cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Evaluation of protein sparing effect in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with organic selenium supplemented diet Pattipeilohy, Christian Ernsz; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.1.84-94

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to determine the optimum level of organic selenium supplementation in improving the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with diet containing low protein level. Basal diet was formulated to contain 28% protein with three different levels of organic selenium supplementation, namely 0 (control), 3, and 6 mg Se/kg feed. Furthermore, to evaluate selenium function on protein utilization and sparring effect, a diet with 30% of protein content was also used as a comparison. In this regard, this study was conducted using a completely randomized experimental design with four treatments and three replications. Nile tilapia with an average body weight of 8.05 ± 0.25 g were reared in the 100×50×50 cm3 aquarium at a density of 15 fish/aquarium. The experimental fish were reared for 60 days and fed three times daily to apparent satiation levels. Dietary supplementation of organic Se resulted in higher fish biomass, lower feed conversion ratio, higher protein retention and daily growth rate compared to the control diets with 28% and 30% protein levels. In conclusion, dietary supplementation of organic Se at 3 mg organic Se/kg feed could significantly increase protein utilization and improve the growth performance of Nile tilapia. Keywords: tilapia, protein sparing effect, organic selenium, feed ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat suplementasi selenium organic pada pakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan basal diformulasikan mengandung 28% protein dengan tiga tingkat selenium organik yaitu 0 (kontrol), 3, dan 6 mg Se/kg pakan. Selanjutnya untuk mengevaluasi penggunaan selenium pada pemanfaatan protein dan efek sparring, pakan dengan 30% protein juga ditambahkan sebagai perlakuan pembanding. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan nila dengan bobot rata-rata adalah 8.05 ± 0.25 g dipelihara dalam akuarium 100 × 50 × 50 cm3 dengan kepadatan 15 ikan/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pemberian pakan dengan suplementasi Se organic menghasilkan biomassa ikan yang lebih tinggi, rasio konversi pakan yang lebih rendah, retensi protein dan laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi daripada perlakuan control dengan kadar protein 28% dan 30%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa suplemtasi pakan ikan nila dengan 3 mg Se organik/kg pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein pakan dan kinerja pertumbuhan ikan Nila. Kata kunci: ikan nila, protein sparing effect, selenium organik, pakan.
Supplementation of Nodulisporium sp. KT29 induced by Vibrio harveyi as an immunostimulant for controlling vibriosis in vannamei white shrimp under marine culture system Wahjuningrum, Dinamella; Efianda, Teuku Reza; Tarman, Kustiariyah; Yuhana, Munti; Effendi, Irzal; Saputra, Fazril
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.95-105

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study is to evaluate the effectiveness of Nodulisporium sp. KT29 supplementation with variousVibrio harveyi induction in feed against vibriosis in vannamei white shrimp. The study design included KP (positivecontrol without supplementation Nodulisporium sp. KT29 and infected with V. harveyi), KN (negative controlswithout Nodulisporium sp. KT29 and infected with physiological solution), NT (treatment of supplementationNodulisporium sp KT29 20 mL/kg and infected with V. harveyi), NM (treatment of supplementation testNodulisporium sp. KT29 induction of V. harveyi dead cell 20 mL/kg and infected V. harveyi), NH (treatment ofsupplementation Nodulisporium sp. KT29 induction of V. harveyi live cell 20 mL/kg and infected with V. harveyi).The study parameters included inhibition zone, resistance, immune responses, and hemolim glucose. The resultsshowed Nodulisporium sp. KT29 with induction treatment raised antibacterial activity with best treatment of NMand NH (P<0.05). The results of V. harveyi infection resistance presented NM treatment of 20 mL/kg increasesurvival in vannamei shrimp reached 72.2% (P<0.05). In addition, the same treatment increase the immuneresponse activity and decrease the activity of hemolim glucose. It could be concluded that providing NM 20 mLtreatment boosted the resistance and the immune system in vaname shrimp to control vibriosis reared at the sea.Keywords: antibacterial, β-glucan, induced, Nodulisporium sp. KT29, Vibrio harveyi ABSTRAK Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi efektivitas suplementasi Nodulisporium sp. KT29 dengan berbagai perlakuaninduksi Vibrio harveyi dalam pakan terhadap pengendalian vibriosis pada udang vaname yang dibudidayakan dilaut. Rancangan penelitian meliputi KP (kontrol positif tanpa suplementasi Nodulisporium sp. KT29 dan diinfeksiV. harveyi), KN (kontrol negatif tanpa Nodulisporium sp. KT29 dan diinfeksi larutan fisiologis), NT (perlakuanuji suplementasi Nodulisporium sp. KT29 20 mL/kg dan diinfeksi V. harveyi), NM (perlakuan uji suplementasiNodulisporium sp. KT29 diinduksi sel mati V. harveyi 20 mL/kg dan diinfeksi V. harveyi), NH (perlakuan ujisuplementasi Nodulisporium sp. KT29 induksi sel hidup V. harveyi 20 mL/kg dan diinfeksi V. harveyi). Parameterpenelitian meliputi zona hambat, resistensi, respons imun, dan glukosa hemolim. Hasil penelitian menunjukkanNodulisporium sp. KT29 dengan perlakuan induksi dapat meningkatkan aktivitas antibakteri dengan perlakuanterbaik NM dan NH (P<0.05). Hasil pengamatan resistensi infeksi V. harveyi menunjukkan perlakuan NM 20 mL/kg dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada udang vaname mencapai 72.2% (P<0.05). Perlakuan yang samajuga meningkatkan respons imun dan menurunkan aktivitas glukosa hemolim. Disimpulkan bahwa pemberianNM 20 mL dapat meningkatkan resistensi dan sistem imun udang vaname terhadap pengendalian vibriosis di laut.Kata kunci : antibakteri, β-glucan, induksi, Nodulisporium sp. KT29, Vibrio harveyi,
Utilization of fermented sago pulp as a source of carbohydrate in feed for Nile tilapia Oreochromis niloticus Sumiana, I Kadek; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.106-117

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate sago pulp fermentation method and its effect on crude fiber content, digestibility, and utilization of sago pulp as a feed raw material for Nile tilapia. Fermentation was done using three different fermenters, i.e. yeast tapai and baker’s yeast with five doses of 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg,70 g/kg,100 g/kg, respectively, and sheep rumen liquid with five doses of 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg and 1000 mL/kg. The incubation time was 0, 24, 72, and 96 hours. In the digestibility test, tilapia (25 g) was stocked at a density of 7 fish/aquarium. Three different diets were applied in quadruplicate, i.e. reference diet (100% reference diet), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Three different dietary treatments (in quadruplicate) containing different carbohydrate sources were tested, i.e. cassava flour as a comparion (G), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Fermentation of sago pulp with tapai yeast at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation time could reduce crude fiber by 35.76%, neutral detergent fiber (NDF) by 32.68%, and hemicellulose by 60.39%. Fermentation with yeast tapai could significantly increase sago pulp dry matter digestibility by 34% and carbohydrate digestibility by 21%, as well as increase glucose absorption. The growth experiment showed that the use of ASF diets resulted in higher specific growth rate (3.31 ± 0.12%/ day), protein retention (47.34 ± 5.23%) and fat retention (85.58 ± 5.44%) than those of AS dietary. In conclusion, fermentation of sago pulp using yeast tapai at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation could reduce crude fiber content and increase dry matter and carbohydrate digestibilities, so that it can be used as a source of carbohydrates in tilapia diet. Keywords : carbohydrate, digestibility, fermentation, fiber, Nile tilapia, sago pulp ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi metode fermentasi ampas sagu dan pengaruhnya terhadap kandungan serat kasar, kecernaan, dan pemanfaatan ampas sagu sebagai bahan baku pakan ikan nila. Fermentasi dilakukan dengan penambahan tiga perlakuan bahan fermentor yaitu ragi tape dan ragi roti ditambahkan dengan dosis masing-masing sebanyak 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg, 70 g/kg, 100 g/kg, dan cairan rumen domba yang ditambahkan dengan dosis 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg, dan 1000 mL/kg. Lama waktu inkubasi 0, 24, 72, dan 96 jam. Pada uji kecernaan digunakan ikan nila (25 g) yang dipelihara dengan kepadatan tujuh ekor per akuarium. Pada uji ini dilakukan tiga perlakuan pakan dengan empat ulangan, yaitu pakan acuan, ampas sagu tanpa fermentasi (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Percobaan dilakukan dengan tiga perlakuan pakan (4 ulangan) dengan tiga sumber karbohidrat yang berbeda yaitu gaplek (G) sebagai pembanding, ampas sagu (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape sebanyak 50 g/kg dengan lama inkubasi 72 jam dapat menurunkan serat kasar tertinggi sebanyak 35.76%, dan menurunkan fraksi serat neutral detergent fiber (NDF) dan hemisellulosa masing-masing sebanyak 32.68% dan 60.39%. Perlakuan fermentasi ampas sagu dapat meningkatkan nilai kecernaan bahan sebesar 34%, kecernaan karbohidrat sebesar 21%, serta penyerapan glukosa. Hasil uji pertumbuhan menunjukkan bahwa perlakuan ASF memberikan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.31 ± 0.12%/hari), retensi protein (47.34 ± 5.23%) dan retensi lemak (85.58 ± 5.44%) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan AS (P<0.05). Dapat disimpulkan bahwa fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape pada dosis 50 g/kg selama 72 jam dapat menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kecernaan bahan dan karbohidrat sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat pada pakan ikan nila. Kata kunci : ampas sagu, fermentasi, ikan nila, karbohidrat, kecernaan, serat
The performance of gold-mouth turban Turbo chrysostomus larvae in different temperature and salinity media Hamzah, Aris Sando; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.14-23

Abstract

Suhu dan salinitas merupakan parameter kualitas air yang berperan penting terhadap proses fisiologis siput mata bulan (T. chrysostomus) sehingga berdampak terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pengaruh suhu dan salinitas terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva siput mata bulan (T. chrysostomus). Stadia pre-torsion veliger dicapai sekitar 11 jam 36 menit setelah fertilisasi atau sekitar 3 jam setelah trocophor. Stadia post-torsion veliger awal ditandai dengan cangkang yang telah terbentuk sempurna dan pada post-torsion veliger akhir, larva sudah mengembangkan operkulum, kaki, dan propodium. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan A1B3 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir tercepat yaitu masing-masing 19 jam 36 menit dan 22 jam 36 menit setelah pembuahan. Sedangkan perlakuan A1B1 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir terlama yaitu masing-masing 20 jam 30 menit dan 23 jam 25 menit setelah pembuahan. Suhu tidak berpengaruh nyata sedangkan salinitas berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan harian larva siput mata bulan. Laju pertumbuhan harian tertinggi pada suhu 27±0.5oC (A1) tercatat pada perlakuan B3 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2. Suhu dan salinitas memberikan pengaruh yang signifikan namun interaksi keduanya tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup larva siput mata bulan. Perlakuan A1B3 memberikan persentase tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan tidak menunjukan nilai yang berbeda nyata dengan perlakuan A1B2. Parameter kualitas air yang diperoleh masih mendukung performa larva siput mata bulan hingga mencapai stadia juvenil.
Growth performance, immune response, and resistance of Nile tilapia fed paraprobiotic Bacillus sp. NP5 against Streptococcus agalactiae infection Aldy Mulyadin; Widanarni, Widanarni; Yuhana, Munti; Wahjuningrum, Dinamella
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.34-46

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to evaluate the effectiveness of Bacillus sp. NP5 paraprobiotic administration through commercial feed on growth performance, immune response, and resistance of Nile tilapia against Streptococcus agalactiae infection. Bacillus sp. NP5 paraprobiotic was produced through heat-inactivation at 95°C for 1 h, then performed a viability test on tryptic soy agar (TSA) media and incubated for 24 hours. Paraprobiotics could be used whether the bacteria did not grow on the TSA media. This study used a completely randomized design, containing three treatments with five replications, i.e. 1% (v/w) probiotic addition, 1% (v/w) paraprobiotic addition, and no addition of probiotic or paraprobiotic (control). The experimental fish were reared for 30 days. On day 31 of rearing, fish were challenged with S. agalactiae (107 CFU/mL) through intraperitoneal injection route, while the negative control was injected with PBS. This study results significantly improved growth performances and immune responses (P<0.05), compared to control after 30 days of probiotic and paraprobiotic Bacillus sp. NP5 administration. After challenge test, increased immune responses in probiotic and paraprobiotic of Bacillus sp. NP5 treatment had higher survival rates (P<0.05) than positive control. The administration of Bacillus sp. NP5 probiotic and paraprobiotic through commercial feed were effective in increasing growth performance, immune response, and resistance of Nile tilapia against S. agalactiae infection. Keywords: Bacillus sp. NP5, Nile tilapia, paraprobiotic, Streptococcus agalactiae ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pemberian paraprobiotik Bacillus sp. NP5 melalui pakan dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistansi ikan nila terhadap infeksi Streptococcus agalactiae. Proses pembuatan bakteri paraprobiotik yaitu Bacillus sp. NP5 diinaktivasi panas pada suhu 95°C selama 1 jam, dilanjutkan dengan pengujian viabilitas dengan menyebarkannya pada media tryptic soy agar kemudian diinkubasi selama 24 jam. Jika bakteri tidak tumbuh, maka paraprobiotik dapat digunakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan lima ulangan, yaitu penambahan probiotik 1% (v/w), penambahan paraprobiotik 1% (v/w), dan tanpa penambahan probiotik atau paraprobiotik (kontrol). Ikan perlakuan dipelihara selama 30 hari dan pada hari ke-31, ikan diuji tantang dengan S. agalactiae (107 CFU/mL) melalui injeksi intraperitoneal, sementara perlakuan kontrol negatif diinjeksi dengan PBS. Hasil penelitian setelah 30 hari pemberian probiotik dan paraprobiotik Bacillus sp. NP5 menunjukkan kinerja pertumbuhan dan respons imun yang meningkat signifikan (P<0.05) dibandingkan dengan kontrol. Pascauji tantang, peningkatan respons imun pada perlakuan probiotik dan paraprobiotik Bacillus sp. NP5 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan kontrol positif. Pemberian probiotik dan paraprobiotik Bacillus sp. NP5 melalui pakan dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistansi ikan nila terhadap infeksi Streptococcus agalactiae. Kata kunci: Bacillus sp. NP5, ikan nila, paraprobiotik, Streptococcus agalactiae
Evaluation of processed rubber seed oil Hevea brasiliensis utilization as lipid source in Clarias gariepinus feed Annisa, Nuraini; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Fauzi, Ichsan Ahmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.131-141

Abstract

ABSTRACT Clarias gariepinus rearing is mostly done with intensive systems that use a lot of commercial feed. The price of raw material for the feed lipid source which is currently the main source of fatty acids in freshwater fish feed continues to increase and compete with human needs. Rubber seed oil (RSO) is considered feasible to be an alternative. This study aimed to evaluate the use of heated RSO as alternative lipid source in C gariepinus feed. The results of this study indicated that heating could reduce HCN levels in RSO by 95%. Even after heated RSO was inserted into the feed formulation there is still HCN in feed, however it did not affect the survival rate of C. gariepinus statistically. Heated RSO based feed shows a specific growth rate that was higher than non-heating RSO-based feed. Feeding with heated RSO also did not affect nutrient retention in C. gariepinus. This also followed by blood profile, blood chemistry and body fatty acids profile, MDA levels and SOD levels which were almost same as treatment feed using fish oil and corn oil. From these results, it can be concluded that heating can reduce 95% HCN content in RSO and can be used as a lipid source in C. gariepinus feed. Keywords: Aquaculture, essential fatty acids, growth performance, HCN, rubber seed oil. ABSTRAK Budidaya ikan lele Clarias gariepinus dengan sistem intensif menggunakan banyak pakan buatan. Harga bahan baku untuk sumber lemak pakan terus meningkat dan bersaing dengan kebutuhan manusia. Minyak biji karet (MBK) layak menjadi alternatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan MBK yang dipanaskan sebagai sumber lemak alternatif dalam pakan ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan proses pemanasan dapat mengurangi kadar HCN pada MBK hingga 95%. Walaupun masih terdapat sejumlah kecil HCN pada pakan berbasis MBK yang dipanaskan, tetapi tidak memengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan lele (p>0,05). Pakan berbasis MBK proses pemanasan menunjukkan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi dari pakan berbasis MBK yang tidak dipanaskan. Pemberian pakan berbasis MBK proses pemanasan juga tidak memengaruhi retensi nutrisi ikan lele. Demikian pula parameter profil darah, kimia darah, profil asam lemak tubuh, kadar MDA dan kadar SOD hampir sama dengan pakan perlakuan berbasis minyak ikan dan minyak jagung. Sehingga dapat disimpulkan MBK proses pemanasan dapat mengurangi 95% kandungan HCN dan dapat digunakan sebagai sumber lemak dalam pakan ikan lele. Kata kunci: Akuakultur, asam lemak esensial, HCN, kinerja pertumbuhan, minyak biji karet.
Bone formation and growth of climbing perch Anabas testudinieus larvae fed with Zn enriched Artemia nauplii Ismarica, Ismarica; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Suprayudi, Muhammad Agus
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.153-159

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to determine the optimum level of Zinc (Zn) enrichment in Artemia sp. nauplii as a live feed to improve bone formation and growth of climbing perch Anabas testudinieus larvae. The study consisted of four different Zn enrichment levels (0.0, 0.05, 0.1, and 0.15 mg/mL) in Artemia sp.nauplii. The enrichment was performed for 12 hours with the nauplii density of 1 ind/mL. Climbing perch larvae with an average initial length of 1.65 ± 0.15 mm were fed four times daily with the enriched nauplii. For the first 5 days, all larvae were fed with rotifer followed by feeding with enriched Artemia nauplii ad libitum. The results showed that the application of Artemia sp. enrichment at 0.1 mg Zn/mL influenced the bone formation, increased the growth, and improved the fish survival of climbing perch larvae. Feeding with 0.1 mg/mL Zn enriched Artemia nauplii could be recommended as a strategy to improve the bone formation and growth performance of climbing perch larvae. Keywords: Anabas testudineus, Artemia sp., climbing perch, live feed, zinc ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menentukan dosis optimum pengayaan seng (Zn) pada naupli Artemia sp. terhadap pembentukan tulang dan peningkatan pertumbuhan larva ikan betok. Penelitian dilakukan selama 18 hari dengan empat dosis pengayaan Zn yang berbeda (0, 0,05, 0,1, dan 0,15 mg/mL) pada naupli Artemia. Pengayaan dilakukan selama 12 jam dengan kepadatan naupli 1 ind/mL. Larva ikan betok dengan ukuran panjang awal rata-rata 1.65 ± 0.15 mm diberi pakan naupli yang diperkaya sebanyak 4 kali sehari. Pada lima hari pertama, semua larva diberi pakan rotifer, diikuti dengan pemberian naupli Artemia yang diperkaya secara ad libitum. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pengayaan naupli Artemia sp. dengan Zn 0,1 mg/mL berpengaruh terhadap pembentukan tulang belakang dan dapat meningkatkan pertumbuhan serta meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan betok. Pemberian naupli Artemia dengan Zn sebanyak 0.1 mg Zn/mL dapat direkomendasikan untuk perbaikan pembentukan tulang dan pertumbuhan larva ikan betok. Kata kunci: Naupli Artemia sp., ikan betok, pakan alami, seng
Improved performance of botia fish Chromobotia macracanthus with the utilization of blood clam shell in the recirculation system Rizki, Rani Ria; Diatin, Iis; Budiardi, Tatag; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.160-170

Abstract

ABSTRACT Intermediate and holding rearing of botia face several problems such as the limited land, water quality, and decreased growth. The application of a recirculation culture system using the blood clam filter is increased to water quality and expected to solve the problems. This study aimed to analyze the production performance of botia fish on intermediate and holding rearing in the recirculation system by utilizing blood clams as the filter. This study used a factorial completely randomized design with two factors; clam particle sizes (1 mm, 2 mm, and 3 mm) and dosages (1.4 g/L, 1.8 g/L, and 2.2 g/L). Every experiment was conducted in three replication. The aquarium used in this study was 40×40×60 cm3. The size of fish samples was 3.5 ± 0.5 cm with the stocking density (3 fish/L, each test aquarium). The recirculation system was applied seven days before the fish were stocked. Every 15 days, weight and length of fish were measured (for 60 days). The results of physical (temperature) and chemical (pH, dissolved oxygen, ammonia dan nitrite) water quality in the recirculation system using the blood clam filter showed good conditions for botia fish. The stress response of botia blood glucose and TKO fluctuates with environmental changes. Mineral water and fish produced by calcium, magnesium, and phosphorus increase until the end of maintenance. There is an interaction at TKH between particle size and the dose of blood shells, whereas, LMPW, LMPL, and RKP significantly different only the use of dose 2.2 g/L. Keywords: Clamshells, botia fish, pH value, minerals, recirculation. ABSTRAK Permasalahan pada proses penampungan ikan botia yaitu keterbatasan lahan, kualitas air yang buruk dan pertumbuhan ikan botia yang lambat. Penerapan sistem resirkulasi menggunakan cangkang darah dapat meningkatkan kualitas air dan kinerja produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja produksi budidaya ikan botia pada sistem resirkulasi dengan pemanfataan cangkang kerang darah sebagai bahan filter. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor, yaitu ukuran partikel cangkang kerang darah (1 mm, 2 mm, dan 3 mm) dan dosis cangkang kerang darah (1.4g/L, 1.8g/L dan 2.2g/L). Setiap perlakuan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Akuarium yang digunakan dalam penelitian berukuran 40×40×60 cm3. Ikan yang digunakan berukuran 3.5 ± 0.5 cm dengan padat tebar 3 ekor/L. Sistem resirkulasi dioperasikan selama tujuh hari sebelum ikan ditebar. Bobot dan panjang ikan diukur setiap 15 hari selama 60 hari pemeliharaan. Penelitian dalam sistem resirkulasi menggunakan cangkang kerang darah pada media filter menghasilkan kondisi kualitas air suhu, pH, oksigen terlarut, amonia dan nitrit air. Respons stres ikan berupa glukosa darah dan tingkat konsumsi oksigen (TKO) berfluktuasi seiring dengan perubahan lingkungan. Mineral air dan ikan yang dihasilkan meliputi kalsium, magnesium dan fosfos meningkat hingga akhir pemeliharaan. Parameter tingkat kelangsungan hidup (TKH) memiliki interaksi antara ukuran partikel dan dosis cangkang kerang darah, sedangkan untuk laju pertumbuhan bobot mutlak (LPMB), laju pertumbuhan panjang mutlak (LPMP) dan rasio konversi pakan (RKP) berbeda nyata dengan penggunaan dosis 2.2 g/L. Kata kunci: Cangkang kerang darah, ikan botia, pH, mineral, resirkulasi.
The use of different 17β-estradiol hormone doses and water temperatures to control cannibalism in catfish Clarias gariepinus seed Putri, Hylda Khairah; Zairin Jr., Muhammad; Carman, Odang; Diatin, Iis
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.171-180

Abstract

Cannibalism is a major problem in the intensive catfish hatchery that caused high mortality. This phenomenon is allegedly due to the high level of testosterone hormones in the early larvae and seed stages. Testosterone is a maternal steroid hormone that is transferred directly by the parent to the egg. Catfish broodstock has high testosterone levels during the gonad maturation phase and it enters the eggs during the process of vitellogenesis. A high level of testosterone is considered to cause catfish seeds to behave aggressively and subsequently encourage cannibalism. This testosterone level may be reduced by estrogen through a negative feedback mechanism. This experiment aimed to evaluate the use of several 17β-estradiol doses at different water temperatures to control cannibalism in catfish seeds. This experiment used two factors, i.e. 17β-estradiol doses (0, 20, and 50 mg/kg) coated in the diet and water temperatures (28 and 31°C). The results showed that 17β-estradiol levels in catfish seeds increased with increasing experimental length. The use of 17β-estradiol at low water temperature (28°C) was better in decreasing mortality, while the dose of 50 mg/kg17β-estradiol which applied at 28°C was the best combination in controlling cannibalism on catfish seeds. Keywords: 17β-estradiol, cannibalism, Clarias gariepinus, seed. ABSTRAK Kanibalisme merupakan salah satu masalah utama dalam pembenihan ikan lele intensif karena menyebabkan kematian yang tinggi. Fenomena ini diduga karena kadar hormon testosteron yang tinggi pada tahap larva dan benih. Testosteron merupakan hormon steroid maternal yang ditransfer secara langsung oleh induk ke telur. Induk ikan lele memiliki kadar testosteron yang tinggi pada fase pematangan gonad dan masuk ke dalam telur selama proses vitelogenesis. Tingginya kadar testosteron diduga menyebabkan benih berperilaku agresif dan akan mendorong kanibalisme. Kadar testosteron dapat ditekan dengan meningkatkan kadar hormon estrogen melalui mekanisme feedback negatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan dosis estradiol-17β dan suhu pemeliharaan yang berbeda untuk mengendalikan kanibalisme pada benih ikan lele. Penelitian ini menggunakan dua faktor yaitu dosis estradiol-17β yang berbeda (0, 20, dan 50 mg/kg) yang diberikan melalui pakan, dan suhu pemeliharaan yang berbeda (28 dan 31°C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi estradiol-17β pada benih ikan lele meningkat seiring dengan lamanya pemeliharaan. Penggunaan estradiol-17β pada suhu 28°C lebih baik dalam mengurangi mortalitas, sementara dosis estradiol-17β 50 mg/kg pada suhu pemeliharaan 28°C adalah kombinasi terbaik dalam mengendalikan kanibalisme pada benih ikan lele. Kata kunci: benih, Clarias gariepinus, estradiol-17β, kanibalisme.
Coral platy fish Xiphophorus maculatus hormonal induction to improve mass spawning efficiency Maulana, Fajar; Zairin Jr., Muhammad; Alimuddin, Alimuddin; Abadi, Mitra; Fitrih, Adhana Nur
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.181-189

Abstract

Coral platy fish has a unique reproduction due to ovoviviparous (live-bearer) reproduction. The large scale production of coral platy fish has several constraints due to the inconsistent seed birth period, which causes variations in the fry size. This makes it difficult for ornamental fish cultivators for production process efficiency and market criteria fulfillment that demands size uniformity. This study aimed to synchronize the broodstock birth period of coral platy fish by testing the hormone oxytocin and prostaglandin-2 α (PGF2α) through immersion methods with different durations. This study used a factorial randomized design with 21 treatments and 3 replications for each hormone type. The PGF2α hormone doses used were 0; 0.01; 0.1 and 1 mL/L, while the oxytocin hormone doses used were 0; 0.1; 0.2; 0.4 mL/L with immersion duration of 4, 8, and 12 hours, respectively. The results showed that the treatment dose of 1 mL/LPGF2α with 12 hour duration had a significant effect (p <0.05) compared to other treatments, the immersion group with 12 hour duration obtained a significant difference to the length of other treatments both at the percentage of broodstock giving birth and number of seeds. The hormone treatment had no significant effect on broodstock and seed survival (p> 0.05). Keywords:mass induction, oxytocin, prostaglandin-e2 α (PGF2α), mass birth, livebearer ABSTRAK Ikan plati koral memiliki reproduksi yang unik karena bereproduksi secara ovovivipar (livebearer). Produksi ikan plati koral dalam skala besar dihadapkan kendala akibat waktu kelahiran anak yang tidak serentak yang menyebabkan keberagaman ukuran anak ikan plati koral. Hal ini menyulitkan para pembudidaya ikan hias untuk efisiensi proses produksi dan memenuhi kriteria pasar yang menuntut keseragaman ukuran. Penelitian ini bertujuan untuk menyeragamkan waktu kelahiran anak induk ikan plati koral dengan uji coba pemberian hormon oksitosin dan prostaglandin-2 α (PGF2α) melalui metode perendaman dengan durasi waktu yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak faktorial dengan 21 perlakuan dengan 3 kali ulangan untuk masing-masing jenis hormon. Dosis hormon PGF2α yang diuji adalah 0; 0,01; 0,1 dan 1 mL/L, sedangkan dosis hormon oksitosin yang digunakan adalah 0; 0.1; 0.2; 0.4 mL/L dengan masing-masing lama perendaman 4, 8, dan 12 jam. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan dosis 1 mL/L PGF2α dengan lama waktu perendaman 12 jam memberikan pengaruh yang nyata (p <0.05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya, kelompok perendaman dengan durasi 12 jam memberikan perbedaan yang nyata terhadap lama perlakuan lain baik pada parameter persetasi induk melahirkan dan jumlah anak yang dilahirkan. Perlakuan hormon tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelangsungan hidup induk dan anak yang dilahirkan (p >0.05). Kata kunci: induksi massal, Oksitosin, prostaglandin-2 α (PGF2α), kelahiran masal, livebearer

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue