cover
Contact Name
Yeremias Jena
Contact Email
yeremias.jena@atmajaya.ac.id
Phone
+6221-5708808
Journal Mail Official
ppe@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Pusat Pengembangan Etika Gedung Karol Wojtyla Lt. 12 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jl. Jenderal Sudirman No. 51 Jakarta 12930
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Respons: Jurnal Etika Sosial
ISSN : 08538689     EISSN : 27154769     DOI : https://doi.org/10.25170/respons.v25i02
Respons (p-ISSN 0853-8689/e-ISSN 2715-4769) is a bilingual (Indonesian and English language) and peer-reviewed journal published by Centre for Philosophy and Ethics of Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Respons specializes in researched papers related to social ethics, philosophy, applied philosophy from interdisciplinary-methodological point of view. Respons welcomes ethical and philosophical contributions from scholars with various background of disciplines. This journal uses English and Indonesian Language. "Respons" is an open access journal whose papers published is freely downloaded.
Articles 143 Documents
Relevansi Etika Bisnis dalam Industri Jasa Kesehatan Alois A Nugroho
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 01 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i01.566

Abstract

Keberhasilan yang pantas dicatat oleh ekonomi pasar adalahterbentuknya masyarakat pasar. Perkembangan cara hidup modern berjalanbersamaan dengan perkembangan ekonomi pasar dan kedua hal ini secaramenakjubkan menghancurkan tatanan sosial yang dibangun sejak awal. Para dokterprofessional yang memegang secara teguh dan disiplin Sumpah Hippocrates harusberhadapan dengan godaan ekonomi dan masyarakat pasar. Dengan kata laindokter-dokter itu tidak lagi disiplin, jujur dan pengertian. Kini Sumpah Hippocrateshanya di atas kertas karena banyak dokter lebih memprioritaskan dimensiekonomis dari praktek kedokteran mereka dengan akibat ruang-ruang pengobatandan operasi yang seharusnya menjadi ruang personal berubah menjadi ruangfinansial belaka. The social and political upheavals that took place during the rise of the marketeconomy contends that the market and the modern social practice should be understood not asdiscrete elements, but as the single human making in the Market Society. The development of themodern way of life went hand in hand with the development of modern market economies and thatthese two were inevitably implied the destruction of the basic social order that had existedthroughout earlier history. Hippocratic medicine professionals that were notable for their strictprofessionalism, discipline, and rigorous practice became unsustainable to preserve their traditionalsystem of production and social order. The Hippocratic Oath that recommends physicians to bealways well-kempt, honest, calm, understanding, and serious are far removed from that of modernmedicine professionalism. The Today Hippocratic physician paid careful attention to the economicaspects of his practice rather than followed his detailed specifications given by Hippocratic Oathfor, "lighting, personnel, instruments, positioning of the patient, and techniques of bandaging andsplinting" in the treatment and operation room.
Membela Tanggung Jawab Moral Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 01 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i01.567

Abstract

Kita bereaksi cukup keras terhadapberbagai pelanggaran norma moral, baikitu dilakukan oleh para pejabat publik,maupun anggota masyarakat biasa.Demikianlah, kita kecewa dan marahketika pejabat publik melakukan tindakankorupsi, menyalahgunakan kekuasaandemi kepentingan pribadi atau golongan, mangkir dari tugas dan tanggungjawabnya, membuat kebijakan publik yang merugikan kepentinganmasyarakat, merekayasa proses pengadilan, dan sebagainya. Kita juga marahketika ada anggota masyarakat (individu) bertindak asusila atau perilakukriminal lainnya. Kekecewaan dan kemarahan kita merefleksikan sikapmoral yang umum diterima, bahwa setiap individu memiliki tanggung jawabmoral terhadap apa yang dipikirkan, dikatakan, diucapkan, dan tindakantindakannya.Reaksi kita mengungkapkan suatu kelaziman pemahamanmengenai tanggung jawab moral sebagai semacam property of human agents.
Karl Polanyi Menanam Ekonomi B Herry Priyono
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.568

Abstract

Karl Polanyi dikenal sebagai teoritikus ekonomi sosial yang menggagaskonsep ketertanaman ekonomi. Konsep tersebut dipaparkan dalam bukunya yangsangattermasyhur berjudul The Great Transformation (1944) sebagai titik sentraldalam bidang sosiologi ekonomi. Bernard Barber mengkritik konsep ketertanamanekonomi Polanyi sebagai konsep yang ambigu dan karenanya tidak dapat menjadisubjek utama dalam pemikiran ekonomi. Namun demikian, ketika menulis karyaThe Great Transformation, Polanyi menjelaskan terjadinya proses komodifikasi atasuang, tenaga kerja, dan tanah. Gagasan keternanaman ekonomi bersamaan dengankonsepnya mengenai gerakan-balik memiliki urgensi pada konteks ini, dan karena itukaryanya memiliki motif moral untuk menyelamatkan masyarakat. Karl Polanyi has been recognized as a social-economic theorist for his conceptof embedded economy. The concept was well-organized in his book The Great Transformation(1944) as the central point for the field of economic sociology. Bernard Barbercriticized Polanyi’s concept of embedded economy as something ambiguous and thus itcannot become the subject in the same theoretical scrutiny as other classic works in thefield. For Barber, all economies are embedded and therefore there are central tensionsand complexities concerning land, money, and labour in Polanyi’s argument that must beclarified. However, as he was writing the book, he developed several new concepts, includingfictitious commodities and embedded economy, that led in new directions to morality.The prospect is to create the conditions of the possibility to balance economic interests infinancial sector with social interests in the real sectors. This is the meaning of double movement,that is, to deliberate the market in order to save society.
Evolusi Pasar: Dari Pasar Tertanam ke Pasar Tercerabut Perspektif Karl Polanyi Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.570

Abstract

Dalam sepanjang sejarah, pasar mempunyai bentuk dan fungsi yangberbeda. Dalam masyarakat praindustri kehadiran pasar dan uang tidak mempunyaipengaruh penting dalam sistem ekonomi. Karl Polanyi bahkan menekankan bahwapasar hanyalah salah satu cara yang mungkin untuk mengalokasikan sumber-sumberpenghidupan. Redistribusi dan resiprositas merupakan alternatif lain, dan secarahistoris lebih penting daripada pasar. Pasar mendominasi aktivitas manusia hanyaketika pasar mengubah tanah, tenaga kerja dan uang menjadi ‘komoditas fiktif ’. Dalamhal itu, income bergantung pada pasar. Polanyi mendeskripsikan proses itu sebagaitransformasi dari pasar sebagaimana dipraktikkan dalam masyarakat praindustrikuno ke dalam ekonomi pasar. Transformasi tersebut akan menyebabkan degradasi.Pemerintah berperan untuk melindungi semua aktivitas masyarakat dari dominasipasar. Throughout history, market has developed in different forms and functions.In pre-industrial societies, the presence of market and money did not necessarilyaffect the economic system. Karl Polanyi even stressed that the market was only onepossible way of allocating resources. Redistribution and reciprocityare other alternatives,and historically more important than the market. The market dominates thehuman activities only when it transformed land, labor and money into “fictitiouscommodities”. In such case, the income, the bulk of survival, was dependent upon themarket. Polanyi described the process as transformation from market as practiced inthe old pre-industrial society into market economy. This process, in turn, caused thedegradation that urges government to protect all human activities from the marketdomination.
Gerak-Ganda: Sebuah Pemecahan Etis Atas Konsep Pasar Yustinus Prastowo
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.571

Abstract

Selain gagasan ketertanaman ekonomi dalam konteks sosial, Karl Polanyidikenal luas melalui gagasannya mengenai gerak-ganda. Gagasan ini menekankanbahwa di balik perkembangan liberalisme ekonomi terdapat proteksi sosial sebagaisebuah gerakan positif untuk melindungi masyarakat dari sistem ekonomi apa punyang disruptif. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan tesis ini dalam 3 tahap, yakni:konteks sosial munculnya The Great Transformation, gagasan gerak-ganda itu sendiri,dan relevansinya dalam konteks globalisasi ekonomi. Beside the concept of embedded economy, Karl Polanyi is well known throughhis concept of double-movement. The concept emphasizes that behind the progress of economicliberalism emerges the social protection as the positive movement. This movementimplies that society has its collective self-rule and decision makingthat will protect itselffrom all disruptive economic system. This article aims to extend this thesis into three stagesthat are: historical background the Great Transformation, the idea of double-movement,and its relevance in the new context of economic globalization.
Sosialisme Ekonomi: Karl Marx dan Karl Polanyi dalam Perbandingan Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.575

Abstract

Berbagai krisis yang melanda ekonomi pasar membuat cita-cita ekonomiyang sejati, yakni membangun kesejahteraan bersama, semakin jauh panggang dariapi. Kegagalan ekonomi dalam melahirkan kesejahteraan dan kebaikan bersama telahmendorong kita untuk mencari jalan keluar yang lain. Pemikiran Karl Polanyi danpara tokoh gerakan sosialisme ekonomi terkemuka lainnya menjadi bagian dari pilihan.Tulisan ini secara khusus mau mendalami konsep Karl Marx sebagai salah satutokoh sosialis terkemuka, dalam rangka memahami lebih jelas konsep dan pemikiranKarl Polanyi. Pendekatan Marx yang ideologis dan teknis serta kontekstual terhadapmasalah ini, sebenarnya masih berkecimpung dalam koridor ekonomi pasar yang justrumenjadi sumber masalah. Sebaliknya Polanyi ingin melakukan satu gerakan yangmenyeluruh dengan menyoroti akar ketercerabutan ekonomi dari realitas sosial Many crises hit the market-economy. They have made the original economicideals in promoting common good, more and more unreachable. The failure of marketeconomyin promoting the common good has encouraged us to find another way out accordingly.Karl Polanyi and the other figures who lead economic socialism movement shouldbe part of our focus. This paper specifically explores the concept of Karl Marx as one of theleading socialist figure, in order to understand more clearly the concept and the thought ofKarl Polanyi. Marx’s ideological, technical, and contextual approach to this problem, wasactually locked in the corridor of the market-economy itself. In his way, Polanyi wanted tosuggest a more comprehensive movement. Viewing the economy was uprooted from socialrelation (dissembedded–economy) he then suggested the embedded economy for solvingthe market-economy’s problems.
Kritik Atas Ekonomi Pasar Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.577

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian atas pemikiran Karl Polanyi dalam TheGreat Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time berhadapandengan pemikiran Jürgen Habermas dalam The Structural Transformation of the PublicSphere: An Inquiry Into Category of Bourgeois Society. Polanyi menganalisis sejarahmuncul dan runtuhnya masyarakat pasar di abad ke sembilan belas, sementaraHabermasmenganalisis sejarah masyarakat borjuis Eropa di abad ketujuh belas dandelapanbelas yang merupakan model dari masyarakat kapitalis modern. Keduanyasampai pada kesimpulan yang sama bahwa warga negara yang terdeliberasi memungkinkanterbentuknya opini publik yang rasional yang secara kritis dapat mengawalsistem politik demi mencapai integrasi sosial. This article examines the main theory of Karl Polanyi’s The Great Transformation:The Political and Economic Origins of Our Time vis-à-vis Jürgen Habermas’thought in The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry Into Categoryof Bourgeois Society. Polanyi analyzes the history of the rise and fall of nineteenthcentury market society whereas Habermas analyzes the history of the late seventeenthandeighteenth century of European Bourgeois public sphere as the model of re-coupling theeconomy and society in modern capitalist states. Both Polanyi and Habermas come to aconclusion that informal citizen deliberation enabling the formation of rational publicopinion that guides critically political system for the sake of social integration.
Urgensi Pedagogi Etika Lingkungan Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 15 No 02 (2010): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v15i02.578

Abstract

Fritjop Capra mengembangkan sebuah gagasanmenarik tentang keterkaitan antara hidup manusiadenganlingkungan. Dalam bukunya berjudul TheWeb Of Life (1997), Capra mengamini bahwa hidup manusia sangat bergantungkepada lingkungan. Lingkungan dengan segala biotanya menjadi bagian yang tidakterpisahkan dari kualitas hidup manusia. Karena itu menurut Capra, lingkunganyang sehat akan memberikan kualitas hidup yang sehat bagi manusia. Demikiansebaliknya, lingkungan yang buruk akan membawa ancamanbagi hidup manusia.
Kekuasaan Penegak Hukum: Antara Independensi dan Intervensi A. Sonny Keraf
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 01 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i01.720

Abstract

Hukum berfungsi membatasi dan sekaligus menjamin kebebasan tiaptiap orang dalam rangka menciptakan kesejahteraan umum. Kekuasaan eksekutif adalah salah satu bentuk kekuasan hukum karena didasarkan pada sistem hukum yang berlaku. Oleh sebab itu, Presiden secara hukum wajib menyelenggarakan pemerintahan yang menjamin kebebasan individu dan mewujudkan kesejahteraan umum. Sebagai kepala negara, Presiden berhak menilai apakah pelaksanaan hukum sesuai dengan cita-cita negara hukum: menjamin kebebasan dan kesejahteraan umum? Penilaian Presiden atas kinerja lembaga penegak hukum hanya berlaku menurut prinsip non-intervensi, antara lain dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi yang memiliki kekuasaan hukum demi menegakkan hukum atas kecurangan-kecurangan yang terjadi di pelbagai institusi politik yang memiliki kekuasaan hukum. Sejauh Presiden sebagai kepala negara dengan kekuasaan hukum yang dimilikinya dapat memanfaatkan prinsip non-intervensi untuk mendorong penegakan hukum secara serius maka penggunaan kekuasaan hukum semacam itu tidak melawan prinsip non-intervensi. Sebaliknya, apabila Presiden melalaikan penggunaan kekuasan hukum sebagai kepala negara untuk mendorong peningkatan kualitas negara hukum, maka Presiden tidak hanya tidak mendayagunakan kekuasaan hukum di tangannya tetapi juga membiarkan salah satu tugas eksekutif dalam menjalankan kekuasaan hukum yakni, menyelenggarakan kesejahteraan umum bersama-sama dengan kekuasaan yudikatif dan legislatif berdasarkan prinsip non-intervensi.
Negara Leviathan dan Etika Perdamaian dalam Pandangan Thomas Hobbes Otto Gusti
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 16 No 01 (2011): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v16i01.721

Abstract

Dalam teori kontrak sosial, kekuasaan memiliki tugas menciptakan perdamaian dengan melindungi kebebasan tiap orang menurut hukum. Dalam paham tersebut, sang penguasa negara tidak saja terikat oleh perjanjian tetapi oleh tujuan perjanjian, yakni menciptakan perdamaian. Maka kekuasaan negara berada di atas individu- individu tetapi tidak berada di atas tujuan negara itu sendiri, yaitu menciptakan perdamaian. Dengan mengikuti pemikiran Thomas Hobbes, tulisan ini bermaksud menegaskan bahwa jika negara didefinisikan oleh tujuannya maka kekuasaan negara yang satu kali terjadi dalam perjanjian berlaku absolut karena tidak bisa dibatalkan oleh siapapun termasuk oleh sang penguasa itu sendiri.

Page 10 of 15 | Total Record : 143