cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2024)" : 15 Documents clear
Tradisi Memeakhon Batu Ojahan dalam Membangun Rumah Masyarakat Etnis Batak Toba di Humbang Hasundutan Hutasoit , Friska Yani Natalia; Panggabean, Natasya Poronika; Nahampun, Debiyanti; Siallagan , Lasenna; Febriana , Ika
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.79393

Abstract

Tradisi Memeakhon Batu Ojahan merupakan ritual sakral dalam masyarakat Batak Toba di Humbang Hasundutan yang melekat pada proses pembangunan rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna mendalam dari tradisi tersebut, meliputi tahapan pelaksanaan, larangan, serta nilai-nilai filosofis, spiritual, dan sosial yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini melibatkan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Memeakhon Batu Ojahan bukan sekadar upacara peletakan batu pertama, tetapi merupakan simbol penciptaan, keberlanjutan, dan keseimbangan kehidupan. Ritual ini melibatkan doa, persembahan sesaji, dan partisipasi komunitas, yang melambangkan hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi penghormatan terhadap tradisi, pentingnya keluarga dan komunitas, serta keharmonisan dengan alam. Tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas budaya Batak Toba, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk menjaga nilai-nilai luhur dan memperkuat ikatan sosial
Deviasi Peran To'o sebagai Negosiator dalam Ruang Negosiasi Penentuan Belis Budaya Rote - Nusa Tenggara Timur Pellokila, Cynoura Marveline Paula; Sailana, Khatrin Wandelmud; Tampake, Toni Robert Christian; Kristinawati, Wahyuni
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.82249

Abstract

Artikel ini bertujuan mengargumentasikan dinamika dalam penentuan belis dalam budaya Rote, khusunya peran to’o (panggilan untuk kakak laki-laki dari ibu) sebagai negosiator dalam penentuan belis (mahar) dalam budaya Rote. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, melalui teknik pengambilan data wawancara dan data sekunder. Melalui perspektif negosiator, penelitian ini menemukan bahwa dengan peran to’o yang cukup besar dalam ruang negosiasi, tidak jarang ditemukan adanya deviasi perilaku yang menyebabkan konflik ketika penentuan belis. Meskipun ditemukan dalam beberapa acara adat banyak juga to’o yang menjalankan perannya dengan baik, karena adanya perkembangan jaman, ekonomi dan beberapa kondisi dalam beberapa prosesi adat ditemukan penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan peran to’o yang semestinya. Keluarga laki-laki maupun perempuan yang akan melaksanakan pernikahan tentu akan melewati lika-liku seperti ini dalam proses adat. Hal ini tentunya yang membuat relasi antar kedua pihak mengalami perselisihan. Berangkat dari hasil penelitian, permasalahan yang diteliti adalah deviasi peran to’o sebagai negosiator dalam ruang negosiasi penentuan belis budaya Rote terjadi karena adanya tuntutan kebutuhan, penyalahgunaan peran hingga salah dalam memaknai peran mereka. Kembali memaknai belis dan peran dalam keluargalah yang kemudian hadir menjadi resolusi konflik dalam proses penetapan belis dalam Budaya Rote.
Menggali Eskalasi Pemaknaan Secara Eksistensial terhadap Topo “Tanda Keperkasaan Laki-Laki Numba” Boko, Irenius Pita Raja; Boe, Maria Roswita; Vianey, Watu Yohanes
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.83663

Abstract

Manusia adalah objek sekaligus subjek kebudayaan. Sebagai objek, manusia hidup dan mewujudkan kebudayaan. Sebagai subjek, manusia menciptakan kebudayaan untuk kelangsungan hidupnya. Melalui kebudayaan, benda-benda alami diubah menjadi benda-benda budaya. Ketika menjadi benda budaya, akan terjadi peningkatan makna pada benda-benda budaya tersebut. Problemnya, pengaruh globalisasi menjadikan benda-benda budaya tidak dimaknai secara lebih itensif dan sesuai dengan substansinya. Oleh karena itu, peningkatan makna dari semua kebudayaan memiliki niat positif bagi manusia. Dengan menggunakan metode kualitatif yang dibantu oleh teori difusi budaya, artikel ini ingin mengkaji benda-benda budaya, khususnya Topo, yang telah mengalami peningkatan makna dalam kehidupan masyarakat Numba. Topo dalam kebudayaan masyarakat Numba tidak hanya digunakan sebagai alat berkebun dan kegiatan lainnya. Sebaliknya, Topo dimaknai sebagai tanda kekuatan pria Numba.
Nilai Religius dalam Tarian Bedhaya Tunggal Jiwa Sufiana, Shoumul Lail; Ismaya, Erik Aditia; Fardani, Much Arsyad
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.83833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai religius dalam tarian Bedhaya Tunggal Jiwa yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Demak. Karakter ini terbentuk melalui nilai-nilai budaya yang secara turun temurun diwariskan melalui tradisi. Tradisi yang ada di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa yang harus dijaga dan dilestarikan supaya tidak hilang dan tergeser akibat perkembangan budaya negara lain adalah Tradisi Grebeg Besar Demak. Grebeg Besar Demak merupakan bentuk pelestarian budaya dengan ikut serta meramaikan dan mengikuti rangkaian acara dalam tradisi Grebeg Besar. Tradisi Grebeg Besar merupakan perwujudan rasa syukur terhadap perjuangan para wali yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di Demak terutama Sunan Kalijaga. Berdaarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tarian Bedhaya Tunggal Jiwa yang mempunyai arti Manunggaling kawula Gusti yaitu semua yang diciptakan dan hidup akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terciptanya tari Bedhaya Tunggal Jiwa dengan tema keagamaan terdapat pembelajaran Islami yang mempunyai arti untuk senantiasa mengingatkan manusia agar selalu berbuat baik kepada masyarakat agar terjalin silaturahmi dengan baik. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Demak Kabupaten Demak dengan subjek tokoh penari tarian Bedhaya Tunggal Jiwa, penanggung jawab tarian Bedhaya Tunggal Jiwa dan Dinas Pariwisata. Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi tahap observasi, wawancara, dokumentasi, dan pencatatan.
Kedudukan Perempuan Mabalu dalam Budaya Batak Toba Simanjuntak, Firman Matias; Manullang, Thria Damayanti; Situmorang, Yuni Yolanda; Sitorus, Rut Yemima; Siallagan, Lasenna
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i2.84211

Abstract

Bagi perempuan mabalu, kematian suami seringkali dikaitkan dengan keterasingan mereka dari budaya Batak Toba. Namun, tentu saja hal tersebut bertentangan dengan konsep budaya Batak Toba. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk mengemukakan fenomena ideasional dan tingkah laku kebudayaan mengenai kedudukan perempuan mabalu dalam budaya Batak Toba. Kedudukan yang dimaksud adalah hak dan kewajiban perempuan dalam pelaksanaan adat dan budaya yang diperoleh pasca menjadi janda (mabalu). Penelitian ini dilakukan di Porsea dan Medan dengan menggunakan metode kualitatif untuk memperoleh data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian mencakup esensi perempuan mabalu yang hanya didasarkan pada ketiadaan suami bagi mereka. Ada beberapa hal yang menjadi alasan perempuan mabalu tidak dapat ditiadakan dalam pelaksanaan adat Batak Toba, yaitu (1) keberadaan anak, (2) posisi suami dalam adat yang melekat pada istri, (3) pentingnya perempuan, dan (4) perempuan sebagai boru ni raja yang berharga. Oleh karena itu, perempuan mabalu tetap mempunyai peran, hak, dan kewajiban yang setara dengan kedudukannya dalam acara adat Batak Toba.

Page 2 of 2 | Total Record : 15