Jurnal Filsafat Indonesia
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles
290 Documents
KONSEP DAN MATRA KONSEPSI TOLERANSI DALAM PEMIKIRAN RAINER FORST
Muhammad Nur Prabowo Setyabudi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v3i3.24895
Artikel ini mendiskusikan toleransi dalam konteks demokrasi dan tantangan multikulturalisme. Apakah toleransi terlalu lemah dan ditolak dalam demokrasi sebagaimana klaim umum pendukung multikultural? Ataukah konsepnya diterima hanya konsepsinya yang diperbaharui? Bagaimana relevansinya bagi agenda demokratisasi di Indonesia? Penulis berusaha menjawab pertanyaan tersebut menggunakan perspektif etika dan filsafat politik. Penulisan merujuk kepada sumber kepustakaan (bibliography research) dengan mengacu pada sumber primer pemikiran filsuf kontemporer Rainer Forst, yang menawarkan sebuah pendekatan kritis dan konseptual terhadap toleransi. Artikel ini mencakup tiga bagian: bagian pertama berusaha menjernihkan konsep toleransi dengan analisis konseptual terhadap toleransi. Konsep toleransi bersifat tunggal dan elementer, tetapi konsepsi atau interpretasi tentang toleransi itu dapat beragam sehingga mempengaruhi penerimaan terhadap toleransi. Bagian kedua meletakkan toleransi dalam konteks demokrasi multicultural yang memberi perhatian lebih pada kehadiran kelompok minoritas marginal dalam suatu komunitas. Penulis berargumen toleransi harus diterima sejauh dimaknai secara lebih mendalam setelah dibebaskan dari makna represif di dalamnya, dan menawarkan makna optimal yang lebih egaliter bahkan afirmatif. Bagian terakhir merupakan kontekstualisasi konsepsi toleransi sebagai “mutual-respect”dan “mutual-esteem” atau yang lebih progresif dari itu dalam konteks demokratisasi Indonesia, yang sedikit banyak mengacu pada hasil penelitian lapangan tentang dinamika pluralitas dan minoritas di PMB-LIPI tahun 2018.
ESOTERISME, TOLERANSI DAN DINAMIKA KEAGAMAAN
Muhammad Nur Prabowo Setyabudi
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i1.24897
Artikel ini mendeskripsikan dan menganalisis dinamika toleransi beragama di Indonesia dari perspektif esoterisme-eksoterisme. Permasalahnnya adalah bahwa kecenderungan moralitas masyarakat muslim, setidaknya berdasarkan beberapa fenomena yang tampak di beberapa daerah di Indonesia mutakhir, menunjukkan gejala meningkatnya pemahaman keagamaan dan praktik yang cenderung eksoteris. Beberapa peneliti mengidentifikasi hal ini sebagai titik balik sosio-keberagamaan kepada menguatnya konservatisme dan fundamentalisme agama: Conservative Turn. Gerakan dan pemikiran konservatif menekankan pada praktik dan pemahaman keagamaan yang eksoteris daripada esoteris. Dominasi keberagamaan eksoteris ini memiliki implikasi yang serius terhadap praktik toleransi dan keberagaman, khususnya terkait hubungan mayoritas-minoritas agama dalam Islam maupun non-Islam di Indonesia. Meskipun demikian, beberapa agensi muslim yang masih masih melirik pentingnya praktik esoterisme menawarkan harapan yang bagi gerakan perdamaian, atau semacam membawa titik balik kembali kepada semangat esoterisme. Hal ini memiliki setidaknya dua signifikansi atau pesan moral, pertama memberikan justifikasi bagi praktik toleransi yang lebih mendalam bagi konteks keberagamaan Indonesia saat ini, dan kedua, penguatan diskursus wacana toleransi dan perdamaian yang lebih serius setara dengan tantangan diversitas agama di Indonesia.
PHILOSOPHY EDUCATION FOR CHILDREN
Damar Prasetya
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v3i3.24973
Fundamentals of all subjects in higher university education were being taught since early childhood. The basic concepts of biology, medicine and physics were mandatory introduced as natural sciences subjects (ilmu pengetahuan alam) in elementary school curriculum as well as social sciences (ilmu pengetahuan sosial), languages and even religion. These early introduction of subjects will make sure that every children are exposed to this particular education to enrich their knowledge and skill. However, philosophy is not formally available in national curriculum until university level. Paradoxically, one of the essence of philosophy is to ensure a human being is capable to perform critical thinking in their later life. This review aims to delineate the urgency and benefit of introducing philosophy in children in either formal or informal form of education. The early introduction of philosophy will nurture and sharpen the process of thinking in children thus will help them to become a wiser adult in the future. This concept might be a consideration of inserting philosophy as one of the subject in national curriculum.
FILSAFAT HERMENEUTIKA: PERGULATAN ANTARA PERSPEKTIF PENULIS DAN PEMBACA
Tony Wiyaret Fangidae;
Dina Datu Paonganan
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v3i3.26007
Hermes merupakan seorang dewa Yunani yang bertugas mengantar pesan dari dewa lainnya. Setidaknya ada dua pengertian dari tugasnya, yaitu: Hermes mesti menyampaikan pesan dewa kepada audiens yang mungkin tidak mengerti bahasa dan isyarat dewa, sehingga Hermes berusaha untuk menjelaskan pesan itu dengan kemampuan pengertian audiensnya; dan Hermes mesti menyampaikan maksud dewa secara original. Ketika seorang membaca suatu teks, ketegangan antara dua tugas Hermes itu terjadi, yaitu antara “maksud penulis teks” atau “penafsiran dari pembaca”. Artikel ini menawarkan metode hermeneutika Rudolf Bultmann dan Martin Heidegger untuk menyatakan bahwa hermeneutika teks dan pembaca senantiasa bersinggungan satu dengan yang lain dalam proses menafsir.
KEADILAN CEPHALUS SEBAGAI SOLUSI PENANGANAN KORUPSI DI INDONESIA
Andika Setiawan
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v3i3.27941
Penelitian ini hendak menguraikan konsep keadilan Cephalus dari teks Republic. Cara memandang konsep keadilannnya inilah akan menempatkannya pada tawaran solusi bagi penanganan kasus korupsi di Indonesia. Menurut Cephalus, keadilan adalah berkata jujur dan tidak memiliki hutang kepada siapapun, termasuk pembalasan yang setimpal; kebaikan dibalas kebaikan, kejahatan dibalas kejahatan. Penanganan kasus korupsi di Indonesia masih tergolong ringan, sehingga pada tahun 2019 saja KPK berhasil meringkus 76 tersangka korupsi dari 21 operasi tangkap tangan dengan barang bukti sebesar Rp. 12,8 M. Kisah Cicero tempo klasik telah membuka mata insan, bahwa korupsi telah meruntuhkan sebuah negara. Perlu langkah konkrit dalam menyelesaikan kasus ini, misalnya dengan kacamata konsep keadilan Cephalus. Metode penelitaian ini menggunakan kualitatif deskriptif bersifat analisis. Pengumpulan data dengan studi literatur, kemudian data yang terkumpul dibagi menjadi dua bagian: primer dan sekunder. Primer dari teks Republic, sedangkan sekunder dari buku, jurnal, dan internet yang berhubungan dengan itu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep keadilan Cephalus dasarnya berprinsip pada take and give. Perlakuan individu ke individu lain, itulah yang didapat. Menerima sesuai kadar apa yang diusahakan saat memberi. Dunia eskatologi (cerita tentang kematian) yang merupakan lingkaran keadilan Cephalus juga turut berperan dalam penyampai saran pembentukan ruang rohani di dalam Lapas. Dalam ruang rohani, pola pikir para tahanan korupsi akan digembleng dengan siraman rohani dan cerita-cerita tentang kematian, sehingga mereka akan bersyukur dan menerima apa adanya. Konsep inilah yang dinilai sesuai jika diterapkan dalam penanganan kasus korupsi.
KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI BARAT
Milda Longgeita Pinem
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v3i3.27984
Artikel ini membahas kritik terhadap epistemologi yang selama ini dipengaruhi dan bias Barat. Tujuan dari artikel ini adalah mengungkap sisi diskriminatif dari epistemologi tersebut. Dengan menggunakan studi literatur, ada dua hal yang menjadi fokus utama. Pertama, sisi diskriminatif dari epistemologi Barat tidak bisa terlepas dari modernitas yang lekat dengan kemajuan dan kebaruan. Watak demikian pada akhirnya mendiskriminasi cara mengetahui dari masyarakat tradisional atau kelompok etnis tertentu. Kedua, wacana pembangunan menjadi jalan untuk mengembangkan epistemologi yang bias Barat. Wacana ini menjadi alat untuk menguasai kembali negara-negara Selatan atau bekas jajahan melalui justifikasi epistemologi yang khas Barat. Kesimpulan dan saran dari artikel ini adalah sikap kritis ilmuwan yang perlu dihadirkan untuk mampu melihat varian epistemologi lainnya yang sesuai dengan konteks masyarakat tertentu, tentunya tanpa menolak begitu saja semua standar keilmuan Barat.
Landasan Ontologis Pengembangan Antropologi Pancasila
Surono Surono;
Rr. Siti Murtiningsih;
Heri Santoso
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i3.28206
Antropologi Pancasila adalah salah satu upaya penulis untuk melakukan pengembangan pemikiran dan produksi pegetahuan terhadap Antropologi dan Pancasila khususnya. Salah satu alasan dilakukannya upaya ini adalah mengingat kajian pengembangan keilmuan ranah filosofis , khususnya ilmu sosial humaniora, dewasa ini stagnan. Hasil akhir dari kajian ini adalah sebuah konsep ilmu yang mengkaji manusia dari sudut pandang orang Indonesia. Hal ini sekaligus untuk mengimbangi antropologi yang berkembang saat ini yang mengkaji manusia dari sudut pandang orang asing. Secara singkat, ilmu antropologi yang bercorak ke Indonesiaan. Berdasarkan hasil kajian maka diperoleh hasil bahwa Antropologi Pancasila adalah bahwa kajian manusia yang menekankan pada upaya bersama menuju pengabdian pada Tuhan. Sehingga hasil kajian dari Antropologi Pancasila adalah bagaimana manusia di dunia ini melakukan berbagai upaya secara bersama-sama menemukan Tuhannya. Tentunya masing masing manusia maupun memiliki caranya masing-masing dalam “mencapai” Allahnya. Hal ini sesuai dengan hakekat manusia yang homo socius dan religius.
INTELEGENSI MANUSIA SEBAGAI PROSES HIDUP: TINJAUAN FILSAFATI ATAS PEMIKIRAN FRITJOF CAPRA
Althien John Pesurnay
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i1.28449
Kecerdasan manusia atau yang juga disebut inteligensi sudah lama menjadi kajian ilmu-ilmu sosial, budaya dan filsafat. Inteligensi sebagai satu kemampuan manusia berhubungan dengan kegiatan, sifat, objek dan hakikat dari manusia dan pengetahuan itu sendiri. Terdapat dua alasan filosofis kenapa inteligensi patut dikaji kembali. Pertama adalah untuk membuka kembali diskursus tentang manusia dan refleksinya atas realitasnya. Inteligensi manusia dalam karya Fritjof Capra menawarkan gagasan baru untuk memahami realitas dengan paradigma sistemik-holistik. Capra menyejajarkan mode memahami dunia secara saintifik lewat fisika modern dan intuisi dalam spiritualisme timur. Kedua, Inteligensi manusia meskipun berbeda pada modus memahami namun menjumpai dasar realitas yang sama. Realitas bersifat terhubung dalam jaringan relasi antar bagian dari keseluruham yang menyatu. Ada (being) merupakan objek inteligensi manusia yang bersifat esensial dan eksistensial.
ANALISIS NILAI RELIGIUSITAS SEBAGAI PENGUATAN TOLERANSI DI DESA PANCASILA LAMONGAN JAWA TIMUR
Fitri Alfariz
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i1.29957
Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan, Jawa Timur menjadi salah satu desa di Indonesia yang dijuluki Desa Pancasila. Desa Pancasila merupakan nama yang diberikan kepada suatu desa yang menunjukkan keharmonisan nilai-nilai Pancasila. Desa yang berpenduduk lebih dari 4000 orang ini memiliki sikap-sikap toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang sangat kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan nilai toleransi di dalam Desa Balun (Desa Pancasila) agar dipahami oleh masyarakat luas. Penelitian ini juga sebagai implementasi Pancasila karena desa yang menjaga kearifan lokal dan toleransi merupakan bentuk nyata dari membumikan Pancasila. Prosedur Penelitian dilakukan melalui studi pustaka, studi lapangan dan wawancara mendalam. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan sebagai grand design Penelitian tentang Desa Pancasila yang ada di Indonesia. Klasifikasi, analisis, dan interpretasi data dilakukan untuk memperoleh pandangan yang berimbang, objektif dan mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai religiusitas sangat berpengaruh terhadap penguatan toleransi yang ada di Desa Balun (Desa Pancasila). Toleransi antarumat beragama dibangun dengan basis nilai instrumental (pedoman berperilaku), nilai sosial (pengikat masyarakat yang berbeda agama) dan komitmen moral (sikap alami dalam keseharian) masyarakat Desa Balun (Desa Pancasila).
PENGARUH TEKNOLOGI DI TENGAH PANDEMI BAGI SOSIALITAS REMAJA DALAM PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO
Robertus Syukur;
Dr. Antonius Denny Firmanto, M.Pd
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v4i2.30316
AbstrakManusia adalah makhluk sosial. Menyadari hakikat ini, tulisan ini bertujuan untuk melihat pengaruh teknologi di tengah pandemi bagi hakikat manusia yang sosialitas dalam perspektif Armadad Riyanto. Metode yang digunakan dalam penulisan ini ialah pembacaan kritis. Melihat perkembangan virus corona di Indonesia semakin meningkat, segala kegiatan pun terhambat termasuk proses pendidikan yang kini menuntut penggunaan terknologi, sehingga kebutuhan akan teknologi semakin meningkat. Pengaruh dari teknologi pun akan sangat terasa, terlebih khusus di kalangan masyrakat yang sebelumnya jarang atau bahkan belum mengenal teknologi. Dampak dari penggunaan teknologi sangat bersentuhan langsung dengan hakikat manusia yang sosialitas. Sosialitas dalam pandangan Armada Riyanto ialah menjadi sesama bagi sesama yang terungkap nyata dalam kehidupan konkret atau dengan kata lain sosialitas manusia ada dalam kesehariannya. Pandangan ini mengungkapkan kejelasasn mengenai hakikat manusia yang mestinya sosialitas. Pengaruh teknologi terhadap hakikat manusia yang sosialitas ini pun terlihat sangat jelas. Ada pengaruh yang baik dan ada pula pengaruh yang kurang baik bagi hakikat manusia yang memiliki sifat soaialitas.