cover
Contact Name
Wahyu Andy Nugraha
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
+6282234502425
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO. BOX 2 Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan
ISSN : -     EISSN : 27237583     DOI : -
Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal aim to become a medium of dissemination of high quality research and scientific note in the fiend of marine and fisheries. This journal can be accessed and downloaded freely for everyone. The article published in this journal have been pass the rigorious peer review by the expert reviewer. This journal accept every article that contain the following, but not limited to, scope: Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal is expected to function as a medium for the dissemination of quality scientific research results as well as scientific rebuttal (notes) in the marine and fisheries sector which can be accessed online and free of charge by the Indonesian community and the international community. The articles (articles) published in this journal are articles that have passed peer-review (partner bebestari). This journal accepts every article which contains, but is not limited to, the scope: 1. Ecology and biology of marine and fisheries 2. Marine and Aquaculture 3. Marine and Aquatic Conservation 4. Marine Water Pollution 5. Management of marine and aquatic resources 6. Marine and fishery processing technology
Articles 276 Documents
Kajian Kandungan Logam Berat kadmium Pada Air, Sedimen, dan Ikan Bawal (Pampus argenteus) di Tempat Pelelangan Ikan Branta Kabupaten Pamekasan Susi Dwi Widyaningsih; Indah Wahyuni Abida; Febi Ayu Pramithasari; Fitria Hersiana Afifa
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.17564

Abstract

ABSTRAKKadmium (Cd) merupakan salah satu jenis logam berat pencemar di suatu badan perairan yang dapat bersumber dari limbah bahan bakar dan kegiatan industri. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang didalamnya terdapat berbagai aktivitas masyarakat dan juga lalu lalang kapal nelayan berperan menyumbang masukan logam berat Cd ke perairan dan biota. Penelitian dilakukan pada Februari-Maret 2022 untuk mengetahui hubungan kualitas air dengan kelarutan logam Cd; kadar logam Cd pada air, sedimen, dan ikan bawal (P. argenteus) di sekitar TPI Branta, Kabupaten Pamekasan. Kajian secara deskriptif menunjukkan adanya hubungan yang berbanding lurus antara suhu dan tingkat kecerahan perairan dengan tingkat kelarutan logam berat Cd. Sedangkan hubungan pH serta salinitas menunjukkan hasil berbanding terbalik terhadap tingkat kelarutan Cd. Kadar Cd pada air laut sebesar 0,0023 mg/L; sedimen berkisar antara 0,0138-0,0179 mg/L; dan pada ikan bawal (P. argenteus) berkisar 0,0015-0,0019 mg/L. Meninjau baku mutu air laut dan batas logam berat pada pangan, kadar Cd air laut, sedimen dan ikan bawal masih memenuhi baku mutu dengan nilai BAF dan BSAF sebesar 0,7435 dan 0,1084. Batas maksimum konsumsi ikan bawal (P. argenteus) pada orang dewasa sebesar 4631,3 kg/minggu, sedangkan pada anak-anak sebesar 27546,4 kg/minggu.Kata Kunci: logam berat kadmium, Pampus argenteus, batas maksimum konsumsiABSTRACTCadmium (Cd) is a type of heavy metal pollutant in a body of water which can be sourced from fuel waste and industrial activities. The Fish Auction (TPI), in which there are various community activities and also the passing of fishing boats, plays a role in inputting the heavy metal Cd into the waters and biota. The research was conducted in February-March 2022 to determine the relationship between water quality and Cd metal solubility; levels of Cd metal in water, sediment, and pomfret (P. argenteus) around TPI Branta, Pamekasan Regency. Descriptive studies show that there is a directly proportional relationship between temperature and the brightness level of the waters with the solubility level of the heavy metal Cd. Meanwhile, the relationship between pH and salinity shows an inverse relationship with the solubility level of Cd. Cd content in seawater is 0.0023 mg/L; sediment ranged from 0.0138-0.0179 mg/L; and in pomfret (P. argenteus) it ranges from 0.0015 to 0.0019 mg/L. Looking at seawater quality standards and heavy metal limits in food, Cd levels of seawater, sediment and pomfret still meet quality standards with BAF and BSAF values of 0.7435 and 0.1084. The maximum consumption limit for pomfret (P. argenteus) for adults is 4631.3 kg/week, while for children it is 27546.4 kg/week.Keywords: heavy metal cadmium, pomfret, maximum consumption limit
Kajian Kelimpahan Mikroplastik Pada Berbagai Tekstur Sedimen Di Kawasan Pantai Wisata Mangrove Desa Labuhan Chulud Ayu Zuanita Susanto; Shinta Nur Fitria; Dewi Purwaningrum; Mara Dwi Fadila; Haryo Triajie; Adyos Bobby Chandra
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.18001

Abstract

AbstrakSampah plastik merupakan masalah besar di dunia yang akhirnya menimbulkan adanya mikroplastik pada lingkungan perairan dan menyebabkan beberapa dampak bagi lingkungan perairan. Mikroplastik yang masuk ke dalam perairan akan masuk ke dalam badan air dan akhirnya akan mengendap pada sedimen. Kawasan hutan mangrove menjadi tempat hidup biota yang terdapat pada kawasan tersebut. Maka perlunya adanya kajian mikroplastik pada kawasan Pantai Wisata Hutan Mangrove Desa Labuhan dengan tujuan mengetahui karakteristik sedimen, mengetahui kelimpahan dan bentuk mikroplastik, serta mengetahui hubungan antar tekstur sedimen dengan kelimpahan mikroplastik. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September-November 2021, pengambilan sampel dilakukan pada 5 stasiun dan 3 titik pada setiap stasiun. Parameter yang dianalisis adalah tekstur sedimen, kelimpahan dan bentuk mikroplastik serta hubungan antar kelimpahan mikroplastik dengan tekstur sedimen. Hasil yang diperoleh yaitu pada kawasan mangrove memiliki karakteristik tekstur sedimen lumpur berlempung. Kelimpahan mikroplastik pada air sebesar 9-168 partikel/50 L, sedangkan kelimpahan mikroplastik yang ditemukan pada sedimen sebanyak 17-36 partikel/50 gram sedimen kering. Bentuk mikroplastik yang ditemukan yaitu fiber, fragmen, dan film. Bentuk fiber merupakan bentuk paling mendominasi pada air dan sedimen.Kata Kunci: Kelimpahan Mikroplastik, Tekstur Sedimen, MangroveAbstractPlastic waste is a big problem in the world that causes microplastics in the sky environment and causes several impacts on the aquatic environment. Microplastics that enter the waters will enter the water body and will eventually settle in the sediment. The mangrove forest area is a place to live for the biota found in the area. So it is necessary to study microplastics in the Mangrove Forest Tourism Beach area ofLabuhan Village with the aim of knowing the characteristics of sediment, knowing the shape and shape of microplastics, and knowing the relationship between sediment texture and microplastics. Sampling was carried out in September-November 2021, sampling was carried out at 5 stations and 3 points at each station. The parameters analyzed were the texture of the sediment, the shape of the microplastic, and the relationship between the microplastic and the texture of the sediment. The results obtained are that the mangrove area has a characteristic texture of loamy mud sediments. The abundance of microplastics in water was 9-168 particles/50 L, while the number of microplastics found in sediments was 17-36 particles/50 grams of dry sediment. The forms of microplastics found were fiber, fragments, and films. The form of fiber is the most dominant form in water and sediment.Keywords: Microplastic Abundance, Sediment Texture, Mangrove 
Seagrass Ecological Quality Index Pada Lokasi Yang Berbeda di Madura Nisa Riska Alif; Insafitri Insafitri; Wahyu Andy Nugraha
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.18172

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan dilakukan di perairan Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep dan di perairan Desa Prancak, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan. Tujuan penelitian untuk mengetahui nilai SEQI dan tutupan lamun di perairan Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep dan di perairan Desa Prancak, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek garis pada 3 titik dan menggunakan transek kuadrat nerukuran 50 x 50 cm pada 2 lokasi yang berbeda. Parameter ketahanan yang digunakan kekayaan spesies lamun, tutupan lamun, tutupan makroalga, tutupan epifit, dan transparansi air. Pada penelitian ini ditemukan 4 jenis lamun yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, dan Cymodocea rotundata dan rata-rata persentase tutupan lamun memperoleh 50% pada perairan Kecamatan Sapeken dan 22% pada kecamatan Sepuluh. Sedangkan hasil dari Seagrass Ecological Quality Indeks (SEQI) memperoleh 0.74 pada perairan Kecamatan Sapeken dan masuk dalam kategori baik dan pada perairan Kecamatan Sepuluh memperoleh hasil 0.62 masuk dalam kategori sedang.Kata kunci: SEQI, penutupan lamun, Sapeken, SepuluhABSTRACTThe research was conducted in the waters of Pagerungan Besar Island, Sapeken District, Sumenep and in the waters of Prancak Village, Sepuluh District, Bangkalan. The purpose of the study was to determine the value of SEQI and seagrass cover in the waters of Pagerungan Besar Island, Sapeken District, Sumenep and in the waters of Prancak Village, Sepuluh District, Bangkalan. The method used in this study is a line transect at 3 points and uses a ner squared transect measuring 50x50 cm at 2 different locations. The resistance parameters used are rich in seagrass species, seagrass cover, macroalgae cover, epiphytic cover, and water transparency. In this study, 4 types of seagrasses were found, namely Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, and Cymodocea rotundata and the average percentage of seagrass cover obtained 50% in the waters of Sapeken District and 22% in Subdistrict Sepuluh. Meanwhile, the results of the Seagrass Ecological Quality Index (SEQI) obtained 0.74 in the waters of Sapeken District and were included in the good category and in the waters of District Ten obtained a result of 0.62 in the medium category.Keywords: SEQI, seagrass closure, Sapeken, Sepuluh
Pengaruh Penambahan Natrium Hidroksida (NaOH) Terhadap Kandungan Magnesium Pada Bittern Dalam Ekstraksi Magnesium Hidroksida Mg(OH)₂ Nike Ika Nuzula; Aan Putri Nurjanah; Ary Giri Dwi Kartika; wiwit Sri Werdi Pratiwi; Onie Wiwid Jayanthi
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.17974

Abstract

ABSTRAKProduksi garam pada pulau Madura sangat tinggi yang dilakukan secara terus menerus pada musim kemarau menggunakan metode tradisional dengan media tanah maupun geomembrant (Zainuri et.al 2016) sehingga menghasilkan limbah bittern yang melimpah. Bittern memiliki kandungan mineral salah satunya magnesium (Mg) yang dapat dijadikan inovasi baru yakni senyawa magnesium hidroksida Mg(OH)₂ dengan cara ekstraksi. Penambahan natrium hidroksida NaOH dalam kstraksi magnesium hidroksida pada penelitian ini dilakukan dengan berdasarkan perbandingan antara mol magnesium dan mol natrium hidroksida yakni 1:0,90; 1:0,95; 1:1; 1:1,05; 1: 1,1 dengan tujuan mengetahui perlakuan yang paling optimal. Berdasarkan hasil uji ANOVA dengan siginifikasi sebesar 0,605 yang artinya tidak ada pengaruh secara nyata pada penambahan natrium hidroksida pada bittern. Jika dilihat dari data perlakuan dengan perbandingan mol 1 : 1 yakni sebesar 76802,70833 mg/Kg merupakan perlakuan yang paling optimal dari semua perlakuan dan perlakuan perbandingan mol 1 : 0,90 yakni sebesar 75858,245 mg/Kg merupakan perlakuan yang paling rendah.Kata Kunci: Bittern, Magnesium, Natrium Hidroksida dan Magnesium Hidroksida.ABSTRACTSalt production on the island of Madura is very high which is carried out continuously during the dry season using traditional methods with soil and geomembrane media resulting in abundant bittern waste. Bittern contains minerals, one of which is magnesium (Mg) which can be used as a new innovation, namely magnesium hydroxide Mg(OH)₂ by extraction. The addition of sodium hydroxide NaOH in the extraction of magnesium hydroxide in this study was carried out based on the ratio between moles of magnesium and moles of sodium hydroxide, namely 1: 0.90; 1:0.95; 1:1; 1:1.05; 1: 1.1 with the aim of knowing the most optimal treatment. Based on the results of the ANOVA test with a significance of 0.605, which means that there is no significant effect on the addition of sodium hydroxide to bittern. When viewed from the treatment data with a mole ratio of 1: 1, which is 76802.70833 mg/Kg, it is the most optimal treatment of all treatments and a mole ratio of 1: 0.90, which is 75858.245 mg/Kg, is the lowest treatment.Keyword: Bittern, Magnesium, Natrium Hydroxide dan Magnesium Hydroxide.
Komposisi Hasil Tangkapan Dari Modifikasi Cantrang DI Perairan Branta Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan Khofifah Dwi Kusuma Wardani; Muhammad Zainuri
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.17510

Abstract

ABSTRAKAlat tangkap cantrang merupakan alat tangkap yang menyerupai kantong besar yang mengerucut yang dioperasikan di dasar perairan dengan target ikan demersal. Alat tangkap cantrang terbuat dari bahan jaring seperti kantong besar berbentuk kerucut dan semakin ke belakang ukurannya semakin mengerucut. Cantrang dioperasikan pada dasar perairan yang bersubstrat/berpasir dan tidak terdapat karang dengan ikan demersal sebagai terget penangkapan. Alat tangkap cantrang terdiri dari bagian utama yaitu sayap, badan serta kantong. Sayap berfungsi sebagai penggiring ikan masuk ke dalam badan dan untuk selanjutnya ikan akan masuk ke dalam kantong. Pelabuhan Perikanan Branta merupakan salah satu pelabuhan yang ada di Kabupaten Pamekasan, Madura yang dikelola oleh Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Branta. Deskripsi alat bantu penangkapan dilakukan dengan metode wawancara dan pengukuran putaran kapstan dan diameter kapstan untuk mengetahui kecepatan tarikan kapstan. Hasil yang diperoleh adalah bahwa rata-rata yang kecepatan penarikan yang digunakan gardan adalah 22,69 m/menit. Diameter gardan yang digunakan yaitu 67,5 cm sedangkan tali selambar yang digunakan memiliki panjang 1000 m dan mesin gardan yang digunakan adalah mesin dongfeng dengan kekuatan mesin 30 PK.Kata kunci : Cantrang, Perairan Branta ABSTRACTCatering fishing gear is a fishing gear that resembles a large conical bag that is operated at the bottom of the water with demersal fish targets. Catering fishing gear is made of net material such as a large cone-shaped bag and the more you go back the smaller the size. Catering is operated on the bottom of the waters that are substrate/sandy and there are no corals with demersal fish as fishing targets. Catering fishing gear consists of the main parts, namely the wings, body, and pockets. The wings function as a dribbler of fish into the body and henceforth the fish will enter the bag. Branta Fishing Port is one of the ports in Pamekasan Regency, Madura which is managed by the Class III Branta Port Management Unit (UPP). The description of the fishing aids was carried out by interviewing and measuring the rotation of the capstan and the diameter of the capstan to determine the pulling speed of the capstan. The results obtained are that the average pulling speed used by the axle is 22.69 m/minute. The diameter of the axle used is 67.5 cm while the rope used is 1000 m long and the axle machine used is a Dongfeng machine with an engine power of 30 PK.Keywords: Catering, Branta Waters
Evaluasi Kondisi Terumbu Karang DI Pulau Gili Labak Kabupaten Sumenep Dewi Zahrotun Nayyiroh; Firman Farid Muhsoni
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.17511

Abstract

Abstrak Semakin dikenalnya pulau Gili Labak sebagai destinasi wisata berdampak bertambahnya pengunjung, hal ini menyebabkan diantaranya banyaknya terumbu karang yang rusak. Evaluasi kondisi terumbu karang perlu dilakukan sehingga diketahui tingkat kerusakannya. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kondisi kualitas air dan mengevaluasi kondisi terumbu karang di Pulau Gili Labak. Metode penelitian tutupan karang menggunakan metode LIT (Line Intersect Transect). Hasil penelitian suhu perairan 28-32 0C, pH 8-9, salinitas 22-35 ppt dan Oksigen terlarut 10-19, kecerahan 100% masuk kategori ideal untuk karang. Persen tutupan terumbu karang karang stasiun 1 pada kedalaman 3 meter berdasarkan bentuk pertumbuhannya mendapatkan hasil tutupan karang hidup sebesar 62%, sehingga masuk kategori baik. Pada stasiun 2 di kedalaman 7 meter mendapatkan hasil tutupan karang hidup sebesar 84%, sehingga masuk kategori baik sekali.Kata kunci : Terumbu karang, Gili Labak Abstrak  The increasing recognition of Gili Labak Island as a tourist destination has an impact on increasing visitors, this has caused many coral reef to be damaged. Evaluation of the condition of coral reefs needs to be carried out so that level damage is know. The Purpose of this study was to evaluate condition of water quality and evaluate the condition of coral reef on Gili Labak Island. The coral cover research method used the LIT (Line Intersect Transect method. The result of the study were water temperature 28-32 ℃, pH 8-9, salinity 22-35 ppt and dissolved oxygen 10-19, 100% brightness was in the ideal category for corals. Percentage of coral reef cover station 1 at a depth of 3 meters based on its growth form resulted in live coral cover of 62%, so it was in the category. At station 2 at a depth of 7 meters, the result of cover live coral cover were 84% so it was in very good categoryKeywords : Coral reef, Gili Labak
Analisis Kesesuaian Ekowisata Pantai Jumiang di Desa Tanjung Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan Wahyudi Rahman; Akhmad Farid
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.17690

Abstract

ABSTRAKEkowisata bahari adalah jenis kegiatan wisata bahari yang berada di wilayah pesisir, di permukaan laut, dan di bawah laut. Ekowisata pantai merupakan kegiatan wisata yang dilakukan dengan obyek utama berupa pantai. Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai umumnya adalah bersantai, bermain air atau berenang di pantai serta menikmati pemandangan dan panorama alam di pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), Daya Dukung Kawasan (DDK) Pantai Jumiang di Desa Tanjung Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Hasil kajian IKW pantai Jumiang adalah 83,33%. Nilai Daya Dukung Kawasan (DDK) Pantai Jumiang adalah 1256 orang per hari. Nilai Daya Dukung Pemanfaatan (DDP) Pantai Jumiang adalah 126 orang per hari.Kata Kunci : Indeks Kesesuaian Wisata, Daya Dukung Kawasan (DDK), Daya Dukung Pemanfaatan, Pantai JumiangABSTRACTMarine ecotourism is a type of marine-related tourism activity covering coastal areas, above sea level and below sea level. Coastal ecotourism is a tourist activity carried out with the main object in the form of a beach. Activities that can be done on the beach are generally relaxing, playing water or swimming on the beach and enjoying the scenery and natural panorama on the beach. This study aims to determine the value of the Tourism Suitability Index (IKW), Regional Carrying Capacity (DDK) of Jumiang beach in Tanjung Village, Pademawu District, Pamekasan Regency. This research is a qualitative method. The results of the Jumiang beach IKW study were 83.33% (according to). The Regional Carrying Capacity (DDK) value of Jumiang beach is 1256 people per day. The value of the Utilization Carrying Capacity (DDP) of Jumiang Beach is 126 people per day. Keywords: Tourism Suitability Index, Regional Carrying Capacity, Utilization Carrying Capacity, Jumiang beach
Pengaruh Penambahan Bayam Hijau (Amaranthus tricolor L.) Terhadap Kualitas Gizi Dimsum Ikan Patin (Pangasius sp.) Surjana Falah AS; Aryani Aryani; Ida Ratnasari
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.19025

Abstract

ABSTRAKDiversifikasi atau penganekaragaman produk olahan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan daya terima konsumen. Salah satu alternatif diversifikasi produk olahan hasil perikanan adalah dimsum ikan. Masyarakat Indonesia banyak yang menyukai dimsum karena memiliki rasa yang enak, harga yang murah, selain itu cara pengolahan dimsum tergolong mudah serta penyajiannya praktis. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dicoba membuat dimsum ikan patin (Pangasius sp.) dengan penambahan bayam hijau (Amaranthus tricolor L.) untuk meningkatkan kualitas gizi pada dimsum ikan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bayam hijau (Amaranthus tricolor L.) terhadap kualitas gizi dimsum ikan patin (Pangasius sp.) melalui uji kimia dan uji organoleptik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu A (tanpa bayam hijau), perlakuan B (25 g bayam hijau), perlakuan C (50 g bayan hijau), perlakuan D (75 g bayam hijau). Parameter yang diuji yaitu analisis kimia (uji air, abu, protein, lemak, karbohidrat dan zat besi) yang dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ikan Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian berdasarkan metode indeks efektivitas perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan dimsum ikan patin dengan penambahan 75 g bayam hijau (Amaranthus tricolor L.).Kata Kunci : Bayam hijau, dimsum, ikan patin ABSTRACTDiversification of processed products is one of the efforts to increase consumer acceptance. One of the alternative diversification of processed fishery products is fish dimsum. Many Indonesian people like dimsum because it tastes good, the price is cheap, besides that the way to process dimsum is relatively easy and the presentation is practical. Based on this, will try to make catfish dimsum (Pangasius sp.) with the addition of geen spinach (Amaranthus tricolor L.) to increase the nutritional quality of fish dimsum. The objective of this research was to determine the effect of adding geen spinach (Amaranthus tricolor L.) to the nutritional quality of catfish (Pangasius sp.) dim sum through chemical tests and organoleptic tests. This study used a completely randomized design (CRD) which consisted of 4 treatment levels, namely A (without geen spinach), treatment B (25 g geen spinach), treatment C (50 g geen spinach), treatment D (75 g geen spinach). The parameters tested were chemical analysis (water test, ash, protein, fat, carbohydrates and iron) which was carried out at the Fish Nutrition Laboratory, Bogor Agicultural University. The results of the study based on the best treatment effectiveness index method were found in the catfish dimsum treatment with the addition of 75 g of geen spinach (Amaranthus tricolor L.).Keywords: Green spinach, dimsum, catfish
Karakteristik Kimia (Kadar Air, TVB-N, dan Protein) pada Produk Perikanan di BPMHP Semarang Cindera Nur Hayati; Hafiludin Hafiludin
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.17389

Abstract

ABSTRAKProduk perikanan merupakan salah satu bahan pangan yang mudah rusak (Perishable food), karena memiliki kandungan protein dan air yang tinggi sehingga dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan mikroba apabila tidak dilakukan penanganan dengan benar. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPMHP) Semarang dari tanggal 5 Januari – 5 Februari 2022 dengan tujuan menentukan karakteristik mutu kimiawi pada produk hasil perikanan berupa ikan asin, cumi-cumi beku, tepung ikan, udang vannamei beku dan rajungan kaleng beku. Parameter uji yang dilakukan terdiri atas uji kadar air pada cumi-cumi beku, ikan asin, dan tepung ikan, uji kadar TVB-N pada rajungan kaleng beku dan tepung ikan serta uji kadar protein pada udang vannamei beku, ikan asin, dan tepung ikan. Hasil penelitian menunjukan rata-rata kadar air pada ikan asin sebesar 23,68 ± 0,063%, pada cumi-cumi beku sebesar 81,89 ± 0,668%, dan pada tepung ikan sebesar 7,34 ± 0,061%. Rata-rata kadar TVB-N pada rajungan kaleng beku sebesar 29,18 ± 1,446 mgN/100g dan pada tepung ikan sebesar 134,43 ± 6,658 mgN/100g. Hasil uji protein mendapatkan rata-rata pada sampel ikan asin sebesar 36,71 ± 1,733%, pada udang vannamei beku sebesar 18,13 ± 0,134%, dan pada tepung ikan sebesar 58,37 ± 1,23%.Kata kunci: Produk perikanan, Kadar air, Kadar TVB-N, Kadar protein.ABSTRACTFishery products are one of the foodstuffs that are easily damaged because they have high protein and water content, so they can be a good medium for microbial growth if not handled properly. This research was conducted at the Fisheries Product Quality Testing Center (BPMHP) Semarang from January 5 to February 5, 2022. The aim of the research was determined chemical quality characteristicswith of fishery products in the form of salted fish, frozen squid, fish flour, frozen shrimp and frozen canned crab. The test parameters consisted of testing the water content of frozen squid, salted fish, and fish flour, the content of TVB-N on frozen canned crab and fish flour, and the protein content of frozen shrimp, salted fish, and fish flour. The results showed that the average water content in salted fish was 23,68 ± 0,063%, the frozen squid was 81,89 ± 0,668%, and the fish flour was 7,34 ± 0,061%. The average TVB-N content in frozen canned crab was 29,18 ± 1,446 mgN/100g and in fish flour was 134,43 ± 6,658 mgN/100g. The protein test results obtained an average of 36,71 ± 1,733% for salted fish, 18,13 ± 0,134% for frozen shrimp, and 58,37 ± 1,23% for fish flour. Key words: Fisheries product, Moisture content, TVB-N Content, Protein content.
Fermentasi Bahan Baku Nabati Pakan dengan Cairan Rumen Sapi dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Muhammad Safir; Novalina Serdiati; Aswad Eka Putra; Yesaya Warisyu
Juvenil Vol 4, No 1: Februari (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i1.18792

Abstract

ABSTRAKIkan mas adalah salah satu ikan air tawar yang bersifat herbivor. Pakan sebagai sumber nutrien dalam pembesaran ikan mas umumnya terbuat dari beberapa campuran bahan baku nabati. Penggunaan bahan baku nabati tanpa pengolahan dapat menurunkan pertumbuhan ikan karena kandungan serat dan zat antinutrisnya yang relatif tinggi. Cairan rumen sapi merupakan salah satu bahan kaya akan enzim dan mikroorganisme yang berperan dalam menurunkan serat kasar dan zat antinutrisi pada bahan nabati pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis cairan rumen sapi yang tepat sebagai bahan fermentasi pada seluruh bahan nabati pakan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diujikan yakni dosis penggunaan cairan rumen sapi (0%, 25%, 50% dan 75% dari bobot bahan nabati pakan). Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan nabati dalam pembuatan pakan memberikan pengaruh nyata (p0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian (LSPH), pertambahan bobot individu (PBI), rasio konversi pakan (RKP). LSPH dan PBI tertinggi serta RKP terendah diperoleh pada perlakuan dosis cairan rumen sapi 75% per bobot sampel bahan nabati yakni secara berurut sebesar 2,87 % hari-1, 1,18 g dan 1,77. Kelangsungan hidup selama pemeliharaan untuk semua perlakuan berkisar antara 66,67-80,0%. Kualitas air selama pemeliharaan meliputi pH (5,8-8,1), suhu (28-30 ºC), oksigen terlarut (5,0-6,8 ppm), dan amonia  (0,05-0,01 ppm) masih dalam kategori sesuai untuk pemeliharaan benih ikan mas. Dosis penggunaan cairan rumen sapi sebagai bahan fermentasi bahan baku nabati pakan yang memberikan nilai terbaik diperoleh pada perlakuan D (75% cairan rumen sapi).Kata Kunci: Bahan baku pakan, Kelangsungan hidup, Rasio konversi pakanABSTRACTThe carp (Cyprinus carpio) is a herbivorous freshwater fish. Feed as a source of nutrients in carp grow-out is generally made from a mixture of plant-based ingredients. The use of unprocessed plant materials can inhibit fish growth due to the relatively high fiber and anti-nutrient content. Bovine rumen fluid is rich in enzymes and microorganisms that can reduce crude fiber and anti-nutrient content in plant-based feed ingredients. This study aimed to determine the best dose of bovine rumen fluid used as a plant-based feed ingredient fermentation agent in terms of improving the growth and survival of carp fry. The study used a complete randomized design. The treatments trialed were various doses of bovine rumen fluid (0%, 25%, 50% and 75% of plant-based feed ingredients by weight). The results showed that using bovine rumen liquid to induce fermentation of plant-based feed ingredients during feed manufacturing had a significant effect (p0.05) on specific growth rate (SGR), individual weight gain (IWG), and feed conversion ratio (FCR). The highest SGR and IWG and the lowest FCR (2.87% day-1, 1.18 g and 1.77, respectively) were obtained under the bovine rumen fluid dose of 75% plant-based ingredient weight. Across all treatments, survival rate during the study period ranged from 66.67-80.0%. Water quality remained within suitable ranges for carp fry rearing, as follows: pH (5.8-8.1), temperature (28-30ºC), dissolved oxygen (5.0-6.8 ppm), and ammonia (0.05-0.01 ppm). The dosage of bovine rumen fluid that provided the best results when used as a fermentation agent for plant-based ingredients in carp fry feed was treatment D (75% bovine rumen fluid by weight).Key words: Feed ingredients, Survival, Feed conversion ratio.