cover
Contact Name
Nurbaiti
Contact Email
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Phone
+62811243530
Journal Mail Official
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Pemuda no 1 A
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
ISSN : 20896042     EISSN : 25797514     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan adalah jurnal Ilmiah yang memuat naskah publikasi Ilmiah di bidang Kedokteran dan Kesehatan yang meliputi bidang Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Biomedis serta Pendidikan Kedokteran.Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan merupakan memuat publikasi ilmiah Dosen, Mahasiswa dan peneliti lainnya di bidang Kedokteran dan Kesehatan dan diharapkan daptat memperkaya khazanah Pendidikan dan pengetahuan Indonesia
Articles 236 Documents
Perbandingan Efektivitas Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum cassia) Dengan Metformin Terhadap Glukosa Darah Tikus Galur Wistar Muhammad Luthfi; Dini Norviatin; Atik Sutisna
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Diabetes melitus merupakan penyakit terbanyak ke 6 di dunia, dan Indonesia menempati urutan ke 3 di dunia. Metformin merupakan obat anti diabetes lini pertama. Akan tetapi, jika dikonsumsi setiap hari menimbulkan efek samping yang perlu diperhatikan. Kayu manis megandung senyawa polyphenols, chromium dan methylhydroxychalcone yang dapat menurunkan gula darah. Tujuan dari penelitian ini menganalisis perbandingan efektivitas antara ekstrak kayu manis (Cinnamomum cassia) dan metformin terhadap kadar gula darah tikus jantan galur wistar (Rattus novergicus) yang diabetes melitus tipe 2. Metode: Metode penelitian eksperimental dengan pre test-post test with control group design. Subyek menggunakan 27 ekor tikus putih galur wistar yang dibagi menjadi 3 kelompok: kelompok positif diberi metformin 9 mg/gBB, kelompok negatif, dan kelompok perlakuan satu diberi ekstrak kayu manis 60 mg/gBB. Hasil: Hasil penelitian menunjukan penurunan gula darah secara bermakna pada kelompok perlakuan 1, dan juga kontrol positif dengan p<0,05. Hasil dari uji t paired test di dapatkan mean 149,983 untuk perlakuan 1 dan 147,063 pada control positif. Simpulan: Pada penelitian ini menunjukan ekstrak kayu manis dengan dosis 60 mg lebih efektif dibandingkan dengan metformin 9 mgKata Kunci Eksrak kayu manis, Gula darah, MetforminABSTRACTIntroduction: Diabetes mellitus is a very dangerous disease. Its the 6th most prevalent disease in the world, and Indonesia is ranked 3rd in the world. Metformin is the first line of anti-diabetic drugs. However, if taken every day, side effects to note. Cinnamon contains polyphenol compounds, chromium and methylhydroxychalcone which can lower blood sugar. To analyze the effectiveness ratio of cinnamon extract (Cinnamomum cassia) and metformin to the blood glucose level of the male rats wistar strain (Rattus novergicus) which get diabetes mellitus type 2. Methods: This research was done in PAU University Gadjah Mada on February 2018 Experimental research with pre test-post test with control group design. The subjects used 27 white wistar strain mice was selected by simple random sampling that were divided into 3 groups; positive group was given 9 mg metformin, negative group, and one treatment group was given cinnamon extract 60 mg / gBB. Resulsts: The results showed a significant decrease in blood glucose in the treatment group 1, as well as a positive control with p <0.05. The result from t paired test obtained mean 149,983 for treatment group 1, and 147,063 for positive control. Conclusions: Cinnamon extract at a dose of 60 mg is more effective than metformin 9 mgKeywoards: Blood sugar, Cinnamon extract, Metformin
Hubungan antara Kebiasaan Makan Fast Food, Durasi Penggunaan Gadget dan Riwayat Keluarga dengan Obesitas pada Anak Usia Sekolah (Studi di SDN 84 Kendari) Evi Kusumawati; Teguh Fathurrahman; Estin Sutriani Tizar
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 6, No 2 (2020): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Riskesdas tahun 2013, secara nasional masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8 %, dimana 10,8% anak dengan status gizi gemuk dan sangat gemuk (obesitas) sebesar 8,0%, sedangkan Di Provinsi Sulawesi Tenggara kasus gizi lebih pada anak lebih banyak terjadi pada anak laki-laki yaitu sebesar 6,2% dan pada anak perempuan sebesar 4,5%. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 anak SDN 84 Kendari,  dengan metode penarikan sampel menggunakan purposive random sampling dan proposional random sampling, sedangkan uji yang digunakam yaitu uji chi-square. Hasil: Besaran masalah obesitas sebesar 36,0%, kebiasaan makan fast food dengan frekuensi sering 34,7%, durasi penggunaan gadget dengan durasi yang lama 32,0% dan riwayat keluarga yang obesitas 33,3%. Ada hubungan antara kebiasaan makan fast food dengan obesitas (p=0,00), durasi penggunaan gadget dengan obesitas (p=0,00), dan riwayat keluarga dengan obesitas dengan obesitas (p=0,00). Simpulan : Kebiasaan makan fast food, durasi penggunaan gadget, dan riwayat keluarga merupakan faktor penyebab obesitas pada anak SD.Kata kunci : Obesitas, Kebiasaan Makan Fast Food, Durasi Penggunaan Gadget, Riwayat KeluargaTransplantasi ABSTRACT Introduction:   Riskesdas in 2013, nationally the problem of fat in children aged 5-12 years is still high at 18.8%, where 10.8% of children with nutritional status are fat and very obese (obesity) by 8.0%, wheras in southeast Sulawesi province case of over nutrition in children were more prevalent in boys than 6,2% and in girls at 4,5%.Method: This research was an observational study with cross sectional design. The samples in this study amounted to 75 children of SDN 84 Kendari, with the sampling method using purposive random sampling and proportional random sampling, while the test used was the chi-square test. Results: The magnitude of the problem of obesity by 36.0%, fast food eating habits with a frequency of often 34.7%, duration of use of gadgets with a long duration of 32.0% and family history of obesity 33.3%. There is a correlation between eating habits of fast food with obesity (p = 0.00), duration of use of gadgets with obesity (p = 0.00), and family history of obesity with obesity (p = 0.00). Conclusion: Fast food eating habits, duration of gadget use, and family history are factors that cause obesity in elementary school children.Keywords: Obesity, Fast Food Eating Habits, Gadget Usage Duration, Family History.
Hubungan Durasi Penggunaan Gadget Untuk Sosial Media Dan Game Online Terhadap Miopia Pada Siswa SMA Negeri 1 Kota Cirebon Amelya Chandra Pitriani; Risnandya Primanagara; Witri Pratiwi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: WHO (World Health Organization) telah menetapkan miopia sebagai salah satu prioritas utama untuk mengendalikan dan mencegah kebutaan di dunia pada tahun 2020 Estimasi jumlah orang dengan gangguan penglihatan di seluruh dunia pada tahun 2010 adalah 285 juta orang atau 4,24% populasi. Penggunaan gadget dalam waktu yang lama akan menyebabkan kerusakan pada lensa mata. Tingginya penggunaan gadget terhadap sosial media dan game online yang dapat menyebabkan masalah mata, sehingga dapat menimbulkan kejadian miopia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan durasi penggunaan gadget untuk sosial media dan game online terhadap miopia pada SMA Negeri 1 Kota Cirebon.Metode: Penelitian ini observasional analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kota Cirebon pada bulan Februari 2020 dan melibatkan 114 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan gadget untuk sosial media dengan kejadian miopia (p = 0,233) serta tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan gadget untuk bermain game dengan kejadian miopia (p = 0,808).Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara durasi penggunaan gadget baik untuk sosial media dan maupun untuk bermain game dengan kejadian miopia pada siswa SMA N 1 Kota Cirebon.Kata Kunci: miopia; gadget; media sosial; gameABSTRACTBackground: WHO (World Health Organization) has set myopia as one of the top priorities for controlling and preventing blindness in the world because estimated number of people with visual impairments worldwide in 2010 was 285 million people or 4.24% of the population. Using gadgets for a long time will cause damage to the lens of the eye. The high use of gadgets for social media and online games can cause eye problems, such as myopia. This study aims to analyze the relationship between the duration of the use of gadgets for social media and online games to myopia in students of SMA Negeri 1 Kota Cirebon. Methods: An analytic observational study with a cross sectional was done. The data was collected using questionnaire from SMA Negeri1 Cirebon, which is 114 students were recruited, in February 2020. Results: The gender of the subjects of this study was relatively balanced between men and women, the current age was 16 years, the age when subject first used the gadget was 11-15 years, and majority had myopia. The analysis showed that there was no relationship between the duration of using gadgets for social media with the myopia (p = 0.233) and there was no relationship between the duration of using gadgets for gaming with the myopia (p = 0.808). Conclusion: There is no relationship between the duration of the use of gadgets for social media and for playing games with the myopia in students of SMA N 1 Kota Cirebon.Keywords: myopia; gadget; social media; game
Uji Daya Analgetik Ekstrak Air Herba Pegagan berbagai Dosis terhadap Obat Paracetamol pada Mencit (Mus musculus Rachmanda Haryo Wibisono; Jody Setiawan
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 3 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) merupakan suatu tanaman tradisional dengan memilki banyak kandungan kimia yang bermanfaat, Salah satunya sebagai analgetik. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post test only design uji ANOVA. Sampel adalah 30 ekor mencit putih dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 6 kelompok. yaitu kelompok I untuk kontrol negatif yang hanya diberi aquadest, kelompok II untuk kontrol positif diberikan paracetamol 5%, Kelompok III yang hanya diberi asam asetat 5%, kelompok IV diberi perlakuan dengan ekstrak air herba pegagan dengan dosis 100 Mg/KgBB, kelompok V diberi perlakuan dengan ekstrak air herba pegagan dengan dosis 200 Mg/KgBB, dan kelompok VI diberi perlakuan dengan ekstrak air herba pegagan dengan dosis 300 Mg/KgBB yang sebelumnya telah diinduksikan asam asetat 5% dengan waktu pengamatan tiap 10 menit selama 60 menit setelah pemberian perlakuan, dengan pemberian secara oral Hasil: rata-rata geliat mencit kelompok I (80,4), kelompok II (18,6), kelompok III (81,2), kelompok IV (24,4), Kelompok V (27), kelompok VI (27,4), kemudian dihitung persen daya analgetik dengan hasil persen daya analgetik ekstrak air herba pegagan yaitu dosis 100 Mg/KgBB (69,64%), dosis 200 Mg/KgBB (66,15%), dosis 300 Mg/KgBB (65,9%) dan persen daya analgetik paracetamol yaitu 76,88%. Kesimpulan: Ekstrak air herba pegagan dengan dosis bertingkat terbukti mempunyai daya analgetik terhadap mencit putih jantan. Dan obat paracetamol daya analgetik nya lebih kuat dibandingkan ekstrak air herba pegagan.Kata kunci : Herba pegagan, Metampiron, Asam asetat,Analgetik.ABSTRACTBackground: Centella asiatica (L.) Urban is a traditional plant has many beneficial chemical constituents, one of them as an analgesic. Methode: This study is an experimental research design post test only design. The sample were 30 white mice, randomize in 6 groups. groups one for the negative control group who were given only distilled water, two for the positive control group given paracetamol 5%, three treatment groups were given acetic acid 5%, four treatment groups given the water extract Centella asiatica with a dose of 100 Mg/Kg BB, five treatment groups given the water extract Centella asiatica with a dose of 200 Mg/Kg BB, and six treatment groups given the water extract Centella asiatica with a dose of 300 Mg/Kg BB. Analgesics testing methods based on the number of movement of the mice which has induced acetic acid 5% the observation time every ten minutes for sixty minutes after the treatment, with oral administration. And test statistical tests use ANOVA test. Result: result obtained in the form of stretching the number of mice with an average of one group of mice writhing (80,4), group two (18,6), group three (81,2), group four (24,4), group five (27), group six (27,4), then the calculated percent power with the result of percent power analgesic herb gotu kola extract water that is dose 100 Mg/KgBB (69,64%), dose 200 Mg/KgBB (66,15%), dose 300 Mg/KgBB (65,9%) and percent power analgesic paracetamol is 76,88%. Conclusion: Water extract gotu kola herb with multilevel dose shown to have analgesic power of the white male mice. And analgesic drug paracetamol his power is stronger than water extract gotu kola herbKeyword : Centella asiatica (L.) Urban, Methampyron, acetic acid, analgesics
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRES DAN KUALITAS TIDUR TERHADAP TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR FAKULTAS KEDOKTERAN UNSWAGATI TAHUN AKADEMIK 2015/2016 Dindin Hardi Gunawan; Taufik Budi Permana; Yandri Naldi; Risnandya Primanagara
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Mahasiswa tingkat akhir disibukkan dengan berbagai kegiatan yang dapat menjadi tekanan para mahasiswa sehingga dapat menimbulkan stresor negatif dan mempengaruhi tingkat stres. Tugas dan perkembangan mahasiswa dalam fase dewasa muda dapat tercapai dan mencapai titik maksimal ketika mahasiswa terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar yang paling mudah terpenuhi adalah kebutuhan akan tidur. Tingkatan stres dan kualitas tidur merupakan masalah yang muncul pada remaja dan dewasa muda khususnya dialami oleh mahasiswa tingkat akhir yang dapat mempengaruhi tekanan darah.Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur terhadap tekanan darah pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Unswagati Cirebon tahun akademik 2015/2016.Metode : Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data primer dengan menggunakan kuisoner baku dan pemeriksaan tekanan darah untuk menilai hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur terhadap tekanan darah dengan jumlah sampel sebanyak 72 responden yang di lakukan pada Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Unswagati Cirebon tahun akademik 2015/2016. Analisis data menggunakan Rank Spearman.Hasil : Hasil menunjukkan ada hubungan bermakna antara tingkat stres dan kualitas tidur dengan tekanan darah dengan nilai r masing-masing adalah 0.392 (p-value 0,001) dan 0.316 (p-value 0,007).Kesimpulan : Ada hubungan bermakna antara tingkat stres dan kualitas tidur dengan tekanan darah pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Unswagati Cirebon tahun akademik 2015/2016 dengan kekuatan korelasi lemah.Kata Kunci : Tingkat stres, kualitas tidur, tekanan darah.ABSTRACTBackground: The last year students busy with various activities that can be a pressure that can lead to university students and the negative stressors affect stress level. Tasks and student development in young adult phase can be achieved and reaches its maximum when the students met basic needs. The most basic requirement is fulfilled is the need for sleep. Stress level and sleep quality is a problem in adolescents and young adults in particular experienced by a graduate student who can influence blood pressure.Objective: To determine the correlation between stress level and sleep quality on blood pressure in the last year students of Faculty of Medicine Unswagati Cirebon academic year 2015/2016.Methods: an observational study with cross sectional analytic. Primary data using standard questionnaires and blood pressure checks to assess the association between stress level and sleep quality on blood pressure with a 72 total sample of the Faculty of Medicine Student level Unswagati Cirebon academic year 2015/2016. Analysis of the data using the Rank Spearman.Results: The results showed no significant correlation between stress level and sleep quality with high blood pressure by value r 0392, respectively (p-value 0.001) and 0316 (p-value 0.007). Conclusion: There is a significant correlation between stress level and sleep quality with the blood pressure in their last year of the Faculty of Medicine Unswagati Cirebon academic year 2015/2016 with the strength of the correlation is weak.Keywords: level of stress, sleep quality, blood pressure.
POLA DAN KEPEKAAN KUMAN BIAKAN SPUTUM SERTA KARAKTERISTIK PASIEN PNEUMONIA DI RSUP. DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Menik Herdwiyanti; Bachti Alisjahbana; Prayudi Santoso
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLATAR BELAKANG, Pneumonia merupakan penyebab kematian dan angka perawatan yang tinggi, baik di dunia maupun di Indonesia. Pemeriksaan gram dan biakan sputum merupakan pemeriksaan yang sederhana, mudah dan tidak invasif pada diagnosis pneumonia. Pada pedoman IDSA/ATS ditemukan kuman yang berbeda dengan penelitian EPIC II di Asia pada tahun 2007. Efikasi antibiotik dipegaruhi oleh tingkat resistensi kuman yang semakin meningkat dan perubahan pola kuman multiresisten. Pola kuman dan kepekaan serta karakteristik pasien pneumonia di institusi lokal perlu diketahui agar dapat memberikan rekomendasi terapi empiris yang lebih sesuai dengan kuman penyebab. METODE, penelitian deskriptif terhadap pasien pneumonia berusia lebih dari 14 tahun , tanpa intubasi dan/atau penggunaan ventilator, yang telah dikonsultasikan ke divisi Respirologi dan penyakit kritis, dan dirawat di SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak 1 April 2016 sampai dengan 30 Juni 2016. HASIL, 87 pasien dengan pneumonia memberikan hasil biakan sputum dengan pola kuman yang cukup berbeda dengan pedoman IDSA/ATS, terutama pola kuman penyebab CAP. Kuman penyebab CAP terbanyak adalah Klebsiella pneumoniae (28,9%), Penyebab HCAP terbanyak adalah Acinetobacter baumanii (19%) dan penyebab HAP terbanyak adalah Pseudomonas aeruginosa (23,8%). Bakteri K.pneumoniae pada pasien HCAP resisten terhadap antibiotik golongan sefalosporin, A.baumanii pada CAP dan HAP memiliki resistensi hingga 50% terhadap Sefalosporin generasi ke-3, dan P.aeruginosa banyak ditemukan resisten hingga 40% terhadap sefepim, namun masih sensitif terhadap meropenem. SIMPULAN, Pola kuman yang ditemukan pada penelitian ini berbeda dengan pola yang dipaparkan oleh IDSA/ATS. Pemberian antibiotik definitif disesuaikan dengan hasil biakan sputum dan kepekaannya, namun pemberian antibiotik empiris harus disesuaikan dengan pola kuman dan kepekaan di institusi lokalKata Kunci: Pneumonia, Sputum, Pola Kuman, Resistensi.ABSTRACTINTRODUCTION. Pneumonia causes high mortality and morbidity around the world including Indonesia. Sputum stain and culture is simple, easy and uninvasive way to determine causal pathogen. Guidelines such as IDSA/ATS guideline suggest different patterns of microorganism compare to EPIC II Study in Asia. Antibiotic efficacy were affected by increasing pathogen resistance level and changes in multi-resistance pathogens. The needs of localized pathogen pattern and resistance level, as well pneumonia patients characteristics were to have a proper antibiotics recommendation. METHODS. Descriptive study on over 14 years old pneumonia Patients with no use of intubation or ventilator. Patients were consulted to critical illness and respirology division and admitted to Internal Medicine Ward RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Study conducted since 2016, 1st April to 2016, 30th of June. RESULTS. Eighty-Seven patients were positive sputum-culture pneumonia. Patterns of microorganism differ from guidelines, especially CAP Pathogens. Most pathogen for CAP is Klebsiella pneumoniae (28,9%), HCAP caused mostly by Acinetobacter baumanii (19%) and casual for HAP were Pseudomonas aeruginosa (23,8%). HCAP K.pneumoniae resistent to cephalosporin, CAP and HAP A.baumanii had 50% resistancy to 3rd generation cephalosporin and P.aeruginosa resistant to Cefepime up to 40% but sensitive to meropenem. CONCLUSION. Pathogen pattern discovered in this study were differ compared to those in IDSA/ATS Guidelines. Definitive antibiotic therapy must be correspond to pathogen culture and sensitivity results, but Empirical antibiotic must be adjusted to local pathogen and resistance.Kata Kunci: Pneumonia, Sputum, Pola Kuman, Resistensi.Keywords: Three, Upto, Five, Words
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU, SERTA STATUS GIZI BALITA TERHADAP KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PUSKESMAS KESUNEAN KOTA CIREBON JAWA BARAT Irma Yasmin; Innes Andhyka Pramesty; Thysa Thysmelia Thysmelia; Yandri Naldi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi ISPA di Negara yang sedang berkembang sekitar 98% pada populasi umum. ISPA juga merupakan penyakit tersering di Kota Cirebon dan rata-rata menjadi 5 penyakit terbesar di Puskesmas yang berada di Kota Cirebon sebanyak 10,9%. Salah satunya di Puskesmas Kesunean yang angka kejadian penyakit ISPA menduduki peringkat pertama dari sepuluh penyakit tersering di wilayah kerjanya dikarenakan banyaknya faktor risiko timbulnya ISPA.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan ibu, serta status gizi balita terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan desain Cross sectional. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Populasi diambil di Puskesmas Kesunean Kota Cirebon dengan sampel penderita ISPA balita sebanyak 78 sampel dengan menggunakan Accidental sampling.Hasil: Hasil uji statistik didapatkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian ISPA (p<0,001) dengan nilai korelasi 0,638 (korelasi kuat) dan arah positif, ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian ISPA (p<0,001) dengan nilai korelasi 0,920 (korelasi sangat kuat) dan arah positif, ada hubungan antara status gizi balita terhadap kejadian ISPA (p<0,001) dengan nilai korelasi 0,436 (korelasi sedang) dan arah positif.Simpulan : Ada korelasi positif yang kuat dan bermakna antara tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian ISPA pada balita (p<0,001) yang artinya makin baik tingkat pengetahuan ibu maka kejadian ISPA pada balita makin rendah, ada korelasi positif yang sangat kuat dan bermakna antara tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian ISPA pada balita (p<0,001) yang artinya makin tinggi tingkat pendidikan ibu maka kejadian ISPA pada balita makin rendah, ada korelasi positif yang sedang dan bermakna antara status gizi balita terhadap kejadian ISPA pada balita (p<0,001) yang artinya makin baik status gizi balita maka kejadian ISPA pada balita makin rendah.Kata Kunci: ISPA, Status Gizi, Tingkat Pendidikan, Tingkat PengetahuanABSTRACTBackground:The prevalence of acute respiratory infection (ARI) in developing countries around 98% in the general population. ARI is also the most common diseases in Cirebon and averaged into 5 biggest disease in the public health centre in the Cirebon city as much as 10,9%. One of them at Kesunean public health centre that the incidence of ARI disease tops is the list of ten most common disease in the working area due to many risk factors for the onset of ARI.Aim: The purpose of this study was to the correlation between knowledge, education, and nutritional status with incidence of acute respiratory infection (ari) in toddlers at Kesunean public health centre of Cirebon cityMethod: The study design was observational and use of cross sectional. Data were collected by interview using a questionnaire. Population taked from Kesunean Public Health Centre in Cirebon with patient suffering from ARI are 78 samples used Accidental Sampling.Result: There was significant correlation between knowledge with incidence of ARI (p value < 0,001) with correlation value of 0,638 (the strong correlation) and positive direction, there was significant correlation between education with incidence of ARI (p value < 0,001) with correlation value of 0,920 (the very strong correlation) and positive direction, there was significant correlation between nutritional status with incidence of ARI (p value < 0,001) with correlation value of 0,436 (the moderate correlation) and positive direction.Conclusion: There was a strong positive correlation between knoewledge with incidence of ARI (p<0,001) who means the increase better of knowledge then incidence of ARI is lower, there was a very strong positive correlation between education with incidence of ARI (p<0,001) who means the higher of education then incidence of ARI is lower, there was a moderate positive correlation between nutritional status with incidence of ARI (p<0,001) who means the increase better of nutritional status then incidence of ARI is lower, Keywords: ARI, Education, Knowledge, Nutritional Status
GAMBARAN FAKTOR RISIKO DAN TANDA KLINIS PASIEN BERSALIN DENGAN PREEKLAMPSIA (STUDI DI RSUD WALEDTAHUN 2018) Nunung Nurbaniwati
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

abstrak
Hubungan Aktivitas Menggunakan Komputer terhadap Kejadian Miopia pada Usia Sekolah Umur 12-15 Tahun Binto Akturusiano; Muhamad Suhanda
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efek Pemberian Ekstrak Daun Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Pada Tikus Wistar Putih (Rattus norvegicus) Jantan Hiperurisemia Cindyyani Eka Putri; Rama Samara Brajawikalpa; Ruri Eka Maryam Mulyaningsih
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Hiperurisemia adalah keadaan terjadinya peningkatan kadar asam urat darah di atas normal dan termasuk kedalam salah satu penyakit tidak menular yang angka kejadiannya masih tinggi mencapai 20% di dunia. Daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) mengandung flavonoid sebagai penurun kadar asam urat melalui penghambatan kerja enzim xantin oksidase. Tujuan: Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dosis efektif ekstrak daun tempuyung terhadap penurunan kadar asam urat pada tikus wistar hiperurisemia. Metode: Metode Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pre-post test with control group design. Sampel menggunakan 30 ekor tikus wistar secara random dikelompokkan kedalam 5 kelompok secara Simple Random sampling. 2 kelompok kontrol (K- diberi pakan standar + akuades dan K+ diberi pakan tinggi purin + akuades) dan 3 kelompok perlakuan (pakan tinggi purin + esktrak daun tempuyung dosis 70 mg/200gBB, 75 mg/200gBB, dan 80 mg/200gBB). Periksa kadar asam urat pada 30 ekor tikus wistar , darah tikus wistar didapatkan melalui sinus orbitalis yang sudah dibius terlebih dahulu dengan menggunakan eter. Dan periksa kadar asam urat diukur dengan metode TBHBA. Hasil: Perbedaan bermakna (p<0,05) kadar asam urat sebelum dan sesudah perlakuan hanya ditunjukkan oleh kelompok perlakuan. Dengan rerata penurunan, Kelompok P1 2.5334 mg/dL, Kelompok P2 5.3993 mg/dL Kelompok P3 5.8599 mg/dL. Simpulan: Ekstrak daun tempuyung dosis 80 mg/gBB paling efektif menurunkan kadar asam urat darah.Kata Kunci: Daun Tempuyung, Asam Urat, hiperurisemia, tikus wistar, xantin oksidaseABSTRACTIntroduction: Hyperuricemia is a case of the increase of uric acid above normal levels of blood and includes to the one of non-communicable diseases which the number of events is still high, reaching 20% in the world. Tempuyung leaf (Sonchus arvensis L.) contains of flavonoids which has a benefit for decrease uric acid through the inhibition of enzyme xanthine oxidase action. Aim: This study aimed to knows the effective dose of tempuyung leaf extract to decrease uric acid levels in wistar rats hyperuricemic. Methods: This research methodology is Experimental research with Pre-post test with control group design. The samples were 30 wistar rats. Rats was divided into 2 control groups (K- are given standar feed+ aquadet and K+ are given high purine feed + aquadest ) and 3 treatment groups (high purine feed + extract tempuyung leaves dose 70 mg/200gBW, 75 mg/200gBW, 80 mg/200gBW). Check uric acid levels in 30 wistar rats, the blood of wistar rats is obtained through the orbital sinus which has been anesthetized first using ether. And check the uric acid level is measured by the TBHBA method. Resulsts: Significant differences (p <0.05) uric acid levels before and after treatment were only indicated by the treatment group. With a mean reduction in P1 2.5334 mg/dL, P2 group 5.3993 mg/dL, P3 group 5.8599 mg/dL. Conclusions: Tempuyung leaves extract with dose 80 mg/200gBW is most effective for reducing the uric acid level in blood.Keywords: Tempuyung leaves, Uric Acid, Hyperuricemic, Wistar rats, Xanthine oxidase.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 11 No 1 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 3 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 1 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 2 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 2 (2020): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 2 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 3 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 2 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 1 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan More Issue