cover
Contact Name
Theodorus Miraji
Contact Email
jojo.luvjesus@gmail.com
Phone
+6282134184629
Journal Mail Official
jurnalberea@gmail.com
Editorial Address
Jalan Cemara No.72 Salatiga
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta
ISSN : 27164322     EISSN : 27162834     DOI : https://doi.org/10.37731/log.v2i1.47
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta adalah jurnal nasional yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Berea dan berfokus pada isu-isu kebaruan Teologi Pentakosta. Sebagai wadah publikasi, LOGIA menerima hasil penelitian ilmiah para akademisi dan praktisi. Semua artikel yang masuk akan di-review oleh reviewer yang ahli di bidangnya dengan menerapkan proses double blind review. Jurnal yang terbit 2 kali setahun ini (Juni dan Desember) memiliki scope: Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Kristen yang semuanya memiliki ciri khas Pentakosta
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 89 Documents
MENGENAL IDENTITAS “DUA SAKSI ALLAH” DALAM KITAB WAHYU 11:3-6 DAN RELEVANSI BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI Bobo, Kornelis Ruben
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.200

Abstract

Artikel ini merupakan suatu penelitian tentang “Dua Saksi Allah” dalam Wahyu 11:3-6.  Teks ini merupakan salah satu bagian dalam kitab Wahyu yang menjadi perdebatan oleh berbagai kelompok penafsiran.  Banyaknya perdebatan identifikasi kedua saksi Allah tersebut, membatasi penulis paling tidak terdapat dua kelompok utama yang mempunyai penafsiran yang berbeda-beda terhadap topik tersebut.  Pertama, kelompok yang menafsirkan bahwa kedua saksi Allah adalah kedua figur eskatologis dalam Perjanjian Lama yaitu: Elia dan Henokh, juga Elia dan Musa.  Kedua, kelompok yang menafsirkan bahwa kedua saksi Allah adalah kedua figur historis dalam Perjanjian Baru yaitu Petrus dan Paulus.  Melalui proses studi eksegesis dengan pendekatan historico-gramatical ditemukan ternyata kedua saksi Allah tersebut sebagai simbol perwakilan gereja, orang percaya yang dengan suara kenabian akan menyampaikan berita Allah meskipun di tengah-tengah penganiayaan.
Mutu Kepemimpinan Gembala Sidang dalam Peningkatan Pelayanan di Gereja Kemah Injil Kingmi ditanah Papua Jemaat Bukit Zaitun Sorong Anouw, Yulian; Oheiwutun, Korneles Viktor
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.102

Abstract

Abstrak Hamba Tuhan dalam peranan sebagai pemimpin di Gereja Pentakosta Klasis Kota Sorong perlu mewujudkan kepemimpinan yang bermutu dalam pelayanan melalui pengajaran Alkitab dan pembinaan rohani bagi jemaat menuju peningkatan pelayanan yang berdampak positif terhadap pertumbuhan iman. Namun pada kenyataannya pemimpin masih kurang dalam meningkatkan pelayanan pertumbuhan iman seperti yang diharapkan bersama dalam pelayanan gereja. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor penyebab kurangnya peningkat pelayanan oleh pemimpin dan juga untuk mengetahui bagaimana pemimpin yang bermutu dalam peningkatan pelayanan. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, populasi 100 orang dan sampel 30 orang, dengan teknik observasi, studi pustaka dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah pemimpin lebih maksimal dalam mewujudkan peningkatan pelayanan yang berdampak kepada perkembangan dan pertumbuhan iman dan juga para pemimpin harus meningkatkan mutu kepribadiannya sebagai pemimpin melalui peningkatan pengetahuan teologi baik secara formal dan non formal agar pelayanan lebih efektif menuju perkembangan gereja dan pertumbuhan iman.
Peranan Mujizat Allah Berdasarkan Kisah Para Rasul 2:41-47 dalam Pertumbuhan Gereja Mula-Mula Widiarto, Eko
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.138

Abstract

Gereja merupakan sebuah organisme yang hidup, bukan mati sebaliknya menjadi gereja sehat yang secara alami pasti mengalami pertumbuhan. Demikian juga yang dicatat oleh Kisah Para Rasul tentang pertumbuhan gereja mula-mula salah satu bagiannya dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dengan adanya peran mujizat Allah sebagaimana ditegaskan Kisah Para Rasul 2:43, “maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda” yang terjadi yang disaksikan oleh orang banyak itu percaya kepada Yesus Kristus, “…Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan dengan orang yang diselamatkan”(Kisah Para Rasul 2:47) yang secara langsung memberikan gambaran signifikan dalam pertumbuhan gereja mula-mula yang melaksanakan pemberitaan Injil tentang Kerajaan Allah seperti yang diajarkan Yesus. Dan, penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menitikberatkan pada kajian literatur atau studi pustaka berkaitan dengan intepretatif atau penafsiran Kisah Para Rasul 2:41-47 ditemukan adanya peranan mujizat Allah dalam pertumbuhan gereja mula-mula. Kesimpulan akhir didapati bahwa mujizat Allah terjadi terlihat signifikan dalam pertobatan jiwa massal sehingga adanya penambahan orang yang diselamatkan dan bentuk yang terlihat adanya kesembuhan atas orang-orang sakit dan terganggu roh jahat di tengah-tengah persekutuan gereja mula-mula. Dan, inilah gambaran pertumbuhan gereja mula-mula karena peran mujizat Allah yang terjadi. Kata-kata kunci: Gereja Mula-mula; Mujizat Allah; Roh Kudus. AbstractThe church is a living organism, not dead, on the contrary, it becomes a healthy church that naturally experiences growth. Likewise, what is recorded by the Acts of the Apostles about the growth of the early church, one of its parts in Acts 2:41-47 with the miraculous role of God, as emphasized in Acts 2:43, "then they were all afraid, while the apostles it performed many miracles and signs” that occurred which was witnessed by the crowd believing in Jesus Christ,“…And every day the Lord increased their number with those who were being saved” (Acts 2:47) which directly gives a picture significant in the growth of the early church that carried out the preaching of the Gospel about the Kingdom of God as taught by Jesus. And this research uses a qualitative method that focuses on literaturestudy related to the interpretative or interpretation of Acts 2: 41-47 41-47 found the role of God's miracles in the growth of the early church. The final conclusion was that God's miracles were seen to be significant in the conversion of mass souls so that there were additional people being saved and visible forms of healing for sick people and visible forms of healing for sick people and disturbed by evil spirits in the midst of the early church fellowship.  And, this is a picture of the growth of the early church because of the role of God's miracles that happened.Keywords: Early Church; God's miracles; The Holy Spirit.
Ajaran Penggembalaan Berdasarkan 1 Timotius 4:1-16 dan Implikasinya Bagi GESBA SHALOOM TAAS, Manado Ngamon, Daud A; Pangkey, Lidya Naomi; Nendissa, Julio Eleazer
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 6, No 1 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v6i1.224

Abstract

Ajaran pelayanan penggembalaan wajib dilakukan oleh seorang gembala sidang sehingga bisa mencapai tujuan sebagai hamba Tuhan. Oleh karena itu, penelitian ini penting mempelajari ajaran-ajaran tentang etika pelayanan penggembalaan yang berlandaskan pada 1 Timotius 4:1-16. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ajaran-ajaran dan etika pelayanan penggembalaan 1 Timotius 4:1-16 bagi sidang gembala di Gesba Shaloom Taas Manado. Tulisan ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutik serta mengumpulkan data berupa wawancara. Penelitian ini mendapati adanya ajaran-ajaran dan etika pelayanan penggembalaan yang berdasarkan pada 1 Timotius 4:1-16 sehingga mendapatkan data terkait tujuan pelayanan bagi gembala sidang, tahap-tahap pelayanan gembala sidang, dan implikasi bagi gereja Gesba Shaloom Taas Manado.
Relevansi konsep Manusia Durhaka dalam 2 Tesalonika 2:1-12 terhadap Etika dan Moral Kontemporer: Suatu Tinjauan Interdisipliner Malonak, Rio Malonak
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.167

Abstract

manusia Durhaka
Studi Eksegesis Kisah Para Rasul 19:2a “Sudahkah Kamu Menerima Roh Kudus, Ketika Kamu Menjadi Percaya?” Bobo, Kornelis Ruben
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.151

Abstract

Abstraksi:Karya tulis ini merupakan suatu studi ekesegesis terhadap Kisah Para Rasul 19:2a, yang berbunyi, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?”  Tujuan utama penulisan karya tulis ini adalah untuk mengetahui apakah pengalaman “menerima Roh Kudus terjadi seketika itu juga waktu seseorang menjadi percaya kepada Yesus (bersamaan)?  Atau justru sesuatu pengalaman yang langsung mengikuti setelah seseorang menjadi percaya kepada Yesus?  Atau ada selang beberapa waktu kemudian setelah seseorang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus?  Proses penulisan karya tulis ini akan menggunakan studi pustaka secara eksegetikal - historikal.  Setelah mengerjakan karya tulis ini, ditemukan bahwa pengalaman menerima Roh Kudus terjadi setelah seseorang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus.  Jadi, pengalaman menerima Roh Kudus merupakan sesuatu pengalaman yang mengikuti setelah seseorang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus.  Hanya, tidak dapat dipastikan apakah pengalaman itu sesuatu yang langsung terjadi atau masih dalam beberapa waktu kemudian setelah seseorang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus.  Namun, berdasarkan studi eksegesis, pengalaman menerima Roh Kudus terjadi setelah (bukan bersamaan - ketika) seseorang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus.  Jadi, jika kita terjemahkan Kisah Para Rasul 19:2a akan berbunyi demikian, “Dan dia [Paulus] berkata kepada mereka [beberapa orang murid]: apakah kamu sekalian telah menerima Roh Kudus,  [sesudah] kamu sekalian sungguh-sungguh percaya?   AbstractThis paper is an exegetical study of Acts 19:2a, which reads, "Have you received the Holy Spirit when you believed?" There is one reason why this text needs to be studied, namely the absence of the word "when" in the Greek text. While the LAI, NIV (New International Version), NASB (New American Standard Bible), RSV (Revised Standard Version) translate with when (when, when, when). However, there are also some English Bibles such as the KJV (Kings James Version), WBT (Webster's Bible Translation) which translate with since (since, after, after). This difference in translation makes us ask what the translation of the original Greek text actually sounds like. A further question, after knowing the original Greek text, is whether the experience of receiving the Holy Spirit occurs when someone believes in Jesus (at the same time - right away) or is it an experience that occurs after someone believes in Jesus. Through writing this paper, it can be seen whether the experience of "receiving the Holy Spirit occurs immediately when a person believes in Jesus (simultaneously)? Or is it actually an experience that immediately follows after someone believes in Jesus? Or does it take some time after someone believes in the Lord Jesus? Writing this paper will use qualitative methods. After completing this paper, it was discovered that the experience of receiving the Holy Spirit occurs after a person believes in the Lord Jesus. The experience of receiving the Holy Spirit is an experience that follows after a person believes in the Lord Jesus. However, it cannot be ascertained whether the experience was something that happened immediately or some time later after someone believed in the Lord Jesus. However, based on exegetical studies, the experience of receiving the Holy Spirit occurs after (not simultaneously - when) someone believes in the Lord Jesus. So, if we translate Acts 19:2a it will read like this, “And he [Paul] said to them [some of the disciples]: Have you all received the Holy Spirit, [after] you truly believed?Keywords: Exegesis, Receive the Holy Spirit, When, Believe.
GEREJA DAN TANTANGAN BERTEOLOGI DALAM MASYARAKAT YANG SEMAKIN SEKULER Sinaga, Ramlon; Duha, Sang Putra Immanuel
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.192

Abstract

Kemajuan pesat sekularisme di berbagai belahan dunia menghadirkan serangkaian tantangan kompleks bagi gereja dalam menjalankan misinya, termasuk dalam ranah teologi. Artikel ini mengkaji secara mendalam beberapa tantangan utama yang dihadapi gereja dalam konteks masyarakat sekuler, serta menawarkan solusi potensial yang dilandasi oleh pemahaman teologis yang kontekstual dan metodologi yang aplikatif. penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena sekularisme dan dampaknya terhadap gereja dan teologinya di Indonesia. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang tantangan yang dihadapi gereja dalam berteologi di tengah gelombang sekularisme. Data diperoleh dari berbagai sumber yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja perlu mengembangkan strategi yang efektif untuk tetap relevan dan efektif dalam pewartaan Injil di tengah masyarakat yang semakin mengarah ke arah sekularisme. Beberapa solusi yang disarankan termasuk kontekstualisasi teologi, pembinaan iman yang kuat, dialog dan penghormatan, pelayanan yang relevan, dan kesaksian pribadi yang hidup. tulisan ini juga membahas dampak sekularisme dalam masyarakat modern dan gejala sekularisme yang terjadi di dalam tubuh gereja. Diharapkan penelitian ini dapat membantu gereja menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan membangun hubungan yang lebih positif dan bermakna dengan masyarakat di sekitarnya.
Konsep Materialitas Keselamatan Dalam Teologi Pentakosta Klasik Bobo, Kornelis Ruben
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.154

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah deskripsi tentang dimensi materialitas keselamatan dalam teologi Pentakosta Klasik.  Teologi Pentakosta Klasik meyakini bahwa dimensi materialitas keselamatan Allah di dalam Kristus tidak hanya menyelamatkan manusia dari dosa dan pelanggaran, tetapi juga menyembuhkan tubuh secara menyeluruh dari segala sakit penyakit, kuasa setan, penderitaan dan kemiskinan serta realisasi sebahagian dari kerajaan Allah dalam kehidupan orang percaya melalui tanda-tanda dan mujizat.  Konstruksi Kristologi Pentakosta Klasik ini bertolak dari apa yang disebut dengan Full Gospel, yakni Kristus sebagai Penyelamat, Penyembuh, Pembaptis dan Raja yang akan segera datang.  Adapun tindakan dan perubahan sosial yang dilakukan oleh Pentakosta Klasik sebagai bentuk implikasi dan kesaksian iman serta komitmen mereka kepada Kristus.  Mereka sungguh diberdayakan oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil, bersaksi dan melakukan pelayanan-pelayanan sosial yang non-spritual.  
Kajian Teologis Konsep Kasih Terhadap Sesama dalam Injil Lukas 10:25-37 dan Relevansinya untuk Yayasan Aleng, Yulius
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.146

Abstract

Karya tulis ini membahas konsep kasih terhadap sesama dalam Injil Lukas 10:25-37 dan relevansinya untuk Yayasan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas implikasi teologis dan praktis dari konsep kasih terhadap sesama dalam injil Lukas 10:25-37 serta menarik relevansinya dengan Yayasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan peneliti sebagai instrumen utama dalam pengumpulan dan analisis data. Data dikumpulkan melalui studi pustaka buku dan jurnal yang relevan dengan judul artikel serta analisis teologis terhadap injil Lukas 10:25-37. Penelitian ini jmenunjukkan bahwa kasih tulus, sebagaimana tercermin dalam tindakan Orang Samaria, menjadi esensial dalam praktek kehidupan Kristen. Dalam konteks ini, analisis teologis menegaskan pentingnya menyatukan pengetahuan dengan tindakan, menekankan peran keterlibatan aktif dalam pemikiran dan perilaku. Temuan dan diskusi mengungkapkan bahwa konsep kasih terhadap sesama dalam injil Lukas tersebut menyoroti pentingnya kasih sebagai dasar untuk tindakan kepedulian pada sesama. Perumpamaan orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37 menggambarkan motif kasih yang terwujud dalam praktek ketulusan dan tanpa pamrih sebagai landasan perilaku terhadap sesama yang dapat dijadikan konstruksi teologis untuk mendasari relevansi penerapannya di Yayasan, sehingga sebagai organisasi nirlaba yang berorientasi sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, konsep kasih demikian sangat relevan menjadi nilai inti yang dapat mendorong pencapaian tujuan nirlabanya. Kata kunci : Kasih, Sesama, Injil Lukas, Yayasan. ABSTRACTThis paper delves into the concept of love for others as presented in the Gospel of Luke 10:25-37 and its relevance to Foundations. The study aims to explore the theological and practical implications of the concept of love for others in Luke 10:25-37 and draw its relevance to Foundations. Employing a qualitative descriptive approach, the researcher serves as the primary instrument for data collection and analysis. Data is gathered through a review of relevant literature and journals related to the article's title, coupled with a theological analysis of Luke 10:25-37. The research indicates that genuine love, exemplified by the actions of the Samaritan, is essential in the practice of Christian life. In this context, theological analysis emphasizes the significance of integrating knowledge with action, highlighting the role of active engagement in thought and behavior. Findings and discussions reveal that the concept of love for others in Luke's Gospel underscores the importance of love as the foundation for compassionate actions toward others. The parable of the generous Samaritan in Luke 10:25-37 portrays the motif of love manifested through sincere and selfless practices, serving as a theological construct to underpin its relevance in Foundations. As a non-profit organization with a social, religious, and humanitarian orientation, such a concept of love becomes highly relevant as a core value that can drive the achievement of its non-profit objectives. Keywords : Love, Neighbor, Gospel of Luke, Foundation
Kajian Eskatologis Memahami Makna Mendalam dibalik Tiga Ucapan Yesus Tentang Kedatangan Kembali Waruwu, Suarman Mezuari
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 6, No 1 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v6i1.208

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk merangsang refleksi pribadi dan pembahasan kelompok mengenai bagaimana kita dapat hidup secara relevan dan responsif terhadap pesan eskatologis Yesus dalam konteks dunia yang terus berubah ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi perpustakaan. Peneliti berusaha mencari sumber pustaka dan menggunakannya untuk mendapatkan bahan penelitian. Eskatologi adalah ilmu yang menjelaskan gambaran akhir zaman atau hari kiamat. Orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat. Kajian eskatologis tersebut memberikan wawasan yang mendalam terhadap ajaran-ajaran Yesus mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam analisisnya terhadap tiga pernyataan Yesus yang terdapat dalam Injil Matius dan Markus, serta Kitab Wahyu, penekanan diberikan pada pentingnya kesiapan spiritual, ketidakpastian mengenai waktu kedatangan-Nya, dan kebutuhan untuk tetap waspada dalam menantikan kedatangan-Nya.