cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
REDEFINISI KEMATIAN Clara, Michelle; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4395

Abstract

The city is a track record of human civilization from time to time with various phenomena that occurs. Humans often mark cities with various stories about the creation of spaces that are considered capable of supporting their survival. However, in the midst of the dynamic era and the growth of generations that inhabits the city, humans seem to forget one of the life entities, namely death. In the past few decades, we often avoided topics related to death, so that unwittingly, activities related to death actually surround us. The fear of death has left a mark from time to time; generation to generation; until finally it grows into a negative paradigm in society. This research aims to bring a revolution to the city through the redefinition of architectural space in accommodating the process of death positively. The methods of this study include: first, conducting a literature study, tracing death cases with various conditions from experts handling; second, approaching various psychological theories about perception, self-recognition, stages in facing death, emotions, and others related; third, compiling a spatial architecture program by elaborating activities data and space scenarios. Through experiments, and based on various precedents that already exist, it is expected to obtain an architectural design criteria that can affect human perceptions and emotions, especially for individuals who are approaching the death and dying, so that together with therapy, consultation, prayer, or a form of consolation from various parties, can soothe sufferers, also their families. AbstrakKota adalah rekam jejak peradaban manusia dari waktu ke waktu dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Manusia kerap menandai kota dengan berbagai kisah tentang penciptaan ruang-ruang yang dianggap mampu mendukung kelangsungan hidupnya. Akan tetapi, di tengah dinamika perkembangan zaman dan pertumbuhan generasi yang mendiami kota, manusia seolah melupakan salah satu entitas kehidupan yaitu kematian. Dalam beberapa dekade terakhir, kita kerap menghindari topik terkait kematian ini, sehingga tanpa disadari, aktivitas terkait kematian sesungguhnya telah mengelilingi kita. Rasa takut akan kematian telah meninggalkan tanda dari waktu ke waktu; generasi ke generasi; hingga akhirnya bertumbuh menjadi sebuah paradigma negatif di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menghadirkan revolusi pada kota melalui redefinisi keruangan arsitektur dalam mewadahi proses kematian secara positif di masyarakat. Metode dari penelitian ini, antara lain: pertama, melakukan studi literatur, penelusuran kasus-kasus kematian dengan berbagai kondisinya dari ahli yang menangani; kedua, melakukan pendekatan berbagai teori psikologi tentang persepsi, pengenalan diri, tahapan dalam menghadapi kematian, emosi, dan lainnya yang terkait; ketiga, menyusun program keruangan arsitektur dengan pendataan aktivitas dan skenario ruang. Melalui eksperimen, serta berlandaskan berbagai preseden yang sudah ada, diharapkan dapat diperoleh kriteria rancangan arsitektur yang dapat mempengaruhi persepsi dan emosi manusia, terutama bagi individu yang mendekati masa kematian, sehingga bersama dengan terapi, konsultasi, doa, atau bentuk penghiburan dari berbagai pihak, dapat menenangkan penderita, juga para keluarganya.
SARANA OLAHRAGA DAN PUJASERA “LOOP” Maria Carol; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10796

Abstract

The emerge of the new generations intensify the change of lifestyle and growth. This phenomenon can be seen from people’s awareness of health, especially in sport and food they’re consume. This is also catalysed by the world’s pandemic, Covid-19. On the other hand, there’re still inadequate facility and support (low supply), compared to people’s urge to participate in sport and healthy living (high demand), and also the fast foods’ or junk foods’ high supply. Therefore, spaces and facilities are needed to accommodate the people’s and the new generation’s urge for a better living ahead. Using hybrid method, two different system can be conjoined, developing a new system so that one can enjoy, appreciate, and their needs become accommodated. The union between the indoor & outdoor sport facility and the food area providing choices of healthy foods will become one-of-a-kind attraction to the visitors and users. Keywords: Facility, Food; Healthy Living; Generations; Sport  AbstrakMunculnya generasi baru memperkuat perkembangan dan pergeseran pola hidup. Fenomena ini dapat dilihat dari mulai meningkatnya kesadaran akan pentingnya cara hidup sehat, khususnya olahraga dan asupan makanan sehat. Hal ini kemudian dipercepat lagi perkembangannya dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Namun fasilitas dan penunjang pola hidup seperti ini masih jauh lebih sedikit (low supply) dibanding dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam sektor olahraga (high demand) dan tingginya supply makanan cepat saji (high supply) yang kurang sehat yang dapat dilihat dari tingkat pengeluaran per kapita masyarakat terhadap makanan cepat saji. Oleh karena itu dibutuhkannya wadah dan fasilitas yang diharapkan dapat mengakomodasi pergeseran gaya hidup generasi kini maupun yang akan datang. Dengan menggunakan metode hybrid, wadah yang dibutuhkan dapat digabungkan sehingga menghasilkan suatu wadah yang baru yang kemudian dapat digunakan untuk menikmati, mengapresiasi, serta mewadahi kedua sektor tersebut. Kesatuan antara fasilitas olahraga baik dalam ruang maupun luar ruang dan area pujasera yang menyediakan makanan-makanan yang juga ikut mendukung pola hidup sehat, dapat menjadi daya tarik tersendiri dari bangunan bagi pengunjung dan pengguna.
WADAH AKTIVITAS MASYARAKAT DI RAWA BELONG Keane Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6896

Abstract

Third place is a place to communicate, activity, find a beautiful atmosphere, calm, and refresh the mind. The area in Jakarta needs a third place because Jakarta itself has an issue that is quite disturbing the people of Jakarta, one of which is a congestion issue. The author takes the area of Rawa belong because in Rawa Belong is a dense area so the area is in a program that approaches Third place. Rawa Belong is a dense area of various sectors, namely the economic sector, education, and Industry. The area is crowded with heterogeneous youths and local residents. With the frequent activities is communicating and socializing. So automatically, Rawa Belong is packed by group work activities and hang out activities. However, Rawa Belong has a facility that is not yet comfortable enough to used. There are facilities that the standard hygiene is lacking. There are also lack of usable space, because there has an easy solid facility. Rawa Belong have the famous Rawa belong flower market even to be known internationally then the author took the theme of flower market as the main program for the theme Third place. One of the issues that is common that is detrimental to the community is air pollution. The area is so dense area, so automatically the region is quite polluting. To decrease the issue the author making the design of the building that environmentally friendly and faces the issue. The idea of the concept is Biophilic Design with floral objects. With the idea of the concept positively impacts human psychologically. Because of psychological in Rawa Belong. It will certainly have negative psychology. AbstrakThird place merupakan tempat untuk berkomunikasi, beraktifitas, mencari suasana yang asri, tenang, dan menyegarkan pikiran. Secara luasnya di Jakarta membutuhkan third place karena Jakarta sendiri memiliki isu yang cukup meresahkan masyarakat Jakarta, salah satunya yaitu isu kemacetan. Penulis mengambil Kawasan Rawa belong karena di Rawa Belong merupakan kawasan yang padat sehingga daerah tersebut dipadati program yang mendekati Third place. Rawa Belong merupakan Kawasan yang padat akan berbagai sektor, yaitu sektor ekonomi, Pendidikan, dan indsutri. Kawasan tersebut dipadati oleh pemuda-pemuda yang bersifat heterogen dan penduduk lokal. Dengan adanya aktivitas yang sering dilakukan adalah berkomunikasi serta bersosialisasi. Maka otomatis, Rawa Belong dipadati oleh aktivitas kerja kelompok dan bernongkrong. Namun, Rawa Belong terdapat fasilitas yang belum cukup nyaman untuk digunakan. Sehingga terdapat fasilitas yang standar kebersihannya kurang. Adapula kekurangan ruang yang bisa dipakai, berhubung fasilitas disana mudah padat. Rawa Belong tersebut terdapat pasar bunga Rawa belong yang terkenal bahkan sampai dikenal internasional maka penulis mengambil tema pasar bunga sebagai program utama untuk tema Third place. Salah satu isu yang sudah umum yang merugikan masyarakat yaitu polusi udara. Kawasan tersebut merupakan Kawasan padat, maka otomatis Kawasan tersebut cukup berpolusi. Untuk menanggulangi isu tersebut penulis membuat desain bangunan yang ramah lingkungan dan menghadapi isu tersebut. Ide konsep tersebut adalah Biophilic Design dengan objek bunga. Dengan adanya ide konsep tersebut memberi dampak positif terhadap psikologis manusia. Berhubung psikologis di Rawa Belong. Sudah pasti akan memiliki psikologi yang negatif.
WISATA KAMPUNG NELAYAN DI MUARA ANGKE Yourdy Yonathan; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3805

Abstract

Indonesia mempunyai keragaman sumber daya alam dan budaya yang sangat melimpah. Kekayaan sumber daya alam dan budaya tersebut hingga saat ini berperan penting sebagai faktor penentu perekonomian nasional. Akan tetapi, masyarakat Indonesia masih belum mengenal dan memahami peran dari keragaman sumber daya alam dan budaya yang ada. Kondisi ini cenderung menyebabkan penurunan kualitas dari nilai-nilai wisata dan nilai-nilai budaya tradisional suatu kawasan. Pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, pada awal perkembangannya merupakan salah satu kawasan yang kaya akan keanekaragaman alam dan budaya tradisional. Potensi alam dan kearifan lokal tersebut dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Jakarta. Hal tersebut didukung oleh letaknya yang dekat dengan Hutan Lindung Muara Angke dan berbatasan langsung dengan perairan, yaitu Laut Jawa, Kali Asin, dan Kali Adem. Selain itu, pesisir Muara Angke yang dikenal sebagai lokasi pelelangan dan pelabuhan ikan memiliki tatanan kehidupan masyarakat lokal dengan sebagian besar penduduk bermata-pencaharian sebagai nelayan dan pengolah hasil perikanan yang mempunyai keterkaitan dengan sumber daya yang mereka miliki. Dalam destinasi wisata ini, terdapat fungsi-fungsi yang diharapkan dapat mengembalikan kejayaan Muara Angke. Fungsi restaurant, yang akan menjadi wadah yang dipenuhi oleh bumbu-bumbu asli khas wilayah Muara Angke. Fungsi Aquarium, yang akan meemberikan edukasi ke masyarakat kota Jakarta, untuk menginformasikan masyarakat tentang biota laut dan pentingnya untuk menjaga kelangsungan hidup laut. Dengan bentuk bangunan yang ikonik, diharapkan bangunan ini akan mengisi kekosongan di kawasan Muara Angke. Bentuk bangunan yang menyerupai kapal, yang diisi dengan restaurant, aquarium, tempat souvenir kawasan, menjadikan ikon dari kawasan Muara Angke.
WADAH KREASI DAN REKREASI DI CENGKARENG TIMUR Michael Fernandez Karyadi; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8629

Abstract

In todays modern era, the development of industry and commerce is extremely potent, producing lots of factories, and shops ranging from large scale to micro scale. An example of the district that is known to develop in this field is East Cengkareng located in west of Jakarta.This district, this area is packed with activities, from commerce and production, ranging from big to medium to micro business. On the other hand, this district also packed by middle rank to lower rank residential, proven from the concentrated small housing despite its high-density population. The consequences of highly concentrated activities in commerce and industry is a less developed facilities and categorized as a district with the highest Environmental and health problem in Jakarta. Through observation, data collection, and interviews, the advice, and aspirations of the residents are collected and reorganized based on third place theory and nest concept producing Creation and Re-Creation Building in East Cengkareng as a building designed entirely based on the needs of the residents around to talk, relax, relieve stress, and yet remain productive. This third place encourage people to recycle and remake trash actively. Through this activity, people can increase their life’s qualities and develop their potential, socially or skillfully. This building itself is made from many kinds of trashes such as waste plastic bottles, paper scraps, wood pieces, and others that are recycled and remade into a functional and comfortable building; in other words, this building is a ‘masterpiece’ on its own built with trashes. Keywords: architecture; east cengkareng; facilities; papercraft, third place AbstrakDi era modern ini, perkembangan industri dan niaga sangatlah pesat, menghasilkan banyak pabrik-pabrik and toko-toko dari yang berskala besar hingga mikro. Salah satu contoh wilayah yang berkembang dalam bidang ini adalah Cengkareng Timur yang terletak di Jakarta. Wilayah ini memiliki aktivitas yang sangat padat, mulai dari perdagangan, produksi, mulai dari usaha besar, menengah hingga usaha mikro. Dilain sisi, wilayah ini juga padat akan pemukiman menengah dan kebawah, terlihat dari padatnya bangunan dan penduduk. Sebagai akibat dari tingginya fokus dan aktivitas masyarakat di bidang industri dan niaga, wilayah ini kekurangan fasilitas sosial dan terkategori sebagai wilayah dengan Indeks Kerawanan Lingkungan dan Kesehatan (IKLK) tertinggi se DKI-Jakarta. Melalui observasi, pengumpulan data, dan wawancara, data-data dan kebutuhan serta aspirasi masyarakat dikumpulkan dan dikelola menurut teori third place dan nest concept, sehingga menghasilkan Wadah Kreasi dan Rekreasi di Cengkareng Timur yang didesain sepenuhnya berdasarkan kebutuhan masyarakat Cengkareng Timur untuk bercengkrama, bersantai, melepas penat, dan mengisi waktu luang, namun tetap produktif. Third place ini mengajak masyarakat untuk turut aktif dalam mengolah sampah terutama sampah kertas. Melalui aktivitas ini seseorang/masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup dan potensi dirinya, secara sosial, maupun keterampilan. Bangunan ini sendiri dibuat dari berbagai macam sampah seperti botol bekas, kertas sisa, kayu bekas dan lain-lain yang diolah Kembali dan dibentuk menjadi sebuah bangunan yang fungsional dan nyaman, dengan kata lain bangunan ini adalah ‘mahakarya’ yang terbuat dari sampah.
STUDIO MEDIA VISUAL DAN SINEMA RUANG LUAR MELAWAI Maudy Maharani; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6851

Abstract

The media is one among many other factors, that is responsible for the dissemination of information amidst modern society. The Melawai Visual Media Community Studio and Open- Cinema project is created as a response towards the multicultural phenomenon caused by high plurarity rate of residents coming from different regions, locally or internationally. It aims to restore local values that starts to becoming insignificant among rapid globalization that is happening in the area. In addition, it also plays a role in strengthening relations between community-based social circles through efforts to foster a sense of pride towards local creative products. Synergized with M- Bloc Space which is a collaboration between PERURI and local creative industries intended to provide a space for creative-based community as a meeting point that is intergrated with Sisingamangaraja MRT Stop and Blok-M MRT Stop, Visual Media Community Studio and Open-Cinema project helps to upgrade the quality of the residents socially, economically and culturally through Creation and Appreciation program. The concept of Creation and Apreciation is the sole base of reference to determine the placement of programs on site, as the Open- Cinema (apreciation) placed in the center, supported by Pre-productions, Productions, and Post- Productions programs (creation) which revolves around it. The Street-sport zone program is also presented as a neutral space that is expected to attract new visitors outside visual media community, also to contribute in supporting the creativity programs through stimulation of mind through physical movement. The method used for this project’s design is examining several important contextual parameters around the area (cultural, nature, urban, and buildings’ form) as to produce a form that is explorative but still possess the soul of Colonial Architecture used in the remain buldings of PERURI and M-Bloc Space through the use of vertical elements and the minimalism of material chosen for the building. AbstrakMedia merupakan salah satu unsur yang bertanggung jawab atas penyebaran informasi ditengah masyarakat modern. Proyek Studio Media Visual dan Sinema Ruang Luar Melawai merupakan respon atas fenomena multikultur yang disebabkan oleh pluraritas masyarakat yang tinggi di kawasan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kembali nilai-nilai lokal yang kabur ditengah derasnya arus pengaruh dari budaya asing. Selain itu, proyek juga berperan sebagai pemererat hubungan antar masyarakat Melawai dalam asas komunitas melalui usaha dalam menumbuhkan rasa kebanggaan tidak hanya terhadap karya asing namun juga karya anak bangsa, melalui konsep dan program yang ditawarkan. Dengan sinergi terhadap proyek M-Bloc space yang merupakan kerja sama antara PERURI dengan badan swasta guna menciptakan ruang kreatif sebagai meeting point yang terintegrasi dengan Halte MRT Sisingamangaraja dan Halte MRT Blok-M, proyek Studio Media Visual dan Sinema Ruang Luar ikut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas masyrakat secara sosial, ekonomi maupun budaya melalui kegiatan kreasi dan apresiasi karya. Konsep kreasi dan apreasiasi juga dijadikan sebagai dasar atas program dan penempatan ruang, dimana Sinema Ruang Luar berperan sebagai pusat (apresiasi) dan studio pre-produksi, produksi, dan pos- produksi yang mengegelilinginya. Program street- sport zone juga dihadirkan sebagai ruang netral yang diharapkan dapat menarik pengunjung baru diluar komunitas dengan minat yang sama, juga memicu kreatifitas komunitas melalui stimulasi pikiran melalui gerak fisik. Metode yang digunakan merupakan pendekatan kontekstual yang mengkaji empat parameter kontekstual (budaya, alam, urban, dan fisik bangunan) yang menghasilkan bentuk yang eksploratif namun tetap menyisikpkan unsur- unsur kolonial yang merupakan wujud bangunan dari kompleks Eks- PERURI dan M-Bloc Space.
KOMUNITAS SOSIAL “SIGER” DI LAMPUNG Hiskia Given Stehan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10758

Abstract

Basically, humans are not far from all kinds of things that are related to social matters, both personally and in groups, and have been around for centuries, which have been summarized or adhered to by the traditions that characterize humans in a place. However, over time, the early traditions became lost and replaced in the form of global modernization which indirectly changed the form of early social activities. Because of this shift in social activities, the relationship with the community at the top level shifted slightly because the traditional relationship also shifted. It is the problem that has arisen as a result of this shift that causes human dwelling begin to change. Therefore, the aim of this result is to fuse social problems between the community at the top level and the surrounding community with modern forms within the scope of traditions which are the source of social life. Because within the scope of the people of Lampung, the unifier of the community is the symbol of Siger which will be the center of the design results.Keyword: Dwelling; Humans; Modernization; Siger; Traditions Abstrak Manusia pada dasarnya tidak jauh dari segala macam hal yang bersangkutan pada hal sosial, baik secara personal dan kelompok, dan sudah ada sejak dari abad lama yang dirangkum atau dianut secara adat tradisi yang menjadi ciri khas manusia di suatu tempat.  Namun seiring berjalannya waktu, tradisi awal menjadi menghilang tergantikan dalam bentuk modernisasi dari global yang secara tidak langsung mengganti bentuk kegiatan sosial awal. Karena adanya pergeseran kegiatan sosial tersebut, maka hubungan dengan masyarakat dengan tingkat atas sedikit bergeser karena hubungan tradisi yang juga bergeser. Masalah yang timbul akibat pergesaran inilah yang membuat bentuk berhuni manusia mulai berubah. Maka dari itu, tujuan dari hasil ini untuk melebur masalah sosial antara masyarakat dengan tingkat teratas maupun masyarakat sekitarnya dengan bentuk yang modern dalam lingkup adat tradisi yang menjadi sumber kehidupan bersosial. Karena dalam lingkup masyarakat Lampung, maka sebagai pemersatu masyarakat adalah berlambang Siger yang akan menjadi pusat dari hasil perancangan.
GALERI ANGGREK INDONESIA DI JAKARTA Rossa Yolanda; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3973

Abstract

Jakarta sebagai ibukota negara merupakan pusat aktivitas berbagai aspek kehidupan, di dalamnya termasuk kegiatan pariwisata. Arsitektur berperan tidak hanya sebagai penyedia fasilitas pariwisata, namun menjadi dapat menjadi daya tarik pariwisata itu sendiri terutama melalui pengolahan dan kehadiran wujud fisik arsitektur.  Selain wujud fisik arsitektur yang menarik, program yang diberikan harus mempunyai daya tarik bagi wisatawan. Wisata Anggrek menjadi pilihan karena dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara karena  Jenisnya yang beragam dan cara hidupnya pun unik. Cara hidup anggrek dijadikan ide dalam proyek ini. Anggrek dapat hidup secara epifit dan semi epifit ( menempel pada tumbuhan lain ), terestrial ( tanah ), dan saprofit ( benda mati ). Selain cara hidup, iklim yang sesuai untuk tanaman anggrek juga harus diperhatikan, karena anggrek mampu hidup di berbagai iklim di Indonesia. Sehingga pada proyek ini ruang untuk anggrek dibagi menjadi 4 yaitu, anggrek epifit – semi epifit – saprofit, anggrek   terestrial, anggrek pada iklim dingin, dan herbarium anggrek. Aktivitas utama pada keempat ruang untuk anggrek adalah observasi. Selain aktivitas observasi, terdapat juga aktivitas interaksi, meliputi merangkai bunga dan merawat bunga, sekaligus memiliki aktivitas pendukung yaitu, berbelanja dan kuliner. Proyek ini diharapkan menjadi tujuan bagi wisatawan lokal maupun mancanegara karena mampu mewadahi beragam koleksi Anggrek Indonesia, menjadi pusat pameran anggrek di Indonesia dan menumbuhkan rasa cinta terhadap flora dan alam tempat tinggalnya.
WISATA EDUFARMING BERBASIS URBAN Athalia Lie; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3963

Abstract

Dikenal sebagai negara agraris, Jakarta sebagai ibu kota Indonesia juga memiliki jejak pertaniannya sendiri. Namun, menghadapi permasalahan perkotaan dan sosial zaman sekarang, budaya bertani sebagai salah satu ciri khas negara kita terdorong semakin mendesak untuk kembali ditanamkan kembali dalam diri tiap penghuni kota, terutama generasi muda bangsa. Melalui Wisata Edufarming Berbasis Urban, pengunjung diajak untuk mengenal lebih lanjut sejarah agrowisata negara yang diterapkan dalam bentuk urban sehingga dapat diterapkan di rumah masing-masing kelak. Pengunjung berkesempatan untuk turun langsung ke ladang akuaponik dan hidroponik yang tersedia baik di dalam maupun luar ruangan untuk mempelajari proses pertanian dari awal hingga pemetikan. Juga tersedia pasar untuk memperjual-belikan hasil panen proyek, restoran untuk para pengunjung langsung menyantap hasil petikannya, dan laboratorium serta loka karya untuk lebih memperdalam teknik pertanian urban. Letak proyek di antara Hutan Kota Srengseng dan Pasar Bunga Rawa Belong berperan sebagai pengisi rantai yang hilang di antara kedua objek melalui fasilitas shuttle bus antar ketiga lokasi. Dalam pelaksanannya, wisata Urban Agrikultur tidak difokuskan untuk nilai ekonominya sebagai sumber pangan, namun juga untuk mewadahi hobi dan komunitas bercocok tanam yang ada di perkotaan. Nilai ekologis yang akan dirasakan oleh masyarakat luas selain menambah penghijauan kota (secara langsung maupun tidak), mengurangi iklim kota, mendaur ulang limbah organik serta air, mengurangi jejak karbon, dan efek perpanjangan lainnya. 
KONSEP DESAIN MALL EKSIBISI UNTUK STARTUP: INTEGRASI ANTAR RUANG DIGITAL DAN FISIK Evian Putra Setiawan; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4504

Abstract

The growth of ecommerce in Indonesia especially is getting vast. The millennial generation which has been the prime generator of the economics shares the most user, either becomes the seller or the buyer. In online shop, a user is immediately directed to the main page that also directs to the category of a wanted item in less than a second. Although there have been online malls, physical malls are also considered  as neccesary for most people. Sellers need space where they can storytell and introduce their newly-invented products to get recognition so people are convinced to buy online. Buyers also come to physical malls to experience things they are not able to get online, meanwhile buyers also come to physical malls to inspect the quality of the product. Through a study of online shoppers behavior with Pattern Language method, we can conclude that online shoppers’ pattern are centralized, and physical mall shoppers’ pattern are linear instead. Therefore, the design concept of startup exhibition mall with integration between digital and physical space is created by applying centralized pattern as the building circulation to solve this matter. AbstrakPertumbuhan ecommerce khususnya di Indonesia semakin meningkat. Generasi milenial yang menjadi motor utama perekonomian merupakan pengguna terbesar, baik menjadi penjual maupun pembeli. Di dalam online shop, seorang pembeli langsung diarahkan ke dalam halaman utama yang langsung mengarahkan ke halaman kategori barang yang ingin dilihat secara cepat. Meski sudah hadir online shop, mall fisik pun tetap dibutuhkan. Penjual membutuhkan sebuah tempat untuk memamerkan dan mengenalkan produk barunya agar dikenal masyarakat dan dipercaya untuk dibeli melalui online shop, sedangkan pembeli juga datang ke mall fisik karena ingin mengetahui kualitas barang yang akan dibeli, serta menginginkan experience yang baru dan berbeda. Untuk mempelajari pola perilaku pengguna online shop, maka digunakan metode pattern language, sehingga didapatkan bahwa pola pengguna pada saat berbelanja adalah terpusat, sedangkan pola pengguna mall fisik adalah linear. Untuk menjawab tantangan kesejamanan, maka dihasilkan konsep desain mall eksibisi startup dengan integrasi antar ruang digital dan fisik yang menggunakan pola terpusat sebagai pola sirkulasi di dalam bangunan. 

Page 15 of 134 | Total Record : 1332