cover
Contact Name
Nurbaiti
Contact Email
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Phone
+62811243530
Journal Mail Official
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Pemuda no 1 A
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
ISSN : 20896042     EISSN : 25797514     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan adalah jurnal Ilmiah yang memuat naskah publikasi Ilmiah di bidang Kedokteran dan Kesehatan yang meliputi bidang Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Biomedis serta Pendidikan Kedokteran.Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan merupakan memuat publikasi ilmiah Dosen, Mahasiswa dan peneliti lainnya di bidang Kedokteran dan Kesehatan dan diharapkan daptat memperkaya khazanah Pendidikan dan pengetahuan Indonesia
Articles 236 Documents
Faktor Resiko Kejadian Penyakit Jantung Koroner di RSUD Waled Kabupaten Cirebon, Jawa Barat Iskandar Sarumpaet; I Gusti Ayu Nita Aksamalika
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan data WHO (2011) bahwa penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dan 60 % dari seluruh penyebab kematian penyakit jantung adalah penyakit jantung iskemik. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit jantung koroner diakibatkan oleh banyak faktor yaitu diantaranya obesitas, kadar kolesterol darah, perilaku merokok, tekanan darah, kadar gula darah, aktivitas fisik, usia, jenis kelamin dan genetik.  Tujuan: Untuk membuktikan hubungan faktor-faktor risiko kejadian penyakit jantung koroner di RSUD Waled Kabupaten Cirebon. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol (Case Control). Jumlah sampel 67 orang yaitu 28 kasus dan 39 kontrol. Sampel penelitian yaitu penderita Penyakit Jantung Koroner yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien yang didiagnosa klinis menderita penyakit jantung koroner dan berusia 30 - 60 tahun di RSUD Waled Kabupaten Cirebon. Hasil : Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi-square menujukkan faktor yang  memiliki hubungan secara signifikan terhadap PJK yaitu obesitas (p < 0,001), perilaku merokok (p < 0,001), tekanan darah (p < 0,001) dan kadar gula darah (p = 0,002) sedangkan kadar kolesterol, tingkat aktivitas dan usia responden tidak memiliki hubungan yang bermakna. Hasil analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik menunjukkan bahwa perilaku merokok dan tekanan darah yang paling berpengaruh terhadap risiko kejadian PJK. Kesimpulan : Obesitas, perilaku merokok, tekanan darah dan kadar gula darah yang paling mempunyai hubungan bermakna dalam menimbulkan risiko PJK. Kata Kunci : Faktor Risiko, Penyakit Jantung Koroner  ABSTRACT Background: Based on data from WHO (2011) that heart disease is the number one cause of death in the world and 60 % of all causes of death are ischemic heart disease . Factors that influencing the incidence of coronary heart disease caused by many factors, including obesity, blood cholesterol levels, smoking, blood pressure, blood sugar levels, physical activity, age, sex and genetic. Objective: To prove the relationship of risk factors for coronary heart disease incidence in Waled General Regency Hospital. Methods: This study was an observational study with case-control design ( case-control ). Total of samples are 67 people with 28 cases and 39 controls. Samples of research is people with coronary heart disease who have the inclusion criteria fo the patients : clinically diagnosed with coronary heart disease and have aged 30-60 years in Waled General Regency Hospital. Results: Based on the results of the analysis using the chi - square test showed that factors significantly affect CHD were obesity (p < 0.001), smoking (p < 0.001), blood pressure (p < 0.001) and blood sugar levels (p = 0.002), while blood cholesterol levels, levels of activity and age of the respondents did not have a meaningful relationship. The results of multivariate analysis using logistic regression showed that smoking and blood pressure were the most respectively influence on CHD.Conclusion: Obesity, smoking, blood pressure and blood sugar levels is have the most meaningful relationship in influncing the risk of CHD . Keywords: Risk Factors , Coronary Heart Disease 
Korelasi Antara Volume Epidural Hematoma dari Hasil Penghitungan CT Scan dengan Temuan Volume Epidural Hematoma Intraoperatif Petra Octavian Perdana Wahjoepramono; Muhammad Zafrullah Arifin
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Cedera kepala merupakan kasus yang sering ditangani dibagian bedah saraf di Indonesia, dengan insidensi yang tinggi. Perdarahan intrakranial, khususnya perdarahan epidural (Epidural Hematoma/EDH), adalah kasus yang membutuhkan diagnosis dan tatalaksana darurat. Pembedahan pada kasus EDH bergantung pada pemeriksaan klinis dan hasil pemeriksaan radiologis. Penghitungan volume EDH yang tepat sangat penting dalam pemutusan tindakan pasien. Metode: yang dilakukan adalah studi analitik observasional berdasarkan catatan dan hasil CT scan pasien, di RS. Hasan Sadikin antara Nov. 2013 dan Mei 2014. Kalkulasi volume EDH dari hasil CT scans dilakukan menggunakan ellipsoid formula dan metode Espersen-Petersen. Hasil: kalkulasi dibandingkan dengan volume perdarahan intraoperatif. Hasil: Sebanyak 113 kasus, bersadarkan hasil analisis didapatkan korelasi terbaik dengan volume intraoperatif adalah dengan menggunakan metode Espersen-Petersen (0.786, sig. 0.007) dibandingkan formula ellipsoid (0.698, sig 0.025). Kedua rumus memberi hasil yang lebih banyak daripada volume intraoperatif. Simpulan: Estimasi volume EDH menggunakan metode Espersen-Petersen memberikan hasil yang lebih akurat dibanding rumus ellipsoid.Kata kunci: Perdarahan Epidural, EDH, Analisa Volumetrik ABSTRACT Introduction: Head injuries are commonly presented to the neurosurgeon. In case epidural hemorrhages (EDH) urgent diagnosis and treatment is needed. Surgical treatment is performed based on a criteria assessing clinical examination and several CT scan findings. In EDH, accurate volume blood calculating, highly needed for patient treatment. Methods: An observational analytical study was conducted using CT scan results and intraoperative reports taken from EDH patients in Hasan Sadikin Hospital between November 2013 and May 2014. EDH volume in CT scan results were calculated using the ellipsoid formula and the Espersen-Petersen method. Results: were compared to intraoperative findings. Result: Total of 113 datasets were available for this study. Best correlation was found using the Espersen-Petersen method (0.786, sig. 0.007) and ellipsoid volume calculation (0.698, sig 0.025). Both calculations produce higher result of EDH volume compared to intraoperative findings. Conclusions: The Espersen-Petersen method was determined to be most accurate in calculating EDH volume than  ellipsoid volume formulaKeywords: Epidural hemorrhage, EDH, Espersen-Petersen
Gambaran Klinis Pasien Laringomalasia di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2012 - Maret 2015 Ayu Hardianti Saputri; Melati Sudiro; Sinta Sari Ratunanda; Wijana Wijana
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Laringomalasia merupakan salah satu kelainan kongenital yang terjadi akibat jatuhnya struktur supraglotik selama inspirasi sehingga menyebabkan stridor. Laringomalasia terdiri dari 3 tipe. Faktor risiko laringomalasia adalah lahir prematur, kelainan neurologik dan lesi jalan nafas. Faktor komorbid laringomalasia adalah bronkopneumonia, kelainan jantung bawaan dan kelainan neurologik. Laringomalasia diduga memiliki hubungan yang erat dengan refluks isi lambung. Tujuan: memberikan informasi mengenai gambaran klinis laringomalasia berdasarkan tipe laringomalasia, faktor risiko, faktor komorbid, dan gambaran refluks laringofaring sehingga diharapkan penatalaksanaan yang lebih terpadu. Metode: penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang, di Poliklinik THT-KL RSHS Bandung periode Januari 2012-Maret 2015, berdasarkan data rekam medis, dan pemeriksaan laringoskopi serat lentur. Hasil: Terdapat 84 pasien (55 laki-laki dan 29 perempuan). Tipe laringomalasia terdiri dari tipe 1 (63,1%), tipe 2 (23,8%) dan tipe 3 (13,1%). Faktor risiko terbanyak adalah cerebral palsy (13%). Faktor komorbid berupa bronkopneumonia (53,6,5%), dan kelainan jantung bawaan (4,8%). Terdapat 2 gambaran refluks laringofaring, yaitu mukus kental endolaring (48,8%), dan hipertrofi komisura posterior (10,7%). Kesimpulan: Laringomalasia banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, tipe laringomalasia terbanyak adalah tipe 1 epiglotis berbentuk omega. Faktor risiko kelainan neurologik (cerebral palsy), faktor komorbid bronkopnemonia dan gambaran refluks laringofaring berupa mukus kental endolaring yang banyak terjadi.Kata Kunci : Laringomalasia, Laringoskopi Serat LenturBackground : Laryngomalacia is a congenital anomalies caused by the collapse of the supraglottic structures during inspiration and causing of stridor. Laryngomalacia consists of 3 types. Laryngomalacia risk factor is premature birth, neurological disorders and lesions of the airway. Laryngomalacia comorbidities was bronchopneumonia, congenital heart disease and neurological disorders. Laryngomalacia expected to have close links with the laryngopharyngeal reflux (LPR). Aim: provide information on the clinical manifestation of Laryngomalacia based on type Laryngomalacia, risk factors, comorbidities, and laryngopharyngeal reflux so expect a more unified management. Methods : retrospective descriptive study with cross-sectional approach in the outpatient of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Hasan Sadikin Hospital, Padjadjaran University, period January 2012-March 2015 from the medical sheats records and record video flexible fiberoptic laryngoscopy (FFL). Results : Eighty four patients were included in the study (59 males and 29 females). Risk factor in this study is cerebral palsy (13%) and the comorbid factor is bronchopneumonia (53,6,5%), cerebral palsy and congenital heart diseases (4,8%). The two clinical findings from LPR is endolaring mucus (48,8%), posterior commissure hypertrophy (10,7%). Conclusions : Laryngomalacia more common in men than women, the most Laryngomalacia type is type 1 omega-shaped epiglottis. Risk factors is neurological disorders (cerebral palsy), comorbidities bronchopneumonia and laryngopharyngeal reflux picture in form of viscous mucus that frequently occurred.Keyword : Laryngomalacia, Flexible Fiberoptic Laryngoscopy.
Hubungan Status Gizi dengan Risiko Jatuh pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Jagasatru Kota Cirebon Ariestya Indah Permata Sari; Gunawan Gunawan
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Jatuh merupakan kegagalan manusia untuk mempertahankan keseimbangan badan untuk berdiri. Jatuh memiliki faktor  risiko intrinsik dan ekstrinsik, status gizi dapat menjadi suatu faktor risiko jatuh pada lansia. Apabila malnutrisi pada lansia terjadi dalam kondisi lama maka akan berdampak pada kelemahan otot dan kelelahan karena energi yang menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan risiko jatuh pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Jagasatru, Kejaksan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan studi cross sectional dengan sampel yang terdiri dari lansia yang berada di Wilayah kerja Puskesmas Jagasatru Kota Cirebon dengan usia 60-70 tahun. Hubungan antara kedua variabel dianalisis dengan uji cross tabs dan uji korelasi Rank spearman. Dari analisis korelasi didapatkan p value = 0,037 (p < 0,05) dan besar korelasi r = - 0,234. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan risiko jatuh pada lansia dengan korelasi negatif yang lemah.Kata Kunci: lansia, status gizi, risiko jatuh  Fall is the human failure to stay balanced to standing. There are risk factors contribute to fall accident, one of them is nutritional status in aged people. If malnutrition occurs in a very long time in aged people, this would cause weakness of muscles and fatigue due to deterioration of energy. The aim of this study is to analyze correlation between nutritional status with fall accident in aged people in the working area of public health center Jagasatru, Kejaksan. This was an analytic descriptive study with cross sectional approach. Samples were aged people between 60-70 years old. Correlation between the two variables was analyzed by cross tab and Rank spearman test with p value 0.037 (p<0.05) and r correlation = - 0.234. This conclude that there is significant correlation between nutritional status with fall risk in aged people with weak negative correlation.Keywords: aged people, nutritional status, fall risk 
Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Tuna Albakora (Thunnus alalunga) terhadap Kadar Kolesterol Total, HDL, dan LDL Pada Tikus Putih Jantan dengan Hiperkolesterol Hikmah Fitriani; Muhammad Satrio Primaeso; Venty Muliana Sari Soeroso
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHiperkolesterolemia adalah kondisi dimana kadar kolesterol total dalam darah  meningkat (≥130 mg/dl) dan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gangguan pada sistim kardiovaskular. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, tingkat hiperkolesterolemia di Indonesia sebesar 9,3% pada rentang usia 25 hingga 34 tahun dan 15,5% pada rentang usia 55 hingga 64 tahun. Sekitar 18% dari populasi Indonesia menderita hiperkolesterolemia, dan 80% diantaranya mengalami kematian mendadak akibat serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minyak ikan dapat bermanfaat untuk menurunkan hipertensi, aterosklerosis, dan arthritis. Asam lemak omega-3 yang dihasilkan dari minyak ikan terdiri dalam bentuk EPA (Eicosa Pentanoic Acid) dan DHA (Docosa Hexanoic Acid). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak ikan tuna albakora terhadap kadar kolesterol total, HDL, dan LDL pada tikus putih jantan hiperkolesterol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Pre and Post test control group design menggunakan 25 ekor tikus galur Sprague Dawley yang dibagi kedalam 5 kelompok. Kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, kelompok perlakuan 1, 2, dan 3 diberikan perlakuan minyak ikan masing-masing 61mg, 122mg, dan 183mg. Ada pengaruh yang signifikan pemberian minyak ikan tuna albakora terhadap kadar kolesterol total, HDL, dan LDL dengan nilai P<0,05. Minyak ikan tuna albakora memiliki pengaruh terhadap kadar kolesterol total, HDL, dan LDL. Dosis 183mg/200g BB dapat menurunkan kadar kolesterol total, meningkatkan kadar HDL, dan menurunkan kadar LDL plasma tikus putih jantan galur Sprague Dawley.  Kata Kunci: Minyak Ikan, Kolesterol Total, HDL, LDL AbstractHypercholesterolemia is a condition where the level of total cholesterol in blood has increased (≥130 mg/dl) and is one of the most common risk factor of cardiovascular disease. Based on Household Health Survey in 2004, there are 9.3% of hypercholesterolemia at the age of 25 – 34 years old, and about 15,5% at the age 55 – 64 years in Indonesia population. Of the 18% people with hypercholesterolemia in Indonesia, 80% has suffered from sudden death due to a heart attack. Previous studies had revealed that routine fish oil consumption was help to decrease blood hypertension, risk of atherosclerosis and arthritis. Omega-3 fatty acid from fish oil consists of EPA (Eicosa Pentanoic Acid) and DHA (Docosa Hexanoic Acid). This study is aims to find out the effect of albacore tuna fish oil on total cholesterol, HDL, and LDL in hypercholesterolemia white male rat. This research is an experimental study with pretest and posttest control group design using 25 of white male rat strain Sprague Dawley which divided into 5 group. Negative control group, positive control group and three experimental group that have been fed by albacore tuna fish oil in dose of 61 mg, 122 mg and 183 mg. There is a significant effect of albacore tuna fish oil onlevel of total cholesterol, HDL, and LDL with P value <0,005, which the dose of 183 mg/dl has the highest effect. Albacore tuna fish oil with dose of 61 mg, 122 mg and 183mg has effect for lowering the total cholesterol and LDL levels, also significantly increased HDL level in hypercholesterolemia male white rat.  Keywords: Fish Oil, Total Cholesterol, HDL, LDL
Hubungan Pemakaian Alat Kontrasepsi dalam Rahim Terhadap Kejadian Keputihan di Puskesmas Rancabango Subang Hikmah Fitriani; Dany Ramdhani; Triono Adi Suroso
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang:Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan alat kontrasepsi yang berbentuk huruf T dan biasanya terdiri dari bahan plastik polietilena ada yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak dililit tembaga.Beberapa peneltian menunujukan adanya hubungan antara bakterial vaginosis dengan wanita yang menggunakan AKDR. Pada wanita yang menggunkana AKDR terjadi peningkatan bakteri anaerob di vagina karena adanya benda asing dalam rahim sehingga menimbulkan reaksi terjadinya infeksi.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemakaian alat kontrasepsi dengan terjadinya flour albus (keputihan).Metode: Jenis penelitian yang digunakan ini adalah dengan menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional, cara pengambilan sampel menggunakan tehnik consecutive sampling, sebanyak 50 orang, penelitian ini menggunakan tehnik pembagian kuisioner dan menggunakan uji statistik chi square dan uji kolerasi koefsien kontingensi..Hasil: dari hasil penelitian di dapatkan adanya hubungan antara pemakain AKDR dengan kejadian keputihan dengan nilai signifikan 0,031.Simpulan:ada hubungan pengaruh pemakain alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) terhadap keputihan dengan nilai signifkan 0,031.Kata Kunci : AKDR dan Keputihan Backgound : The uterus contraceptive device (AKDR) has a characteristics shape same as (T) and usually consists of a polyethylene plastic material with or without copper. Several studies have shown a link between bacterial vaginosis and women using an AKDR. In women who use AKDR increase anaerobic bacteria inside of vagina because of foreign objects in the uterus therefore arises infection react.objective: The purpose of the research was to determine the relationship between the use of contraception with the occurrence of leucorrhoeamethod : observational method with cross sectional approach is a method used in this type of research, statistical analysis ( Chi Square) used to analyze the data which are collected by consecutive sampling technique from questionnaires gather from 50 respondent.Result : this result found that there is a relationship between the use of  intrayterine device and the occurens of flour albus, with 0,031 significant value.Conclusion: there is an effect intrauterine device toward the occurrence of flour albus with 0,031 significant value.Keywords : AKDR and flour albus
Efek Suplementasi Besi-Vitamin C Dan Vitamin C Terhadap Kadar Hemoglobin Anak Sekolah Dasar Yang Anemia Di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Ignatius Hapsoro Wirandoko
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Pemberian suplementasi  besi-vitamin C dan vitamin C dapat meningkatkan kadar hemoglobin serta dapat menurunkan prevalensi anemia pada anak sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian suplementasi besi-vitamin C dan vitamin C selama 12 minggu terhadap perubahan kadar  hemoglobin  anak sekolah dasar yang anemia. Metode : Jenis penelitian adalah eksperimental dengan desain   Randomized Controlled pretest-postest trial,  double blind. Subyek penelitian adalah anak SD yang anemia umur 7-12 tahun di Kecamatan Sayung. Subyek dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan I (n=37) yang diberi sirup besi (60 mg FeSO4) plus vitamin C (100 mg) dan kelompok perlakuan II (n=37) yang diberi sirup vitamin C (100 mg). Seluruh sampel sebelum suplementasi diberi vitamin A 200.000 UI dan obat cacing Albendazol 400 mg dosis tunggal. Suplementasi dilaksanakan selama 3 bulan (12 minggu). Analisis dilakukan dengan uji paired t-test dan Independent Sample T-Test.  Hasil : Perubahan kadar hemoglobin rata-rata bagi kelompok perlakuan I  sebesar 2,05 ± 1,53 g/dL , dari rata-rata 10,2±1,09 g/dL menjadi 12,2 ± 1,13, demikian juga bagi kelompok perlakuan II terjadi perubahan kadar hemoglobin rata-rata 1,95 ± 1,40 g/dL, dari rata-rata 10,5 ± 0,07 g/dL menjadi 12,5 ± 1,19 g/dL. Rata-rata perubahan kadar hemoglobin antara kedua kelompok tidak berbeda (t= 0,31 , p=0,75). Pada kelompok perlakuan I menurunkan anemia sebesar 56,8%, sedangkan kelompok perlakuan II menurunkan anemia sebesar 67,6%. Simpulan : Pemberian suplementasi besi-vitamin C dibandingkan dengan hanya diberi vitamin C tidak ada perbedaan yang bermakna  terhadap perubahan kadar hemoglobin. Kata kunci : Anemia, suplementasi, besi, vitamin C, anak sekolah dasar, kadar hemoglobin.Background : Iron and vitamin C  supplementation can increase the hemoglobin  level and is expected to correct in anaemia school children. This  study  was aimed   to  examine   the effect  of   iron+vitamin C and vitamin C supplementation only twice a week on hemoglobin level of anemia school children. Methods : This study was a randomized-controlled pre and post-test, double-blind trial. The subject of this study were anaemia school children aged  712 years  in Sayung subdistrict, Demak district.  Samples were as signed in to two treatment groups : group I (n=37) received  supplementation iron (60 mg Fe as FeSO4)+ vitamin C (100 mg) syrup and group II (n=37)  received  vitamin C (100 mg) syrup only. All subjects were given vitamin A 200.000 UI dan Albendazole 400 mg before supplementation as a single dose. Supplementation was administrated for 3 months (12 weeks). Paired t-test, independent t-test and Anova were used for data analysis. Result : The changes of mean  hemoglobin level in group I and II were 2,05±1,53 g/dL (from 10,2±1,09 g/dL  become12,2±1,13 g/dL) and were 1,95±1,49 g/dL (from 10,5± 0,07 g/dL  become 12,5±1,19 g/dL). There was no difference in the change of hemoglobin level between both  groups (t= 0,31 , p=0,75). The prevalence of anaemia in group I and II decreased by 56,8% and 67,6%, respectively.  Conclusion : There is no difference in the iron+vitamin C supplementation compared to the vitamin C only supplementation  on hemoglobin change.
Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Moringa Oleifera terhadap Kadar Insulin Serum Tikus Hiperglikemik Evi Kusumawati; Kisdjamiatun Kisdjamiatun
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Daun Moringa oleifera mengandung senyawa aktif yang meregenerasi sel β pankreas dan antioksidan yang menurunkan stres oksidatif sehingga dapat memperbaiki kadar insulin serum pada kondisi hiperglikemik.Metode : Randomized pre and post test controlled group design dilakukan pada 18 tikus Sprague-Dawley jantan hiperglikemik yang dibagi dalam 3 kelompok (kontrol dan perlakuan 250 dan 500 mg/kg BB/hari ekstrak etanol daun Moringa oleifera selama 21 hari). Kadar insulin serum dianalisis menggunakan Paired t test/Wilcoxon test. Perbedaan  delta insulin serum dianalisis dengan One way anova test dan dilanjutkan dengan Tukey testHasil : Kadar insulin serum sesudah perlakuan dibandingkan sebelum perlakuan pada kelompok K, P1 dan P2 (p<0,05). Kadar insulin serum pada ketiga kelompok (p<0,05). Kadar insulin P1 dan P2 berbeda bermakna dibandingkan K, namun P1 tidak berbeda bermakna dengan P2.Simpulan : Ekstrak etanol daun Moringa oleifera dosis 250 mg/kg BB/hari merupakan dosis efektif untuk pengendalian hiperglikemik.Kata kunci : Moringa oleifera, kadar insulin serum.ABSTRACTBackground Active compounds of Moringa oleifera leaves regenerate pancreatic β cells. Antioxidant content decreases oxidative stress so that it can improve the levels of serum insulin in hyperglycemic condition.Method : Pre and post test randomized controlled group design conducted on 18 male hyperglycemic Sprague-Dawley rats were divided into 3 groups (control and treatment of 250 and 500 mg/kg/day of ethanol extract of  Moringa oleifera leaves for 21 days). Serum insulin levels were analyzed using Paired t test/Wilcoxon test. Difference delta serum insulin  were analyzed by One way ANOVA test and followed by Tukey test.Results : Serum insulin levels after treatment compared to before treatment in group K, P1 and P2 (p <0,05). The levels of Insulin serum in all three groups (p<0.05). Levels of insulin levels P1 and P2 K significantly different, but not significantly different P1 with P2.Conclusion : Ethanol extract of Moringa oleifera leaves dose of 250 mg/kg bw/day is an effective dose for hyperglycemic control.Key words : Moringa oleifera leaves, insulin serum levels. 
Faktor-Faktor Penyebab terjadinya Autisme pada Anak Di Kota Cirebon Affandi Affandi; Unique Hardiyanti Pratiwi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Autisme merupakan gangguan perkembangan dalam komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku yang tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan  autisme terdapat pada kira-kira 5 dari 10.000 anak. Beberapa ahli menyatakan Gangguan perkembangan  berhubungan dengan faktor sosioekonomi, pola asuh, faktor prenatal, faktor perinatal, dan faktor postnatal. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor peyebab terjadinya autisme pada anak terutama faktor prenatal, perinatal, dan postnatal yang meliputi paparan zat toksik, infeksi TORCH, perdarahan selama kehamilan, asfiksia neonatorum, aspirasi mekonium, BBLR, kejang demam, dan penggunaan vaksin pada anak. Metode penelitian menggunakan studi observasional analitik dengan desain case control study, sampel penelitian sebanyak 29 anak autisme sebagai kelompok kasus dan 29 anak normal sebagai kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner dan panduan wawancara. Data hasil penelitian diolah secara statistik menggunakan uji Chi-Square. Hasil pengolahan data menggunakan uji Chi-Square menyatakan hubungan antara kejadian autisme dengan faktor-faktor penyebab autisme adalah p=1,000 untuk paparan rokok, p=0,160 untuk paparan obat, p=0,023 untuk infeksi TORCH, p=0,640 untuk perdarahan maternal, p=0,005 untuk asfiksia neonatorum, p=0,134 untuk aspirasi mekonium, p=0,014 untuk BBLR, p=0,019 untuk kejang demam, dan p=0,078 untuk penggunaan vaksin. Hasil inimenunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi TORCH, asfiksia neonatorum, BBLR, dan kejang demam terhadap kejadian autisme. Kata kunci : autisme, faktor resiko Autism is a developmental disorder in terms of communication, social interaction, and behavior that appear before the age of 3 years. This developmental disorder can be associated with socioeconomic factor, parenting factors, prenatal factor, perinatal factor, and postnatal factor. The aim of research is To describe factors that cause the occurrence of autism in children, especially prenatal, perinatal, and postnatal factors including the exposure of toxic subtances during pregnancy, TORCH infection, maternal bleeding, asphixia neonatorum, meconium aspiration, low birth weight, febrile seizure, and vaccine usage in child. Methods :  Study including 29 child with autism as a case group and 29 normal child as a control group, using analitic study with case control method. Factor that cause autism was determined by questionnaire and interview. Analysis were performed using Chi-Square test.. the Result is Corellation analysis between autism and factors that cause autism using Chi-Square test show p=1,000 for tobacco smoke exposure, p=0,160 for drugs exposure, p=0,023 for TORCH infection, p=0,640 for maternal bleeding, p=0,005 for asphyxia neonatorum, p=0,134 for meconium aspiration, p=0,014 for low birth weight, p=0,019 for febrile seizure, andp=0,078 for vaccine usage. Conclusion : There was a significant relationship between TORCH infection, asphyxia neonatorum, low birth weight, and febrile seizure with autism. Key words : autism, risk factor
Uji Perbandingan Efektivitas Analgesik Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dengan Asam Mefenamat pada Mencit Catur Setiya Sulistiyana; Jusa Samara Brajamusti
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Nyeri merupakan gejala yang timbul akibat peradangan pada sel tubuh dan merupakan masalah kesehatan yang memaksa penderitanya mengunjungi fasilitas kesehatan. Pengobatan yang ada memiliki efektivitas baik, tetapi permasalahan mengenai efek samping obat masih diperdebatkan. Mengkudu (Morindacitrifolia L.) merupakan salah satu tanaman obat alternatif analgesik Tujuan: Mengetahui perbandingan efektivitas analgesik ekstrak etanol buah mengkudu (Morindacitrifolia L.) dengan asam mefenamat pada mencit. Metode: Penelitian eksperimental dengan Pretest-Postest With Control Group Design. Subjek menggunakan mencit (Mus musculus) sebanyak 25 ekor. Terdiri dari kelompok kontrol positif,negatif, dan tiga kelompok uji yang masing-masing mendapatkan 5 ekor. Analisis data menggunakan Repeated ANOVA dengan post hoc bonferroni dan uji General Linear Modeldengan post hoc bonferroni. Hasil: Efek analgesik EEBM dosis 1 g/70KgBB, 2 g/70KgBB, dan 4 g/70KgBB memilki ­(p<0,05) pada menit ke 60-120 dan menit ke 0-120. EEBM dosis 2 g/70KgBB dan 4 g/70KgBB memiliki (p<0,05) pada menit ke 0-60. Efektivitas analgesik EEBM dosis 1 g/70KgBB, 2 g/70KgBB, dan 4 g/70KgBB memiliki (p>0,05) pada menit ke 60-120 dan menit ke 0-120. EEBM dosis 2 g/70KgBB memiliki (p<0,05) pada menit ke 0-60 sedangkan lainnya (p>0,05). Simpulan: EEBM dosis 1 g/70KgBB, 2 g/70KgBB, dan 4 g/70KgBB memiliki efek analgesik pada menit ke 60-120 dan 0-120, sedangkan pada menit ke 0-60 yaitu EEBM 2 g/70KgBB dan 4 g/70KgBB.EEBM dosis 2 g/70KgBB memiliki efektivitas analgesik yang sama dengan asam mefenamat 500 mg/70KgBB pada menit ke 0-60.Kata Kunci: Asam mefenamat, Efek analgesik, Efektivitas analgesik, dan Ekstrak Buah Mengkudu (Morindacitrifolia L.) Background: Pain was a symptom that occured which caused by cell body inflammation and it was a problem of health that forces sufferer to be cured in a public health. The medical therapeutic had been an appropriate efectiveness but there was still a debatable problem namely the side effect of a medicine. A Noni (Morindacitrifolia L.) was a herbal medicine that could be an alternative analgesic. Object: To observ the comparison analgesic effectiveness of ethanol extract noni fruit (Morindacitrifolia L.) agains mefenamic acid in mice. Methods: It was the experimental research with pretest-postest with control group design. The subject was mice (Mus musculus) and there were twenty five mice.  In each group there were five mice that divided into positive control group, negative control group, and three experimental group. The data analyze used repeated ANOVA with Post hoc bonferroni and General Linear Model test with Post hoc bonferroni. Result: The analgesic effect of EEBM 1 g/70KgBB, 2 g/70KgBB, and 4 g/70KgBBthey had p values<0,05 on the 60-120 minute and 0-120 minute. EEBM 2 g/70KgBB and 4 g/70KgBB had p value<0,05 on the 0-60 minute. Analgesic effectiveness of EEBM 1 g/70KgBB, 2 g/70KgBB, and 4 g/70KgBB had p value>0,05on the 60-120 minute and 0-120 minute. EEBM 2 g/70KgBB had p value<0,05 on the 0-60 minute and p values>0,05 in the others group.  Conlusion: The EEBM 1 g/70KgBB, 2 g/70KgBB, and 4 g/70KgBB had analgesic effect on the 60-120 minute and 0-120 minute, and then on the 0-60 minute was EEBM 2 g/70KgBB and 4 g/70KgBB. EEBM 2 g/70KgBB had analgesic effectiveness it was the same as mefenamic acid 500 mg/70KgBB on the 0-60 minute.Keywords: Mefenamic acid, Analgesic effect, Analgesic effevtiveness, andEthanol extract noni fruit (Morindacitrifolia L.)

Page 10 of 24 | Total Record : 236


Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 11 No 1 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 3 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 1 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 2 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 2 (2020): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 2 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 3 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 2 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 1 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan More Issue