cover
Contact Name
Theodorus Miraji
Contact Email
jojo.luvjesus@gmail.com
Phone
+6282134184629
Journal Mail Official
jurnalberea@gmail.com
Editorial Address
Jalan Cemara No.72 Salatiga
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta
ISSN : 27164322     EISSN : 27162834     DOI : https://doi.org/10.37731/log.v2i1.47
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta adalah jurnal nasional yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Berea dan berfokus pada isu-isu kebaruan Teologi Pentakosta. Sebagai wadah publikasi, LOGIA menerima hasil penelitian ilmiah para akademisi dan praktisi. Semua artikel yang masuk akan di-review oleh reviewer yang ahli di bidangnya dengan menerapkan proses double blind review. Jurnal yang terbit 2 kali setahun ini (Juni dan Desember) memiliki scope: Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Kristen yang semuanya memiliki ciri khas Pentakosta
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 102 Documents
Homili Dalam Kontek Budaya: Pewartaan Firman Tuhan di Suku Mentawai Pedalaman mayer rubeian meyer_rubeian
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.236

Abstract

Dalam artikel ini membahas tentang relevansi universal pesan Alkitab di berbagai situasi dan kondisi, serta pentingnya penyampaian homili oleh gereja. Homili sangat penting karena merupakan bagian esensial dalam ibadah, alat pembinaan iman, dan sarana penginjilan. Pengajaran sebagai pesan Alkitab dilakukan dalam penyampaian Firman Tuhan pun jelas dan tepat sesuai isi Alkitab. Homili merupakan bagian utama di dalam ibadah, dan mengandung pesan Amanat Agung dan kerohanian, dalam berinteraksi dengan adat dan tradisi lokal, homili dalam konteks budaya memperkaya pengalaman kerohanian. Tokoh awal seperti Origenes mempopulerkan homili sebagai penjelasan kitab suci dalam gereja. Di Kepulauan Mentawai, homiletika mendukung komunitas suku pedalaman yang terisolasi, memberi identitas keagamaan dan nilai-nilai budaya umat. Pelayanan melalui ibadah yang dilakukan oleh gereja melalui persekutuan, pengajaran, dan pelayanan, dan berperan dalam membangun iman jemaat. Pendekatan homiletika yang kontekstual dalam suatu budaya memungkinkan gereja, khususnya di Mentawai menjadi tempat bagi pertumbuhan iman yang lebih dalam dengan Tuhan, memperkuat hubungan individu antar individu dalam  memahami adat-istiadat dan budaya bagi kemulian Tuhan.
Teologi Ambivalensi Monarki Awal: Dialektika Otoritas Ilahi dan Inisiatif Manusia dalam 1 Samuel 8-12 Binsar Pandapotan Silalahi; Kezia Sharon Kurniawan
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.319

Abstract

This article analyzes the ambivalence of monarchy in 1 Samuel 8-12 by emphasizing the dynamic relationship between YHWH and Saul as the first king of Israel. This narrative presents the monarchy as an institution born of tension: on the one hand, it was requested by the people as a rejection of divine rule, but on the other hand, it was facilitated through Saul's anointing by the prophet Samuel. Previous studies have focused more on historical, literary, or ethical dimensions, thus not paying particular attention to the theological-ambivalent aspects of the early monarchy. The novelty of this research lies in placing 1 Samuel 8-12 as the main locus for examining the dialectic between divine authority and human initiative. This study uses the method of narrative exegesis of the Masoretic text to examine the literary structure, repetition of key diction, and patterns of relationships in the narrative. The results of the analysis show that the early monarchy is narratively positioned as an ambivalent institution, which is both legitimized and criticized, thus forming a theological strategy that affirms the limitations of human power within the framework of its relationship with divine authority.
Pentakosta Sebagai Transformasi Karakter Orang Percaya: Kajian Etnoskopik Dalam Kisah Para Rasul 2:1-11 Aska Aprilano Pattinaja
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.310

Abstract

Tujuan penelitian ini, adalah untuk mengkaji peristiwa Pentakosta sebagai transformasi karakter  yang mengubahkan para murid yang biasa menjadi pemberita injil yang luar biasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode etnoskopik untuk mengkaji kisah Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2:1-11 melalui empat lensa utama: budaya, Kitab Suci, misiologis, dan pendidikan. Temuan utama dari kajian ini adalah bahwa peristiwa Pentakosta tidak hanya sebagai awal misi gereja, tetapi juga sebagai titik transformasi karakter murid-murid untuk menjadi pemberita injil. Penelitian ini menemukan, empat karakter penting, yakni: pertama, karakter kerendahan hati interkultural; kedua, karakter solidaritas lintas batas; ketiga, karakter keberanian profetik; dan keempat, karakter inklusivitas kasih. Diharapkan karakter-karakter ini, menjadi aspek penting yang bisa diadopsi oleh gereja dan orang percaya untuk mengalami transfromasi karakter dalam bermisi.
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk Etika Pada Anak Usia Dini Ruhut Parningotan Tambunan
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.304

Abstract

Abstrak:Pendidikan agama Kristen sangat penting dalam membentuk etika anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pendidikan agama Kristen dapat berkontribusi pada perkembangan nilai-nilai etika pada anak-anak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis literatur, penelitian ini mengeksplorasi metode dan strategi dalam pendidikan agama Kristen untuk mengajarkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan rasa hormat. Metode yang digunakan termasuk cerita Alkitab, lagu-lagu rohani, dan kegiatan kreatif, yang sangat efektif dalam mengajarkan prinsip-prinsip etika Kristen. Studi ini menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas gereja sebagai ekosistem holistik untuk mendukung pembelajaran moral anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen efektif dalam membantu anak membuat keputusan yang beretika dan bertanggung jawab sejak dini. Keunikan penelitian ini terletak pada pendekatan kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan gereja sebagai ekosistem holistik. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran interaktif berbasis kasih menciptakan pengalaman belajar yang mendalam dan relevan bagi anak usia dini, yang belum banyak dibahas dalam kajian sebelumnya.Kata Kunci: Pendidikan Agama Kristen, Etika, Anak Usia Dini
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN TERHADAP UPAYA MODERASI BERAGAMA PADA MULTIKULTURALISME PESERTA DIDIK YAYASAN RUMAH BELAJAR BABA jhonnedy Kolang Nauli Simatupang
Logia Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.229

Abstract

Penelitian ini meneliti peran pendidikan agama Kristen dalam membangun moderasi beragama di Yayasan Rumah Belajar Baba, Kabupaten Bogor, yang menghadapi masyarakat multikultural. Metode kualitatif digunakan, termasuk wawancara dengan guru, peserta didik, dan orangtua/wali, serta observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen di Yayasan Rumah Belajar Baba ini menghadapi tantangan dalam mengajarkan nilai-nilai Kristen sambil mengakui keberagaman peserta didik. Kasus intoleransi, seperti perundungan dan kekerasan verbal, mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih inklusif. Selain itu, pengaruh negatif dari lingkungan sosial radikal juga terdeteksi.Pembahasan menunjukkan bahwa meskipun kurikulum pendidikan agama Kristen telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama seperti toleransi, keadilan, dan empati, masih diperlukan penyesuaian untuk memastikan materi ajar mencerminkan keberagaman dan memfasilitasi dialog antarbudaya. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pelatihan bagi pendidik, pembaruan materi ajar, dan keterlibatan aktif dengan komunitas lintas agama. Dengan langkah-langkah ini, pendidikan agama Kristen di Yayasan Rumah Belajar Baba diharapkan dapat lebih efektif dalam mempromosikan moderasi beragama dan menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis dan inklusif.
Iri Hati dan Cemburu sebagai Masalah Spiritual : Analisis Teologis dan Pendekatan Konseling Pastoral Alvin Alvin; Juliana Hindradjat
Logia Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i2.340

Abstract

Iri hati dan cemburu merupakan masalah spiritual yang berdampak luas pada kehidupan individu, relasi sosial, dan pertumbuhan rohani. Jurnal ini menganalisis akar teologis dari iri hati dengan menelaah contoh-contoh Alkitabiah seperti Kain dan Habel, serta ajaran Perjanjian Baru mengenai hidup dalam kasih. Kajian ini menunjukkan bahwa iri hati bukan sekadar emosi negatif, tetapi ekspresi ketidakpuasan terhadap kedaulatan Allah serta ketidakmampuan mengenali nilai dan keunikan diri sebagai ciptaan-Nya. Melalui pendekatan konseling pastoral, jurnal ini mengusulkan tiga prinsip utama untuk proses pemulihan, yaitu penerimaan diri, pertobatan, dan pemulihan identitas. Prinsip-prinsip tersebut membantu individu melepaskan pola pikir  “God owes me” sebagaimana dijelaskan Andy Stanley, dan kembali pada kasih karunia Allah yang membebaskan. Selain itu, jurnal ini menawarkan strategi pastoral praktis berupa refleksi Alkitab, doa, serta pendampingan dalam komunitas sebagai sarana transformasi. Keseluruhan pembahasan menegaskan bahwa pemulihan dari iri hati merupakan proses holistik yang melibatkan pembaharuan pikiran, penyucian hati, dan pertumbuhan dalam komunitas rohani. Dengan demikian, konseling pastoral berperan penting dalam menolong individu mengalami pemulihan relasional dan hidup kembali dalam kasih Kristus.
MAKNA MENJADI BEJANA YANG TERHORMAT DALAM 2 TIMOTIUS 2:20-22 TERHADAP GENERASI Z DI GEREJA SIDANG JEMAAT KRISTUS WILAYAH SURABAYA TIMUR Ritwan Imanuel Tarigan
Logia Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i2.348

Abstract

AbstrakPenelitian ini menyoroti penurunan kualitas kerohanian Generasi Z di Gereja Sidang Jemaat Kristus (GSJK) Wilayah Surabaya Timur, yang mencakup 32,68% jemaat. Hanya 37% memiliki rutinitas membaca Alkitab dan 30% memiliki waktu doa pribadi Padahal dalam 2 Timotius 2:20–22, Rasul Paulus menekankan pentingnya menjadi bejana yang terhormat, yakni pribadi yang disucikan dan layak dipakai untuk pekerjaan Tuhan. Tuntutan akan kehidupan yang kudus dan terpisah dari pengaruh jahat menjadi sangat relevan dalam membina spiritualitas Generasi Z yang hidup dalam arus budaya digital, instan, dan konsumtif. Penelitian ini bertujuan menggali makna teologis bejana yang terhormat serta implementasinya bagi Generasi Z. Metode kualitatif teologis digunakan melalui studi pustaka dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memahami bejana terhormat sebagai pribadi yang hidup kudus, berintegritas, dan meneladani Kristus. Implementasi nyata diwujudkan dalam disiplin rohani, pengelolaan teknologi secara bijak, serta komitmen hidup sesuai ajaran iman Kristen.Kata Kunci: bejana yang terhormat, generasi Z, disiplin rohani 
Kasus Kehamilan Pra-Nikah Ditinjau dari Perspektif Pentakosta: Implikasinya bagi Pendampingan Pastoral Gereja Slamet Riyadi; Kalis Stevanus
Logia Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i2.368

Abstract

Fenomena pasangan muda dalam kasus kehamilan di luar nikah perlu mendapat perhatian serius dari panggilan pastoral gereja. Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan pendampingan pastoral gereja terhadap pasangan muda dalam kasus kehamilan pra-nikah ditinjau dari perspektif Pentakosta dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan juga analisis biblika terhadap teks Alkitab. Disimpulkan bahwa secara biblika hubungan seksual di luar pernikahan adalah dosa karena menyimpang dari rancangan kudus Allah, tetapi dosa tidak menghapus martabat manusia sebagai imago Dei. Allah yang kudus sekaligus penuh kasih menyediakan keselamatan melalui karya Kristus, dan gereja dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan pemulihan. Penggembalaan yang alkitabiah perlu menegakkan kekudusan, menuntun pada pertobatan, dan memberikan pendampingan yang restoratif serta holistik mencakup aspek rohani, psikologis, relasional, dan tanggung jawab terhadap anak yang dikandung seraya menerima anak yang lahir sebagai kehidupan dalam providensia Allah. Dengan demikian gereja merefleksikan hati Kristus Sang Gembala Agung: menegur dosa, mengampuni yang bertobat, memulihkan yang jatuh, dan membimbing kepada hidup yang baru sebagai bagian dari karya penebusan Allah yang memulihkan manusia secara utuh.Kata-kata kunci: pendampingan pastoral; pasangan muda; kehamilan pra-nikah; perspektif Pentakosta
Kekerasan Terhadap Perempuan Sebuah Tanggapan dari Perspektif Teologi Kristen Firman Panjaitan; Dwi Ratna Kusumaningdyah
Logia Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i2.369

Abstract

This research is motivated by the persistent strength of patriarchal culture in Indonesia, which places women in subordinate positions and makes them vulnerable to violence, both in domestic and social spheres. This condition not only limits women’s roles but also affects their representation and participation in various aspects of life. The study aims to examine in depth the Christian faith’s response to violence experienced by women and to formulate contextual theological and practical solutions. The method employed is qualitative research using a literature review approach and theological-critical analysis of biblical texts and related literature. The findings indicate that Christian faith essentially affirms the equality and dignity of women. In conclusion, the church is called to take a prophetic stance, accompany victims, and promote just and equitable social transformation.
Teologi Roh Kudus dalam Pengakuan Iman Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dan Relevansinya bagi Spiritualitas Gereja Lokal David Piter Piter Pasaribu
Logia Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i2.327

Abstract

Artikel ini menelaah pemahaman teologi Roh Kudus dalam Pengakuan Iman Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) serta relevansinya terhadap spiritualitas gereja lokal. Melalui pendekatan teologis-biblis dan kajian pustaka, penelitian ini menelusuri konsep Roh Kudus sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab dan dirumuskan dalam Pengakuan Iman GPdI. Hasil kajian menunjukkan bahwa Roh Kudus dipahami sebagai Pribadi ilahi yang aktif dalam kelahiran baru, baptisan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, dan pengudusan hidup. Pemahaman ini mencerminkan keseimbangan antara pengalaman kuasa (power experience) dan transformasi karakter (holy living). Sejalan dengan Horton (1994), baptisan Roh Kudus dipahami bukan sekadar tanda pengalaman rohani, melainkan sarana Allah untuk memperlengkapi orang percaya dalam pelayanan yang efektif. Sementara itu, Ervin (1984) menegaskan pentingnya pengalaman Roh Kudus yang sejati sebagai wujud relasi personal dengan Allah yang menghasilkan ketaatan dan kesucian hidup. Dengan demikian, teologi Roh Kudus dalam Pengakuan Iman GPdI tidak hanya menegaskan keilahian Roh Kudus secara doktrinal, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi spiritualitas gereja lokal—mendorong ibadah yang dinamis, pelayanan yang berkuasa, dan karakter jemaat yang serupa dengan Kristus. 

Page 10 of 11 | Total Record : 102