cover
Contact Name
meddyan heriadi
Contact Email
meddyanheriadi@gmail.com
Phone
+6281279687634
Journal Mail Official
meddyanheriadi@gmail.com
Editorial Address
Pascasarjana IAIN Bengkulu. Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Kota Bengkulu » Tel / fax : 081271987140 /
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v5i1
Jurnal ini berfokus pada filsafat dan pemikiran islam. Jurnal ini diterbitkan oleh prodi Filsafat Agama S2 Pascasarjana IAIN Bengkulu. Tujuan dari pendirian jurnal ini adalah untuk menjadi sarana publikasi karya tuis ilmiah khususnya di bidang filsafat dan pemikiran islam.
Articles 90 Documents
Konsep Sedekah dalam Perspektif Filsafat Dakwah (Studi Kasus Konsep Sedekah Yusuf Mansur). Irwansah Irwansah
Manthiq Vol 6, No 2 (2021): November
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i2.6426

Abstract

Abstrak: Konsep Sedekah dalam  Perspektif Filsafat Dakwah (Studi Kasus Konsep Sedekah Yusuf Mansur). Kehidupan manusia yang semakin komplek membuat manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada, saling bekerjasama untuk mencapai hidup bahagia dunia dan akhirat. Tujuan itu akan mudah tercapai manakala manusia itu punya suatu gerakan sosial yang sesuai dengan syariat agama Islam. Begitu pula dalam berdakwah Islam tanpa adanya inovasi suatu gerakan akan terasa sulit untuk mencapai  misi ajaran Islam. Misi ajaran Islam itu sendiri adalah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam[1]Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), karena objek-objek kajiannya ialah hal yang berhubungan dengan literatur-literatur kepustakaan. bagaimana konsep sedekah yang dilakukan oleh Yusuf Mansur, maka peneliti berkesimpulan bahwa sedekah yang dilakukan oleh Yusuf Mansur adalah konsep sedekah dengan cara kekinian, ia mengajak sedekah dengan realitas yang nyata karena berdasarkan pada pengalaman ia langsung yang terbukti atau orang lain yang punya pengalaman langsung. Selain itu ajakan Yusuf Mansur bersedekah berdasarkan landasan al-Qur’an, Hadits dan ulama’ yang mana dakwah sedekah Yusuf Mansur sesuai dengan konteks dan dakwah kontemporer.Hal itu kita bisa lihat dari pendapat Yusuf Mansur bahwa Yusuf Mansur, bahwa sedekah merupakan amalan yang bisa mendapatkan ridha Allah Ta’ala.Yusuf Mansur mengatakan bahwa sedekah merupakan pemberian sesuatu dari seseorang terhadap orang lain dengan sungguh-sungguh mengharapkan keridhaan Allah Swt yang dijalankandengan spontan serta sukarela. Bahwa dengan bersedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa, serta mendapatkan pertolongan Allah. Jadi ketika kita banyak dosa dapat dengan cara bersedekah menghapusnya. Dan ketika kita butuh pertolongan kepada Allah akan sesuatu, maka bersedekahlah. Sedangkan sedekah itu bisa membuat orang terus menerus melakukannya karena bahagia melakukannya. Amalakan satu! Setelah istiqomah, tambahkan menjadi 2, tambah lagi jadi 3, terus amalkan sunnah-sunnah yang lain, selanjutnya istiqomahkan. Serta sedekah itu adalah salah satu kunci membuka pintu dikabulkannya do’a. Sehingga setelah bersedekah, tinggal mintanya saja sama Allah. 
Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur (PERSPEKTIF FILSAFAT ISLAM) Senno Senno
Manthiq Vol 6, No 2 (2021): November
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i2.6427

Abstract

Abstrak: Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur (PERSPEKTIF FILSAFAT ISLAM). Salah satu tradisi ritual dalam adat Jawa yang saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa yang ada di Kota Arga Makmur yaituritualMitoni. Mitoni merupakan upacara yang dilakukan oleh ibu yang sedang mengandung anak pertama pada usia kandungan yang memasuki 7 bulan. Siklus kehidupan yang akan lahir kedunia dalam masyarakat Jawa digunakan untuk menghadapi tahap kelahiran, dimana upacara Mitoni dianggap sakral sehingga masih dilakukan saat bayi masih berada dalam kandungan dan pada usia tujuh bulan sampai saat ini.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang Tradisi Mitoni MasyarakatJawa  di kota Arga Makmur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti Tentang Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara dapat disimpulkan sebagai berikut Tradisi mitoni Tradisi mitoni merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang/leluhurter dahulu. Tardisi mitoni dilakukan jika ada seseorang yang sedang mengandung dan sudah menginjak usia kandungan tujuh bulan. Biasanya tradisi tersebut dilakukan jika anak pertama yang memasuki usia kandungan tujuh bulan, pelaksaan tradisi mitoni dilakukan dirumah seseorang yang mempunyai hajat. Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Mitoni Nilai Ibadah yaitu melantunkan doa-doa yakni Tahlil, dan bacaan QS. Yusuf dan QS. Maryam dengan tujuan anak yang dilahirkan diberi kesehatan dan menjadi anak yang sholeh dan shalehah. Nilai Amaliah yaitu untuk meningkatkan amal yang baik melalui bersedekah antar sesama. Nilai Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan mewujudkan rasa kebersamaan dan rasa persatuan, kesatuan dalam masyarakat sehingga timbulnya kerukunan dan erat silaturahmi antar sesama. Nilai Kepercayaan yaitu dengan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT merupakan tempat satu-satunya untuk beribadah dan meminta atas segala permintaan dan kenikmatan yang telah kita peroleh dalam kehidupan. Abstract: Javanese Mitoni Tradition in Arga Makmur City (ISLAMIC PHILOSOPHY PERSPECTIVE).One of the ritual traditions in Javanese customs that is currently still believed by the Javanese people in Arga Makmur City is the Mitoni ritual. Mitoni is a ceremony performed by mothers who are pregnant with their first child at the age of 7 months. The cycle of life that will be born into the world in Javanese society is used to face the birth stage, where the Mitoni ceremony is considered sacred so that it is still carried out when the baby is still in the womb and at the age of seven months until now. The purpose of this study was to find out about the Javanese Mitoni Tradition in the city of Arga Makmur. The approach used in this research is qualitative research. From the results of research conducted by researchers about the Javanese Mitoni Tradition in Arga Makmur City, North Bengkulu Regency, it can be concluded as follows: Mitoni tradition Mitoni tradition is a tradition that has existed since the ancestors/ancestors first. Mitoni tradition is carried out if someone is pregnant and has reached the age of seven months of pregnancy. Usually this tradition is carried out if the first child enters the age of seven months of pregnancy, the implementation of the mitoni tradition is carried out at the house of someone who has an intention. Islamic Values in the Mitoni Tradition Values of Worship are chanting prayers, namely Tahlil, and reading QS. Yusuf and QS. Maryam with the aim of giving birth to healthy children and becoming pious and pious children. The value of Amaliah is to increase good deeds through charity among others. The value of Ukhuwah Islamiyah is to create a sense of togetherness and a sense of unity, unity in society so that harmony and close friendship between people arise. The value of trust is to believe wholeheartedly that Allah SWT is the only place to worship and ask for all the requests and pleasures that we have received in life.
Teori Kritis dalam Paradigma Komunikasi Jurgen Habermas Amilatu Sholihah
Manthiq Vol 6, No 2 (2021): November
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i2.6380

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran Jurgen Habermas, khususnya pemikirannya tentang teori kritis dalam paradigma komunikasi. Jenis penelitian ini yaitu kepustakaan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan sejarah intelektual Jurgen Habermas, sejarah munculnya teori kritis dalam paradigma komunikasi serta pemikiran Jurgen Habermas tentang teori kritis dalam paradigma komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jurgen Habermas merupakan filosof generasi kedua dari madzhab Frankfrut yang mengkaji tentang teori kritis komunikasi. Teorinya berawal dari pendahulunya yang menyatakan bahwa dalam mempelajari manusia itu sama dengan mempelajari alam yang pasti dan mudah ditebak. Padahal sifat manusia itu dinamis tidak bisa ditebak apalagi dijadikan obyek. Berawal dari kondisi tersebutlah Habermas mencoba menawarkan teori komunikasinya, agar supaya manusia dapat berkomunikasi dengan baik ketika ia ingin memutuskan sesuatu hal denagn cara berdiskusi/berkomunikasi. Implikasi teori kritis komunikasi dalam kajian keislaman ini sangat membantu umat muslim khususnya ketika seseorang ingin berdialektika lintas budaya, agama dan negara. Dengan berkomunikasi maka akan menimbulkan sikap saling memahami, toleran yang sangat tinggi, tidak saling menjudge dan tidak menyalahkan antara satu dengan yang lain.Kata kunci: Jurgen Habermas, teori kritis, paradigma komunikasi.
Studi Komparatif Makna Konsep Bumi, Dunia dan Alam Semesta Rilliandi Arindra Putawa
Manthiq Vol 6, No 2 (2021): November
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i2.5630

Abstract

Metaphysical problems in the field of philosophy are not only limited to general things such as existence, reality, or space-time, but there are other problems related to the conception of what humans say as reality that is in front of their eyes. The concept of the earth, the world, and universe are three popular concepts that refer to the set of everything that can be explored by human knowledge. This research is a comparative study that tries to compare the three concepts and try to analyze the relationship between the three concept from a philosophical point of view. The results showed that the concept of the world is a concept that can refer to the other two concepts and has implications for each meaning.
Transformasi Tarekat Syattariyah dan Implikasinya terhadap Masyarakat Di Desa Sanggaran Agung Kecamatan Danau Kerinci Kabupaten Kerinci Mhd. Rusydi
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7965

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan pola-pola transformasi Tarekat Syattariyah di Desa Sanggaran Agung dan bagaimana Implikasinya terhadap Masyarakat di Desa Sanggaran Agung. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan teknik analisis data menggunakan metode analisis deskriptif-analisis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa : 1) Tarekat Syattariyah di Desa Sanggaran Agung Kec. Danau Kerinci Kab. Kerinci mengalami transformasi dalam dua bidang, pertama dalam bidang substansi ajaran dan yang kedua dalam metode pengajaran, adapun transformasi dalam bidang substansi ajaran yaitu : a. penyederhanaan prosesi bai’at yang sebelumnya diterapkan syarat yang sangat ketat seperti berpuasa, membaca zikir tertentu, tidur dalam keadaan berwudhu, memperbanyak sholat sunnat tertentu dan lain-lain b. menghilangkan sebagian tradisi keagamaan tarekat syattariyah yang selama ini menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat seperti khutbah jum’at menggunakan bahasa arab, shalat qadha satu tahun sekali, shalat sunnat lailatu qadar akan tetapi masih ada sebagian tradisi keagamaan yang masih tetap dilaksanakan sampai saat ini yaitu shalat 40 hari secara berjamaah c. meninggalkan ajaran wahdatul wujud yang menurut kalangan tarekat butuh pemahaman yang mendalam untuk memahaminya dan dianggap tidak terlalu penting untuk diajarkan, adapun transformasi dalam bidang metode pengajaran ialah :   a. pembagian murid tarekat menjadi dua yaitu tinggat awal dan tingkat atas, hal ini dimaksudkan agar para murid tarekat benar-benar siap secara syari’at untuk masuk lebih jauh ke dalam dunia tarekat b. membudayakan kegiatan zikir dan tahlil berjamaah dalam peringatan hari-hari besar keagamaan c. adanya semangat dan militansi dalam berdakwah d. mempunyai tradisi hafalan yang cukup kuat. 2) implikasi tarekat syattariyah terhadap pengikutnya yaitu : terjadi peningkatan kualitas keimanan dikalangan penganutnya hal ini di tandai dengan meningkatnya amal ibadah, mempunyai adab yang sangat baik dan mempunyai hubungan sosial yang sangat kuat.
Makna Filsafat Simbol Naik Bubung dalam Tradisi Masyarakat Lembak Rabi’in Rabi’in
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7966

Abstract

Filosofi simbol naik bubung dalam tradisi masyarakat lembak, di Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah memiliki makna dan fungsi tersendiri bagi kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui filosofi simbol naik bubungan serta historis dalam filosofi simbol pada masyarakat lembak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori Herbert Blummer. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Simbol yang digunakan naik bubung dalam tradisi masyarakat lembak adalah Kundur, kelapa muda, pisang emas, tebu hitam, padi, cocor bebek/sedengen, senyeluang, kayu kapung serta bendera merah putih,benda-benda ini dipasang ketika akan mulai memasang rangka atap atau memasang kuda-kuda, benda-benda ini diletakkan pada bagian atas yang diikat pada perabung rumah atau disebut dengan bubung rumah. Pemasangan benda-benda yang dijadikan simbol ini sudah dijadikan tradisi kebudayaan masyarakat lembak dan memiliki filosofi. Adapun latar belakang pemasangan simbol menurut para tokoh agama telah diadakan turun menurun sampai sekarang ini, Filosofi simbol pada kundur dapat  penetral racun/penyakit yang ada pada bahan bangunan rumah sehingga nyaman ketika berada di dalam rumah, kelapa dapat melepaskan lapar dan dahaga, tebu dapat mempercantik/memperindah dan pemanis bangunan rumah, padi  dapat dijadikan pedoman semakin merunduk semakin berisi, serta dapat memberikan rasa kenyang, cocor bebek/sedengen dapat memberikan rasa sejuk dan adem, senyeluang dan kapung dapat menangkal petir dan badai, pisang mas dapa terhindar dari godaan jin dan syaithan, terhindar dari ilmu ghaib, bendera merah putih menandakan Indonesia sudah merdeka dan menunjukkan yang memiliki rumah itu warga negara Indonesia.
Kepemimpinan Meraje Keluarga Semende di Rejang Lebong Dan Relevansinya dengan Ajaran Islam Fridiyanto Cahyono
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7967

Abstract

Rumusan penelitian ini adalah : 1) Bagaimana konsep kepemimpinan meraje keluarga Semende di Rejang Lebong? 2) Bagaimana aplikasi dan dampak meraje keluarga Semende di Rejang Lebong dan relevansinya dalam Islam? 3) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat  dari sistem kepemimpinan meraje di Rejang Lebong? Jenis penelitian adalah penelitian field research (penelitian lapangan). Pengumpulan data dengan menggunakan teknik interview (wawancara), observasi dan pengamatan, dokumentasi, serta catatan lapangan berupa gagasan penting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Dalam konsep meraje keluarga Semende merupakan ciri kepemimpinan yang ada dalam adat semende yang semua aturan, perintah harus ditaati setiap jurai atau anak belai. 2) Aplikasi kepemimpinan meraje berdasarkan asas kekeluargaan, pertalian daerah, persekutuan dan relevansinya sesuai dengan  ajaran Islam. Dengan adanya sistem yang disebut sebagai  Adat Semende Meraje Anak Belai yang telah tersusun dari silsilah dan garis keturunan dalam kepemimpinannya. 3) Faktor pendukung dan penghambat juga terdapat dalam meraje. Baik dalam internal jurai, sampai pada tata aturan meraje yang tidak ditaati.  
Konsep Kehendak Bebas Perspektif Muhammad Chesy Veronika Saras Wentil
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7963

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan teori kehendak bebas berdasarkan persfektif filosof Muhammad Iqbal. Problem yang diangkat dalam hal ini adalah manusia kurang memahami diri atau kediriannya sendiri, manusia banyak yang terjebak dalam tindak fatalis yang dianggap menenggelamkan individualistas, serta kurang mengembangkan potensi dalam diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehendak bebas persfektif Muhammad Iqbal dan relasinya terhadap tindakan yang dilakukan manusia, serta bagaimana aplikasi dari teori tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian library research (riset keperpustakaan), dengan menggunakan metode kualitatif-analisis. Kehendak adalah salah satu topik yang masih menjadi perdebatan sejak zaman dahulu hingga saat ini. Kehendak bebas dianggap sebagai konsep yang abstrak, namun pada kenyataannya pada kehidupan sehari-hari banyak orang yang rela berkorban demi mendapatkan kehendak bebas yang ia mau. Permasalahan yang muncul adalah di mana posisi kehendak bebas manusia, apakah manusia benar-benar bebas, bagaimana kuasa Tuhan jika manusia memiliki kehendak bebas sepenuhnya, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar kehendak bebas lainnya yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai konsep kehendak bebas khususnya dalam pandangan Muhammad Iqbal. 
Pemikiran Sufistik Al-ghazali tentang ‘ilm al-yaqin Menuju Ma’rifat Ernia Sapitri
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7968

Abstract

Pemikiran Sufistik Al-Ghazali tentang ‘ilm al-yaqin menuju ma’rifat. Problem akademik penelitian ini adalah sebuah pengetahuan ‘ilm al-yaqin yang digagaskan oleh Al-Ghazali yakni keberadaan daripada ilmu itu tanpa menyisakan adanya keraguan sedikitpun, sehingga seorang salik dapat mencapai derajat ma’rifat. Dalam khazanah kajian tasawuf terdapat beberapa tema yang sering diperbincangkan, salah satu diantaranya adalah teori sufistik mengenai Ma’rifat. Berangkat dari diskursus ini, Al-Ghazali mencari titik tolak keyakinan yang dicarinya dari keraguan menuju keimanan dalam memperoleh kebenaran dan hakikat ilmu pengetahuan. Dengan menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk mengenal Allah SWT, untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Ada tiga fokus kajian dalam penelitian ini, yaitu Bagaimana pemikiran sufistik Al-Ghazali tentang ‘ilm al-yaqin, Bagaimana pemikiran sufistik Al-Ghazali tentang ma’rifat, dan Bagaimana langkah-langkah keyakinan Al-Ghazali menuju ma’rifat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan filsafat dan hermeneutik. Sumber data primer yang digunakan adalah kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Munqidz min Ad-Dhalal, Minhajul Abidin, dan terjemahannya, sumber data sekunder dari beberapa buku, karya ilmiah dan penelitian terkait. Penelitian ini menghasilkan konklusi sebagai berikut:1) Pengetahuan ‘ilm al-yaqin menurut Al-Ghazali adalah sesuatu yang dapat diketahui secara eksplisit tanpa menyisakan adanya keraguan. 2) Ma’rifat menurut Al-Ghazali adalah pengenalan manusia akan Tuhannya. Sehingga menjadi tujuan akhir yang harus dicapai manusia sekaligus sebagai bentuk kesempurnaan tertinggi dalam memperoleh kebahagiaan yang hakiki. 3) Adapun langkah-langkah keyakinan Al-Ghazali menuju ma’rifat adalah pengetahuan yang hakiki didatangkan melalui mujahadah, isyraqiyah atau dzawq dan kasyfiyah. Dengan mengenal Allah Swt. manusia dapat mengetahui hakikat daripada ilmu pengetahuan. Sehingga manusia mampu mencapai derajat ma’rifat. Demikian, pemahaman tentang Allah SWT akan bertambah seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengenalannya terhadap Tuhan-Nya. 
Memahami Teks Keagamaan M. Samsul Ma’arif
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7964

Abstract

Manusia senantiasa berdialog dengan simbol dan tanda. Kehadiran sebuah simbol dan tanda selalu mengasumsikan adanya objek yang ditandai. Ayat atau tanda pasti menyimpan makna yang terkadang jauh lebih kompleks, oleh karena itu menangkap makna sebuah tanda tidak cukup hanya dengan mengetahuinya melainkan harus dengan menyadari dan memahami. Problem memahami menjadi penting, salah memahami berakibat fatal karena akan berakibat salah bersikap, salah menjalani hidup, dan salah bagaimana menampilkan eksistensi diri. Kesadaran memahami ini perlu dibawa untuk menyadari dan memahami berbagai simbol dan tanda, termasuk teks dan simbol yang terkait dengan agama. Pertanyaan mendasar yang perlu diperhatikan terkait hal ini adalah bagaimana generasi yang hidup di zaman dan tempat yang berbeda mampu menangkap gagasan secara benar dan utuh dari generasi terdahulu yang perjumpaannya hanya diwakili oleh simbol dan teks. Jika upaya menemukan gagasan itu hanya dengan membaca teks saja, dikhawatirkan pengungkapan makna tidak akan berhasil utuh karena aspek-aspek ruang dan waktu yang terabaikan. Teks dan simbol agama tidak mungkin berbicara sendiri, maka ia perlu pembacaan, penafsiran dan pemahaman yang benar dan tepat. Umat beragama perlu menjadi pembaca cerdas yang mampu memahami secara komprehensif kontekstualis ajaran-ajaran agama tanpa ada aspek yang terabaikan, tanpa terjebak dalam pemahaman yang parsial, terkotak-terkotak atau bahkan a-historis, ekstrimis, dan kehilangan konteks esensinya. Oleh karena itu interaksi dengan teks keagamaan tidaklah cukup dengan kecakapan membaca dan mengetahui teks saja melainkan harus dengan memahami dan menangkap konteks serta pesannya secara utuh, sehingga penafsiran dan pemahaman agama mampu menampilkan perilaku beragama yang reflektif, utuh, bijak dan indah.