cover
Contact Name
Yeremias Jena
Contact Email
yeremias.jena@atmajaya.ac.id
Phone
+6221-5708808
Journal Mail Official
ppe@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Pusat Pengembangan Etika Gedung Karol Wojtyla Lt. 12 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jl. Jenderal Sudirman No. 51 Jakarta 12930
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Respons: Jurnal Etika Sosial
ISSN : 08538689     EISSN : 27154769     DOI : https://doi.org/10.25170/respons.v25i02
Respons (p-ISSN 0853-8689/e-ISSN 2715-4769) is a bilingual (Indonesian and English language) and peer-reviewed journal published by Centre for Philosophy and Ethics of Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Respons specializes in researched papers related to social ethics, philosophy, applied philosophy from interdisciplinary-methodological point of view. Respons welcomes ethical and philosophical contributions from scholars with various background of disciplines. This journal uses English and Indonesian Language. "Respons" is an open access journal whose papers published is freely downloaded.
Articles 143 Documents
Critical Thinking dan Keterampilan Berpikir Kritis Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 02 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i02.736

Abstract

Dua tulisan saya di Kompasiana, salah satu blog populer yang dikelola Harian Kompas mendapat apresiasi luas. Meskipun populer, kedua tulisan tersebut tetap saja berkategori refleksi filosofis atas kesesatan berpikir yang ”berkeliaran” di media massa, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan filsafat dasar. Salah satu tulisan berbicara mengenai kesalahan penalaran yang dilakukan Marzuki Ali tentang perilaku tidak sopan dan etis beberapa anggota DPR-RI (Marzuki Ali, Etika dan Moral Anggota Dewan, Kompasiana, 27 Februari 2011). Sementara itu, tulisan lainnya mengomentari MUI Jawa Barat yang melarang kunjungan Miss Universe 2011 ke bumi Parahayangan (Miss Universe 2011 Dilarang ke Jawa Barat?, Kompasiana, 7 Oktober 2011).
Bioregionalisme: Menyatunya Ekonomi dengan Ekologi A. Sonny Keraf
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.737

Abstract

Sepanjang sejarah peradaban modern, kapitalisme terus-menerus dikritik sebagai pembawa malapetaka dan biang kerok dari segala krisis yang melanda peradaban manusia modern. Krisis ekonomi global dewasa ini dituding sebagai ulah praktik ekonomi kapitalis yang mengorbankan keadilan sosial dan dengan itu menyuburkan konflik sosial antara golongan kaya dan miskin dalam masyarakat. Kini disadari pula bahwa kapitalisme merupakan penyebab bencana lingkungan hidup global sehingga KTT Bumi di Rio de Jenairo Brasil (1992) mendeklarasikan paradigma pembangunan yang lebih cerdas dan manusiawi dalam mengatasi krisis ekologi yakni, paradigm pembangunan dengan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat warga negara. Fritjof Capra menyebut paradigma baru itu adalah pembangunan masyarakat berkelanjutan berbasis melek ekologi. Oleh sebab itu, artikel ini bertujuan memberi pencerahan bagi masyarakat untuk memahamai paradigma baru yang ditawarkan Capra “membangun masyarakat berkelanjutan” dan mempraktikkannya “sesuai dengan kondisi alam setempat”.
Menggali Cikal-Bakal Martabat Hidup Publik Dalam Terang Filsafat Politik Aristoteles Emanuel Prasetyono
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.739

Abstract

Pemikiran politik Niccollo Machiavelli didasarkan pada konsep mengenai kekuasaan seorang penguasa sebagai kenyataan yang sejati dan rasionalitas universal. Rakyat adalah massa yang menyatakan kepentingan kelompok dan rasionalitas partikular dan karena itu bisa dikuasai dan diatur demi kepentingan kekuasaan. Para moralis tidak menyukai pemikiran Machiavelli kendati banyak penguasa di banyak negara dan menghayati dan mempraktikkan pemikiran Machiavelli. Apabila Negara dikelola menurut pemikiran Machiavelli maka rakyat tidak lebih dari massa tanpa nilai pribadi dan dianggap irasional. Dalam kenyataannya, massa adalah rakyat adalah orang-orang biasa yang sejak dari awal miskin atau dibuat miskin oleh kondisi sosial yang carut-marut dan tidak adil. Artikel ini mau mengangkat sebuah alternative pemecahan terhadap masalah kekacauan akibat penyalahgunaan kekuasaan dalam masyarakat dengan menawarkan kekuatan komunikasi yang merumuskan rasionalitas universal melalui wacana ruang publik.
Pentingnya Tanggung Jawab Sosial Korporasi demi Keberlangsungan Bisnis Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.740

Abstract

Bisnis memainkan peran penting dalam kehidupan manusia modern. Hal ini berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia modern. Kendati bisnis bernilai ambilen. Di satu sisi, bisnis memberi peluang bagi manusia untuk memenuhi kesejahteraannya tetapi di sisi lain bisnis berpeluang memperkenalkan tindakan kotor yang mencancam lingkungan dan mengeksploitasi tenaga kerja. Banyak pelaku bisnis modern yang tidak peduli terhadap kesejahteraan manusia cenderung tidak bertanggunjawab terhadap efek negatif dari karya bisnis mereka. Untuk menjadikan bisnis lebih manusiawi, tanggungjawab sosial perusahaan dibutuhkan. Tanggunjwab sosial perusahaan termasuk di dalamnya concern terhadap hak-hak pekerja dan konsumen demi meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang terkait dengan perusahaan.
Etika Medis dan Pembentukan Dokter yang Berkeutamaan Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.741

Abstract

Sifat empati sama pentingnya dengan penguasaan teknologi kedokteran. Dalam relasi dokter–pasien, sifat empati merupakan kesadaran etis yang mendorong para dokter untuk mendekatkan diri dan terlibat dengan pasien. Pengalaman relasional dokter–pasien lalu dihayati sebagai baik pengalaman klinis (penyembuhan) maupun perjumpaan etis (menguatkan, meneguhkan, mendukung, memberi harapan, mengubah gaya hidup, menerima kerapuhan manusia, dan sebagainya). Kita kemudian menjadi terkejut ketika sifat yang paling mendasar ini perlahan-lahan menghilang dari dalam diri para dokter, dan itu dimulai sejak masa pendidikan. Jika rasa empati para mahasiswa kedokteran rendah, apakah pendidikan formal mengenai empati dapat membantu mengatasinya? Penulis berargumentasi bahwa kuliah etika medis dapat berperan dalam mempromosikan dan membentuk watak empati dokter sejauh metodologi pengajarannya dipilih secara tepat. Mahasiswa seharusnya memanfaatkan kuliah etika medis sebagai kerangka refleksi dalam mengolah pengalaman perjumpaan mereka dengan pasien. Posisi ini sekaligus “mengoreksi” keyakinan berlebihan pada bioetika yang bertendensi saintifik sebagai ilmu yang sanggup membentuk rasa empati.
Hukuman Mati: Sekilas Pertimbangan Filosofis – Teologis RD. Jacobus Tarigan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.742

Abstract

Hukuman mati dikenal dan dilaksanakan di banyak budaya sepanjang sejarahnya. Hukuman mati diberikan berdasarkan alasan-alasan kejahatan yang sangat berat dan dilaksanakan dengan pelbagai cara. Muncul pro dan kontra terhadap hukuman mati, dengan alasan kemanusiaan dan demi kehidupan bersama. Hanya Negara mempunyai hak untuk menjatuhkan hukuman mati dalam kasus-kasus di mana tiada keraguan tentang beratnya pelanggaran dan kesalahan orang tertuduh. Proses peradilan harus adil, jujur dan terbuka.
MENYELAMATKAN BUMI Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 17 No 01 (2012): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v17i01.743

Abstract

Buku ”Satu Bumi” (One World) karya Peter Singer adalah contoh paling sempurna sejauh ini tentang bagaimana mengaplikasikan teori etika utilitarianisme preferensi. Masalah-masalah praktis yang dibahas dalam buku ini – kerusakan bumi dan tanggung jawab manusia, perdagangan bebas dan peran World Trade Organization, hukum, dan solidaritas antarbangsa – hanya bisa dipahami secara memadai dalam perspektif etika utilitarianisme preferensi, meskipun dengan gaya bahasa yang keluar dari pakem telaah filosofis.
Pancasila : Dasar Untuk Menciptakan Persatuan Nasional Dengan Tetap Menghormati Kesetaraan Dalam Kemajemukan Sosial Alois A. Nugroho
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.744

Abstract

Karya John Rawls yang berjudul Political Liberalism dapat saja kita maknai sebagai Political Egalitarianism apabila karya ini dapat dilihat sebagai sebuah pengembangan untuk menyempurnakan kekurangan yang terdapat di dalam karyanya A Theory of Justice, yang amat monumental itu. Betapa pun kuat bangunan pemikiran Rawls dalam karya itu, ia kemudian sadar bahwa masyarakat yang diandaikan dalam teori itu adalah masyarakat yang homogen, sedangkan masyarakat riil – sebagaimana di USA – terdiri dari berbagai komunitas yang secara rasional mengikuti sumber moral yang beraneka. Oleh sebab itu, supaya lebih menukik lagi, betapa pun bangunan pikiran dalam A Theory of Justice itu pantas dikagumi, diperlukan sebuah pengembangan yang dalam pandangan Amartya Sen adalah kesetaraan dengan mempertimbangkan adanya pluralitas sumber moral dalam masyarakat.
Pancasila dan Prinsip-Prinsip Keadilan Soenaryo .
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.745

Abstract

Dalam pidato di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Bung Karno menguraikan prinsip-prinsip hidup bernegara (philosofische gronslag) yang menjadi dasar berdirinya negara Indonesia Merdeka. Menurutnya, dasar-dasar hidup itu bukanlah sesuatu yang datang dari ruang antah berantah, melainkan dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian, prinsip-prinsip itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut dapat dirumuskan dalam lima prinsip untuk membangun Indonesia merdeka, yang pertama adalah kebangsaan, yang kedua peri-kemanusiaan, ketiga mufakat, keempat kesejahteraan sosial dan yang kelima ketuhanan.
Humanisme Pancasila Menurut Driyarkara dan Internalisasinya Dalam Pendidikan Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.746

Abstract

Negara yang terdiri dari aneka ragam budaya, ras, suku dan agama menjadi cikal bakal datangnya kehancuran. Negara yang dicirikan oleh pluralitas yang besar memerlukan perekat berupa nilai-nilai utama dalam masyarakat Indonesia. Tanpa perekat tersebut Negara akan mudah mengalami disintegrasi. Tampaknya apa yang dikatakan oleh Clifford Geerts itu sekarang menjadi kenyaan sebagaimana terlihat pada berbagai konflik baik yang bersifat vertikal maupun vertikal. Integrasi sosial tidak terjadi sendiri melainkan mensyarakat Negara yang kuat dan rakyat yang melek namun menjadi persoalan besar karena akhir-akhir ini berkembang fenomena yang semakin tidak menghargai institusi negara sementara itu jaringan masyarakat warga Negara belum terbentuk secara baik menjadi mitra pemerintah. Hal ini terlihat pada kenyaan bahwa masih banyak tindakan kejahatan yang menyebabkan kematian akhir-akhir ini. Aksi dehumanitas ini menimpa baik warga negara biasa maupun aparat keamanan sendiri.