cover
Contact Name
Yeremias Jena
Contact Email
yeremias.jena@atmajaya.ac.id
Phone
+6221-5708808
Journal Mail Official
ppe@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Pusat Pengembangan Etika Gedung Karol Wojtyla Lt. 12 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jl. Jenderal Sudirman No. 51 Jakarta 12930
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Respons: Jurnal Etika Sosial
ISSN : 08538689     EISSN : 27154769     DOI : https://doi.org/10.25170/respons.v25i02
Respons (p-ISSN 0853-8689/e-ISSN 2715-4769) is a bilingual (Indonesian and English language) and peer-reviewed journal published by Centre for Philosophy and Ethics of Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Respons specializes in researched papers related to social ethics, philosophy, applied philosophy from interdisciplinary-methodological point of view. Respons welcomes ethical and philosophical contributions from scholars with various background of disciplines. This journal uses English and Indonesian Language. "Respons" is an open access journal whose papers published is freely downloaded.
Articles 143 Documents
Negara Untuk Rakyat dan Rakyat Untuk Negara Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.747

Abstract

Paham Negara integralistik Soepomo seringkali disalahpahami. Ada yang menganggap paham ini mengarah ke totaliter, di mana penguasa bisa bersikap sewenang-wenang. Ada juga yang menganggap paham ini anti-demokrasi. Pandangan seperti itu bisa saja muncul jika kita tidak begitu menyelami pandangan Soepomo secara utuh. Pada intinya, Soepomo ingin menawarkan sesuatu yang sesuai dengan paham ketimuran dan menolak faham Barat yang pada waktu itu memang sedang diperangi. Jadi, sebenarnya, inti paham Negara integralistik adalah menyatunya pemimpin dengan rakyat, Jika ada kesatuan tentunya keinginan-keinginan dari kedua belah pihak tidak akan saling menyimpang. Mereka akan saling melengkapi sebab pemimpin dan rakyat merupakan satu-kesatuan organik. Itulah inti dari semangat manunggaling kawulo gusti. Sementara itu, penolakan demokrasi di sini terutama demokrasi Barat, karena demokrasi Barat bersifat liberal, individualistik. Masyarakat Indonesia itu tidak individualistik, melainkan berdasarkan pada rasa bersama, kolektif. Bentuk negara Indonesia harus mengungkapkan “semangat kebatinan bangsa Indonesia”, yaitu hasrat rakyat akan persatuan: persatuan hidup, persatuan antara dunia luar dan batin, antara rakyat dan para pemimpinnya.
Muhammad Yamin : Upaya Menyatukan Benang-Benang Keanekaan dalam Simpul Persatuan Febiana Rima Kainama
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.748

Abstract

Muhammad Yamin adalah seorang tokoh nasional yang bersama Soekarno dan Mohamad Hatta berjuang melahirkan Republik Indonesia. Yamin dengan latar belakangnya sebagai penyair dan ahli hukum telah lama mencita-citakan Indonesia, yang terdiri atas berbagai keanearagaman menjadi negara merdeka dan bersatu. Kesatuan Indonesia diyakini Yamin sebagai nasib yang sudah ditentukan sejak awal bagi bangsa Indonesia. Bagi Yamin keindonesiaan merupakan kehendak untuk hidup bersama mengatasi segala perbedaan-perbedaan yang ada. Romantisme sebagai penyair memandang fakta perbedaan sebagai sesuatu yang indah dan dapat dikelola menjadi kehidupan bersama yang harmonis dalam persatuan sebagai bangsa. Ide persatuan Yamin diawalinya dengan menegaskan perlunya satu bahasa yang menjadi bahasa persatuan sebagai jembatan yang bisa menghubungkan keanekaragaman dengan demikian berbagai keragaman dan perbedaan dapat dikomunikasikan denganbaik. Ide Unitarisme diolah oleh Yamin sehingga unitarisme Yamin bukan sekedar konsep politik namun yang lebih kuat dari itu gagasan ini merupakan konsep budaya yang kelak diharapkan mampu membentuk kesatuan karakter.
Meraih Sukses Melalui Kerja yang Bermartabat Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 01 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i01.749

Abstract

Apakah kerja harus bermartabat? Sejauh mana sebuah pekerjaan disebut bermartabat? Apakah kerja bermartabat hanya menyangkut jenis pekerjaan atau profesi tertentu, misalnya white-collar works? Atau, kerja bermartabat juga termasuk pandangan dan sikap individu terhadap pekerjaannya, bagaimana institusi memperlakukan pekerjanya, bagaimana menyeimbangkan pekerjaan dengan waktu luang, dan sebagainya?
Kedaulatan Ekonomi dan Kebaikan Bersama: Sebuah Refl eksi Filsafat Bersama Frans Seda Mikhael Dua
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.751

Abstract

Masalah kedaulatan ekonomi sudah berkembang demikian kompleks terkait perkembangan di akhir Abad XX dengan kedigdayaan pasar, kebangkitan rezim perdagangan dan kerjasama supranasional di Amerika, Eropa, Asia Tenggara, dan Asia Timur, serta proses desentralisasi dan peraturan-peraturan hukum nasional berhadapan dengan tren yang ada. Dalam khazanah arti mengenai kedaulatan ekonomi itulah Frans Seda mengajukan pemikirannya tentang perlunya campurtangan Negara dalam pasar yang didasari oleh visi tentang manusia, peran masyarakat, dan kesejahteraan umum. Keyakinan itulah yang dipercaya akan menghasilkan hubungan harmonis antara pasar, Negara, dan masyarakat tanpa mengabaikan salah satu.
Pemikiran Christian Felber Tentang Ekonomi Kesejahteraan Publik Reza A.A Wattimena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.752

Abstract

Setelah krisis ekonomi tahun 2008, banyak ahli menyadari, bahwa dunia membutuhkan sistem baru ekonomi global. Model sebelumnya, yang masih dimanfaatkan oleh banyak negara, adalah sistem ekonomi kapitalis, yang mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya dan yang masih memainkan peran besar sebagai satu-satunya tujuan ekonomi. Felber berpendapat, bahwa sistem ini cacat dan menyebabkan banyak krisis, yang membuat banyak orang menderita. Menurut dia, dunia membutuhkan paradigma baru ekonomi, yang dapat menciptakan stabilitas dan kesejahteraan bagi semua orang. Dia lalu menteorikan system kesejahteraan ekonomi. Saya akan mencoba untuk menyajikan gagasannya tentang kesejahteraan ekonomi dan juga mencoba untuk menunjukkan, bagaimana paradigma ini dapat diimplementasikan dalam konteks Indonesia. Saya juga akan memberikan beberapa pertimbangan penting, yang kiranya bermanfaat demi perkembangan teori ini.
Bhagavad-Gita: Dialog Krishna - Arjuna (Sebuah Roman Epik di Dalam Kitab Mahabharata) Selu Margaretha Kushendrawati
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.754

Abstract

Bhagavad-Gita yang biasa disingkat Gita berarti “Nyanyian Ilahi”. Gita adalah kitab suci Hindu yang terdiri atas 700 bait serta merupakan bagian dari roman epik Mahabharata. Gita yang ditulis pada abad ke-5 SM setelah penerbitan Upanishad ditulis dalam bentuk naratif dan berisi dialog antara seorang pangeran Pandawa yang bernama Arjuna dan pemandunya Krishna yang merupakan dewaraja. Menghadapi tugas untuk membunuh saudara-saudaranya, Arjuna dinasihati Krishna agar memenuhi kesatriaannya sebagai prajurit dan membunuh. Kesatriaan dan kepahlawanan dilukiskan dalam bentuk dialog antara sikap yang berbeda-beda tentang metode mencapai pembebasan (moksha). Bhagavagita merupakan sintesis tentang konsep Brahmana tentang dharma, bhakti ilahi, dan moksha melalui karma.
Persepsi Mahasiswa Mengenai Nasionalisme Indonesia dan Ancaman Terhadapnya Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.755

Abstract

Lebih dari sekadar rasa cinta kepada bangsa dan negara, nasionalisme adalah proses dinamis mengkonstruksi sebuah identitas kebangsaan. Identitas kebangsaan itu – dalam konteks nasionalisme Indonesia – mula-mula bersifat kultural, tetapi kemudian menjadi identitas politik ketika kemerdekaan dari bangsa penjajah menjadi prasyarat bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah lebih dari 80 tahun sejak tahun 1928, rasa cinta kepada bangsa tetap menggema dalam dada para mahasiswa. Wujudnya adalah sebuah konstruksi identitas kultural secara bersama dalam sebuah masyarakat Indonesia yang plural. Tulisan ini mendeskripsikan secara luas persepsi mahasiswa mengenai nasionalisme Indonesia dalam konteks perdebatan ilmu sosial tentang nasionalisme. Penekanan pada identitas budaya dalam konteks perdebatan itu harus dilihat sebagai refl eksi lebih lanjut atas persepsi mahasiswa mengenai nasionalisme kultural. Tulisan ini juga mendiskusikan ancaman terhadap nasionalisme Indonesia.
Keberpihakan Kepada Orang Miskin Menurut Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis Mali Benyamin Michael
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.756

Abstract

Kemiskinan dan keterbelakangan telah menyeret mayoritas umat manusia ke dalam lembah penderitaan yang luar biasa. Orang-orang yang mengalaminya berada dalam suatu situasi tak berpengharapan. Demi menyelamatkan mereka, suatu sikap ‘memihak’ dari orang-orang atau lembaga yang berhati mulia merupakan suatu keniscayaan dan sikap profetis yang patut ditiru. Sikap memihak tidak berarti membela kemiskinan dan membela orang-orang dalam konteks pertentangan kelas, tetapi berjuang bersama mereka demi hidup yang lebih layak. Perjuangan ini merupakan wujud rasa tanggung jawab sosial terhadap sesama yang menderita, guna menciptakan suatu kondisi hidup yang manusiawi pada semua orang, semua golongan masyarakat tanpa pembeda-bedaan. Sikap ini harus dibarengi dengan terus-menerus mengumandangkan suatu model pembangunan yang sejati, yang integral yang menempatkan manusia sebagai pelaku sekaligus sasaran pembangunan.
Alam Raya Datang Dari Ketiadaan? Felix Lengkong
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 18 No 02 (2013): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v18i02.757

Abstract

Adalah sebuah buku oleh fisikawan Lawrence M. Krauss, pertama kali diterbitkan pada tahun 2012. Buku ini membahas kosmogoni modern dan implikasinya bagi perdebatan tentang keberadaan Allah.
Irony and Mysticism: the Role of “panakawan” in the Javanese Shadow Play (wayang) Alois A Nugroho
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 19 No 02 (2014): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v19i02.758

Abstract

Punakawan merupakan lakon yang benar-benar khas dalam pertunjukan wayang Jawa. Punakawan adalah tokoh-tokoh dalam pertunjukan wayang yang biasanya disertai tawa penonton berkenaan dengan tampilan fisik mereka yang jelek serta watak dan perilaku tertentu untuk dicamkan. Tulisan ini akan mengemukakan dua hal. Pertama, bagaimana punakawan menertawakan sifat-sifat yang ada pada manusia pada umumnya dan pada diri mereka sendiri. Kedua, secara implisit pertunjukan ini mau menyatakan derajat metafisis punakawan atau hamba tidak berbeda di bawah derajat kaum brahmana dan ksatria karena mereka pun sesungguhnya putera-putera dewata.