cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
JURNAL P4I Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd Phone: 085239967417 Email: ardhysmart7@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ELEMENTARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
ISSN : 27748014     EISSN : 27747034     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dasar.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 339 Documents
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DAN MUTU SD DI ERA KURIKULUM MERDEKA Zaiyani Zaiyani; Zarkasyi Zarkasyi; Jamaluddin Jamaluddin
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.10619

Abstract

ABSTRACT School-Based Management (SBM) is a decentralized educational approach that plays an important role in improving educational quality by providing schools with greater autonomy in managing learning processes and educational resources. In the era of the Merdeka Curriculum, the implementation of SBM has become increasingly relevant because the success of the curriculum depends on schools' ability to develop flexible, contextual, and student-centered learning. This study aims to analyze the implementation of SBM and the factors influencing the improvement of elementary school quality in the era of the Merdeka Curriculum. This study employed a Systematic Literature Review (SLR) method following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines on 12 scientific articles published between 2020 and 2026 and retrieved from Google Scholar. The data were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that the implementation of SBM contributes to improving educational quality through strengthening principal leadership, academic supervision, stakeholder participation, and more flexible and contextual learning management. In addition, the implementation of the Merdeka Curriculum through the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) supports character development and enhances the quality of student learning. However, the implementation of SBM and the Merdeka Curriculum still faces several challenges, including limited infrastructure, variations in teacher competence, and suboptimal community involvement. This study contributes to the literature by highlighting the importance of strengthening school managerial capacity and sustainable teacher professional development as key strategies for improving the quality of elementary education in the era of the Merdeka Curriculum. ABSTRAK Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan pendekatan desentralisasi pendidikan yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pemberian otonomi kepada sekolah dalam mengelola pembelajaran dan sumber daya pendidikan. Di era Kurikulum Merdeka, implementasi MBS menjadi semakin relevan karena keberhasilan kurikulum bergantung pada kemampuan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi MBS serta faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan mutu Sekolah Dasar (SD) di era Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti tahapan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) terhadap 12 artikel ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2020–2026 dan diperoleh melalui Google Scholar. Data dianalisis menggunakan teknik thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi MBS berkontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan melalui penguatan kepemimpinan kepala sekolah, supervisi akademik, partisipasi stakeholder, serta pengelolaan pembelajaran yang lebih fleksibel dan kontekstual. Selain itu, implementasi Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mendukung peningkatan karakter dan kualitas pembelajaran siswa. Namun, implementasi MBS dan Kurikulum Merdeka masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan sarana prasarana, variasi kompetensi guru, dan belum optimalnya keterlibatan masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa sintesis literatur yang menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas manajerial sekolah dan pengembangan profesional guru secara berkelanjutan sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan dasar di era Kurikulum Merdeka.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PENDIDIKAN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN BIREUEN Fatimah Zohra; Fithriani Fithriani; Jamaluddin Jamaluddin
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.10620

Abstract

ABSTRACT Teacher performance is one of the key factors in determining the quality of basic education. Although the implementation of Total Quality Management (TQM) has been widely studied, research specifically examining its implementation in elementary schools in Bireuen Regency through the aspects of planning, implementation, and evaluation remains limited. Therefore, this study is important to provide empirical insights into the implementation of Total Quality Management in improving teacher performance. This study aims to analyze the implementation of Total Quality Management in improving teacher performance in elementary schools in Bireuen Regency. This research employed a qualitative descriptive approach, with data collected through interviews, observations, and documentation, while data were analyzed using the Miles and Huberman model. The findings revealed that the implementation of Total Quality Management has been carried out through planning, implementation, and evaluation processes; however, it has not yet optimally supported the improvement of teacher performance. Quality programs tend to be administrative in nature and are not fully based on teachers’ needs, while supervision and training activities are constrained by limited resources and a weak culture of collaboration. In addition, follow-up actions based on evaluation results have not been implemented consistently, resulting in unsustainable teacher competency development. The findings indicate that the effectiveness of Total Quality Management implementation requires strengthening needs-based planning, adequate resource support, and sustainable evaluation and follow-up mechanisms. ABSTRAK Kinerja guru merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan mutu pendidikan dasar. Meskipun penerapan manajemen mutu terpadu telah banyak dikaji, penelitian yang secara khusus menganalisis implementasinya pada sekolah dasar di Kabupaten Bireuen melalui aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi masih terbatas. Kondisi tersebut menjadikan penelitian ini penting dilakukan untuk memperoleh gambaran empiris mengenai implementasi manajemen mutu terpadu dalam meningkatkan kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen pendidikan mutu terpadu dalam meningkatkan kinerja guru di sekolah dasar Kabupaten Bireuen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi manajemen mutu terpadu telah dilaksanakan melalui aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, namun belum sepenuhnya mendukung peningkatan kinerja guru secara optimal. Perencanaan program mutu masih cenderung bersifat administratif dan belum sepenuhnya berbasis kebutuhan guru, sedangkan pelaksanaan supervisi dan pelatihan masih terkendala keterbatasan sumber daya serta rendahnya budaya kolaborasi. Selain itu, tindak lanjut hasil evaluasi belum dilakukan secara konsisten sehingga pengembangan kompetensi guru belum berlangsung secara berkelanjutan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa efektivitas implementasi manajemen mutu terpadu memerlukan penguatan pada perencanaan berbasis kebutuhan, dukungan sumber daya, serta mekanisme evaluasi dan tindak lanjut yang berkesinambungan.
IMPLEMENTASI HABITUASI SHALAT DHUHA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN PADA SISWA SD Anezka Nadhifa Thahar
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11457

Abstract

ABSTRACT Discipline is one of the fundamental pillars of primary education; however, its development requires an approach that extends beyond rule enforcement and emphasizes the cultivation of habits and the internalization of values in students’ daily lives. This concern has prompted an exploration of the role of Dhuha prayer habituation as part of the school culture in fostering students’ disciplinary character. The study focuses on understanding how this habituation practice is implemented and interpreted within the process of character education in elementary schools. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing observation, interviews, and documentation as the primary sources of data. The collected data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing to reveal the relationship between religious activities and the development of students’ disciplinary behavior. The findings indicate that the routine practice of Dhuha prayer contributes to the development of orderly behavior, punctuality, adherence to school regulations, and students’ sense of responsibility in carrying out various school activities. Furthermore, the growth of disciplinary character is influenced not only by the consistency of religious habituation but also by teachers’ role modeling, parental support, and a religious school environment. These findings suggest that Dhuha prayer habituation functions as an integrative medium that connects behavioral habituation, the internalization of religious values, and educational environmental support, thereby fostering students’ disciplinary character in a more sustainable manner. ABSTRAK Karakter disiplin menjadi salah satu fondasi penting dalam pendidikan dasar, namun pengembangannya memerlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada aturan, melainkan juga pada pembentukan kebiasaan dan penghayatan nilai dalam kehidupan sehari-hari siswa. Fenomena tersebut mendorong kajian mengenai peran habituasi shalat dhuha sebagai bagian dari budaya sekolah dalam membentuk karakter disiplin. Fokus penelitian diarahkan pada pemahaman mengenai bagaimana praktik pembiasaan tersebut dijalankan dan dimaknai dalam proses pendidikan karakter di sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai sumber data utama. Data yang diperoleh dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan untuk mengungkap keterkaitan antara pelaksanaan kegiatan keagamaan dan perkembangan perilaku disiplin siswa. Dinamika yang ditemukan menunjukkan bahwa rutinitas shalat dhuha berkontribusi terhadap terbentuknya keteraturan perilaku, ketepatan waktu, kepatuhan terhadap tata tertib, serta tanggung jawab siswa dalam menjalankan berbagai aktivitas sekolah. Selain itu, berkembangnya karakter disiplin tidak hanya berkaitan dengan intensitas pembiasaan ibadah, tetapi juga dipengaruhi oleh keteladanan guru, dukungan orang tua, dan budaya sekolah yang religius. Temuan ini menegaskan bahwa habituasi shalat dhuha berfungsi sebagai sarana integratif yang menghubungkan pembiasaan perilaku, internalisasi nilai religius, dan dukungan lingkungan pendidikan sehingga membentuk karakter disiplin secara lebih berkelanjutan.
GAME BASED LEARNING MELALUI MEDIA PUZZLE PADA PEMBELAJARAN HADIST KELAS VI SD Nur Hairun Nisa
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11544

Abstract

ABSTRACT Memorization activities remain a dominant feature of Hadith learning in elementary schools; however, such an approach often fails to foster optimal student engagement. At the same time, studies exploring the use of non-digital game-based media in Hadith instruction, particularly those examining students’ learning experiences in depth, are still limited. This situation prompted an exploration of the implementation of Game-Based Learning through puzzle media as an alternative approach to creating a more participatory learning experience. The study was conducted at SDIT Utsman bin Affan, Bekasi City, involving 14 sixth-grade students. Employing a phenomenological approach, data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation throughout the learning process. The analysis was carried out through a series of stages, including data organization, thematic categorization of participants’ experiences, and interpretation of the meanings emerging from their perspectives. The learning process revealed that puzzle-based activities not only helped students recall the sequence of Hadith texts but also fostered motivation, engagement, and self-confidence during learning. Although differences in memorization ability remained a challenge, a more active and enjoyable learning environment was successfully established. The findings suggest that the effectiveness of Game-Based Learning is more closely associated with the design of learning activities that provide meaningful challenges and experiences of achievement than with the use of digital technology itself. This study contributes to the expansion of Game-Based Learning research in Islamic Education by demonstrating the potential of non-digital puzzle media as a contextual, practical, and accessible instructional tool for Hadith learning in elementary schools. ABSTRAK Aktivitas menghafal masih menjadi ciri dominan dalam pembelajaran Hadis di sekolah dasar, tetapi pendekatan tersebut sering belum mampu menghadirkan keterlibatan belajar yang optimal bagi peserta didik. Di sisi lain, kajian mengenai penggunaan media permainan non-digital dalam pembelajaran Hadis, khususnya yang menelaah pengalaman belajar peserta didik secara mendalam, masih relatif terbatas. Situasi tersebut mendorong eksplorasi terhadap penerapan Game Based Learning melalui media puzzle sebagai alternatif untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih partisipatif. Penelitian ini dilaksanakan di SDIT Utsman bin Affan, Kota Bekasi, dengan melibatkan 14 peserta didik kelas VI. Melalui pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan menggunakan observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi selama proses pembelajaran berlangsung. Analisis dilakukan secara bertahap melalui pengorganisasian data, pengelompokan tema pengalaman, serta penafsiran makna yang muncul dari perspektif partisipan. Dinamika pembelajaran memperlihatkan bahwa penyusunan puzzle tidak hanya membantu peserta didik mengingat urutan lafaz hadis, tetapi juga membangun motivasi, keterlibatan, dan rasa percaya diri selama belajar. Meskipun perbedaan kemampuan hafalan masih menjadi tantangan, suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan tetap dapat terbentuk. Temuan ini memperlihatkan bahwa efektivitas Game Based Learning lebih berkaitan dengan kemampuan desain aktivitas belajar dalam menghadirkan tantangan dan pengalaman keberhasilan daripada dengan penggunaan teknologi digital. Kontribusi penelitian terletak pada perluasan kajian Game Based Learning dalam Pendidikan Agama Islam melalui pemanfaatan media puzzle non-digital yang kontekstual, sederhana, dan mudah diterapkan pada pembelajaran Hadis di sekolah dasar.
PERSEPSI GURU TERHADAP PEMBIASAAN AKHLAK OLEH ORANG TUA DALAM MENDUKUNG IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DISALAH SATU MI DI SUMSEL Nur Azizah; Danang Dwi Basuki
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11546

Abstract

ABSTRACT The effectiveness of Aqidah Akhlak instruction in Madrasah Ibtidaiyah is shaped not only by classroom learning experiences but also by the continuity of moral habituation within the family environment. Although parental involvement has frequently been associated with character education, limited attention has been given to how teachers perceive the contribution of such habituation to the implementation of Aqidah Akhlak learning. This study explores teachers' perceptions of the relationship between parents' moral habituation practices and the implementation of Aqidah Akhlak instruction among Madrasah Ibtidaiyah students. A descriptive qualitative approach was employed, involving four homeroom teachers and six parents as participants. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis model. The findings indicate that moral habituation through parental role modeling, religious practices, the cultivation of proper manners, and continuous guidance in daily life is perceived by teachers as strengthening students' readiness to understand and practice Aqidah Akhlak values at school. Conversely, inconsistent parental guidance, peer influence, and exposure to digital media were considered factors contributing to variations in students' behavior. These findings suggest that the internalization of moral values is fostered through the continuity of learning experiences across family and school settings, while also offering teachers' perspectives as a conceptual contribution to the development of Aqidah Akhlak instruction in Madrasah Ibtidaiyah. ABSTRAK Keberhasilan pembelajaran Akidah Akhlak pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah tidak hanya ditentukan oleh pengalaman belajar yang berlangsung di kelas, tetapi juga oleh keberlanjutan pembiasaan akhlak dalam kehidupan keluarga. Meskipun keterlibatan orang tua sering dikaitkan dengan pendidikan karakter, cara guru memaknai kontribusi pembiasaan tersebut terhadap implementasi pembelajaran Akidah Akhlak masih belum banyak dikaji. Kajian ini mengeksplorasi persepsi guru mengenai hubungan antara pembiasaan akhlak yang dilakukan orang tua dan pelaksanaan pembelajaran Akidah Akhlak pada siswa Madrasah Ibtidaiyah. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan dengan melibatkan empat guru wali kelas dan enam orang tua sebagai informan. Data diperoleh melalui wawancara semi-structured, observasi, dan dokumentasi, kemudian diinterpretasikan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Temuan memperlihatkan bahwa pembiasaan yang diwujudkan melalui keteladanan, pembiasaan ibadah, penanaman adab, serta pendampingan dalam kehidupan sehari-hari dipersepsikan guru sebagai faktor yang memperkuat kesiapan siswa dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Akidah Akhlak di sekolah. Sebaliknya, inkonsistensi pendampingan keluarga, pengaruh teman sebaya, dan paparan media digital dipandang memengaruhi variasi perilaku peserta didik. Kajian ini menegaskan bahwa internalisasi akhlak berlangsung melalui kesinambungan pengalaman antara keluarga dan sekolah, sekaligus menghadirkan perspektif guru sebagai kontribusi konseptual dalam pengembangan pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN COOPERATIFE LEARNING DALAM MENINGKATKAN MOTIFASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD Yayuk Hidayati; Umi Karimatul Azizah
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11700

Abstract

ABSTRACT slamic Religious Education at the elementary school level is expected not only to deliver religious knowledge but also to foster students’ active engagement in the learning process. Preliminary observations at SDN Kaliboto Kidul 02 revealed that some students demonstrated limited participation during classroom activities, particularly in discussions, expressing opinions, and involvement in learning tasks. This condition prompted an examination of the implementation of Cooperative Learning to better understand how learning motivation develops within Islamic Religious Education. The study employed a descriptive qualitative approach using observations, interviews, and documentation involving the principal, the Islamic Religious Education teacher, and students as research participants. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, supported by source and technique triangulation to ensure the credibility of the findings. The findings indicate that the implementation of Cooperative Learning goes beyond merely organizing students into groups; it creates an interactive learning environment that encourages the exchange of ideas, collaboration, and active participation. Such learning dynamics contribute to the development of students’ learning motivation, as reflected in increased participation, confidence in expressing opinions, responsibility in completing tasks, and enthusiasm for learning activities. Therefore, the primary contribution of Cooperative Learning lies in its ability to create a participatory learning experience that positions students as active learners while simultaneously supporting the development of their social skills in Islamic Religious Education. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga membangun keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Kondisi awal di SDN Kaliboto Kidul 02 memperlihatkan bahwa sebagian siswa masih menunjukkan partisipasi yang terbatas selama pembelajaran, terutama dalam diskusi, penyampaian pendapat, dan keterlibatan pada aktivitas kelas. Situasi tersebut mendorong kajian mengenai implementasi Cooperative Learning sebagai upaya memahami bagaimana motivasi belajar berkembang dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, serta siswa. Data dianalisis melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan makna dengan dukungan triangulasi sumber dan teknik untuk menjaga kredibilitas temuan. Kajian ini memperlihatkan bahwa penerapan Cooperative Learning tidak hanya menghadirkan aktivitas belajar kelompok, tetapi juga membentuk ruang interaksi yang memungkinkan siswa saling bertukar gagasan, bekerja sama, dan terlibat secara lebih aktif dalam pembelajaran. Dinamika tersebut berkontribusi pada tumbuhnya motivasi belajar yang tercermin melalui meningkatnya partisipasi, keberanian menyampaikan pendapat, tanggung jawab terhadap tugas, dan antusiasme mengikuti pembelajaran. Dengan demikian, kontribusi utama Cooperative Learning terletak pada kemampuannya menciptakan pengalaman belajar yang partisipatif sehingga siswa menjadi lebih aktif sekaligus memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan sosial dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI TAHFIDZ AL QUR’AN PADA SISWA SEKOLAH DASAR Aulia Siti Afiyah; Sarah Saliha; Ikmala Dina Syarifa; Intan Widi Kusuma
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11826

Abstract

ABSTRACT Qur’anic memorization activities among elementary school students often take place in learning situations that position learners primarily as recipients of instruction, while opportunities to develop shared learning experiences remain limited. This condition is reflected in students’ hesitation when reciting their memorization, uneven participation during learning activities, and fluctuating levels of enthusiasm throughout the learning process. Within this context, Qur’anic memorization learning in a second-grade elementary classroom was examined through the implementation of the Student Teams Achievement Division (STAD) model to explore how learning motivation develops during the memorization process. This study employed a descriptive qualitative approach involving a Qur’anic memorization teacher and second-grade students as research participants. Understanding of the phenomenon was developed through direct classroom observations and the examination of documents related to memorization activities. Interactions established through talqin, group murojaah, peer listening sessions, and memorization recitations created a more participatory learning pattern compared to teacher-centered practices. Student engagement was reflected in their willingness to recite memorized verses, persistence in repeating memorization, readiness to assist peers, and active participation in group activities. The collaborative learning experiences that emerged suggest that motivation develops not merely from achieving memorization targets, but also through social support, self-confidence, and opportunities to take an active role in the learning process. Qur’anic memorization learning, therefore, can be understood not only as a means of strengthening memorization skills but also as a social learning experience that sustains student engagement over time. ABSTRAK Kegiatan menghafal Al-Qur’an pada siswa sekolah dasar sering kali berlangsung dalam situasi yang menempatkan siswa sebagai penerima arahan, sementara kesempatan untuk membangun pengalaman belajar bersama masih relatif terbatas. Kondisi tersebut tampak pada munculnya keraguan ketika menyetorkan hafalan, keterlibatan yang belum merata selama pembelajaran, serta antusiasme yang cenderung berfluktuasi. Dalam konteks tersebut, pembelajaran tahfidz Al-Qur’an di kelas II sekolah dasar diamati melalui penerapan model Student Teams Achievement Division (STAD) untuk memahami bagaimana motivasi berkembang selama proses belajar berlangsung. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru tahfidz dan siswa sebagai informan. Pemaknaan terhadap fenomena dilakukan melalui pengamatan langsung selama pembelajaran dan telaah dokumentasi yang berkaitan dengan aktivitas tahfidz. Interaksi yang terbentuk melalui talqin, murojaah kelompok, penyimakan hafalan, dan setoran hafalan menghadirkan pola belajar yang lebih partisipatif dibandingkan praktik yang berpusat pada guru. Keterlibatan siswa terlihat melalui keberanian menyetorkan hafalan, ketekunan melakukan pengulangan bacaan, kesediaan membantu teman, serta partisipasi aktif dalam aktivitas kelompok. Pengalaman belajar yang dibangun melalui kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa motivasi tidak berkembang semata-mata karena target hafalan, melainkan melalui dukungan sosial, rasa percaya diri, dan kesempatan untuk mengambil peran dalam proses belajar. Pembelajaran tahfidz pada akhirnya tampak sebagai ruang yang tidak hanya menguatkan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga membentuk pengalaman belajar sosial yang mendukung keterlibatan siswa secara berkelanjutan.
PENDAMPINGAN GURU DALAM MEMBANTU KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA SISWA KELAS 1 SEKOLAH DASAR Putri Ayuningsih
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11830

Abstract

  ABSTRACT Early reading skills develop through learning experiences that are strongly shaped by the quality of interaction between teachers and students, particularly when children experience difficulties reading independently. This study aimed to describe how teacher assistance supports the development of early reading skills among a first-grade student at SD Islam Al-Ukhuwah Cikarang. A qualitative descriptive approach was employed, involving one classroom teacher and one student selected through purposive sampling. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation, and were analyzed using an interactive analysis model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the student tended to avoid reading activities when direct assistance was unavailable. In contrast, the integration of guided reading, purposeful verbal communication, and gradual support based on scaffolding principles encouraged the student to engage with the text, maintain attention, and demonstrate increasing confidence while reading. These findings suggest that the effectiveness of teacher assistance depends more on the teacher's ability to adapt instructional support to students' learning responses than on the implementation of a single instructional strategy. This study contributes to the understanding of verbal communication as a pedagogical mechanism that integrates guided reading, scaffolding, and individualized instruction to facilitate the development of early reading skills among elementary school students experiencing reading difficulties. ABSTRAK Kemampuan membaca permulaan berkembang melalui proses belajar yang dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara guru dan siswa, terutama ketika peserta didik masih mengalami hambatan membaca secara mandiri. Fenomena tersebut mendorong penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk pendampingan guru dalam membantu kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas I SD Islam Al-Ukhuwah Cikarang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif yang melibatkan satu guru kelas dan satu siswa sebagai informan yang dipilih secara purposive. Data dihimpun melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa siswa cenderung menghindari aktivitas membaca ketika tidak memperoleh pendampingan secara langsung, sedangkan penerapan guided reading, komunikasi verbal yang terarah, serta pemberian bantuan bertahap berdasarkan prinsip scaffolding mendorong siswa mulai mengikuti bacaan, mempertahankan perhatian, dan menunjukkan keberanian membaca secara bertahap. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas pendampingan lebih ditentukan oleh kemampuan guru menyesuaikan bentuk bantuan sesuai respons belajar siswa daripada oleh penggunaan satu strategi pembelajaran tertentu. Kontribusi penelitian terletak pada penjelasan bahwa komunikasi verbal menjadi mekanisme pedagogis yang mengintegrasikan guided reading, scaffolding, dan pembelajaran individual dalam mendukung perkembangan kemampuan membaca permulaan pada siswa sekolah dasar yang mengalami hambatan membaca.
PENERAPAN MEDIA KONKRET BERUPA CAT WARNA MELALUI AKTIVITAS KREATIF DALAM PEMBELAJARAN KOSAKATA WARNA BAHASA ARAB PADA SISWA KELAS III SD Mega Safitri; Danang Dwi Basuki
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11852

Abstract

ABSTRACT Mastery of Arabic mufradat at the elementary school level is strongly influenced by the teacher’s ability to provide learning experiences that align with students’ cognitive development. When vocabulary is introduced solely through verbal explanation, learners often encounter difficulties in connecting linguistic concepts with the real objects they experience in everyday life. This study explores the implementation of concrete media in the form of colored paint as a learning resource for teaching Arabic color vocabulary to third-grade elementary school students, with the aim of understanding how such media shape students’ learning experiences. A descriptive qualitative approach was employed, involving one Arabic language teacher and all third-grade students as participants. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis model. Data trustworthiness was ensured through source triangulation and technique triangulation. The findings reveal that creative learning activities utilizing colored paint increased students’ engagement and enthusiasm while facilitating the association between real objects and the Arabic mufradat being learned. Furthermore, students’ artwork displayed in the classroom functioned as a continuous reinforcement medium that supported long-term vocabulary retention. These findings suggest that the use of concrete media not only fosters contextual and learner-centered instruction but also provides a practical and innovative alternative for Arabic language teaching that can be implemented without reliance on digital technology. ABSTRAK Penguasaan mufradat pada pembelajaran bahasa Arab di sekolah dasar dipengaruhi oleh kemampuan guru menghadirkan pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik. Ketika kosakata diperkenalkan hanya melalui penjelasan verbal, siswa cenderung mengalami kesulitan menghubungkan konsep bahasa dengan objek yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini mengeksplorasi penerapan media konkret berupa cat warna sebagai sarana pembelajaran kosakata warna bahasa Arab pada siswa kelas III sekolah dasar untuk memahami bagaimana media tersebut membentuk pengalaman belajar siswa. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan seorang guru bahasa Arab dan seluruh siswa kelas III sebagai partisipan. Informasi diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan penguatan validitas melalui triangulasi sumber serta triangulasi teknik. Analisis memperlihatkan bahwa aktivitas kreatif yang memanfaatkan cat warna mampu meningkatkan keterlibatan siswa, membangun antusiasme selama pembelajaran, serta mempermudah proses menghubungkan objek nyata dengan mufradat yang dipelajari. Hasil karya yang dipajang di ruang kelas juga berfungsi sebagai media penguatan yang mendukung retensi kosakata secara berkelanjutan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan media konkret tidak hanya menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berpusat pada pengalaman belajar siswa, tetapi juga menawarkan alternatif inovasi pembelajaran bahasa Arab yang mudah diterapkan tanpa ketergantungan pada teknologi digital.
PEMANFAATAN MEDIA FLASHCARD PADA PEMBELAJARAN KOSA KATA BAHASA ARAB SISWA KELAS 2 SDI MUTIARA SUNNAH Ikmala Dina Syarifa
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v6i3.11866

Abstract

ABSTRACT Vocabulary (mufradat) mastery constitutes a fundamental component of Arabic language learning at the elementary school level. Nevertheless, students frequently encounter difficulties in retaining vocabulary and sustaining active engagement throughout the learning process. Existing studies have predominantly focused on the development of flashcard media or on measuring its effectiveness, while limited attention has been devoted to examining how the media is implemented within authentic classroom settings. This study aimed to describe the utilization of flashcard media in Arabic vocabulary instruction for second-grade students at SDI Mutiara Sunnah. A descriptive qualitative approach was employed, involving one Arabic language teacher and second-grade students as the research participants. Data were collected through classroom observations and documentation, then analyzed using an interactive process consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. The credibility of the findings was ensured through technique triangulation. The findings reveal that flashcard media were systematically integrated into the opening, core, and closing stages of instruction, creating a continuous learning process through vocabulary introduction, repetition, and reinforcement. Visual representations enabled students to associate lexical forms with their meanings more effectively, enhanced their attention, participation, and learning enthusiasm, and assisted teachers in presenting learning materials in a more concrete manner that corresponded to the developmental characteristics of elementary school learners. These findings suggest that flashcard media function not merely as visual aids but as an instructional strategy that strengthens classroom interaction and promotes more meaningful learning experiences. The novelty of this study lies in its comprehensive qualitative description of the implementation process of flashcard media, students' responses, and the supporting as well as inhibiting factors influencing its use in Arabic language learning. ABSTRAK Penguasaan kosakata (mufradat) menjadi fondasi dalam pembelajaran bahasa Arab di sekolah dasar, namun proses pembelajarannya masih menghadapi tantangan karena siswa sering mengalami kesulitan mengingat kosakata dan belum terlibat secara optimal selama kegiatan belajar. Di sisi lain, kajian mengenai media flashcard lebih banyak diarahkan pada pengembangan produk maupun pengukuran efektivitasnya, sehingga dinamika penerapannya dalam pembelajaran yang berlangsung secara alami masih jarang dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan media flashcard dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab pada siswa kelas II SDI Mutiara Sunnah. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan melibatkan seorang guru bahasa Arab dan siswa kelas II sebagai subjek penelitian. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, sedangkan kredibilitas temuan diperkuat melalui triangulasi teknik. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa media flashcard terintegrasi pada setiap tahapan pembelajaran sehingga membangun kesinambungan aktivitas mengenalkan, mengulang, dan menguatkan penguasaan kosakata. Kehadiran representasi visual membantu siswa menghubungkan bentuk kata dengan maknanya, meningkatkan perhatian, partisipasi, dan antusiasme selama pembelajaran, sekaligus memudahkan guru menyajikan materi secara lebih konkret sesuai karakteristik perkembangan siswa sekolah dasar. Kajian ini menegaskan bahwa media flashcard tidak hanya berfungsi sebagai sarana visual, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang memperkuat interaksi belajar dan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Kebaruan penelitian terletak pada penyajian deskripsi komprehensif mengenai proses implementasi media, respons siswa, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pemanfaatan flashcard dalam pembelajaran bahasa Arab.