Jurnal Ilmiah Al-Hadi
Jurnal Ilmiah Al-Hadi is a scientific publication that efforts to facilitate academic articles and scholarly writings of a number studies in empirical research in the field of Islamic Studies. Jurnal Ilmiah Al-Hadi is open to academics, students, researchers, and practitioners who are interested in contributing their thoughts, especially in the field of Islamic Education and Humanities perspective. The main focus of Jurnal Ilmiah Al-hadi is on the exploration of dynamics propagation in Islamic proselytizing, studies of social science, and the development of contemporary media in theoretical realm as well as practical one, especially the scope of local, national, and global. Sub themes and scope in the scientific publications of Jurnal Ilmiah Al-Hadi include: 1. Islamic Education 2. Islamic Studies in Social Sciences perspective 3. Humanities studies
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember"
:
12 Documents
clear
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING ( DALAM KAJIAN AQIDAH AKHLAK)
Tumiran, Tumiran
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1084
Model Creative Problem Solving adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pembelajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan ketrampilan. Model pembelajaran Creative Problem Solving siswa dapat berdiskusi kelompok, kerjasama, mandiri, memberikan ide-ide pemikiran tentang suatu konsep serta dapat mengaplikasikan melalui pembelajaran akidah akhlak yang dimana mereka lebih sopan santun, menjaga kebersihan, memberi salam, serta bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan baik itu di dalam kelas mau pun diluar kelas. Peningkatan prestasi belajar siswa berdampak lebih baik karena guru membuat system belajar siswa berkelompok kecil 4-5 orang perkelompok, dan guru menjelaskan prosedur solusi kreatif kepada peserta didik permasalahn, ilustrasi, problematis, dan tugas, pengumpulan data dan verifikasi mengenai suatu peristiwa dan siswa mencari informasi dan menjawab pertanyaan, peserta didik diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat (brain storming), baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan peserta didik, membaca referensi, maupun mencari data/informasi dari lapangan.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI DAIRI SUMATERA UTARA
Purba, Hadis
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1105
Perkembangan pendidikan Islam di Kabupaten Dairi tidak dapat terlepas dari proses masuk dan berkembangnya Islam di Kabupaten Dairi. Pendidikan Islam berkembang seiring banyaknya tokoh-tokoh pembawa Islam yang mendirikan lembaga lembaga pendidikan Islam mulai dari masjid, pesantren serta madrasah. Kondisi pendidikan Islam di Kabupaten Dairi menampakkan perkembangan yang baik bagi kemajuan penddikan Islam di tengah-tengah daerah yang mayoritas penduduknya adalah non Muslim.
REGENERASI ULAMA: ANTARA PESANTREN DAN PENDIDIKAN KADER ULAMA
Ependi, Rustam;
Penggabean, Hadi Sahputra
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1091
Peran ulama di tengah perkembangan komunitas sosial budaya yang disebabkan oleh pandangan, Asumsi dan kenyataan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tentang kemampuan keilmuan dan kealiman ulama. Pergeseran tersebut juga muncul dari sikap dan pribadi ulama tersebut secara langsung yang ditampilkannya dari peran dan pelaksanaan sosial keagamaan ulama tersebut terhadap masyarakat disatu sisi pesantren yang menerima sistem dan tuntutan perkembangan zaman. Walaupun pendidikan kader ulama mampu menjadi solusi melahirkan kompentensi seorang ulama namun di satu sisi terjadi problematika ketika berbicara legalitas alumninya ketika ingin bekerja secara formal seperti contoh Problematik kelembagaan Pendidikan Tinggi Kader Ulama sampai saat ini adalah keberadaan atau akreditasinya belum dikatakan sebagai pendidikan formal masih bersifat non formal.
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH UMUM
Daulay, Haidar Putra;
Dahlan, Zaini;
Sabri, Ali;
Fasya, Amalia
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1117
Every student's behavior, consciously or not, is always colored by values that come from the concept of religion he believes in, and always tries to instill these religious values in order to live in himself and others. Through religious education it is hoped that it can encourage students to obey their religious teachings in their daily life and make religion the ethical and moral foundation in their personal, family, community, national and state life. The problems of Islamic religious education in public schools seem to be placed in second place when compared to other subjects. Most of the students do not pay attention to focus on studying Islamic religious education. This problem is none other than the fundamental cause because Islamic religious education does not include lessons at the UN, student behavior is not a measure of starting only based on cognitive, limited hours of Islamic religious education in schools.
SISTEM PENGELOLAAN KEUANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Zulham, Zulham
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1088
Alquran mencakup berbagai macam jenis ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari manusia, tidak terkecuali ilmu tentang pengelolaan keuangan pendidikan.Pengelolaan sistem keuangan pendidikan Islam pada masa kejayaannya tercermin pada pengelolaan waqaf, dengan kata lain, pembiayaan pendidikan Islam pada waktu itu maju pesat disebabkan karena adanya dana waqaf yang dialirkan untuk kepentingan pendidikan. Sistem keuangan pendidikan Islam berbeda dengan system keuangan umum lainnya, hal yang paling membedakannya adalah adanya pertanggungjawaban terhadap Allah Swt dalam proses evaluasi keuangan.Dalam system pengelolaan keuangan pendidikan Islam terdapat pula tahap pendistribusian. Islam mengajarkan beberapa prinsip dalam mendistribusikan keuangan pendidikan yaitu : 1) tidak adanya transaksi keuangan pendidikan yang berbasis bunga, 2). Penghindaran aktifitas keuangan pendidikan yang melibatkan maysir(judi), 3). Pengenalan pajak religius atau pemberian sedekah, 4).Pelarangan produksi barang dan jasa yang bertentangan dengan hukum Islam. Setelah tahap pendistribusian maka tahap selanjutnya adalah tahap pengelolaan keuangan pendidikan Islam di antaranya : 1). Perencanaan (planning), 2). Pengorganisasian (organizing), 3).Personalia (staffing), 4).Pengkoordinasian (coordinating), 5). Pengelolaan (actuating), 6). Evaluasi (auditing). Semua bentuk tahap system pengelolaan keuangan pendidikan Islam sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan system pengelolaan keuangan pendidikan yang juga digunakan oleh system keuangan-keuangan lainnya yang non Islami akan tetapi dalam Islam lebih diutamakan nilai-nilai Islami dan lebih mengutamakan pertanggungjawaban akhirat dibandingkan dengan dunia.
VISI, MISI, TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN ISLAM
Daulay, Haidar Putra;
Dahlan, Zaini;
Wibowo, Gumilang;
Lubis, Jukni Ilman
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1118
Education is a process that is carried out consciously or deliberately in order to increase knowledge, insight and experience to determine life goals so that they can have a broad view towards a better future and with education itself can create quality people. As Western theory, educators in Islam are people who are responsible for the development of their students by trying to develop all the potential of students, both affective (feeling), cognitive (creativity), and psychomotor (intention) potential. Education is a cultural process to enhance human dignity that lasts a lifetime. Education is always developing, and always faced with changing times. Such is the cycle of development of change in education, otherwise education will be left behind by the changing times that are so fast. For that change in education must be relevant to changing times and the needs of society in that era, so it is important to design as early as possible which can be outlined in the Vision, Mission, Objectives and Functions of Islamic Education
PEMBELAJARAN BERKUALITAS MELALUI INTERAKSI EDUKATIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Manshuruddin, Manshuruddin
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1085
Interaksi edukatif yang bermakna menghadirkan informasi yang bersumber dari seorang pendidik kepada peserta didik dengan tujuan bertambahnya ilmu pengetahuan, berubahnya sikap ke arah yang lebih baik, berkembangnya keterampilan, dan berfungsinya potensi fitrah secara aktual dalam rangka mewujudkan insan kamil. Interaksi edukatif tidak hanya sekadar hubungan antara pemberi ilmu (pendidik) dan penuntut ilmu (peserta didik). Oleh karena itu tugas pendidik dalam merancang ataupun mendesain serta melaksanakan pembelajaran yang diperlukan oleh suatu pendekatan interaksi edukatif yang dapat mengembangkan dan memperkaya seluruh potensi yang dimiliki oleh masing-masing anak didik. Untuk itu guru harus piawai dalam menjembatani antara potensi yang dimiliki anak didik dengan interaksi yang dilakukan sehingga pada akhirnya akan dapat melahirkan suatu proses pembelajaran yang aktif dan kreatif serta penuh nilai dan makna. Interaksi edukatif yang baik ditandai dengan adanya rumusan tujuan yang jelas, prosedur yang tersusun, adanya respon dari peserta didik, dan peranan seorang pendidik yang dinamis, serta yang paling penting adanya perilaku yang baik. Dalam konsep Islam, interaksi edukatif tidak hanya berhenti pada tataran yang bersifat empiris, behavioristik, dan psikoanalitis yang cenderung materialistis, sekalaristik, dan hedonistik, melainkan harus dilanjutkan pada tataran visi teologis, sosiologis, dan ekologis sebagai perwujudan visi ‘abdullah dan khalifatullah.
PEMIKIRAN YUSUF QARDHAWI TENTANG KENAIKAN HARGA DALAM TRANSAKSI KREDIT
Sirait, Nilna Mayang Kencana;
Wahyuni, Sri
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1087
Kredit berasal dari bahasa Latin yang berbunyi “credere” yang berarti “kepercayaan”. Kredit juga diartikan sebagai “credo” yang berarti “saya percaya”. Kalau sekarang kita mendengar orang yang menyebut “credit”, dalam pengertian seseorang memperoleh kredit, maka berarti ia telah memperoleh kepercayaan Jadi, dapat diartikan bahwa suatu pemberian kredit terjadi, di dalam terkandung adanya kepercayaan orang atau badan yang memberikannya pada orang lain atau badan yang diberikannya dengan ikatan perjanjian harus memenuhi segala kewajiban yang diperjanjikan untuk dipenuhi pada waktunya. Sementara menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Kredit (bai’ bi taqsith) adalah menjual barang dengan pembayaran tidak tunai yang lebih mahal harganya daripada tunai dan pembeli melunasi angsuran tertentu pada waktu tertentu
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP MODEL PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM (Studi Kasus Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah Mahmudiyah)
Hasibuan, Marhan
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1086
Perkuliahan online atau yang biasa disebut daring merupakan salah satu bentuk pemanfaatan internet yang dapat meningkatkan peran mahasiswa dalam proses pembelajaran. Analisis deskriptif pada penelitian ini mengkaji persepsi mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah Mahmudiyah mengenai model pembelajaran daring terkait pemanfaatan media, gaya belajar, dan jenis komunikasi tertentu yang digemari mahasiswa untuk membantu mereka menghasilkan output yang lebih baik dari kegiatan belajar mengajar secara daring. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 33 mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam yang mengambil mata kuliah ilmu pendidikan islam yang telah terlibat dalam pembelajaran daring masa pandemi Covid-19. Hasilnya didapatkan bahwa media pembelajaran daring yang paling digemari ialah whatsapp dan Google Classroom. Sebesar 61% dari mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam yang mengambil mata kuliah ilmu pendidikan islam sudah mengenal berbagai media pembelajaran daring tersebut sebelum perkuliahan daring dimulai. Selain itu, pola komunikasi yang paling diminati oleh mahasiswa ialah pola semi dua arah. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut terhadap penelitian pembelajaran daring dengan berbasis masalah, kolaboratif, dan model lainnya.
NAFKAH ANAK SETELAH TERJADI PERCERAIAN DALAM FIKIH MAZHAB SYAFI`I DAN HUKUM POSITIF
Lubis, Sakban
Jurnal Ilmiah Al-Hadi Vol 6 No 1 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Jurnal dan Seminar Universitas Pembangunan Panca Budi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54248/alhadi.v6i1.1106
Syari`ah bermaksudamembentuk suatuaunit keluarga yangasejahtera amelalui perkawinan, namunakalau karena beberapaaalasan tujuan iniagagal, makaatidak aperlu lagiamemperpanjang harapanahampa tersebut sebagaimanaayang dipraktekkanadan diajarkanaoleh beberapa agamaalain bahwa perceraianaitu tidak adiperbolehkan. Islam menganjurkana perdamaiana di antara kedua suami istri dari pada memutuskanamereka. Namun jikaahubungan baikadiantara pasanganatak mungkin terusadilangsungkan, maka Islamapun tidak membelengguadengan suatu rantaiayang amemuakkan. Maka diizinkanlahaperceraian. Begituaantara suami istriaperbedaan gawatayangaakan membahayakana keutuhan kekeluargaana mereka, maka hendaklahaditunjukapenengah guna mempertemukan atau menghilangkan perbedaan-perbedaan tersebut mendamaikan mereka. Tidak diragukan lagi, bahwa Islam telah mengatur kehidupan keluarga. Rumahadipandang sebagaiatempat tinggal diadalamnya jiwa-jiwa manusia bertemu, berinteraksiadengan dasarakecintaan, kasih sayang, menutupakekurangan, keindahan, pemeliharaan, dan kesucian, tapi sering terbentur dengan perceraian suami istri yang akan melahirkan tanggung jawab baru yaitu nafkah terhadap pasangan juga terhadap anak yang dilahirkan dari pasangan itu. Tanggungajawab nafkahapada suami tidakahanya sewaktuadia masihamenjadi sahnyaadan terhadapaanak-anak yang dilahirkanasi istri, tetapiasuami punatetapawajib menafkahinyaabahkan padaasaat perceraian. Adaabeberapa orangayang egoisayang mungkinasalah memperlakukan istrinya dan amenyengsarakan hidupnyaaselama masa `iddah-nya. Implementasi Pemberian NafkahaAnak Dalam FikihaSyāfi`ī danaJaminan KepastianaHukum Terlaksana Dengan baik Dalamafikih Syāfi`ī aapabila seorangaperempuan ditalak suaminya bada` ad-dukhūladengan talak raj`īamaka adia berhak (wajib) amendapatkan suknāa (nafkah maskan) dananafkah `iddah, karena pada dasarnya statusnya sebagai istri (baqiyah) dan tamkīn minalaistimtā` (kemungkinan untuk bersenang-senangaatau satu rumah) masih berlanjut.