapi sehingga dapat menjangkau generasi milenial dan tantangannya yang ada supaya aktualisasi dalam membumikan Injil dapat diterima. Dan hal itu memang menggunkan strategi penginjilan bagi generasi Milenial yang relevan.   
Meningkatkan Kualitas Pendidikan Kristiani Melalui Reorientasi Nilai Pendidikan David Raynold Partogi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.202

Abstract

Education is the bridge to a better society. Through education, prosperity can be achieved. As such, individuals from all walks of life are actively encouraged to pursue education. However, problems arise as education is now certificate-oriented. The orientation of education towards certificates means pushing education towards learning outcomes. Education focuses on certificates and prioritizes the product's quality, namely the students' ability. Thus, education is currently considered to have experienced disorientation. Disorientation in education occurs due to various problem factors, such as uneven quality levels in each education unit and college, passive students, poor learning systems, the role of teachers in learning, and others. To solve the problem, the subject of education must understand the role and needs of each subject of education. Thus, the issue of disorientation in Indonesian education can be overcome properly.   AbstrakPendidikan adalah jembatan dalam pencapaian mayarakat yang lebih baik. Melalui pendidikan, kesejahteraan dapat tercapai. Karena itu, setiap individu dari berbagai lapisan masyarakat aktif didorong untuk menempuh pendidikan. Namun, masalah muncul seperti pendidikan kini berorientasi pada sertifikat (certificate oriented). Orientasi pendidikan terhadap ijazah berarti mendorong pendidikan kepada hasil pembelajaran. Padahal, pendidikan tidak hanya fokus pada sertifikat, melainkan mengutamakan kualitas produk, yakni kemampuan dari peserta didik. Sehingga, pendidikan saat ini dinilai telah mengalami disorietasi. Disorientasi dalam pendidikan terjadi karena berbagai faktor masalah, seperti: tingkat kualitas yang belum merata pada setiap satuan pendidikan dan perguruan tinggi, peserta didik yang pasif, sistem pembelajaran yang tidak baik, peran guru dalam pembelajaran, dan lain-lain. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka subjek pendidikan harus memahami peran dan kebutuhan dari masing-masing subjek pendidikan. Sehingga, dengan demikian masalah disorientasi dalam pendidikan Indonesia dapat diatasi dengan baik. 
Mengkaji Pinjaman Online dalam Perspektif Amsal 22:7 Viona Wong; Martina Novalina; Esther Natasaputera
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.198

Abstract

Debt is one option to save your financial situation, or what is known as 'digging a hole and closing a hole.' Poor financial conditions do not allow a person to pay off previous debts, thereby increasing the tendency to borrow new debts to pay old debts. This condition ultimately gave rise to a phenomenon related to online loans. This article wants to discuss debt from a Christian perspective. Using a qualitative approach through literature study, it was found that the Bible teaches good and reasonable financial advice, emphasizing that predatory loans and taking advantage of the poor are enticements that must be avoided. In Christianity, the basis for the practice of debt and receivables for Christians is love and justice. AbstrakUtang menjadi salah satu opsi untuk menyelamatkan keadaan finansial, atau dikenal dengan istilah ‘gali lubang tutup lubang’. Keadaan finansial yang buruk tidak memungkinkan seseorang untuk membayar utang sebelumnya, sehingga meningkatkan kecenderungan untuk meminjam utang baru untuk membayar utang lama. Kondisi ini akhirnya memunculkan fenomena yang terkait dengan pinjaman online. Artikel ini ingin membahas utang dari perspektif kekristenan. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur didapati bahwa Amsal 22:7 mengajarkan nasihat keuangan yang baik dan masuk akal, yang menegaskan bahwa pinjaman yang bersifat predator dan mengambil keuntungan dari orang miskin merupakan suatu bujukan yang harus dihindari. Dalam kekristenan dasar praktik utang piutang bagi orang kristen adalah kasih dan keadilan.  
Kesetaraan Gender dan Panggilan Perempuan dalam Pemberitaan Injil Ardianto Lahagu; Fredy Simanjuntak; Uswatun Hasanah; Jabes Pasaribu
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.196

Abstract

Even though the patriarchal cultural system is still inherent in Indonesia, especially in Christian society, which shows the dominant centrality of men in the Church and family, this research reveals the phenomenon of an increasing tendency for women to become more religious. In carrying out religious responsibilities, such as attendance at weekly services, daily prayer, witnessing, and preaching the Gospel in the family, women are exposed to gender disparities related to patriarchal traditions. This article aims to discover God's intended design for women as equal partners in preaching the Gospel by exploring women's responses to their call to preach the Gospel in the context of gender equality amidst men's function as priests in the family; preaching the Gospel is considered to continue. The author uses a qualitative approach through Phenomenological Studies. The research results highlight factors such as gender equality, which cannot be separated from the Bible, the reality of the rise of women as one of the church's strengths in ecclesiastical vocations, and gender responsibility as an essential element in designing women's roles in preaching the Gospel. AbstrakMeskipun sistem kebudayaan patriarki masih melekat di Indonesia, khususnya dalam masyarakat Kristen yang menunjukkan dominasi sentralitas laki-laki di Gereja dan keluarga, penelitian ini mengungkap fenomena peningkatan kecenderungan perempuan menjadi lebih religius. Dalam menjalankan tanggung jawab kewajiban religious (keagamaan), seperti kehadiran dalam pelayanan mingguan, doa harian, bersaksi, dan memberitakan Injil dalam keluarga, memperhadapkan perempuan pada kesenjangan gender yang terkait dengan tradisi patriarki. Artikel ini bertujuan untuk menemukan desain yang dimaksudkan Allah untuk perempuan sebagai mitra setara dalam pemberitaan Injil, dengan menggali respons kaum perempuan terhadap panggilan mereka dalam pemberitaan Injil dalam gugus kesetaraan gender ditengah fungsi laki-laki sebagai imam di keluarga, pemberitaan Injil dianggap tetap harus berlanjut. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif melalui Studi Fenomenologi. Hasil penelitian menyoroti faktor-faktor seperti kesetaraan gender yang tidak dapat dipisahkan dalam pandangan Alkitab, realitas kebangkitan perempuan sebagai salah satu kekuatan gereja dalam panggilan gerejawi, dan tanggung jawab gender sebagai elemen penting dalam merancang peran perempuan dalam pemberitaan Injil. 
Profil Pelajar Pancasila dalam Perspektif Pendidikan Kristiani: Sebuah Studi tentang Penguatan Karakter Siswa Saturnina Elisa; Reni Triposa; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.197

Abstract

In the implementation of the Pancasila student profile, the subject of civic education serves as a character education process for students within the learning framework. This theory aids students in understanding and applying the values of the Pancasila student profile in their lives. The author employs a literature review method in this study. The discussion in this study concludes that the Pancasila student profile can be implemented in Christian education. This is done to ascertain and develop the Pancasila Student Profile in the students' characters, providing an essential understanding through Christian education. Exemplary attitudes and guidance play a crucial role in effectively imparting understanding to students and enhancing their character. AbstrakDalam implementasi profil pelajar pancasila pelajaran PAK merupakan suatu proses peserta didik dalam pendidikan karakter untuk membentuk pertumbuhan karakter dengan penanaman nilai-nilai profil pelajar Pancasila sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan di sekolah dasar yaitu kurikulum merdeka belajar, melalui teori tersebut membantu peserta didik dapat memahami, mengerti, dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan peserta didik sehingga peserta didik mengalami pertumbuhan karakter yang baik. Penulis menggunakan metode pustaka dalam kajian ini. Pendidikan karakter peserta didik dalam suatu proses pembelajaran yang dilaksanakan, melalui teori tersebut membantu peserta didik dapat mengerti dan dapat mengaplikasikannya sesuai dengan nilai-nilai profil pelajar pancasila dalam kehidupan peserta didik. Penulis menggunakan metode pustaka dalam kajian ini. Uraian dari kajian ini menyimpulkan profil pelajar pancasila dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Hal ini dilakukan untuk mengetahui memperhatikan, dan mengembangkan profil pelajar Pancasila terhadap karakter peserta didik serta memberi pemahaman penting melalui proses Pendidikan Agama Kristen, sikap keteladanan dan bimbingan dalam memberikan pemahaman secara efektif kepada peserta didik. Nilai-nilai yang diimplementasikan tersebut suatu nilai yang sudah diatur dan disusun serta diusahakan kepada peserta didik agar peserta didik mengalami suatu perubahan dalam proses pembelajaran terutama pada karakter peserta didik.  
Menyikapi Toxic Masculinity melalui Fenomenologi Merleau Ponty Riko Silaen; Albertus Daniel Simanungkalit; Erastus Sabdono; Stephanie Erastus; Jemy Saleky Combi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.204

Abstract

Toxic Masculinity is a problem that is rooted in false rationalization. This rationalization becomes crystallization since the masses agree on it together. As a result, it becomes an objective view and lifestyle. The Apostle Paul proclaimed equality in this regard, of course, equality when living in Jesus Christ. This is the foundation for those of us who believe in Him. However, this equality must be felt and experienced. This research uses a library research method with a qualitative approach. Merleau Ponty's phenomenology invites you to feel that feeling "sense," not to replace that feeling, but to accept it and then exist. Because individuals have bodies, the body is directed at "being in the world," and we must "be in the world."  AbstrakToxic Masculinity merupakan permasalahan yang berakar dari rasionalisasi keliru. Rasionalisasi tersebut menjadi kristalisasi, semenjak massa menyepakatinya bersama, alhasil itu menjadi pandangan dan gaya hidup yang objektif. Rasul Paulus mengumandakan akan kesetaraan terkait hal ini, tentunya kesetaraan ketika hidup di dalam Yesus Kristus. Ini menjadi landasan bagi kita yang beriman padaNya. Namun, kesetaraan tersebut harus dirasakan dan dialami. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan atau library research, dengan pendekatan kualitatif. Fenomenologi Merleau Ponty mengajak untuk merasakan rasa itu “sense”, bukan untuk mengganti rasa itu, tetapi menerima kemudian bereksistensi. Karena individu memiliki tubuh; tubuh tersebut terarah “ber ada-di-dunia” dan kita harus “meng ada-di-dunia”.  
Kepemimpinan Teokrasi dan Spiritualitas Kesetaraan: Sebuah Studi Teologis Kepemimpinan Kristiani dalam Keluaran Okto Sinariyo; Susiana Susiana; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.199

Abstract

This article investigates the concept of theocracy in the Bible's Book of Exodus and its impact on ideas of justice and leadership in today's context. This research analyzes in depth the narratives in the Book of Exodus, which highlight the relationship between God and the Israelites and how this concept shaped the structure of power and leadership in Israeli society at that time. Through literature analysis and text criticism, this journal reveals that the concept of theocracy in the Book of Exodus significantly impacts views of justice and leadership. The closeness between God and Israelite society is explained as the moral basis for the authority of the government and leaders. Apart from that, this research also explores the implications of this theocracy concept for the current context. By considering the principles of theocracy in the Bible, this journal provides a perspective that can be applied to discussions of justice and leadership in contemporary society. This journal aims to explore a deeper understanding of the concept of theocracy in the Bible and how this understanding can contribute to discussions of justice and leadership in today's society. AbstrakArtikel ini menyelidiki konsep teokrasi yang terdapat dalam Kitab Keluaran dari Alkitab dan dampaknya terhadap gagasan keadilan dan kepemimpinan dalam konteks masa kini. Penelitian ini menganalisis secara mendalam narasi-narasi dalam Kitab Keluaran yang menyoroti hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel, serta bagaimana konsep ini membentuk struktur kekuasaan dan kepemimpinan dalam masyarakat Israel pada masa itu. Melalui analisis literatur dan kritik teks, jurnal ini mengungkapkan bahwa konsep teokrasi dalam Kitab Keluaran memiliki dampak yang signifikan pada pandangan keadilan dan kepemimpinan. Kedekatan antara Tuhan dan masyarakat Israel dijelaskan sebagai landasan moral bagi otoritas pemerintah dan pemimpin. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi implikasi dari konsep teokrasi ini terhadap konteks masa kini. Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip teokrasi yang terdapat dalam Alkitab, jurnal ini memberikan perspektif yang dapat diterapkan dalam pembahasan tentang keadilan dan kepemimpinan dalam masyarakat kontemporer. Jurnal ini bertujuan untuk menggali pemahaman lebih dalam tentang konsep teokrasi dalam Alkitab dan bagaimana pemahaman ini dapat memberikan kontribusi konstruktif terhadap diskusi keadilan dan kepemimpinan dalam masyarakat saat ini. 

Page 1 of 2 | Total Record : 11