cover
Contact Name
Theodorus Miraji
Contact Email
jojo.luvjesus@gmail.com
Phone
+6282134184629
Journal Mail Official
jurnalberea@gmail.com
Editorial Address
Jalan Cemara No.72 Salatiga
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta
ISSN : 27164322     EISSN : 27162834     DOI : https://doi.org/10.37731/log.v2i1.47
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta adalah jurnal nasional yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Berea dan berfokus pada isu-isu kebaruan Teologi Pentakosta. Sebagai wadah publikasi, LOGIA menerima hasil penelitian ilmiah para akademisi dan praktisi. Semua artikel yang masuk akan di-review oleh reviewer yang ahli di bidangnya dengan menerapkan proses double blind review. Jurnal yang terbit 2 kali setahun ini (Juni dan Desember) memiliki scope: Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Kristen yang semuanya memiliki ciri khas Pentakosta
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 89 Documents
Tuhan Menyelamatkan Umat-Nya di Laut Teberau: Tafsir Historis Kritis Keluaran 14:26-31 Sianipar, Magel Haens
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.187

Abstract

Keluaran 14:26-31 merupakan rangkaian tulisan yang ditampilkan oleh para penulis Kitab Keluaran yang berbeda seperti oleh mazhab P, Deuteronomis, eksodus redaktor dan diredaksi akhir oleh Pentateukh redaktor. Teks ini memuat rangkaian teks dengan memiliki penekanan tertentu di setiap ayat. Dalam teks ini ditampilkan bagaimana bangsa Israel melihat perbuatan Tuhan yang menyelamatkan, sehingga mereka diajak untuk percaya dan mengimani-Nya. Tuhan dalam memerdekakan dan menyelamatkan umat-Nya dalam peristiwa penyeberangan Laut Teberau membuat mereka menjadi bebas seutuhnya baik itu secara fisik, psikologis dan juga secara spiritual. Penyelamatan yang dilakukan oleh Tuhan tersebut dikukuhkan dengan pernyataan iman mereka (ay.31) yang mengakui keberadaan Tuhan, juga Musa, serta membawa mereka menjadi umat Tuhan. Penyelamatan di laut Teberau juga menjadi pengantar ke dalam hubungan Israel dengan Tuhan, dan itu membawa mereka ke dalam kematian dalam persekutuan dengan Tuhan, selain itu mereka adalah keturunan Abraham dan ketika pembaharuan di Sinai. Pada masa kini muncul pertanyaan masih relevankah Tuhan menyelamatkan umat-Nya?. Di zaman modernisasi pada masa kini, banyak orang tidak lagi melihat Alkitab sebagai sesuatu yang bisa diimani dengan mudah. Namun dalam bahasan ini, akan ditampilkan bagaimana Tuhan menyelamatkan umat-Nya Israel dari segala pergumulan mereka pasca meninggalkan Mesir. Penelitian ini dikembangkan dengan metode historis kritis untuk mengangkat makna dari teks, dan selanjutnya merelevansikannya kepada umat percaya pada masa kini, bahwa Tuhan dalam melintasi zaman dan sejarah manusia, dengan kemahakuasaannya menyelamatkan umat-Nya dari pergumulan dan persoalan yang menghinggapinya, namun setiap orang percaya dituntut untuk hidup dalam iman kepada Tuhan dan takut akan Tuhan.
Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Di Era Society 5.0 Berdasarkan Efesus 6:1-4 Sari, Sinta Kumala; Gultom, Rika Riati
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.156

Abstract

Pola asuh orang tua merupakan cara orang tua dalam mengasuh, mendidik dan membimbing anak-anaknya. Perkembangan teknologi telah memberikan dampak yang signifikan bagi orang tua khususnya dalam mengasuh anak, yang berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Hal ini dibuktikan dengan mulai munculnya generasi strobery, perundungan dan kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Berdasarkan dampak tersebut memunculkan fakta bahwa orang tua belum dapat menerapkan pola asuh yang sesuai dengan perkembangan teknologi di era society 5.0.  Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan penelitian bukan ekperimental, penelitian ini di muat dengan berdasarkan pendekatan penelitian ini mengunakan riset Teologi Biblikal.  Metode yang dipakai adalah penyelidikan Alkitab atau eksegesis dengan menggunakan Analisa arti kata dan Analisa konteks yang terdapat pada Surat Efesus, sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika yang benar.  Melalui penelitian ini ditemukan bahwa pola asuh orang tua di era society 5.0 orang tua harus pertama, menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar pengetahuan untuk mengasuh anak. Kedua, menjadi orang yang berperan  besar dalam mengasuh anak-anak. Ketiga, menjadi orang yang memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Keempat, memakai komunikasi dua arah dalam membangun hubungan dengan anak.Pola asuh orang tua merupakan cara orang tua dalam mengasuh, mendidik dan membimbing anak-anaknya. Perkembangan teknologi telah memberikan dampak yang signifikan bagi orang tua khususnya dalam mengasuh anak, yang berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Hal ini dibuktikan dengan mulai munculnya generasi strobery, perundungan dan kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Berdasarkan dampak tersebut memunculkan fakta bahwa orang tua belum dapat menerapkan pola asuh yang sesuai dengan perkembangan teknologi di era society 5.0.  Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan penelitian bukan ekperimental, penelitian ini di muat dengan berdasarkan pendekatan penelitian ini mengunakan riset Teologi Biblikal.  Metode yang dipakai adalah penyelidikan Alkitab atau eksegesis dengan menggunakan Analisa arti kata dan Analisa konteks yang terdapat pada Surat Efesus, sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika yang benar.  Melalui penelitian ini ditemukan bahwa pola asuh orang tua di era society 5.0 orang tua harus pertama, menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar pengetahuan untuk mengasuh anak. Kedua, menjadi orang yang berperan  besar dalam mengasuh anak-anak. Ketiga, menjadi orang yang memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Keempat, memakai komunikasi dua arah dalam membangun hubungan dengan anak.
Studi Eksposisi Kejadian 12:1-3 dari Perspektif Hukum Perjanjian sebagai Pembuktian Tuhan tidak Wanprestasi Christiaan, John Abraham; Simon, Simon; Sudjoko, Sudjoko; Indratno, Yohanes Twintarto Agus
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.195

Abstract

According to Christian faith, the Bible is the Word of God; however, Christians are required to believe that it must be based on logic and common sense. Based on this statement, the researcher examines the Book of Genesis 12:1-3 from the perspective of contract law to prove whether the various promises between God and Abraham were promises that were realized or whether one of the parties was in default. If a default arises, then the Christian Bible is a purely fictional story, and the Christian faith is a faith without common sense. Based on the articles in contract law, the main agreement is exposed in Genesis 12:1-3 and the continuation of the agreement in articles 15 and 17. Researchers use qualitative methods by relying on data collection through a literature study. The data obtained is managed and analyzed so as to obtain the results as intended. In this research, it was proven that all agreements between God and Abraham had been implemented perfectly, and it was found that all the contents of the main agreement and the continuation of the agreement had been fulfilled. Abraham and his descendants, as recipients of the promise, have received the achievements promised by God. Abraham and his descendants became the source of curses and blessings for all people on earth. AbstrakAlkitab menurut iman umat Kristen adalah Firman Tuhan, namun demikian umat Kristen dituntut untuk beriman harus didasari dengan logikan dan akal sehat. Berdasarkan pernyataan ini, peneliti mengeksposisi Kitab Kejadian 12:1-3 dari perspektif hukum perjanjian untuk membuktikan apakah berbagai janji antara Tuhan dan Abraham tersebut adalah janji yang direalisasikan ataukah salah satu pihak timbul wanprestasi. Jika timbul wanpretasi, maka Alkitab Kristen adalah suatu cerita firktif belaka, dan iman Kristen adalah iman yang tanpa akal sehat. Berdasarkan pasal-pasal dalam hukum perjanjian, dieksposisi dari  perjanjian induk pada Kejadian 12 : 1-3 dan kelanjutan perjanjian pada pasal 15 dan 17.  Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan mengandalkan pengumpulan data melalui studi kepustakaan, data yang diperoleh dikelola dianalisa sehingga mendapatkan hasil sebagaimana maksud peneltian ini dan terbukti semua perjanjian antara Tuhan dan Abraham telah dilaksanakan secara sempurna, dimana ditemukan bahwa seluruh isi perjanjian induk dan kelanjutan perjanjian telah terpenuhi. Abraham dan keturunannya sebagai penerima janji telah menerima prestasi yang dijanjikan Tuhan dimana Abraham dan Keturunannya menjadi sumber kutuk dan berkat bagi semua kaum di muka bumi. Kata Kunci: Abraham, perjanjian Tuhan, Hukum, Kitab Kejadia 
Nilai-Nilai Spiritualitas Pentakosta Dalam Menghadapi Tantangan Di Era Postmodern Hutagaol, John; Nayoan, Charly; Kana, Stefanus
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.170

Abstract

Spiritualitas Pentakosta, yang muncul pada awal abad ke-20, merupakan bagian esensial dari gerakan Kristen global. Gerakan ini menitikberatkan pada pengalaman pribadi dan langsung dengan Roh Kudus, yang ditandai oleh berbicara dalam bahasa roh, penyembuhan ilahi, dan pengalaman spiritual. Sebagai respons terhadap kekakuan agama institusional, gerakan ini menekankan kembali pada pengalaman langsung dengan Tuhan, sesuai dengan Kisah Para Rasul. Dengan pertumbuhan eksponensial, gerakan Pentakosta telah menyebar secara global dan menjadi signifikan dalam Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi relevansi nilai-nilai Spiritualitas Pentakosta dalam menjawab tantangan umat manusia di era Postmodern. Metodologi yang digunakan adalah studi kepustakaan, mencakup analisis jurnal, buku, dan sumber online. Penelitian ini menemukan bahwa di era Postmodern yang penuh ketidakpastian dan keragaman nilai, peran Roh Kudus sebagai panduan, penghibur, dan pembimbing spiritual menjadi semakin vital, menekankan pada perpaduan antara tradisi dan inovasi dalam menjawab tantangan zaman.
Peran Pelayanan Kerasulan dan Kenabian dalam Membangun Gereja yang Apostolik Alexander, Christopher; Tuanakotta, Reinhard Abner; Prihanto, Joko
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.88

Abstract

AbstrakKarunia-karunia Roh Kudus memiliki tiga klasifikasi, salah satu di antaranya adalah karunia lima jawatan, yaitu rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar. Eksistensi mengenai jawatan rasul dan nabi ini kerap dipertentangkan dalam agama Kristen sendiri. Begitu pula halnya dengan gereja yang bersifat apostolik, banyak juga yang mempertentangkan istilah “gereja apostolik” ini oleh karena mereka menganggap bahwa jawatan rasul telah terhenti bersamaan dengan berakhirnya hidup para rasul di abad pertama. Untuk itu, penulis mengangkat topik “Peran Pelayanan Kerasulan dan Kenabian dalam Membangun Gereja yang Apostolik”, untuk menyadarkan gereja bahwa karunia jawatan rasul dan nabi belum berhenti dan bahkan akan terus melanjutkan eksistensinya hingga kedatangan Kristus untuk yang kedua kali, juga untuk mengajak gereja untuk kembali kepada konsep gereja mula-mula, yaitu kepada konsep gereja yang bersifat apostolik yang membangun dan mengutus. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode studi kepustakaan. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah pelayanan kerasulan dan kenabian dengan fungsinya masing-masing berperan besar dalam meletakkan dasar pondasi yang kuat dalam Tubuh Kristus agar Tubuh Kristus mencapai kesatuan iman dan kedewasaan penuh di dalam Kristus, agar anggota-anggota Tubuh Kristus tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, melainkan bertumbuh menuju keserupaan dengan Kristus.AbstractThe gifts of the Holy Spirit have three classifications, one of which is the five-fold ministry, namely apostles, prophets, evangelists, pastors, and teachers. The existence of the ministry of apostles and prophets is often contested in Christianity itself. Likewise with the apostolic church, many also argue against the term “apostolic church” because they think that the ministry of apostles has ceased along with the end of the life of the apostles in the first century. For this reason, the author raised the topic “The Role of Apostolic and Prophetic Ministries in Building an Apostolic Church”, to make the church aware that the gift of the ministry of apostles and prophets has not stopped and will even continue to exist until the second coming of Christ, as well as to invite the church to return to the concept of the early church, namely to the concept of an apostolic church that builds and sends. The research method that the author used is a literature study method. The conclusion of this research is that the apostolic and prophetic ministry with their respective functions play a major role in laying a strong foundation in the Body of Christ so that the Body of Christ achieves unity of faith and full maturity in Christ, so that the members of the Body of Christ are not tossed about by every wind of teaching, but growing toward Christlikeness.
“PENUH ROH KUDUS” KUASA RESISTENSI: TAFSIR KPR 4: 1-22 DALAM PERSPEKTIF POSKOLONIAL SUBALTERN GAYATRI CAKRAVOTI SPIVAK Aliyanto, Deky Nofa
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.194

Abstract

AbstractThe horizon of interpretation of Kpr 4: 1-22 is predominantly based on a theological perspective (Christological, soteriological and missiological) with a critical historical approach to analyzing the text of the holy book. In a society at any time and anywhere, socio-political aspects are an integral and significant part that shapes the dynamics and social structure of society. So that within the framework of religion and society, the religious mystical experience of being "full of the Holy Spirit" as recorded in Kpr 4: 1-22 is undoubtedly related to the socio-political aspects of the era. This research aims to show that postcolonial interpretation of Acts 4:1-22 provides a concrete example of how the power of socio-political resistance can be expressed through the full spiritual experience of the Holy Spirit from Subaltern groups against the hegemony and domination of religious elite groups. This research uses a postcolonial hermeneutic approach which investigates issues of authority and power in the context of colonialism at the center of the study (interpretation) of the Bible. The research results show, First: The Jerusalem Council was a form of hegemony and domination of the religious elite group through imprisonment, silencing and threats of violence against Peter and John who were identical to the subaltern class group. Second: The Holy Spirit who filled the subaltern class group (Peter and John) in the phenomenon of mystical religious experience gave them the power to provide resistance so that the hegemony and domination of the religious elite group collapsed. Key words: Full of the Holy Spirit, Kpr 4:1-22, Resistance, postcolonial, Subaltern, hegemony, domination.
Menjaga Kesucian Seksual di Era Modern: Integritas Spiritual Remaja Herman, Samuel
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.177

Abstract

This study explores the dynamics of moral issues among adolescents with a focus on sexual integrity. Using a literature review approach, the research discusses the key roles of spiritual, moral, and emotional maturity, as well as the application of religious values in understanding and maintaining sexual integrity. The analysis of Joseph's life in Genesis 39 highlights that integrity is not limited by external situations but is closely related to the foundation of individual maturity. The conclusion emphasizes the crucial role of parents, teachers, and spiritual leaders in guiding the younger generation towards sexual integrity. The foundation of this maturity needs to be integrated into adolescent education to shape individuals who are moral, resilient, and capable of facing the challenges of the times.
PERSEPSI PERINTIS GEREJA TERHADAP TANDA AJAIB DAN MUJIZAT PADA PERINTISAN DI KOTA Aleng, Yulius
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.199

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi perintis gereja terhadap tanda ajaib dan mujizat dalam konteks perintisan gereja di kota, yang tercermin dari narasi Filipus dalam Kisah Para Rasul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengumpulkan data melalui wawancara terstruktur sebagai sumber data primer. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak Nvivo untuk mengidentifikasi tema-tema utama. Temuan utama menunjukkan bahwa persepsi perintis gereja terhadap tanda ajaib dan mujizat memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan pengembangan gereja, dimana mereka menganggap tanda ajaib dan mujizat sebagai manifestasi langsung dari kuasa Allah yang memvalidasi pemberitaan Injil dan doa, bukan hanya menarik minat orang untuk mendengarkan pesan Injil, tetapi juga menguatkan iman.Kata kunci: tanda dan mujizat; perintisan gereja; gereja kota; Nvivo AbstractThis research aims to understand churh planter’s perceptions of signs and wonders in the context of churh planting in urban areas, as reflected in the narrative of Philip in the the books of Acts of Apostles. Using a qualitative descriptive approach, the study collected data through structured interviews as the primary data source. Data were analyzed using Nvivo software to identify major themes. The main findings indicate that church planter’s perceptions of signs and wonders play a significant role in the growth and development of churches. They view  signs and wonders as direct manifestations of God’s power that validate the preaching of the Gospel and prayer, not only attracting people to listen the Gospel message but also strengthening faith.Keywords: signs and wonders; church planting; urban church; Nvivo
Prinsip-prinsip Penggembalaan Yesus dalam Injil Matius Retjelina, Dorkas; Ferryanto, David
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.159

Abstract

Tujuan artikel ini adalah agar setiap gembala mengetahui tentang prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dalam Injil Matius yang dapat diterapkan dalam pelayanan penggembalaan masa kini. Seorang Gembala bertanggung jawab untuk menjalankan fungsinya sebagai gembala yang menggembalakan jemaat Tuhan. Itu sebabnya sebagai seorang gembala membutuhkan prinsip-prinsip yang baik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya dalam pelayanan penggembalaannya. Beberapa artikel sudah menuliskan tentang prinsip-prinsip penggembalaan, namun penekanan mengenai prinsip-prinsip penggembalaan Yesus di dalam Injil Matius kurang ditonjolkan. Melalui metode penelitian kualitatif studi pustaka dengan fokus pada pemahaman teks Alkitab, artikel ini akan menjelaskan bahwa prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dalam Injil Matius merupakan hal yang sangat penting.  Itu sebabnya untuk mendapatkan gambaran yang jelas, penelitian ini berfokus pada interpretasi teks atau makna teks yang berkaitan dengan prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dan untuk selanjutnya dapat diaplikasikan bagi pelayanan penggembalaan masa kini. Untuk mencapai pembuktiannya, maka pada bagian pertama akan memaparkan pengertian tentang penggembalaan. Bagian kedua mengekspos ayat-ayat Alkitab guna mendapatkan prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dalam Injil Matius. Bagian ketiga menunjukkan pentingnya prinsip-prinsip penggembalaan bagi pelayanan penggembalaan masa kini.Tujuan artikel ini adalah agar setiap gembala mengetahui tentang prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dalam Injil Matius yang dapat diterapkan dalam pelayanan penggembalaan masa kini. Seorang Gembala bertanggung jawab untuk menjalankan fungsinya sebagai gembala yang menggembalakan jemaat Tuhan. Itu sebabnya sebagai seorang gembala membutuhkan prinsip-prinsip yang baik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya dalam pelayanan penggembalaannya. Beberapa artikel sudah menuliskan tentang prinsip-prinsip penggembalaan, namun penekanan mengenai prinsip-prinsip penggembalaan Yesus di dalam Injil Matius kurang ditonjolkan. Melalui metode penelitian kualitatif studi pustaka dengan fokus pada pemahaman teks Alkitab, artikel ini akan menjelaskan bahwa prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dalam Injil Matius merupakan hal yang sangat penting.  Itu sebabnya untuk mendapatkan gambaran yang jelas, penelitian ini berfokus pada interpretasi teks atau makna teks yang berkaitan dengan prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dan untuk selanjutnya dapat diaplikasikan bagi pelayanan penggembalaan masa kini. Untuk mencapai pembuktiannya, maka pada bagian pertama akan memaparkan pengertian tentang penggembalaan. Bagian kedua mengekspos ayat-ayat Alkitab guna mendapatkan prinsip-prinsip penggembalaan Yesus dalam Injil Matius. Bagian ketiga menunjukkan pentingnya prinsip-prinsip penggembalaan bagi pelayanan penggembalaan masa kini.
Memprioritaskan Nilai-Nilai Agama: Membangun Etika Politik dalam Aktualisasi Kebijakan Publik Arifianto, Yonatan Alex; Joswanto, Andreas; Simon, Simon
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.144

Abstract

Politik bila digunakan untuk kemanusiaan sangat mulia, namun karena praktik yang saling menguntungkan antara oknum dengan berbagai masyarakat terkait kebijakan politik yang difokuskan pada agenda pribadi dan bukan kepada publik. Menjadi tidak mulia lagi karena agenda pribadi cenderung memperkaya diri. Tujuan dari penelitian ini supaya dapat memberikan paradigma bagi kekristenan untuk menekankan nilai agama dalam membangun etika politik supaya melahirkan kebijakan yang pro dengan masyarakat luas dan kemanusiaan. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa penekanan terhadap membangun etika politik dalam aktualisasi kebijakan publik adalah, yang pertama perlunya penekanan akan kajian teoritik dan hakikat etika politik yang dapat memberikan pencerahan bagi politisi dan kekristenan dewasa ini. Selanjutnya aksentuasi nilai-nilai agama dalam etis teologis Kristen harus membawa pada perubahan terhadap segala kebijakan. Dan juga berperan pada menghargai akan nilai-nilai seperti kasih, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Yang terakhir perrlunya aktualisasi gereja dan kekristenan masa kini dalam membangun etika politik dan kebijakan publik. Yang mana nilai-nilai agama memberikan landasan etis yang kuat dalam merancang kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Meskipun tantangan dan perbedaan pendapat selalu ada, aksentuasi nilai-nilai agama dapat membantu memperkaya agenda-agenda politisi Kristen supaya dapat menncapai tujuan yang lebih baik dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan berdaya.  ABSTRACTPolitics when used for humanity is very noble, but due to mutually beneficial practices between individuals and various communities related to political policies that are focused on personal agendas and not to the public. It is no longer noble because personal agendas tend to enrich themselves. The purpose of this research is to provide a paradigm for Christianity to emphasise religious values in building political ethics in order to give birth to policies that are pro to the wider community and humanity. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the emphasis on building political ethics in the actualisation of public policy is, first, the need for emphasis on theoretical studies and the nature of political ethics that can provide enlightenment for politicians and Christianity today. Furthermore, the accentuation of religious values in Christian theological ethics must lead to changes in all policies. It also contributes to the appreciation of values such as love, justice, and care for others. Finally, the need for actualisation of the church and Christianity today in building political ethics and public policy. Where religious values provide a strong ethical foundation in designing policies that aim to improve the quality of life of society as a whole. While challenges and disagreements are always present, the accentuation of religious values can help to enrich the ethics of public policy. Keywords : Prioritising religious values; Political ethics; Actualisation; Public policy