cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 127 Documents
Analysis of the Term "Al-Ghulul " in QS. Al-Imran verse 161 Interpretation of Sayyid Quthb (A Study of Tafsir fii Zhilalil Qur'an) Saraswati, Aulia Niken; Shofa, Ida Kurnia; Nidhom, Khoirun
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.412

Abstract

This article examines Sayyid Quthb's interpretation of the term al-ghulul in QS. Āli-‘Imrān verse 161 and analyzes its relevance to the concept of corruption in a modern context. How is this term considered one of the terms for corruption in the Qur'an? This study uses a qualitative approach with a library research method, referring to the primary source, Tafsir Fī Ẓhilālil Qur'ān, and supported by secondary sources, through a descriptive-analytical approach based on thematic interpretation. The results of the study indicate that the term ghulul in QS. Āli-‘Imrān verse 161, according to Sayyid Quthb's interpretation, refers to one form of modern corruption, namely betrayal of public trust in the form of embezzlement of collective (shared) assets for personal or group interests. Artikel ini mengkaji penafsiran Sayyid Quthb terhadap term al-ghulul dalam QS. Āli-‘Imrān ayat 161 dan menganalisis relevansinya dengan konsep korupsi dalam konteks modern. Bagaimana term tersebut dikatakan sebagai salah satu term korupsi dalam Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), mengacu pada sumber primer yaitu Tafsir Fī Ẓhilālil Qur’ān, serta didukung oleh sumber-sumber sekunder, melalui pendekatan deskriptif-analitis berbasis tafsir tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa term ghulul pada QS. Āli-‘Imrān ayat 161 menurut penafsiran Sayyid Quthb, merujuk pada salah satu bentuk korupsi modern yaitu pengkhianatan terhadap amanah publik berbentuk penggelapan harta kolektif (Bersama) demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
The Systematic and Authenticity Of Hadith In The Book Al-Ahadits Al-Mukhtarah By Buya Mawardi Muhammad (D. 1994) Azzahra, Annisa Fitri; Safri, Edi; Wusqa, Urwatul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.445

Abstract

This research is motivated by Federspiel's classification of hadith literature studies up to the 20th century, where one of its categories is reflected in the presence of the book Al-Ahadits Al-Mukhtarah by Buya Mawardi Muhammad. This book is a compilation of hadith used as teaching material in Islamic schools, and it serves as important evidence of the development of hadith studies in the Nusantara, particularly in Minangkabau. The focus of this research is on the 2 (second) chapter of the book Al-Ahadits Al-Mukhtarah, which has not been extensively studied before, as it contains hadiths on the themes of deeds and morals widely used in Islamic education. However, it has not been thoroughly examined in terms of writing systematics and hadith quality. Additionally, the writing of hadiths in that book in some parts does not fully adhere to the hadith writing rules formulated by scholars, necessitating a scientific study to assess its conformity with academic standards in the hadith discipline. This research uses a qualitative approach with content analysis and takhrij al-hadits bi al-lafzhi methods to trace hadiths in the main book, focusing on 40 hadiths, which are analyzed in terms of sanad and matan and their conformity with primary sources (al-mashadir al-ashliyyah). This study found that the systematics of hadith writing in the book tends to be concise and thematic to facilitate student’s understanding. However, several editorial errors were found in both the sanad and matan aspects, which were most likely caused by the lengthy copying process, the involvement of calligraphers, and the use of references from secondary sources. In terms of quality, 72.5% of the hadiths are classified as shahih, 2.5% as hasan, and 25% as dha’if with varying degrees of weakness in the chain of narration. These findings indicate that the purpose of compiling the book emphasizes the conveyance of moral values and religious messages. Therefore, a scientific verification process is needed to improve the text and the hadith narrators so that this book remains suitable for use in the context of education and hadith studies. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh klasifikasi Federspiel mengenai kajian literatur hadis hingga abad ke-20, di mana salah satu kategorinya tercermin dalam kehadiran kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah karya Buya Mawardi Muhammad. Kitab ini merupakan kompilasi hadis yang digunakan sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah Islam, serta menjadi bukti penting berkembangnya kajian hadis di Nusantara, khususnya di Minangkabau. Fokus penelitian ini tertuju pada juz 2 dari kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah yang belum banyak dikaji sebelumnya, karena memuat hadis-hadis bertema amal dan akhlak yang digunakan secara luas dalam pendidikan Islam, namun belum diteliti secara mendalam dari segi sistematika penulisan dan kualitas hadis. Selain itu, penulisan hadis dalam kitab tersebut pada beberapa bagian tidak sepenuhnya mengikuti kaidah penulisan hadis yang telah dirumuskan oleh para ulama, sehingga diperlukan kajian ilmiah untuk menilai kesesuaiannya dengan standar keilmuan dalam disiplin hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi dan takhrij al-hadits bi al-lafzhi untuk penelusuran hadis dalam kitab induk terhadap 40 hadis, yang dianalisis dari segi sanad dan matan serta ditelusuri kesesuaiannya dengan sumber-sumber primer (al-mashadir al-ashaliyyah). Penelitian ini menemukan bahwa sistematika penulisan hadis dalam kitab cenderung ringkas dan tematis untuk memudahkan pemahaman siswa. Namun demikian, ditemukan sejumlah kekeliruan redaksi dalam aspek sanad maupun matan, yang dapat disebabkan karena proses penyalinan yang panjang, keterlibatan penulis kaligrafi, serta penggunaan rujukan dari sumber sekunder. Dari segi kualitas, sebanyak 72,5% hadist tergolong shahih, 2,5% hasan, dan 25% dha’if dengan kelemahan yang bervariasi. Temuan ini menunjukkan bahwa tujuan penulisan kitab ini lebih menekankan pada penyampaian nilai-nilai moral dan pesan keagamaan. Sehingga, diperlukan proses verifikasi ilmiah untuk memperbaiki redaksi dan mukharrij hadis agar kitab ini tetap layak digunakan dalam konteks pendidikan dan pengkajian hadis.
The The Islamic Boarding School Kiai's Preaching Strategy in Overcoming Burnout in Asatidz: Preaching Strategis Used in the Raudlatul Furqon Al Umariyah Islamic boarding school khumayroh, Riftianindayatul; Muhyiddin , Ahmad Shofi
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.454

Abstract

Burnout yang dialami oleh para guru pesantren (asatidz) telah menjadi isu krusial yang berdampak negatif terhadap efektivitas pendidikan dan kelangsungan dakwah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi dakwah yang digunakan oleh kyai Pondok Pesantren Roudlotul Furqon Al-Umariyah Kudus dalam mengatasi burnout di kalangan asatidz. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa strategi dakwah kyai meliputi bimbingan rohani, nasihat berdasarkan pengalaman pribadi, dan musyawarah rutin (forum konsultatif), yang menumbuhkan solidaritas emosional dan spiritual. Strategi-strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan ketahanan psikologis di kalangan asatidz, meskipun menghadapi tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan resistensi individu. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan dakwah holistik dan berbasis nilai sebagai instrumen untuk
Islamic Communication Principles as a Framework for Cultural Transformation: Ethical Integration in Contemporary Social Contexts Arianto, Nanang; Hasibuan, Rial Sukma; Desiana, Desiana; Hasibuan, Susanti
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i1.458

Abstract

This article aims to analyze the principles of Islamic communication as an ethical and strategic framework in supporting cultural transformation amidst modern social challenges. This study uses a qualitative method with a library research approach, reviewing various literature on Islamic communication and cultural change. The results of the study indicate that eight main principles of communication—clarity, openness, relevance, humility, respect, homophily, heterophily, and acculturation—have a significant contribution in creating ethical, inclusive, and contextual communication patterns. These principles are rooted in Islamic values ​​and are manifested in six speech styles (qaulan) mentioned in the Qur'an, namely: qaulan sadida, baligha, ma'rufa, karima, layyinan, and maysura. This article offers an integrative approach that not only places the principles of Islamic communication as a guideline for da'wah, but also as a cultural strategy that can accommodate the dynamics of multicultural society and the digital era. The implications of this study indicate that Islamic communication can be a transformative instrument that encourages just and civilized social change. This study recommends further field-based studies to explore the implementation of these principles in real life, especially in contemporary religious, educational, and da'wah media institutions. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip komunikasi Islam sebagai kerangka etis dan strategis dalam mendukung transformasi budaya di tengah tantangan sosial modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), mengkaji berbagai literatur tentang komunikasi Islam dan perubahan budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa delapan prinsip utama komunikasi—kejelasan, keterbukaan, relevansi, kerendahhatian, penghormatan, homofili, heterofili, dan akulturasi—memiliki kontribusi signifikan dalam menciptakan pola komunikasi yang etis, inklusif, dan kontekstual. Prinsip-prinsip ini berakar dari nilai-nilai Islam dan terwujud dalam enam gaya tutur (qaulan) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu: qaulan sadida, baligha, ma’rufa, karima, layyinan, dan maysura. Artikel ini menawarkan pendekatan integratif yang tidak hanya menempatkan prinsip komunikasi Islam sebagai pedoman dakwah, tetapi juga sebagai strategi kultural yang mampu mengakomodasi dinamika masyarakat multikultural dan era digital. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi Islam dapat menjadi instrumen transformatif yang mendorong perubahan sosial yang adil dan beradab. Penelitian ini merekomendasikan studi lanjut berbasis lapangan untuk menggali implementasi prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan nyata, khususnya di lembaga keagamaan, pendidikan, dan media dakwah kontemporer.
Social Transformation Through Dhikr: Thoriqoh Naqsyabandiyah's Da'wah Strategy in Central Java Hamzawi, khotim; Yasfin, Moh Anwar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i2.493

Abstract

This study describes the da'wah strategy applied by Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah in Central Java as a representation of Sufistic da'wah that is integrative and adaptive in responding to the challenges of modernity. This order not only focuses on the spiritual dimension through the internalization of dhikr khofi and the practice of muraqabah, but also implements a da'wah bil-hal approach, namely da'wah through concrete examples in the social sphere. Using a qualitative approach, data was collected through in-depth interviews, documentation studies, and participatory observation of the community of worshipers in the Demak area. The research findings indicate that the tarekat's da'wah strategy is built on the foundation of three main dimensions as proposed in Al-Bayanuni's theory: emotional-spiritual ('athifi), rational-intellectual ('aqli), and empirical-behavioral ('hissi) dimensions. Such strategies not only contribute to the formation of individual spiritual character, but also strengthen social solidarity and form an inclusive religious society. Another specialty of this Thoriqoh is its ability to contextualize Sufistic values with local culture, such as through the use of tembang macapat in dhikr activities and recitation assemblies. Thus, Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah functions not only as a means of spiritual development, but also as a catalyst for social change that is transformative, contextual, and far-reaching in the midst of the diversity of Central Java society. Kajian ini menguraikan strategi dakwah yang diterapkan oleh Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah di Jawa Tengah sebagai representasi dakwah sufistik yang bersifat integratif dan adaptif dalam merespons tantangan modernitas. Tarekat ini tidak hanya menitikberatkan pada dimensi spiritual melalui internalisasi dzikir khofi dan praktik muraqabah, tetapi juga mengimplementasikan pendekatan dakwah bil-hal, yakni dakwah melalui keteladanan konkret dalam ranah sosial. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, serta observasi partisipatif terhadap komunitas jamaah di wilayah Demak. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa strategi dakwah tarekat ini dibangun di atas fondasi tiga dimensi utama sebagaimana dikemukakan dalam teori Al-Bayanuni: dimensi emosional-spiritual (‘athifi), rasional-intelektual (‘aqli), dan dimensi empiris-perilaku (‘hissi). Strategi tersebut tidak hanya berkontribusi pada pembentukan karakter spiritual individu, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan membentuk masyarakat religius yang inklusif. Keistimewaan lain dari Thoriqoh ini adalah kemampuannya dalam mengontekstualisasikan nilai-nilai sufistik dengan budaya lokal, seperti melalui pemanfaatan tembang macapat dalam aktivitas dzikir dan majelis pengajian. Dengan demikian, Thoriqoh Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah berfungsi tidak hanya sebagai sarana pembinaan spiritual, melainkan juga sebagai katalisator perubahan sosial yang transformatif, kontekstual, dan berdaya jangkau luas di tengah keberagaman masyarakat Jawa Tengah.
The Historical Approach in Muhammad Arkoun's Thought: Its Relevance to the Study of Contemporary Islamic Civilization History Nofrianti, Mami; Mardianto, Pisdoni; Fithri, Widia
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i2.502

Abstract

This paper discusses the historical approach in Muhammad Arkoun's thinking. It aims to reveal and analyze the historical approach in Muhammad Arkoun's thinking and explain its relevance to the development of contemporary Islamic Civilization History studies. This research stems from concerns about the normative and apologetic tendencies in Islamic historical writing, which necessitate a more contextual and rational critical reading. It uses a qualitative method based on literature study, specifically library research. Data was collected through searching primary and secondary sources in the form of Muhammad Arkoun's works, books, scientific articles, and relevant academic writings. Data analysis was carried out through content analysis in three stages: (1) data reduction, namely selecting and classifying the main concepts in Arkoun's thinking; (2) data presentation, by describing the findings in accordance with the frameworks of historicity, deconstruction, and interdisciplinary approaches; and (3) drawing conclusions, to assess the relevance of Arkoun's thoughts to the study of contemporary Islamic Civilization History. The results of the study show that Arkoun's thinking produced five important findings. First, the concept of textual historicity offers a new paradigm in reading Islam as an evolving socio-cultural construct, rather than a frozen dogma. Second, the deconstruction of classical Islamic historiography opens up space for criticism of ideological historical narratives and opens up opportunities for alternative historical writing from the perspective of marginalized groups. Third, Arkoun integrates the humanities—such as anthropology, linguistics, and philosophy—as the basis for an interdisciplinary approach to the study of Islam. Fourth, his thinking provides a new methodological model for education and research in Islamic Civilization History, namely Islamic history as a reflective discourse that interprets the social and cultural dynamics of the ummah. Fifth, Arkoun's historical approach became an instrument of religious reasoning reform, encouraging a transformation from closed reasoning (la raison close) to open reasoning (la raison ouverte) that is rational, dialogical, and contextual. Thus, the historical approach in Arkoun's thinking is not only a critique of classical Islamic historiography, but also provides a new direction for epistemological, methodological, and paradigmatic renewal in the development of Islamic Civilization History studies in the modern era. Tulisan ini membahas pendekatan sejarah dalam pemikiran Muhammad Arkoun. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis pendekatan sejarah dalam pemikiran Muhammad Arkoun serta menjelaskan relevansinya bagi pengembangan studi Sejarah Peradaban Islam kontemporer. Penelitian ini berangkat dari kegelisahan atas kecenderungan penulisan sejarah Islam yang normatif dan apologetik, sehingga diperlukan pembacaan kritis yang lebih kontekstual dan rasional. Melalui metode kualitatif berbasis studi literatur, jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui penelusuran sumber-sumber primer dan sekunder berupa karya-karya Muhammad Arkoun, buku, artikel ilmiah, dan tulisan-tulisan akademik yang relevan. Analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) dengan tiga tahap: (1) reduksi data, yakni memilih dan mengklasifikasi konsep-konsep utama dalam pemikiran Arkoun; (2) penyajian data, dengan menguraikan temuan sesuai kerangka historisitas, dekonstruksi, dan pendekatan interdisipliner; dan (3) penarikan kesimpulan, untuk menilai relevansi pemikiran Arkoun terhadap studi Sejarah Peradaban Islam kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Arkoun menghasilkan lima temuan penting. Pertama, konsep historisitas teks menawarkan paradigma baru dalam membaca Islam sebagai konstruksi sosial-budaya yang terus berkembang, bukan dogma yang beku. Kedua, dekonstruksi historiografi Islam klasik membuka ruang kritik terhadap narasi sejarah yang ideologis dan membuka peluang penulisan sejarah alternatif dari perspektif kelompok terpinggirkan. Ketiga, Arkoun mengintegrasikan ilmu-ilmu humaniora—seperti antropologi, linguistik, dan filsafat—sebagai landasan pendekatan interdisipliner dalam studi Islam. Keempat, pemikirannya menyediakan model metodologis baru bagi pendidikan dan riset Sejarah Peradaban Islam, yaitu sejarah Islam sebagai wacana reflektif yang menafsirkan dinamika sosial dan budaya umat. Kelima, pendekatan historis Arkoun menjadi instrumen reformasi nalar keagamaan, mendorong transformasi dari nalar tertutup (la raison close) menuju nalar terbuka (la raison ouverte) yang rasional, dialogis, dan kontekstual. Dengan demikian, pendekatan sejarah dalam pemikiran Arkoun tidak hanya bersifat kritik terhadap historiografi Islam klasik, tetapi juga memberikan arah baru bagi pembaruan epistemologis, metodologis, dan paradigmatik dalam pengembangan studi Sejarah Peradaban Islam di era modern.
The Phenomenon of Mukbang on Social Media: Sayyid Qutbuh’s Perspective on The Tafsir of The Qur’an Ummiyah, Meity; Zuhri, Ahmad; Aisyah, Nur
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 7 No. 2 (2025): Desember (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v7i2.507

Abstract

In Islam, all excesses are prohibited because they will have fatal consequences, such as mukbang which can damage the health of the human body. In this study, the analysis of the Mukbang phenomenon on social media was studied: "Tafsir Fii Zhilalil Qur'an". Mukbang on social media shows the phenomenon of overeating. In this study, a qualitative method was used with a Library Research Approach. The qualitative method was chosen to describe, study, and interpret narrative and descriptive data, especially related to the ethics of eating from the perspective of Sayyid Qutb. In the study, it can be concluded that the Tafsir Fi Ẓilālil Qur'an emphasizes that Islam is a religion that regulates all aspects of human life, including in seemingly simple matters such as eating. Through this prohibition, the Qur'an educates people to always protect themselves from excessive behavior that can lead to sin, and directs people to cultivate gratitude, simplicity, and responsibility. This message aligns with Quthub's principles of da'wah, which emphasize spiritual development through the internalization of Qur’anic values ​​in everyday life. Dalam Islam, segala hal yang berlebihan dilarang karena akan berakibat fatal, seperti mukbang yang dapat merusak kesehatan tubuh manusia. Dalam penelitian ini, analisis fenomena Mukbang di media sosial dikaji: “Tafsir Fii Zhilalil Qur’an”. Mukbang di media sosial menunjukkan fenomena makan berlebihan. Dalam penelitian ini, metode kualitatif digunakan dengan Pendekatan Library Research. Metode kualitatif dipilih untuk mendeskripsikan, mengkaji, dan menginterpretasi data naratif dan deskriptif, khususnya terkait etika makan dari perspektif Sayyid Qutb. Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Tafsir Fi Ẓilālil Qur’an menekankan bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal-hal yang tampak sederhana seperti makan. Melalui larangan ini, Al-Qur’an mendidik manusia untuk senantiasa menjaga diri dari perilaku berlebihan yang dapat berujung pada dosa, dan mengarahkan manusia untuk memupuk rasa syukur, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Pesan ini sejalan dengan prinsip dakwah Quthub yang menekankan pengembangan spiritual melalui internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Page 13 of 13 | Total Record : 127