cover
Contact Name
meddyan heriadi
Contact Email
meddyanheriadi@gmail.com
Phone
+6281279687634
Journal Mail Official
meddyanheriadi@gmail.com
Editorial Address
Pascasarjana IAIN Bengkulu. Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Kota Bengkulu » Tel / fax : 081271987140 /
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v5i1
Jurnal ini berfokus pada filsafat dan pemikiran islam. Jurnal ini diterbitkan oleh prodi Filsafat Agama S2 Pascasarjana IAIN Bengkulu. Tujuan dari pendirian jurnal ini adalah untuk menjadi sarana publikasi karya tuis ilmiah khususnya di bidang filsafat dan pemikiran islam.
Articles 90 Documents
Nilai Islami dari Cerita Rakyat Bengkulu yang Berjudul Sang Piatu Meddyan Heriadi
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.3000

Abstract

Sering kali ditemukan kasus-kasus pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan lain sebagainya di masyarakat kita. Hal ini menjadi bukti degradasi moral yang dimiliki bangsa ini. Oleh karena itu, sastra dapat menjadi solusi dalam pembinaan karakter generasi penerus bangsa. Karena dengan sastra seseorang akan memetik pesan atau pelajaran berharga tanpa paksaan atau tekanan.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan nilai-nilai islam yang terdapat dalam cerita rakyat Bengkulu. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Instrumen yang dipakai adalah instrumen dokumentasi pada sebuah buku kumpulan cerita rakyat karya mahasiswa Tadrs Bahasa Indonesia IAIN Bengkulu. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik analisis ekstrinsik prosa.  Kesimpulan dalam penelitian ini antara lain terdapat beberapa nilai islami yang di kandung dalam cerita Sang Piatu, yaitu: a). Semangat menuntut ilmu, yang terlihat dari karakter Sang Piatu yang tetap untuk mengaji meskipun ejekan terus menderanya ; b). Sikap patuh pada guru, yang tampak dari tindakan sang piatu yang tak pernah mengeluh meskipun ia ditempatkan di tempat yang khusus ketika mengaji; c). Sikap sabar, yang terlihat dari bagaimana sang piatu tak menghiraukan ejekan dar teman sebayanya; d). Ikhlas bersedekah yang terlihat dari bagaimana usaha sang piatu untuk mencari buah nangka yang akan ia berikan untuk sang guru; dan e) Sikap Penyayang yang tampak dari karakter guru mengaji yang tak memarahi muridnya dan tetap menerima buah nangka tersebut meskipun sang piatu salah menyebutkan jumlah biji nangka.
Theologi Filsafat Politik Islam Anton Anton
Manthiq Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Manthiq
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v3i2.2896

Abstract

Abstrak: Theologi Filsafat Politik Islam. Theologi merupakan sesuatu yang erat kaitannya dengan ketuhanan. Tuhan telah memberikan fasilitas bagi manusia untuk menjadi manusia yang bijak dan bermoral. Kedamaian kemungkinan akan hadir pada suatu negeri jika orang-orang di dalamnya terkhusus para pengambil kebijakkan mengindahkan hal-hal yang menjadi pokok dalam hidup manuisa. Manusia, negara, agama, politik merupakan bagian-bagian yang sulit untuk dipisahkan yang memang keempatnya merupakan  sesuatu pertalian yang mengait antara satu sama lain. Singkat kata untuk menjadikan suatu negara menjadi yang lebih baik maka tentunya diawali dengan pemimpin yang bijak dalam bersikap. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pandangan teologi politik dalam dunia islam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan bagaimana filsafah dunia politik dalam Islam.  Penelitian ini menggunakan Metode metode deskriptif kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka (Library Research). Dalam pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, yaitu mencari data atau variable yang berkaitan dengan pembahasan penelitian. Pengumpulan data dapat berupa buku, artikel, majalah, jurnal dan lain sebagainya. Metode dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dan teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan proses pengelolaan, mereduksi dan memberikan kesimpulan dari hasil penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Theologi politik Islam dapat dikatakan secara singkat bahwa bagaimana mekanisme dan aturan bernegara ini dihiasi dengan nilai-nilai agama. Para politisi dalam mengambil berbagai macam kebijakkan hendaklah didasari atas kepentingan rakyat, kepentingan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Dalam hal ini sangat penting dipahami, Islam sebagai agama yang terakhir dibawa oleh nabi Muhammad Saw telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai keadilan, nilai-nilai kepedulian, nilai-nilai kearifan, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan. Persamaan derajat dan martabat manusia lebih penting dari manusia itu sendiri. Filsafat politik Islam hendaknya mewarnai pola hidup yang baik bagi para politisi dalam menjalankan tugas untuk kepantingan rakyat, mengemban amanah rakyat hendaklah didasari oleh nilai-nilai keberagamaan yang matang sehingga nantinya memberikan dampak yang baik bagi masyarakat dalam hidup bernegara, berbangsa, beragama, bermasyarakat yang hidup di negara.
AKAL, WAHYU, DAN KASB MANUSIA MENURUT JABARIYAH DAN QADARIYAH Edi Sumanto
Manthiq Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v1i1.316

Abstract

Abstract: Reason,  Revelation,  And Human  Efforts According to  Jabarites And Qadarites. This  article describes the  views  of Qadarites and  Jabarites about  the  revelation,  reason, and  human efforts.  The method used  is based on  a  literature   library  from  books,  magazines and  articles  related. The  study concluded: first, for Jabarites, reasoning has no meaning, because reasoning is of no use to humans, they are  more  dominant subject to revelation or the  provision  of God in their every activities,  so human just only accept anything  that has  been given by The Creator.  While according to Qadarites, Reasoning is to proportionate the provisions  that God has  made for man,  to contribute to the act of doing, good  or bad. In connection with the concept of revelation,  for Jabarites that the revelation is a source of important and basic to those  that must be followed,  because the verses they are using is a verse to support  the argument they  use.  While  revelation in according to  Qadarites is considered as  to  proportionate their  opinion, because God disposes all human actions,  but humans have a stake in it in order to try and select  it.Finally, in Human  efforts, for Jabarites that no efforts, because everything  he does  has been determined by God. There  is no human power  to do in doing something. however, according to Qadarites that human effort is depend on human beings  themselves and the result depends according what  he has done  without  any intervention from God.
PEMBINAAN KEAGAMAAN PADA PECANDU NARKOBA DI REHABILITASI INSTITUSI PENERIMA WAJIB LAPOR (IPWL) PONDOK PESANTREN SALAFIYAH HIDAYATUL MUBTADI-IEN KOTA BENGKULU Hendro Cahyana
Manthiq Vol 2, No 2 (2017): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v2i2.671

Abstract

The purpose of this study is an attempt to find out how the method of religious guidance on Drug Addicts at Pondok Pesantren Salafiyah Hidayatul Mubtadi-ien  Bengkulu City. The questions to be answered through this research are: (1) How is the religious activity of santri Drug Rehabilitation Rehabilitation Center at Pondok Pesantren Salafiyah Hidayatul  Mubtadi-ien  Bengkulu  City? (2) How is the  method of religious activity applied  to Drug Addicts in Pondok Pesantren Salafiyah Hidayatul  Mubtadi-ien  Bengkulu  City? (3) What are the barriers  and carrying capacity  an the process of religious guidance on Drug Addicts in Pondok Pesantren Salafiyah Hidayatul Mubtadi-ien  Bengkulu  City
PERANAN MAJELIS TAKLIM DALAM PENANAMAN NILAI-NILAI ISLAM DI KECAMATAN LUBUKLINGGAU TIMUR II KOTA LUBUKLINGGAU Nurlila Kamsi
Manthiq Vol 2, No 1 (2017): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v2i1.424

Abstract

Abstract: This study  aimed to  describe the  activities  of Islamic  study  groups  in  east  Lubuklinggau   II in implementing Islamic  value.  To describe Islamic  values   to the  Islamic  study groups  , and  to describe the implementation or actualization of Islamic  values  congregation during  informal  Council  in District II East Lubuklinggau.  This research used  qualitative  descriptive approach. In obtaining  the  data,  the  authors used observation, interviews, checklists, and  documentation. The  results  of this research indicated that  during informal  activities  in the  District Assembly  east  Lubuklinggau  II in planting  the  values  of Islam  are:  Islamic Teaching  (pengajian) regularly carried out once a week, comemoration great day in Islam (PHBI), Conducting and Training the dead bodies in Islamic ways, Conducting for reading Al-Barzanji, held a tambourine exercises, visits to orphanages, Islamic Centre  and  visit sick members of the congregation, held holding Tasbih prayer beads, and  tadarus Al-Qur’an. Islamic values  are applied  to the Islamic study groups  in east  Lubuklinggau  II in faith, Islam, charity, piety, sincerity,  trust, gratitude, patience, friendship, brotherhood, equality,  fair, well thought,  humble, a promise, gracefully, trustworthy,  officer, thrift, and kindness. Implementasi or actualizing values  of Islamic  congregation during  informal  Council  in District II East Lubuklinggau  Lubuklinggau  been done  properly,  pilgrims have  solid faith and  piety, the  faith of the  pilgrims have  a good  life and  gave birth to a sincere attitude  in addition  they  also  have  good  morals  in dealing  with  beings  Islam.  In applying  the concept of Islamic values associated with human pilgrims informal gatherings Eastern District of Lubuklinggau II Lubuklinggau  often  stay in touch,  keep  the fraternity (brotherhood Islamiyah),  was  equal  or equal  before God, to be just, kind thought,  humble, just a promise, gracefully, trustworthy,  officers, safe and generous.
Konsep Pandangan Islam yang Menjawab Keraguan Non-Muslim dalam Novel Isabella karya Maulana Muhammad Saeed Dehlvi. Meddyan Heriadi
Manthiq Vol 5, No 1 (2020): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v5i1.3244

Abstract

Karya sastra sebenarnya berpengaruh pada moral umat. Dengan sastra manusia belajar melihat, merenung, dan mengungkapkan sisi kebaikan dan keburukan secara tak langsung. Dengan kata lain, kita belajar moral tanpa harus belajar materi moral. Lihat saja dalam sebuah novel atau cerpen. Karya prosa fiksi seperti ini  pasti mengandung pesan atau hikmah yang akan dilalui oleh tokoh. Melalui hikmah ini kita sebenarnya telah belajar moral. Kita dapat menarik pesan dalam sebuah kejadian. Bukankah kisah para nabi dan rasul adalah berbentuk cerita. Bedanya dengan fiksi adalah kisah nabi adalah nyata sedangkan fiksi adalah imajinasi.  Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Konsep Pandangan Islam yang Menjawab Keraguan Non-Muslim dalam Novel Isabella karya Maulana Muhammad Saeed Dehlvi? Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengungkapkan niali-nilai ekstrinsik khususnya nilai moral dan agama pada Novel Isabella ini. Dalam kajian ini peneliti menggunakan metode kualitatif.  Dalam hal ini peneliti berupaya  mengobservasi pesan dan pengetahuan yang digali dalam novel Issabela karya Maulana Muhammad Saeed Dehlvi dengan analisis ekstrinsik. Analisis ini khususnya menggali nilai moral dan nilai agama pada karya ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: a). Esensi dalam islam adalah Tauhid, yaitu mengesakan Tuhan. Untuk bagian cinta dalam islam, hal ini tidak diabaikan. Namun, menganggungkan cinta hendaknya memiliki sebuah parameter atau dengan kata lain bukti. Bukti cinta kepada Tuhan telah terjawab melalui konsep taqwa dalam Islam yaitu menjalankan segalah perintahnya dan menjauhi segalah larangannya. b). Islam begitu mengkritisi konsep abb (Bapak) dalam agama lain. Islam sendiri menawarkan konsep Rabb (Sang pemelihara) yang jauh lebih baik. Di mana sang pemelihara memiliki kekuatan yang tak terhingga, sementara konsep abb hanya sebatas ayah dan anak. c) Novel ini juga mengkritisi konsep  pengorbanan dalam agama Non-Muslim tersebut. Di mana Tuhan mengorbankan  anaknya yang tak berdosa demi menebus dosa umat manusia. Sementara dalam konsep tauhid tidak mengenal manusia menanggung dosa makhluk lain. d). Dalam agama Non-Muslim  pada novel ini , ia menganggap beberapa nabi adalah makhluk berdosa. Namun, hal ini justru ditentang dalam Islam. Di mana semua nabi utusan Tuhan adalah suci. e). Seorang pemaaf sejati yang memiliki nilai yang tinggi jika dia memaafkan musuh-musuhnya ketika dia memiliki kekuatan dan kesempatan untuk membalas. Hal inilah yang terjadi pada Rasulullah Saw.  Ia memiliki kadar pemaaf yang tinggi. Seperti setelah kemenangannya di Mekah,  ia memaafkan semua musuh-mushnya. Beda halnya dengan tuhan yang ada pada agama Non-Muslim ini di mana ia memaafkan pada posisi kritis. f). Mukjizat Rasulullah sebenarnya dapat dilihat di setiap generasi sampai menjelang kiamat. Mukjizat itu adalah Al-Quran di mana sampai detik ini tantangan dari 1400 tahun yang lalu untuk menandingi kehebatan kualitas sastranya belum seorang pun menandingi.  Selanjutnya mukjizat yang masih ada hingga saat ini adalah prestasi Rasulullah yang mengguncang dunia yang belum satu pun yang dapat menandingi.
Ketidaksetaran Gender Biografi Princess Karya Jean P. Sasson Ade Bayu Saputra
Manthiq Vol 4, No 1 (2019): Mei 2019
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v4i1.2995

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena ketidaksetaraan gender yang terdapat dalam biografi Princess karya Jean P. Sasson. Peneitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah alat bantu berupa kartu data, dengan peneliti sebagai penafsir data. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan tahapan analisis data model Miles dan Huberman, dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biografi Princess karya Jean P. Sasson memiliki wujud fenomena ketidaksetaraan gender dalam beberapa domain, yaitu domain domestik, politik, dan domain hukum yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yaitu marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasan. Wujud ketidaksetaraan gender dalam domain domestik, meliputi1) laki-laki memiliki hak absolut terhadap istri dan anak-anak perempuannya; (2) nilai kelahiran anak masih diukur dengan ada tidaknya organ laki-laki; (3) kaum laki-laki selalu mengabaikan dan merendahkan kaum perempuan; (4) pendidikan anak laki-laki lebih diutamakan; dan (5) perempuan hanya ditugaskan mengurus masalah dalam rumah tangga. Domain politik meliputi (1) setiap warga negara laki-laki mendapatkan jaminan kesejahteraan; dan (2) perempuan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan pendapatnya. Pendapat perempuan jarang didengarkan, perempuan hanya bertugas menjalankankan hasil keputusan laki-laki. Sedangkan domain hukum yaitu (1) penghormatan pada laki-laki yang mengeksekusi istri atau anak perempuannya; (2) kewajiban perempuan untuk menjaga keperawanannya; (3) kebebasan mutlak bagi laki-laki untuk berpoligami; (4) perempuan saudi dilarang bergaul dengan laki-laki non muslim; dan (5) hukuman mati bagi perempuan jika melakukan perbuatan zina.
PEMAKNAAN AGAMA MENURUT NARAPIDANA KELAS II A CURUP REJANG LEBONG M Joko Mulyono
Manthiq Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v1i2.332

Abstract

Abstract: The  purpose of this  study  is to  know  about  the  Making  of Religion  According  Inmates Class  II ACurupRejangLebong. Research conducted qualitative,  with a phenomenological approach. Who became an informant as a data  source is numbered 25 people, comprising leaders of Prison Administration, part spiritual guidance, some prison employees and inmates Penitentiary Class II A CurupRejangLebong the Islamic religion. Then the research data were  analyzed  using analytical techniques deskriftik. In that study, obtained results and findings are as follows: First. About the Making of Religion diseputar meaning of faith in God, the results  show that prisoners in giving meaning of faith in God divides into three categories. First, they interpret that faith in God believe  wholeheartedly that God as the Creator  of all the entities  including  humans in it with a power  that is infinite, man as a weak  creature who must obey and is subject to all the provisions that God ordained, because majbur  human nature  and do not have the resources and efforts, but the resources and efforts of Allah alone. Secondly,  they interpret the faith in God that God is the One who is obligatory to believe  and it is believed that he is Kholik, creator of the almighty, God is only entitled  to assess and reward of heaven for His creatures who do good and give a reward or punishment of hell for His sinful creatures. While the effort caused by humans is a result of the strength born of man himself. Third, they interpret the faith to God by giving portions and capacity are balanced, in the sense that God is the One almighty creator, Supreme penetu everything related to the creation, but humans have the power  to set and give birth usahanyat called by al-kasb, So humans in this understanding is required to make every effort possible  but everything God decide. The second is to search in this study are: the Making of the nature  of God. The results show. First, they make sense that God has the qualities  of his like, has power, Wills, and others,  and nature-Sifaat is attached to the Essence of Allah alone,  and t is different from the properties owned by limited human, either  by time  and  space. Second, they make sense that God would not have  these qualities,  moreover these traits inherent in His Essence, because the  essence of God is One God, so that God has  the  nature  that God is not One.  Implementation from third on the  meaning of faith in God and their characteristics in everyday life in prison Class II ACurup Rejang Lebong. From the data I got, was found as a result, changes and effects are quite good, from the construction and touch religious they earn while in prison,  in behavior  and  religious  practice, proved  the  existence of consciousness to perform  the  five daily prayers,  responsible for the task provided, discipline  in implementing the obligations,  and cooperation among them, although not one hundred percent have at least resulted in changes that lead to increased faith.
Sufisme dalam Perspektif Alexander Rossken Gibb Yoka Zulfiqor Zulfiqor
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5183

Abstract

Dari beberapa pendapat di atas dapatlah diambil suatu gambaran bahwa pemikiran atau hasil gerakan diperoleh dari sebagian pemikir Orientalis telah membuka jalan pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan agama Islam yang sangat bermanfaat. Akan tetapi di sisi lain sebagian pemikir oreintali spemikirannya dapat menimbulkan keragu-raguan terhadapnilai-nilai ajaran Islam sekaligus dapat membawa perpecahan dalam Islam itu sendiri. Rumusan masalah dalam penelitian adalah : a) Apa pengertian tasawuf dalam perspektif  H.A.R. Gibb? b). Darimanakah sumber tasawuf dalam perspektif  H.A.R. Gibb? c) Apa pengertian tarekat dalam perspektif  H.A.R. Gibb? d) Apa saja macam-macam tarekat dan bagaimana ajaran-ajaran yang terdapat dalam tarekat-tarekat tersebut dalam perspektif  H.A.R. Gibb? Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Kualitatif Deskriptif”. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa, pertama: Istilah sufi dalam perspektif H.A.R. Gibb, pada umumnya bertalian dengan pemakaian pakaian dari bulu domba (suf) yang belum dicat, yang merupakan suatu tanda penebusan dosa perseorangan dalam pertapaan Kristen. Pakaian dari bulu domba ini telah menjadi lencana biasa bagi para sufi (sebutan bagi semua ahli mistik dalam Islam).. Kedua: Mengenai sumber sufisme, H.A.R. Gibb mengatakan bahwa dasar-dasar pertapaan dalam Quran sesuai dengan pertapaan kekristenan di Timur. Selain dari Kristen, sufisme juga bersumber dari ajaran-ajaran agama lain, diantaranya; aneka warna sumber dongeng Arab kuno, hikayat-hikayat Kristen, Majusi, dan Budha, bahan-bahan dari Injil dan Haggadah Yahudi, dan semua pelajaran lama dari Siria dan Babilonia.Ketiga: Tarekat dalam perspektif H.A.R. Gibb merupakan pergerakan populer pertama-tama karena pergerakan Sufi jemu akan doktrin kaku dari ahli kalam, dan memudahkan jalan bagi orang yang ingin masuk Islam (karena pendapat umum bahwa "kesederhanaan" Islam dengan sendirinya merupakan daya tarik untuk menyebarluaskan agama Islam)”. Keempat: Macam-macam tarekat dalam perspektif H.A.R. Gibb sangat banyak. Secara garis besar H.A.R Gibb membaginya ke dalam dua bagian, yakni tarekat desa dan tarekat kota. Diantara tarekat-tarekat yang ada, baik dari tarekat kota atau tarekat desa, ada beberapa tarekat yang berlebih-lebihan dalam melakukan ritual yang ada dalam tarekat terkait.  
Kepimpinan Wanita Menurut Perspektif Hamka Ahmad Nabil Amir
Manthiq Vol 5, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v5i2.4384

Abstract

Abstrak: Kepimpinan Wanita Menurut Perspektif Hamka. Riset ini membahas pendirian Hamka terkait soal kepimpinan wanita. Ia mengkaji pandangannya tentang urusan kepimpinan wanita dan perbandingannya dengan pandangan ulama yang lain berhubung keabsahan dan pendirian syariat terhadapnya. Metode kajian adalah bersifat deskriptif, analitis dan komparatif dengan meninjau ijtihad Hamka tentang soal kepimpinan ini dalam karya-karya falsafah, fiqh dan tafsirnya yang muktabar dan perbandingannya dengan pendapat ulama Islam yang lain. Ia merumuskan pemahaman Hamka yang kritis tentang batas-batas yang khusus yang digariskan syariat yang telah meletakkan kepimpinan wanita dalam konteks yang tepat dan praktikal dan sewajarnya, sesuai dengan sifat, pembawaan, keperibadian dan kedudukan mereka sebagai pemimpin, serta selaras dengan keupayaan dan naluri dan fitrah kewanitaan yang sebenar. Dapatan kajian menemukan fikrah Hamka yang luas yang menafsirkan nas-nas syarak terkait prinsip kepemimpinan wanita ini dari sudut yang positif yang mempertahankan keabsahannya yang didukung dengan hujah-hujah dan keterangan dalil yang kukuh dan sebagai yang dibuktikan dalam kenyataan sejarah dan tradisi Islam. Adapun masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana kajian kepemimpinan wanita berdasarkan sudut pandang Hamka. Sedangkan tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui kajian kepemimpinan wanita berdasarkan sudut pandang Hamka. Untuk menjawab dan mendeskripsi atas rumusan masalah dalam tulisan ini penulis menggunakan teknik mengumpulkan teori yang didapat dari beberapa referensi baik berupa buku, majalah, internet, dan karya ilmiah lainnya lalu disesuaikan dengan kajian bahasan yang diangkat dalam tulisan ini. Dalam perbahasan tentang asas kepimpinan wanita Islam ini, Hamka telah menggariskan beberapa kriteria penting yang mengisbatkan hak dan status wanita sebagai pemimpin. Beliau  mempertahankan kemerdekaan mereka sebagai pemimpin dan menekankan tentang tanggungjawab yang sama yang mesti dipikul dalam menegakkan kepimpinan ini. Ini dibahaskan dalam konteks dan skop yang luas daripada prinsip Islam yang memberi ruang kepada mereka untuk melibatkan diri dalam pemerintahan dan perencanaan undang-undang, dan menyumbang dalam meninggikan kedudukan dan martabat umat.