ABSTRAK:Gender dan karya sastra memang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Khususnya prosa (cerpen dan novel) tokoh perempuan khususnya merupakan aspek penting dalam alur yang terjadi dalam prosa. Kajian gender dan karya sastra merupakan bentuk khusus dari feminisme sastra. Penelitian ini berupaya mengurai tentang pergolakan gender yang terjadi dalam Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri Karya Ni Komang Ariani khususnya dari aspek subordinasi. Penelitian menggunakan metode penelitian deksriptif kualitatif. Data penelitian ini yaitu kutipan kalimat yang mengandung unsur subordinasi gender yang terdapat pada kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani. Sumber data dalam penelitian ini merupakan cerpen-cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani. Cerpen yang menjadi sumber data antara lain: Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya, Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, dan Nyoman Rindi. Teknik pengambilan data menggunakan teknik baca dan catat. Tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini yaitu menerapkan tiga tahapan, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) reduksi/ pengklasifikasian data, dan (3) mengurai/ menganalisis dan menyajikan data. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang adanya tiga jenis subordinasi yaitu (1) subordinasi fisik, (2) subordinasi psikologi, dan (3) subordinasi sosial. Ketiga jenis subordinasi tersebut terjadi karena lingkungan internal (keluarga) dan eksternal (sosial masyarakat) menempatkan perempuan sebagai ‘sosok’ yang dianggap inferior dan kurang layak untuk mendapat peran sentral di ruang publik.Kata kunci: subordinasi gender, cerita pendek A. PENDAHULUANHubungan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu tempat merupakan hasil konstruksi dari kisah-kisah yang diceritakan secara turun-temurun. Kisah ini bermula dari mitos tentang perempuan yang berasal dari tulang rusuk laki-laki. Kisah mengenai asal mula perempuan ini menjadi rumit karena adanya banyak penafsiran dari para musafir yang meyakini kisah ini sebagai produk dari Tuhan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Lardmer kisah-kisah yang seperti ini tidak dapat ditolak keberadaannya karena sumbernya dari kepercayaan dalam sebuah agama. Ironisnya banyak sekali yang menganggap bahwa peran perempuan dalam kisah-kisah tersebut hanya sebagai makhluk kedua atau manusia yang selalu ada di bawah laki-laki (Sugihastuti, 2015).Berdasarkan uraian pengertian di atas gender diartikan sebagai alat untuk membagi manusia menjadi laki-laki atau perempuan atas kejadian sosial budaya yang telah terjadi. Tubuh laki-laki dan perempuan secara biologis memiliki perbedaan yang sangat jelas. Pakaian yang dikenakan antara laki-laki dan perempuan secara sosial budaya juga memiliki perbedaan. Perananannya dalam masyarakat juga memiliki perbedaan. Terdapat dua hal penting yang menjadi topik utama dalam definisi gender di atas, pertama gender merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya, kedua konstruksi sosial tersebut terjadi dalam kurun waktu yang lama, konstan, dan terjadi berulang-ulang sehingga membentuk simultan yang menjadikan masyarakat memproduksi konsep tersebut sebagai kebenaran objektif untuk membentuk masyarakat.Pengetahuan masyarakat yang dilegitimasi membuat pandangan masyarakat terhadap gender itu sebagai indentifikasi dari fungsi, sifat, peran, dan tanggung jawab yang berbeda antara laki-laki dan perempuan (McLellan, 2016; Ramadhani, 2018). Laki- laki digambarkan memiliki pribadi yang kuat, gagah, perkasa, maskulin, rasional, dan juga agresif. Sedangkan perempuan digambarkan sebagai sosok yang feminin, emosional, lemah lembut, dan sabar. Selain itu konstruksi sosial mengenai gender ini mencakup pembeda ruang antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki ditempatkan diruang publik sedangkan perempuan ditempatkan di ruang domestik. Laki-laki memperhatikan urusan produksi sedangan perempuan lebih memperhatikan menganai reproduksi. Dalam hal tanggung jawab, laki-laki bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga keluarga, sedangkan perempuan bertanggung jawab untuk merawat dan mengurus rumah tangga. Konstruksi ini terjadi karena adanya pengaruh dari berbagai faktor, di antaranya budaya, politik-ideologi, sejarah, agama, dan lain sebagainya. Melalui perbedaan-perbedaan tersebut, perempuan ditangkap sebagai subjek yang mengalami subordinasi.Pembicaraan mengenai subordinasi perempuan ini sudah ada sejak abad ke-18 (Fiorenza, 1979). Perlakuan subordinasi terhadap perempuan sendiri telah terjadi sejak lama, bahkan sejak terbentuknya sebuah organisasi pertama yang bernama keluarga. Karena perlakuan ini terjadi dalam waktu yang cukup lama, dalam pikiran manusia mulai terkonstruksi bahwa takdir yang menimpa kaum perempuan ini merupakan takdir, hukum kodrat, atau dianggap sebagai sesuatu yang sudah diberi dan tidak perlu dipersoalkan. Kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan status perempuan. pertanyaan ini ditujukan karena berusaha menuntut struktur dan sistem yang sudah ada sebelumnya, sistem dan struktur yang membuat perempuan selalu menempati posisi ke dua dalam kehidupannya (Kensinger, 2015)Pada karya sastra, pembicaraan mengenai gender terbentuk karena adanya budaya patriarki yang menjadikan perempuan dalam posisi yang inferior sedangkan laki-laki superior. Hal ini berarti bahwa gender menjadi pembeda untuk status sosial antara laki- laki dan perempuan. Pembeda tersebut menjelaskan adanya feminin dan maskulin yang menjelaskan gender dan jenis kelamin. yang secara kultural merupakan hasil dari superstruktur ideologis dan infrastruktur. Oleh karena itu, feminitas mengandung tentang psikologis kultural yang mengartikan bahwa seseorang tidak lahir sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan (Habiba, U., Ali, R., & Ashfaq, n.d.; Rokhmansyah A, 2016)Label perempuan seringkali dianggap sebagai sosok yang lemah, emosional, dan tidak rasional. Hal ini bermula dengan adanya mitos-mitos yang terus saja disebarkan di lingkungan masyarakat. Anggapan tersebut akhirnya membuat perempuan diposisikan dalam urutan kedua, sosok yang selalu terbayang-bayangi oleh superior laki-laki. Bahkan perempuan dianggap tidak mampu tampil di depan untuk memimpin. Diskriminasi terhadap gender ini termanifestasikan dalam berbagai bentuk di antaranya subordinasi, marginalisasi, kekerasan, sterotipe, dan beban kerja.Subordinasi sebagai bentuk diskriminasi gender memiliki arti sebagai kedudukan bawahan. Anggapan sosok perempuan yang emosional dan irrasional menjadikan perempuan tidak bisa memimpin, berakibat pada pemikiran yang membuat perempuan dianggap tidak penting (inferior) (Syafe’I, 2015). Norma yang dibangun dalam masyarakat patriarki dibangun dengan dasar perbedaan gender yang memunculkan ketidakadilan pada perempuan.Fakih mengungkapkan bahwa subordinasi gender terjadi karena banyaknya ragam bentuk dari berbgai tempat dan dalam kurun waktu yang lama (2013). Jika dalam rumah tangga ada keterbatasan ekonomi maka keputusan untuk menyekolahkan anak-anaknya diprioritaskan pada anak laki-laki. Berbeda dengan suami yang dengan bebas dapat menentukan keputusannya sendiri tanpa harus melihat pertimbangan dari istri. Praktik ini dihasilkan karena adanya kesadaran gender yang tidak adil ( M. S. Sugihastuti, 2019).Subordinasi terjadi karena fisik perempuan yang kurang berdaya ketika harus menyelesaikan tugas-tugas tertentu (Andharu, D., & Widayati, 2018; Parti, 2013). Subordinasi perempuan tidak hanya terjadi dalam dunia nyata, namun juga dalam karya sastra. Salah satu karya sastra yang menggambarkan subordinasi gender yaitu kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani (Ariani, 2012). Sebanyak 16 judul cerita pendek yang tersedia, lebih dari setengah total cerita menceritakan tentang ketidakadilan gender, seperti subordinasi.Penelitian serupa terkait dengan kumpulan cerita pendek Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani pernah dilakukan oleh peneliti lain. Sebagai kajian relevan, kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani ini pernah dikaji dan diteliti Amirul Nisa (2018) dengan judul Budaya Patriarki Bali Menurut Perspektif Ni Komang Ariani Dalam Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri. Pada penelitian ini, dipaparkan bagaimana keterkaitan sistem patriarki yang sudah tertanam sejak lama dan juga sikap perempuan dan posisinya di masyarakat Bali. Penelitian terkait yang menjadi kajian relevan yaitu penelitian dari Rahma Wahyu Ningsih (2021) yang berjudul Nilai Kemanusiaan dalam Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani melalui Pendekatan Psikologi Sastra. Penelitian ini menghasilkan pembahasan terkait nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud. Peneltian selanjutnya yang menjadi pembanding adalah penelitian yang dilakukan oleh Novi Anggraheni (2013) dengan judul Citraan Perempuan Dalam Kumpulan Cerpen Bukan Permaisuri Karya Ni Komang Ariani dan Saran Implementasinya dalam Pengajaran Sastra di SMA.Berdasarkan kajian relevan di atas, novelty atau kebaruan dari penelitian ini adalah mengulas tentang subordinasi yang terjadi di dalam kumpulan cerita pendek Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani. Penelitian akan membicarakan tentang potret subordinasi perempuan dalam cerita pendek Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani. Penelitian ini akan mengulas kehidupan tokoh perempuan dalam cerpen Bukan Permaisuri dari prespektif dominasi patriarki dalam bentuk subordinasi. B. METODOLOGI PENELITIANPenelitian menggunakan metode penelitian deksriptif kualitatif. Data-data pada penelitian ini telah melewati tahap validasi oleh pakar yang dianggap mempunyai keahlian di bidangnya, proses validasi digunakan untuk mengecek keabsahan data yang akan digunakan dalam penelitian ini (Moleong, 2017). Cerpen yang menjadi sumber data antara lain: Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya, Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, dan Nyoman Rindi.Teknik pengambilan data menggunakan teknik baca dan catat. Peneliti melakukan pembacaan kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani secara berulang dan mencatat bagian-bagian yang menjadi data penelitian. Tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan pada penelitian ini yaitu menerapkan tiga tahapan, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) reduksi/ pengklasifikasian data, dan (3) mengurai/ menganalisis dan menyajikan data. Pengumpulan data dilakukan dengan mencari atau menggali kutipan berupa kalimat atau dialog yang mengandung unsur ketidakadilan gender yang akan menjadi data penelitian ini. Langkah selanjutnya yang akan dilakukan yaitu reduksi data. Data selanjutnya akan direduksi sesuai kelompok atau klasifikasi data yang sudah ditentukan. Setelah data terkumpul dan direduksi, maka data akan analisis sehingga menghasilkan sebuah gambaran atau penafsiran tentang subordinasi gender yang terkandung dalam kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani. C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSubordinasi secara sederhananya dapat diartikan sebagai anggapan bahwa gender tertentu (perempuan dalam hal ini) merupakan mahkluk irrasional atau emosional sehingga tidak bisa/ dipercaya untuk tampil memimpin sehingga muncul sikap yang menempatkannya pada posisi yang tidak penting (Mu’minin, 2012; Fakih, 2013). Dalam sastra, ketidakberdayaan perempuan atas kedudukan sosial tersebut selalu ditampilkan sebagai tokoh yang sentimetal, lemah, perasa, butuh perlindungan dan sebagainya. Sementara itu, peran laki-laki selalu ditonjolkan sebagai manusia yang tegas, rasional, cerdas, mandiri, berani, non sentimental dan sebagainya. Anggapan tersebut membuat munculnya penempatan perempuan pada posisi yang dianggap tidak penting, dan tidak berpengaruh (Verah et al., 2022). Subordinasi dalam kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani ini terbagi atas tiga bentuk, yaitu (1) subordinasi fisik, (2) subordinasi psikologis, dan (3) subordinasi sosial.Subordinasi secara sederhananya dapat diartikan sebagai anggapan bahwa gender tertentu (perempuan dalam hal ini) merupakan mahkluk irrasional atau emosional sehingga tidak bisa/ dipercaya untuk tampil memimpin sehingga muncul sikap yang menempatkannya pada posisi yang tidak penting (Mu’minin, 2012; Fakih, 2013). Dalam sastra, ketidakberdayaan perempuan atas kedudukan sosial tersebut selalu ditampilkan sebagai tokoh yang sentimetal, lemah, perasa, butuh perlindungan dan sebagainya. Sementara itu, peran laki-laki selalu ditonjolkan sebagai manusia yang tegas, rasional, cerdas, mandiri, berani, non sentimental dan sebagainya. Anggapan tersebut membuat munculnya penempatan perempuan pada posisi yang dianggap tidak penting, dan tidak berpengaruh (Verah et al., 2022). Subordinasi dalam kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Ariani ini terbagi atas tiga bentuk, yaitu (1) subordinasi fisik, (2) subordinasi psikologis, dan (3) subordinasi sosial.Subordinasi FisikSubordinasi fisik terhadap perempuan terjadi karena perempuan dikenal sebagai makhluk yang dianggap lebih lemah jika dibandingkan dengan laki-laki. (Harahap, 2019), perempuan dianggap lemah secara fisik dikarenakan perempuan dianggap sebagai mahkluk yang hanya memiliki keluatan untuk ‘reproduksi’ dan laki-laki melebihinya dalam hal apapun. Kondisi tersebut telah mengakar sebagai budaya yang telah diterapkan secara nyata ataupun langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Data dan uraian yang menggambarkan tentang subordinasi fisik terhadap perempuan dapat dilihat pada kutipan cerpen berjudul Nyoman Rindi berikut.“Semua laki-laki yang pernah mendekatinya adalah laki-laki yang menganggap perempuan adalah pelayan bagi mereka.” “Menikahlah Rindi dan terima takdirmu sebagai perempuan. Kalaupun tidak berbahagia dengan suami, setidaknya kamu akan memiliki anak-anak yang lucu. Anak-anak yang akan menjagamu kelak ketika kamu tua.” (Nyoman Rindi, hal. 65). Cerpen ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nyoman Rindi yang hampir berusia 40 tahun namun belum pernah menikah. Rindi merasa dalam hidupnya tidak membutuhkan seorang laki-laki sebagai pasangan hidup. Ia merasa bisa melakukan segalanya dalam hidupnya tanpa seorang laki-laki. Pada data tersebut menggambarkan bahwa Rindi menjelaskan kenapa ia sampai berumur 40 tahun belum mau menikah. Rindi menganggap bahwa semua laki-laki yang mendekatinya hanya ingin mnejadikannya sebagai pelayan laki-laki saja. Rindi tidak mau jika perempuan sepertinya hanya berakhir menjadi pelayan bagi laki-laki.Kutipan selanjutnya menjelaskan bahwa Wayan Suntrig kakak dari Rindi menasehati agar Rindi segera menikah. Menurut Suntrig, ia tahu bahwa menikah tidak selalu bahagia dengan suami. Namun ia juga menjelaskan bahwa Rindi mungkin akan bahagia jika menikah dan mempunyai anak-anak, anak-anak lucu yang akan menjaga Rindi di kala ia tua. Perempuan tidaklah harus menjadi pelayan bagi laki-laki. Perempuan tidak hanya sebatas pelayan yang menyediakan makan atau kopi bagi laki-laki. Untuk apa ia mau menerima yang mau menjadikannya pelayan. Perempuan bahkan bisa melakukan hal apapun, bahkan perempuan bisa terbiasa mengerjakan semuanya sendiri dan sanggup mencari uang untuk dirinya sendiri.Tokoh perempuan dalam cerpen ini tetap kekeh tidak mendengarkan nasehat dari kakaknya itu, ia tetap bersikeras bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri, dan ia juga masih bisa bahagia dengan teman-temannya yang menghiburnya. Dalam kehidupan bermasyarakat terjadi standarisasi atau penilaian-penilaian yang terjadi kepada seseorang. Perempuan mendapatkan penilaian dan standarisasi tertentu oleh keluarganya dan masyarakatnya. Keputusan yang diambil oleh Rindi tersebut merupakan subordinasi, Rindi seakan tidak akan pernah dianggap normal dan akhirnya keputusan yang diambil oleh Rindi itu menjadi hal yang tidak dianggap oleh mayarakat. keputusan Rindi untuk tidak menikah tersebut tidak lain juga karena kondisi kakaknya yang dianggap mendapatkan posisi yang tidak dianggap dalam rumahnya (keluarga) karena kakaknya tersebut memiliki kondisi fisik yang tidak seperti perempuan lainnya. Perhatikan kutipan berikut.“Dua puluh tahun hidupnya, ia adalah pelayan bagi Jinah dan pelayan bagi dua nak- anak laki-lakinya.” “Sudah lama Klanggi merasa kehilangan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Bahkan ia membenci dirinya sendiri. Klanggi membenci giginya yang agak tonggos dan kedunguannya.” (Nyoman Rindi, hal. 70) Pada kedua data tersebut menggambarkan jika pernikahan yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan gender. Klanggi, juga merupakan kakak dari Nyoman Rindi. Klanggi menasehati Rindi agar ia menikah, sama seperti Suntrig, akhirnya ia pasrah dengan keputusan adiknya yang ingin tetap tidak menjadi pelayan bagi laki-laki. Klanggi menyadari betul bagaimana ia menjadi pelayan bagi rumahnya, pelayang bagi suami dan anak-anaknya. Hal itulah yang membuat Rindi merasa enggan dan tidak memikirkan tentang pernikahan.Sebagai perempuan, Klanggi merasa dirinya menduduki tempat yang rendah, segala keputusan dan pilihannya tidak akan ada artinya. Laki-laki, suaminya lah yang bekerja dan mencari uang, sehingga ia di tempatkan di tempat duduk yang tinggi. Klanggi merasa rendah karena Jinnah lah yang mencari uang untuk menghidupi keluarga. Karena itulah tempat Jinnah selalu lebih tinggi, lebih baik, dan lebih nyaman daripada Klaggi.Klanggi yang mempunyai fisik tidak sempurna pun semakin membuatnya merasa menjadi manusia yang rendah. Klanggi merasa lebih renda dari Jinnah, dengan dirinya yang tidak bekerja dan fisiknya yang tidak sempurna. Mindernya Klanggi jelas, ia merasa kehilanggan kebanggaan pada dirinya sendiri. Klanggi tahu ia tidak pernah bahagia, namun sudah terlambat baginya untuk mengulang sejarah hidupnya. Klanggi membenci giginya yang agak tonggos dan kedunguannya. Namun, ia tetap merasa tidak mampu untuk berdiri sendiri dalam artian tidak menikah, seperti kokohnya Rindi yang tidak menikah. Diam-diam Klanggi kagum pada pendirian dan sikap dari Rindi.Kutipan tersebut dapat dikatakan subordinasi karena Rindi terus saja memegang teguh prinsipnya. Keputusan Rindi yang ia pegang terus membuat perempuan lain mulai berpikir dan mengerti mengapa Rindi tetap memeng keputusannya itu. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Fakih (2013) bahwa perempuan itu irasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Selain tidak dianggapnya perempuan di ranah publik, terkadang terdapat juga suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Perempuan dipandang kurang mampu dalam banyak hal. Pandangan ini bagi perempuan menyebabkan mereka merasa sudah selayaknya sebagai sosok yang tidak penting, sosok bayangan, dan tidak berani memperlihatkan kemampuannya sebagai pribadi.Subordinasi PsikologiSubordinasi psikologis merupakan penganggapan tidak penting terhadap perempuan yang memiliki karena memiliki rasa peka yang tinggi, karena selalu menggunakan perasaannya dalam menghadapi dan menjalani berbagai hal. Berbeda dengan laki-laki yang lebih mengutamakan logika dalam bertindak dan menyelesaikan masalah, sehingga bentuk subordinasi psikologi telah terekontruksi secara sosial dan kultural yang menandakan bahwa ‘sikap begitu’ identik dengan perempuan(Fakih, 2013; Mu’minin, 2012). Data dan uraian yang menggambarkan tentang subordinasi psikologi terhadap perempuan dapat dilihat pada kutipan berikut.“Dinaya menyesal tidak pernah memberi ruang pada perasaannya sendiri. Seharusnya ia birkan perasaan itu memilih laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya.” (Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, hal. 21) Kutipan tersebut menggambarkan bahwa perempuan sebetulnya bisa saja menentukan nasib berumah tangganya sendiri, hanya saja perempuan tidak dipercaya untuk bisa menentukan hidupnya sendiri. Dari kutipan tersebut tergambarkan bahwa Dinaya tidak bisa menentukan laki-laki untuk menjadi pasangan hidupnya sendiri. Karena adat dan peraturan kedua orang tuanya akhirnya Dinaya tidak bisa bersama dengan laki- laki Jawa teman kuliahnya itu.Dalam sebuah adat dan budaya suatu tempat yang masih kental, perbedaan adat atau budaya dapat memisahkan dua insan yang saling mencintai. Perbedaan adat pada tokoh perempuan dan kekasihnya mengakibatkan mereka tidak bisa meneruskan hubungannya. Tapi pada sisi lain Dinaya dan perempuan lainnya bisa saja melakukan pernikahan dengan adat yang berbeda.Namun pada kutipan tersebut subordinasi psikologi terhadap perempuan masih melekat pada perempuan. Apapun keputusan yang diambil oleh perempuan seperti pada kutipan akan tidak dianggap penting oleh orang-orang. Keputusan atau pilihan perempuan pada data tersebut tidak dianggap oleh sekitarnya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Fakih (2013) bahwa perempuan itu irasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Karena subordinasi inilah yang menyebabkan Dinaya tidak bisa menikah dengan laki-laki Jawa teman kuliahnya dulu.Subordinasi SosialSubordinasi sosial terhadap perempuan merupakan bentuk pelabelan bahwa perempuan dianggap tidak penting karena pekerja ‘domestik’ dan makhluk inferior yang melekat atas dirinya. Pada karya sastra, perempuan umumnya digambarkan sebagai tokoh domestik yang tidak memiliki wewenang atau kekuasaan pada bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya (Verah et al., 2022). Perempuan dianggap tidak memiliki tempat pada ruang publik (sosial) karena dianggap hanya mampu berkutat pada rumah tangga saja, karena anggapan tersebutlah, perempuan tidak dianggap ‘superior’ seperti halnya laki- laki. Data dan uraian yang menggambarkan tentang subordinasi sosiologi terhadap perempuan dapat dilihat pada kutipan berikut.“Tidak cukupkah ia menjadi perempuan yang biasa aja, seperti aku suaminya yang merasa cukup hidup sebagai orang biasa.” (Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya, hal. 1) Cerpen ini menceritakan tentang seorang suami/laki-laki yang sedang menunggu istrinya yang dirawat di rumah sakit karena menderita kanker paru-paru. Kutipan tersebut menggambarkan seorang lelaki atau suami yang tidak suka istrinya menjadi perempuan yang tidak biasa-biasa saja. Suaminya mengganggap seharusnya istrinya dapat mnejadi perempuan yang biasa saja. Data tersebut dapat dikatakan subordinasi sosial terhadap perempuan, karena tokoh perempuan dalam cerpen tesebut menjadi perempuan yang sering bekerja di ranah publik dan menyita banyak tenaga dan kesehatannya. Karena keputusannya itu sang suami merasa kecewa hingga akhirnya tokoh perempuan tersebut dirawat secara intensif karena mengalami kondisi kesehatan yang menurun dan sakit yang berat.Perempuan sulit mendapat pengakuan dari laki-laki jika mereka sering menyuarakan keputusan atau pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Apalagi, dalam cerpen tersebut tokoh perempuan tersebut digambarkan bekerja sebagai penyalur advokasi. Perbedaan gender memang dirasakan dalam pekerjaan, apalagi pekerjaan yang dijalani perempuan dalam cerpen tersebut melibatkan banyak orang dan dikerjakan di ranah publik. Sehingga banyak laki-laki yang sudah berumah tangga tidak mau atau bahkan mengharapkan perempuan yang menjadi istrinya adalah perempuan biasa-biasa saja. Kutipan yang menggambarkan subordinasi sosial terhadap perempuan juga terdapat pada cerpen yang berjudul Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara. Berikut kutipanya.“Dewa Made Dinaya sudah menduga di mana ia akan berakhir. Di tempat ini dengan posisi seperti ini. inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sias-sia belaka.” “Dinaya merasa tidak penting baginya untuk melanjutkan kuliah. Perkualiahan akan membuka pikirannya dan membuatnya mengembara ke tempat-tempat yang jauh. Buat apa? Toh pada akhirnya ia akan kembali ke tempat ia berasal. Di sini, dengan posisi seperti ini.” (Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, hal. 19). Cerpen ini menceritakan tentang seorang perempuan atau istri bernama Dinaya yang secara paksa direnggut karirnya oleh keluarga dan suaminya. Dinaya dipaksa berhenti dari pekerjaannya mnejadi Dosen, setelah itu Dinaya hanya sebatas di rumah. Dipenjara dan hanya menjadi perempuan yang berurusan dengan dapur, sumur, dan kasur. Dua kutipan tersebut menggambarkan Dinaya tokoh peremuan dalam cerpen itu sudah mengetahui bahwa ia akan mengalami nasib yang sudah dibayangkan, walaupun ia mendapatkan pendidikan yang tinggi dari orang tuanya. Perempuan mendapatkan subordinasi sosial karena orang-orang terdekatnya atau masyarakat seringkali tidak melihat atau tidak menganggap apa yang sudah dikerjakan oleh perempuan tersebut. Seperti yang diceritakan oleh tokoh Dinaya, perempuan dengan pendidikan atapun tanpa pendidikan pun perempuan akan berakhir di tempat yang sama yaitu pekerjaan domestik.Tokoh perempuan dalam cerpen itu sudah tahu bahwa ia akan berakhir dengan bagaimana. Berakhir di sini bukan berakhir dalam bentuk akhir dari hidup, melainkan berakhir dalam karirnya. Dinaya dan perempuan pada umumya pasti mempunyai mimpi dan cita-citanya. Namun perempuan mendapatkan ketidakadilan gender berupa subordinasi sosial terhadap perempuan yang menyebabkannya tidak bisa berada dalam puncak karirnya. Perempuan yang mengalami subordinasi sosial terhadap dirinya mendapat mosi tidak percaya dalam hal memimpin dan tampil di ranah publik.Dalam kedua kutipan yang dipaparkan di atas, Dinaya sebagai perempuan walau sudah memiliki pendidikan yang tinggi ada anggapan dari orang tua atau orang-orang terdekatnya bahwa perempuan tersebut tidak akan sanggup bekerja keras di ranah publik. Subordinasi sosial inilah yang membuat Dinaya merasakan akhir karirnya. Selain itu, Dinaya dan pekerjaannya pun tidak diberi apresiasi oleh suaminya, perhatikan kutipan berikut.“Gusti Nyoman seorang pegawai negeri. Pekerjaan yang selalu membuat suaminya itu membusungkan dada dan menegakkan bahu. Sebaliknya bagi Dinaya, pekerjaan tidak lebih hanya kulit.” “Ghana lebih sering terlihat seperti bermonolog, berbicara dan kemudian memberikan komentar sendiri atas pembicaraannya. Di manakah posisi Dinaya pada saat itu, mungkin ia hanya menjadi cermin yang memantulkan bayangan suaminya.” (Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, hal. 20). Pada kedua data di atas menggambarkan Gusti Nyoman Ghana yaitu suami Dinaya terlihat begitu membusungkan dada dan membangga-banggakan pekerjaannya sebagai PNS. Suaminya Dinaya seakan tidak menganggap Dinaya yang juga bekerja, bahkan Dinaya juga tidak mendapat apresiasi dari suaminya itu. Pada kutipan di atas menjelaskan tentang Ghana yang hanya membesar-besarkan dirinya sendiri. Ia selalu membangga- banggakan dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain, walaupun dengan Dinaya istrinya sendiri.Beberapa artikel dan berita yang peneliti temukan, menyebutkan bahwa di Bali memang laki-laki sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam bali.bisnis.com menyebutkan bahwa jumlah pengangguran laki-laki di Bali 2 kali lipat dari perempuan (pada tahun 2020). Putra (2007) bahkan menyebutkan bahwa wanita Bali seringkali tidak dihargai, bersikap nrimo, dan laki-laki Bali hanya hidup bersenang-senang sambil mengelus-elus ayam jagonya, dan seterusnya. Karena beberapa aspek inilah yang membuat Ghana yang bekerja sebagai PNS menjadi laki-laki yang lebih baik dari laki- laki lainnya di Bali.Kedua kutipan tersebut merupakan subordinasi sosial terhadap perempuan, Suami Dinaya tidak menganggap penting pekerjaan Dinaya. Padahal Dinaya juga mempunyai pekerjaan yang tidak kalah terhormat dari suaminya yaitu sebagai dosen. Gusti Nyoman (Ghana) selalu membangga-banggakan pekerjaannya, dan tidak menganggap pekerjaan Dinaya juga sama pentingnya. Kerja keras Dinaya sebagai dosen yang bekerja di ranah publik tidak mendapatkan apresiasi dan bahkan tidak diakui oleh suaminya. Karena pekerjaannya inilah Dinaya yang seorang perempuan seolah-olah sudah mengalahkan Ghana suaminya dalam pekerjaan. Karena itulah Dinaya diminta untuk tidak lagi melakukan pekerjaannya.Dinaya betul-betul mengalami subordinasi secara sosial karena merasa tidak pernah dianggap oleh suaminya. Tokoh perempuan dalam cerpen ini bahkan digambarkan hanya sebatas bayangan, sesuatu yang akan selalu mengikuti kegagahannya suaminya. Perempuan sebetulnya bisa saja menentukan nasib berumah tangganya sendiri, hanya saja perempuan tidak dipercaya untuk bisa menentukan hidupnya sendiri. D. SIMPULAN DAN SARANBerdasarlan penggamabaran yang telah dilakukan terhadap kumpulan cerpen Bukan Permaisuri karya Ni Komang Arini melalui kajian gender ditemukan beberapa uraian. Pertama, subordinasi fisik terhadap peremuan didominasi oleh unsur internal (keluarga) yang membuat tokoh perempuan dalam cerita pendek merasa trauma/ takut untuk melakukan pernikahan. Hal tersebut didukung pula oleh contoh tokoh perempuan lain yang telah melaksanakan pernikahan, namun tidak mendapatkan apresiasi/ posisi yang dianggap oleh suami dan keluarganya. Kedua, subordinasi psikologi terhadap perempuan tergambarkan pada tokoh perempuan yang merasa ‘sifat alamiahnya’ merasa tidak dihargai oleh keluarganya (dalam hal ini, perasaan tokoh) tidak dianggap sehingga menimbulkan kesan tidak dianggapnya tokoh perempuan tersebut dalam menentukan pilihan hidupnya. Ketiga, subordinasi sosial terhadap perempuan tergambarkan pada tokoh perempuan yang tidak bisa bekerja di ruang publik (cerpen Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara), di mana dalam kondisi tersebut tokoh perempuan yang sudah bekerja menjadi dosen ‘dipaksa’ untuk berhenti hanya karena suami tokoh tersebut merasa iri dengan pekerjaan istirnyaa.