cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
gtm_jd@yahoo.co.id
Phone
+6287861886493
Journal Mail Official
adetantri87@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No.11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Filsafat Indonesia
ISSN : 26207990     EISSN : 26207982     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jfi.v3i3
Core Subject : Education,
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles 290 Documents
KONTEKSTUALISASI PEMBELAJARAN FILSAFAT ILMU PADA PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA hastangka Hastangka
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31888

Abstract

Filsafat Ilmu merupakan salah satu mata kuliah wajib yang diselenggarakan untuk program studi magister Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Pada dasarnya, Filsafat Ilmu menjadi salah satu bagian penting pembelajaran untuk mahasiswa semester pertama pada jenjang  strata 1 dan strata 2 di perguruan tinggi sebagai fondasi untuk mengenal, memahami, dan mendalami tentang bidang ilmu tertentu yang dipelajari. Filsafat Ilmu sebagai salah satu cabang filsafat khusus memiliki fungsi dan peran untuk menjadi dasar berpijak dalam  memberikan kerangka ontologis, epistemologis, dan aksiologis atas ilmu yang ada dan berkembang dewasa ini. Filsafat Ilmu diajarkan pada jenjang pendidikan Strata 2 sebagai upaya untuk memberikan kerangka berpikir untuk mengembangkan dan mendalami disiplin ilmu yang lebih spesifik dan mendalam. Penelitian ini merupakan salah satu bentuk penelitian tindakan kelas yang akan mendeskripsikan tentang proses pembelajaran Filsafat Ilmu pada Program Magister Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada periode tahun 2020 sampai dengan 2021. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memberikan orientasi dan pengenalan model pembelajaran Filsafat Ilmu pada program Strata 2 di Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Kontekstualisasi pembelajaran Filsafat Ilmu untuk bidang disiplin ilmu di luar Filsafat menjadi penting. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan sumber data dari buku, jurnal ilmiah, dan hasil wawancara kepada mahasiswa. Analisis data ini menggunakan analisis kritis, analisis induktif-deduktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kontekstualisasi pembelajaran Filsafat Ilmu pada program Magister Psikologi dilakukan melalui pendekatan inovatif dan kreatif.  
KEBENARAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT SERTA AKTUALISASINYA DALAM MEN-SCREENING BERITA MSyaiful Padli; MLutfi Mustofa
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i1.31892

Abstract

Sering kali masyarakat terperangkap dalam lubang penerimaan berita yang tergolong ambiguitas. Masyarakat belum bisa memilih dan memilah mana berita yang kadar kebenarannya penuh, kurang, ataukah berita yang tidak mengandung kadar kebenaran. Tujuan penulisan adalah memberikan gambaran bagaimana seorang manusia sebagai makhluk ontologis dan epistomologis menerima berita secara benar. Metode penulisan adalah kualitatif deskriptif dengan data sekunder yang bersumber dari berbagai literarur relevan. Sehingga didapatkan pembahasan yang menguraikan seluruh teori kebenaran dalam perpektif filsafat dan kemungkinan aktualisasinya dalam men-screening berita. Pembahasan dimulai dari latar belakang sosial politik ekonomi yang menimbulkan degradasi nalar kritis masyarakat yang tidak bisa lagi membedakan antara berita fakta dan berita yang penuh kebohongan. Selanjutnya, pembahasan fokus pada kebenaran perspektif filsafat dan perkembangannya. Pada akhir penulisan disuguhkan bagaimana cara penerapan teori kebenaran tersebut di kalangan masyarakat dalam menerima berita terutama berbasis online. 
MENALAR SKEPTIS ADOPSI ARTIFICIAL INTELIGENCE (AI) DI INDONESIA: ‘Sebuah Tinjauan Filsafat Ilmu Komunikasi’ Felisianus Efrem Jelahut; Herman Yosep Utang; Yosep Emanuel Jelahut; Lasarus Jehamat
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.33794

Abstract

Penelitian ini dilakukan atas dasar rujukan penelitian dari Microsoft Indonesia mengenai adopsi artificial intelligence di Indonesia yang memperoleh hasil penelitian bahwa terdapat 14% karyawan dan pemimpin perusahaan berbasis teknologi di Indonesia yang masih skeptis terhadap adopsi artificial intelligence tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran teoretis dari sudut pandang filsafat ilmu komunikasi dalam menjawabi pertimbangan mengenai baik dan buruknya ‘keraguan’ atau skeptik 14% karyawan dan pemimpin perusahaan terhadap adopsi platform Artificial Inteligence oleh perusahaan Microsoft di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka. Adapun referensi pustaka berupa buku yang menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah buku berjudul Aristotle Physic Book VIII dan buku Filsafat Ilmu Komunikasi: Pengantar Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari sudut pandang filsafat ilmu, hakekat AI adalah alat atau sarana dan juga mesin yang diciptakan dengan komponen yang menyerupai dan memainkan peran seolah-oleh akal budi yang mampu mencipta atau berkreasi seperti manusia. AI dijadikan manusia sebagai co-creator yang pada prinsipnya tetap terbatas dan tak akan pernah sempurna ‘in se’ sehingga patutlah nada skeptis tetap menyertainya.
Kritik Hermeneutika Filsafat Hans Georg Gadamer Hayatuddiniyah Hayatuddiniyah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.33874

Abstract

Manusia dalam dunia filsafat tidak terlepas dari “menafsirkan” / “menginterpretasi” atau yang disebut dengan hermeneutika. Salah satu filsuf yang mengkaji hermeneutika tersebut adalah Hans Georg Gadamer (1900-2002) yang menawarkan konsep peleburan cakrawala. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih komprehensif bagaimana konsep peleburan cakrawala yang ditawarkan oleh Hans Georg Gadamer dalam bidang kajian hermeneutika filsafat. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan jenis studi pustaka, sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah analisis kritik. Hasil dalam artikel ini adalah konsep peleburan cakrawala Hans Georg Gadamer menekankan bahwa cakrawala seseorang dimasa sekarang terjadi atas dasar cakrawala yang ia miliki di masa lalu, atau dengan kata lain cakrawala yang saat ini dimiliki oleh setiap orang merupakan hasil terbentuknya sebagai akumulasi berbagai cakrawala di masa lalu dalam gerak melingkar yang terus-menerus. Dan dalam sebuah peleburan cakrawala memiliki persimpangan konsep yang berbeda, seperti yang dikatakan Jean Grondin bahwa dalam memahami cakrawala pada masa  lalu membutuhkan pengertian / pemahaman manusia terhadap cakrawala masa sekarang. Sehingga dari kedua konsep peleburan cakrawala tersebut tentu memiliki alasan-alasan tersendiri mana yang lebih diterima dan dibutuhkan oleh manusia di masa sekarang.
KRITIK POSTMODERNISME TERHADAP ETIKA MODERN Kosmas Sobon; Timoteus Ata Leu Ehaq
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.34226

Abstract

Tujuan penelitian adalah menganalisis aliran etika modern dan beberapa ciri khas etika modern serta beberapa kritik  postmodernisme terhadap etika modern. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan menggunakan metode hermeneutika. Hasil penelitian menunjukan bahwa ciri khas dari etika modern yakni  rasionalitas moral, universalitas moral, dan kemutlakan peraturan moral. Konsep etika modern tersebut dikritisi oleh postmodernisme dengan bertitik tolak pada pandangan etika postmodern. Dalam perspektif postmodernisme, etika secara moral manusia bersifat ambivalen, secara inheren fenomena moral bercorak “non-rasional, secara tak terhindarkan moralitas bercorak aporetik, norma dan praktik moral tidak dapat dimutlakan dan diuniversalisasikan dan moral adalah realitas pertama dari subjek manusia.
EPISTEMOLOGI KECERDASAN BUATAN (AI) DAN PENTINGNYA ILMU ETIKA DALAM PENDIDIKAN INTERDISIPLINER Michael Reskiantio Pabubung
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.34734

Abstract

Artificial intelligence (AI) is an “umbrella term” used to describe simulations carried out by machines or devices, which are connected to an ocean of data, which resembles human intelligence. There is no doubt that AI has had a positive impact on many aspects of human life: economy, education, government, defense, and security. However, AI is like two sides of a coin which also has negative impacts. The multidimensional impacts caused by AI lead to a question about how to keep pace with AI progress while staying through the desired path. To answer this question, philosophy always begins with an epistemological analysis. By departing from facts and epistemological analysis about AI, the author came to believe in the importance of the role of interdisciplinary education. By using qualitative methods through literature analysis on AI as a material object, and philosophy, especially epistemology as a formal object, this essay offers the importance of AI and Ethics as a compounded lecture material in the era and disruption of AI. As a time-responsive educational institution, every university needs to consider the necessity for lecture materials on the basics of AI and Ethics for every student.
Teori Kritis Habermas dan Kebijakan Merdeka Belajar Gerald Moratua Siregar
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.34771

Abstract

Di akhir tahun 2019 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem mencanangkan kebijakan Merdeka Belajar untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi. Satu pertanyaan penting yang menyusul dari diterapkannya kebijakan baru Merdeka Belajar adalah seberapa jauh kebijakan ini dapat berdampak dan bertahan? Mengingat tren selama enam belas tahun ini, dimana pembaruan-pembaruan kurikulum berbasis kompertensi tersebut tidak dapat berjalan secara optimal. Berkaitan dengan permasalahan optimalisasi ini, Teori Kritis Habermas mungkin dapat dijadikan pedoman alternatif. Tujuan dari esai ini adalah untuk membuka wacana bahwa melalui Teori Kritis Habermas, kebijakan Merdeka Belajar dapat diimplementasikan secara efektif dan memiliki dampak yang berkelanjutan, sehingga tidak bersifat temporer.
Filsafat Ilmu dan Pengembangan Metode Ilmiah Milasari Milasari; Ahmad Syukri; Badarussyamsi Badarussyamsi; Ahmad Fadhil Rizki
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i3.35499

Abstract

This article discusses the philosophy of science and the development of the scientific method, between the philosophy of science and the scientific method has a close relationship. Philosophy of science cannot be separated from scientific rules relating to the scientific method used, and the scientific method is the key word in science. Some of the problems that can become material for the study of scientific activity thinking are all activities related to the universe and its contents while it can be observed (observable) indirectly or directly by utilizing methods and means of assistance, as well as measurable. In order for a science to have an object and scientific method, it must meet several requirements which include the following dimensions/aspects. namely: (1) the ontological aspect (2) the epistemological aspect (3) the axiological aspect. The mindset in the scientific approach consists of an inductive mindset and a deductive mindset. The steps in the scientific method include: Formulating problems, conducting literature studies, formulating hypotheses, testing hypotheses, collecting data, analyzing and interpreting data, and drawing conclusions. There are two types of scientific research methods, namely qualitative methods and quantitative methods. Types of qualitative research are generally divided into narrative research, phenomenology, ethnography, case studies, grounded theory, participatory action, discourse analysis, document / text / heurmenetic studies, natural observations, centralized interviews, reasoned theory, historical studies, while quantitative research in general include: Descriptive Research, Relationship Research, Correlation Research, Experimental Research, Laboratory, Case Studies, Surrvey, Action Research field, Class Action research, Research development, evaluatif.analytic descriptive.
Kontruksi Epistimologi Ilmu Pengetahuan Parida Parida; Ahmad Syukri; Badarussyamsi Badarussyamsi; Ahmad Fadhil Rizki
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 3 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i3.35503

Abstract

This article discusses the philosophy of science and the development of the epimostological construction of science. Between the philosophy of science and the development of science has a close relationship because the philosophy of science has always been a benchmark in the development of science. Philosophy if science is a first pondation to make a epimostological constructin of science. Some of the development of the epimostology of science can not be separated from the foundation of a well-developed philosophy of science. The essence of modern science is inseparable from the basics of the philosophy of science. Another factor that binds science is realism and idealism which are the strong basis for the development of the epimostological construction of science in the era of modern civilization as it is now.
Aksiologi Ilmu Pengetahuan dan Manfaatnya Bagi Manusia Rosnawati Rosnawati; Ahmad Syukri Ahmad Syukri; Badarussyamsi Badarussyamsi; Ahmad Fadhil Rizki Ahmad Fadhil Rizki
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.35975

Abstract

This article discusses the nature of the axiology of science and its benefits for humans. Axiology is part of the philosophy of science that questions how humans use their knowledge. So what is to be achieved from axiology is the nature and benefits contained in a knowledge. Axiology is a science that talks about the goals of science itself. So axiology is a science that studies the true nature and benefits of knowledge and actually science is not in vain if we can use it as well as possible for the benefit of humans in general. The formulation of the problem raised is how the nature of axiology, science and benefits for humans. The substance of science is very dependent on its benefits, because it is very worrying and dangerous if science which is full of negative charges is controlled by irresponsible people. The basic goal is to find the truth of the existing facts or wherever possible there is certainty of scientific truth. This paper describes the functions and uses of science that has provided the greatest benefit to human life, where science is an important instrument in every development process as an effort to realize the benefit of human life entirely. Science can be used as a means to improve the standard of living of humans and their welfare by focusing on nature and dignity for the benefit of humans.

Page 8 of 29 | Total Record : 290