cover
Contact Name
Herry Irawansyah
Contact Email
herryirawansyah@um.ac.id
Phone
+6285345138335
Journal Mail Official
herryirawansyah@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat Jalan Jenderal Achmad Yani KM 35,5 Banjarbaru, Kalimantan Selatan - 70714
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JTAM ROTARY
ISSN : 27216225     EISSN : 27456331     DOI : https://doi.org/10.20527/jtam_rotary.v2i2
JTAM Rotary diterbitkan oleh Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. JTAM Rotary merupakan jurnal terbuka yang dapat diakses siapapun, baik itu peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang teknik mesin. JTAM Rotary terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan bulan September. JTAM Rotary berfokus pada jurnal-jurnal mahasiswa teknik mesin di bidang keahlian Konversi Energi, Desain dan Konstruksi, Manufaktur, dan Rekayasa Material.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY" : 10 Documents clear
PENGARUH CATALYTIC CONVERTER BERBAHAN ALUMUNIUM, SENG TERHADAP KEMAMPUAN REDUKSI EMISI GAS BUANG, DAN PERFORMA PADA SEPEDA MOTOR 110 CC Isworo, Hajar; Khalil, Muhammad; Syahyuniar, Rusuminto; Syaief, Adhiela Noer; Bela Persada, Anggun Angkasa; Lingga, Yulima Melsipa; Artika, Kurnia Dwi; Adi Setiawan, Muhammad Yusuf
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12322

Abstract

Masalah emisi gas buang akan terus berlangsung selama manusia menggunakan bahan bakar fosil. Emisi gas buang dapat diturunkan dengan menggunakan katalis yang terbuat dari berbagai macam material, seperti aluminium, tembaga, seng, dan lainnya. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis matrial katalis alumunium dan seng terhadap emisi gas buang HC dan CO. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menguji Katalitik converter menggunakan uji eksperimental menggunakan alat uji emisi dan dyno test (uji performa mesin). Dari penelitian diketahui bahwa kadar CO dan HC  terendah pada penggunaan katalis alumunium 2 saringan dengan torsi sebesar 5.69 dan power sebesar 3,9 hp. Menurunnya emisi gas buang karena katalis alumunium dan seng terbukti efektif menurukan kadar CO dan HC. The problem of exhaust emissions will continue as long as humans use fossil fuels. Exhaust gas emissions can be reduced by using catalysts made from various materials, such as aluminum, copper, zinc, and others. So this research was carried out to determine the effect of using aluminum and zinc catalyst materials on HC and Co exhaust emissions. The method used in this research is to test the catalytic converter using experimental tests using emission test equipment and dyno tests (engine performance tests). From the research, it is known that the lowest CO and HC levels are when using  2 filter aluminum catalyst with a torque of 5.69 and a power of 3.9 hp. Reduced exhaust emissions due to aluminum and zinc catalysts proven to be effective in reducing CO and HC levels.
PENGARUH MEDIA PENDINGIN DAN DEEP OF CUT TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN AL6063 PADA BUBUT KONVENSIONAL Rachmandani, Rizky; Tamjidillah, Mastiadi
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.11667

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis pengaruh media pendingin soluble cutting oil dan air terhadap kekasaran permukaan aluminium 6063 menggunakan mesin bubut konvensional. Adapun prosedur penelitian adalah sebagai berikut : (1) proses pembuatan spesimen; (2) pengujian spesimen; (3) variabel penelitian dan (4) pengambilan data lapangan. Adapun hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa pengaruh media pendingin soluble cutting oil dan air dengan variasi deep of cut terhadap nilai kekasaran permukaan aluminium 6063 memiliki nilai kekasaran yang berbeda antara soluble cutting oil dan air. Dimana media pendingin soluble cutting oil dengan Deep of cut 0,5 didapatkan tingkat kekasaran yang lebih baik dengan angka 0,942 μm, sedangkan deep of cut 0,7 menggunakan air didapatkan tingkat kekasaran yang lebih baik dengan angka 1,136 μm. Pengaruh karakteristik hasil deep of cut pada aluminium 6063 memiliki hasil permukaan sayatan yang berbeda-beda, dimana pada setiap sampel hasil pengamatan dengan variasi deep of cut. Semakin kecil deep of cut yang digunakan maka hasil sayatan permukaan akan semakin halus dan semakin besar deep of cut yang digunakan maka akan semakin kasar permukaan yang dihasilkan. The aim of this research is to determine and analyze the effect of soluble cutting oil dan water cooling media on the surface roughness of 6063 aluminum using a conventional lathe. The research procedures are as follows: (1) specimen making process; (2) specimen testing; (3) research variables dan (4) field data collection. The results of this research found that the effect of cooling media Soluble cutting oil and water with variations in depth of cut on the surface roughness value of aluminum 6063 has different roughness values between soluble cutting oil and water. Where the Soluble cutting oil cooling media with a Deep of cut of 0.5 obtained a better roughness level with a figure of 0.942μm, while the depth of cut of 0.7 using water obtained a better roughness level with a figure of 1.136μm. The influence of the characteristics of the depth of cut results on aluminum 6063 has different cut surface results, where in each sample the results are observed with variations in the depth of cut. The smaller the depth of cut used, the smoother the surface incision will be dan the greater the depth of cut used, the rougher the resulting surface will be.
PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN GMAW TERHADAP DISTORSI DAN KEKERASAN PADA BAJA ST37 POST HEATING 400˚C Zuhri Simanjuntak, Rinal Fadel; Ansyah, Pathur Razi; Ramadhan, Muhammad Nizar; Syarief, Akhmad
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12540

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi dampak variasi arus pengelasan GMAW terhadap distorsi dan kekerasan pada material baja ST37 setelah dipanaskan pada suhu 400˚C. Hasil penelitian mengenai variasi arus dan perlakuan post heating pada suhu 400°C di daerah HAZ dan pada area Weld Metal menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam nilai kekerasan. Perbedaan ini dipengaruhi oleh variasi arus yang diberikan; semakin tinggi arusnya, semakin besar pula pelunakan logam yang terjadi. Sebagai contoh, pada arus 100 A, nilai kekerasan tercatat sebesar 65 HRB, sedangkan pada arus 120 A, nilai tersebut turun menjadi 56,4 HRB. Di bagian Weld Metal, nilai kekerasan tertinggi terlihat pada arus 80 A (59,8 HRB), dan nilai terendah terdapat pada arus 120 A (51,1 HRB). Dari ketiga perbedaan suhu yang diberikan kepada spesimen dengan arus yang berbeda, yaitu 80 A, 100 A, dan 120 A, memiliki nilai distorsi rata-rata tertinggi pada arus 80 A (1,17 mm), diikuti oleh arus 100 A (0,85 mm), dan terendah pada arus 120 A (0,68 mm). Hasil penelitian uji distorsi ini menunjukkan bahwa perlakuan post heating sangat berpengaruh terhadap nilai distorsi pada spesimen tersebut. This study seeks to investigate the impact of varying GMAW welding currents on distortion and hardness in ST37 steel material post-heating at 400˚C. The research findings on the variations in current and post-heating treatment at 400°C in both the HAZ (Heat Affected Zone) and Weld Metal areas reveal significant differences in hardness values. These differences are attributed to variations in the current supplied; the higher the current, the greater the metal melting (softening) observed. For instance, at 100 A, the hardness value is recorded at 65 HRB, while at 120 A, it decreases to 56.4 HRB. In the Weld Metal section, the highest hardness value is observed at 80 A (59.8 HRB), and the lowest is at 120 A (51.1 HRB). Among the three different current levels (80 A, 100 A, and 120 A) applied to spesimens, the average distortion value is highest at 80 A (1.17 mm), followed by 100 A (0.85 mm), and lowest at 120 A (0.68 mm). These results underscore the significant impact of post-heating treatment on the distortion of the spesimen.
PENGARUH MODIFIKASI KOMPRESI RUANG BAKAR PADA MOBIL HEMAT ENERGI Wahyudi, Ikhsan; Humaidi, Khairi
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12530

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan penggunaan bahan bakar khusus dari sepeda motor 4 langkah yang telah dimodifikasi dengan rasio kompresi 9,2 : 1, menggunakan bahan bakar jenis pertalite. Penelitian ini dilakukan melalui metode eksperimen yang melibatkan sepeda motor Honda Beat FiData hasil penelitian dianalisis melalui tiga percobaan dengan RPM 1500, 2500, dan 3000. Setiap percobaan menggunakan 100 ml bahan bakar pertalite untuk mengevaluasi konsumsi bahan bakar, yang kemudian dihitung. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan konsumsi bahan bakar spesifik dari ketiga variasi penggunaan RPM saat berkendara. Percobaan pertama dilakukan pada rentang RPM 1000-1500 dengan beban total kendaraan 200 Kg, menghasilkan konsumsi bahan bakar 2,3 Km/100 ml (23 Km/L) pada kecepatan 11 Km/j. Percobaan kedua pada rentang RPM 1500-2500 dengan beban yang sama menghasilkan konsumsi 3,5 Km/100 ml (35 Km/L) pada kecepatan 40 Km/j. Percobaan ketiga pada rentang RPM 2500-3000 dengan beban yang sama menghasilkan konsumsi 3,2 Km/100 ml (32 Km/L) pada kecepatan 65 Km/j. Penurunan RPM secara signifikan mempengaruhi konsumsi bahan bakar, di mana semakin rendah RPM, semakin tinggi kebutuhan bahan bakar. This study aims to compare the specific fuel consumption of modified 4-stroke motorbikes with a compression ratio of 9.2: 1 using pertalite fuel. The experimental method was carried out on a Honda Beat Fi motorbike. The research data was analyzed through three experiments with RPM 1500, 2500, and 3000. Each experiment used 100 ml of pertalite fuel to evaluate fuel consumption, which was then calculated. The research results show that there are differences in specific fuel consumption from the three variations in RPM use when driving. The first experiment was carried out in the RPM range 1000-1500 with a total vehicle load of 200 Kg, resulting in fuel consumption of 2.3 Km/100 ml (23 Km/L) at a speed of 11 Km/h. The second experiment in the RPM range 1500-2500 with the same load resulted in a consumption of 3.5 Km/100 ml (35 Km/L) at a speed of 40 Km/h. The third experiment in the 2500-3000 RPM range with the same load resulted in a consumption of 3.2 Km/100 ml (32 Km/L) at a speed of 65 Km/h. Reducing RPM significantly affects fuel consumption, where the lower the RPM, the higher the fuel requirement.
KARAKTERISTIK HASIL PENGECORAN DIE CASTING PADUAN ALUMUNIUM TEMBAGA (Al-Cu) Pranata, Edy; Maruf, Maruf
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.11700

Abstract

Aluminium merupakan logam non-besi yang bahan dasarnya adalah bauksit dan kreol. Logam lebih dari setengahnya terdiri dari unsur-unsur kimia. Salah satu jenis logam yang paling berguna dalam industri adalah paduan Al-Cu yang biasa digunakan untuk penempaan tugas berat, pemasangan pesawat terbang, dan rangka truk. Pengecoran merupakan cara tertua dalam proses pembentukan logam. Pengecoran logam tebal atau die casting adalah pengecoran bertekanan dimana logam ditekan ke dalam cetakan dalam kondisi mendekati titik beku. Proses Die Casting dilakukan variasi suhu penuangan (650°C, 670°C dan 690°C), tekanan ( 0, 2,5, 5 dan 7,5 MPa) dengan waktu pengadukan 90 detik. Sedangkan hasil pengujian nilai kekerasan, kekerasan tertinggi terhadap suhu penuangan dengan hasil 650°C sebesar 86 HB dan terendah pada suhu 690°C sebesar 58 HB dan kekerasan terhadap tekanan tertinggi dengan hasil 7,5 MPa sebesar 86 HB pada suhu 650°C dan terendah tanpa tekanan sebesar 58 HB pada suhu 690°C. Semakin tinggi temperatur penuangan semakin menurun nilai kekerasan dan semakin besar tekanan semakin tinggi nilai kekerasan spesimen. Aluminum is a non-ferrous metal whose basic ingredients are bauxite and creole. Metal is more than half composed of chemical elements, One of the most useful types of metal in the industry is Al-Cu alloy commonly used for heavy-duty forging, aircarft fitting and truck frame. Casting is the oldest way to process metal forming. Thick metal casting or die casting is pressure casting where the metal is pressed into the mold in near freezing conditions.The Die Casting process carried out variations in pouring temperatures of (650°C, 670°C and 69 °C), pressures of (0, 2.5, 5 and 7.5 MPa) with a stirring time of 90 seconds. While the results of testing the value of hardness, the highest hardness to pouring temperature with the results of 650°C of 86 HB and the lowest at 690°C of 58 HB and the highest hardness to pressure with a result of 7.5 MPa of 86 HB at 650oC and the lowest without pressure of 58 HB at temperature of 690oC. The higher the pouring temperature, the lower the hardness value and The greater the pressure, the higher the hardness value of the specimen.
PENGARUH PANJANG INTAKE MANIFOLD TERHADAP PERFORMA MESIN SEPEDA MOTOR INJEKSI 108 CC Alexander, Baimy; Ruhyat, Nanang
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12529

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh panjang intake manifold terhadap performa mesin sepeda motor 108 cc. Metode uji coba dilakukan menggunakan dynotest pada intake manifold dengan variasi panjang 7 cm, 5,3 cm dan 4,2 cm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perbedaan panjang intake manifold berpengaruh pada karakteristik kinerja mesin, di mana intake manifold 7 cm memberikan torsi yang lebih besar pada putaran mesin yang lebih rendah, sementara intake manifold 4,2 cm memberikan daya yang lebih besar pada putaran mesin yang lebih tinggi. Selain itu, penelitian ini juga mengamati konsumsi bahan bakar dari 3 variasi panjang intake manifold. Hasilnya menunjukkan bahwa intake manifold 7 cm lebih irit dalam konsumsi bahan bakar dibandingkan dengan intake manifold yang lebih pendek. Panjang intake manifold mempengaruhi secara signifikan kinerja mesin sepeda motor 108 cc, dengan intake manifold panjang lebih cocok untuk aplikasi yang membutuhkan torsi lebih besar pada putaran mesin rendah, sementara intake manifold pendek lebih cocok untuk aplikasi yang membutuhkan daya lebih besar pada putaran mesin tinggi. This research aims to investigate the effect of intake manifold length on the performance of a 108 cc motorcycle engine. The testing method was conducted using dynotest on intake manifolds with variations in lengths of 7 cm, 5.3 cm, and 4.2 cm. The test results show that there is a difference in intake manifold length affects the engine performance characteristics, wherein the 7 cm intake manifold provides greater torque at lower engine speeds, while the 4.2 cm intake manifold provides greater power at higher engine speeds. Additionally, this study also observed the fuel consumption of the 3 intake manifold length variations. The results show that the 7 cm intake manifold is more fuel-efficient compared to the shorter intake manifolds. Intake manifold length significantly influences the performance of a 108 cc motorcycle engine, with longer intake manifolds being more suitable for applications requiring greater torque at lower engine speeds, while shorter intake manifolds are more suitable for applications requiring greater power at higher engine speeds.
PENGARUH JENIS BASE OIL TERHADAP SUHU MESIN DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA MESIN 4-TAK 100 CC Oktarinda, Muhammad Dwiki; Misbachudin, Misbachudin; Nur, Raybian
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.13183

Abstract

Untuk memastikan efisiensi yang optimal dari tenaga yang dihasilkan melalui pembakaran, diperlukan sistem pelumasan yang tepat. Secara umum, fungsi utama pelumas ialah sebagai perantara mengurangi gesekan dan keausan. Sistem pelumasan pada mesin kendaraan penting, karena kualitas sistem pelumasan mempengaruhi kinerja dan umur mesin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi jenis base oil terhadap suhu mesin dan konsumsi bahan bakar pada mesin mobil hemat energi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tiga jenis base oil yaitu oli mineral grup 2, oli semi sintetik, dan oli full sintetik dengan viskositas SAE 10W-30. Pengujian dilakukan pada mesin bensin 4 tak berkapasitas 100cc dengan bahan bakar pertamax. Pengukuran dilakukan pada putaran idle ±1500 rpm selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis base oil berpengaruh terhadap suhu mesin dan konsumsi bahan bakar. Oli full sintetik memberikan performa terbaik dengan suhu mesin yang lebih rendah dan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien dibandingkan dengan oli mineral grup 2 dan oli semi sintetik. To ensure optimal efficiency from the power generated through combustion, an appropriate lubrication system is necessary. In general, the main function of lubricants is to act as intermediaries in reducing friction and wear.  The lubrication system in vehicle engines is crucial as its quality affects the performance and lifespan of the engine. This study aims to analyze the influence of variations in base oil types on engine temperature and fuel consumption in energy-efficient car engines. The research was conducted using three types of base oils: Group 2 mineral oil, semi-synthetic oil, and full synthetic oil, all with a viscosity of SAE 10W-30. Testing was performed on a 100cc 4-stroke gasoline engine using pertamax fuel. Measurements were taken at an idle speed of approximately 1500 rpm for 10 minutes. The results showed that the type of base oil significantly affects engine temperature and fuel consumption. Full synthetic oil provided the best performance with lower engine temperatures and more efficient fuel consumption compared to Group 2 mineral oil and semi-synthetic oil. 
PENGARUH KONSENTRASI RAGI DAN DEHIDRASI ZEOLIT TERHADAP PEMBUATAN BIOETANOL SINGKONG (MANIHOT UTILISSIMA) Mujiarto, Sigit; Priyanto, Joko; Purnomo, Sigit Joko
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.12610

Abstract

Kebutuhan energi Indonesia saat ini sebagian besar masih bertumpu pada bahan bakar fosil, persediaan bahan bakar tersebut semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil ini menjadi masalah besar dan perlu solusi yang mendesak. Salah satu langkah yang perlu diambil adalah memanfaatkan bioetanol berbahan dasar singkong sebagai alternatif penggantinya. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil singkong terbanyak didunia, masih belum bisa memanfaatan sumber daya tersebut sebagai salah satu energi terbarukan. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan bioetanol dengan bahan baku singkong (Manihot Utilisima). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen pengaruh konsentrasi ragi (1,5%, 2%, 2,5%) dan proses dehidrasi zeolite dalam pembuatan bioetanol singkong untuk mengetahui karakteristik bioetanol. Dari hasil penelitian didapatkan karakteristik bioetanol terbaik pada variasi ragi 2,5% dengan nilai kadar air sebesar 84%, nilai densitas sebesar 0,8136 g/ml, dan nilai Viskositas sebesar 0,07973 dPa.s. Hasil ini mempunyai nilai mirip bahan bakar pertalite namun kadar air dan densitasnya masih lebih tinggi. Diharapkan kedepannya menjadi database untuk penelitian bahan bakar bioethanol berikutnya. Indonesia's current energy needs are still largely based on fossil fuels, the supply of these fuels is decreasing over time. This dependence on fossil fuels is a big problem and needs an urgent solution. One step that needs to be taken is to use bioethanol made from cassava as an alternative. Indonesia, as one of the largest cassava producing countries in the world, is still unable to utilize this resource as a form of renewable energy. In this research, bioethanol was produced using cassava as raw material (Manihot Utilisima). This research uses experimental methods on the influence of yeast concentration (1.5%, 2%, 2.5%) and the zeolite dehydration process in making cassava bioethanol to determine the characteristics of bioethanol. From the research results, it was found that the best bioethanol characteristics were the 2.5% yeast variation with a water content value of 84%, a density value of 0.8136 g/ml, and a viscosity value of 0.07973 dPa.s. This result has a value similar to pertalite fuel but the water content and density are still higher. It is hoped that in the future it will become a database for further bioethanol fuel research.
PENGARUH PENAMBAHAN AIR SCOOP DAN PEMBERIAN VARIASI BAHAN BRAKE PAD TERHADAP PENURUNAN PANAS PADA SISTEM REM Maksum, David Maulana; Farida, Nike Nur
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.13184

Abstract

Air scoop merupakan komponen untuk mengalirkan udara ke bagian kaliper. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menambahkan kompenen air scoop dan melakukan penggantian bahan brake pad yaitu carbon. Pengujian dilakukan dengan memanaskan sistem rem dengan cara kendaraan melaju sambil direm sejauh 500 meter (mencari suhu tertinggi) selanjutnya melajukan kendaraan dengan kecepatan 60 km/jam sejauh 700 meter dan direm dengan menggunakan rem belakang sampai kendaraan berhenti (suhu setelah pendinginan). Hasil penelitian dari 4 pengujian adalah sebagai berikut: pengujian rem standart (tanpa air scoop dan menggunakan brake pad standart memiliki suhu tertinggi 116,2˚C dan suhu seletah pendinginan 102,8˚C. Pengujian tanpa air scoop menggunakan brake pad carbon memiliki suhu tertinggi 111,9˚C dan suhu setelah pendinginan 92,8˚C. Pengujian dengan air scoop dengan brake pad standart memiliki suhu tertunggi 117,9˚C dan suhu setelah pendinginan 100,5˚C. Pengujian air scoop dengan brake pad carbon memiliki suhu tertinggi 117,6˚C dan suhu setelah pendinginan 85,8˚C. sehinngga dapat disimpulkan bahwa penambahan air scoop dan menggunakan brake pad carbon memiliki nilai pendinginan yang paling baik pada sistem rem. The air scoop is a component to channel air to the caliper. The method used in this research is by adding an air scoop component and replacing the brake pad material, namely carbon. The test is carried out by heating the brake system by driving the vehicle while braking for 500 meters (looking for the highest temperature) then driving the vehicle at a speed of 60 km/hour for 700 meters and braking using the rear brake until the vehicle stops (temperature after cooling). The research results from 4 tests are as follows: standard brake testing (without air scoop and using a standard brake pad has the highest temperature of 116.2˚C and after cooling temperature is 102.8˚C. Testing without air scoop using a carbon brake pad has the highest temperature of 111.9˚C and the temperature after cooling was 92.8˚C. The air scoop test with a standard brake pad had the highest temperature of 117.9˚C and the temperature after cooling was 100.5˚C. So it can be concluded that adding an air scoop and using a carbon brake pad has the best cooling value in the brake system.
OPTIMALISASI WAKTU PENGISIAN DENGAN SMART DUAL CHARGER PLUG AND PLAY PADA KENDARAAN LISTRIK BERTENAGAKAN BATERAI SLA/VRLA Nur, Raybian; Barry, Akmal
JTAM ROTARY Vol 6, No 2 (2024): JTAM ROTARY
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jtam_rotary.v6i2.13070

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbandingan tingkat lama durasi pengecesan menggunakan charger standar dengan smart dual charger plug and play; temperatur saat pengecasan daya minimum 30 persen hingga maksimum; dan perbandingan tingkat nilai SOC dan SOH. Adapun proses pengambilan data diantaranya: Mengamati lama durasi pengecesan mulai 30 persen hingga 100 persen; Pengambilan temperatur baterai setiap 3 jam waktu pengecesan; dan pengambilan data nilai SOC dan SOH  sebelum dan sesudah pengecesan berlangsung. Hasil yang didapatkan adalah dengan menggunakan smart dual charger membuat pengisian baterai lebih efisien dibandingkan charger standar, Pengujian ini menunjukkan bahwa baterai bisa dioptimalkan dengan pengisian yang tepat, namun ada beberapa yang tetap perlu diganti karena kondisi awal yang terlalu buruk atau tidak cukup membaik setelah diisi. Kondisi baterai bisa sangat membaik dengan pengisian yang tepat, seperti terlihat pada Baterai 3 yang awalnya memiliki SOH sangat rendah tetapi menjadi baik setelah diisi. Faktor yang mempengaruhi nilai SOC adalah nilai resistansi internal, karena resistansi internal menunjukkan kemampuan baterai dalam mengalirkan arus. The aim of this research is to determine the comparison of the duration of checking using a standard charger with a plug and play smart dual charger; temperature when charging minimum 30 percent to maximum power; and comparison of SOC and SOH value levels. The data collection process includes: Observing the length of the checking duration from 30 percent to 100 percent; Taking battery temperature every 3 hours of checking time; and collecting data on SOC and SOH values before and after the test takes place. Result is that using a smart dual charger makes battery charging more efficient than a standard charger. This test shows that the battery can be optimized with proper charging, but there are some that still need to be replaced because the initial condition is too bad or does not improve enough after being charged. Battery condition can be greatly improved with proper charging, as seen with Battery 3 which initially had very low SOH but became fine after charging. The factor that influences the SOC value is the internal resistance value, because internal resistance shows the battery's ability to carry current.

Page 1 of 1 | Total Record : 10