cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
mosharafajournal@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Gedung B, Lantai 2, Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut Jalan Pahlawan No. 32 Sukagalih, Garut, Jawa Barat
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 20864280     EISSN : 25278827     DOI : https://doi.org/10.31980/mosharafa
Core Subject : Education,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,006 Documents
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Disertai Teknik Berikan Uangnya terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMPN 16 Padang Nst, Mutiara Nofa; Rahmi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.449

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar siswa masih rendah dan masih banyak yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah disertai teknik berikan uangnya lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Padang. Jenis penelitan adalah penelitian eksperimen dengan rancangan random terhadap subjek. Terpilih kelas VIII 6 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII 5 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes akhir berbentuk esai dengan reliabilitas tes. Statistik uji yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah uji t satu pihak. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah disertai teknik berikan uangnya lebih baik daripada hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan pembelajaran konvensional pada kelas VIII SMP Negeri 16 Padang. The background of this research by outcomes of student study still low and still many students of yet reached the minimum completeness criteria (KKM). The purpose of this research to know what the outcomes of study mathematics students with apply the problem-based learning model with techniques give the money better than apply the conventional learning of study at eighth grade in SMPN 16 Padang. The kind of this research is experimental research with design is random by the subject. Selected class VIII 6 as experimental class and VIII 5 as control class. The instrument of this research is test like essay with use reliability = 0,7062. Statistic test used for hypothesis testing is t-test of the parties. Hypothesis test result obtain = 1,78 and = 1,67 with, then > so the hypothesis of this research is accepted. So, it can conclude that result of study in mathematics with apply the problem-based learning model with techniques give the money better than apply the conventional learning of study at eighth grade in SMPN 16 Padang.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berbasis Model Pembelajaran Penemuan dengan Masalah Open Ended untuk Peserta Didik SMA Kelas X Semester 2 Yulius, Benti; Irwan; Yerizon
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.450

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan pokok dari pembelajaran matematika. Penyajian masalah matematika terbuka, merupakan alternatif untuk menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Agar proses pembelajaran berlangsung efektif, perlu didukung dengan perangkat pembelajaran yang relevan. Hal tersebut yang mendasari untuk melakukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran matematika berupa Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis model pembelajaran penemuan dengan masalah open ended, yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik dalam keterampilan, menyelidiki, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan dunia nyata serta menyelesaikan masalah-masalah terbuka. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan menggunakan model Plomp yang terdiri dari tiga fase yaitu preliminary research, prototype, dan asessment phase. Pada fase preliminary research dilakukan analisis berupa analisis kebutuhan, analisis peserta didik, analisis kurikulum, serta analisis konsep. Dari hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa perlunya pengembangan perangkat pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Pada fase prototype dilakukan perancangan produk yaitu RPP dan LKPD berbasis model pembelajaran penemuan dengan masalah open ended untuk kelas X semester 2. Pada fase asessment phase dilakukan uji praktikalitas dan uji efektivitas. Penelitian pengembangan yang akan dilaksanakan ini, diharapkan dapat memperoleh perangkat pembelajaran matematika berbasis model pembelajaran penemuan dengan masalah open ended untuk kelas X SMA yang memiliki karakteristik valid, praktis dan efektif. Problem solving skills are the main objectives of mathematics learning. Presentation of open math problems is an alternative to develop the problem-solving ability of learners. In order for the learning process to be effective, it needs to be supported with relevant learning tools. This is the basis for conducting research on the development of mathematics learning tools in the form of Learning Implementation Plan (RPP) and Student Learning Sheet (LKPD) based on discovery learning model with open ended problem, which can provide learners experience in skills, investigate, and solve Problems related to the real world and solving open problems. The type of research is a development study using a Plomp model consisting of three phases: preliminary research, prototype, and assessment phase. In the preliminary research phase, analysis is done in the form of needs analysis, learner analysis, curriculum analysis, and concept analysis. From the results of the analysis has been obtained information that the need for the development of learning tools that can improve students' problem-solving skills. In the prototype phase, the product design is RPP and LKPD based on discovery learning model with open ended problem for class X semester 2. In the phase, it is tested by practicality and effectiveness test. The development research that will be carried out is expected to be able to obtain the learning device of mathematics based on discovery learning model with open ended problem for class X high school that has valid, practical and effective characteristics.
Analisis Kesulitan Siswa dalam Proses Pemecahan Masalah Geometri Berdasarkan Tahapan Berpikir Van Hiele Sholihah, Silfi Zainatu; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.451

Abstract

Matematika memiliki peranan penting dalam kehidupan. Namun, dalam praktik pembelajarannya sebagian siswa masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit. Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar geometri masih rendah. Kesulitan pada materi geometri dapat berdampak pada kesulitan-kesulitan bagian lain dalam materi geometri itu sendiri, karena banyak pokok bahasan dalam geometri yang saling berhubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan siswa dalam proses pemecahan masalah geometri berdasarkan tahapan berpikir Van Hiele serta untuk melihat ketercapaian siswa dalam pemahaman geometri berdasarkan tahapan berpikir geometri Van Hiele. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Subjek penelitian yang diambil sebanyak 6 siswa dari kelas VII C SMP Negeri 6 Garut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketercapaian siswa pada proses pemecahan masalah geometri berdasarkan tahapan berpikir Van Hiele paling banyak adalah pada tahap 0 (visualisasi). Hal ini ditunjukkan dengan tingginya persentase pencapaian siswa pada tahap visualisasi yaitu sebanyak 96,87 %. Ketercapaian tahapan berpikir Van Hiele yang paling baik dicapai sebesar 3,13% pada tahap 1 (Analisis). Untuk tahap 2 (deduksi informal) dan tahap 3 (deduksi) belum ada siswa yang mampu mencapai tahapan tersebut. Faktor yang menjadi penyebab kesulitan siswa dalam materi segiempat disebabkan karena beberapa hal, yaitu pemahaman mengenai konsep dan sifat-sifat segiempat yang kurang, pemahaman sebelumnya mengenai materi bangun datar segiempat yang masih kurang kuat, kurangnya keterampilan menggunakan ide-ide geometri dalam memecahkan masalah matematika yang berkaitan dengan bangun segiempat, serta kondisi kelas yang kurang kondusif untuk belajar. Mathematics has an important role in life. However, in the practice of learning some students still regard mathematics as a difficult subject. The evidence in the field shows that the geometry learning result is still low. Difficulties in geometrical matter can affect the difficulties of other parts of the material itself, since many of the subjects in the geometry are interconnected. This study aims to determine the factors causing student difficulties in the process of solving geometry problems based on the stages of thinking Van Hiele and to see students' achievement in understanding geometry based on the stages of thinking geometry Van Hiele. The research method used is qualitative research method with case study research type. Research subjects taken as many as 6 students from class VII C SMP Negeri 6 Garut. The results showed that students' achievement in the process of solving geometry problems based on the stage of thinking Van Hiele at most is at stage 0 (visualization). This is indicated by the high percentage of student achievement in the visualization stage that is as much as 96.87%. The achievement of the best stage of Van Hiele thinking was achieved at 3.13% in stage 1 (Analysis). For stage 2 (informal deduction) and stage 3 (deduction) no students have been able to reach that stage. Factors that cause student difficulties in rectangular material caused by several things, namely the understanding of the concept and the characteristic of the rectangle is lacking, previous understanding of the material wake rectangular flat that is still less strong, the lack of skills to use geometric ideas in solving math problems Relating to wake-up quadrilateral, as well as class conditions that are less conducive to learning.
Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa Berbasis Penemuan Terbimbing pada Materi Peluang untuk Siswa Kelas XI IPA SMA Adabiah 2 Padang Nengsih, Sefrida; Septia, Tika; Febriana, Rina
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.452

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya siswa yang belum memahami materi peluang dan penyajian materi pada LKS belum membimbing siswa menemukan konsep secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKS berbasis penemuan terbimbing pada materi peluang untuk siswa kelas XI IPA SMA Adabiah 2 Padang yang valid, praktis dan efektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan model Plomp yang terdiri atas 3 fase yaitu preliminary research, prototyping phase, dan assessment phase. Tahap preliminary research terdiri dari wawancara kepada siswa dan guru, analisis silabus, dan analisis buku teks. Tahap prototyping phase yaitu merancang sistematika dan struktur LKS, penyusunan prototipe, evaluasi diri, tinjauan ahli, evaluasi satu-satu dan evaluasi kelompok kecil. Tahap assessment phase yaitu uji kelompok besar terhadap satu kelas yaitu kelas XI IPA 3 sebagai kelas ekperimen.Hasil penelitian menunjukkan LKS berbasis penemuan terbimbing valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan memotivasi siswa. This research is motivated by the existence of students who do not understand the material opportunities and presentation of the material on the LKS has not led the students find the concept independently. This study aims to produce LKS based on guided discovery on the material opportunities for students of class XI IPA SMA Adabiah 2 Padang valid, practical and effective. This type of research is development research using a plomp model consisting of 3 phases, namely preliminary research, prototyping phase, and assessment phase. The preliminary research stage consists of interviews to students and teachers, syllabus analysis, and textbook analysis. Phase prototyping phase is designing LKS systematics and structures, prototype arrangement, self-evaluation, expert review, one-to-one evaluation and small group evaluation. The assessment phase is a large group test of one class that is class XI IPA 3 as the experimental class. The result of the research shows that LKS based on the discovery of guidance is valid, practical, and effective in improving learning outcomes and motivating students.
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining pada Mata Kuliah Pendidikan Matematika Anak Usia Dini terhadap Keaktifan Mahasiswa Program Studi PGPAUD Universitas Dharmas Indonesia Hader, Antik Estika
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.453

Abstract

Pendidikan matematika anak usia dini merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa S1 PGPAUD Universitas Dharmas Indonesia. Peneliti sekaligus sebagai dosen pengampu mata kuliah ini, menggunakan metode ceramah dan tanya jawab pada pertemuan ke satu sampai dengan ke empat. Namun menurut pengamatan peneliti, mahasiswa kurang begitu aktif untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Disatu sisi penulis menyadari potensi yang dimiliki mahasiswa sangat besar karena mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini pada tahun ajaran 2016/2017, sebagian besar merupakan guru-guru PAUD yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Bungo, Dharmasraya, Kerinci dan Sijunjung yang telah memiliki pengalaman minimal dua tahun mengajar. Penulis mencoba menerapkan model pembelajaran student facilitator dan explaining untuk pertemuan ke lima sampai dengan ketujuh, dan melakukan pengamatan untuk melihat pengaruhnya terhadap keaktifan mahasiswa. Desain penelitian menggunakan bentuk one group pretest-posttest design. Hipotesis diuji dengan menggunakan paired sampel t test dengan software SPSS 20. Penulis menggunakan taraf kepercayaan 95%. Dari hasil analisis data diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.01. Sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran student facilitator and explaining pada mata kuliah pendidikan matematika anak usia dini terhadap keaktifan mahasiswa program studi PGPAUD Universitas Dharmas Indonesia. Early childhood mathematics education is one of compulsory subjects for undergraduate students of PGPAUD Universitas Dharmas Indonesia. Researcher as well as lecturer this subject, using the method of lecturing and question and answer at the meeting to one to the fourth. However, according to researcher observations, students are less active to ask and express opinions. On the one hand the author realizes the potential of the students is very large because students who take this course in the academic year 2016/2017, most of the teachers PAUD spread across several districts in Bungo, Dharmasraya, Kerinci and Sijunjung who have minimal experience Two years of teaching. The author tries to apply student learning model facilitator and explaining for the fifth to seventh meeting and make observations to see the effect on student activeness. The research design used a one-pretest-posttest design. The hypothesis was tested using paired sample t test with SPSS 20 software. The author used 95% confidence level. From the results of data analysis obtained value of significance of 0.01. So, it can be concluded that there is influence of applying student learning model facilitator and explaining on early childhood mathematics education subject to the liveliness of PGPAUD students of Universitas Dharmas Indonesia.
Lintasan Pembelajaran Pecahan Menggunakan Matematika Realistik Konteks Permainan Tradisional SIKI DOKA Edo, Sri Imelda; Samo, Damianus Dao
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 3 (2017): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.454

Abstract

Materi pecahan merupakan salah satu materi matematika yang rumit. Kerumitan pecahan tidak saja dialami oleh siswa, tetapi juga mahasiswa dan guru. Penyebabnya adalah penguasaan konsep pecahan yang rendah. Karena guru pada jenjang pendidikan Dasar memperkenalkan pecahan dengan metode ceramah dan langsung memberi contoh soal kemudian siswa mengerjakan soal latihan. Guru mengajarkan algoritma rutin dalam mengerjakan soal, Edo. I.S (2016). Metode ini dipraktekan secara turun temurun. Karena itu siswa merasa jenuh dan tidak tertarik belajar. Elly Risman (2008) mengatakan bahwa,” Ada tiga cara penyampaian yang efektif bagi anak, yakni dengan bermain, bernyanyi, dan bercerita. Sementara Pendekatan pembelajaran yang berlandaskan pada filosofi bahwa matematika merupakan aktivitas Insani adalah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana desain pembelajaran pecahan dengan menggunakan pendekatan Matematika Realistik Konteks Permainan Siki Doka (taplak). Adapun metode penelitian yang digunakan adalah Desain Riset yang dilaksanakan di SDN. Angkasa Kupang dan SDK. Kristen Tunas Bangsa Kupang pada siswa kelas III. Hasilnya adalah siswa sangat antusias dan menikmati seluruh aktivitas pembelajaran karena mereka belajar melalui kegiatan bermain, menggambar, mewarnai, menggunting dan menyusun kertas origami yang berwarna warni. Siswa bukan saja telah memahami konsep pecahan sederhana, membandingkan pecahan sederhana, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan sederhana tetapi juga mereka sudah terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan konsep penjumlahan dan kelipatan pecahan. Fraction is one of hard subject of mathematics. Fractional complexity is not only experienced by students, but also students and teachers. They found difficulty to solve any mathematics problems related to fractions due to weak of fraction concept and disappointed learning method. Because teachers in elementary taught them using lecture method through routine algorithm. Teacher began the lessons by given short explanation, then some routine examples provided on students’ textbook. In the end of the lesson's students did some exercise, Edo.I. S (2016). Therefore, students bored to follow all of learning process. Whereas Elly Risman (2008) said that there are three effective ways to teach children i.e. by playing, singing and storytelling. While Mathematics learning approach which assume that mathematics as human activity is Realistic Mathematics Education (RME). Therefore, this study aimed to design simple fraction learning trajectory using RME approach through traditional game namely siki Doka as a context. The Research method used in this research is Design Research which conducted in SDN Angkasa Kupang and SDK. Tunas Bangsa Kupang in the third-grade students. The result showed that students were very enthusiastic and enjoy all the learning activities because they learned while playing, drawing, Coloring, cutting and arrange colorful origami paper. Students not only understand the concept of simple fractions, compare simple fractions, and solve problems related to simple fractions as well they are already involved in the activities to find the concept of fractional addition and its multiples.
Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Dengan Menggunakan Media Domat Komariah, Imas; Sundayana, Rostina
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 3 (2017): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.455

Abstract

Sebagian besar siswa SMP menganggap bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dipelajari dan membosankan. Salah satu penyebabnya adalah karena matematika bersifat abstrak serta pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru matematika untuk dapat menggunakan media pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif belajar matematika, sehingga para siswa merasa senang belajar matematika. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan media permainan DOMAT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX-A SMP Negeri 2 Tarogong Kidul. Adapun hasil penelitian ini adalah pada siklus I belum menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu jumlah siswa yang aktif sebanya 75% (27 orang). Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus pertama belum berhasil dan harus dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan perbaikan tindakan yang dianggap menjadi penyebab ketidakberhasilan. Pada siklus II sudah menunjukkan tercapainya indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan, yaitu jumlah siswa yang aktif pada setiap pertemuan 75%. Artinya, pelaksanaan tindakan pada siklus II sudah berhasil. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media permainan domat merupakan salah satu cara atau strategi untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika. Most junior high school students consider that math is a difficult subject to learn and bore. One reason is that mathematics is abstract and the choice of less precise learning method. It is a challenge for math teachers to be able to use instructional media that can involve students actively learning math, so that students feel happy learning math. The purpose of this classroom action research is to find out whether the use of DOMAT game media can improve the learning activity of grade IX-A students of SMP Negeri 2 Tarogong Kidul. The result of this study is that in cycle I has not shown the achievement of the established success indicators, i.e. the number of active students is 75% (27 people). That is, the implementation of the action in the first cycle has not been successful and should proceed to the next cycle with the improvement of the action considered to be the cause of the unsuccessfulness. In the second cycle has shown the achievement of a predetermined success indicator, i.e. the number of students who are active at each meeting 75%. That is, the implementation of action in cycle II has been successful. Thus, it can be concluded that the use of domat game media is one way or strategy to increase student activity in learning mathematics.
Integrasi Nilai-Nilai Karakter Matematika melalui Pembelajaran Kontekstual Maryati, Iyam; Priatna, Nanang
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 3 (2017): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.456

Abstract

Pendidikan karakter merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang mengarah kepada pembentukan karakter peserta didik dengan menitiberatkan pada keteladanan, pembiasaan, dan penciptaan lingkungan yaang kondusif. Bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter matematika seperti jujur, demokrasi, bertanggungjawab, mandiri, disiplin, kerja keras, kreatif, dan rasa ingin tahu. Nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. Pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dapat ditempuh dengan langkah-langkah : a) Menggunakan nilai-nilai budaya dan karakter yang memperlihatkan keterkaitan antara Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan; b) Mencantumkan nilai-nilai budaya dan karakter itu ke dalam silabus; c) Mencantumkan nilai-nilai yang sudah tertera pada silabus ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; d) Mengembangkan proses pembelajaran peserta didik secara aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai; e) Memberikan bantuan kepada peserta didik, baik yang mengalami kesulitan untuk menginternalisasi nilai maupun untuk menunjukkannya dalam perilaku. Oleh karena itu diharapkan setiap peserta didik mampu menginternalisasikan nilai-nilai tersebut ke dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pembelajaran yang dapat menginternalisasikan nilai-nilai tersebut adalah pembelajaran kontekstual yang membantu guru dalam memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari. Karakter apa sajakah yang dapat dikembangkan pada mata pelajaran matematika? Dan model pembelajaran apa yang dapat diterapkan untuk mengembangkan karakter matematika? Dengan menggunakan metode penelusuran literatur, artikel ini menyajikan tentang integrasi nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran matematika melalui model pembelajaran kontekstual. Character education is an effort to improve the quality of process and learning outcomes that lead to the formation of the character of learners by focusing on exemplary, habituation, and the creation of a conducive environment. Aims to inculcate the values ​​of mathematical characters such as honest, democratic, responsible, independent, disciplined, hard work, creative, and curiosity. The character values ​​developed in mathematics learning must still be based on universal values. Integrating character education values ​​can be pursued by the following steps: a) Using cultural values ​​and characters that show the linkage between Core Competence and Basic Competence with values ​​and indicators to determine the value to be developed; b) Include the cultural and character values ​​into the syllabus; c) Include the values ​​listed in the syllabus into the Lesson Plans; d) Develop an active learning process of learners that enable learners to have opportunities to internalize values ​​and demonstrate them in appropriate behaviors; e) Provide assistance to learners, whether it is difficult to internalize the value or to show it in behavior. Therefore, it is expected that every student can internalize these values ​​into the behavior of everyday life through the learning process, both in the classroom and outside the classroom. Learning that can internalize these values ​​is contextual learning that helps teachers in motivating students to relate knowledge learned to everyday life. What are the characteristics that can be developed on math subjects? And what learning model can be applied to develop math character? Using the literature search method, this article presents the integration of character values ​​in mathematics subjects through a contextual learning model.
Penerapan Metode (TS-TS) untuk Melihat Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Matematika Rani; Niswah, Choirun; Agustiani, Riza
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 3 (2017): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.457

Abstract

Aktivitas belajar diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Aktivitas siswa sangatlah diperlukan dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat melihat aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematika setelah diterapkan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) di SMP Negeri 19 Palembang. Untuk mengetahui tujuan penelitian, maka yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mixed Methods Research. Hasil penelitian ini diambil dari data observasi aktivitas siswa pada setiap pertemuan, wawancara kepada sampel terpilih, dan dokumentasi, kemudian dapat disimpulkan bahwa: setelah diterapkan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dalam pembelajaran matematika di SMP Negeri 19 Palembang, aktivitas belajar siswa termasuk dalam kategori aktif dengan rata-rata 75, dimana 12 orang siswa berada pada kategori sangat aktif, 7 orang siswa berada pada kategori aktif, 8 orang siswa berada pada kategori cukup aktif, 3 orang siswa berada ada kategori kurang aktif, dan 1 orang siswa berada pada kategori sangat kurang aktif. Learning activity is defined as an activity undertaken by students in the implementation of the learning process. Student activity is very necessary in the learning process. The purpose of this study is to observe the student learning activities in the study of mathematics after applied Two Stay Two Stray (TS-TS) method in SMP Negeri 19 Palembang. This research is a Mixed Methods Research. The data of this study is observational data of student activity at each meeting, interview data of the selected sample, and documentation. From the data analysis, it can be concluded that after applied the Two Stay Two Stray (TS-TS) method in mathematics instructions at SMP Negeri 19 Palembang, student learning activities included in the category of active with an average of 75: 12 very active students, 7 active students, 8 sufficient students, 3 less active students, and 1 very less active student.
Mathematical Resilience Mahasiswa pada Mata Kuliah Struktur Aljabar I Menggunakan Pendekatan Explisit Instruction Integrasi Peer Instruction Komala, Elsa
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 3 (2017): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.458

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan resiliensi matematik mahaisiwa dengan pendekatan explisit instruction integrasi peer instruction pada matakuliah Struktur Aljabar I. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen berupa tes soal Ujian Akhir Semester untuk mengetahui kemampuan matematis mahasiswa dan angket resiliensi matematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajarannya menggunakan pendekatan explisit instruction integrasi peer instruction memiliki resiliansi matematik sebagian besar positif, artinya mahasiswa memiliki sikap menyesuaikan diri terhadap pembelajaran matematika, yang memungkinkan mereka untuk terus belajar meskipun hambatan dan kesulitan terjadi, tekun, yakin dan tidak menyerah dengan kegagalan, mau mencoba ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah matematis, mau bersosialisasi dan berdiskusi dengan lingkungan atau teman untuk mencari solusi lain dan menggunakan pengalaman kegagalannya untuk membangun motivasi dalam memunculkan ide dan menyelesaikan masalah matematis. The purpose of this article is to describe the resilience of mathematics mahaisiwa with explicit explanation instruction of peer instruction integration in Algebra Structure I course. To get the result of research data used instrument in the form of test about final exam of Semester to know mathematical ability of student and mathematical resilience questionnaire. The result of the research indicates that the learning using explicit instruction approach of peer instruction integration has mostly positive mathematical resonance, meaning that students have the attitude of adjusting to mathematics learning, which enables them to keep learning even though obstacles and difficulties occur, assiduous, confident and do not give up with failure, want to try new ideas to solve mathematical problems, want to socialize and discuss with the environment or friends to find other solutions and use the experience of his failure to build motivation in generating ideas and solve mathematical problems.

Page 55 of 101 | Total Record : 1006


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): January Vol. 14 No. 4 (2025): October Vol. 14 No. 1 (2025): January Vol. 13 No. 4 (2024): October Vol. 13 No. 3 (2024): July Vol. 13 No. 2 (2024): April Vol. 13 No. 1 (2024): January Vol. 12 No. 4 (2023): October Vol 12, No 3 (2023) Vol. 12 No. 3 (2023): July Vol. 12 No. 2 (2023): April Vol 12, No 2 (2023) Vol. 12 No. 1 (2023): January Vol 12, No 1 (2023) Vol. 11 No. 3 (2022): September Vol 11, No 3 (2022) Vol. 11 No. 2 (2022): Mei Vol 11, No 2 (2022) Vol. 11 No. 1 (2022): Januari Vol 11, No 1 (2022) Vol. 10 No. 3 (2021): September Vol 10, No 3 (2021) Vol. 10 No. 2 (2021): Mei Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol. 10 No. 1 (2021): Januari Vol. 9 No. 3 (2020): September Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol. 9 No. 2 (2020): Mei Vol. 9 No. 1 (2020): Januari Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 3 (2019) Vol. 8 No. 3 (2019): September Vol. 8 No. 2 (2019): Mei Vol 8, No 2 (2019) Vol. 8 No. 1 (2019): Januari Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 3 (2018) Vol. 7 No. 3 (2018): September Vol 7, No 2 (2018) Vol. 7 No. 2 (2018): Mei Vol 7, No 1 (2018) Vol. 7 No. 1 (2018): Januari Vol 6, No 3 (2017) Vol. 6 No. 3 (2017): September Vol. 6 No. 2 (2017): Mei Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol. 6 No. 1 (2017): Januari Vol 5, No 3 (2016) Vol. 5 No. 3 (2016): September Vol. 5 No. 2 (2016): Mei Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol. 5 No. 1 (2016): Januari Vol 4, No 3 (2015) Vol. 4 No. 3 (2015): September Vol. 4 No. 2 (2015): Mei Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol. 4 No. 1 (2015): Januari Vol 3, No 3 (2014) Vol. 3 No. 3 (2014): September Vol. 3 No. 2 (2014): Mei Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol. 3 No. 1 (2014): Januari Vol. 2 No. 3 (2013): September Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol. 2 No. 2 (2013): Mei Vol 2, No 1 (2013) Vol. 2 No. 1 (2013): Januari Vol. 1 No. 2 (2012): September Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol. 1 No. 1 (2012): Mei More Issue