cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Evaluation of health status and meat quality of dumbo catfish Clarias gariepinus maintained using the biofloc system Fajrin, Anang; Utomo, Nurbambang Priyo; Ekasari, Julie; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.190-198

Abstract

This research aimed to evaluate the health status, growth performance, and meat quality of African catfish Clariasgariepinus maintained in biofloc and nonbiofloc systems. This study applied 3 treatments with 4 replications, i.e.K500 (control, a non-biofloc system at a fish stocking density of 500/m3), BF500 (biofloc system at a fish stockingdensity of 500/m3), and BF700 (biofloc system at a fish stocking density of 700 /m3). The initial body length andbodyweight of the fish used in this experiment were 10–12 cm and 10–12g, respectively. Feeding was done byusing a commercial feed containing 29.76% protein content. The results showed that fish survival in treatmentsBF500 and BF700 were significantly different (P<0.05) from the control. The growth rate of African catfish in thecontrol (K) was the lowest (3.64 ± 0.56%) among the treatments. The results of the organosensory test showed thatthe application of biofloc systems produced a higher quality of fish meat with a range value of 7–9 compared to thatof the control with a range of 6–7. In conclusion, the application of biofloc systems could improve the fish healthstatus, growth performance, and meat quality of African catfish. Keywords: biofloc systems, Clarias gariepinus, density, health status, meat quality ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi status kesehatan, kinerja pertumbuhan, dan kualitas daging ikan lele AfrikaClarias gariepinus yang dipelihara menggunakan sistem bioflok dan nonbioflok. Penelitian ini menggunakan 3perlakuan dengan 4 kali ulangan, yang terdiri dari: K500 (kontrol, sistem nonbioflok dengan kepadatan ikan 500ekor/m3), perlakuan BF500 (sistem bioflok dengan kepadatan ikan 500 ekor/m3), dan perlakuan BF700 (sistembioflok dengan kepadatan ikan 700 ekor/m3). Ikan yang digunakan berukuran panjang dan bobot awal masingmasing10–12 cm dan 10–12 g. Pemberian pakan dilakukan dengan menggunakan pakan komersil dengan 29,76%protein. Hasil penelitian menunjukan tingkat kelangsungan hidup antara perlakuan BF500 dan BF700 berbeda nyata(P<0.05) dengan perlakuan K500. Laju pertumbuhan ikan lele pada perlakuan K500 lebih rendah dibandingkanperlakuan lain. Hasil pengujian organosensory menunjukkan bahwa ikan yang dipelihara dalam sistem bioflokmenghasilkan kualitas daging yang lebih tinggi dengan kisaran nilai 7–9 dibandingkan dengan ikan K500 dengannilai 6–7. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa aplikasi sistem bioflok dapat meningkatkanstatus kesehatan, laju pertumbuhan, dan kualitas daging ikan lele Afrika. Kata kunci: bioflok, Clarias gariepinus, kepadatan, kualitas daging, status kesehatan
Production Performance and Nitrogen and Phosphorus Mass Balance in Biofloc-based African Catfish Intensive Culture at Different Densities Sumitro; Budiardi, Tatag; Fauzi, Hilmi; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.82-92

Abstract

This study aimed to evaluate the production performance and nitrogen and phosphorus mass balance of biofloc-based intensive African catfish Clarias gariepinus culture at different densities. African catfish with an average body weight of 2.64 ± 0.06 g was randomly distributed into 12 units of round tank with a working volume of 2 m3 of water and maintained for 8 weeks. A completely randomized experimental design with four treatments (in triplicates), i.e. a control treatment at a fish density of 500 fish m-3 with regular water exchange and without organic carbon source addition, and biofloc treatments (BFT) at three different densities, i.e. 500 fish m-3 (BFT500), 750 fish m-3 (BFT750), and 1000 fish m-3 (BFT1000). Biofloc systems were performed with a regular addition of tapioca flour (40% C). The production performance between biofloc system and the control was not significantly different, however water and nitrogen utilizations were significantly more efficient in biofloc system than those of the control. The highest fish specific growth rate was observed in BFT1000 and BFT500 (6.01% day-1 and 5.96% day-1, respectively) (P<0.05). Fish density significantly affected the fish growth performance and productivity in biofloc systems, but not nitrogen and phosphorus utilizations. In conclusion, higher fish density significantly increased the production and water utilization efficiency in biofloc systems, but has no effect on nitrogen and phosphorus utilization efficiency. Furthermore, increasing the fish density could significantly reduce the fish survival and require more efforts to control biofloc biomass in the culture system.
Dietary supplementation of betain to improve the growth and feed utilization in hybrid grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀) juvenile La Muhamad, Idul; Setiawati, Mia; Wiyoto, Wiyoto; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.24-33

Abstract

Betaine plays some important roles in feed utilization and fish metabolism. The aim of this study was to evaluate the effect of dietary betaine supplementation on the growth performance and feed utilizationin hybrid grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀). A completely randomized experimental design with four dietary levels of betaine, i.e.0.0%, 0.5%, 1.0%, and 2.0% in quadruplicate was done.Hybrid grouper juvenile obtained from Brackishwater Aquaculture Development Center, Situbondo, with an initial body length and body weight of 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g, respectively was used as the tested animal. The fish was maintained in 60 cm x 40 cm x 40 cm aquaria with 75 L working capacity with individual recirculating system with a fish density of 15 fish/aquarium for 50 days. Experimental diet was provided to apparent satiation twice a day. The results of this study demonstrated that dietary betaine at a level of 0.5% resulted in higher feed utilization efficiency, protein and methionine retentions, and growth performance and lower ammonia excretion than those of the control (P<0.05). Higher antioxidative status was indicated by the lower malondialdehyde (MDA) in the liver of fish fed with betaine supplemented diets at levels of 1 - 2%. In conclusion, betaine supplementation of 0.5% could increase feed utilization efficiency and growth performance of hybdrid grouper. Keywods: Betaine, Hybrid Grouper, Growth Performance, Feed, Antioxidative Status ABSTRAK Betain memegang beberapa peranan penting dalam pemanfaatan pakan dan metabolisme pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi betain pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan pada juvenil ikan kerapu hybrid cantang (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan pakan dengan tingkat suplementasi betain yang berbeda, yaitu 0.0%, 0.5%, 1.0%, dan 2.0% dengan empat ulangan. Juvenil ikan kerapu cantang yang berasal dari Balai Pengembangan Budidaya Laut Situbondo dengan panjang dan bobot awal masing-masing 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g digunakan sebagai hewan uji dalam penelitian ini. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 60 cm x 40 cm x 40 cm dengan kapasitas 75L yang dilengkapi dengan sistem resirkulasi individu dengan kepadatan 15 ekor per akuarium selama 50 hari. Pakan uji diberikan hingga sekenyangnya dua kali sehari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi betain sebanyak 0.5% menghasilkan pemanfaatan pakan, retensi protein, retensi metionina, kinerja pertumbuhan dan ekskresi ammonia yang lebih baik daripada kontrol (P<0.05). Status antioksidasi yang lebih juga yang ditunjukkan dengan lebih rendahnya konsentrasi malondialdehid (MDA) pada hati ikan yang diberi pakan dengan suplementasi 1-2% betain. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi betain sebanyak 0.5% dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan kinerja pertumbuhan ikan kerapu cantang.
The addition of calcium oxide with different doses in the recirculation system to improve the abalone Haliotis squamata seed production Supriyono, Eddy; Liubana, Debora Victoria; Budiardi, Tatag; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.199-206

Abstract

Information about abalone growth is necessary to overcome the abalone culture sustainability. Water quality parameters are aspects that need to be reviewed, one of which is the calcium level in the water. The aim of this study was to determine the optimal calcium dose in recirculation system for abalone (Haliotis squamata) growth. The study was conducted with an experimental method with four treatments (calcium oxide with doses of 0, 15, 30, 45 mg/L) and three times replications. Abalone with 2.3 g body weight, 2.3 cm shell length, and 1.2 cm shell width was reared for 60 days in recirculation system and fed with Gracilaria verrucosa. The results showed that the best abalone treatment medium with the addition of calcium oxide to increase the abalone seed production was 15 mg/L CaO with 100% survival rate, 31.57±2.82% feed efficiency, and 0.56±0.06%/day specific growth rate. Keywords: Abalone, calcium, organ composition, production, recirculation ABSTRAK Informasi tentang pertumbuhan abalon diperlukan untuk mengatasi keberlanjutan budidaya abalon. Parameter kualitas air merupakan aspek yang perlu ditinjau. Kadar kalsium dalam air menjadi salah satu aspek yang dapat ditinjau.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan dosis kalsium optimal melalui sistem resirkulasi untuk pertumbuhan abalon Haliotis squamata. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan empat perlakuan 3 ulangan penambahan CaO dengan dosis 0, 15, 30, dan 45 mg/L. Secara singkat, abalon dengan bobot badan 2,3 g, panjang cangkang 2,3 cm dan lebar cangkang 1,2 cm dipelihara selama 60 hari dengan sistem resirkulasi dan diberi makan dengan Gracilaria verrucosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media perlakuan abalon dengan penambahan kalsium oksida terbaik untuk meningkatkan produksi abalon adalah CaO 15 mg/L dengan tingkat kelangsungan hidup 100%, efisiensi pakan 31,57 ± 2,82 %, dan laju pertumbuhan spesifik harian 0.56 ± 0.06%/hari. Kata kunci: Abalon, kalsium, komposisi organ, produksi, resirkulasi
Effects of nano-scale nutrients supplement on natural productivity of Thalassiosira sp. and growth performance of Pacific white shrimp, Litopenaeus vannamei, reared under intensive conditions using concrete tank culture system Novriadi, Romi; Fadhilah, Rifqi; Eka Wahyudi, Aldy; Prayogi, Dea Ananda; Ilham, Ilham; Nanda, Sunil
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.47-55

Abstract

ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the use of unique mixture of nano-nutrient to extent the growth of diatom Thalassiosira sp. and the effect to the water quality, growth performance, and protein composition on the whole body of the Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei. There are four treatments with four replicates per treatment with the use of commercial nano-nutrients (Aquaritin Aquaculture or AA) namely: (1) 0.70 mg/L; (2) 0.525 mg/L, (3) 0.35 mg/L, and (4) without any AA application, but included standard application of using urea and NPK fertilizers to enhance the growth of diatom. The use of AA was successful to trigger the growth of Thalassiosira sp. Group of shrimp treated with 0.70 mg/L had better growth rate. Results of feeding trial indicated that adding AA could also improve the biomass, final mean weight, survival, percentage weight gain, and better feed utilization in terms of FCR. The addition of AA to enhance the growth of Thalassiosira sp. also provides a beneficial impact to the protein composition in whole body of shrimp. Biologically, the protein composition in the whole body of shrimp treated with 0.7 mg/L was higher. The findings from this study showed that the addition of commercial nano-nutrient could enhance the growth of Thalassiosira sp. and led to better growth of shrimp cultured in concrete tank Key words: Growth, Litopenaeus vannamei, nano-nutrients, protein composition, Thalassiosira sp. ABSTRAK Tujuan penelitian yaitu mengevalusi penggunaan campuran unik nano-nutrien untuk meningkatkan pertumbuhan diatom Thalassiosira sp. dan pengaruhnya terhadap kualitas air, laju pertumbuhan, dan komposisi protein pada tubuh udang L. vannamei. Terdapat empat perlakuan dan empat ulangan per perlakuan dengan penggunaan nano-nutrisi komersial (Aquaritin Aquaculture atau AA) yaitu: (1) 0,70 mg/L; (2) 0,525 mg/L; (3) 0,35 mg/L, dan (4) tanpa pemberian AA, tetapi menggunakan penerapan standar pupuk urea dan NPK untuk pertumbuhan diatom. Penggunaan AA berhasil memicu pertumbuhan Thalassiosira sp. Kelompok udang yang diberi perlakuan 0,70 mg/L memiliki laju pertumbuhan yang lebih baik. Hasil uji coba pemberian pakan menunjukkan bahwa penambahan AA juga dapat meningkatkan biomassa, bobot rata-rata akhir, kelangsungan hidup, persentase pertambahan bobot dan pemanfaatan pakan yang lebih baik dalam hal FCR. Penambahan AA untuk meningkatkan pertumbuhan Thalassiosira sp. juga memberikan dampak yang menguntungkan bagi komposisi protein di seluruh tubuh udang. Secara biologis komposisi protein di tubuh udang dengan perlakuan 0,70 mg/L lebih tinggi. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa penambahan nano-nutrien komersial dapat meningkatkan pertumbuhan Thalassiosira sp. dan mendorong pertumbuhan udang bada sistem budidaya di bak beton. Kata kunci: Komposisi protein, Litopenaeus vannamei, nano-nutrien, pertumbuhan, Thalassiosira sp.
Evaluation of corn steep powder as a protein source for feed of Nile tilapia Oreochromis niloticus Hermawan, Dodi; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi; Alimuddin, Alimuddin; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.115-129

Abstract

This study was aimed to evaluate the use of corn steep powder (CSP) as a plant protein source in Oreochromis niloticus diet. A commercial feed with 28% protein content and 368 kcal/g energy was used as reference diet, while the test feed consisting of various CSP content, namely 0%, 10%, 20%, and 30% and feed containing soybean meal (SBM) at the level of 20% and 30%. Tilapia were used in the trial with the initial body weight of 6.44 ± 0.29 g, and reared for thirty days in the aquarium at the density of fifteen and fed 3 times daily at a satiation level. All diets were supplied by 0.5% of Cr2O3 as an indicator for digestibility measurement. This study applied the completely randomized design experimental method containing six diet treatments and four replications. The result showed that CSP contains 40.27% protein, 26.10% lactic acid, and minerals. CSP is low in crude fiber and anti-nutritional factors. This study results that increasing the level of CSP significantly decreased feed acidity (P <0.05) compared to the control. The addition of CSP 20% increased feed digestibility including protein, lipid, energy, and dry matter digestibility. CSP 20% treatment increased final body weight, specific growth rate and reduced feed conversion ratio significantly (P<0.05) compare to other treatments. In conclusion, CSP can be used up to 20% to improve the growth performance of tilapia. Keyword: corn steep powder, feed digestibility, growth performance, tilapia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan corn steep powder (CSP) sebagai sumber protein nabati pada pakan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan komersial dengan kadar protein 28% dan energi 368 kkal/g digunakan sebagai pakan acuan, sementara pakan uji terdiri atas pakan dengan kandungan CSP sebanyak 0% (CSP0), 10% (CSP10), 20% (CSP20) dan 30% (CSP30) serta pakan dengan kandungan tepung bungkil kedelai (SBM) pada level 20% (SBM20) dan 30% (SBM30) sebagai pembanding. Penambahan Cr2O3 0,5 % diberikan sebagai indikator untuk mengukur kecernaan. Ikan nila dengan bobot tubuh rata-rata 6.44 ± 0.29 dipelihara dalam akuarium (95×45×45 cm3) yang diisi air 100 L dengan kepadatan 15 ekor per akuarium dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation selama 30 hari masa pemeliharaan. Penelitian ini menggunakan desain rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSP mengandung protein sebesar 40,27%, asam laktat 26,10%, beberapa mineral dan indeks asam amino esensial 0,90. CSP juga rendah serat kasar dan zat antinutrisi. Peningkatan dosis CSP menurunkan pH pakan secara signifikan (P<0.05) dibandingkan dengan kontrol. Penambahan CSP sampai level 20% meningkatkan nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Di samping itu, perlakuan CSP 20% meningkatkan bobot akhir, laju pertumbuhan harian dan rasio konversi pakan yang signifikan (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian CSP 20% dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila. Kata kunci: corn steep powder, kecernaan pakan, pertumbuhan, ikan nila
Performance of perisel as shelter and periphyton substrate in the floating cage of Pacific white shrimp culture Palinggi, Rifka Liling; Budiardi, Tatag; Djokosetiyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.65-71

Abstract

Shrimp culture in the floating cage is expected to reduce the utilization of land and its possible negative impact to the environment. The advantages of shrimp farming in the sea include the high dissolved oxygen concentration and the better meat quality. This research aimed to enhance the production performance of shrimp through the utilization of periphyton as a natural feed for shrimp. A completely randomized design with 3 treatments (in triplicates) were applied in this experiment, i.e floating cage without perishel (control), floating cage with PE perishel and PA perishel. Shrimp with body weight of 2.5 ± 0.2 g were stocked at the initial density of 2,000 shrimp in each cage, and maintained for 90 days. No significant difference was observed in the survival amongst treatments. The lowest feed conversion ratio (1.74) and coefficient of variance (3.21) were showed in treatment PA. The highest attachment and abundances of periphyton were found in treatment PA. It was concluded that the addition of perishel inside the floating cage may contribute as natural feed source for the shrimp and thus increase the production performance of shrimp. Keywords: floating cage, Litopenaeus vannamei, periphyton, perisel, shelter ABSTRAK Budidaya udang di KJA diharapkan dapat menekan isu pemanfaatan daratan sebagai tambak yang berdampak pada permasalahan lingkungan. Keunggulan laut untuk budidaya udang, antara lain adalah kadar oksigen terlarut relatif tinggi sehingga tidak perlu kincir, dan mutu daging udang yang dihasilkan relatif lebih baik. Penelitian ini ditujukan untuk meningkatkan kinerja produksi dan memanfaatkan kesuburan perairan laut berupa perifiton sebagai pakan alami bagi udang. Penelitian ini terdiri atas tiga perlakuan, yakni: (A) kontrol (tanpa perishel), (B) jaring benang nilon (PE), dan (C) jaring benang serabut pendek (PA 6.6), masing-masing perlakuan terdiri dari tiga ulangan. Udang dengan bobot 2,5 ± 0,2 g ditebar sebanyak 2.000 ekor perwadah, dan dipelihara selama 90 hari. Hasil analisis kinerja produksi menunjukkan bahwa kelangsungan hidup tidak berbeda nyata antarperlakuan. Nilai konversi pakan terendah diperoleh pada perlakuan jaring benang PA dengan nilai 1,74. Nilai koefisien keragaman terendah diperoleh pada perlakuan jaring benang PA dengan nilai 3,21. Penempelan dan kepadatan perifiton yang cukup baik diperoleh pada jenis perishel jaring benang serabut pendek PA. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan perishel sebagai shelter dan penumbuh perifiton diperoleh hasil produksi yang baik. Udang dapat memanfaatkan keberadaan perishel dalam wadah pemeliharaan sebagai tempat berlindung dan memperoleh makanan tambahan berupa pakan alami yang menempel pada perishel. Kata kunci: karamba jaring apung, perifiton, perisel, selter, udang vaname
Controlling the cannibalism of African catfish juvenile by 17β‒estradiol hormone administration and the stocking density determination Siregar, Khoirotun Nisa; Maulana, Fajar; Zairin Jr., Muhammad; Alimuddin, Alimuddin; Widanarni, Widanarni
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.72-81

Abstract

An effort to increase the production of juvenile catfish is limited by the high mortality rate, especially caused by cannibalism. The hormonal treatment has been conducted as an effort to control cannibalism. This study used completely randomized factorial design, consisted of six treatments and three replications. There were two factors examined in this study, the first factor was different doses of 17β‒estradiol hormone (0, 30, and 60 mg estradiol‒17β/kg) incorporated in the feed, and the second factor was stocking density (150 and 300 fish/m2). Juvenile catfish with the size of 4.0 ± 0.1 cm were reared for 30 days in the 84 L aquarium. The results showed that hormone treatment could reduce cannibalism rate, type-I and II cannibalism compared to control (P<0.05). The results showed that the lowest of mortality was obtained in the treatment B (17β‒estradiol administration of 30 mg/kg, at stocking density of 150 fish/m2; P<0.05). The lowest cortisol level was found in treatment F, and the highest estradiol level was found in treatment F (17β‒estradiol administration of 60 mg/kg, at stocking density of 300 fish/m2; P<0.05). The lowest of blood glucose level was found in treatment B (P<0.05). The highest specific weight growth was found in the stocking density of 150 fish/m2 (P<0.05). The results of this study indicated that administration of 17β‒estradiol in feed could reduce the level of cannibalism in African catfish juvenile. Keywords: cannibalism, Juvenile, catfish, estradiol‒17β, cortisol ABSTRAK Upaya untuk meningkatkan produksi benih ikan lele dibatasi oleh tingginya angka kematian, terutama yang disebabkan oleh kanibalisme. Pendekatan hormonal telah dilakukan sebagai upaya pengendalian kanibalisme. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial, terdiri dari enam perlakuan dan tiga ulangan. Ada dua faktor yang diteliti dalam penelitian ini, faktor pertama adalah dosis hormon 17β‒estradiol yang berbeda (0, 30, dan 60 mg/kg) yang diberikan melalui pakan, dan faktor kedua adalah padat tebar (150 dan 300 ekor/m2). Benih ikan lele berukuran 4.0 ± 0.1 cm dipelihara selama 30 hari di akuarium (84 L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hormon dapat menurunkan tingkat kanibalisme tipe‒I dan II dibandingkan kontrol (P<0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas terendah diperoleh pada perlakuan B (pemberian 17β‒estradiol 30 mg/kg, pada padat tebar 150 ekor/m2; P<0.05). Kadar kortisol terendah ditemukan pada perlakuan F, dan kadar estradiol tertinggi ditemukan pada perlakuan F (pemberian 17β‒estradiol 60 mg/kg, pada padat tebar 300 ekor/m2; P<0.05). Kadar glukosa darah terendah ditemukan pada perlakuan B (P<0.05). Pertumbuhan bobot spesifik tertinggi ditemukan pada padat tebar 150 ekor/m2 (P<0.05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian hormon 17β‒estradiol dengan dosis 30 mg/kg pakan, dan padat tebar 150 ekor/m2 dapat menurunkan tingkat kanibalisme pada benih ikan lele di Afrika. Kata kunci: kanibalisme, juvenil, lele, 17β‒estradiol, kortisol
The effectiveness of filters on catfish Clarias gariepinus fry performance in the aquaponic system Andriani, Yuli; Hasan, Zahidah; Zidni, Irfan; Nurruhwati, Isni; Iskandar, Iskandar; Kusumoputra, Rahmadi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.101-114

Abstract

This study aimed to determine the effectiveness of filters on the growth performances of catfish fry (Clarias gariepinus) in the aquaponic system. The study was conducted in the Ciparanje Green House, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. A completely randomized design with four treatments and three replications was applied, namely treatment A: Water circulation using bioball filter medium, B: Water circulation using water spinach filter medium, C: Water circulation using bioball and water spinach filter media, and D: Water circulation using sponge filter medium (control). The container used for the maintenance was a fiber tank at 70 cm × 70 cm × 70 cm size filled with 257 L water and a stocking density of 15 fish/fiber. The parameters observed were survival rate, growth, feed conversion, and water quality. The results showed that the use of biological filter using water spinach produced the best growth performance of catfish. The best survival rate was also obtained by using water spinach filter (100%) with the absolute growth of 98.32 ± 15.6 g. The water quality an aquaponic system with water spinach filter supported the growth performance of catfish fry. Keywords: absolute growth, aquaponic, Clarias gariepinus, filters. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas filter terhadap performa pertumbuhan benih ikan lele Clarias gariepinus dalam sistem akuaponik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Rumah Kaca Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Metode penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan A: sirkulasi menggunakan media filter bioball, B: Sirkulasi menggunakan media filter bayam air, C: Sirkulasi menggunakan media filter bioball dan tanaman kangkung, dan D : Sirkulasi menggunakan media spons (kontrol). Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan bak fiber dengan ukuran 70 cm × 70 cm × 70 cm diisi dengan air sebanyak 257 L dengan padat tebar 15 ekor / bak. Parameter yang diamati adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan ikan, konversi pakan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan filter biologis menggunakan tanaman kangkung menghasilkan performa pertumbuhan ikan lele yang terbaik. Tingkat kelangsungan hidup terbaik juga ditunjukkan oleh pelakuran dengan filter berupa tanaman kankung (100%) dan pertumbuhan mutlak 98,32 ± 15,6 g. Kualitas air sistem akuaponik dengan filter tanaman kangkung mendukung performa pertumbuhan benih ikan lele.
Cellulase hydrolyzed Indigofera zolingeriana leaf utilization as a feed ingredient for gourami fingerling Jefry, Jefry; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Fauzi, Ichsan Achmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.139-147

Abstract

This study was aimed to evaluate the utilization of hydrolyzed Indigofera zolingeriana by celullase enzyme as the feed ingredient of gourami fish. This study used a completely randomized design which contained three steps, whereas each step contained four treatments and four replications. The first step performed by evaluating the Indigofera leaf meal (ILM) added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of ILM on gourami seeds. The third step was feed evaluation added with ILM as much as 0% (control), 15%, 30%, and 45% against the growth performance on gourami seeds. The gourami seeds used in the second and third steps with a weight of 13.65 ± 0.39 g/seed and 5.95 ± 0.15 g/seed, respectively. The addition of 0.8 g/kg and 1.2 g/kg cellulase enzyme could significantly decrease the crude fiber of ILM with 43.33%, besides having the best value of total, ingredient, protein, lipid, and energy digestibility. The growth performance of gourami seeds given 15% ILM added feed had the best value and insignificantly different from the control feed without ILM addition based on the specific growth rate (SGR), protein retention (PR), and feed efficiency (FE). Keywords: Cellulase, feed, hydrolyze, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan daun Indigofera zolingeriana yang dihidrolisis enzim selulase sebagai bahan baku pada pakan benih ikan gurami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga tahap, dimana masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Pada tahap pertama dilakukan evaluasi tepung daun Indigofera (TDI) yang ditambahkan enzim selulase sebesar 0 g/kg (kontrol), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, dan 1.2 g/kg. Pada tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan TDI pada benih ikan gurami. Pada tahap ketiga dilakukan evaluasi pakan yang ditambahkan TDI sebesar 0% (kontrol), 15%, 30% dan 45% terhadap kinerja pertumbuhan pada benih ikan gurami. Benih ikan gurami yang digunakan pada penilitian tahap kedua dengan bobot 13.65 ± 0.39 g/ekor dan 5.95 ± 0.15 g/ekor. Penambahan enzim selulase pada dosis 0.8 g/kg dan 1.2 g/kg secara signifikan mampu menurunkan serat kasar TDI sebesar 43.33 % dan memberikan nilai terbaik terhadap nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Kinerja pertumbuhan benih ikan gurami yang diberikan pakan yang ditambahkan TDI sebesar 15% memilki nilai terbaik dan tidak berbeda nyata terhadap pakan kontrol tanpa TDI dari aspek laju pertumbuhan spesifik (LPS), retensi protein (RP) dan efisiensi pakan (EP). Kata kunci: Hidrolisis, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy, pakan, selulase.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue