cover
Contact Name
Anita Heru Kusumorini
Contact Email
pekalongankota.bappeda@gmail.com
Phone
+62285423223
Journal Mail Official
pekalongankota.bappeda@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sriwijaya No. 44, Podosugih, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Jawa Tengah 41111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Litbang Kota Pekalongan
ISSN : 20850689     EISSN : 25030728     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kota Pekalongan merupakan laporan penelitian atau penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan jurnal dilaksanakan oleh Dewan Redaksi sebagai wahana untuk mendokumentasikan laporan penelitian dalam bentuk jurnal yang dapat dibaca sebagai bahan referensi dalam mendukung pengambilan keputusan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 332 Documents
PENCEGAHAN DAN EDUKASI MASYARAKAT DALAM PENANGANAN ENDEMIK PENYAKIT BERBASIS WEB UNTUK PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA PEKALONGAN Tri Agus Setiawan; Agus Ilyas; Ari Putra Wibowo
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 15 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v15i0.75

Abstract

Kota Pekalongan memiliki iklim heterogen yang berpotensi untuk penyebaran persebaran berbagai jenis penyakit baik menular maupun tidak menular, salah satu penyakit yang menjadi endedmik di Kota Pekalongan adalah Kaki Gajah (Filariasis), kasus penyakit Filariasis di Kota Pekalongan tertinggi di Jawa Tengah sebanyak 442 kasus tersebar di 11 kelurahan. Adapun tujuan dari penelitian ini agar terwujud aplikasi pencegahan dan edukasi masyarakat dalam penanganan endemik penyakit berbasis web untuk peningkatan kesehatan masyarakat di Kota Pekalongan. Metode pengembangan system yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Waterfall (Roger S. Pressman). Dengan adanya Sistem Informasi Pencegahan dan Edukasi Masyarakat dalam Penanganan Endemik penyakit. Menular dan tidak Menular Berbasis Web untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat di Kota Pekalongan ini nantinya dapat mengumpulkan, mengelola, dan memvisualisasikan data dan informasi dalam bentuk Web pada masyarakat tentang pengetahuan penyakit menular dan tidak menular (mengedukasi) penyebab, cara penularan dan cara penccegahannya serta pemetaan Lokasi Puskesmas di Kota Pekalongan. Kata Kunci: Website, Endemik, Penyakit menular dan tidak menular
ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN MELALUI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN ( BPSK ) Yustiana Dwirainaningsih
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 15 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v15i0.76

Abstract

Secara faktual bahwa sengketa konsumen akan selalu ada dalam kehidupan sehari-hari, dalam proses penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan dengan dua jalur yaitu penyelesaian menggunakan jalur litigasi (melalui pengadilan) dan non litigasi di mana penyelesaiannya dilakukan oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dengan cara mediasi, konsolidasi dan abritase. Penelitian ini dilakukan pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang berkedudukan di Kota Pekalongan dengan menggunakan jenis dan pendekatan yuridis normatif. Penulis melakukan penelaahan literatur hukum seputar perlindungan konsumen serta penyelesaian sengketa konsumen terhadap undangundang perlindungan konsumen yang kemudian dikumpulkan dan diklasifikasikan dengan catatan secara rinci, sistematis dan terarah mengenai dokumen/kepustakaan. Selanjutnya penulis menganalisa data secara deskriptif, sehingga diperoleh gambaran yang menyeluruh tentang permasalahanpermasalahan seputar penyelesaian sengketa konsumen di BPSK Kota Pekalongan. Hasil dari penelitian yang penulis lakukan ini mengemukakan peran BPSK Kota Pekalongan dalam upaya penyelesaian sengketa konsumen ditinjau berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dapat ditempuh dengan 3 (tiga) metode/cara yaitu konsiliasi, mediasi dan arbitrase atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersengketa. Bentuk putusan dengan metode konsiliasi dan mediasi bersifat final dan mengikat, tanpa harus dimintakan fiat eksekusi ke Pengadilan Negeri setempat, sedangkan bentuk putusan yang ditempuh dengan metode arbitrase harus dimintakan fiat eksekusi ke Pengadilan Negeri setempat agar putusan arbitrase tersebut mempunyai kekuatan eksekutorial. Kata Kunci: Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, Sengketa Konsumen, Penyelesaian Sengketa
KORELASI ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DAN KETERAMPILAN PRESENTASI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS PEKALONGAN Rizka Hayati; Desyarini Puspita Dewi
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 15 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v15i0.77

Abstract

Ketrampilan presentasi adalah ketrampilan yang penting untuk dimiliki oleh mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris. Sebagai seorang calon guru, mahasiswa bahasa inggris tentunya dituntut untuk memiliki kemampuan menjelaskan yang baik dan jelas. Akan tetapi tidak semua mahasiswa pendidikan bahasa inggris Universitas Pekalongan memiliki ketrampilan presentasi yang baik. Menurut berbagai penelitian sebelumnya, banyak faktor yang mempengaruhi ketrampilan presentasi, salah satunya adalah motivasi berprestasi. Motivasi sebagai suatu dorongan kuat dari dalam diri seseorang akan memunculkan semangat untuk maju dan berhasil. Dari alasan tersebut diatas, maka peneliti akan melakukan studi korelasi antara ketrampilan presentasi dan motivasi berprestasi untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedua variable tersebut, serta mencari tau seberapa kuat hubungan kedua variable tersebut. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah studi korelasi. Variable yang dianalisis adalah ketrampilan presentasi dan motivasi berprestasi. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNIKAL. instrument yang digunakan adalah skala motivasi berprestasi dan tes kemampuan presentasi. Hasil analisis menyatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara motivasi berprestasi dan ketramnpilan berprestasi. hal ini dapat dilihat dari nilai r sebesar 0.413. nilai r tersebut menunjukkan kekutan hubungan yang sedang. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi postif antara kedua variable yang berarti semakin tinggi motivasi berprestasi, semakin tinggi ketrampilan presentasi yang dimiliki. Kata Kunci : Korelasi, ketrampilan berprestasi, motivasi berprestasi
URGENSI PENERAPAN MUATAN LOKAL BATIK PADA SISWA TUNA RUNGU WICARA Inayatul Ulya
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 15 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v15i0.78

Abstract

SMALB PRI Pekalongan (Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Persatuan Rakyat Indonesia) menerapkan muatan lokal Bahasa Jawa pada siswa tuna rungu wicara. Sebagaimana diketahui bahwa Siswa tuna rungu wicara mempunyai keterbatasan dalam mendengar dan berkomunikasi, sehingga perlu diteliti apakah penerapan muatan lokal tersebut sesuai untuk mereka. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi permasalahan-permasalahan pada penerapan muatan lokal Bahasa Jawa pada siswa Tuna Rungu Wicara, 2) mendeskripsikan urgensi penerapan muatan lokal Batik pada siswa Tuna rungu wicara. Peneliti menggunakan desain deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan memberikan angket kepada kepala sekolah, guru muatan lokal Bahasa Jawa, dan siswa tuna rungu wicara. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) guru muatan lokal Bahasa Jawa menghadapi permasalahan dalam proses belajar mengajar dikerenakan tidak tersedianya buku muatan Lokal Bahasa Jawa yang dibuat khusus untuk anak tuna rungu wicara. Selain itu, keterbatasan pendengaran dan tidak mampu berbicara menjadikan siswa sangat terbatas untuk menggunakan kosa kata Bahasa Jawa, 2) muatan Lokal Batik sangat penting untuk diterapkan dengan pertimbangan bahwa lokasi sekolah berada di Kota Pekalongan dengan batik sebagai salah satu kearifan lokal. Selain itu, keterampilan siswa tuna rungu wicara perlu untuk dikembangkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan muatan Bahasa Jawa kurang tepat diberikan kepada siswa tunarungu wicara, sedangkan muatan lokal batik dapat dijadikan salah satu pilihan untuk diterapkan. Dengan diterapkannya muatan lokal batik, diharapkan pada saat siswa lulus, mereka memiliki ketrampilan membatik dan dapat dijadikan sumber perekonomian mereka. Tentunya penerapan muatan lokal batik perlu adanya dukungan dari pemerintah kota Pekalongan dengan disedikannya fasilitas berupa ruang workshop batik dan peralatan proses pembuatan batik serta galeri batik untuk memasarkan batik hasil buatan mereka. Kata Kunci: Urgensi, Batik, Muatan lokal
TAHAP DEFINE DAN DESIGN BAHAN AJAR MATEMATIKA SMP DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME) BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK MENANAMKAN NILAINILAI BUDAYA PEKALONGAN Dewi Mardhiyana; Nur Baiti Nasution; Syita Fatih ‘Adna
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 15 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v15i0.79

Abstract

Kota Pekalongan terkenal dengan julukan “kota kreatif” yang kaya akan tradisi dan budaya. Tradisi dan budaya tersebut perlu dilestarikan dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke ranah pendidikan, khususnya bahan ajar matematika. Hal ini disebakan karena matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit bagi siswa SMP. Materi matematika akan lebih mudah dipelajari oleh siswa jika berisi masalah kontekstual (Realistic Mathematic Educatioan) yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, permasalahan yang dihadapi guru saat ini adalah kurangnya atau belum tersedianya bahan ajar SMP yang isinya terintegrasi budaya lokal, khususnya budaya di Kota Pekalongan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar matematika SMP dengan pendekatan Realistic Mathematic Educatioan (RME) berbasis budaya lokal untuk menanamkan nilai-nilai budaya Kota Pekalongan. Jenis penelitian ini adalah research and development (R&D), yang memuat 4 tahapan, yaitu Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran). Artikel ini hanya membahas tahap define dan design pada pengembangan bahan ajar matematika berbasis budaya lokal Pekalongan. Pada tahap define, dilakukan analisis kebutuhan berupa survei ke siswa SMP di Pekalongan dengan melakukan pembelajaran matematika dengan memberikan lembar kerja yang berisi tentang budaya lokal Pekalongan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bahan ajar yang dibutuhkan oleh sisa. Selain itu juga dilakukan wawancara ke guru matematika SMP yang familiar dengan materi matematika SMP dan budaya lokal Pekalongan. Hasil survey ke siswa SMP menunjukkan bahwa semua siswa belum pernah melihat lembar kerja yang mengintegrasikan unsur budaya. Mereka juga menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan lebih menarik dan mengesankan, karena memuat masalah konteks berupa batik yang biasa mereka jumpai. Hasil wawancara dengan guru matematika SMP menyatakan bahwa pengintegrasian nilai budaya Pekalongan perlu dimasukkan ke dalam mata pelajaran matematika agar lebih menarik untuk dipelajari siswa. Hasil tahap define menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan harus memuat budaya lokal Pekalongan, memuat banyak gambar ilustrasi, memiliki jumlah soal yang cukup, dan relevan dengan materi matematika SMP sesuai kurikulum yang berlaku. Selanjutnya, dilakukan tahap design bahan ajar. Tahap ini dimulai dengan analisis kurikulum berupa analisis Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Selanjutnya menentukan kerangka bahan ajar yang meliputi penentuan cara penyajian materi yang meliputi narasi awal, materi, kesimpulan, latihan soal, dan tokoh matematika. Dari tahap perancangan diperoleh bahwa beberapa budaya Pekalongan yang dapat dikaitkan dengan materi matematika SMP adalah budaya lopisan, balon udara, krupuk usek, dan batik udan liris. Kata Kunci: Tahap define dan design, Pengembangan bahan ajar, Budaya lokal Pekalongan, RME
KAJIAN PRA REVITALISASI PASAR BERORIENTASI KESEJAHTERAAN, KENYAMANAN DAN KEINDAHAN (Kasus Revitalisasi Pasar Banjarsari Kota Pekalongan) Siti Nurhayati; Suryani Suryani; Shinta Dewi Rismawati; P. A. Christianto; Vita Nur Latief; Mujiyono Mujiyono; Sobrotul Imtikhanah
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 15 (2018)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v15i0.80

Abstract

Salah satu sarana perdagangan besar yang ada di Kota Pekalongan adalah Pasar Induk Banjarsari yang terletak di Jalan Sultan Agung, Sampangan, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. Pasar induk ini lokasinya menjadi satu dengan Mall Borobudur dan Swalayan Giant. Pasar Banjarsari memiliki 3 lantai dan terdiri dari 1.156 kios, 171 toko dan 2.701 los. Lantai pertama sebagian besar ditempati oleh pedagang tekstil, lantai kedua dan ketiga ditempati berbagai macam jenis dagangan, baik kuliner, sayur, daging, maupun toko kelontong. Kondisi ini berubah total setelah terjadi kebakaran Pasar Banjarsari pada Senin, 26 Februari 2018 dan baru bisa padam total setelah 30 jam dari kejadian. Pasca terjadi kebakaran, kegiatan ekonomi yang tadinya terpusat di Pasar Induk Banjarsari untuk sementara waktu di relokasi ke Jalan Patiunus dan sekitarnya di mana para pedagang ditampung pada barak-barak yang sifatnya sementara dan bentuknya semi permanen. Kondisi di lokasi penampungan sementara tentu saja mengalami berbagai kendala dalam pelaksanaan transaksi perdagangan seperti panas, berjubel, pedangan dan pembeli kurang nyaman, serta mengganggu kioskios buah yang sudah ada sebelumnya di Jalan Patiunus. Kondisi ini harus segera ditindaklanjuti dengan kebijakan Pemerintah Kota Pekalongan untuk melakukan revitalisasi pembangunan kembali Pasar Iduk Banjarsari pasca kebakaran. Untuk mendukung upaya revitalisasi Pasar Induk Banjarsari maka melalui kegiatan penelitian akan dilakukan kajian pra revitalisasi Pasar Induk Banjarsari, sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Kota Pekalongan terkait dengan kebutuhan dan bentuk bangunan, ketersediaan sarana sosial, pemeliharaan lingkungan, serta kenyamanan bagi pedagang dan pembeli dalam bertransaksi. Kata Kunci: Pasar Banjarsari, Pemkot Pekalongan, Pra revitalisasi, Rekomendasi
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEMATIAN PADA BAYI DAN ANAK DI BAWAH USIA LIMA TAHUN DI KOTA PEKALONGAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN PEKALONGAN SELATAN) Millatin Puspaningtyas; Ana Setyowati; Putri Andanawarih
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 7 (2014)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v7i0.81

Abstract

Infant Mortality Rate (IMR) is one of the health indicators of a country. Pekalongan City Health Deparment data show that IMR in Pekalongan city in 2013 as many as 104 cases. Viewed from the side of the cause, there are two kinds of cause in infant and child mortality, they are endogenous and exogenous. The purpose of this research is to describe the causes of infant and child under five years old mortality in Pekalongan. Research carried out quantitatively and qualitatively, with respondent amounted to 20 persons. The main informants are 8 parents of infants or children who died in 2013-2014, and triangulation informants include 1) Independent Practic Midwife, 2) The Head of Space Baby, 3) The Head of Space Child, 4) The Head of Medical Records Unit. Quantitative data collection using medical record, KIA report, and data OVP, while qualitative using indepth interviews. Analysis of quantitative data presented in the table of descriptive and qualitative content analysis. The statistical results showed the mother’s education level is elementary (45%), housewives (70%), the incidence of low birth weight (20%), asphyxia (10%), and diarrhea (20%). Qualitative results showed that infant and child mortality due to exhausting household activities, insufficient nutrition, maternal health workers do not implement advice, information when ANC is less clear, less PHBS, and late treatment to referral facility. It is recommended for health workers to provide KIE should be deeper, clear, easy to understand an engange husband or family. Keyword : Basic concepts infants and children, cause of death
TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG HIV / AIDS DI KOTA PEKALONGAN Dwi Edi Wibowo; Saeful Marom
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 7 (2014)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v7i0.82

Abstract

Masa remaja adalah suatu tahap peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa. Lazimnya masa remaja dimulai saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat mencapai usia matang tersebut. Masa remaja ini terjadi beberapa perubahan atau perkembangan yang terjadi antara lain perkembangan fisik, perkembangan emosional dan perkembangan seksual. Dengan adanya perkembangan seksual,keingintahuan remaja tentang seks menjadi lebih besar dan dorongan seks pun meningkat (Hurlock, 1999). Maraknya seks bebas di Kota Semarang, harus diwaspadai oleh para remaja yang tinggal di wilayah tersebut. Pasalnya, bila tidak berhati-hati mereka bisa tertular salah satu virus mematikan HIV/AIDS.Berdasarkan data dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), saat ini ada sebanyak 4.472 orang yang telah terinfeksi virus HIV/AIDS, permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang HIV / AIDS di Kota Pekalongan?”. Tujuan penelitian adalah adalah mengetahui tingkat pemahaman remaja tentang pengetahuan HIV/AIDS , mengetahui sumber informasi remaja tentang HIV/AIDS, mengetahui tingkat pemahaman remaja tentang sikap terhadap HIV/AIDS ,mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang perilaku yang beresiko tertular HIV/AIDS . Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, yaitu pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder. Dalam pengambilan data primer ini, peneliti melakukan wawancara terstruktur dengan menggunakan questionaire, dengan pemilihan sampel menggunakan metode random sampling. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan menggunakan data – data yang telah ada sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru BK di SMA/MA/SMK dikota Pekalongan menyatakan bahwa siswa banyak menampakkan kebebasan mandiri pada kelas XI (usia antara 16-18 tahun) disebabkan pada jenajang kelas XI mereka merasa bebas karena mereka mempunyai yunior yaitu kelas X dan akan kembali stabil lagi ketika kelas XII karena siswa sudah konsentrasi untuk menghadapi U jian Akhir Nasional. Berdasarkan masukan dari Guru BK di SMA/MA/SMK maka peneliti mengambil sampel kelas XI di SMA/SMK/MA di Kota Pekalongan. Selanjutnya untuk dikarenakan hasil wawancara dengan Guru BK di Sekolah dengan beberapa pertanyaan mengenai masalah kenakalan siswa jawaban semuanya hampir sama bahkan bisa dikatakan sama sehingga jadi tim peneliti menyimpulkan bahwa keadaan siswa SMA/SMK/MA bisa dikatakan sama sehingga untuk menjaga persebaran responden dan dapat mewakili dari tiap bagian kota pekalongan peneliti mendata sekolah di tiap bagian Kota Pekalongan dan memilih secara acak sekolah tersebut sehingga pada akhirnya diperoleh sampelnya adalah :MAN 2 Kota Pekalongan mewakili Kota Pekalongan Bagian Barat,SMK Gatra Praja mewakili Kota Pekalongan Bagian Utara,SMA Hasyim Asy’ari mewakili Kota Pekalongan Bagian Timur,SMA N 4 Kota pekalongan mewakili Kota Pekalongan Bagian Selatan. Kesimpulan Tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/ AIDS di Kota Pekalongan adalah cukup sebesar ( 56,73% ). Saran terhadap stakeholder terkait dengan hasil penelitian, Stakeholder terkait dapat meningkatkan sosialisasi terhadap remaja tentang pengetahuan HIV / AIDS agar tingkat pengetahuan remaja menjadi naik, adanya koordinasi antar instansi dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat, memberikan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat agar info yang diberikan tersebar luas ,menambah jenis media info yang digunakan untuk sosialisasi HIV/AIDS. Kata Kunci : Pengetahuan , Remaja , HIV / AIDS
PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA RAWAN SOSIAL EKONOMI (WRSE) TENTANG PENCEGAHAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI KOTA PEKALONGAN TAHUN 2014 Ida Baroroh; Nur Hidayati; Dian Kusumawardani
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 7 (2014)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v7i0.83

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is the virus that causes Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), which is a global health problem in both developed and developing countries. HIV / AIDS is a sexually transmitted disease that can be transmitted throughout society from infants to adults both male and female. Women's socio-economic prone included into the vulnerable groups because of poor health status, durability and family welfare would have the potential to perform high-risk of HIV infection and AIDS. The purpose of the research is to analyze the knowledge and attitudes of women's socio -economic prone on the prevention of transmission of HIV / AIDS in Pekalongan. This research method is quantitative and qualitative. The samples of this research are 47 WRSE in Pekalongan, taken 4 WRSE study subjects aged 18-50 years with criteria, are married and have children, widows live / dead widow who becomes the primary breadwinner families or married to a husband who worked at sea for long periods (return 3 months or more), working as a bus driver Inter-City Inter-Province (AKAP), truck drivers, or work outside the city without clarity, have dependents by more than 3 people, stay in Pekalongan. Collecting data through in-depth interviews and analysis with content-analysis. The results showed WRSE knowledge about STDs, HIV / AIDS as well as an overview of HIV disease AIDS is still very limited, limited knowledge society is due to the lack of dissemination to the public of information relating to HIV / AIDS and VCT clinics presence in Pekalongan by the Government. Negative attitudes towards PLHIV community committed (People Living with HIV / AIDS) is caused by ignorance of the community clearly. It is recommended to promote coordination among agencies in providing public education, socializa tion expanded, the type of information plus, especially socialization related to the prevention of disease transmission, forming an organization engaged in the protection and prevention of HIV/AIDS. Keywords: HIV / AIDS, WRSE, Knowledge, Attitude
STRATEGI OPTIMALISASI PERAN PENDIDIKAN SEKS USIA DINI DI PAUD DALAM MENANGGULANGI PELECEHAN SEKS TERHADAP ANAK DI PEKALONGAN Dwi Ario Fajar; Susanto Susanto; Ribut Achwandi
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 7 (2014)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v7i0.84

Abstract

Pelecehan seks terhadap anak merupakan salah satu ancaman bagi bangsa yang dapat merusak anak-anak, baik secara fisik, pola pikir, mental, maupun kejiwaan mereka. Pelecehan seks terhadap anak tidak hanya dianggap sebagai tindak kriminal, melainkan pula sudah sepatutnya digolongkan sebagai tindakan perusakan moral. Oleh sebab itu, penanggulangannya harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua komponen bangsa. Penelitian ini berusaha mengungkap strategi di dalam mengoptimalkan peran pendidikan seks usia dini di PAUD dalam menanggulangi pelecehan seks terhadap anak. Melalui pendidikan seks usia dini, kerja sama lintas sektoral yang dilakukan BPMP2KB Kota Pekalongan—melalui LPPAR dan PNFI—dengan penyelenggara PAUD menjadi syarat yang harus dipenuhi. Penelitian ini berupaya mengungkap langkah yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dalam menyelenggarakan pendidikan seks usia dini. Tujuannya, agar didapat langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan oleh masing-masing lembaga sebagai masukan. Penelitian ini melibatkan LPPAR, PNFI, dan 10 lembaga penyelenggara PAUD di Kecamatan Pekalongan Utara sebagai responden. LPPAR dan PNFI merupakan lembaga yang bertanggung jawab menangani masalah kekerasan seks terhadap anak dan penyelenggaraan pendidikan non formal dan informal. Sementara, kecamatan Pekalongan Utara merupakan kawasan yang paling rawan terhadap kasus pelecehan seks terhadap anak di Pekalongan. Dari hasil kuesioner dan wawancara, didapat bahwa upaya yang dilakukan oleh semua pihak di dalam menyelenggarakan pendidikan seks usia dini di PAUD masih menemui beberapa kendala. Kendala utamanya adalah lemahnya koordinasi lintas lembaga, sehingga upaya-upaya yang dilakukan tidak terencana dengan baik. Selain itu, belum terlaksananya revitalisasi kurikulum dan penyediaan perangkat pembelajaran juga me njadi kendala. Oleh sebab itu, kerja sama antarlembaga perlu ditingkatkan. Kata kunci: Pendidikan Seks Usia Dini, PAUD, PNFI, BPMP2KB