cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024" : 6 Documents clear
Induksi Ketahanan Tanaman Tomat terhadap Ralstonia syzygii subsp. indonesiensis Menggunakan Bakteri Endofit dan Asam Salisilat : Induction of Resistance in Tomato Plants Against Ralstonia syzygii subsp. indonesiensis Using Endophytic Bacteria and Salicylic Acid Nababan, Triwanto; Lisnawita, Lisnawita; Safni, Irda
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.6.263-275

Abstract

Patogen Ralstonia syzygii subsp. indonesiensis adalah penyebab penyakit layu bakteri pada tanaman tomat. Patogen ini sulit dikendalikan karena kemampuannya bertahan dalam sisa bahan inang, tanah, dan dapat menyebar dengan mudah melalui aliran air, serta menginfeksi jaringan tanaman secara sistemik. Belum ada pestisida kimia yang efektif untuk mengendalikan patogen layu bakteri. Oleh karena itu, alternatif pengendalian yang dipilih ialah dengan menggunakan bakteri endofit dan asam salisilat. Dua jenis bakteri endofit, yaitu Arthrobacter sp. dan Bacillus thuringiensis, serta asam salisilat digunakan dalam penelitian secara tunggal ataupun kombinasi untuk mengevaluasi potensinya dalam menginduksi ketahanan tanaman tomat dalam menekan penyakit layu bakteri R. syzygii subsp. indonesiensis. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap non faktorial dengan 14 perlakuan terdiri atas perlakuan tunggal dan kombinasi. Setiap perlakuan terdiri atas tiga unit tanaman dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Arthrobacter sp. dan asam salisilat yang diaplikasikan satu kali seminggu (ABAS1) merupakan perlakuan yang paling efektif untuk menginduksi ketahanan tomat. Hal ini tampak pada periode inkubasi yang paling lama, rendahnya insidensi dan keparahan penyakit, meningkatnya aktivitas enzim peroksidase, polifenoloksidase, dan jaringan xilem tidak dominan terkolonisasi patogen pada pengamatan histopatologi.
Formulasi Trichoderma dan Mikoriza Arbuskular untuk Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang pada Kelapa Sawit: Formulation of Trichoderma sp. and Arbuscular Mycorrhiza to Control Basal Stem Rot Disease in Oil Palm Sinthya E, Hana Christine; Khairani, Hagia Sophia; Sinaga, Meity Suradji; Toruan-Mathius, Nurita; Nawangsih, Abjad Asih
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.6.286-294

Abstract

Basal stem rot (G. boninense) is one of the most important diseases in oil palm. As biocontrol agents, Trichoderma spp. and arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) have been reported to inhibit the growth of G. boninense. Nevertheless, the effectiveness of those biocontrol agents is unstable due to less appropriate formulation and application. Biofungicide formulation affects the effectiveness in controlling plant diseases, the ability to proliferate and survive in the environment, the period of storage, and reduces preparation time and application cost. This research aimed to develop the formulation of Trichoderma spp., and AMF to control G. boninense. Trichoderma spp. The active ingredient has been mass-produced in millet formulated with carriers: T1 using rice bran, while T3 was combined with rice bran and oil palm empty fruit bunches (EFB) compost. AMF active ingredient has been mass producted in shorgum root, and formulated with carrier, CMA1 using zeolite. While, CMA2 combined zeolite with EFB compost. AMF applications were on seed planting, Trichoderma spp. applications were on three months seedlings. Plant material used was DXP (76 × 36.11), which is susceptible to G. boninense. Disease progress was observed from latent period, disease incidence, disease severity, infection rate (r), area under disease progress curve (AUDPC), and the AMF-Trichoderma association with plant oil palm root. CMA2 and T3 formulation showed the best result to reduce disease severity and insidence. Therefore, CMA2 + T3 was the best combination of formulation for controlling oil palm basal stem rot disease based on disease progress.
Bakteri Endofit Penghasil AHL-Laktonase Asal Tanaman Pisang untuk Pengendalian Penyakit Darah: Endophytic Bacteria Producing AHL-Lactonase from Banana Plant to Control Blood Disease Abidin, Anugrawati; Giyanto; Nawangsih, Abdjad Asih
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.6.276-285

Abstract

Penyakit darah yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum Phylotype IV merupakan penyakit penting pada pisang yang menyebabkan kehilangan hasil hingga 100%. Bakteri R. solanacearum mengekspresikan gen virulensi melalui mekanisme quorum sensing (QS) dengan menggunakan asil homoserin lakton (AHL) sebagai autoinducer. Enzim AHL laktonase diproduksi oleh bakteri dan memiliki potensi sebagai agens biokontrol bakteri patogen melalui anti-QS. Tujuan dari penelitian ini ialah memperoleh isolat bakteri endofit penghasil AHL laktonase untuk pengendalian R. solanacearum pada tanaman pisang. Tahapan penelitian mencakup isolasi dan seleksi bakteri endofit asal tanaman pisang sebagai penghasil AHL laktonase dengan bioassay maupun molekuler, uji keefektifan isolat bakteri dalam menekan faktor virulensi R. solanacearum, uji keefektifan pengendalian R. solanacearum in planta, dan identifikasi molekuler isolat bakteri potensial. Isolasi bakteri endofit berhasil dilakukan dari sampel pisang asal Bogor di tiga kecamatan, yaitu Cisarua, Dramaga, dan Jonggol yang terdiri atas lima jenis pisang masing-masing menghasilkan 152, 204, dan 130 isolat bakteri endofit. Uji lebih lanjut menggunakan Chromobacterium violaceum sebagai bioindikator menunjukkan lima isolat dengan aktivitas anti-QS. Deteksi gen aiiA dengan PCR menggunakan primer spesifik menunjukkan bahwa kelima isolat memiliki amplikon berukuran 753 pb dan telah dikonfirmasi melalui sekuensing sebagai gen aiiA. Kelima isolat bakteri tersebut CBP1, DBT17, DBT7, DBK2, dan CBN13 mampu menekan pembentukan ekstraseluler polisakarida (EPS) yang dihasilkan R. solanacearum dengan persentase penekanan masing-masing sebesar 75.67%, 90.81%, 87.67%, 92.72%, 81.08%, dan mampu menghambat gejala layu sebagai salah satu gejala penyakit darah pada tanaman pisang. Hasil perunutan gen aiiA menunjukkan bahwa kelima isolat homolog dengan Bacillus cereus, B. thuringiensis, B. substilis, B. amyloliquefaciens.
Peran Trichoderma spp. sebagai Agen Biokontrol pada Penyakit Rebah Semai dan Biostimulan Kedelai: The Role of Trichoderma spp. as a Biocontrol Agent of Damping Off Disease and Soybean Biostimulant Maknunin, Lu'lu'il; Abdul Latief Abadi; Fery Abdul Choliq
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.6.304-314

Abstract

The Role of Trichoderma spp. as a Biocontrol Agent of Damping Off Disease and Soybean Biostimulant   Domestic demand for soybeans in Indonesia continues to increase each year, yet the average production has declined. To meet national needs, the government must even import soybeans. One of the causes of low soybean production is damage from plant pests and diseases, particularly damping-off caused by Sclerotium rolfsii, which can lead to total plant death under severe infection. One promising, environmentally friendly, and cost-effective approach to disease management is the use of biological control agents such as Trichoderma spp., which function not only as biocontrol agents but also as biostimulants. This research was conducted at the Plant Pest and Disease Laboratory, Faculty of Agriculture Brawijaya University and Central Laboratory of BALITKABI for in vitro experiments and in vivo study located at a greenhouse of Agriculture Experimental Land Brawijaya University, Jatimulyo, Lowokwaru, Malang. A completely randomized design was used with five treatments and five replications. Applications of Trichoderma harzianum and T. asperellum, either individually or in combination, successfully reduced the incidence and severity of damping-off disease by 14% to 26.6% under field conditions. These treatments also increased the total phenolic content of the plants, indicating enhanced resistance, thus supporting the role of Trichoderma as an effective biocontrol agent. In addition, the combined application of Trichoderma species significantly increased the number of soybean leaves, indicating a biostimulant effect.
Keefektifan Tumbuhan Rorippa indica sebagai Biofumigan untuk Pengendalian Nematoda Puru Akar pada Tanaman Mentimun: Effectiveness of Rorippa indica as a Biofumigant for Controlling Root Knot Nematodes on Cucumber Plants Bramasta, Muhammad Willy; Supramana; Abdul Munif
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.6.295-304

Abstract

Meloidogyne spp. merupakan nematoda parasit penting pada berbagai tanaman yang menyebabkan gejala penyakit seperti puru akar, kerdil, daun menguning, dan tanaman menjadi layu. Nematisida botani memiliki potensi menjanjikan sebagai metode pengendalian nematoda. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi Rorippa indica sebagai biofumigan dalam mengendalikan nematoda puru akar (Meloidogyne incognita). Percobaan biofumigasi dilakukan melalui 2 tahapan, yaitu percobaan laboratorium dan rumah kaca dengan masa inkubasi selama 14 hari untuk proses biofumigasi. Percobaan di laboratorium menggunakan polibag berisi 100 g tanah yang diinfestasi 100 juvenil 2 (J2) M. incognita sebelum perlakuan biofumigasi. Potongan batang, daun, dan seluruh bagian tumbuhan R. indica dicampurkan pada polibag dengan bobot bahan 1.3, 2.3, dan 3.9 g sebagai perlakuan. Percobaan di rumah kaca dilakukan dengan menambahkan potongan R. indica dengan bobot bahan 150 g per polibag yang berisi 3 kg tanah dan telah diinfestasi 300 J2 M. incognita. Tanaman mentimun berumur 7 hari setelah semai dipindahkan ke dalam polibag yang telah dibiofumigasi dan diamati selama 6 minggu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa biofumigasi menggunakan R. indica dalam skala laboratorium terbukti efektif mengurangi populasi nematoda sebesar 87%, sedangkan pada skala rumah kaca menyebabkan perbedaan pembentukan puru yang signifikan dibandingkan perlakuan kontrol. Hal ini berkaitan dengan hasil analisis GC-MS yang menunjukkan kandungan terpenoid pada ekstrak R. indica. Perlakuan R. indica dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun dibandingkan kontrol.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 20 No. 6, November 2024: Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 20 No. 6, November 2024 Editors Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.6.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Jurnal Fitopatologi Vol. 20 No. 6, November 2024.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue