cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
JURNAL P4I Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd Phone: 085239967417 Email: ardhysmart7@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ELEMENTARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
ISSN : 27748014     EISSN : 27747034     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dasar.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 339 Documents
INTERAKSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK SALAT MELALUI KOMBINASI METODE DEMONSTRASI DAN TUTOR SEBAYA DI KELAS II SD Intan Widi Kusuma
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11962

Abstract

ABSTRACT Developing practical prayer skills in elementary Islamic Religious Education (IRE) requires a learning environment that enables students to acquire competencies through direct interaction rather than relying solely on teacher explanations. Opportunities for students to engage in discussion, exchange feedback, and support their peers during learning activities, however, remain underutilized, limiting the development of meaningful learning experiences in worship practice. This study explores how student interactions emerge when the demonstration method is integrated with peer tutoring in Islamic Religious Education classes. A descriptive qualitative approach was employed, involving an Islamic Religious Education teacher and elementary school students as the research participants. Data were collected through classroom observations, interviews, and documentation, and were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing, while source and technique triangulation were applied to enhance the credibility of the findings. The learning process revealed more intensive communication, increased questioning, collaborative discussions, peer feedback, correction of prayer movements, and mutual assistance among students during practice sessions. The integration of demonstration and peer tutoring created opportunities for scaffolding and modeling among students, strengthening not only practical worship skills but also communication, collaboration, and active participation. These findings suggest that combining teacher demonstrations with peer support enriches students' learning experiences by fostering a more engaging, collaborative, and student-centered learning environment. ABSTRAK Pengalaman belajar pada materi praktik salat di sekolah dasar memerlukan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik membangun keterampilan melalui interaksi langsung, bukan hanya menerima penjelasan dari guru. Kesempatan untuk saling berdiskusi, memberikan umpan balik, dan membantu teman selama proses pembelajaran masih belum dimanfaatkan secara optimal sehingga dinamika belajar yang mendukung penguasaan keterampilan praktik ibadah belum berkembang secara maksimal. Kajian ini memusatkan perhatian pada bagaimana interaksi siswa terbentuk ketika metode demonstrasi dipadukan dengan tutor sebaya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif yang melibatkan guru PAI dan siswa sekolah dasar sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara berkelanjutan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan dukungan triangulasi sumber dan triangulasi teknik untuk menjaga kredibilitas temuan. Dinamika pembelajaran memperlihatkan berkembangnya komunikasi yang lebih intensif, aktivitas bertanya, diskusi antarsiswa, pemberian umpan balik, perbaikan gerakan salat, serta pendampingan terhadap teman yang mengalami kesulitan. Integrasi kedua metode tersebut menghadirkan proses scaffolding dan modeling antarsiswa yang memperkuat keterampilan praktik ibadah sekaligus menumbuhkan kolaborasi, partisipasi, dan kemampuan berkomunikasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran praktik salat memperoleh nilai tambah ketika demonstrasi guru dipadukan dengan dukungan teman sebaya sehingga tercipta pengalaman belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan berpusat pada siswa.
DAMPAK PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK SEKOLAH DASAR Rosya Salsabila Widianti; Yayan Alpian; Sinta Maria Dewi
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.12008

Abstract

ABSTRACT Gadget use among elementary school students is an important issue because it may influence the quality of children’s social interaction. This study aims to describe the impact of gadget use on the social development of sixth-grade students at Sekolah dasar. The study employed a qualitative approach with a phenomenological method. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation, then analyzed descriptively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that gadget use affects five aspects of social development, namely communication skills, cooperation, empathy, compliance with rules, and conflict-resolution ability. Students with high gadget-use intensity tended to be less active in face-to-face interaction, more passive in group activities, less confident in expressing opinions, and less sensitive to their peers’ conditions. Nevertheless, several students were still able to demonstrate positive social behavior when gadget use was supervised by parents and teachers. Gadgets may also support learning when used to search for information and access learning resources. Therefore, the impact of gadgets on children’s social development is dual in nature, depending on intensity, purpose of use, and the quality of guidance. This study recommends collaboration between schools and families to limit gadget-use duration and increase direct social activities in the learning environment. ABSTRAK Penggunaan gadget pada siswa sekolah dasar menjadi fenomena yang perlu dikaji karena dapat memengaruhi kualitas interaksi sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial siswa kelas VI Sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget berdampak pada lima aspek perkembangan sosial, yaitu keterampilan komunikasi, kerja sama, empati, kepatuhan terhadap aturan, dan kemampuan mengatasi konflik. Siswa dengan intensitas penggunaan gadget tinggi cenderung kurang aktif berinteraksi secara langsung, pasif dalam kegiatan kelompok, kurang percaya diri menyampaikan pendapat, serta kurang peka terhadap kondisi teman. Meskipun demikian, beberapa siswa tetap mampu menunjukkan perilaku sosial positif apabila penggunaan gadget berada dalam pengawasan orang tua dan guru. Gadget juga dapat mendukung pembelajaran ketika digunakan untuk mencari informasi dan mengakses sumber belajar. Dengan demikian, dampak gadget terhadap perkembangan sosial anak bersifat ganda, bergantung pada intensitas, tujuan penggunaan, dan kualitas pendampingan. Penelitian ini merekomendasikan kerja sama antara sekolah dan keluarga untuk membatasi durasi penggunaan gadget serta memperbanyak aktivitas sosial langsung di lingkungan belajar.
ANALISIS PROFESIONALISME CALON GURU MI DALAM MENGHADAPI KARAKTERISTIK SISWA GENERASI ALPHA Munawir Munawir; Dwi Maylany Permatasari; Dina Karunia Ramadani
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.10580

Abstract

In the digital era 5.0, changes in education have brought major shifts in the way Generation Alpha learns as digital natives. For prospective Madrasah Ibtidaiyah teachers, professionalism in utilizing technology while instilling character values is an important challenge, especially because students have short attention spans but are highly interested in visual media. This study aims to examine the professionalism of prospective MI teachers in dealing with the characteristics of Generation Alpha students, as well as to formulate appropriate strategies to improve their readiness in digital-era learning. This research uses a qualitative method with a literature review approach. The research data were obtained from 15 national journal articles published within the last five years. Data analysis was carried out using content analysis through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that Generation Alpha has a high ability to adapt to technology, but still faces challenges in maintaining focus and building social interaction. The professionalism of prospective MI teachers is influenced by four main competencies, namely pedagogical competence, professional competence, social competence, and personal competence, which support one another. The challenges found include a lack of digital literacy skills, technology-based classroom management, and the risk of declining character due to uncontrolled exposure to digital content. Teacher professionalism plays a very important role in the success of education in MI. Strategies that can be applied include the use of technology in learning, interactive visual media, strengthening character education based on Islamic values, and a student-centered learning approach. The development of teachers' competencies as a whole and on an ongoing basis is greatly needed so that learning can take place in an adaptive, innovative manner and remain grounded in human values.  ABSTRAK Di era digital 5.0 perubahan pendidikan membawa perubahan besar dalam cara belajar Generasi Alpha yang dikenal sebagai digital native. Sebagai calon guru Madrasah Ibtidaiyah, profesionalisme dalam memanfaatkan teknologi sekaligus menanamkan nilai karakter menjadi tantangan penting, terutama karena siswa memiliki rentang perhatian yang pendek tetapi sangat tertarik pada media visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji profesionalisme calon guru MI dalam menghadapi karakteristik siswa Generasi Alpha, sekaligus merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan kesiapan mereka dalam pembelajaran di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data penelitian diperoleh dari 15 artikel jurnal nasional yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Alpha memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap teknologi, namun masih menghadapi kendala dalam menjaga fokus serta membangun interaksi sosial. Profesionalisme calon guru MI dipengaruhi oleh empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian yang saling mendukung. Tantangan yang ditemukan meliputi kurangnya kemampuan literasi digital, pengelolaan kelas berbasis teknologi, serta risiko menurunnya karakter akibat paparan konten digital yang tidak terkontrol. Profesionalisme guru berperan sangat penting dalam keberhasilan pendidikan di MI. Strategi yang dapat diterapkan meliputi penggunaan teknologi dalam pembelajaran, media visual yang interaktif, penguatan pendidikan karakter berbasis nilai keislaman, serta pendekatan student centered learning. Pengembangan kompetensi guru secara menyeluruh dan berkelanjutan sangat diperlukan agar pembelajaran dapat berjalan secara adaptif, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.    
EFEKTIVITAS PENERAPAN PEMBELAJARAN INTERAKTIF BERBASIS MEDIA DONGENG DIGITAL TERHADAP LITERASI MEMBACA SISWA DI SD NEGERI 04 PALEMBANG sri Sarbini; Magdad Hatim; Ida Suryani
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.12990

Abstract

The low reading literacy of elementary school students requires engaging and innovative learning, one of which is interactive learning based on digital storytelling media, a story-based medium that combines text, images, audio, and animation. This study aims to analyze the effectiveness of implementing interactive learning based on digital storytelling media on the reading literacy of second-grade students at SD Negeri 04 Palembang. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental method and a Pretest-Posttest non-equivalent control group design. The sample was determined through purposive sampling, consisting of 58 second-grade students from classes II A (experimental group) and II B (control group), with 29 students each. The research instrument was a validated 10-item multiple-choice reading literacy test. Data were analyzed using normality tests, homogeneity tests, and an independent sample t-test with IBM SPSS Statistics 25. The results showed that the experimental group's Posttest mean was 88.62, higher than the control group's 73.10, with a calculated t value of 5.018 > t table 2.003 and a significance of 0.000 < 0.05. These findings demonstrate that interactive learning based on digital storytelling media is effective in improving students' reading literacy, particularly in understanding explicit information, identifying key information, comprehending cause-and-effect relationships, and interpreting textual messages, making it a viable innovative alternative for reading instruction in elementary schools. ABSTRAK Rendahnya literasi membaca siswa sekolah dasar menuntut pembelajaran yang menarik dan inovatif, salah satunya melalui pembelajaran interaktif berbasis media dongeng digital, yaitu media cerita yang memadukan teks, gambar, audio, dan animasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan pembelajaran interaktif berbasis media dongeng digital terhadap literasi membaca siswa kelas II SD Negeri 04 Palembang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain Pretest-Posttest non-equivalent control group design. Sampel penelitian ditentukan melalui purposive sampling, terdiri atas 58 siswa kelas II A (kelompok eksperimen) dan II B (kelompok kontrol), masing-masing 29 siswa. Instrumen penelitian berupa tes literasi membaca sebanyak 10 soal pilihan ganda yang telah divalidasi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan independent sample t-test dengan bantuan IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata Posttest kelompok eksperimen sebesar 88,62, lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol sebesar 73,10, dengan nilai t hitung 5,018 > t tabel 2,003 dan signifikansi 0,000 < 0,05. Temuan ini membuktikan bahwa pembelajaran interaktif berbasis media dongeng digital efektif meningkatkan literasi membaca siswa, khususnya dalam memahami informasi tersurat, menemukan informasi penting, memahami hubungan sebab-akibat, serta menafsirkan pesan bacaan, sehingga dapat menjadi alternatif inovatif pembelajaran membaca di sekolah dasar.
ANALISIS PENERAPAN, PENGARUH, FAKTOR PENGHAMBAT DAN PENDUKUNG MODEL PEMBELAJARAN PBL DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SD Kunti Ayu Irtania; Eka Rovin Putri Obita; Intan Nur Isnaeni; Yusuf Muhtarul Hakim; Taufik Muhtarom
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.13019

Abstract

Critical thinking skills are one of the key competencies of the 21st century that need to be developed starting in elementary school. However, teaching that remains teacher-centered often results in students being less engaged in the processes of analysis and problem-solving, so their critical thinking skills have not developed optimally. This study aims to analyze the implementation, impact, as well as the supporting and inhibiting factors of the Problem-Based Learning (PBL) model in thematic learning on elementary school students’ critical thinking skills. The study employs a Systematic Literature Review (SLR) method in accordance with the PRISMA 2020 guidelines. Data were obtained from scientific articles indexed in Google Scholar and Sinta 1–6 published between 2020 and 2026. The selection process was conducted based on inclusion and exclusion criteria, resulting in 26 relevant articles for analysis. The findings indicate that PBL implementation involves the following stages: problem orientation, student organization, investigation, presentation of results, evaluation, and reflection. PBL has proven effective in enhancing students’ critical thinking skills because it encourages active engagement in analyzing problems, discussing, expressing opinions, and making logical decisions. Factors supporting the success of PBL include the use of contextual problems, active student engagement, group collaboration, the utilization of learning media and technology, and the teacher’s competence as a facilitator. The obstacles include differences in student ability, passive learning habits, time constraints, the abstract nature of the material, and suboptimal instructional management. ABSTRAK Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting pada abad ke-21 yang perlu dikembangkan sejak sekolah dasar. Namun, pembelajaran yang masih berpusat pada guru sering menyebabkan siswa kurang terlibat dalam proses analisis dan pemecahan masalah sehingga kemampuan berpikir kritis belum berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan, pengaruh, serta faktor pendukung dan penghambat model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran tematik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Data diperoleh dari artikel ilmiah yang terindeks Google Scholar dan Sinta 1-6 diterbitkan pada periode 2020–2026. Proses seleksi dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi hingga diperoleh 26 artikel yang relevan untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan PBL dilaksanakan melalui tahapan orientasi masalah, pengorganisasian siswa, investigasi, presentasi hasil, evaluasi dan refleksi. PBL terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa karena mendorong keterlibatan aktif dalam menganalisis masalah, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan mengambil keputusan secara logis. Faktor pendukung keberhasilan PBL meliputi penggunaan masalah kontekstual, keterlibatan aktif siswa, kerja sama kelompok, pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran, dan kompetensi guru sebagai fasilitator. Adapun faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan siswa, kebiasaan belajar pasif, keterbatasan waktu, karakteristik materi yang abstrak, dan kurang optimalnya pengelolaan pembelajaran.
EKSPLORASI PEMAHAMAN MATERI IPAS PADA SISWA KELAS IV MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS OBJEK NYATA Ni Kadek Kayani; Marsono Marsono; I Kadek Widiantana
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.13247

Abstract

ABSTRACT Science and Social Studies (IPAS) learning in elementary schools still requires strategies that connect concepts with authentic experiences so that students can construct more meaningful understanding. The use of real objects as learning resources is one approach that enables learning activities to be closely related to students’ daily environment. This study aimed to describe the implementation of real object-based IPAS learning and explore the learning experiences of fourth-grade students at SD Negeri 6 Batur in understanding IPAS content. This study employed a qualitative descriptive approach. The participants consisted of the principal, the fourth-grade teacher, and fourth-grade students selected through purposive sampling. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed qualitatively using source and technique triangulation to ensure data trustworthiness. The findings revealed that real object-based IPAS learning was implemented through interconnected stages of planning, implementation, and evaluation. During the learning process, students actively observed, discussed, asked questions, and presented the results of their observations, enabling them to develop concrete learning experiences and construct conceptual understanding based on direct observation. A distinctive finding of this study is that direct interaction with real objects not only increased students’ learning engagement but also encouraged active inquiry, strengthened conceptual understanding, and improved their ability to relate IPAS concepts to real-life situations. These findings indicate that the use of real objects supports contextual learning and provides an effective instructional alternative that aligns with the characteristics and developmental needs of elementary school students. ABSTRAK Pembelajaran IPAS di sekolah dasar masih memerlukan strategi yang mampu menghubungkan konsep dengan pengalaman nyata agar siswa memperoleh pemahaman yang lebih bermakna. Pemanfaatan objek nyata sebagai sumber belajar menjadi salah satu pendekatan yang dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan lingkungan siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPAS berbasis objek nyata serta mengeksplorasi pengalaman belajar siswa kelas IV SD Negeri 6 Batur dalam memahami materi IPAS. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru kelas IV, dan siswa kelas IV yang dipilih secara purposive. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS berbasis objek nyata dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang saling berkaitan. Selama pembelajaran, siswa terlibat aktif dalam mengamati, berdiskusi, bertanya, dan mempresentasikan hasil pengamatan sehingga memperoleh pengalaman belajar yang konkret dan membantu membangun pemahaman materi berdasarkan pengamatan langsung. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan objek nyata tidak hanya meningkatkan partisipasi aktif siswa, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran berbasis inkuiri melalui kemampuan siswa mengidentifikasi konsep secara mandiri, mengaitkan materi dengan situasi kehidupan sehari-hari, serta mempertahankan pemahaman konsep secara lebih bermakna berdasarkan pengalaman autentik.
IMPLEMENTASI PROGRAM KEAGAMAAN UNTUK PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI SDN MRICAN 2 KOTA KEDIRI Rahmad Triyuda; Alfi Laila; Dini Nur Faticha Sari; Lutfia Wahyuningtyas
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i1.8263

Abstract

Religious character education at the elementary school level plays a strategic role in shaping students’ moral, spiritual, and prosocial attitudes. Social change and the development of digital technology often weaken the habituation of worship, discipline, and exemplary behavior. Therefore, schools need to implement structured and inclusive religious programs based on daily habituation. This study aims to examine how the religious programs are implemented, the impacts of these programs, and the challenges encountered in strengthening religious character at SDN Mrican 2. This research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews with the principal, Islamic education teachers, and students, as well as documentation of the programs. Data validity was strengthened through source and technique triangulation, while data analysis followed the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings show that religious programs are routinely carried out through Congregational Dhuha Prayer, istighosah–tahlil, Friday Worship, Friday Sharing, MTQ activities, and calligraphy for Muslim students. Christian students participate in morning prayer, worship, and thanksgiving services guided by religious teachers. These habituation activities have formed an inclusive religious culture. Positive impacts are evident in students’ increased discipline, responsibility, social awareness, cooperation skills, and tolerance for diversity. Challenges encountered include inconsistency in students’ discipline, differences in understanding worship activities, limited facilities, and suboptimal involvement of non–Islamic education teachers. Overall, the habituation-based religious programs are proven effective in shaping religious and social character. To optimize the outcomes, continuous evaluation, strengthened teacher involvement, and innovation in habituation strategies are needed. ABSTRAK Pendidikan karakter religius pada jenjang sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk moral, spiritual, dan sikap prososial peserta didik. Perubahan sosial serta perkembangan teknologi digital sering melemahkan pembiasaan ibadah, disiplin, dan keteladanan. Oleh karena itu, sekolah perlu menerapkan program keagamaan berbasis pembiasaan yang terstruktur dan inklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pelaksanaan program keagamaan, dampak pelaksanaan program keagamaan, serta tantangan yang dihadapi dalam melaksanakan program keagamaan untuk penguatan karakter religius di SDN Mrican 2. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara terhadap kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, serta peserta didik, dan dokumentasi program. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program keagamaan dilaksanakan secara rutin melalui Salat Dhuha Berjamaah, istighosah–tahlil, Jumat Ibadah, Jumat Berbagi, MTQ, dan kaligrafi untuk siswa Muslim. Siswa Nasrani mengikuti doa pagi, ibadah, dan layanan syukur yang dipandu guru agama. Pembiasaan ini membentuk budaya religius yang inklusif. Dampak positif terlihat pada meningkatnya kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, dan toleransi keberagaman. Kendala yang dihadapi meliputi ketidakkonsistenan disiplin siswa, perbedaan pemahaman terhadap kegiatan ibadah, keterbatasan fasilitas, serta keterlibatan guru non-PAI yang belum optimal. Secara keseluruhan, program keagamaan berbasis pembiasaan terbukti efektif membentuk karakter religius dan sosial. Agar lebih optimal, diperlukan evaluasi berkelanjutan, penguatan peran seluruh guru, dan inovasi strategi pembiasaan.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ICARE BERBANTUAN MEDIA KARTU PASANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPAS KELAS 4 SD Refina Damayanti; Triwahyudianto Triwahyudianto; Siti Halimatus Sakdiyah
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i1.8513

Abstract

The low learning outcomes of fourth-grade students at SDN 3 Karangsari in Natural and Social Sciences (IPAS) subjects were the background for conducting this study. To overcome this problem, a combination of matching cards and the ICARE (Introduction, Connection, Application, Reflection, Extension) learning model was used to increase student engagement in the learning process. This study applied the Classroom Action Research (PTK) method, following the Kemmis and McTaggart model, conducted over two cycles, each consisting of two sessions. The research findings indicated a significant improvement in students' learning outcomes, from 40% in the pre-cycle phase to 60% in Cycle I, and further increasing to 80% in Cycle II. Additionally, students appeared more active, enthusiastic, and confident in expressing their opinions during learning activities. These findings demonstrate that the implementation of the ICARE model supported by matching card media can enhance learning outcomes and promote the development of critical thinking and collaboration skills among students. ABSTRAK Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV di salah satu SD Negeri Kabupaten Malang dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) menjadi latar belakang dilaksanakannya penelitian ini. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, digunakan perpaduan antara media kartu pasang dan model pembelajaran ICARE (Introduction, Connection, Application, Reflection, Extension) guna meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Studi ini menerapkan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merujuk pada model Kemmis dan McTaggart, dengan pelaksanaan selama dua siklus masing-masing terdiri atas dua pertemuan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui instrument observasi guru dan siswa , tes, serta dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini menggnakan analisis deskripsi kualitatif dan deskripsi kuantitatif melalui tekik triangulasi. Hasil penelitian mengindikasikan peningkatan yang signifikan dalam capaian belajar siswa, dari persentase 40% pada tahap pra-siklus, menjadi 60% pada siklus I, dan meningkat lagi hingga 80% pada siklus II. Selain itu, siswa terlihat lebih aktif, antusias, serta percaya diri dalam menyampaikan pendapat selama kegiatan pembelajaran. Temuan ini membuktikan bahwa penerapan model ICARE yang didukung media kartu pasang mampu meningkatkan hasil belajar, serta mendorong penguatan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa.  
PENERAPAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI WAKTU PADA SISWA SEKOLAH DASAR Rusnai Rahayu; Satwika Hartanti Harahap; Mazdalifah Harahap; Rayhan Nawawi
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i1.8685

Abstract

This study aims to improve elementary school students’ learning outcomes in mathematics on the topic of time through the implementation of learning video media. The research problem is motivated by low student learning outcomes caused by conventional teaching methods and the lack of engaging instructional media. This study employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, conducted in two cycles. The research subjects were 25 fourth-grade elementary school students. Data collection techniques included observation of learning activities, learning achievement tests, interviews, and documentation. The results of the study indicated an improvement in students’ learning outcomes, as shown by an increase in the average score from 64 in Cycle I to 85 in Cycle II, as well as an increase in learning mastery from 60% to 92%. This improvement was influenced by the use of learning video media, which was able to visualize the concept of time in a concrete, engaging, and easily understandable manner. Therefore, the implementation of learning video media proved to be highly effective in improving elementary school students’ mathematics learning outcomes on the topic of time. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi waktu pada siswa sekolah dasar melalui penerapan media video pembelajaran. Permasalahan penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa akibat pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan kurangnya penggunaan media yang menarik. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 25 siswa kelas IV sekolah dasar. Teknik pengumpulan data meliputi observasi aktivitas belajar, tes hasil belajar, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 64 pada siklus I menjadi 85 pada siklus II, serta peningkatan ketuntasan belajar dari 60% menjadi 92%. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penggunaan media video pembelajaran yang mampu memvisualisasikan konsep waktu secara konkret, menarik, dan mudah dipahami. Dengan demikian, penerapan media video pembelajaran terbukti sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar pada materi waktu.
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN GAME EDUKATIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA PEMBELAJARAN IPAS SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR Siti Maulida Zulaihah; Septina Rahmawati; Yoga Awalludin Nugraha; Dhina Cahya Rohim; Devy Aufia Abshor
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i1.8712

Abstract

The low level of active involvement and the suboptimal use of interactive media in science learning in elementary schools have triggered the need for media innovations that can stimulate students' critical thinking skills, especially in energy material. This study aims to test the effectiveness of using Canva-based educational games as an alternative visual and interactive learning media. Using a quantitative approach with a quasi-experimental design of the Nonequivalent Control Group Design type, this study involved 59 third-grade students divided into experimental and control classes. Data analysis was carried out through prerequisite tests and hypothesis testing using the Independent Sample t-test, which produced a significance value (2-tailed) of 0.000 (<0.05), indicating a significant difference between the two groups. Furthermore, the calculation of the N-Gain test in the experimental class recorded an average increase of 0.79, which is included in the high category. The conclusion of this study proves that the implementation of Canva-based educational games is very effective in improving students' critical thinking skills in science subjects, so it is recommended as an innovative learning medium that can create a more interesting and meaningful learning atmosphere. ABSTRAK Rendahnya keterlibatan aktif dan kurang optimalnya penggunaan media interaktif dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar menjadi pemicu perlunya inovasi media yang mampu menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa, khususnya pada materi energi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan game edukatif berbasis Canva sebagai alternatif media pembelajaran yang visual dan interaktif. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental tipe Nonequivalent Control Group Design, penelitian ini melibatkan 59 siswa kelas III yang terbagi menjadi kelas eksperimen dan kontrol. Analisis data dilakukan melalui uji prasyarat serta uji hipotesis menggunakan Independent Sample t-test, yang menghasilkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000 (< 0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Selanjutnya, perhitungan uji N-Gain pada kelas eksperimen mencatat rata-rata peningkatan sebesar 0,79, yang termasuk dalam kategori tinggi. Simpulan penelitian ini membuktikan bahwa implementasi game edukatif berbasis Canva sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPAS, sehingga direkomendasikan sebagai media pembelajaran inovatif yang dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan bermakna.