cover
Contact Name
Nuraini
Contact Email
jsa@radenfatah.ac.id
Phone
+6282184834317
Journal Mail Official
jsa@radenfatah.ac.id
Editorial Address
http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/jsa/about/editorialTeam
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Studi Agama
ISSN : -     EISSN : 26559439     DOI : https://doi.org/10.19109/jsa.v4i1.6158
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Studi Agama promotes interdisciplinary approaches to any of the worlds religious spiritual traditions, and invites contributions from scholars in various fields, notably: theology comparative studies in religion and politics theoretical or methodological discussions thoughts, ideologies and philosophies philosophy of religion psychology of religion history of religions sociology of religion role of religion in culture and society religious ethics religion and literature religion and art religion and media religion and linguistics religion and health
Articles 103 Documents
Comparative Analysis of Religious Education in Turkey and Indonesia Hidayah Hariani; Firda Nur Jannah; Arrijal Abdul
Jurnal Studi Agama Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v6i2.15429

Abstract

This paper examines religious education in two countries; Turkey and Indonesia with the aim of knowing the similarities and differences in religious education from the two countries. This research is field research using a comparative approach. Research data obtained from interviews, observation and documentation. Meanwhile, in analyzing the data used descriptive-comparative technique. This research found that religious education in Turkey and Indonesia have similarities, that is, both are implemented in private or non-government educational institutions. However, there are significant differences between the two countries, in Indonesia religious education can be held by any institution, both in private and public educational institutions and exists at any level from basic education to higher education, whereas in Turkey religious learning is only in private education, private sector and not found at the level of basic education to higher education except at the ushuluddin or divineyat faculties.
Eksistensi Jin Perspektif Fakhruddin al-Razy dan Ibn Arabi Atssania Zahroh; Siti Nurul Adha; Hasani Ahmad Said; Aristophan Firdaus
Jurnal Studi Agama Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i1.16643

Abstract

Al-Qur’an menjelaskan bagaimana wujud dari segala ciptaan (makhluk) Allah, diantaranya manusia, malaikat, jin, syetan, iblis, dan lain sebagainya. Makhluk yang kasat (ghaib) masih menjadi bahasan menarik karena terjadi perbedaan pendapat daripada filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas dari tafsir Al-Qur’an yang akan menjelaskan perbedaan corak penafsiran, khususnya pada Tafsir Mafatihul Ghaib karya Ar-Razi dan Tafsir Ibn ‘Arabi karya Ibnu ‘Arabi dalam Q.S Ar-Rahman [78]: 56 dan Q.S al-Jin [72]: 8-9. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan library research dan metode deskriptif analisis. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi Jin menurut Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib disebutkan sebagai makhluk yang diciptakan dari api panas dan memiliki kemampuan untuk menembus angkasa dan mendengar percakapan penghuni-penghuninya tetapi kini langit telah dijaga dan ada semburan api yang dapat membakar mereka bila jin itu mendekat. Sedangkan menurut ibn Arabi eksistensi jin adalah hawa nafsu manusia yang memiliki kemampuan mencuri (pikiran) manusia agar mengikuti pada keraguan, kembali kepada masa yang belum ada adab dan tidak ada syariah.
The Concept of Fana and Its Relevance deep Prevention of Religious Radicalism Muhammad Saleh Cahyadi Mohan
Jurnal Studi Agama Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i1.16997

Abstract

This study examines the concept of mortality from the perspective of Imam Junaid Al-Baghdadi and its relevance in counteracting religious radicalism. This research is library research using primary data from the book of Rasail Junaid and using descriptive-analytical techniques in analyzing the data. This research found that there are three levels of mortality in the view of Imam Junaid Al-Baghdadi; first, mortal towards morals through persistence against lust and consistently avoiding actions that violate norms, second, mortal in worship by not being transactional when worshiping Allah, third, mortal towards self, so that Allah dominates in him, thus it can be concluded that if a person succeeds in reaching these three mortal levels, then he will give birth to goodness in his behavior, sincerity in his life, and always feel supervised by God in all aspects of his life. So that through the understanding and experience of the three mortal levels, religion is not used as a source of violence, but religion is a source of goodness and sincerity. This research is expected to be able to add to scientific treasures about the thoughts of Imam Junaid Al-Baghdadi and to contribute knowledge in preventing religious radicalism in Indonesia
Fungsi Laten Penziarahan Makam Keramat (Analisis Sosio-Religius Terhadap Makam Ki Marogan Palembang) Abdul Karim
Jurnal Studi Agama Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i1.17947

Abstract

Penelitian ini secara khusus mengkaji tentang penziarahan makam Ki Marogan dengan menggunakan pendekatan sosio-religius yang berusaha mengungkap tentang fungsi laten dari penziarah makam Ki Marogan. Penelitian ini dilakukan di Jl. Ki Marogan Kelurahan Kertapati Kecamatan Kertapati kota Palembang. Data primer dalam penelitian ini bersumber dari hasil observasi langsung dan wawancara mendalam. Setelah memperoleh data kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini menemukan dua fungsi laten dari fenomena penziarahan makam keramat Ki Marogan; sebagai pengembangan tradisi ke-NU-an di kota Palembang dan sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai sufistik dalam umat beragama. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa fenomena ziarah harus dijaga dan dilestarikan oleh umat Muslim itu sendiri, karena dengan berziarah umat Muslim dapat mengintegrasikan aspek hukum atau fikih, spiritual dan kultural dalam ajaran Islam, sehingga dengan terpenuhinya ketiga aspek tersebut dapat melahirkan sikap moderat dalam diri seseorang
The Concept of Religious Monotheism: The Personification and Symbolization of God in the Scriptures of Monotheistic Religions Ramadhan, An-Najmi Fikri; Limbong, Rahmat IR.; Makarim, Muhammad Ghifari; Kusuma, Juwanda Adi
Jurnal Studi Agama Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i1.16319

Abstract

Abstract This study aims to see how symbols or personifications can bridge profane things from God into human reality. Religious symbols as the embodiment of God have the highest sacred value because they are built by the structures of religious teachings originating from the texts of the scriptures. This research is limited to three religions because they have the same theological concept, namely monotheism and the approach used is qualitative based on library research-related sources, especially as primary data, are the holy books of each religion, namely the Vedas, Tipitaka, and Al-Qur'an. As an analytical tool to help compare the symbolization of God in the scriptures, the semiotic theory is used to analyze the symbols of each religion. The results of this study found that the theological concept of monotheism in symbols of Hinduism, Buddhism, and Islam has similarities and there are differences in Islam that do not symbolize God in the form of symbols or forms. In this case, the difference is due to the pattern of belief, worship, and communal structure patterns in the teachings of the holy books of each religion. Keywords: Symbol, Monotheism, Islam, Hindu, Budha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana simbol atau personifikasi dapat menjembatani hal-hal yang profan dari Tuhan ke dalam realitas manusia. Simbol-simbol agama sebagai perwujudan Tuhan memiliki nilai sakralitas yang tertinggi karena terbangun oleh struktur-struktur ajaran agama yang berasal dari teks kitab suci. Penelitian ini dibatasi pada tiga agama karena memiliki konsep teologis yang sama yaitu monoteisme dan pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan berbasis library research dengam sumber yang terkait terutama sebagai data primer adalah kitab suci masing-masing agama yaitu Veda, Tipitaka dan Al-Qur’an. Sebagai alat analisis bantu membandingkan simbolisasi Tuhan dalam kitab suci, teori semiotik digunakan untuk menganalisis simbol dari masing-masing agama. Hasil penelitian ini ditemukan, konsep teologis monoteisme dalam simbol agama Hindu, Budha dan Islam memiliki persamaan dan terdapat perbedaan pada agama Islam yang tidak menyimbolkan Tuhan ke dalam bentuk simbol atau bentuk. Pada hal perbedaan tersebut disebabkan karena faktor pola struktur keyakinan, peribadahan, dan komunal dalam ajaran kitab suci dari masing-masing agama. Kata kunci: Simbol, Monoteisme, Islam, Hindu, Budha
Jamaah An-Nadzir: Memahami Dinamika Komunitas Agama Minoritas di Sulawesi Selatan, Indonesia Syamsul Alam; Andi Alfian
Jurnal Studi Agama Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i1.17584

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan gambaran komprehensif tentang dinamika komunitas agama minoritas di Sulawesi Selatan, Indonesia, yakni dengan mengambil satu kasus khusus Jamaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif-deskriptif-analitik, data di penelitian ini kami kumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan berbagai narasumber dan tinjauan literatur yang relevan, termasuk artikel jurnal yang berkaitan dengan kelompok keagamaan Jamaah An-Nadzir. Salah satu alasan mengapa kami memilih kelompok keagamaan minoritas Jamaah An-Nadzir adalah karena, sebagaimana yang dibuktikan oleh hasil penelitian ini, Jamaah An-Nadzir secara efektif dapat merepresentasikan keberadaan, tantangan, dan strategi bertahan yang dilakukan oleh komunitas agama minoritas Sulawesi Selatan. Temuan-temuan penelitian ini menyoroti kreativitas yang ditampilkan oleh Jamaah An-Nadzir yang secara konsisten mengajarkan ajaran-ajaran mereka sambil terus berusaha mendapatkan penerimaan dari masyarakat mayoritas. Kreativitas itu terlihat sebagai strategi bertahan yang mereka lakukan atas tantangan yang mereka hadapi.
Setanisme antara New Religious Movement dan New Age Wiranto, Erham Budi
Jurnal Studi Agama Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i2.18594

Abstract

Satanism gained popularity, particularly following the establishment of The Satanic Temple, which held an annual Satan Conference (SatanCon) in the last decade. Satanism is not monolithic, there are at least two main currents, non-theistic satanism and theistic satanism. This article aims to explore Satanism and clarify their position in the field of Religious Studies. By using qualitative methods, this study found that Satanism cannot be viewed as a theology. However, as a movement, Satanism can be grouped into two categories. Atheistic Satanism belongs to the New Age, while religious Satanism (theistic) belongs to the New Religious Movement (NRM). The contribution of this discovery can enliven contemporary discussions in the field of Religious Studies, especially the issue of Satanism. Setanisme menjadi populer terutama setelah kemunculan The Satanic Temple yang dalam satu dekade terakhir rutin melakukan Satan Conference (SatanCon) setiap tahun. Setanisme tidak monolitik, setidaknya terdapat dua arus utama, non-theistic satanism dan theistic satanism. Artikel ini bertujuan mengungkap Theistic Satanism sebagai istilah teknis yang menyebabkan kerancuan. Beberapa kerancuan yang dimaksud, berada pada ranah konseptual dan praktis, keduanya akan didiskusikan dalam artikel ini. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Kajian ini menemukan bahwa theistic satanism tidak dapat dipandang sebagai sebuah teologi. Meski demikian, sebagai sebuah gerakan, theistic satanism dapat dikelompokkan dalam New Age dan gerakan filosofis antroposentris. Kajian ini juga menawarkan konsep baru untuk menggantikan theistic satanism yang ambigu. Sumbangan penemuan ini dapat menyemarakkan diskusi kontemporer dalam bidang Religious Studies, terutama isu Setanisme. Keywords: Theology, Satanism, theistic satanism, NRM, New Age
Dekadensi Moral Terhadap Degradasi Lingkungan di Daerah Aliran Sungai Cibanten Sumintak, Sumintak; Lenwinsky, Sefti Wiwin; Irfan, Ade
Jurnal Studi Agama Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i2.19302

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengurai bentuk kerusakan lingkungan dan faktor penyebab terjadinya kerusakan lingkungan di Daerah Aliran Sungai Cibanten, Kota Serang, Provinsi Banten. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengamati aktivitas keagamaan dengan menggunakan pendekatan Fenomenologi Interpretatif mengamati setiap aktivitas pratik kepedulian lingkungan masyarakat yang menjadi objek penelitian. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan beberapa cara yatiu dengan melakukan pengamatan, menyebar angket, dan melakukan wawancara mendalam pada informan untuk menggali informasi seputar data yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya dekadensi moral dalam hal perilaku masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah ke aliran Sungai Cibanten, hal ini dikarenan lemahnya iman dan kurangnya pengetahuan akan kepedulian lingkungan yang menjadi penyebab terjadinya bencana banjir dan rusaknya ekologi Sungai Cibanten. Dari fenomena ini diperlukan penanganan secara khusus untuk mengubah perilaku masyarakat, dengan menanamkan nilai-nilai spiritualitas keagamaan lewat pemahaman dari aktifitas kajian-kajian keagamaan agar dapat menghilangkan dekadensi moral berupa perilaku merusak lingkungan agar tidak terjadi degradasi lingkungan Sungai Cibanten.
Moderasi Beragama Dalam Kacamata Islam Dan Buddha (Analisis Komparatif) Samsuri, Bisri; Askar, Ahmad
Jurnal Studi Agama Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i2.19380

Abstract

Recently, the issue of religious moderation has become quite an interesting issue to discuss, in fact, this issue is expected to become the last bastion in caring for religion and nationality. Because every religion does not teach about violence and destruction, but teaches peace and harmony. Based on this background, researchers want to look at the concept of religious moderation from an Islamic and Buddhist perspective through comparative analysis. Regarding the results of this study. 1) Islam views religious moderation as maintaining balance, justice, tolerance in practicing faith and interacting with other people. Because with moderation, religion can create pillars of harmony, peace and harmony, both moderation in Aqidah, worship and social interaction. 2) Just as Islam teaches religious moderation, this is also the case in Buddhism. This is based on the teachings that Buddha taught containing dimensions of moderation, such as humanity, tolerance, and the teachings of non-violence. Thus, it can be concluded that there are similarities and differences regarding the concept of religious moderation in the two religions. The similarity is that they both have the view that moderate religion is the religious practice desired by both religions. Meanwhile, the difference is that in Islam the basis of religious moderation is balance, while in Buddhism it is love.
Religious Anthropology Of The Tradition Of The Ngaben Ceremony On Human Relationship With God: Antropologi Religius pitaloka, lola; Febriani, Riska
Jurnal Studi Agama Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v7i2.19631

Abstract

This study aims look at the human relationship to God. Humans must always worship, carry out God's commands and stay away from his prohibitions. However, Indonesia also has many different cultures to convey how someone fears God. On the opposite side of the island of the gods, they have different cultural traditions from other regional traditions, when a resident dies, the Bali Hindu community has a ritual, namely that funeral pyre is believed to be ritual to perfect the body. The previous religious theory of human life, Edward B Tylor, is considered the father of anthropology. He said the origin of religion is human awareness of the soul. Answer theory and formulation the problem, research uses descriptive qualitative research methods, will later use journal literature, articles and sources from social media, will be strengthened data validation techniques which will see the relationship between theory, observation, interviews and documentation. The results of the discussion conclude that the human relationship with God can also be influenced by the environment of tradition and culture, one example is the Ngaben tradition, which emotionally and spiritually strengthens the relationship between humans and God, as well as the practice of worship. Keywords: Religious Anthropology, Ngaben, Tradition

Page 7 of 11 | Total Record : 103