cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalangelion@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Solo-Kalioso km 7, Selorejo, Wonorejo, Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 27233324     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Angelion adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Injili, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan Kristen, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Focus dan Scope penelitian Angelion adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Isu-isu Teologi Pendidikan Kristen Angelion terbit dua kali setiap tahun, Juni dan Desember.
Articles 107 Documents
Dari Kenosis ke Kepemimpinan Hamba: Filipi 2:6-8 sebagai Model Teologis Bagi Transformasi Gereja Masa Kini Loru, Ariance; Stevanus, Kalis
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1017

Abstract

This study aims to analyze the concept of servant leadership based on Philippians 2:6-8 and its relevance to the modern church. The method used in this study is a qualitative approach through literature review and exegetical study. The focus of the study is directed at the practical theological realm of Jesus Christ's example of humility, self-emptying, and obedience to the point of death on the cross. The exegetical results indicate that servant leadership offers an alternative, transformative solution amidst the challenges of the modern church, such as secularization, technological development, religious pluralism, and socio-cultural change. The example of Jesus Christ, which teaches three main aspects of servant leadership: relinquishing personal rights, taking on the form of a servant, and living in obedience and sacrifice, will shape the character of Christian leaders who are humble, imbued with integrity, and contextual. This study confirms that servant leadership is not merely an organizational strategy, but a theological calling rooted in the example of Jesus Christ himself.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan hamba berdasarkan Filipi 2:6-8 serta relevansinya bagi gereja modern. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan studi eksegesis. Fokus kajian diarahkan ke ranah teologis praktis terhadap teladan Yesus Kristus yang merendahkan hati, mengosongkan diri dan taat sampai mati di atas kayu salib. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa kepemimpinan hamba memberikan alternatif yang solusi tranformatif di tengah tantangan gereja modern, seperti sekularisasi, perkembangan teknologi, pluralisme agama, serta perubahan sosial-budaya. Teladan Yesus Kristus yang mengajarkan tiga aspek utama kepemimpinan hamba, yaitu: melepaskan hak pribadi, mengambil rupa sebagai hamba, serta hidup dalam ketaatan dan pengorbanan akan membentuk karakter pemimpin Kristen yang rendah hati, berintegritas, dan kontekstual. Penelitian ini memberikan penegasan bahwa kepemimpinan hamba bukan sekedar strategi organisasi, melainkan panggilan teologis yang berakar pada teladan Yesus Kristus sendiri.
Membangun Strategi Gereja Berdasar Kisah Para Rasul 4:1-31 Terhadap Gerakan Keagamaan yang Konfrontatif Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Prabowo, Yusak Sigit
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1028

Abstract

This study aims to formulate a church strategy in dealing with confrontational religious movements by using a contextual hermeneutic approach to Acts 4:1-31. The issues behind this research are polarization and challenges to religious freedom that require the church to not only remain silent but respond wisely. This qualitative research uses contextual hermeneutic methods to analyze the text, then formulate relevant theological principles and strategies. The results of the study show that the response of the early church was not physical resistance, but rather a response rooted in a strong theological foundation, namely the absolute sovereignty of God (Despotes) and community solidarity. This results in the courage (parrhesia) to continue to testify. Based on these findings, the study formulated three elements of strategies for the church: (1) Faith-Based Strategies to strengthen congregational understanding, (2) Community-Based Strategies to build internal solidarity, and (3) Testimonial-Based Strategies to act with compassionate courage. Thus, this study concludes that effective church responses are proactive and transformative, not reactive and confrontational. This aims to maintain the testimony, harmony, and integrity of the church in the midst of a pluralistic society. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi gereja dalam menghadapi gerakan keagamaan yang konfrontatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika kontekstual terhadap Kisah Para Rasul 4:1-31. Isu-isu yang melatarbelakangi penelitian ini adalah adanya polarisasi dan tantangan terhadap kebebasan beragama yang menuntut gereja untuk tidak hanya berdiam diri, tetapi merespons secara bijaksana. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode hermeneutika kontekstual untuk menganalisis teks, kemudian merumuskan prinsip-prinsip teologis dan strategi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons gereja mula-mula bukanlah perlawanan fisik, melainkan respons yang berakar pada fondasi teologis yang kuat, yaitu kedaulatan mutlak Allah (Despotes) dan solidaritas komunitas. Hal ini menghasilkan keberanian (parrhesia) untuk terus bersaksi. Berdasarkan temuan ini, penelitian merumuskan tiga elemen strategi bagi gereja: (1) Strategi Berbasis Iman untuk menguatkan pemahaman jemaat, (2) Strategi Berbasis Komunitas untuk membangun solidaritas internal, dan (3) Strategi Berbasis Kesaksian untuk bertindak dengan keberanian penuh kasih. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa respons gereja yang efektif adalah yang proaktif dan transformatif, bukan reaktif dan konfrontatif. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesaksian, kerukunan, dan integritas gereja di tengah masyarakat plural.
Konstruksi Sikap Keluarga Terhadap Transgender dalam Etika Kristen Budianto Indrawan; Deak, Victor; Hermanto, Yanto Paulus
Angelion Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i1.1035

Abstract

Fenomena identitas transgender yang semakin nyata dalam masyarakat modern memiliki implikasi yang signifikan, tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi keluarga, khususnya keluarga Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana keluarga Kristen merespons ketika salah satu anggotanya memilih identitas transgender, dengan fokus pada peran iman Kristen, kondisi sosial yang dihadapi keluarga, dan implikasi pastoral. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui riset kepustakaan, etika Kristen, dan refleksi teologis pastoral, penelitian ini menemukan bahwa keluarga Kristen dipanggil untuk menjunjung tinggi kebenaran Firman Tuhan mengenai identitas gender sekaligus mewujudkan kasih Kristus. Dengan demikian, keluarga Kristen diharapkan memberikan respons yang seimbang, tetap setia pada Kitab Suci, dan mengungkapkan kasih yang tulus dalam menyikapi isu identitas transgender.
Model Bait Suci Yerusalem dan Penerapannya dalam Arsitektur Spiritual Rumah Retret Kristen Natania, Stefani Ester; Santo, Joseph Christ; Marlina, Avi
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1039

Abstract

This study aims to discuss the model of the Jerusalem Temple in the Old Testament and its relevance to the concept of spiritual architecture in the design of Christian Retreat Houses. The temple itself is understood to be arranged into three areas or space zones, namely the court, the holy room, and the most holy room. When associated with the approach of spiritual architecture, this model reflects the spiritual journey of man from the profane zone to the sacred zone closer to God. The method used is qualitative descriptive qualitative based on literature, by collecting and processing data in the form of Bible, books, and articles to deepen the discussion. Through the study of theological literature and architectural theory, this study examines how aspects of the site, space, ornaments, and furnishings of the Temple can be applied to a Christian Retreat House that is contextual and appropriate today. The results of this study show that the integration between Temple model and spiritual architectural principles can provide a design framework concept for the design of Christian Retreat Houses. The results of this research are expected to contribute to religious architecture in Indonesia, as well as provide a conceptual approach that is in accordance with the teaching of the Christian faith. Penelitian ini bertujuan untuk membahas model Bait Suci Yerusalem dalam Perjanjian Lama dan relevansinya terhadap konsep arsitektur spiritual pada perancangan Rumah Retret Kristen. Bait Suci sendiri dipahami tersusun menjadi tiga area atau zona ruang, yaitu pelataran, ruang kudus, dan ruang maha kudus. Jika dikaitkan dengan pendekatan arsitektur spiritual, model ini mencerminkan perjalanan spiritual manusia dari zona profan menuju ke zona sakral yang lebih dekat dengan Allah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berdasarkan literatur, dengan mengumpulkan dan mengolah data yang berupa Alkitab, buku, dan artikel untuk memperdalam pembahasan. Melalui kajian literatur teologis dan teori arsitektural, penelitian ini mengkaji bagaimana aspek tapak, ruang, ornamen, dan perabot pada Bait Suci dapat diterapkan ke dalam sebuah Rumah Retret Kristen yang kontekstual dan sesuai pada masa kini. Hasil dari kajian ini menunjukkan integrasi antara model Bait Suci dan prinsip arsitektur spiritual dapat memberikan konsep kerangka desain pada perancangan Rumah Retret Kristen. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi arsitektur religius di Indonesia, sekaligus memberikan pendekatan konseptual yang sesuai dengan pengajaran iman Kristen.
Analisis Frasa “Penuh Roh” dalam Berbagai Peristiwa di Kisah Para Rasul dan Penerapan Prinsip-prinsip Teologisnya pada Masa Kini Saubaki, Wisye Agnes; Sumiwi, Asih Rachmani Endang
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1041

Abstract

This study examines the phrase “full of the Spirit” in the Book of Acts with the aim of understanding its complex theological meaning and applying its theological principles today. Although this phrase is often understood simply as an emotional experience, theological and exegetical analysis of the Greek text shows that its meaning includes empowerment to carry out missions and courage to witness, character necessary for ministry, endurance in the midst of suffering, and divine authority. This study also highlights the functional difference between the Greek terms pl?r?s (which indicates a continuous quality of character) and pl?th? (which refers to a temporal or temporary empowerment that occurs at a specific time for a specific purpose). The application of these principles today emphasizes the importance of the church prioritizing dependence on the Holy Spirit in carrying out its mission, making spiritual integrity the primary standard of leadership, relying on the power of the Holy Spirit in facing challenges, and carrying out the mission with divine authority. The novelty of this research lies in its comprehensive approach, which combines Greek language analysis with practical application, thereby challenging superficial views and offering a richer and more relevant theological understanding of the role of the Holy Spirit. Penelitian ini mengkaji frasa “penuh Roh” dalam Kitab Kisah Para Rasul dengan tujuan memahami makna teologisnya yang kompleks dan menerapkan prinsip-prinsip teologisnya pada masa kini. Meskipun frasa ini sering dipahami secara sederhana sebagai pengalaman emosional, analisis teologis dan eksegetis teks Yunani menunjukkan bahwa maknanya mencakup pemberdayaan untuk melaksanakan misi dan keberanian untuk bersaksi, karakter yang diperlukan untuk pelayanan, ketahanan di tengah penderitaan, dan otoritas ilahi. Penelitian ini juga menyoroti perbedaan fungsional antara istilah Yunani pl?r?s (yang menunjukkan kualitas karakter yang berkelanjutan) dan pl?th? (yang merujuk pada pemberdayaan yang bersifat temporal atau sementara yang terjadi pada saat tertentu untuk tujuan tertentu). Penerapan prinsip-prinsip ini pada masa kini menekankan pentingnya gereja memprioritaskan ketergantungan pada Roh Kudus dalam melaksanakan misi, menjadikan integritas rohani sebagai standar utama kepemimpinan, bergantung pada kuasa Roh Kudus dalam menghadapi tantangan, dan melaksanakan misi dengan otoritas ilahi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan komprehensifnya, yang menggabungkan analisis bahasa Yunani dengan penerapan praktis, sehingga menantang pandangan yang dangkal dan menawarkan pemahaman teologis yang lebih kaya dan relevan tentang peran Roh Kudus
Relevansi Aplikasi Radio Streaming dalam Pelayanan Pastoral Gereja di Era Masyarakat 5.0 Jatmiko, Yohanes; Santo, Joseph Christ
Angelion Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i1.1051

Abstract

Perkembangan teknologi di jaman sekarang ini dibarengi dengan perubahan dalam masyarakat yang dikenal dengan masyarakat 5.0 yang sangat erat dalam penggunaan teknologi di bidang informasi dan komunikasi secara khusus penggunaan internet. Masyarakat perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan dalam era masyarakat 5.0. Dalam hal ini di gereja sangat diharapkan dapat bersiap siap untuk menghadapi perubahan ini. Termasuk gereja harus mampu menggunakan perubahan ini khususnya teknologi internet supaya dapat memaksimalkan pelayanan pastoral. Sehingga pelayanan pastoral dengan memaksimalkan teknologi internet mampu menjadi suatu pendekatan kepada jemaat yang dilayani, karena dengan pendekatan seperti ini membawa sebuah perubahan pandangan tentang pelayanan yang tidak hanya bertemu secara fisik tetapi dapat juga melalui kemajuan teknologi pesan pelayanan pastoral dapat dirasakan oleh setiap jemaat yang dilayani. Tulisan ini bertujuan meneliti melalui observasi bagaimana peran aplikasi radio streaming dalam memaksimalkan pelayanan pastoral sebuah gereja. Objek yang diteliti adalah peran radio streaming dalam pelayanan pastoral. Hasil Penulis melalukan analisis dengan metode pendekatan analisis deskriptif berdasarkan literatur dan juga mempraktikkan di beberapa gereja sehingga menemukan kesimpulan bahwa aplikasi radio streaming mampu memaksimalkan pelayanan pastoral karena (1) sebagai sarana informasi kepada jemaat (2) sebagai sarana membangun komunikasi antara gereja dan jemaat (3) sebagai sarana pemberitaan Injil (4) sebagai sarana berbagi kesaksian atau pengalaman mengikut Tuhan.
Fungsi Kepemimpinan Keluarga Berdasarkan Mazmur 78 di Era Digital Dachi, Zinzendorf
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1069

Abstract

Technological developments in the digital era, widely accepted in society, have had a significant impact on families. Therefore, parents, as family leaders, need to learn from history to care for their families. Although there are efforts to solve family problems by paying attention to the function of parents as educators and role models, this has not been able to provide a complete answer. Parents must learn from history through Psalm 78. This study uses a qualitative method with a literature study approach and analysis of the text of Psalm 78 using the principle of hermeneutics. The results of the study show that parents who learn from history can influence their children to live in truth in today's digital era. Through history, parents influence children to know the Word of God, believe and carry out God's commands, and have steadfastness. Perkembangan teknologi di era digital yang diterima dalam masyarakat, memberi pengaruh yang signifikan bagi keluarga. Oleh karenanya, orang tua sebagai pemimpin keluarga perlu belajar melalui sejarah untuk memperhatikan keluarganya. Meskipun ada upaya untuk menyelesaikan masalah keluarga dengan memperhatikan pentingnya fungsi orang tua sebagai pendidik, dan menjadi teladan, akan tetapi hal itu belum sepenuhnya dapat memberi jawaban. Orang tua harus belajar dari sejarah melalui Mazmur 78. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis terhadap teks Mazmur 78 menggunakan prinsip hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang belajar dari sejarah dapat mempengaruhi anak-anaknya untuk hidup dalam kebenaran di era digital saat ini. Melalui sejarah orang tua memberi pengaruh sehingga anak mengenal Firman Allah, percaya dan melakukan perintah Allah, dan memiliki keteguhan hati.

Page 11 of 11 | Total Record : 107