cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
gtm_jd@yahoo.co.id
Phone
+6287861886493
Journal Mail Official
adetantri87@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No.11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Filsafat Indonesia
ISSN : 26207990     EISSN : 26207982     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jfi.v3i3
Core Subject : Education,
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles 290 Documents
LGBT DALAM PERSPEKTIF DEONTOLOGI IMMANUEL KANT Agus Hamzah; Septiana Dwiputri Maharani
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.30335

Abstract

Kasus LGBT yang semakin ramai menjadi bahan perbincangan di dunia dan juga Indonesia. Selain berbagai kelompok yang kontra, tidak sedikit pihak yang pro dengan memberikan berbagai argumentasinya. Satu diantaranya adalah dengan berlandaskan pada teori etika Immanuel Kant. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kajian pustaka dengan menggunakan referensi teori yang relevan, yaitu teori Deontologi Immanuel Kant. Menurut perspektif Kant, dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Dalam Teori Deontologi kewajiban itu tidak bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan. Berdasarkan analisis terhadap kajian kepustakaan tersebut didapat, bahwa Teori Deontologi meskipun dijadikan satu diantara landasan pembelaan terhadap LGBT dengan teori Hak, namun bahwa teori ini berlaku secara umum dan kondisi serta tempat yang sama, sehingga tidak sepenuhnya membenarkan keberadaan LGBT. 
MODERNISASI SAINS MENUJU PSIKOLOGI: STUDI ATAS PENGARUH PEMIKIRAN RENE DESCARTES (1596-1650) TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOLOGI Abdul Rokhmat Sairah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.30356

Abstract

Psikologi ilmiah dewasa ini cenderung bersifat positivistik. Dominasi kaum behavioris pada beberapa dekade dalam fase perkembangan psikologi telah mereduksi makna disiplin ini. Psikologi seakan mengalami perubahan arah dalam perkembangannya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian untuk memahami hakekat psikologi. Langkah yang dapat ditempuh ialah dengan melacak kembali persoalan pokok dalam psikologi. Salah satu persoalan utama dalam psikologi adalah hubungan antara perilaku dan keadaan mental yang dalam sejarah pemikiran dicetuskan oleh Rene Descartes (1596-1650). Ia dipandang sebagai pionir sains modern karena meletakkan dasar-dasar penyelidikan ilmiah yang pada gilirannya berpengaruh dalam pengembangan psikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap latar belakang historis psikologi dalam pemikiran Rene Descartes. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan menggunakan metode analisis hermeneutik kefilsafatan. Penelitian dilakukan dengan melacak kembali pemikiran Rene Descartes pada abad ke-17 M. Data berupa pemikiran Descates kemudian dianalisis melalui pemahaman secara kontekstual terhadap karakteristik psikologi saat ini. Hasil penelitian ini menemukan unsur-unsur pemikiran Rene Descartes yang berpengaruh dalam perkembangan psikologi antara lain konsep hubungan tubuh-pikiran, prinsip mekanisme dalam teori ’animal machine’, dan fungsi-fungsi mental dalam diri manusia. Hal itu membuktikan bahwa kajian psikologi tidak melulu terbatas hanya pada perilaku manusia yang dapat diamati melalui observasi tetapi juga wilayah proses mental.   
PEMIKIRAN FOUCAULT DAN BARON: KEKUASAAN DAN PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN DAN BAHASA Refaldi Andika Pratama
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.30543

Abstract

Artikel ini membahas mengenai pemikiran yang diajukan oleh dua toloh filsuf yang berbeda, yakni Foucault tentang kekuasaannya dan juga Baron tentang kuasa pengetahuannya. Menggabungkan pemikiran kedua tokoh filsuf tersebut dapat ditarik korelasi antara bagaimana sebuah kuasa mampu mendefinisikan ilmu pengetahuan dan juga bagaimana ilmu pengetahuan mendatangkan kekuasaan. Artikel ini berfokus pada bagaimana pemikiran ala dua tokoh tersebut dapat terbentuk dan bagaimana wujudnya serta dengan contoh kasus pada bidang pendidikan khususnya sejarah dan juga ilmu kebahasaan. Mempelajari filsafat dapat merumuskan bagaimana kekuasaan dan ilmu pengetahuan dapat dikaji begitu pula dengan artikel ini yang berusaha untuk mengkaji antara ilmu pengetahuan, bahasa, dan bagaimana sebuah kuasa mengekang kedua hal tersebut. 
KONSEP METAFISIKA DALAM FALSAFAH JAWA HAMEMAYU HAYUNING BAWANA Dela Khoirul Ainia
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.30591

Abstract

AbstrakPenelitian ini secara garis besar bertujuan untuk memahami konsep falsafah jawa Hamemayu Hayuning Bawana yang selama ini menjadi pandangan hidup masyarakat jawa berdasarkan pandangan metafisika. Dalam hal ini manusia hidup berdampingan dengan alam dan tidak dapat dipisahkan dari unsur yang lain. Manusia dapat bereksistensi karena ada perantara pengada dalam suatu realitas. Konsep falsafah jawa hamemayu hayuning bawana merupakan konsep yang ditekankan keseimbangan kehidupan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia hubungannya dengan Tuhan kaitannya dengan menjalankan kehidupan di dunia. Masyarakat Jawa dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari masih memegang kuat prinsip hidup yang berhubungan dengan sesuatu yang ada dibalik realitas, sehingga dalam tatanan kehidupannya selalu menghargai dan menjaga keseimbangan antara kehidupan alam dan manusia.   Kata kunci: Memayu Hayuning Bawana, Metafisika, Realitas Pengada AbstractThis research broadly aims to understand the concept of Javanese philosophy Hamemayu Hayuning Bawana which has been a view of life of Javanese people based on metaphysical views. In this case man coexists with nature and is inseparable from other elements. Human beings can exist because there is an intermediary in a reality. The concept of Javanese philosophy Hamemayu hayuning bawana is a concept that emphasizes the balance of life between man and man, man with nature and man in relation to God in relation to living life in the world. Javanese people in carrying out their daily lives still hold strong principles of life related to something that is behind reality, so that in the order of life always appreciate and maintain the balance between natural life and human beings. Keywords: Memayu Hayuning Bawana, Metaphysics, The Reality of Pengada
Feminisme dan Kebebasan Perempuan Indonesia dalam Filosofi Dhiyaa Thurfah Ilaa
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i3.31115

Abstract

Kebebasan seharusnya adalah hal yang absolut untuk dimiliki seluruh individu terlepas dari jenis kelaminnya. Namun, sejak terciptanya masyarakat, kebebasan perempuan selalu dibatasi. Hak dan kesempatan laki-laki hingga kini masih tidak setara dengan perempuan. Perempuan Indonesia sejak dahulu sudah mulai memperjuangkan kesetaraannya, didorong dengan berkembangnya zaman dan globalisasi, perjuangan perempuan Indonesia akan kesetaraan semakin berkembang. Gerakan feminisme bertujuan untuk membantu perempuan memperjuangkan hak dan kebebasan perempuan di masyarakat Indonesia yang masih dominan patriarki. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari filosofi dari feminisme dan kebebasan perempuan. Metode penelitian adalah dengan studi literature deskriptif dan interpretif. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa beberapa ahli filosofis feminis menjelaskan bahwa guna mencapai kesetaraan, laki-laki dan perempuan harus diberikan pendidikan yang sama, serta tidak diberi perlakuan yang diskriminatif. Ahli filosofis feminis lainnya meyakini bahwa perempuan dan laki-laki hakikatnya berbeda, namun memiliki hak yang sama dalam hal kebebasan. Kebebasan memiliki dua jenis, yakni kebebasan positif dan negatif. Keduanya merupakan hal yang bertolak belakang yang perlu dikritisi lebih lanjut, serta masih perlu dipertimbangkan sebab dan akibat yang ditimbulkan bagi perempuan khususnya di Indonesia.
FILSAFAT SEBAGAI ILMU YANG MENJADI LANDASASAN BAGI ILMUWAN DALAM MENGEMBANGKAN SAINS Imro'atun Istikhomah; Abdul Wachid Bambang Suharto
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31192

Abstract

Pada hakikatnya, manusia akan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini dilakukan karena dengan pengetahuan akan menimbulkan kepuasan tersendiri sesuai tuntutan zaman. Tidak hanya sebatas pengetahuan semata, tetapi lebih kepada pengetahuan dan kebenarannya. Mempelajari segala sesuatu dengan ilmu, pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mendapatkan suatu kebenaran. Kebenaran merupakan keadaan dimana sesuatu sesuai dengan objek yang sesungguhnya. Dengan demikian, mempelajari sesuatu hal melalui pengetahuan (filsafat) merupakan sebuah lankah untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dan objektif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hakikat filsafat sebagai landasan ilmu dalam pengembangan sains. Kebenaran merupakan inti dari filsafat menjadi pijakan atau landasan bagi setiap ilmu pengetahuan. Seperti ilmu fisika pada awalnya adalah filsafat alam, ilmu ekonomi yang mulanya adalah filsafat moral. IPA atau sains yang di dalamnya meliputi fisika, kimia, biologi menggunakan langkah ilmiah, berfikir ilmiah, dan menggunakan kerangka-kerangka ilmiah. Dari sinilah filsafat sains digunakan untuk mempelajari, mengungkap, dan menyelesaikan permasalahan sains bagi kehidupan manusia. Penelitian ini membahas perihal keharusan seorang ilmuan dalam mengembangkan sains agar; 1) menguasai pengetahuan dasar tentang sains sebagai ilmu penegetahuan bidang garapannya, 2) memahami keterkaitan ilmu sains dengan ilmu-ilmu yang lain, 3). memahami dengan sepenuhnya bahwa sikap ilmiah merupakan komponen dalam sains yang harus dipatuhi 
DIMENSI ETIS PELAKSANAAN KURSUS TES PSIKOLOGIS (PSIKOTES) Adellia Aulia Raganiz; Sumaryati Sumaryati
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31318

Abstract

Artikel ini membahas tentang dimensi etis pelaksanaan kursus tes psikologi (Psikotes). Tes psikologi ini sering kita temukan pada tahap seleksi di bidang pendidikan atau pekerjaan dengan tujuan untuk menyaring kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian tes psikologi harus dilakukan dengan baik dan benar. Namun berdasarkan hasil observasi peneliti, masih banyak lembaga yang mengadakan kursus psikotes, agar para peserta dapat lolos pada tahap psikotes ini. Tetapi sebenarnya dalam mengikuti tes psikologi tidak diperlukan persiapan apapun. Kajian ini bertujuan untuk membuktikan implementasi kode etik dalam pelaksanaan kursus psikotes. Jenis penelitian library research. Objek dalam penelitian ini ialah buku dan artikel yang berkaitan dengan etika dan pelaksanaan tes psikologi. Informasi dikumpulkan dengan melakukan studi pustaka. Subjek penelitian adalah peneliti sendiri. Hasil kajian pelaksanaan kursus tes psikologi belum mengimplementasikan norma-norma yang berlaku. 
ETIKA PSIKOLOG DALAM PENGUMPULAN DAN PENYAMPAIAN HASIL PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS (TINJAUAN AKSIOLOGI) Windar Ningsih
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31344

Abstract

Dalam pandangan filsafat, etika adalah suatu nilai dan evaluasi tentang baik buruknya diri manusia, etika juga merupakan bagian dari kajian aksiologi. Dalam setiap ilmu memiliki kajian aksiologi yang bertujuan untuk pemanfaatan dalam kemakmuran hidup manusia. Etika ini akan membantu semua pihak merasa nyaman dan terlindungi ketika sedang melakukan atau mengkonsumsi jasa dari profesi psikolog. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisa artikel yang berhubungan dengan etika psikolog dalam menyampaikan hasil pemeriksaan psikologis. Metode yang digunakan adalah literature review, artikel dikumpulkan dengan menggunakan mesin pencari seperti EBSCO, Sciencedirect, Google Scholar dan buku kode etik oleh HIMPSI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etika psikolog dalam menyampaikan hasil pemeriksaan psikologis dapat berupa menjaga kerahasiaan data, pertanggungjawaban data dan memahami batas kerahasiaan data. Dalam praktik psikologi etika sangatlah penting karena jika terjadi pelanggaran dari etika sangat mungkin pasien akan merasakan rasa malu, tidak berharga, atau beban-beban psikologis lainnya. Salah satu penekanan nilai profesionalisme seorang psikolog terletak pada etika dalam mengumpulkan data dan menyampaikan data. 
EPISTEMIC FALLACY MENURUT ROY BHASKAR Imam Wahyudi; Rangga Kala Mahaswa
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31611

Abstract

This article aims to provide an analytical description of Roy Bhaskar's epistemic fallacy and his critique of positivism and postmodernism. The research method uses literature study by referring to epistemology discourse, critical realism view, and the nature of epistemic fallacy. Epistemic fallacy accordingly is the anthropic fallacy because it contains inconsistency in the idea that the argument about being is to be investigated in terms of our knowledge of being. Critical realism finds reductionist and overlapping about what is and what is to be. The epistemic fallacy has also issued several misconceptions, such as uniformitarianism, declining open system, and flat ontology. Therefore, since ontology cannot be reduced into epistemology, relativistic epistemology is part of the Critical Realism notion to overcome solipsism and naïve universalism. 
PENDIDIKAN CINTA KASIH ANAK DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU Azam Syukur Rahmatullah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31772

Abstract

Tulisan ini membahas tentang bagaimana mendidik diri untuk menyemaikan cinta kasih kepada anak. Hal ini dikarenakan di era modernisasi ditemukan banyak penelitian yang menyatakan tentang tindakan krisis kasih sayang terhadap anak. Maraknya kekerasan, bullying yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya, atau dilakukan oleh orang dewasa kepada anak. Hal yang demikian tentu saja meresahkan dan memprihatinkan, di sisi lain akan menjadi beban psikologis anak di masa sekarang dan masa depan. Oleh karenanya tulisan ini memperdalam berkaitan tentang olah rasa, olah pikir dan olah perilaku dalam mencintai dan mengasihi anak yang sesungguhnya. Pendekatan kajian yang digunakan adalah pendekatan  filsafat ilmu, yang di dalamnya memuat kajian ontologis, epistimologis dan aksiologis.  Kajian ontologis nampak pada pemaparan terkait dengan apa dan mengapa tentang krisis cinta kasih kepada anak. Kemudian kajian epistimologis berkaitan dengan cinta kasih dalam tinjauan filosofi,dan juga berkaitan tentang kemengapaan cinta kepada anak ditanggalkan serta  bagaimana cara  mendidik diri untuk memberi cinta kasih  kepada anak. Sedangkan kajian aksiologisnya adalah tentang apa kebermanfaatan mendidik diri dalam memberi cinta kasih kepada anak. 

Page 7 of 29 | Total Record : 290