cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalangelion@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Solo-Kalioso km 7, Selorejo, Wonorejo, Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 27233324     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Angelion adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Injili, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Focus dan Scope penelitian Angelion adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Isu-isu Teologi Pendidikan Kristen Angelion terbit dua kali setiap tahun, Juni dan Desember.
Articles 114 Documents
Ketaatan sebagai Fondasi Kekudusan: Analisis Eksegetis Imamat 18:1-5 dalam Merespons Krisis Etika Kontemporer Andreas Kongres Pardingotan Simbolon; Alnodus Jamsenjos Indirwan Ziliwu; Josephine Christella Nathalia; Stefani Sa'bu; Salma Sudi
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1125

Abstract

Contemporary ethical crises, characterized by value relativism, moral degradation, and an increasingly permissive culture, have challenged the church to maintain the standards of holy living. This study aims to exegetically analyze the text of Leviticus 18:1-5 to uncover the theological foundation of obedience as a response to these moral crises. The method employed is qualitative with an interpretative design, specifically through a legal genre hermeneutical approach. Research findings indicate that the statement “I am the LORD your God” in this text establishes divine authority as an absolute moral foundation, distinguishing the identity of God's people from worldly patterns of life (Egypt and Canaan). Obedience in this context is not a legalistic burden but a tangible expression of holiness arising from a living covenant relationship. The study concludes that amidst the current loss of moral direction, obedience to God's Word is a crucial foundation for the formation of Christian ethics centered on the character of God.   Krisis etika kontemporer yang ditandai oleh relativisme nilai, degradasi moral, dan budaya yang semakin permisif telah menantang gereja untuk mempertahankan standar kekudusan hidup,. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara eksegetis teks Imamat 18:1-5 guna menggali dasar teologis ketaatan sebagai respons terhadap krisis moral tersebut,. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan desain interpretatif, khususnya melalui pendekatan hermeneutik genre hukum,. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pernyataan “Akulah TUHAN, Allahmu” dalam teks ini menetapkan otoritas ilahi sebagai fondasi moral yang absolut, yang membedakan identitas umat Tuhan dari pola hidup duniawi (Mesir dan Kanaan). Ketaatan dalam konteks ini bukan merupakan beban legalistik, melainkan wujud nyata dari kekudusan yang lahir dari relasi perjanjian yang hidup,. Hasil kajian menyimpulkan bahwa di tengah hilangnya arah moral masa kini, ketaatan terhadap firman Allah merupakan fondasi krusial bagi pembentukan etika Kristen yang berpusat pada karakter Allah.
Perselisihan Paulus dan Barnabas: Tanda Gereja yang Hidup dan Berpikir Ira Suwitomo Putri; Asih Rachmani Endang Sumiwi
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1195

Abstract

Paul and Barnabas were central figures in the spread of the gospel in the early church, but their partnership was marred by a sharp dispute over John Mark's participation in the second missionary journey. This article aims to revisit the conflict from a progressive perspective, arguing that it is not a failure of ministry, but a reflection of a church that is alive and has the ability to think critically for the sake of common progress. This study uses a historical-descriptive analysis method with an exegetical approach to trace the roots of the conflict and the reasons behind the decisions of the two figures. The analysis shows that the tensions that occurred were rooted in differences in strategic considerations: Paul emphasized full commitment and mission effectiveness, while Barnabas emphasized the value of grace, forgiveness, and a second chance for individual recovery. The separation that occurred eventually became a "win-win solution" that actually accelerated the expansion of the reach of the gospel ministry to a wider area. This article concludes that strife is a natural part of human life and the church; For the Church today, disputes do not need to be avoided, but can be an instrument to mature character and expand the capacity of ministry, provided it is managed with spiritual maturity and openness in opinion.   Paulus dan Barnabas merupakan tokoh sentral dalam penyebaran Injil pada masa jemaat mula-mula, namun kemitraan mereka diwarnai oleh perselisihan tajam mengenai keikutsertaan Yohanes Markus dalam perjalanan misi kedua. Artikel ini bertujuan untuk meninjau kembali perselisihan tersebut dari sudut pandang progresif, dengan mengajukan argumen bahwa konflik tersebut bukan merupakan kegagalan pelayanan, melainkan cerminan dari gereja yang hidup dan memiliki kemampuan berpikir kritis demi kemajuan bersama. Penelitian ini menggunakan metode analisis historis-deskriptif dengan pendekatan eksegetis untuk menelusuri akar konflik serta alasan di balik keputusan kedua tokoh tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi berakar pada perbedaan pertimbangan strategis: Paulus menitikberatkan pada komitmen penuh dan efektivitas misi, sementara Barnabas mengedepankan nilai anugerah, pengampunan, dan kesempatan kedua bagi pemulihan individu. Perpisahan yang terjadi akhirnya menjadi "win-win solution" yang justru mempercepat perluasan jangkauan pelayanan Injil ke wilayah yang lebih luas. Artikel ini menyimpulkan bahwa perselisihan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia dan gereja; bagi gereja masa kini, perselisihan tidak perlu dihindari, melainkan dapat menjadi instrumen untuk mematangkan karakter dan memperluas kapasitas pelayanan, asalkan dikelola dengan kedewasaan rohani dan keterbukaan dalam berpendapat.
Formasi Spiritual, Kepemimpinan Kristen, dan Pemuridan Transformatif: Sebuah Kerangka Integratif Sabda Wahyudi; Ayub Sugiharto
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1245

Abstract

This article aims to analyze the conceptual relationship between spiritual formation, character formation, Christian leadership, and transformative discipleship and to formulate an integrative framework for church discipleship praxis. The study employs a qualitative approach through a theological literature review and conceptual analysis of scholarship on spiritual formation, Christian leadership, and discipleship. The findings indicate that spiritual formation is a holistic process of transformation through the work of the Holy Spirit toward Christlikeness, encompassing spiritual, emotional, relational, intellectual, vocational, physical, and stewardship dimensions. Such formation provides the foundation for character development, which is subsequently embodied in Christian leadership through modeling, equipping, mentoring, and empowering others. Leadership rooted in spiritual formation creates a relational context for discipleship oriented toward the transformation and reproduction of disciples. The novelty of this study lies in formulating an integrative framework that understands spiritual formation, character, leadership, and discipleship as interrelated and circular processes. This framework calls the church to develop discipleship as a culture of life formation centered on Christlikeness.   Artikel ini bertujuan menganalisis hubungan konseptual antara formasi spiritual, pembentukan karakter, kepemimpinan Kristen, dan pemuridan transformatif serta merumuskan kerangka integratif bagi praksis pemuridan gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur teologis dan analisis konseptual terhadap literatur mengenai spiritual formation, kepemimpinan Kristen, dan pemuridan. Hasil kajian menunjukkan bahwa formasi spiritual merupakan proses transformasi holistik melalui karya Roh Kudus menuju keserupaan dengan Kristus yang mencakup dimensi spiritual, emosional, relasional, intelektual, vokasional, fisik, dan penatalayanan. Formasi tersebut menjadi fondasi pembentukan karakter yang kemudian diwujudkan dalam kepemimpinan Kristen melalui keteladanan, memperlengkapi, mendampingi, dan memberdayakan. Kepemimpinan yang berakar pada formasi spiritual menciptakan konteks bagi pemuridan relasional yang berorientasi pada transformasi dan reproduksi murid. Kebaruan penelitian terletak pada perumusan kerangka integratif yang memandang formasi spiritual, karakter, kepemimpinan, dan pemuridan sebagai proses yang saling berkaitan dan bersifat sirkular.
Model Pelayanan Pemuda Remaja Berdasarkan Prinsip Pembinaan 1 Timotius 4:8-12 dalam Meningkatkan Partisipasi Ibadah Rahellea Andera
Angelion Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v7i1.1246

Abstract

This study aims to describe the conditions of youth participation in the Pentecostal Church Region III North Bengkulu, describe the responsibility of the church as a faith community to prepare youth as successors of church service in the future, describe the principles of development in the book of 1 Timothy 4: 8-12, describe a service model that is in accordance with the principles of development in 1 Timothy 4: 8-12 and in accordance with the needs of youth in service in the Pentecostal Church Region III North Bengkulu. This study uses a method with a descriptive qualitative research approach..Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation. The interviews in this study used the interview format.Focus Group Discussion(FGD). The participants involved in this study were the Pastor, youth mentor, youth ministry administrator and youth of the Pentecostal Church Region III North Bengkulu. The results of the study show the five Principles of Formation in the book of 1 Timothy 4: 8-12, giving priority to spiritual training, conveying reliable teachings, providing service motivation, encouraging to preach and teach the truth of the word and emulating the life of the leader. The condition of youth participation in the Pentecostal Church Region III North Bengkulu, there are variations in the existence of special youth services in churches, with some churches having special youth services, while others do not, the number of youth who attend varies, with some churches having youth who rarely attend in significant numbers. Churches that have special youth services tend to have a higher number of youth who attend compared to those that do not have special services. An effective ministry model for youth includes a variety of activities such as progressive spiritual formation, mentoring, small communities, digital ministry, participatory ministry, and creative activities that enable the church to reach young people holistically, spiritually, socially, and emotionally. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi partisipasi pemuda remaja di Gereja Pentakosta Wilayah III Bengkulu Utara, mendeskripsikan tanggung jawab gereja sebagai komunitas iman untuk mempersiapkan pemuda remaja sebagai penerus pelayanan gereja di masa depan, mendeskripsikan prinsip-prinsip pembinaan dalam kitab 1 Timotius 4 : 8 – 12, mendeskripsikan model pelayanan yang sesuai dengan prinsip pembinaan 1 Timotius 4 : 8 - 12 serta sesuai dengan kebutuhan pemuda remaja didalam pelayanan di Gereja Pentakosta Wilayah III Bengkulu Utara. Penelitian ini menggunakan metode dengan jenis pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara dalam penelitian ini menggunakan bentuk wawancara Focus Group Discussion (FGD). Adapun partisipan yang terlibat dalam penelitian ini yaitu Gembala sidang, pembina pemuda remaja, pengurus pelayanan pemuda remaja dan pemuda remaja Gereja Pentakosta Wilayah III Bengkulu Utara. Hasil penelitian menunjukkan lima Prinsip Pembinaan dalam kitab 1 Timotius 4 : 8 – 12, memberikan prioritas latihan rohani, menyampaikan ajaran yang dapat dipercaya, memberikan motivasi pelayanan, mendorong untuk memberitakan dan mengajarkan kebenaran firman serta meneladani hidup dari pemimpin. Kondisi partisipasi pemuda remaja di Gereja Pentakosta Wilayah III Bengkulu Utara, terdapat variasi dalam keberadaan ibadah khusus pemuda di gereja-gereja, dengan beberapa gereja memiliki ibadah khusus pemuda, sementara yang lain tidak, jumlah pemuda yang rajin datang bervariasi, dengan beberapa gereja memiliki pemuda yang jarang datang dalam jumlah yang signifikan. Gereja yang memiliki ibadah khusus pemuda cenderung memiliki jumlah pemuda yang lebih rajin datang dibandingkan dengan yang tidak memiliki ibadah khusus. Model pelayanan yang efektif untuk kaum muda mencakup berbagai kegiatan seperti pembentukan spiritual progresif, pendampingan, komunitas kecil, pelayanan digital, pelayanan partisipatif, dan kegiatan kreatif yang memungkinkan gereja untuk menjangkau kaum muda secara holistik, spiritual, sosial, dan emosional.

Page 12 of 12 | Total Record : 114