cover
Contact Name
meddyan heriadi
Contact Email
meddyanheriadi@gmail.com
Phone
+6281279687634
Journal Mail Official
meddyanheriadi@gmail.com
Editorial Address
Pascasarjana IAIN Bengkulu. Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Kota Bengkulu » Tel / fax : 081271987140 /
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v5i1
Jurnal ini berfokus pada filsafat dan pemikiran islam. Jurnal ini diterbitkan oleh prodi Filsafat Agama S2 Pascasarjana IAIN Bengkulu. Tujuan dari pendirian jurnal ini adalah untuk menjadi sarana publikasi karya tuis ilmiah khususnya di bidang filsafat dan pemikiran islam.
Articles 90 Documents
Perkawinan Pada Masyarakat Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara). Sigit Susanto
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5179

Abstract

 Perkembangan sosial budaya di Kabupaten Bengkulu Utara khususnya di wilayah kecamatan Padang Jaya, secara tidak langsung berdampak pada pola fikir dan gaya hidup diantaranya munculnya masalah sosial seperti Mabuk  (minum), Maen (berjudi), Maling (mencuri), Madon (berzina) dan madat (minum candu/ obat-obat terlarang). Perilaku Molimo mendorong masyarakat untuk berbuat kurang baik, berakibat terjadinya perselisihan rumah tangga dan berujung kepada perceraian. Upaya memaknai nilai falsafah Molimo dan mengimplementasikan dalam bentuk penasehatan perkawinan guna mencegah perceraian. Teknik Penyusunan Tesis ini menggunakan penelitian lapangan (file research). Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dukementasi dan wawancara, dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Teknik analisis data mencakup tiga hal reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Makna falsafah molimo di Kecamatan Padang Jaya sebagai rambu-rambu dalam kehidupan dan sebagai media penyadar di pada masyarakat Padang Jaya. Perbuatan Molimo muncul di Padang Jaya dibagi tiga fase, pertama sejak tahun 1977 sampai tahun 1990 bahwa perbuatan Molimo di Kecamatan Padang Jaya didasari ekonomi masyarakat yang lemah, kedua fase pertengahan dari tahun 1990 sampai 2010 dijelaskan bahwa perbuata Molimo dilatarbelakangi oleh masuknya budaya baru dan mulai bangkitnya ekonomi masyarakat Padang Jaya. Fase ke tiga dari tahun 2010 sampai sekarang bahwa perbuatan Molimo di Kecamatan Padang Jaya di sebabkan oleh pengaruh media social, masukkanya pola fikir dan budaya baru dari perkotaan dan lembahnya pemahaman budaya serta nilai keagamanaan di masyarakat. Implementasi falsafah molimo pada masyarakat Padang Jaya dalam penasehatan perkawinan pra nikah dan pasca nikah dengan memasukkan nilai-nilai falsafah Molimo menjadi bagian materi yang diberikan kepada pasangan bermasalah rumah tangga disebabkan perbuatan Molimo dan dikonsultasikan ke KUA Kecamatan Padang Jaya. Hal ini bertujuan menjadikan pintu masuk dalam memberikan pemahaman kepada pasangan suami isteri yang bermasalah, untuk kembali memperbaiki rumah tangganya dan tercegah dari perceraian.  
Tasawuf Junaid Al-Baghdadi dan implikasinya di Era Kontemporer Atika Yulanda; Ario Putra
Manthiq Vol 5, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v5i2.4386

Abstract

 Seiring dengan perkembangan zaman, manusia akan mengalami perkembangan dari hari ke hari. Ini dapat diartikan bahwa setiap perbuatan manusia akan dipengaruhi oleh setiap pengetahuan yang datang. Jika mereka tidak mampu menilai dan memilah mana yang sesuai dengan ajaran Islam maka akan membawa kepada kesesatan. Selain itu, manusia dituntut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah agar tidak keluar dari nilai-nilai ajaran agama. Upaya untuk mendekatkan diri ini dinamakan dengan ajaran tasawuf. Dalam tasawuf terdapat nilai-nilai bagaimana manusia berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam tasawuf juga terdapat maqam-maqam dan hal ihwal yang menjadi titik poin dalam tasawuf. Ajaran tasawuf sebagian besar berbicara terkait dengan fana dan baqa, zuhud dan lainnya. Jika mereka mengikuti ajaran dan nilai-nilai dalam tasawuf maka akan membawa kepada kebaikan. Salah seorang sufi yang mencurahkan pemikirannya dalam masalah tasawuf yaitu Junaid al-Baghdadi. Seorang sufi yang berasal dari Baghdad dan sufi yang sangat cerdas serta mendekatkan diri kepada Allah. Masalah dalam penelitian  ini adalah: a). Bagaimana tasawuf dalam pandangan Junaid al-Baghdadi? b). Bagaimana Implikasi nilai-nilai tasawuf Junaid al-Baghdadi di Era modern? Metode penelitian dalam tulisan ini adalah library Research atau studi kepustakaan. Kesimpulan dari riset ini adalah Junaid al-Baghdadi adalah seorang sufi yang moderat serta dalam ajaran tasawufnya lebih menekankan kepada syariat. Tasawuf menurut Junaid harus sesuai dan selaras dengan ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, konsep tauhid Junaid al-Baghdadi berdasarkan kepada kefanaan. Fana disini berarti melenyapkan sifat-sifat duniawi dan menfokuskan kepada sifat-sifat akhirat supaya bisa dekat dengan Tuhan. Tauhid yang dibangun oleh Junaid berupaya untuk mengesakan Tuhan serta harus konsisten untuk mentauhidkan Allah baik dari dahulu sampai sekarang. Tauhid menurutnya berarti mengesakan Allah, hanya Allah yang tidak terbatas serta berbeda dengan makhluk-Nya. tauhid disini berarti pemisahan antara yang qadim dengan yang hudus. Oleh karena itu, pemikiran seperti ini yang mengantarkan Junaid sebagai sufi yang berlandaskan kepada syariat Islam al-Qur’an dan Sunnah. Kata Kunci: Tasawuf, Junaid al-Baghdadi, Kehidupan Modern.
Nilai-nilai Filosofis dalam Memperingati Upacara Hari Kematian dalam Tradisi Jawa Ditinjau dari Aspek Sosial (STUDI DI AIR BANAI KECAMATAN HULU PALIK KABUPATEN BENGKULU UTARA). Satimin Satimin
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5180

Abstract

 Nilai Filosofis yang terkandung dalam setiap tahapan ritual untuk memperingati hari kematian dalam tradisi jawa apabila dilihat dari aspek sosial, adat, kebudayan dan syari’at Islam di desa Air Banai kecamatan Hulu Palik Kabupaten Bengkulu Utara masih sangat kental, masyarakat saling berkontribusi untuk menjaga budaya dengan baik. rumusan masalah yang menjadi pokok pembahasan dalam karya tulis ini ialah, sebagai berikut:a). Bagaimana Kajian nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara hari kematian pada tradisi jawa ditinjau dari aspek sosial? b). Bagaimana akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari aspek sosial? Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a). Untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara hari kematian pada tradisi jawa ditinjau dari aspek sosial; b). Untuk mengetahui bagaimana proses akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari aspek social. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu: a). Observasi ). Metode dokumentasi c). Intervie. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara hari kematian pada tradisi jawa ditinjau dari aspek sosial merupakan wujud terima kasiah kepada Tuhan Yang Maha Esa, perwujudan sikap hormat, perwujudan sikap keseimbangan sosial, Selain itu terdapat nilai filosofis yang terkandung dalam simbol yang dibutuhkan dalam ritual yaitu: Kembang tujuh rupa, bunga jutuh rupa melambangkan agar kehidupan manusia senantiasa mendapat pitulungan (pertolongan) dari Allah SWT. minyak wangi ialah melambangkan permohonan dari keharuman, filosofi minuman ini ialah bahwa air sebagai sumber kehidupan manusia, jadi manusia harus bisa irit dalam menggunakan air secara arif dan bijak, kinangan ialah menciptakan kehidupan yang bahagia, kemantapan dalam bertindak dan bubur merah dan bubur putih ialah jenang itu sebagai gambaran asal mulanya manusia. Sehingga Masyarakat dalam memperingati hari kematian, agar keluarga yang ditinggalkan hidup aman, bahagia dan tenteram.                
Epistemologi Al-Ghazali tentang Ilmu Laduni dalam Kitab Risalah Al-Laduniyyah. Ernia Sapitri
Manthiq Vol 5, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v5i2.4387

Abstract

Konsep epistemologi Al-Ghazali yang tertuang dalam kitab Risalah Al-Laduniyyah, bahwa ilmu secara epistemologi terbagi menjadi dua sumber penggalian yaitu: sumber insaniyyah dan sumber rabaniyyah. Kemudian epistemologi Al-Ghazali tentang ilmu laduni dalam kitab Risalah Al-Laduniyyah ini, bagian pertama membahas ilmu syar’i yang mengkaji dalil-dalil syar’i yang bersumber dari al-qur’an dan hadis, yang termasuk bidang ilmu ini, yaitu: ilmu ushul dan ilmu furu’. Bagian yang kedua, membahas ilmu ‘aqli (rasional) yang menguraikan ilmu yang dihasilkan dari kemampuan akal manusia dalam menginterpretasikan merekayasa objek yang diamatinya, yang termasuk dalam bidang ilmu ini, yaitu: ilmu logika dan matematika, ilmu alam, dan pandangan terhadap yang maujud. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa historis faktual mengenai teks naskah. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Epistemologi Al-Ghazali tentang Ilmu Laduni dalam Kitab Risalah Al-Laduniyyah. Analisis teks bertujuan menggambarkan struktur dan konten untuk memahami teks dari kitab yang diteliti. Dalam penelitian ini, penulis akan melakukan pendekatan pustaka (library research) sedangkan metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil riset ini dapat disimpulkan bahwa, konsep epistemologi Al-Ghazali yang tertuang dalam kitab Ar-Risalah Al-Laduniyyah ilmu secara epistemologi terbagi menjadi dua sumber penggalian. Pertama, sumber insaniyyah (yang diusahakan oleh manusia berdasarkan kekuatan rekayasa akal yang dimilikinya, sehingga dari rekayasa akal itu terbentuk suatu ilmu pengetahuan) dan kedua sumber rabbaniyyah (yang tidak dihasilkan dari rekayasa akal melainkan dari informasi Allah melalui petunjuk ilham maupun wahyu).
Teologi Haji Dan Umroh Di Era Pandemi (Studi Kasus di Desa Riak Siabun 1 Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Makmur Makmur
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5181

Abstract

 Latar Belakang penelitian ini adalah Pelaksanaan haji yang dilakukan pada umumnya hanya berorientasi kepada kepentingan diri sendiri yaitu untuk mendapatkan pahala yang  lebih banyak. Padahal jika dilihat pada efek pelaksanaan haji secara teologis, ia  memiliki makna yang tidak kecil. Seseorang yang pernah melaksanakan haji akan menjadi lebih baik dan mengalami perubahan sosial yang sangat signifikan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek-aspek teologi, selain itu untuk menganalisis Teologi haji dan umroh pada era pandemi di desa Riak Siabun I Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma, kemudian menganalisis hukum ibadah haji diera pandemi pendapat para ulama. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yaitu pengumpulan data secara langsung di lapangan untuk mendukung studi lapangan peneliti yang bersifat deskriptif kualitatif, dan teknik pengumpulan data menggunakan Teknik pengamatan, studi dokumentasi, wawancara. Temuannya adalah Kebutuhan masyarakat akan pelaksanaan ibadah haji dan umrah yang semakin meningkat,Sekaligus bergesernya gaya hidup umat muslim, seperti keinginan masyarakat muslim untuk melakukan traveling dan wisata religi berupa pemenuhan kewajiban ibadah haji dan umrah. Kesimpulan penelitian ini aspek-aspek teologi yaitu aspek sejarah, Aspek Perhatian Umat, Aspek Istitha’ah, Aspek Hikmah at-Tasyri’.  Selain itu hasil penelitian dari Teologi haji dan umroh pada era pandemi di desa Riak Siabun I diamana Pandemi COVID-19 memaksa pemerintah mengeluarkan Keputusan Kementerian Agama (KMA) Nomor 494 tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1441H/2020.  
Sunnah dalam Pandangan Muhammad Syahrur dan Fungsinya dalam Menafsirkan al-Qur’an: Studi Analisis tentang Poligami. M. Wahid Syafi’uddin
Manthiq Vol 5, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v5i2.4388

Abstract

 Artikel ini mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana Muhammad Syahrur memandang Sunnah, dan fungsinya terhadap penafsiran al-Qur’an, QS. al-Nisa/4 : 3, Tema poligami. Bahwa adopsi produk penafsiran konvensial masih mendominasi serta melegitimasi kebolehan praktek poligami. Akan lebih relevan, jika interpretasinya disertai dengan kontekstualisasi fungsi sunnah terhadap penafsiran al-Qur’an, sebagaimana digagas Muhammad Syahrur. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis yang bertumpu pada studi kepustakaan (Library Research). al-Kitab wa al-Qur’an : Qira’ah Mu’ashirah dan Nahwa Ushul al-Jadidah : li al-Fiqh al-Islamiy menjadi sumber data primer. Dan menggunakan pendapat ‘Ulama’, Mufassir, karya ilmiah dan penelitian-penelitian sebagai data sekunder. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Sunnah dalam Pandangan Muhammad Syahrur? Kesimpulan riset ini adalah ayat dalam QS. al-Nisa/4 : 3, membicarakan pernikahan dengan redaksi “fankihu” yang kemudian mengawali jumlah isteri dengan angka “dua” (masna). Pada dataran realitas, seorang laki-laki tidak dapat dikatakan “menikahi dirinya sendiri atau menikahi setengah perempuan”, maka batas minimal isteri adalah satu orang perempuan, dan batas maksimalnya adalah empat orang perempuan. Kesimpulannya, batas minimal jumlah perempuan yang dinikahi adalah satu dan batas maksimalnya adalah empat. Para pelaku poligami memahami ayat “kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, maka (kawinilah) seorang saja” sebagai perintah menerapkan “keadilan” di antara para isteri. Oleh karena itu, mereka membenarkan pemahaman yang menyatakan bahwa jumlah minimal dalam pernikahan adalah satu isteri dan poligami adalah sebentuk jalan keluar dari keadaan yang memaksa. Syahrur menegaskan bahwa ayat ini memberikan kelonggaran dari segi jumlah hingga empat isteri, tetapi menerapkan persyaratan bagi isteri kedua, ketiga dan keempat harus seorang perempuan yang berstatus janda yang memiliki anak. Konsekuensinya, seorang laki-laki yang menikahi janda ini harus memelihara anak-anak yatim yang ikut bersamanya sebagaimana ia memelihara dan mendidik anaknya sendiri. Dalam keadaan demikian berlakulah ayat Allah (QS. al-Nisa/4 : 6) pada sang suami yang melakukan poligami.  
Makna Simbol Ingkung dan Sego Wuduk dalam Tradisi Selamatan Kematian di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara Eka Sumardi
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5182

Abstract

Mayoritas masyarakat Jawa setiap ada peristiwa kelahiran, perkawinan, kematian mengadakan acara selamatan dalam bentuk doa bersama. Hal yang paling sering adalah selamatan kematian  oleh masyarakat Putri Hijau, terdiri dari: Geblag (selamatan setelah jenazah dimakamkan), Telung Dinan (setelah tiga hari ),Pitung Dinan (setelah tujuh hari ), Patang Puluh Dinan (setelah empat puluh hari), Nyatus Dinan (setelah seratus hari ), Pendak (setelah satu tahun ), Sewon (setelah seribu hari). Selamatan kematian terdapat sajian yang khusus dan wajib ada yakni sajian ingkung dan sego wuduk. Sajian ingkung dan sego wuduk, identik sebagai sajian yang wajib ada untuk memperingati meninggalnya seseorang. ). Rumusan masalah riset ini adalah a). Apa makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau? b). Bagaimana makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis  menggunakan semiotika Roland Barthes? c). Bagaimanakah nuansa teologi dalam simbol Ingkung dan sego Wuduk  dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) ? Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut : a). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau; c). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes. c). Mendiskripsikan  nuansa teologi  pada Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan). Pada  metode  penelitian  ini, peneliti  melakukan  metode  penelitian  secara kualitatif. Hasil dari riset ini adalah masyarakat desa Karang Pulau dari golongan tua atau kelas menengah kebawah  masih  mempercayai    ingkung dan sego wuduk  sebagai simbol  dalam  selamatan  kematian (tahlilan)  sampai  sekarang.  Sedangkan  masyarakat  dari  golongan  muda atau golongan kelas menengah ke atas tidak langsung menerima simbol. Mereka melihat alasan dan kepentingan tentang adanya simbol  ingkung dan sego wuduk dalam selamatan kematian (tahlilan). Masyarakat desa Karang Pulau memaknai simbol ingkung dan sego wuduk sebagai lambang pengharapan pensucian dan pengampuan Allah maka setiap acara selamatan tahlilan wajib ada. Analisis  Barthes  pada  simbol  ingkung dan sego wuduk   dalam  selamatan  kematian(tahlilan) di desa Karang Pulau yakni analisis pertama secara denotatif   ingkung dan sego wuduk   merupakan   hidangan  tradisional  yang  berbentuk  ayam utuh dengan posisi seperti orang sedang duduk tawaru’  dan nasi  berwarna putih yang terasa khas.Analisis kedua secara konotatif dapat dikatakan  ingkung dan sego wuduk berarti  pengharapan pensucian ,ampunan kepada orang yang telah meninggal sehingga wajib ada   dalam  selamatan  kematian  (tahlilan
` Tolok Ukur dalam Pertanggungjawaban Moral Irsal Irsal
Manthiq Vol 5, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v5i2.4383

Abstract

Abstrak: Tolok Ukur dalam Pertanggungjawaban Moral. Moral memuat dua segi yang berbeda, yakni segi batiniah (suara hati) dan segi lahiriah. Orang yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik pula. Moral dapat diukur secara tepat apabila adanya kesesuaian atau keseimbangan antara segi batiniah dan lahiriah. Bagaimanapun norma moral lahir bukan karena kepentingan pribadi atau sekelompok orang. Norma moral tidaklah menguntungkan seseorang atau sekelompok orang. Norma moral lahir karena kesadaran dan kerinduan akan hidup yang lebih baik, aman tenteram dan harmonis. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana deskripsi dan tolok ukur dalam kajian moral? Sedangkan tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsi dan menganalisis tolok ukur dalam kajian moral. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan kajian pustaka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Moral memuat dua segi yang berbeda, yakni segi batiniah (suara hati) dan segi lahiriah. Orang yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik pula. Moral dapat diukur secara tepat apabila adanya kesesuaian atau keseimbangan antara segi batiniah dan lahiriah. Bagaimanapun norma moral lahir bukan karena kepentingan pribadi atau sekelompok orang. Norma moral tidaklah menguntungkan seseorang atau sekelompok orang. Norma moral lahir karena kesadaran dan kerinduan akan hidup yang lebih baik, aman tenteram dan harmonis.
Pemberian Mahar dan Uang Hantaran pada Pernikahan Adat Suku Rejang Bengkulu Utara (PRESPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA) Siti Suroh
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5178

Abstract

Abstrak: Pemberian Mahar dan Uang Hantaran pada Pernikahan Adat Suku Rejang Bengkulu Utara (PRESPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA). Proses pemberian mahar dan uang hantaran yang terjadi pada masyarakat suku Rejang, di Bengkulu Utara, khususnya di Desa Perbo adalah mahar dipatok berdasarkan perbedaan suatu kelas atau starata tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep serta latar belakang dalam pemberian mahar dan uang hantaran pada pernikahan adat suku Rejang Bengkulu Utara (prespektif sosiologi agama). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori stratifikasi sosial Max Webber dan Ibnu Khaldun. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data menggunakan reduksi data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Konsep dasar mahar dan uang hantaran pada masyarakat suku Rejang Desa Perbo Bengkulu Utara adalah Setelah melalui proses mediak, dilanjutkan dengan musyawarah antara pria dan wanita tentang besaran mahar dan uang hanataran yang diinginkan pihak wanita, kemudian, dilanjutkan dengan acara basen (berasan) dan menentukan tanggal pernikahan. Adapun, latar belakang dan bentuk stratifikasi sosial dalam proses pemberian mahar dan uang hantaran Perbo adalah kekuasaan dan kedudukan keluarga dan faktor pendidikan dan pekerjaan.
Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuri dan Syeikh Siti Jennar Anton Noverdin
Manthiq Vol 6, No 2 (2021): November
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i2.6425

Abstract

Abstrak: Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuridan Syeikh Siti Jennar. Salah satu dari tokoh awal yang menyebarkan ajaran tasawuf di kepulauan Nusantara ini adalah Syaikh Siti Jenar, yang terkenal dengan konsepnya yang kontroversial tentang persoalan hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara. Dalam riset ini penulis menggunakan metode penelitian  kepustakaan (Library Research) yang memfokuskam kepada aspek pemikiran, sejarah dari dua tokoh serta tokoh-tokoh lainya yang mempengaruhinya. Maka dalam mengadakan penelitian kepustakaan penyusun melakukan pengumpulan dari buku-buku primer maupun sekunder, yang ada kaitanya dengan seluruh referensi yang mendukung studi penulisan ini. Hamzah Fansuri memiliki pemikiran tentang wahdatul wujud atau wujudiyyah, yaitu: pertama Hakekat Wujud, bahwa wujud itu hanya satu yaitu Allah meskipun wujud itu kelihatan banyak. Kedua Eka dalam Keanekaan, bahwa wujud bukan hanya mencakup kesatuannya meskipun ia bertajalli dalam banyak bentuk. Ketiga Penciptaan Alam, proses penciptaan alam dimulai dari la ta’ayyun, ta’ayyun, tanazzul, dengan melalui lima martabat (fase), dan akan bertaraqqi kepada la ta’ayyun sedanngkan Pemikiran tentang ketuhanan yang dimiliki oleh Syaikh Siti Jenar adalah apa yang masyhur di pulau Jawa dengan sebutan Manunggaling Kawula lan Gusti, yang dalam pemahaman penulis hampir sama dengan ajaran dari paham wahdatul wujud. Dimana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam (manusia).