cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
Respon Perkecambahan Polen Pepaya IPB 6 dan IPB 9 terhadap Penyimpanan pada Suhu Rendah Fidianinta ,; Ketty Suketi; Winarso D. Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.163 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.1.29-36

Abstract

ABSTRACTAn experiment was conducted to study the germination and storability of papaya pollen IPB 6 and  IPB  9  stored for 4 weeks at 3  levels  of  low temperature. The experiment was conducted at the Laboratory of Microtechnic and Laboratory of Biophysics  and  Reproductive Biology, Bogor Agricultural University in the month of April to June 2014. Three  variables  were observed in this experiment:  the germination rate, pollen diameter, and length of pollen. The experimental results showed that storage temperature affected the three variables observed. The best germination for IPB 6 was indicated by pollen storage at 10 0C (23.1%) while for IPB 9 was indicated by pollen stored at 5 0C (30.7%). The longest pollen tube  of  IPB 6  after storage  for 4 weeks  was indicated by pollen stored at -20 0C  (63 µm) while for IPB 9, indicated by pollen stored at 10 0C (47.72 µm). The experimental results showed that there was  no corellation between pollen diameter and length of pollen tube with pollen germination in papaya pollen of IPB 6 dan IPB 9.Key words: diameter pollen, pollen tube, germination, storability ABSTRAKPercobaan  dilakukan untuk  mempelajari daya simpan dan daya berkecambah  polen  pepaya IPB 6 dan IPB 9 yang disimpan pada suhu 5 0C, 10 0C, dan -20 0C dengan waktu penyimpanan 0-4 minggu.  Percobaan  dilaksanakan  di Laboratorium Mikroteknik dan Laboratorium Biofisik dan Biologi Reproduksi, Institut Pertanian Bogor pada bulan April-Juni 2014. Tiga variabel yang diamati pada percobaan ini adalah daya berkecambah, diameter polen dan panjang polen. Hasil percobaan menunjukkan  bahwa  suhu  penyimpanan mempengaruhi  ketiga  variabel yang  diamati. Daya berkecambah terbaik untuk pepaya IPB 6 ditunjukkan oleh polen yang disimpan pada 10 0C (23.1%)sedangkan  untuk  IPB 9 ditunjukkan oleh  polen  yang  disimpan pada 5 0C  (30.7%).  Tabung Polen pepaya  terpanjang  setelah  disimpan  selama  4 minggu  pada  IPB 6 ditunjukkan  oleh  polen  yang disimpan pada -20 0C (63 µm)  sedangkan untuk IPB 9 ditunjukkan oleh polen yang disimpan pada 10 0C (47.72 µm). Hasil  percobaan  menunjukkan  bahwa  tidak  ada  hubungan antara  diameter  dan panjang tabung polen dengan daya berkecambah pada polen pepaya IPB 9 dan IPB 6.Kata kunci: daya berkecambah, daya simpan, diameter polen, tabung polen
Pertumbuhan Bibit Salak [Salacca zalacca (Gaertner) Voss] Pondoh yang Diinokulasi dengan Isolat Bakteri Potensial di Tanah Regosol Darmaga Fahrizal Hazra
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.088 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.1.37-44

Abstract

ABSTRACTSnake fruit [Salacca zalacca (Gaertner) Voss] Pondoh is one of important fruits in Indonesia. The objective of the study was to determine the  influence of some selected potential microbes such as Phosphate Solubilizing Bacteria, Cellulolytic Bacteria, and  N2-fixing Bacteria (Azospirillum)  ongrowth of seedling  of  snake  fruit  Pondoh.  A  study  was  conducted  in  the nursery. The  experiment used  a  completely  randomized  design  with  treatments namely:  K0  (without  inoculum);  A1 (Azospirillum inoculum dose 5 ml), A2 (inoculum 25 ml); F1 (BPF inoculum dose 5 ml), F2 (dose 25 ml); S1; BPS inoculums (dose 5 ml), S2 (dose 25 ml); C1 (mixed bacterial inoculum A+F+S dose 5 ml), and C2 (A+F+S dose 25 ml). Plant height, P, C/N soil ratio, N were measured in 10 months for observing the impact of treatments. Results showed that the effect of inoculation of A2 to the amount of  N-total  (0.99%)  was significantly  different  compared  to  soil  with  K0;  and  not significantly different  from  the  amount  of  N-total  inoculation  A1,  F1,  F2, S1,  S2,  C1,  and  C2.  F2  increased availability of P (20.79 ppm) in the soil higher than  K0, A1, F1; and not significantly different from A2, S1, S2, C1, and C2.  K0 treatment gave  C/N ratio of soil significantly different from A1, A2, F1, F2, S1, S2, C1 and C2; BPS which showed activity in overhauling C-organic in the soil. Inoculation A2  and F2  increased  plant  height  15.48% and 9.31%  higher  than  the  control.  Inoculation  of  C2 differed  significantly  in improving  the  fresh  weight  compared  to  control;  and  not significantly different  from  A1,  A2,  F1,  F2,  S1,  S2,  and  C1  and  able  to increase  the  dry  weight  of  71.12% compared to the control.Keywords: Azospirillum, Cellulolytic Bacteria, Phosphate Solubilizing Bacteria, Snake Fruit ABSTRAKSalak Pondoh [Salacca zalacca (Gaertner) Voss] merupakan tanaman buah bernilai tinggi dan diminati  masyarakat.  Budidaya  salak  diawali  dengan pembibitan.  Penelitian  ini  bertujuan  menguji pengaruh  bakteri  potensial hasil  isolasi  dan  seleksi  dari  bakteri  pelarut  fosfat  (BPF), bakteri perombak  selulosa  (BPS),  dan  bakteri  pemfiksasi  N2  (Azospirillum) dalam  pertumbuhan  bibit tanaman  salak pondoh. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor yang terdiri atas: K0 (tanpa inokulum/Kontrol);  A1  (inokulum  Azospirillum  5  ml), A2 (25  ml inokulum);  F1 (inokulum BPF dosis 5 ml), F2 (dosis 25 ml); S1 (inokulum BPS dosis 5  ml), S2 (dosis 25 ml); C1 (inokulum campuran A+F+S dosis 5 ml), dan C2 (dosis 25 ml).  Pengamatan dilakukan selama 10 minggu  sampai  bibit salak  Pondoh  memiliki dua daun.  Hasil penelitian menunjukkan  inokulasi A2dan S2  nyata  jumlah N-total (0.99%) di dalam tanah dibandingkan  dengan K0; tetapi  tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lain. Inokulasi F2 nyata meningkatkan P tersedia (20.79 ppm) di dalam tanah dibandingkan dengan K0, A1, F1; dan tidak berbeda nyata dengan A2, S1, S2, C1, dan C2. Induksi dengan seluruh isolat nyata terhadap C/N rasio tanah; yang menunjukkan adanya aktivitas BPS dalam  merombak C-organik  di dalam tanah.  Inokulasi  A2  dan  F2  mampu meningkatkan tinggi tanaman 9.31% dan 15.48% lebih  besar  dibandingkan kontrol. Inokulasi C2 nyata meningkatkan bobot basah bibit salak pondoh dibandingkan kontrol; tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain serta mampu meningkatkan bobot kering 71.12% dibandingkan kontrol.Kata kunci: Azospirillum, bakteri pelarut fosfat, bakteri perombak selulosa, Salak Pondoh
Pengaruh Paclobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Sanseviera (Sanseviera trifasciata Laurentii) Yafqori Ardigusa; Dewi Sukma
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.231 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.1.45-53

Abstract

ABSTRACTThe  objective  of  the  research  was  to  evaluate  the  effect  of paclobutrazol on  Sansevieriagrowth  and  development.  This  research  was  carried  out  at Cikabayan  green  house,  IPB  from February  -  July  2010.  The  study consisted  of  two  factors,  i.e.,  the  size  of planting  material and paclobutrazol concentration. The size of  planting material were sucker length  < 65  cm and ≥  65 cmand paclobutrazol concentration consisted of 0, 62.5, 125, and 250 ppm. There were 8 treatments in Completely Randomized Design  with  there  replications.  Each  experimental unit was one sucker.The result of the experiment showed that size of planting material affected plant height significantly.The  highest  concentration  of  paclobutrazol  decreased plant  height  significantly  about  19.4% compared to  control. The interaction between size of plant and paclobutrazol only had significant effect on plant height.Keywords : Sanseviera, plant size, Paclobutrazol, growth, development ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan perkembangan Sanseviera. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010 di rumah  kaca  Cikabayan,  IPB. Rancangan  percobaan  menggunakan  dua  faktor,  faktor  pertama adalah ukuran bahan  tanam  terdiri  atas  bahan  tanam  (anakan)  yang  memiliki tinggi <65cm  dan ≥65cm  dan  konsentrasi paclobutazol, terdiri  atas  0, 62.5, 125, dan 250 ppm.  Terdapat  8 kombinasi perlakuan  dalam Rancangan Acak Lengkap dengan  tiga ulangan. Setiap satuan percobaan ialah  satu bahan tanam (anakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran bahan tanam berpengaruh nyataterhadap  tinggi  tanaman.  Konsentrasi  paclobutrazol  250 ppm  menghambat  pertumbuhan  tinggitanaman  sangat  nyata  sebesar 19.4% dibanding  kontrol.  Interaksi  antara  ukuran  bahan  tanam  dan paclobutrazol hanya berpengaruh nyata pada peubah tinggi tanaman.Kata kunci : Sanseviera, ukuran tanaman, paclobutrazol, pertumbuhan, perkembangan
Induksi Rimpang Mikro Kaempferia parviflora secara In Vitro dengan Penambahan BAP dan Sukrosa Lefin Kafindra; Nurul Khumaida; Sintho Wahyuning Ardie
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.736 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.1.54-63

Abstract

ABSTRACTKaempferia  parviflora  is a medicinal plant  that contains  secondary metabolites  and  effective in alleviating some  diseases.  Rapid multiplication of K.  parviflora  through  its rhizome is hampered by the long period needed to produce the rhizome. The objectives of this research were to obtain the best sucrose  concentration  and  to  determine  the  best  BAP  concentration  in the in vitro  microrhizome induction of  K.  parviflora.  The experiment was arranged in a randomized complete block design with two factors and three replications.  The first factor was BAP concentration, consisted of three levels i.e. 0, 2, and 4 mg L1. The second factor was sucrose concentration, consisted of four levels  i.e.  0,  30,  60,  and  90  g  L1.  Data  obtained  were  analyzed by  F-test,  followed  by  DMRT (Duncan  Multiple Range Test) at 5% significant level.  Sucrose  concentration  significantly affected the  number of shoots  and plantlets  fresh  weight.  The results showed that  K.  parviflora  could form micro  rhizome  in  vitro,  as  indicated  by  similar  anatomical  structure compared  to  the  rhizome produced in vivo. K. parviflora cultured in MS medium containing 90 g L1sucrose without BAP had the highest number of micro rhizome at 8 weeks after culture.Keywords: health, black galingale, traditional medicine ABSTRAKKaempferia  parviflora  merupakan  tanaman  obat  yang  mengandung metabolit  sekunder  dan berkhasiat  untuk  mengobati  berbagai  macam penyakit.  Perbanyakan  K.  parviflora  menggunakan rimpang terkendala oleh lamanya waktu untuk memproduksi rimpang di lapang, yaitu mencapai 8 bulan setelah  tanam.  Tujuan  penelitian  ini  ialah  memperoleh  konsentrasi sukrosa terbaik  dan konsentrasi  BAP  terbaik  dalam  induksi  rimpang  mikro  K. parviflora.  Percobaan  ini  disusun berdasarkan  rancangan  kelompok  lengkap teracak  dengan  dua  faktor  dan  tiga  ulangan.  Faktor pertama  adalah konsentrasi  BAP  dengan  3  taraf,  yaitu  0,  2,  dan  4  mg  L1.  Faktor kedua adalah konsentrasi  sukrosa  dengan  4  taraf,  yaitu  0,  30,  60,  dan  90  g L1.  Data  yang  diperoleh  dianalisis menggunakan  uji  F  dan  apabila berpengaruh  nyata,  maka  dilanjutkan  dengan  uji  lanjut  DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf α= 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa K. parviflora dapat membentuk rimpang mikro  in vitro. Hal tersebut ditunjukkan oleh struktur anatomi rimpang mikro  yang  serupa  dengan rimpang  in  vivo.  K. parviflora  yang  dikulturkan  pada  media  MS yang mengandung 90 g L1sukrosa tanpa BAP memiliki jumlah rimpang mikro tertinggi pada 8 MSP.Kata kunci: kesehatan, kencur hitam, obat tradisional
Rekomendasi Pemupukan Kalium pada Budi Daya Cabai Merah Besar (Capscicum annuum L) di Inceptisols Dramaga Amanda Sari Widyanti; Anas D. Susila
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.267 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.65-74

Abstract

ABSTRACTThe  objective  of  this  study  was  to  determine  the  optimum  rate  of potassium  fertilization  in Inceptisols Dramaga. The experiment was conducted at Cikabayan University Farm from March to July 2014. This study was arranged in Randomized Complete Block Design one factor with five K fertilization rates, ie 0X (0 kg K2O ha-1), ¼ X (193.09 kg K2O ha-1), ½ X (386.19 kg K2O ha-1), ¾ X (579.29 kg K2O ha-1),  and  1X  (772.39  kg  K2O  ha-1).  Potassium fertilizer  was applied  in  three applications  at  3,  6,  and  9  weeks  after transplanting. The  results  showed  that  K  fertilization increased plant height, leaf  number,  weight  per  plant,  fruit  weight,  fruit  diameter, fruit length, marketable yield per plot, unmarketable yield per plot, marketable yield per hectare, and  decrased unmarketable yield per hectare with linear response pattern. Addition of potassium did not affect the time of anthesis and fruit ripening. The addition of potassium fertilizer also increased total yield per plot and total yield per hectare with quadratic response pattern. In the medium K soil content with the value of 146.2 ppm (Morgan) K recommendation for red chili in inceptisols Dramaga  was 487.5 kg K2O ha-1.Keywords: fertilizer, K2O, Morgan, optimum rate ABSTRAKPenelitian  ini  bertujuan  memperoleh  dosis  optimum  pemupukan  kalium pada  Inceptisols Dramaga. Penelitian dilaksanakan di unit lapangan Cikabayan University Farm mulai Maret sampai Juli  2014.  Penelitian  ini  menggunakan Rancangan  Kelompok  Lengkap  Teracak  (RKLT)  1  faktor dengan lima perlakuan dosis pemupukan K, yaitu 0  X(0  kg K2O ha-1), ¼ X(193.09 kg K2O ha-1), ½ X(386.19  kg  K2O  ha-1),  ¾  X(579.29  kg  K2O  ha-1),  dan  1 X(772.39  kg  K2O  ha-1).  Pupuk  kalium diaplikasikan dalam tiga kali aplikasi pada 3, 6, dan 9 MST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan  K meningkatkan  tinggi  tanaman,  jumlah  daun,  bobot  tanaman-1,  bobot  per buah, diameter buah, panjang buah, bobot layak per petak, bobot tidak layak per petak, bobot layak per hektar, dan mengurangi bobot tidak layak pasar per hektar dengan pola respon linear. Sementara itu penambahan kalium tidak berpengaruh terhadap waktu antesis dan waktu masak buah. Penambahan pupuk kalium juga meningkatkan hasil bobot panen total per petak dan panen total per hektar dengan pola respon kuadratik. Pada tingkat kelas ketersediaan K  sedang dengan nilai terekstrak 146.2 ppm (Morgan) dihasilkan rekomendasi kalium untuk budi daya cabai merah besar di inceptisols Dramaga adalah 487.5 kg K2O ha-1.Kata kunci: dosis optimum, K2O, Morgan, pupuk
Pemberian Larutan Hara untuk Budidaya Tanaman Akar Wangi (Vetiveria zizanioides (L.) Nash) Menggunakan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) Siti Aisyah Rohmatus Sa’adah; Slamet Susanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.678 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.75-83

Abstract

ABSTRACTThe  objective  of  this  experiment  was  to  determine  the  effect  of concentration  of  nutrient solution  on  growth  and  yield  of  vetiver (Vetiveria zizanioides  (L.)  Nash)  Verina  2  variety  using Hydroponic Floating System Technology (HFST). This experiment  was  conducted in the greenhouse of Cikabayan Bawah,  Experimental Farm  IPB,  with elevation of 240 m above sea level (asl) from December 2013 until February 2014.  The experiment  was based on a  randomized complete  block design  which consisted  of two experiments: (1) a plant without root  cutting (3 replicates), (2) plants with root cutting (6 replicates), with one factor and three-levels: 200, 400, and 800 nutrient solution concentrations.  The  results  showed  that  the  concentration of  the  nutrient  solution  had  significant effect  on  plant  height, number  of tillers,  number  of  new  saplings,  shoot  dry  weight  in  plants  that have not done cutting the roots, and root fresh weight in plants that have been done cutting the roots. Treatment  of  nutrient  solution  concentration  of  200  ppm resulted  in  poor  growth  plants.  Vetiver plants grown with the provision of nutrient solution concentration between 400 to 800 ppm acquired a better canopy growth and root development, therefore HFST could be applied to the cultivation of vitiver  on  the  concentration  of  the  nutrient  solution  to produce  a  better  canopy  growth  and  root development.Key words: floating system, hydroponic, nutrient solution, vetiver ABSTRAKPenelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  pengaruh  konsentrasi  larutan hara  terhadappertumbuhan  dan  hasil  akar  wangi  (Vetiveria  zizanioides (L.) Nash)  varietas  Verina  2  dengan menggunakan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST). Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan  dari  penelitian sebelumnya  dan  dilakukan  di  rumah  kaca  Kebun  Penelitian Cikabayan Bawah IPB, dengan elevasi 240 m di atas permukaan laut (dpl) mulai dari bulan  Desember 2013 hingga  bulan  Februari  2014.  Penelitian disusun berdasarkan  rancangan kelompok  lengkap  teracak (RKLT)  yang terdiri  atas  dua  percobaan:  (1)  tanaman  tanpa  pemotongan  akar  (3 ulangan),  (2) tanaman  dengan  pemotongan akar (6 ulangan), dengan satu faktor dan tiga taraf: konsentrasi larutan hara  200,  400,  dan  800  ppm. Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  konsentrasi  larutan  hara berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah anakan baru, dan bobot  kering tajuk pada  tanaman  tanpa  pemotongan  akar,  serta  berpengaruh  nyata terhadap bobot  basah  akar  pada tanaman  dengan  pemotongan  akar. Perlakuan  konsentrasi  larutan  hara  200  ppm  menghasilkan pertumbuhan dan  perkembangan  tanaman  yang  tidak  baik.  Tanaman  akar  wangi  yang ditanam dengan pemberian  konsentrasi  larutan  hara  antara  400  sampai 800 ppm mempunyai  pertumbuhan tajuk dan perkembangan akar tanaman yang lebih baik, oleh karena itu THST dapat diterapkan untuk budi  daya  akar  wangi pada konsentrasi  larutan  hara  tersebut  sehingga  dapat menghasilkan pertumbuhan tajuk dan perakaran yang baik.Kata kunci: sistem terapung, hidroponik, larutan hara, akar wangi
Penentuan Masak Fisiologi dan Ketahanan Benih Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) terhadap Desikasi Muhammad Abdul Rahman Hakim; M. Rahmad Suhartanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.584 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.84-90

Abstract

ABSTRACTCosmos  caudatus  Kunth is an  annual  herb useful for  natural herbal medicine especially for reducing  body  odour  and  improving  apetite.  The  leaves  are edible  vegetable.  Research  was conducted  in  Unit  of  Conservation  and Biofarmaka  Cultivation  (UKBB)  and  Seed  Technology Laboratory  at  the Department  of  Agronomy  and  Horticulture  in  Bogor  Agricultural University between December 2013 until April 2014. The purpose of this research was  to determine the period of physiological maturity and to study the resistance of Cosmos  caudatus Kunth seed to dessication. The  first  stage  of this  research  used  completely  randomized  design  with  1  factor  and  5 different levels of  harvest period : 24 days, 28 days, 32 days, 36 days, 40 days. The second  stage of research used completely  randomized  design  with 2 factors, i.e.  drying method and time. The drying methods used were of 2 types : drying in box dryer (fan and heater) at 37-41 0C and RH 29-38%, and in box dryer  (fan)  at  28-32 0C  and  RH  34-44%.  There  were  5  variations of  drying  time  (1,2,3,4  and  5 hours) for drying in box dryer (fan and heater) and box dryer (fan). The first stage research revealed that seed physiological maturity  could be determined from  the suitable harvest period of 40 days prior to blooming, while the second stage research showed that the effective drying time was 2- 3 hours, and box dryer (fan) or wind drying gave a better drying result than that of box dryer (fan and heater).Keywords : Box dryer, Natural herbal medicine, Seed harvest period. ABSTRAKKenikir  merupakan  tanaman  herba  semusim  yang  berguna  sebagai  obat herbal  alami  serta dapat  dikonsumsi  sebagai  sayuran  pada  bagian daunnya.  Percobaan  dilaksanakan  di  Kebun Percobaan  Unit  Konservasi  dan Budi  Daya  Biofarmaka  dan  Laboratorium  Teknologi  Benih Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Desember 2013 hinggaApril  2014.  Tujuan  penelitian  adalah  menentukan  periode  masak fisiologi  benih  kenikir dan mempelajari  ketahanan  benih  terhadap  desikasi. Penelitian  pertama  menggunakan  rancangan  acak lengkap  1 faktor  dengan 5  perlakuan periode umur panen :  24 hari, 28 hari, 32 hari,  36 hari,  dan 40 hari. Penelitian  kedua  menggunakan  rancangan  acak  lengkap  2  faktor yaitu dengan  metode pengeringan  dan  waktu  pengeringan.  Metode  pengeringan terdiri  atas  2  taraf  perlakuan  yaitu pengeringan dengan menggunakan alat box dryer  (fan and heater) dengan suhu 37-41 0C, RH 29-38 % dan box dryer (fan) dengan suhu 28-32 0C, RH 34-44% sedangkan waktu pengeringan terdiri atas 5 taraf perlakuan (1, 2, 3, 4, 5) jam untuk pengeringan menggunakan box dryer (fan and heater) dan menggunakan  box  dryer  (fan).  Penelitian pertama  menunjukkan  hasil  bahwa  penentuan  masak fisiologi benih kenikir dapat dilihat dari umur panen yang sesuai pada saat masak fisiologi 40 harisebelum berbunga  dan hasil penelitian kedua menunjukkan bahwa waktu pengeringan yang efektif adalah  2-3  jam  serta  pengeringan  menggunakan box  dryer  (fan)  atau  kering  angin  lebih  baik dibandingkan dengan menggunakan box dryer (fan dan heater).Kata kunci : box dryer, obat herbal alami, umur panen benih 1
Pertumbuhan Stek Batang Pohpohan (Pilea trinervia Wight.) pada Umur Tanaman, Bagian Batang, dan Media Tanam yang Berbeda Nicha Muslimawati; Ketty Suketi; Anas D. Susila
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.562 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.91-98

Abstract

ABSTRACTPohpohan (Pilea trinervia Wight.) is one of indigenous vegetables that grows in the mountain areas of West Java. Propagule availability in large quantities and in a short time can be done with cuttings. However, propagation of Pohpohan by cutting  has  not  been  developed  presently.  The objective  of  the research was  to  obtain  the  best  plant  age,  stem  part,  and growing media  for the growth  of  pohpohan  stem  cuttings.  The  research  was conducted  at the Center  of  Tropical Horticulture Studies Experimental Field Tajur-Bogor, from January to July 2013. The cuttings were taken  from  mother plants  of  3,  4, 5,  and  6  months,  then the  cuttings  were  cut  to  stem tips  (B1), central stem  (B2),  and  stem  base  (B3).  The  were  five  cuttings  per experimental  unit. Experiment were replicated 3 times. Cuttings  were planted in polybag containing topsoil media (M0), rockwool (M1), husk  and  compost (M2),  and  vermicompost  (M3).  The  experiment  was  arranged in Randomized Completely Block Design.  Result of experiment  showed that pohpohan from 4 monthmother plant cut  at  stem  base  grow  in husk and compost  grow  best  (99.06% of living percentages, 100% percentage of rooted cutting  and 11-12 number of leaves).  The cutting of stem tips grown  in husk and compost showed the highest mean for the increase of stem length, 3.94 cm. There were no interaction between growing media of stem cuttings and part of stem in the growth of shoot height, number of branch, leaf width, and diameter of stem. Key words: growing media, indigenous, pohpohan, stem cuttings ABSTRAKPohpohan  (Pilea  trinervia  Wight.)  merupakan salah  satu sayuran  indigenous  yang  banyak tumbuh  di  daerah  pegunungan Jawa Barat. Pemenuhan  kebutuhan  bibit  pohpohan  dalam  jumlah yang  banyak dan dalam  waktu  yang  singkat  dapat  dilakukan  dengan  perbanyakan vegetatif stek. Namun  demikian  perbanyakan  stek  pada  pohpohan  belum  banyak dikembangkan  untuk  saat  ini. Tujuan penelitian ini ialah  memperoleh umur bahan tanaman, bagian batang, dan media tanam yang terbaik  untuk pertumbuhan  stek  batang  pohpohan.  Penelitian  dilaksanakan  di  Kebun Percobaan Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Tajur-Bogor, dari Januari sampai Juli 2013. Pohpohan yang digunakan yaitu berumur 3, 4, 5, dan 6 bulan, kemudian dilakukan stek batang pada bagian pucuk (B1), tengah (B2), dan pangkal (B3).  Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan kelompok lengkap teracak.  Setiap satuan percobaan  terdiri  atas lima  stek,  percobaan terdiri atas tiga ulangan.  Stek  dimasukkan  ke  dalam  polibag  dengan  media tanam  topsoil  (M0),  rockwool  (M1), arang  sekam  dan  kompos  (M2), serta kascing  (M3).  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  stek pohpohan yang berasal dari tanaman 4 bulan,  bagian pangkal batang dan ditanam pada media arang sekam dan kompos memiliki pertumbuhan yang terbaik dengan rata-rata persentase hidup 99.06%, persentase berakar 100%, dan jumlah daun 11-12 helai. Stek pada pucuk batang yang ditanam pada media arang sekam dan kompos memiliki penambahan panjang batang stek 3.94 cm. Tidak terdapat interaksi antara perlakuan stek pada media tanam dengan bagian batang terhadap perumbuhan tinggi tunas, jumlah cabang, lebar daun, dan diameter batang.Kata kunci: indigenous, media tanam, pohpohan, stek batang
Propagasi Mikro dan Sambung Mikro Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Garut Hasil Mutagenesis In Vitro dengan Batang Bawah Japansche Citroen I Made Arisudana Putra; Agus Purwito; Mia Kosmiatin
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.098 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.99-108

Abstract

ABSTRACTThis  study  was  aimed  at  obtaining  the  best  concentration  of  kinetin  for multiplication  of Mandarin  var. Garut  as  the  derived  from  in  vitro mutation,  determining  period  of  immersion  of Japansche citroen seed in GA3 10 mg L-1solution and getting the best sucrose concentration in agar for grafted  plant.  The  experiment  was  conducted  at  the  in  vitro  Laboratory of Cell  and  Tissue Biology,  BB  Biogen,  and  Plant  Tissue  Culture Laboratory, Faculty  of  Agriculture,  Bogor Agricultural University from January to September  2014. A  completely randomized design (CRD) was  used  in experiment  with  1  treatment  factor.  The  factor  was  kinetin  concentration in multiplication medium (MS +MW Vitamin)  consisting  of three level  of: (K1) kinetin 1  mg  L-1, (K2) kinetin 3  mg  L-1, dan (K3) kinetin 5  mg  L-1. The factor  of  the second  experiment  was time  length  of JC seed immersion in GA3 10 mg L-1solution: (δ1) 1 hour, (δ2) 2 hours, dan (δ3) 3 hours. The factor for third step is sucrose concentration in grafted plants medium which consisted of three levels: (G1) 30 g L-1of sucrose, (G2) 50 g L-1of sucrose, and (G3) 70 g L-1of sucrose. The optimum concentration of kinetin  for scion growth was  1  mg  L-1and for multiplication  was  5  mg  L-1. The best  period for rootstock immersion in GA3  solution  was  3 hours. The best percentage of success  in  micrografting occured at 70 g L-1sucrose containing medium.Key words: gibberellin, kinetin,multiplication, sucrose ABSTRAKPenelitian  ini  Penelitian  ini  bertujuan  mendapatkan  konsentrasi penambahan kinetin  terbaik pada multiplikasi jeruk keprok garut hasil  induksi mutasi, mendapatkan perlakuan  perendaman  GA3terbaik untuk  perkecambahan batang bawah  Japansche Citroen  (JC), dan mendapatkan konsentrasi gula terbaik  untuk  menumbuhkan  tanaman  hasil  sambung  mikro.  Penelitian dilaksanakan  di Laboratorium  in  vitro  kelompok  peneliti  Biologi  Sel  dan Jaringan, Balai  Besar Bioteknologi  dan Genetika  serta  Laboratorium  Kultur Jaringan, Departemen Agronomi  dan  Hortikultura,  Fakultas Pertanian, Institut Pertanian  Bogor  pada  bulan  Januari  hingga  September  2014. Rancangan penelitian  yang  digunakan  adalah  rancangan  acak  lengkap (RAL)1  faktor  untuk  ke  tiga  tahap penelitian.  Faktor  pada  percobaan multiplikasi  adalah  konsentrasi  kinetin  pada  media multiplikasi (MS+Vitamin MW)  yang  terdiri  atas  3  taraf:  K1)  kinetin  1  g  L-1,  (K2)  kinetin  3  g L-1,  dan  (K3) kinetin 5 g L-1. Faktor untuk percobaan ke dua adalah lama perendaman biji JC pada larutan GA3 10 mg L-1 yang terdiri atas 3 taraf yakni (δ1) 1 jam, (δ2) 2 jam, dan (δ3) 3 jam. Faktor pada percobaan ketiga  adalah konsentrasi  gula  pada  media  tanaman  hasil  sambung  mikro  dengan  3 taraf:  (G1) konsentrasi  gula  30  g  L-1,  (G2)  konsentrasi  gula  50  g  L-1, dan  (G3)  konsentrasi  gula  70  g  L-1. Konsentrasi  kinetin  optimal  untuk pertumbuhan  batang  atas  adalah  1  mg  L-1 sedangkan  untuk kemunculan tunas baru adalah 5 mg L-1. Lama perendaman pada larutan GA3 10 mg L-1 yang terbaik untuk  memacu  perkecambahan  biji  dan  pemanjangan kecambah  adalah  3  jam.  Persentase keberhasilan sambung mikro tertinggi diperoleh media dengan konsentrasi gula 70 g L-1.Kata kunci: giberelin, kinetin, multiplikasi, gula
Peningkatan Mutu Bibit Torbangun (Plectranthus amboinicus Spreng.) dengan Pemilihan Asal stek dan Pemberian Auksin Pipin Apriani; M. Rahmad Suhartanto
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.109 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.2.109-115

Abstract

ABSTRACTTorbangun or Bangun-bangun (Plectranthus amboinicus), is an  indigenous plant. Its leaves isused as herbal plant. Torbangun propagation is done vegetatively by cutting.  The purpose of this research was to determine the best combination of cutting method and auxin concentration, in order to achieve  vigorous seedlings. This research was conducted at Biofarmaka, IPB, from January until March 2014. It consisted of 2  experiments  arranged in Completely Randomized Block Design.  First experiment  consisted  of  3  kinds  of  cuttings  and  3  kinds  of auxin  concentrations  as  treatments.Second experiment was continuation of the first experiment. Second experiment consisted of 3 kindsof  bud  cutting length  and 3  kinds  of auxin  concentrations  as treatments. The result of this researchshowed  that the best cutting treatments  was cutting of  7.0  cm  in length. All concentrations  of auxin did not affect to cutting’s variables.Keywords: cutting methods, seed quality, Plectranthus amboinicus ABSTRAKTorbangun atau Bangun  bangun (Plectranthus amboinicus)  adalah tanaman indigenous yang daunnya  dapat digunakan sebagai tanaman obat.  Perbanyakan tanaman torbangun masih dilakukan secara vegetatif, yaitu menggunakan stek batang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan asal stek  dan konsentrasi auksin yang tepat sehingga  menghasilkan stek yang vigor. Penelitian ini telah  dilaksanakan  pada  bulan  Januari  sampai  dengan  Maret di  Biofarmaka,  IPB.  Penelitian  ini terdiri atas 2 percobaan dan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak faktorial. Percobaan 1  memiliki  2  faktor perlakuan,  yaitu  asal  stek  dan  konsentrasi  auksin.  Percobaan  2  terdiri atas  2 faktor  perlakuan, yaitu panjang stek dan konsentrasi auksin.  Hasil analisis data  mulai  minggu ke 3 sampai dengan  minggu  ke 7  setelah tanam menunjukkan bahwa  stek asal pucuk  dengan panjang 7 cm  adalah  stek yang paling baik untuk digunakan.  Konsentrasi auksin pada ke  dua percobaan tidak berpengaruh nyata pada semua tolok ukur keberhasilan stek torbangun.Kata kunci: metode stek, mutu bibit, Plectranthus amboinicus

Page 7 of 33 | Total Record : 322


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue