cover
Contact Name
Natalia Olivia Kusuma Dewi Lahamendu
Contact Email
ejurnalputewaya@gmail.com
Phone
+6282188294546
Journal Mail Official
ejurnalputewaya@gmail.com
Editorial Address
Jalan Bougenville, Tateli Satu, Pineleng, Tateli Satu, Mandolang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara 95661
Location
Kab. minahasa,
Sulawesi utara
INDONESIA
Pute Waya Sociology of Religion Jornal
ISSN : -     EISSN : 27471179     DOI : https://doi.org/10.51667/pwjsa.v1i01.229
Pute Waya merupakan jurnal Sosiologi Agama. Portal ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan, memfasilitasi digitalisasi dan indeksasi jurnal akademik yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga di bawah koordinasi Kementerian Agama Indonesia. Jurnal-jurnal ini berfokus tidak hanya pada studi Kristen atau studi agama saja, namun juga pada ilmu atau disiplin lain yang terkait dengan bidang Sosiologi Agama. Pute Waya memiliki misi penting untuk menyebarluaskan pengetahuan di antara para sarjana, membantu mereka membangun jaringan, dan mengembangkan penelitian mereka baik dalam konteks dalam negeri maupun luar negeri. Dengan melakukan hal itu, Pute Waya membantu menciptakan lingkungan penelitian yang dinamis, kerjasama di antara para peneliti, dan kualitas akademik yang lebih baik, dan portal dapat berfungsi sebagai standar untuk kemajuan penelitian dan tulisan akademis dalam pendidikan tinggi di bawah kementerian Agama.
Articles 47 Documents
KEHENDAK BEBAS YANG MEMBEBASKAN STUDI SOSIOLOGI TENTANG PERAN AGEN DAN STRUKTUR MASYARAKAT DIGITAL DALAM FILM "FREE GUY" Denni H.R. Pinontoan
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i1.964

Abstract

Studi sosiologi terus mengalami perkembangan dalam memahami kedudukan agen dan struktur dalam masyarakat, terutama berkaitan dengan kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia alamiah. Film Free Guymerefleksikan tentang masalah kehendak bebas agen dan struktur dalam masyarakat digital sebagai fokus kajian artikel ini. Kajian artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif konstruktif. Teori strukturasi Anthony Giddens dipakai sebagai alat analisis mengenai konten dan pesan film Free Guy tersebut. Dari hasil kajian, maka artikel ini menunjukkan bahwa kehendak bebas pada manusia dapat berfungsi untuk gerakan transformasi sosial dengan munculnya agen atau aktor yang merespon secara kritis-reflektif situasi yang mendorong tindakan-tindakan praksis pembebasan. Struktur sosial masyarakat digital yang rumit, justru adalah konteks kemunculan agen yang berperan dalam melakukan transformasi sosial.
LELAKI PENENUN: MENJALANKAN ATAU MENYALAHI KODRAT ALLAH? (SEBUAH REKONSTRUKSISOSIAL BUDAYA TENTANG GENDER) Gerald Moratua Siregar
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i1.965

Abstract

Di Indonesia, di mana mayoritas masyarakatnya berbudaya patriarki, permasalahan gender sering menjadi bias dan terjadi pengotak-kotakan. Di dalam masyarakat tradisional keyakinan seperti ini merasuk sampai ke permasalahan profesi. Ada profesi yang diperbolehkan dan ada yang terlarang bagi gender tertentu. Salah satunya, pekerjaan menenun yang oleh suku dan budaya tertentu dipercaya sebagai pekerjaan privat perempuan, dan merupakan pantangan yang besar bagi lelaki. Pertanyaan penting yang mengemuka adalah mungkinkah di kemudian hari lakilaki berprofesi sebagai penenun dengan bebas, tanpa tekanan, dan tidak dikenakan sanksi sosial? Untuk merekonstruksi paradigma sosial budaya yang seperti itu, penulis mengusulkan pendekatan teologis, spiritualitas, dan seksualitas. Asumsinya adalah bahwa dalam pendekatan-pendekatan tersebut ada hal atau paradigma yang baru sebagai suatu terobosan terhadap stigmasasi gender. Untuk itu, artikel yang dibuat dengan metode kajian pustaka kualitatif ini, bertujuan agar para pembaca dapat memiliki wawasan tentang kemungkinan lelaki penenun (dan pekerjaan lain yang terbagi berdasarkan stigma sosial budaya) melakukan pekerjaan tersebut dengan bebas dan ekspresif. Di akhir artikel terdapat rekomendasi-rekomendasi konseptual yang dapat menggerakan baik lelaki maupun wanita dapat melakukan pekerjaan yang melampaui batas-batas stigma sosial budaya yang ada.
BUNUH DIRI: PERAN GEREJA DAN TINDAKAN SOSIAL MASYARAKAT DI DESA TALAWAAN KABUPATEN MINAHASA UTARA Aditya Paschal Pantow; Rama Tulus Pilakoannu
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i1.966

Abstract

Kematian merupakan hal yang tidak terelakan di mana itu dialami oleh setiap orang di dunia ini. Itu menjadi controversial Ketika orang-orang memutuskan untuk membunuh diri, apalagi tinggal di daerah terpecil. Di Desa Talawaan yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara, orang yang memilih untuk membunuh diri diperlakukan secara berbeda oleh masyarakatnya, terlebih setelah meninggal akibat membunuh diri. Artikel ini, kemudian, menandakan peran-peran gereja dalam kaitannya dengan tindakan sosial dalam masyarakat terhadap orang yang memutuskan untuk membunuh diri di desa Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara. Menggunakan metode analisis dan deskriptif serta Teknik wawancara untuk mengumpulkan data, artikel ini memperlihatkan bahwa masayarakat menyadari pentingnya Tindakan dan nilai-nilai luhur yang lahir dari agama dan masyarakat dalam sebuah interaksi komunitasnya.
SUMBANGSIH TEORI FUNGSIONALIS EMILE DURKHEIM UNTUKMEWUJUDKAN AGAMA SEBAGAI WACANA PERFORMATIFDALAM MEWUJUDKAN SOLIDARITASDI TENGAH PANDEMI Gideon Hasiholan Sitorus
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i1.967

Abstract

Agama sangat memungkinkan menjadi penentu akan terwujudnya perspektif bagi setiap penganutnya dalam memandang dan mengerti akan eksistensi diri sendiri serta setiap relasiyang ada dengan masyarakat dan juga alam. Benarlah bahwa agama saat ini mendapat tempat utama pada masyarakat dan menjadi bagian yang bersifat konstitutif. Dalam tulisan ini, penulismengemukakanargumentasi bahwa fungsi agama sebagaimana terdapat dalam dimensi fungsionalnyaseharusnya memberikan suatu hal baru yang mampu mengintegrasikan kehidupan yang bersifat individual(privat) ke kehidupan komunal (public). Kemudian agar agama dapat dipahami sebagai wahana yang dapat berfungsi sebagai penolong. Hasil penelitian menemukan bahwa, Fungsi agama adalah itu sebagai berikut: Pertama, agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Kedua, agama menawarkan hubungan transendental melalui pemujaan dan ibadat sehingga memberikan dasar emosional. Ketiga, agama menyucikan norma-norma dan nila-nilai masyarakat yang telah terbentuk.
TANGGAPAN TERHADAP PANDANGAN KRISTOLOGI ISLAM DARI PERSPEKTIF IMAN KRISTEN Sabda Budiman; Armin Sukri
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i1.968

Abstract

Isu tentang pluralism menjadi topik yang tidak pernah berujung, secara khusus di Indonesia sebagai negara yang plural. Topik pluralisme yang paling kontrovers ialialah tentang pluralisme agama, yaitu antara Islam dan Kristen selaku agama Abrahamaic. Perdebatan yang sering terjadi antara Islam dan Kristen ialah tentang Kristologi. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pandangan Islam mengenai Yesus Kristus dan menanggapi dari perspektif iman Kristen tentang pandangan Islam mengenai Yesus Kristus.Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif. Penulis menggunakan data seperti Al-Quran dan Alkitab, pendapat pakar terkait Kristologi Islam dan Kristen yang terdapat dalam buku maupun jurnal. Dari penelitian yang dilakukan, penulis menemukan dalam Kristologi Islam bahwa Isa dan Yesus adalah sama, Yesus beragama Islam dan Yesus adalah seorang nabi dan bukan Tuhan. Tanggapan dari perspektif iman Kristen berpendapat bahwaYesus tidak menciptakan agama, agama tidak menyelamatkan dan Yesus adalah nabi dan Tuhan. Jadi terdapat perbedaan Kristologi Islam dan Kristen pada natur Yesus dan doktrin keselamatan dalam Yesus.
MAPALUS DALAM KONTEKS HUBUNGAN KRISTEN-MUSLIM : STUDI PERDAMAIAN DI KOTA MANADO Gerry Nelwan
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i2.1220

Abstract

Mapalus sebagai salah kearifan lokal dalam budaya Minahasa yang mengandung makna kerja sama atau gotong royong telah mengalami perluasan makna dan cakupan pada tataran praktisnya hari ini. Kerja Mapalus juga akan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat Kota Manado yang memiliki keberagaman agama, budaya, etnis,dll. Namun, dibalik keberagaman tersebut sering terjadi pergesekan dalam bentuk sentimen agama di antara masyarakat Kota Manado, khususnya kelompok Kristen dan Muslim. Berangkat dari hal itu, maka penelitian ini bertujuan ingin memperjumpakan Mapalus yang adalah kearifan lokal masyarakat Minahasa, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi agama tua leluhur Minahasa zaman dahulu dalam konteks hubungan antar agama Kristen dan Muslim di Kota Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan. Data akan diperoleh dengan cara mengumpulkan berbagai hasil penelitian, jurnal, dokumen, buku, dan berita yang dapat menjadi data pendukung. Dengan adanya Mapalus dari tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat, dapat membantu dalam mendorong terciptanya perdamaian dan kerukunan di Kota Manado. Membangun perdamaian termasuk didalamnya yaitu, mendorong tercapainya keadilan bagi setiap masyarakat dari aspek sosial, ekonomi hingga keagamaan. Makna kerja sama yang ada dalam Mapalus diharapkan dapat menjadi basis common values bagi masyarakat lintas agama di Kota Manado dalam mendukung adanya penerimaan dan terbangun sikap inklusif juga moderat.
MEMANDANG DENGAN PERSPEKTIF BARU: KAJIAN MATIUS 22:32 DAN RELASINYA DALAM KEARIFAN LOKAL; PAWANG HUJAN Ryanto Adilang; Audriano Kalundang
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i2.1221

Abstract

Perkembangan dunia yang semakin pesat mengantarkan manusia pada suatu sisi kehidupan yang lebih modern dan yang tidak dianggap modern perlahan ditinggalkan dan tidak dipakai lagi. Kearifan lokal yang dilakukan turuntemurun juga dikikis dalam perkembangan teknologi yang pesat ini termasuk didalamnya kearifan lokal: pawang hujan. Masyarakat yang masih mempertahkan kearifan lokal pawang hujan ini dianggap sebagai ketinggalan perkembangan dunia dan terkadang dijadikan bahan olok-olokkan, buah bibir masyarakat yang dipandang negative. Maka di dalam penelitian ini akan dikaji mengenai padangan masyarakat terhadap kearifan lokal khusunya pawang hujan tersebut dalam sorotan teks Alkitab dari Injil Matius 22:32. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Karena merupakan penelitian di ranah Biblika, khususnya Biblika Perjanjian Baru, maka penelitian ini mengusung metode penafsiran campuran antara kritik historis dan kritik naratif dan akan diseberangkan dalam konteks masa kini. Hasil penelitian ini diharapkan agar mengubah cara pandang dan stigma negative para pembaca tentang mereka yang melakukan bentuk-bentuk kearifan lokal salah satunya pawang hujan.
KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP HUKUM ADAT DELIK NEDOSA (PERKARA SUMBANG-PERKAWINAN DENGAN SAUDARA DEKAT) DI KEPULAUAN SANGIHE TALAUD Jhounlee Pance Tatuhas; Jammer Prayerson Andalangi
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i2.1222

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui arti Delik Nedosa (perkara sumbang), pandangan Alkitab tentang Delik Nedosa, perkawinan yang dilarang Tuhan. Hal ini dianalisis secara hermeneutik. Hal yang hendak dicapai adalah apakah hukum adat Delik Nedosa benar atau salah dikaji dari sudut pandang teologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Dalam hal ini, peneliti memfokuskan penelitian pada pengkajian literatur. Tetapi penulis juga melakukan wawancara kepada salah seorang tua-tua kampung dan juga salah seorang tua-tua adat Kepulauan Sangihe Talaud. Dikaji dari sudut pandang teologi tentang Delik Nedosa, ada bagian yang sependapat, ada yang tidak sependapat. Alkitab setuju bahwa tidak boleh saudara kandung (kakak beradik sungguh) atau yang disebut inses melakukan perkawinan. Tetapi Alkitab tidak setujuh bahwa saudara sepupu, cucu bersaudara, cece bersaudara, sampai keturunan ke 7, dan sama vam (marga) tidak boleh melakukan perkawinan, karena di Alkitab dengan jelas menunjukan itu diperbolehkan. Ishak dan Yakub buktinya di Alkitab bahwa Allah tidak melarang perkawinan dengan saudara dekat, justru Allah yang memberi perintah mencarikan isteri bagi Ishak dari sanak saudara – kalangan keluarga sendiri dan Allah memberkati perkawinan itu. Ishak kawin dengan keponakannya sendiri (masih satu vam/marga), Yakub kawin dengan saudara sepupunya sendiri (masih satu vam/marga). Perkawinan yang dilarang Allah sebenarnya jelas tertulis dalam Alkitab yaitu Inses, Perkawinan Sesama Jenis, Perkawinan dengan Binatang
PEMISAHAN SEBAGAI MEKANISME REKONSILIASI : STUDI KASUS DI JEMAAT GKJ TAMANMURNI, SRAGEN, JAWA TENGAH Yemima Widi; Suwarto Adi
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i2.1223

Abstract

Konflik selalu membawa dampak bagi para pihak yang berkonflik. Berdampak buruk, apabila konflik tidak dapat diselesaikan dengan baik. Dan sebaliknya, apabila konflik dapat diselesaikan dengan baik, justru dapat membangun stabilitas komunal. Menghindar atau menarik diri dari konflik adalah salah satu cara para pihak berkonflik dalam menyelesaikan konflik. Sekalipun, hal tersebut tidak sepenuhnya bisa menyelesaikan konflik. Seperti yang dialami oleh Komunitas TM, pasca konflik yang terjadi di tahun 2007, yang menyebabkan komunitas ini memisahkan diri dari GKJ TA. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah konflik, faktor-faktor penyebab pemisahan, upaya rekonsiliasi pasca pemisahan, serta menjelaskan kondisi Komunitas TM pasca pemisahan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan studi kasus. Dari hasil analisis ditemukan bahwa rekonsiliasi konflik berlangsung cukup lama. Pemisahan Komunitas TM dari GKJ TA cukup dapat meredam konflik dan menjadi harapan baru bagi Komunitas TM untuk membangun jemaat dan kembali berjalan beriringan dengan GKJ TA juga gereja-gereja se-Sinode GKJ. Dapat disimpulkan bahwa pemisahan bisa menjadi mekanisme rekonsiliasi dan membantu Komunitas TM untuk membangun keutuhan jemaat, sehingga pembangunan jemaat pasca konflik berjalan maksimal.
MAKNA PEMBEBASAN : SEBUAH REFLEKSI PEMBEBASAN BERDASARKAN KITAB ESTER Fransina Ranggalodu
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v3i2.1224

Abstract

Umat Yahudi sangat menderita dan tertekan akibat undang-undang yang telah dikeluarkan Haman meliputi seluruh negeri Persia. Penderitaan di sini adalah sebuah kata majemuk yang memperlihatkan baik kondisi fisik maupun batin umat Yahudi. Mereka adalah bangsa tawanan, masyarakat kelas dua yang tidak punya kekuatan untuk memperjuangkan nasibnya sendiri. Mereka pasrah seutuhnya pada tindakan dan karya Allah bagi kehidupan mereka. perjuangan pembebasan Ester dapat dimaknai bukan sekedar pembebasan bangsa Yahudi dari pemusnahan, tetapi juga merupakan pengangkatan hak-hak kaum tertindas, masyarakat kelas dua, bangsa yang lemah dan tak berdaya. Pembebasan itu juga bermakna sebagai kelepasan bagi kaum perempuan untuk mampu mengeluarkan hak suaranya, permohonannya didengar dan dihargai. Untuk memahami teks ini maka penulis menggunakan metode hermeneutik sosio-historis lalu akan dikaji secara teologis makna pembebasan yang terdapat dalam kitab Ester, sebab pembebasan dalam kitab Ester memiliki makna yang luas dan kompleks, yang pada akhirnya mengarah pada kebebasan yang bertanggung jawab. Pembebasan dalam Kitab Ester menginspirasi dua prinsip yang paling mendasar yang perlu dikembangkan gereja masa kini. Pertama, pengakuan atas perlu atau mendesaknya pembebasan dari setiap jenis penindasan, baik politik, ekonomi, sosial, seksual, rasial, maupun agamawi. Kedua, penegasan bahwa teologi harus tumbuh dari komunitaskomunitas basis Kristen, bukan dipaksakan dari “atas