cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Pengaruh Umur Panen dan Suhu Simpan terhadap Umur Simpan Buah Naga Super Red (Hylocereus costaricensis) Tri Istianingsih; Darda Efendi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.339 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.1.54-61

Abstract

ABSTRACTSuper red-fleshed dragon fruit is  newer than white or red-fleshed dragon fruit. The aims of this research was  to  study  the  effect  of  interaction  between fruit  age  at  harvest  (day  after  anthesis;  DAA)  and  storage temperature on  fruit  quality  and  shelf  life  of  Super  Red-fleshed  dragon  fruit (Hylocereus  costaricensis).  This research was conducted at postharvest laboratory of Bogor Agricultural University from January to March 2010.Fruits were harvested from commercial orchard at Sentul, Bogor. The experiment was arranged in a  randomizedblock design with two factors, fruit age (33,  35,   and 37  Days After Anthesis (DAA)) and storage temperature (15 0C  and  room temperature).  There  were  highly  signif icant  interaction  between  fruit  age and  storage temperature on cumulative weight losses, freshness,  and  peel firmness in first week. Harvesting at 35 DAA is recommended  because  the fruits  have  better  freshness  level,  homogeneous  fruit  color,  and  high soluble  solid content. Cool storage at 15 ºC kept the fruit quality better for 2 weeks than fruit stored at room temperature .Key words:  cool storage,  fruit freshness, fruit quality ,  harvest date,   soluble solid contentABSTRAKBuah naga Super Red  merupakan jenis buah naga yang baru dibandingkan buah naga daging putih dan merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh interaksi umur buah saat dipanen dan suhupenyimpanan terhadap kualitas buah dan daya simpan buah naga Super- red (Hylocereus costaricensis). Penelitian ini  dilakukan  di  laboratorium  pasca  panen,  Institut Pertanian  Bogor,  pada  Januari  hingga  Maret  2010, menggunakan buah dari kebun buah komersial di Sentul, Bogor. Percobaan  dilakukan menggunakan rancangan kelompok teracak dengan dua faktor, yaitu umur panen buah (33, 35, dan 37 Hari Setelah Anthesis (HSA)) dan suhu penyimpanan (15 oC dan suhu ruangan). Terdapat interaksi yang sangat signifikan antara umur panen buah dan  suhu ruang penyimpanan dengan  kehilangan  hasil kumulatif, kesegaran, dan  kekerasan. Pemanenan pada 35  HSA  direkomendasikan karena  buah  memiliki  kesegaran  yang  lebih  baik,  keseragaman  warna buah,  dan padatan terlarut total yang tinggi. Penyimpanan dingin pada 15 oC juga menjaga kualitas buah selama dua minggu lebih baik dibandingkan buah yang disimpan pada suhu ruangan.Kata kunci: hari pemanenan, kesegaran buah, kualitas buah, padatan terlarut total,  penyimpanan dingin
Pengaruh Penyimpanan dengan Atmosfer Terkendali terhadap Mutu Buah Rambutan ‘Binjai’ Elisa Julianti; , Ridwansyah; Era Yusraini; Ismed Suhaidi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.108 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.63-69

Abstract

ABSTRACTThe objective of the research was to determine optimum O2  and CO2 concentration for rambutan Binjai storage at 10 0C. Changes in quality, weight loss, moisture content, total soluble solid, total sugar, titratable acidity, vitamin C, red value of skin color, hardness and sensory characteristics in rambutan var.Binjai fruits held for 20 days at 10 0C in air or controlled atmosphere (1-3% O2 2-4% CO2; 1-3% O2 5- 7% CO2;1-3% O2  8-10% CO2,;4-6% O22-4% CO2;  4-6% O2  5-7% CO2; and 4-6% O2  8-10% CO2) were evaluated. Various atmosphere had significantly different effects on weight lost, total sugar, total souble solid, titrata ble acidity, red value of color, hardness and sensory value (taste, color,  and flavor) of rambutan ‘ Binjai’   fruits  in  10 0C of storage. The  best  quality  of  rambutan  ‘Binjai’   fruits   was  found  at controlled atmosphere of 4-6% O2 : 2- 4% CO2  for up to 20 days of storage at 100C.Key  words :  carbon dioxide, controlled atmosphere storage, oxygen, rambutan ‘Binjai’,ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mendapatkan konsentrasi optimum O2 dan CO2 untuk penyimpanan rambutan „Binjai‟.  Perubahan  mutu buah  rambutan  „Binjai‟ yang  disimpan  dengan  sistem  atmosfer terkendali ( controlled  atmosphere storage)  pada  suhu  10 0C  selama  20 hari  dievaluasi.   Kondisi  atmosfer ruang penyimpanan terdiri dari 7 taraf perlakuan yaitu: 1-3% O2 2-4% CO2,; 1-3% O2 5-7% CO2; 1-3% O2 8- 10% CO2; 4-6% O2 2-4% CO2;  4-6% O2 5- 7% CO2; 4-6% O2 8-10% CO2 dan penyimpanan pada udara normal sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan setiap 5 hari sekali selama 20 hari terhadap perubahan mutu buah rambutan meliputi susut berat, kadar air, total padatan terlarut, total gula, total asam tertitrasi, vitamin C, nilai warna merah dari kulit buah (nilai a dengan chromameter), kekerasan buah dan karakteristik sensori. Hasil penelitian menunjukkan kondisi atmosfer ruang penyimpanan yang dapat mempertahankan mutu buah rambutan „Binjai‟ selama 20 hari adalah 4-6% O2;  2- 4% CO2  pada suhu 10 0C.Kata kunci: karbon dioksida, oksigen, penyimpanan  atmosfer terkendali, rambutan „Binjai‟
Aspek Sosial Ekonomi dan Potensi Agribisnis Bunga Krisan di Kabupaten Pasuruan JawaTimur Al Gamal Pratomo; Kuntoro Boga Andri
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.18 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.70-76

Abstract

ABSTRACTRecently, chrysant emum   agribu s siness has grown rapidly in the central pro duction of ornamental plant in East Java.  One of the areas is in Tutur Sub District, Pasuran  District , located in a mountainous area with an altitude of 800 mabove sea level.   The study was aimed to collect information and analyse of the socio  economic aspects and potency of  the chrysant emum agribus s iness in Pasuruan, especially from Tutur Sub District. The research  was conducted during August to December 2009, using the Focus Group Discussion (FGD), field survey, questionairy  and secondary data collection from farmers, entrepreneurs, and others stakeholders in   the area. The study illustrated   the enormous economic potential of this commodity in the studied area. Its great potency, need s to be followed by improvement   in farming systems, institutional management, marketing  and  general  bu s siness  management.   So  far  chrysant emum   product  marketing  rely  on  local markets.   Technically, the studied area is suitable for cultivation because of the appropriate agroecology condition. From the economic and social  point of view, the development of this sector is very useful for  the community and regional economy, as many job ,  and business   opportunities   developed .   This study showed   chrysant emum   farming financially benefited, where in one growing season it provides profitability (ROI) 70% of the invested funds.  The added value alon g the market chain also show a proper profit and fair to the businesses players (farmers and traders).Keywords:   chrysant, ornamental plants agribusiness,  Pasuruan, value chain analysisABSTRAKAgribisnis krisan tumbuh pesat beberapa tahun terakhir di sentra produksi tanaman hias Jawa Timur, salah satunya di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Kawasan ini terletak di daerah pegunungan dengan ketinggian di atas 800 m di atas permukaan laut .   Penelitian bertu juan mendapatkan informasi dan  meng analis is   aspek sosial ekonomi dan potensiagribisnis krisan di Kabupaten Pasuruan, khususnya Kecamatan Tutur yang merupakan wilayah sentra pengembangan. Penelitian dilakukan Agustus sampai Desember 2009 menggunakan metode   Focus Group Discussion   ( FGD ),  surveilapang, kuesioner dan pengumpulan data s e kunder dari para petani, pelaku usaha, serta stakeholder  lainnya. Hasil penelitian menggambarkan potensi ekonomi yang besar agribisnis ini. Potensi besar tersebu t, perlu diikut i perbaikan siste m budidaya, manajemen kelembagaan, pemasaran dan pengelolaan bisnis secara umum. Sejauh ini pemasaran bunga krisan masih mengandalkan pasar lokal. Secara teknis, lokasi sentra Kecamatan Tutur  sesuai untuk pengembangan budidaya krisan karen a agroekologi yang sesuai. Dari aspek ekonomi dan sosial, pengembangan agribisnis  bunga ini sangat  bermanfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah, karena membuka kesempatan kerja dan berusaha. Penelitian menunjukkan  bahwa secara finansial  usahatani   krisan memberikan keuntungan, yaitu dalam satu musim tanam memberikan profitabilitas (ROI) 70% dari dana yang diinvestasikan. Nilai tambah sepanjang rantai pemasaran memperlihatkan keuntungan yang layak dan adil bagi para pelaku usaha (petani dan pedagang ).Kata kunci: agribisnis tanaman  hias, analisis  rantai  nilai, bunga   krisan,   Pasuruan
Respon Pertumbuhan Bibit Wani Tanpa Biji (Mangifera caesia Jack var. Ngumpen Bali) pada Berbagai Komposisi Media Tumbuh Rai I. N; C.G.A Semarajaya; I. W. Wiraatmaja; Ni K. Alit Astiari
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.35 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.77-82

Abstract

ABSTRACTSeedless  Wani  is  one  of  the  superior  local  fruit   germplasm. It has specific  character  due  toseedlessness, thickness of edible pulp (aril)  and fruit flavors  preferred by consumers  for   sweet, delicious taste , and specific flavor. Demand of seedless wani seedling is very high, but it cannot be fulfilled because ofthe method/technique of effective propagation is unknown. Although called seedless wani but about 10% of its total fruit have  seeds, and progenies derived from those seeds genetically similar to its parent. This studywas aimed to determine the best  growing media composition on the growth of seedlings seedless Wani. This study was a pot experiment and used a randomized block design (RBD). The treatments tested  were growing medium,  consistins  of four types  i.e.  mixture of soil  + sand + organic matter ( v:v: v = 6:0:0), mixture of soil+  sand  +  organic matter  ( v: v:v  =  3:2: 1),  mixture of  soil   + sand  +  organic matter  ( v:v: v  =  3:1:2),  and mixture  of soil  +  sand  + organic matter  (v:v:v  =  2:3:1).  The results showed  that   the composition of the growth media mixture of soil + sand + organic matter (v:v:v = 3:1:2) gave better seedling growth ( height, leaf number, and stem diameter) compared with other growing media. Based on these results, it is suggested to use  composition  of  growing  media  mixture  of  soil  +  sand  +  orga nic  matter  (v:v:v  =  3:1:2)  forpropagation  seedless Wani.Key words: growing media,  organic matter,  seedless Wani, seedlingABSTRAKWani Tanpa Biji merupakan salah satu plasma nutfah buah-buahan lokal yang sangat unggul. Wani tersebut  mempunyai karakter  spesifik  yaitu buahnya tanpa  biji, daging  buah tebal, dan  citarasa buahnya disukai konsumen karena enak, manis tanpa rasa asam, dan aromanya menarik. Permintaan terhadap bibit Wani Tanpa Biji sangat tinggi, tetapi belum bisa dipenuhi karena metode/teknik perbanyakan yang efektif belum  diketahui.  Walaupun  disebut Wani  Tanpa  Biji,  tetapi  sekitar  10%  dari  total  buah  wani tersebut memiliki  biji  dan  anakan  yang  berasal  dari  biji  tersebut mempunyai  sifat  yang  sama  dengan  induknya. Penelitian  ini  bertujuan untuk  mengetahui komposisi  media tumbuh  yang  terbaik  terhadap pertumbuhan bibit  wani  tanpa  biji.  Penelitian  ini  merupakan  percobaan  pot dengan  Rancangan  Kelompok  Lengkap Teracak (RKLT). Perlakuan yang dicobakan adalah media tum buh, terdiri atas empat taraf yaitu: campuran tanah + pasir +  (v:v:v = 6:0:0), campuran tanah + pasir + bahan organik (v:v:v = 3:2:1), campuran tanah + pasir + bahan organik (v:v:v = 3:1:2), dan campuran tanah + pasir + bahan organik (v:v:v  = 2:3:1). Hasil penelitian menunjukkan komposisi  media tumbuh campuran tanah + pasir + bahan organik (v:v:v = 3:1:2) memberikan pertumbuhan bibit (tinggi, jumlah daun, dan diameter batang) yang  lebih baik dibandingkan dengan campuran media tumbuh lainnya. Berdasarkan atas hasil penelitian ini, disarankan pembibitan Wani Tanpa Biji menggunakan media tumbuh campuran tanah + pasir +  bahan organik dengan komposisi 3:1:2.Kata kunci: media tumbuh, bahan organik, wani tanpa biji,   bibit
Multiplikasi Tunas dan Aklimatisasi Tiga Varietas Pisang: Raja Nangka, Kepok, dan Mas Sholeh Avivi; Soetilah Hardjo Soedarmo; Priyanto Andi Prasetyo
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.657 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.83-89

Abstract

ABSTRACTRaja  Nangka,  Kepok,  and  Mas  are  local  popular  cultivar  of  banana  in Indonesia.  Mass propagation is needed for extended area of planting. The aims of this research was to determine the optimum  concentration  of  plant  growth regulator  for  planlet  regeneration.  The  research  was conducted at Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, University of Jember.  We used three stages regeneration process: multiplication, rooting, and acclimatization. The multiplication stage was arranged in factorial experiment in a  completely  randomized  design with five replications. The first factor was kinetin concentration (3.5  ppm, 4.0  ppm, 4.5 ppm, 5.0 ppm, 5.5  ppm,  and 6.0 ppm) and the second factor was kind of banana (Raja Nangka, Kepok, and Mas). The rooting stage was also  arranged in factorial   completely  randomized design with five replication s  with the first factor was NAAconcentration  (0, 0.5, 1.0, and 1.5 ppm)  and the second factor was kind of banana. The result showedthat the best kinetin concentration on the multipliction stage was 5.0 ppm (the number of shoot 2.6). Raja  Nangka variety gave the highest number of shoot (2.7 shoot per  explant). The best concentration  atrooting stage was 0.5 ppm NAA which gave the number of root 7.5 and 3.2 cm  in  length. Most of planlet (90%) could be acclimatized on acclimatization media.Key words: acclimatization, kinetin, multiplicatin, NAAABSTRAKPisang Raja Nangka,  Kepok, dan  Mas  merupakan jenis pisang lokal yang terdapat di Indonesia dan digemari mas yarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sesuai untuk regenerasi hingga menghasilkan planlet. Penelitian dilaksanakan di Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian terdiri ata s 3 tahap yaitu tahap m ultiplikasi tunas, tahap per akaran dan tahap aklimatisasi. Tahap multiplikasi  dilakukan  dengan  Rancangan  Acak  Lengkap faktorial  dengan  2  faktor.   Faktor  pertama  adalah konsentrasi  kinetin (3. 5 ppm ,   4. 0   ppm ,  4.5   ppm , 5.0   ppm , 5. 5   ppm ,  dan 6. 0 ppm) dan faktor kedua adalah jenis pisang ( Raja Nangka, Kepok, dan Mas) . Pada  tahap perakaran tunas hasil multiplikasi digunakan  Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua  faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi  NAA (0  ppm , 0.5 ppm , 1.0  ppm , dan  1. 5 ppm) ,   s edangkan  faktor  kedua  adalah  jenis  pisang dengan  taraf  yang  sama.  Ulangan dilakukan 5 kali. Uji lanjut dilakukan dengan uji Duncan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kinetin terbaik diperoleh pada perlakuan  5. 0   ppm   (rata - rata  ju mlah  tunas 2.6). Jenis  pisang  Raja  Nangka  memberikan  rata- rata  ju mlah  tunas tertinggi sebanyak 2. 7 tunas  per - eksplan. Pada tahap perakaran, panjang akar opt imal diperoleh pada perlakuan 0. 5 ppm  NAA,  dengan  rata - rata  panjang akar  3. 2  cm  dengan  jumlah  akar  rata - rata  sebanyak   7. 5   buah . Tingkat keberhasilan aklimatisasi mencapai hingga 90%.Kata kunci: aklimatisasi, kinetin, multiplikasi, NAA
Perkecambahan Biji dan Pertumbuhan Protokorm Anggrek dari Buah dengan Umur yang Berbeda pada Media Kultur yang Diperkaya dengan Ekstrak Tomat Rindang Dwiyani
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.282 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.90-93

Abstract

ABSTRACTSThe aim of the research was to determine seed germination and growth of protocorm of  V.   tricolorBali of 5 month- age and 7 month- age pods in their response to tomato extract. Five kind of concentrations of tomato extract were trialed, i.e. 0, 50,   100, 150, 200, 250 g L - 1.  Observation was done by counting the number of protocorms for each stage of growth  at 4 weeks after seed sowing.  The study concluded that seeds of V. tricolor  Lindl. var. suavis forma Bali from both of 5 month- age and 7 month-age pods required tomato extract for their germination and  for the growth of protocorms.  Concentration of 150 g  L- 1tomato extract was the most suitable for seed germination and growth of protocorms for seeds from 7 month- age pods, however, growth of protocorms was still linear up to 250 g L-1tomato extract for seeds from 5 monthage pods.Key words : age of pod  , germination, protocorm, tomato extract,  V. tricolorABSTRAKTujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk mengetahui  respon  perkecambahan biji  dan  pertumbuhan protokorm anggrek V.  tricolor  Bali dari umur buah yang berbeda terhadap pemberian ekstrak tomat. Bahan tanaman yang digunakan adalah buah anggrek  V. tricolor  forma  Bali umur 5  bulan  dan 7 bulan setelah polinasi.  Perlakuan terdiri dari  lima   konsentrasi ekstrak tomat yakni 0, 50, 100, 150, 200, 250 gram L -1, diulang 3 kali untuk masing- masing umur buah. Observasi dilakukan pada 4 minggu setelah semai dengan menghitung jumlah protokorm untuk masing-masing fase. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa biji anggrek  V.  tricolor  Lindl.  var.  suavis  forma  Bali,  baik  dari buah  umur  5  bulan  maupun  7  bulanmembutuhkan  ekstrak  tomat  untuk perkecambahan  biji  dan  pertumbuhan  protokorm.  Fase  protokorm mencapai nilai  tertinggi  pada  konsentrasi  ekstrak  tomat  150  g  L-1untuk  buah  umur 7  bulan,  namun pertumbuhan protokorm masih linier sampai konsentrasi ekstrak tomat 250 g L-1untuk buah umur 5 bulan.Kata kunci : ekstrak tomat, embrio, umur buah, V.  tricolor
Fungsi Tuas Stamen dalam Penyerbukan dan Potensi Bunga Salvia sebagai Tanaman Hias di Kebun Raya Cibodas , Sudarmono; , Destri
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.732 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.94-97

Abstract

ABSTRACTStaminodes  or  sterile  stamen  of  S.   splendens  Wied  Sellow  ex-Neuw and S. ianthina   Otto  &  Dietr. ( Lamiaceae)  significantly  affected  the pollination process  of  the  species.  Sterile  stamen  is  directly  and closely related to insects  or pollinator and in  directly related in the process of evolution of S. splendens and S. ianthina. Following the assumption  that  the  evolutionary process on members of Lamiaceae based on the structure of  the flowers, the sterile  stamens  on the flowers  S.  splendens  and S. ianthina   plays  an important role in  attaching the pollen grains  on the body of pollinators. Pollinator interactions  to  a floweris significant on the  pollination  system. Sterile  stamens  was the lever  mechanism tested  in   field research , experimentalbiomechanics and pollination simulation, and the result  was seed production lower of  S. splendens (55% ± 6.4%) and S. ianthina  (25% ± 10.6%) when without staminodes than control of S. splendens (70% ± 4.2%) and  S.  ianthina  (35%  ±  9.2%).  The  beauty  of  the  flowers   that  are  commonly  found  in   members  of  theLamiaceae is the  potential of  S.  splendens and S.  ianthina.Key words:  Cibodas Botanic Garden, pollinators, S. ianthina ,  S.  splendens, stamens.ABSTRAKStaminoda  atau  tangkai   benang  sari   (stamen)   steril   pada  S.   splendens  Wied  Sellow ex- Neuwdan  S.  ianthina  Otto  &  Dietr.  (Lamiaceae) berpengaruh nyata pada  proses  penyerbukannya.  Stamen steril secara langsung berkaitan erat dengan serangga atau penyerbuk dan secara tidak langsung terhadap proses evolusi  pada  S.   splendens  dan  S. ianthina.  Diasumsikan  bahwa  proses   evolusi  pada  anggota Lamiaceaedidasarkan  pada  struktur  bunga,  stamen  steril  pada  bunga  S.   splendens  dan  S.  ianthina   yang  mana memainkan peranan penting pada penempelan butir sari pada tubuh penyerbuk. Penyerbuk berinteraksi pada suatu bunga secara nyata dalam sistem penyerbukan. Stamen steril diuji mekanisme tuasnya pada percobaan lapangan,   percobaan biomekanik dan simulasi penyerbukan, dan hasilnya adalah produksi biji rendah padaS.  splendens  ( 55%  ±  6. 4%)  dan  S.  ianthina  25%  ±  10. 6%)  ketika  tanpa  staminoda daripada  perlakuan kontrol  pada  S.  splendens  (70%  ±  4. 2%  dan  S. ianthina   35%  ±  9. 2%).  Keindahan  bunga  yang  umum ditemukan pada anggota Lamiaceae merupakan potensi pada S. splendens  dan S. ianthina .Kata kunci: Kebun Raya Cibodas, penyerbuk, S. ianthina,  S.  splendens, stamen
Studi Biologi Kutu Sisik Lepidosaphes beckii N. (Homoptera: Diaspididae) Hama pada Tanaman Jeruk Otto Endarto; Susi Wuryantini
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.17 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.2.98-105

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research  was to determine  life -cycle, morphology  of each development stage, including   form, color ,   size,  and fecundity of L. beckii. This research was  carried out in March until August 2006  at Entomology Laboratory,   Indonesian  Citrus  and  Subtropical  Fruits  Research  Institute, Tlekung, Batu. The method of this research included observation of life- cycle of L. beckii, morphology and fecundity. The result of larvae stages period, prepupa, pupa and adult showed  that  L.  beckii  have average life-cycle 31.2 ± 1.4 days with temperatures ranged 26 – 35 0C. Egg of L. beckii was oval with both dull tip, colored white, the average length 0.20 ± 0.05 mm and average width  0.16 ± 0.04 mm, the average amount of eggs produced  was  78.7 ± 2.7. Clowler colored white yellowish   t hin oval, with average length  of  0.21 ± 0.05 mm and width  0.12 ± 0.04 mm. Shield white  cap have average length size  of  0.64 ± 0.71 mm and shield width 0.35 ± 0.11 mm. Shield on instars 2 colored nutbrown and then deep brown, shield have length size 1.37 ± 0.15 mm and width  0.36 ± 0.08 mm. Pre- pupa have body length of 1.67 ± 0.18 mm and width  of 0.39 ± 0.08 mm, whereas pupa have shield length of 2.01 ± 0.2 mm and width of 0.56 ± 0.10 mm. Female adult have average length of shield 2.09 ± 0.21 mm and width   0.79 ± 0.12 mm.Key  words :  citrus, fecundity, life- cycle, morphology, pestABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui siklus hidup, morfologi setiap tahap perkembangan,  L.  beckiiyang meliputi bentuk, warna dan ukuran dan daya tetas telur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret  -Agustus 2009 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Tlekung Batu.  Penelitian  ini  dilakukan  dengan  metode  deskriptif, pengamatan  dilakukan  dengan  mengamati langsung perkembangan setiap stadia L. beckii. Hasil pengamatan terhadap lama stadia larva, prepupa, pupa dan imago menunjukkan  L. beckii  mempunyai siklus hidup rata- rata 31. 2±1.4  hari dengan suhu 26- 350C. Telur  L. beckii, berbentuk oval dengan kedua ujungnya tumpul dan berwarna putih ukuran telur panjang rata- rata 0.20±0.05 mm dan lebar rata- rata 0.16±0.04 mm Daya tetas telur sebesar 68.29% dengan rata- rata telur  yang  dihasilkan  78.7±2.7  butir.  Crawlers berwarna  putih  kekuningan  dan  berbentuk  oval  pipih, panjang rata- rata 0.21±0.05 mm dan lebar rata- rata 0.12±0.04 mm. White cap  berwarna putih dengan ujung yang runcing berwarna cokelat perisai w hite cap berukuran panjang rata- rata 0.64±0. 71 mm dan lebar ratarat a 0.35±0.11 mm. Instar 2 perisai berwarna cokelat muda lama kelamaan warnanya akan berwarna cokelattua, panjang perisai  1.17 ±0.15 mm dan lebar 0.36±0.08 mm.  Pre- pupa  berwarna cokelat panjang perisai 1.37±0.18 mm dan lebar 0.39±0.08 mm. Pupa berwarna cokelat dengan ujung yang tumpul b erwarna ungu, panjang perisai 1.67±0.18 mm dan lebar 0.56±0.10 mm, Imago betina berwarna cokel at, panjang perisai rata- rata 2.09±0.21 mm dan lebar rata- rata 0.79±0.12 mm.Kata kunci: jeruk, kesuburan, siklus hidup, morfologi,  hama
Panduan Penulisan Artikel JHI 2015 adminjhi jhi
Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.209 KB) | DOI: 10.29244/jhi.0.0.%p

Abstract

Panduan penulisan Jurnal Hortikultura oleh editor
Callus Proliferation from Immature Leaf Explants of Durian (Durio zibethinus Murr. cv. Selat) with the Addition of Picloram and BAP Zulkarnain ,; , Lizawati
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.339 KB) | DOI: 10.29244/jhi.4.3.107-114

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to obtain an appropriate medium composition with various combinations of Picloram + BAP for the proliferation of embryogenic callus from immature leaf explants of durian. The experiment was carried out at the Plant Biotechnology Laboratory,  Faculty of Agriculture ,  the University of Jambi from January through to November 2012. Five levels of Picloram (1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0 mg  L-1) in combination with three levels of BAP (0, 0.5, 1.5 mg  L-1) were tested. Therefore, there were 15 treatment combinations with 4 replicates resulting in  60 experimental unit. Each unit  consisted of 4 culture flasks containing one immature leaf explant. Cultures were kept in culture room with 16 h photoperiod and 1000 lux light intensity. The results showed that: 1) callus proliferation on immature leaf explants of durian cv. Selat was dependent upon the level of Picloram + BAP added to culture medium, 2) the addition of 3.0 -  5.0 mg L-1Picloram without BAP was found to be effective in promoting callus proliferation on the majority of cultured explants, 3) all regenerated callus showed similar characteristics, but embryogenic properties was not seen yet, and 4) the application of tissue culture technique in the propagation of durian cv. Selat needs further comprehensive  investigation, particularly on factors directly affecting culture development and inducing somatic embryogenesis.Key words: tissue culture, in vitro culture, micropropagation, plant hormones, auxin, cytokinin, fruit crops. ABSTRAKPenelitian  ini  bertujuan  untuk  mendapatkan komposisi  media  yang  tepat dari  kombinasi Picloram + BAP untuk proliferasi kalus embriogenik dari eksplan daun dewasa durian. Penelitian dilakukan  di  Laboratorium  Bioteknologi Tanaman,  Fakultas  Pertanian,  Universitas  Jambi  dari Januari hingga November 2012. Perlakuan kombinasi media zat pengatur tumbuh adalah lima taraf Picloram (1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0 mg L-1) dengan kombinasi tiga taraf perlakuan BAP (0, 0.5, 1.5 mg L-1).  Terdapat  15  kombinasi  media perlakuan dengan  4  ulangan,  sehingga  terdapat  60  kombinasi satuan percobaan. Setiap unit percobaan terdapat 4 botol kultur dengan satu eksplan daun. Kultur disimpan di ruang kultur selama 16 jam penyinaran dan intensitas cahaya 1000  lux. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proliferasi kalus dari eksplan daun  muda buah  durian tergantung pada taraf kombinasi  picloram  +  BAP yang  ditambahkan  ke  media  kultur;  2)  Penambahan  3.0-5.0  mg  L-1Picloram  tanpa  BAP  memberikan  hasil  yang  efektif  untuk  menginduksi proliferasi  kalus  pada sebagian besar eksplan; 3)  Regenerasi kalus menunjukkan karakteristik serupa, tetapi embriogenik kalus  tidak  muncul, dan 4)  Perbanyakan  eksplan  daun  durian  dengan  tehnik  kultur jaringan membutuhkan penelitian lebih  lanjut, terutama pada faktor yang berpengaruh langsung pada induksi embriogenesis somatik.Kata kunci: auksin, buah, kultur jaringan, kultur in vitro, mikropropagasi, sitokinin, zat pengaturtumbuh,

Page 3 of 33 | Total Record : 322


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue