cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
PEMIKIRAN HADIS MISOGINIS FATIMA MERNISSI: Tawaran Pemahaman Feminisme dalam Hadis di Media Kontemporer
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4624

Abstract

Tidak dipungkiri bahwa tradisi pemikiran hadis yang selama ini menjadi fokus perbincangan di dunia akademik baik formal maupun non-formal ternyata tidak mengalami stagnasi hanya pada kajian teks saja. Tentunya penawaran diskursus pemikiran yang pariatif akan selalu memunculkan dinamika untuk menghadirkan eksistensi hadis sesuai dengan konteksnya. Hal ini wajar karena kajian ini tidak hanya menawarkan kajian teks saja namun juga kontekstualisasi pemaknaan hadis yang bisa saja sangat subyektif dari para interpreter dengan dalih agar realitas teks bisa hidup dalam problematika manusia yang juga berjalan beriringan.Tulisan ini salah satunya bertujuan melakukan kajian pemikiran tokoh terhadap hadis yaitu Fatima Mernissi, mengenai konsep dan metode pemikirannya dalam hadis. 
Pseudo-Hadis Seputar Pendidikan Islam dan Sebarannya di Internet
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.2815

Abstract

In the context of Islamic education or tarbawī Ḥadīth in the writings that exist on the internet, many expressions spoken by other than the Prophet are shown as the Ḥadīth of the Prophet, as many of the sayings are also propounded to the Prophet but have no origin. That is pseudo- Ḥadīth about Islamic education. Unfortunately, the reality is less even sometimes not realized at all by the public. This research is one of the forms and efforts so that pseudo- Ḥadīth can be realized and can’t be widespread more. Here the author intends to reveal the pseudo-Ḥadīth about Islamic education and it’s spread on the internet. To arrive at the intended purpose, here the author applies descriptive-analytical method using takhrīj approach. This study proves that a number of pseudo-hadiths about Islamic education are widespread in writings that exist on the internet.
Menggandakan Harta Benda Menurut Al-Qur’an dan Sunah Nabi
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3132

Abstract

Setiap manusia, siapapun orangnya, pasti menginginkan harta. Ketika belum memilikinya, maka ia berharap dan berusaha keras untuk mendapatkannya. Dan bila sudah meraihnya, maka ia pun ingin menggandakannya lebih banyak, dan lebih bertambah lagi. Di mana-mana, banyak orang berlomba-lomba dan berpacu agar hartanya itu bisa digandakan lebih banyak lagi. Sehingga, manusia itu bila tidak dikendalikan nafsu dan ambisinya itu, maka akan liar dan tidak terkendali. Maka Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw) telah memberikan panduan dan pedoman yang jelas bagi pemeluknya untuk meraih harta dan bagaimana cara menggandakannya yang benar. Sebab, masih banyak manusia, termasuk umat islam yang tidak menghiraukan lagi akan halal dan haram harta yang dimiliki. Baik itu, wujud barangnya ataupun cara untuk mendapatkan harta tersebut.
SENI DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI: Kajian Ma’ani al-Hadis Dozan, Wely
RIWAYAH Vol 6, No 2 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i2.7863

Abstract

Seiring lahirnya berbagai pemahaman terhadap hadis-hadis Nabi, pada saat itulah keragaman umat Muslim dalam menyikapi isu-isu tentang seni akan selalu hangat dan tidak pernah usai diperbincangkan dalam pemikiran muslim. Ada yang memandang bahwa seni merupakan suatu hal yang dilarang olah Nabi. Disisi lain, ada yang memandang bahwa seni merupakan salah satu yang dianjurkan oleh Nabi, baik dalam seni musik, seni menggambar, seni melukis, dan seni lainnya. Tujuan penelitian ini akan mengkaji seni dalam sudut pandang ma’ani al-hadis terhadap teks-teks hadis dengan melihat sosio-historis dan implikasinya terhadap Islam. Hal inilah yang harus dibenahi oleh cendekia-cendekia muslim agar hadis-hadis Nabi dimaknai secara objektif dengan tidak meninggalkan teks dan konteks hadis yang disampaikan. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu library research dengan cara mengumpulkan data dalam buku, artikel, jurnal, dan berbagai macam literatur-literatur yang terkait dengan permasalahan yang dikaji untuk menemukan hasil. Hasil penelitian ini melalui kajian ma’ani al-hadis adalah bahwa konsep seni merupakan suatu hal yang dicontohkan oleh Nabi, dan seni pada hakikatnya boleh saja dipraktikkan dalam konteks kekinian yang tidak menunjukkan pada sebuah larangan. Bahkan seni dianjurkan dalam Islam. [Art in the Perspective of Prophetic Hadith: the Study of Ma'ani al-Hadith. Through the emergence of various understandings of the Prophet's traditions, at this time the diversity of Muslims in addressing issues regarding art will always be updated and will never finish being discussed in Muslim thought. There are those who think that art is something that was forbidden by the Prophet. On the other hand, there are those who think that art is one of the things that the Prophet likes, such as music, drawing, painting art, and other arts. The purpose of this research is to examine art from the perspective of ma'ani al-hadith towards hadith texts by looking at the socio-historical and its implications for Islam. This is what Muslim scholars need to fix so that the Prophet's traditions are interpreted objectively without leaving the text and context of the hadiths being conveyed. The research method used is library research by collecting data in books, articles, journals, and various kinds of literature related to the problems being studied to find the results. The result of this research through the study of ma'ani al-hadith is that the concept of art is something that was exemplified by the Prophet, and art in essence may be practiced in a contemporary context that does not indicate a prohibition. Even art is recommended in Islam.]
Urgensi Wudhu dan Relevansinya Bagi Kesehatan (Kajian Ma'anil Hadis) dalam Perspektif Imam Musbikin
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3746

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang bagaimana kita memahami sebuah hadits dengan menggunakan kajian Ma’anil Hadits yaitu ilmu yang mengkaji tentang bagaimana memahami hadits Nabi Saw dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas hadits tentang wudhu ditinjau dari aspek sanad dan matannya. Dan untuk mengetahui bagaimana pemahaman hadits (fiqh al-hadits) tentang urgensi wudhu dan relevansinya bagi kesehatan dalam perspektif Imam Musbikin. Dan setelah diteliti dengan menggunakan metode takhij al-hadis bahwa hadits-hadits yang diteliti, baik secara sanad maupun matan dapat dikatakan hadits tersebut sebagai hadits yang shahih baik shahih al-isnad maupun shahih al-matn dan dapat dipegang sebagai riwayat yang bersumber dari Nabi Saw. Selain itu, Manfaat cara wudhu terhadap kesehatan adalah dapat membersihkan berbagai kotoran, virus, dan bakteri yang berada di telinga, hidung, mulut dan gigi, serta dapat mempermudah regenerasi selaput lendir sehingga dapat mencegah berbagai penyakit yang masuk melalui telinga, hidung dan mulut,  baik penyakit yang ringan maupun penyakit yang serius. Selain itu, kebanyakan titik refleksi berada pada anggota wudhu. Sehingga kita menjalankan wudhu tidak hanya sebatas ritual yang dilakukan sebelum sholat, karena banyak manfaat dibalik ritual tersebut jika kita melakukannya dengan benar.
LEGITIMASI KEPEMIMPINAN BANI QURAISY Setiadi, Ozi; Amiruddin, Muh
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.13685

Abstract

The leadership of the Banu Quraish received special attention from the Prophet Muhammad. This attention is poured in many traditions narrated by narrators of traditions. Imam Ahmad, Imam Bukhari, and Imam Muslim are scholars who also narrated the hadith. This also received the attention of Islamic thinkers. Al-Farabi, Ibn Thaimiyyah, Al Farabi and Nashiruddin Thusi have different opinions. In general it can be concluded from the opinion of the scholars of hadith and Islamic thinkers that; First, there is no textual debate about the leadership of the Banu Quraish and Islamic thinkers accept this. Second, the Banu Quraysh became the sunatullah provisions, became leaders in global scope, but not regionally. Third, leadership in the regional scope provides opportunities for leaders from non-Banu Quraish to assume leadership positions. Fourth, the opportunity to become a leader for non-Banu Quraish must keep in mind the criteria or conditions for being a leader. Starting from who chooses then who will be chosen.
Sejarah Sosial Hadis Nabi di Yogyakarta (Studi Kasus Hadis Aqiqah: Era Pra dan Pasca Reformasi)
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.1618

Abstract

Sejarah sosial hadis Nabi di Yogyakarta, khususnya hadis aqiqah dari era pra hingga pascareformasi dewasa ini, mengalami perkembangan yang berkesinambungan. Meski sejak era kerajaan Mataram narasi tentang aqiqah sudah disinggung dalam naskah jawa yang ditulis oleh Raden Tumenggung Cakraningrat (Patih Danureja VI) sekitar tahun 1892 dengan judul Kitab Anyaritakaken Penggawé Butuhaning Manusya Mungguhing Sarak, namun wacana aqiqah hanya berkembang di lingkungan keraton. Masyarakat awam masih belum banyak tahu. Hal ini terus terjadi pada era Orde Lama maupun Orde Baru. Hingga setelah reformasi bergulir, masyarakat mendapatkan informasikeagamaan dengan mudah, termasuk tentang syariat aqiqah. Masyarakat Yogyakarta pun mulai mengenal, melaksanakan, dan mengembangkannya dalam sesbuah tradisi. Aqiqah melalui proses akulturasi telah menjadi budaya Yogyakarta sejak terbitnya Perda Provinsi DIY No. Nomor 4 Tahun 2011TentangTata Nilai Budaya Yogyakarta secara resmi memasukkan upacara aqiqah (kekahan) sebagai salah satu budaya Yogyakarta. Aqiqah pun terus berkembang hingga menjadi bisnis. Di sini hadis aqiqah di Yogyakarta bukan hanya sekedar memebentuk sebuah sistem kebudayaan, tetapi juga menginspirasi lahir dan berkembangnya bisnis-bisnis ekonomi.
POLARISASI SUFISTIK DAN HADIS PADA POPULARITAS IHYA’ ‘ULUMUDDIN DI NUSANTARA Hasan, In'amul; Rafif, Ahmad Ahnaf
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6615

Abstract

Imam al-Ghazali sebagai pengarang kitab Ihya’ ‘Ulumuddin memiliki latar belakang hidup yang beragam. Ia pernah menjadi filsuf (ahlu al-ra’yi) yang kemudian beralih menjadi seorang sufi pada masa tuanya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan karangan beliau yang menjadi masterpiece, yaitu kitab Ihya’ ‘Ulumuddin. Kitab ini menjadi populer di Nusantara dan dijadikan sebagai rujukan utama panduan hidup seorang muslim. Namun, dibalik kepopuleran kitab ini, banyak ulama hadis yang memberikan komentar yang kontroversial terhadap hadis yang dimuat dalam kitab ini. Walaupun komentar tersebut banyak berdatangan ke kitab ini, Kepopuleran kitab Ihya’ ‘Ulumuddin tidak lusuh di Nusantara, bahkan bisa bertahan hingga saat ini. Hal itu dapat terlihat pada saat Musabaqah Qira‘ah al-Kutub (MQK), kitab ini dijadikan kitab yang diperlombakan pada cabang akhlak tingkat ulya. Adapun tulisan ini membahas seluk-beluk serta alasan kitab ini tetap eksis dan dapat dipertahankan, terutama di Nusantara. Dengan pendekatan historis, atau lebih spesifiknya tentang sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang diiringi dengan interpretasi sufi dan muhaddisin terhadap hadis-hadis yang ada dalam kitab ini, tulisan ini mengarah kepada sebab kepopuleran kitab ini di Nusantara. Di antara hasil penelitian ini adalah: (1) Masuknya Islam ke Nusantara dipelopori oleh ulama-ulama tasawuf, bukan ulama hadis, (2) kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dipopulerkan oleh ulama-ulama taswauf yang berorientasi kepada syari’at (neo-sufisme), (3) komentar-komentar kontroversial yang berdatangan kepada kitab ini karena interpretasi ahli hadis (muhaddisin) yang terlalu ketat, serta (4) perbedaan interpretasi antara muhaddisin dan kaum sufi terhadap otentisitas hadis.
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3442

Abstract

Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang dibahas adalah hadis-hadis yang populer dan yang dipolemikkan yang muncul di kalangan masyarakat Indonesia. Hasil penelitiannyabanyak mengejutkan banyak pihak. Dalam penelitian selama 9 tahunnya, hadis-hadis yang diyakini masyarakat sebagai hadis-hadis s}ahi>h selama ini, ternyata hadis-hadis tersebut bukanlah hadis s}ahi>h, bahkan ada di antaranya yang diketahui bukan sebagai hadis, melainkan hanya kata-kata mutiara maupun kata-kata hikmah yang diucapkan oleh seorang tokoh ataupun ulama. Kalau itu bukan hadis, dan kemudian itu dikatakan sebagai hadis yang disandarkan kepada Nabi, berarti itu telah mendustakan hadis atas nama Nabi dan itu akan berdampak serius. Metode yang dipakai dalam memahami hadis berasal dari penelitian sanad dan matan hadis. Dalam meneliti sanad hadis, ia merujuk pada pendapat ulama-ulama terdahulu. Untuk memperolehi kesimpulan apakah hadis itu s}ahi>h, hasan atau d}a‘i>f, maka sanadnya harus bersambung, perawinya harus tsiqah (‘a>dil dan d}a>bit}). Ali Mustafa Yaqub tidak menyimpulkannya sendiri, tetapi berdasarkan pendapat para pakar di bidang hadis dengan membuka dan menelusuri kitab-kitab yang mu’tabar. Dalam menjelaskan kualitas matan hadis, Ali Mustafa Yaqub tidak hanya didasarkan pada persoalan apakah hadis itu mengandung ‘illah atau tidak, atau pun mengandung sya>z\\\ atau tidak.Dengan demikian, memahami hadis akan lebih mudah agar menemukan pemahaman yang relatif lebih tepat, dinamis, akomodatif, apresiasif, komprehensip dan mudah dipahami oleh semua golongan terhadap perubahan serta perkembangan zaman.This article will discuss about Ali Mustafa Yaqub’s contribution in the dynamics of the study of hadith in Indonesia. He is one of the experts in the field of hadith. The hadisstudied are popular and debatable hadith that have emerged among Indonesian society. The results of his research surprised many people. In his 9-year doing research, he found that the hadith that the people have believed as the best hadith are not the s}ah}e>h} hadith, some of which are known not as hadith, but only the quotations and the wisdom words spoken by pious people. If that is not a hadith, and then it is claimedas hadith from the Prophet, it will have a serious impact. The method used in understanding the hadith comes from the study of sanad and matan hadith. In researching the sanad of the hadith, he referred to the opinions of the earlier scholars. To estimate the conclusion whether the hadis is s}ahi>h, hasan or d}a‘i>f, then its sanad must be in continuity, its transmitter must be tsiqah (fair and d}a>bit}). Ali Mustafa Yaqub did not give the conclusion according to himself, but alsobased on the opinion of the scholars in the field of hadith by opening and searching the books that are mu’tabar. However, in addition to criticizing editorial, Ali Mustafa seeks to contextualize the editorial matan hadith with the present condition with a lot of explaining the hadith about the problems polemicized by society. As for the approach used in understanding the matan of hadith, he uses the approach of language, ratios and in other hadith, he used historical approach. Thus, the effort to understand the hadith will be easier in order to find a relatively more precise, dynamic, accommodative, apresiasif, comprehensively and easily results understood by all classes in this changing and developing times.
PERAWI MUDALLIS DALAM SHAHIH BUKHARI: Studi al-Jarh wa al-Ta’dil pada ‘Umar bin ‘Ali bin ‘Atha’ bin Muqaddam Mutaqin, Rizal Samsul; Nurpadilah, Zulfa; Muttaqin, Husen Zaenal
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.10651

Abstract

‘Umar bin ‘Ali bin ‘Athā` bin Muqaddam merupakan seorang rawi yang dipandang telah melakukan tadlīs yang berat dalam meriwayat hadis-hadisnya oleh ulama Jarh ta’dil. Namun, riwayatnya masih dimasukan oleh Imam Bukhārī yang dikenal sangat selektif memasukan riwayat seorang rawi kedalam kitab ­Shahīh-nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas seorang rawi yang dipandang daif oleh para ulama, dan menemukan alasan dimasukannya riwayat rawi tersebut dalam kitab ­Shahīh Bukhārī disertai dengan kehujjahan hadis-hadisnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah historis dan deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini difokuskan pada penerapan ilmu Jarh ta’dil, dengan melewati tahapan orientasi, eksplorasi, dan analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa Umar bin ‘Ali dipandang sebagai seorang rawi yang berada pada tingkatan ta’dil ketiga dan Jarh kedua. Adapun ketadlīsannya, beliau dikelompokkan kedalam tingkatan tadlīs keempat, yang ditolak oleh para ulama untuk dijadikan hujjah kecuali jika diriwayatkan dengan sigat sima’. Didalam ­Shahīh Bukhārī ditemukan terdapat lima haris yang beliau riwayatkan dan semuanya bisa diterima diterima dikarenakan; pertama, hadis-hadisnya diriwayatkan dengan menggunakan lafaz sima’ yang jelas. Kedua, riwayatnya hanya sebagai tābi’ dan bukan menjadi hadis pokok; ketiga, terdapat tabi’ yang memperkuat riwayatnya dan keempat hanya merupakan hadis mauqūf.[Mudallis Narrators in Shahih Bukhari: Study of al-Jarh wa al-Ta'dil on 'Umar bin 'Ali bin 'Atha' bin Muqaddam. 'Umar bin 'Ali bin' Athā` bin Muqaddam is a narrator who is considered to have done tadlīs heavy in narrating his hadiths by the scholars of Jarh ta'dil. However, his narration was still included by Imam Bukhārī who was known to be very selective in inserting the narration of a narrator into his Shahīh. This study aims to determine the quality of a narrator who is considered weak by the scholars, and find the reason for the inclusion of the narrator's narration in the book of Shahīh Bukhārī is accompanied by the argumentation of his hadiths. The method used in this study is historical and descriptive analysis with a qualitative approach. This research is focused on the application of the science of Jarh ta'dil, by going through the stages of orientation, exploration, and analysis. The results show that Umar bin 'Ali is seen as a narrator who is at the level of the ta'dil thirdand the Jarh second. As fortadlīshis, he is grouped into thelevel of tadlīs fourth, which is rejected by the scholars to be used as an argument unless it is narrated with sigat sima '. InShahīh Bukhārī  found that there were five haris that he narrated and all of them were acceptable because of them; firstly, the hadiths are narrated usingword sima ' the clear; secondly, the narration is only as tābi' and not the main hadith; thirdly, there is a tabi ' which strengthens the narration; and Fourthly, it is only a hadith mauqūf.]

Page 10 of 20 | Total Record : 200