cover
Contact Name
Yulius Tiranda
Contact Email
yuliustiranda@ikestmp.ac.id
Phone
+6281994854458
Journal Mail Official
penelitianikestmp@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu, Plaju, Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Masker Medika
ISSN : 23018631     EISSN : 26548658     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Inovatif (LP2MI) IKesT Muhammadiyah Palembang ini berfokus pada kajian keperawatan (Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Kritis, Keperawatan Komunitas dan Manajemen Keperawatan) , Kebidanan (Kehamilan, Persalinan, Nifas, Neonatus, Bayi dan Anak, Kesehatan Reproduksi), Kesehatan Lingkungan, fisioterapi dan Tekhnik Laboratorium Medik. Jurnal Masker Medika terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan bulan desember yang dipublikasikan dalam terbitan cetak dan elektronik.
Articles 765 Documents
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN FISIK AEROBIK DENGAN LATIHAN FISIK ANAEROBIK TERHADAP AKTIVITAS CREATINE KINASE (CK) PADA OTOT JANTUNG TIKUS (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR Yudiansyah, Yudiansyah
Masker Medika Vol 3 No 1 (2015): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Olahraga atau latihan fisik yang teratur dapat mempertahankan kebugaran jasmani. Sebaliknya aktivitas fisik dengan intensitas maksimal dan melelahkan justru merupakan stressor bagi tubuh yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan otot jantung. Metabolisme energi pada otot jantung sangat kompleks. Proses metabolisme tersebut membutuhkan perantara, diantaranya Creatine Kinase (CK). Perubahan kadar serum enzim CK dapat menjadi penanda atau biomarker dari perubahan fungsi otot jantung. Akan tetapi belum diketahui sejauh mana perbedaan pengaruh aktivitas aerobik dengan aktivitas fisik anaerobik terhadap perubahan aktivitas CK-MB otot jantung tikus wistar. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan fisik aerobik dengan latihan fisik anaerobik terhadap kadar CK-MB otot jantung tikus wistar.Penelitian ini adalah studi eksperimental dalam bentuk In-vivo yang dilakukan terhadap tikus wistar jantan yang telah mengikuti latihan aerobik dan anaerobik selama 1 hari, 3x seminggu dan 7 hari berturut-turut. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 28 ekor tikus yang dibagi dalam 7 kelompok yaitu; kelompok 1 pembanding yang tidak diberi pembebanan aktivitas fisik, kelompok 2 kelompok yang diberi perlakuan aktivitas fisik aerobik 1 hari, kelompok 3 yaitu kelompok yang diberi perlakuan aktivitas fisik aerobik 3x seminggu, kelompok 4 yaitu kelompok yang diberi perlakuan aktivitas fisik aerobik selama 7 hari berturut-turut, kelompok 5 yang diberi perlakuan aktivitas fisik anaerobik satu hari, kelompok 6 yang diberi perlakuan aktivitas fisik anaerobik 7 hari berturut-turut. Pada masing-masing kelompok dilakukan pengambilan organ jatung dan pemeriksaan aktivitas CK setelah melakukan aktivitas fisik.Hasil penelitian menunjukkanpada kelompok aktivitas fisik aerobik terjadi peningkatan aktivitas CK sebesar 88% dibandingkan kelompok pembanding dan pada kelompok aktivitas fisik anaerobik terjadi penurunan aktivitas CK. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna rerata aktivitas CK jaringan otot jantung antara kelompok perlakuan aerobik 1 hari dengan 1 hari anaerobik (p=0,03) serta kelompok perlakuan 3x seminggu aerobik dengan 3x seminggu anaerobik (p=0,00).Dapat disimpulkan bahwaterdapat perbedaan yang bermakna aktivitas CK otot jantung pada kelompok aerobik perlakuan 3x seminggu dengan kelompok pembanding (p= 0,02),Tidak terdapat perbedaan yang bermakna aktivitas CK otot jantung pada seluruh kelompok perlakuan anaerobik dengan kelompok pembanding (p>0,05),Terdapat perbedaan yang bermakna aktivitas CK otot jantung antara kelompok Aerobik dan anaerobik pada kelompok perlakuan 1 hari dan 3x seminggu (p< 0,05). Sports or physical exercise regularly to maintain physical fitness . Instead of physical activity with maximum intensity and exhausting it is a stressor to the body which can result in damage to the heart muscle tissue . Energy metabolism in the heart muscle is very complex . The process requires intermediary metabolism , including Creatine Kinase ( CK ) . Changes in serum levels of CK enzyme may be a marker or biomarker of changes in heart muscle function . But the difference is not known to what extent the effect of aerobic activity with anaerobic physical activity to changes in the activity of CK - MB wistar rat heart muscle. The purpose of this study was to determine the efficacy of aerobic exercise with anaerobic exercise to CK-MB levels of cardiac muscle wistar rats................................................................................................................... This study is an experimental study in the form of in-vivo studies conducted on male Wistar rats that had followed the aerobic and anaerobic exercise for 1 day , 3 times a week and 7 days in a row . The number of samples in this study were 28 rats were divided into 7 groups, namely: 1 comparison group who were not given the imposition of physical activity, group 2 treated group aerobic physical activity 1 day, 3 groups, namely the group treated 3 times a week aerobic physical activity, 4 groups is the group treated aerobic physical activity for 7 days in a row, group 5 treated anaerobic physical activity a day, 6 groups treated anaerobic physical activity 7 days in a row . In each group performed organ harvesting CK activity , cardiac and.examination.after.perform.physical.activity. In the group of aerobic physical activity, CK activity increased by 88 % compared to the control group and the group of anaerobic physical activity decreased CK activity. The analysis showed significant difference mean CK activity of the cardiac muscle tissue between aerobic treatment groups 1 day to 1 day anaerobic (p = 0.03) and the group treated with 3 times in a week aerobic with 3 times in a week anaerobic (p=0.00)..................................................................................... Conclusions: There were significant differences in the activity of cardiac muscle CK aerobic treatment group 3 times a week with the comparison group (p = 0.02),There were no significant differences in cardiac muscle CK activity throughout the anaerobic treatment group with the comparison group (p > 0.05) , There is a significant difference between the heart muscle CK activity Aerobic and anaerobic groups in treatment group 1 day and 3 times a week (p < 0.05)
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOTA PRABUMULIH TAHUN 2014 Suryanda, Suryanda; Cik Wi, Cik Wi
Masker Medika Vol 3 No 1 (2015): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi, sedangkan motivasi menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Hasil analisis kesahihan butir terhadap angket kecerdasan emosi adalah dari 50 aitem yang disusun, 4 aitem gugur 46 aitem sahih (rbt) bergerak dari 0.816 – 0.177 dengan taraf signifikansi (p) 0.000- 0.049. Sedangkan Hasil analisis kesahihan butir terhadap angket motivasi kerja adalah dari 56 aitem yang disusun 8 aitem gugur dan 48 aitem sahih (rbt) bergerak dari 0.798 – 0.229 dengan taraf signifikansi (p) 0.000- 0.016. Hasil perhitungan uji linieritas hubungan menunjukkan hasil bahwa antara variabel bebas dengan variabel terikat mempunyai F beda Ke3-ke2 = 0.699 pada taraf signifikansi (p) = 0.590 hal tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan linier. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang positif antara kecerdasan emosi dengan motivasi kerja diperoleh hasil (rxy sebesar 0.981 pada taraf signifikansi (p) 0.000 p 0.01) semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin tinggi motivasi kerja. Begitu juga sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosi maka semakin rendah motivasi kerja. Emotional intelligence is a component makes a clever use of emotion, motivation while creating morale, so that labor productivity increases. Meanwhile, the benefits gained by working with people who are motivated can be solved with the right job. The validity of the results of the analysis point to the questionnaire of emotional intelligence is composed of 50 item, 4 items fall of 46 authentic items ( RBT ) to move from 0,816 - 0.177 with a significance level ( p ) 0.000- 0.049. While the results of the analysis of the validity of the clause on work motivation questionnaire is composed of a 56-item 8-item and 48-item autumn valid (RBT) moves from 0798-0229 with a significance level (p) 0.000- 0.016. The calculation result linearity test results show that the relationship between the independent variable and the dependent variable has a different 3rd-2nd F = 0.699 at the significance level (p) = 0590 it shows that the two variables have a linear relationship. The results showed there was a positive relationship between emotional intelligence and employee motivation result (rxy by 0981 at the significance level (p) 0000 p 0:01) higher emotional intelligence the higher work motivation. conversely , if Improve low emotional intelligence increases the low motivation.
HUBUNGAN KEPATUHAN REHABILITASI MEDIK DENGAN DERAJAT KECACATAN PADA PENDERITA PASCA STROKE DI INSTALASI REHABILITASI MEDIK RSUP Dr. MOH. HOESIN PALEMBANG Rini, Puji Setya
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke insidens in Indonesia is 200 from 100.000 populations. In one year from 100.000 populations, 200 people will get stroke. In Indonesia stroke is in third level from deathly diseases after heart disease and cancer. According survey 2004, the killer number one is stroke in government hospital all around Indonesia. According WHO, rate of disability cause stroke about 50 until 60 percent from stroke prevalency. One per five until a half of stroke suffers can do daily activities without help but quarter until two per three suffers of stroke get permanent disable. The lack of ability functional can be decreased by doing rehabilitation started during two days after stroke attack and it should be continued after go out from hospital. Commonly recovery of interference neuron on stroke happens in the first week.The objective of this study is to know the correlation obedient of medic rehabilitation with level of disability on pasca stroke suffers in Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang. The method that is used in this research by using design of correlation study by approaching cross sectional, the total of sample as many thirty four people which suitable with inclution criteria. The collecting data was done by using questioner and data analyze done with univariate, bivariate and multivariate. The results of logistic regression multivariate are two the most variables which influenced to the obedience in doing medic rehabilitation, namely incoming (B=3,036 dan p value = 0,019) and supporting family (B=2,616 dan p value =0,013). Nurses as one of healthy employees indirectly have correlation with pasca stroke suffers. One of roles nurses is as researcher and can be hoped identificated the research problem and use the result of research to increase the service and nursing education in order the result of research can be referenced in giving nursing of pasca stroke suffers
ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOSIAL KECAMATAN SUKARAME PALEMBANG Zairinayati, Zairinayati; Udiyono, Ari; Hanani, Yusniar
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia masih menjadi penyakit terbesar penyebab kematian anak dan kaum lanjut usia di dunia. Word Health Organization (WHO) tahun 2005 memperkirakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19% atau berkisar 1,6 - 2,2 juta. Pada tahun 2005 ada sekitar 303 kasus pneumonia. Tiga perempat kasus pneumonia di dunia terdapat di 15 negara dan Indonesia menduduki peringkat ke 6. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor-faktor lingkungan fisik rumah dengan kejadian pneumonia pada anak balita di wilayah kerja Puskesmas Sosial Kecamatan Sukarame Palembang. Penelitian ini merupakan kasus-kontrol dengan metode retrospective study. Kelompok kasus sebanyak 65 responden dan kelompok kontrol 65 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan Chi Square dan besarnya resiko dengan Odd Ratio serta analisis multivariat untuk mengetahui kemaknaan hubungan (p) variabel bebas secara bersama-sama dengan variabel terikat dengan regresi logistik. Hasil penelitian ada hubungan antara jenis lantai dengan kejadian pneumonia (p=0,011; OR = 3,3; CI 95%), kualitas suhu dalam rumah (p = 0,031; OR = 2,6; CI 95%), tingkat kelembaban dalam rumah (p=0,006; OR = 3,4; CI 95%), kualitas pencahayaan (p=0,001; OR = 4,3; CI 95%), luas ventilasi (p=0,002; OR = 3,9; CI 95%), kepadatan hunian (p=0,018; OR = 2,8; CI 95%), Kesimpulan hasil penelitian: jenis lantai, kualitas suhu, tingkat kelembaban, kualitas pencahayaan mempunyai hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita.
PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Romadoni, Siti; Aryadi, Aryadi; Rukiyati, Desy
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang mendapat perhatian masyarakat mengingat dampak negatif yang timbulnya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hipertensi juga merupakan penyakit degeneratif yang berkembag seiring dengan pertambahan usia. Penurunan tekanan darah dapat diatasi dengan cara farmakologi menggunakan obat-obatan dan diatasi dengan cara non farmakologi yaitu dengan teknik distraksi, salah satunya dengan mendengarkan musik, khususnya musik klasik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam PDL RS Muhammadiyah Palembang dengan desain penelitian menggunakan Pra-Eksperimental (One group pra-post test design). Sampel dalam penelitian ini sebanyak 34 responden diambil dengan menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi nilai sistolik, musik dipendengarkan menggunakan MP3 Player yang dilengkapi dengan headphone, rekaman musik dari Kenny G “Heart and Soul” yang diberikan selama 10 menit. Rerata usia responden 57,71 (11,07). Rerata nilai sistolik pre test 161,47 (12,094), rerata nilai sistolik post test 158,82 (13,203) dan rerata penurunan tekanan darah sistolik responden 4,4% (1,640). Hasil uji wilcoxon (Z = -3,286 dan p value = 0,001). Berdasarkan hasil analisa data diketahui terdapat perbedaan tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah intervensi terapi musik klasik. Simpulannya adalah terapi musik klasik mempunyai pengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Diharapkan praktisi perawat dapat mengaplikasikan terapi alternatif dengan menyertakan seni dan musik sebagai modalitas penanganan hipertensi
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI PRABEDAH TERHADAP KECEMASAN PASIEN PRABEDAH TERENCANA DI IRNA BEDAH RS MUHAMMADIYAH PALEMBANG Cahya, Windy Astuti; Rohimin, Lukman
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembedahan adalah cabang kedokteran yang mengunakan operasi untuk menangani penyakit atau cedera, bedah bisa melibatkan pemotongan, mengerik, menjahit atau pengubahan jaringan dan organ tubuh lainya. Ketika pasien akan mengalami pembedahan maka akan menyebabkan kecemasan. Kecemasan pasien yang akan menjalani pembedahan dikarenakan beberapa faktor, salah satunya mereka tidak tahu konsekuensi dan prosedur pembedahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian informasi pra bedah terhadap kecemasan pasien pra bedah terencana di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi experimen dengan rancangan pre-post test (pra-post test group design)., jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 49 responden dengan teknik purposive sampling, Analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat. Karakteristik responden diperoleh proporsi tua (41-65) sebanyak 57.1%, pekerjaan terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga sebanyak 30.6 %, pedidikan terbanyak SD yaitu 44.9%, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebanyak 55.1%. Rerata kecemasan sebelum diberikan intervensi 63.20 (5.784) dan rerata kecemasan setelah diberikan intervensi 54.46 (5.021) dan rerarata prosentase perubahan penurunan kecemasan sebelum dan setelah intervensi 44.57%. Uji stastistik menggunakan wilcoxon, menunjukkan nilai p 0.001 atau < 0.05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian informasi terhadap kecemasan kecemasan. Diharapkan praktisi perawat memberikan pendidikan kesehatan terhadap pasien pra bedah sehingga dapat mengurangi kecemasan.
PENGARUH TERAPI MODALITAS: TERAPI MUSIK TERHADAP KUALITAS TIDUR LANSIA YANG MENGALLAMI INSOMNIA DI PANTI TRESNA WERDHA TERATAI PALEMBANG Trilia, Trilia; Santoso, Budi; Andriyani, Yanti
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia yang panjang. Kualitas tidur merupakan kepuasan seseorng terhadap tidur,sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah,sakit kepala dan sering menguap atau mengantuk. Sementara itu insomnia adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur, terutama dimalam hari. pengobatan insomnia terbagi dua yaitu farmakologi dan non farmakologi, pengobatan non farmakologi salah satunya adalah terapi musik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh terapi modalitas: terapi musik terhadap kualitas tidur lansia yang mengalami insomnia di Panti Tresna Werdha Teratai Palembang. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre eksperimental dengan pendekaktan “one group pretest postest” “Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian lansia yang berada di panti sosial tresna werdha teratai palembang, tekhnik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik “non probability Sampling” dengan menggunakan metode purposive sampling sehingga jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 37 jiwa. lansia yang bersedia menjadi responden mengisi lembar Informed consent terlebih dahulu. Hasil uji statistik Shapiro Wilk diperoleh nilai P = 0,000, ada pengaruh terapi musik terhadap kualitas tidur yaitu rata-rata skor kualitas tidur sebelum diberikan terapi musik adalah 6,64 dan rata-rata skor kualitas tidur sesudah diberikan terapi musik adalah 5,27. Hasil penelitian ini hendaknya dapat memberikan gambaran kepada panti sosial tresna werdha teratai tentang adanya pengaruh terapi musik terhadap kualitas tidur Sehingga petugas panti diharapkan dapat memberikan promosi kesehatan pada masyarakat tentang pentingnya kebutuhan istirahat dan tidur dengan memberikan terapi musik
STUDI KOMPARATIF TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP DENGAN METODE PENUGASAN TIM DAN BELUM MENERAPKAN METODE PENUGASAN TIM DI RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG Suzanna, Suzanna
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan metode penugasan tim dalam asuhan keperawatan merupakan kebutuhan objektif pasien sehingga pasien merasa puas, dan terpenuhinya semua fungsi manajemen keperawatan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kepuasan pasien di ruang rawat inap yang menerapkan metode penugasan tim dan ruang rawat inap yang belum menerapkan metode penugasan tim berdasarkan dimensi kehandalan, ketanggapan, jaminan, penampilan dan empati di RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Sampel menggunakan tekhnik accidental sampling berjumlah 130 responden. Hasil uji statistik Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor kepuasan pasien di ruang rawat inap yang menerapkan metode penugasan tim dan ruang yang belum menerapkan metode penugasan tim berdasarkan dimensi kehandalan dan dimensi jaminan, namun pada dimensi ketanggapan, penampilan dan empati tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Secara kumulatif, berdasarkan uji T Independent didapatkan hasil bahwa rata-rata skor kepuasan pasien di ruang rawat dengan metode penugasan yaitu 72,95, dan rata-rata kepuasan di ruang rawat inap yang belum menerapkan metode penugasan tim yaitu 68,77, dan ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor kepuasan pasien yang dirawat di ruang rawat inap yang menerapkan metode penugasan tim dan belum menerapkan metode penugasan tim dengan p value 0,031. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam penerapan metode penugasan tim dan pengadaan pelatihan tentang metode penugasan tim, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan serta kepuasan pasien.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN DAN KEMAUAN DIET DAN OLAHRAGA PADA PASIEN DM TIPE 2 DI RUMAH SAKIT BUKIT ASAM TANJUNG ENIM Tiranda, Yulius
Masker Medika Vol 1 No 2 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DM tipe 2 adalah ganguan heterogen yang ditandai dengan kecendrungan genetic dan interkasi antara resistansi insulin dan penurunan fungsi sel β pancreas. Penatalaksanaan DM didasarkan pada rencana diet, latihan fisik dan pengaturan aktivitas fisik, agen-agen hipoglikemik oral, terapi insulin, pengawasan terapi insulin dirumah dan pengetahuan tentang diabetes dan perawatan diri. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan dan kemauan diet dan olahraga pada pasien DM tipe 2. Desain penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah Penderita yang berobat di RSBA sebanyak 49 responden. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini purposive Sampling. Hasil analisis univariat didapatkan mayoritas berusia dewasa yaitu sebanyak 41 responden (83,7%), yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 29 responden (59,2%), yang berpendidikan tinggi sebanyak 26 responden (53,1%), yang berpengetahuan kurang sebanyak 27 responden (55,1%) yang memiliki dukungan keluarga tentang diet sebanyak 30 responden (61,2%) positif, dan responden yang patuh dalam diet sebanyak 36 responden (73,5%). Sedangkan analisis bivariat didapatkan Ada hubungan antara pendidikan (0,020), pengetahuan tentang diet (0,030), dukungan keluarga (0,022), pengetahuan tentang olahraga (0,004), dukungan keluarga tentang olahraga (0,004) dan tidak ada hubungan antara usia (0,422), jenis kelamin (0,898), usia (1,000), jenis kelamin (0,085), pendidikan (0,575) dengan kepatuhan olahraga pada pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Buki Asam Tanjung Enim . Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilkukan oleh Hasbi (2012) dan penelitian Lestari (2012), dan diharapkan untuk peneliti selanjutnya agar dapat meneruskan penelitian ini. Kepada petugas kesehatan diharapkan agar meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan khususnya penatalaksaan pada pasien DM tipe 2 serta sebagai edukasi dan discharge planning
PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL OLEH PERAWAT DI RUANG GENERAL INTENSIVE CARE UNIT RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Romadoni, Siti; Ibrahim, Kusman; Kurniawan, Titis
Masker Medika Vol 1 No 1 (2013): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan spiritual merupakan salah satu kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia, salah satunya adalah pasien dalam kondisi kritis maupun terminal yang di rawat di ruang intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam tentang pemenuhan kebutuhan spiritual oleh perawat di Ruang General Intensive Care Unit (GICU) RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2012. Sebanyak sepuluh partisipan dilibatkan dalam penelitian deskriptif kualitatif eksploratif ini. Partisipan tersebut adalahperawat pelaksana yang bekerja di Ruang GICU RSHS Bandung, rentang usia antara 28- 47 tahun, dan bekerja selama 7-17 tahun. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam, dan analisis yang digunakan adalah content analysis. Hasil penelitian mendapatkan 18 tema yang dikelompokkan menjadi 5 kategori yaitu: 1) Makna spiritual yaitu: agama, keyakinan terhadap Tuhan, hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama Manusia. 2) Persepsi Kebutuhan Spiritual yaitu: Kebutuhan ibadah, semangat,nyaman, kasih sayang. 3) Bentuk-bentuk pemenuhan kebutuhan spiritual yaitu: membantu kegiatan ibadah pasien, melibatkan keluarga dan tokoh agama, memberikan semangat. 4) Hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhan spiritual yaitu: anggapan kurang penting bukan prioritas, kesibukan, perbedaan agama, agama hal privasi, dan kurang paham konsep spiritual. 5) Langkah-langkah untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan spiritual yaitu: ada petugas khusus (ustadz, pendeta, warois), dibuat Protap/SOP, penambahan fasilitas, dan peningkatan kualitas perawat melalui pelatihan dan pendidikan. Dapat disimpulkan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual dalam penelitian ini berbentuk upaya-upaya dalam membantu kegiatan ibadah pasien, melibatkan keluarga dan tokoh agama, serta memberikan semangat. Dengan demikian penting bagi pihak rumah sakit mengadakan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman atau pun kemampuan perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual. Dan bagi pendidikan untuk menambahkan muatan aspek spiritual dalam materi-materi yang disampaikan dalam perkuliahan. Serta dapat dijadikan data dasar untuk penelitian selanjutnya terkait pemenuhan kebutuhan spiritual