cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
WADAH KOMUNITAS DAN REKREASI SEBAGAI RUANG KE - 3 DENGAN URBAN AKUPUNTUR METODE MENGHIDUPKAN DAN MENGEMBALIKAN CITRA PASAR BARU Stephen Stephen; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8563

Abstract

At present the activity of buying and selling/trading has been developing rapidly for decades. The growth of new malls spread throughout Jakarta. Making Jakarta the city with the largest and most shopping center in the world, with more than 173 malls. Coupled with the help of technology, an online shop platform has emerged that makes it easy for visitors to shop without having to come to the store. With the help of electronic media tools such as tablets or Smartphones. Nowadays, malls are not only a place to shop but also a place for recreation, socializing, or just for a walk alone. The progress of technology and human culture is changing. It's one of the factors that influence the impact of the decline in visitors at the old shopping center, every year such as a Pasar Baru shopping center. Re-Imagine Pasar Baru is a project that aims as a motor/propeller for Pasar Baru Community. Inviting the local people and Shop Owners to take part in making a change. Through a new program that strengthens unity and diversity to bring the conciseness cooperation (Gotong-royong) attitude that has been lost with the development of the times. Creating a place where people can socialize and interact, get closer, get to know each other, and also as a means of recreation for residents, visitors, shop owners, and also this project hopes to bring the Pasar Baru shopping area to life. Through the Urban Acupuncture method by analyzing the needs, potentials, deficiencies, demographics, ecology, etc. that characterize the Pasar Baru area. Where it can present a new program, and produce small-scale changes, but social catalytic intervention into the urban spatial structure. In physical and social-culture in Pasar Baru. Keywords: Community; Gotong Royong; Pasar Baru; Recreation; Urban Acupuncture  AbstrakSaat ini aktivitas Jual-beli/perdagangan sudah berkembang pesat selama beberapa dekade. Tumbuhnya mall-mall baru tersebar di seluruh Jakarta. Menjadikan Jakarta sebagai kota dengan pusat perbelanjaan terbanyak dan terbesar di dunia, dengan lebih dari 173 mall. Ditambah dengan bantuan teknologi, platform online shop memudahkan pengunjung untuk berbelanja tanpa perlu datang ke toko. Dengan bantuan alat media elektronik seperti tablet atau Smartphones. Saat ini, mall bukan hanya menjadi tempat untuk berbelanja melainkan menjadi tempat rekreasi, bersosialisasi, atau hanya sekedar untuk jalan-jalan semata. Kemajuan teknologi serta budaya manusia yang berubah, merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap dampak penurunan pengunjung di pusat perbelanjaan lama setiap tahunnya, seperti pusat perbelanjaan Pasar Baru. Re-Imagine Pasar Baru Merupakan proyek yang bertujuan sebagai motor / pengerak daerah Pasar Baru. Mengajak masyarakat dan para pedagang untuk ikut andil dalam melakukan suatu perubahan. Lewat program yang mempererat kesatuan dan persatuan guna memunculkan sikap gotong royong yang sudah hilang seiring berkembangnya zaman. Menciptakan tempat dimana warga dapat bersosialisasi dan berinteraksi, mendekatkan, saling mengenal satu sama lain dan juga sebagai sarana rekreasi warga lokal, dan proyek ini berharap dapat menghidupkan kawasan perbelanjaan Pasar Baru. Lewat metode Urban Acupunture yaitu dengan menganalisis kebutuhan, potensi, kekurangan, demografi, ekologi yang menjadi ciri khas dari kawasan Pasar Baru. Dimana dapat menghadirkan suatu program baru, dan menghasilkan perubahan skala kecil, tetapi intervensi katalitik sosial ke dalam tatanan ruang kota. Bukan hanya sekedar bentuk fisik, tetapi juga berdampak pada sosial dan budaya Kawasan Pasar Baru sendiri. 
Pusat Kegiatan Digital Muhammad Nadhif; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4521

Abstract

In such a modern and complex era like today, urban millennials are used to growing up with digital era that works as a new (arus ruang gerak) in their lives as an individual and social being. The digital era grows slowly as a part of work, culture, and process that can not be separated from human lives. Nevertheless, in fulfilling their social needs, digital technology is usually used only as a media component which in the process is done secondarily where it tends to create a moral change towards individualistic. Therefore, a place that can accommodate social activities without letting the digital flow to stream free and unrestrained, and offers education on how to control the digital flow instead, is needed to fulfill social needs in this digital era. Architecture discusses how to fulfill the digital community needs as an existential tool, because despite everything, human still needs face-to-face communication as a primary means of communication. Digital Hub is presented as a place where interaction can happen primarily in a digital era. Specifically, this project also aims to build digital communities where individuals are not isolated from social life, and receives an existential from the balance between primary interaction needs and digital needs. This becomes relevant in a developing society, where changes in life necessity is happening continously, replacing old ways with new techniques. AbstrakPada era yang serba modern dan kompleks seperti saat ini, generasi milenial perkotaan sudah terbiasa untuk tumbuh sebagai era digital yang berperan untuk menjadi arus ruang gerak baru di dalam kehidupannya sebagai makhluk individu dan sosial. Era digital pun secara perlahan tumbuh sebagai bagian dari karya, budaya, dan proses yang tidak dapat terlepas dari perjalanan kehidupan manusia. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, teknologi digital sering kali hanya dimanfaatkan sebagai komponen media yang dalam prosesnya dilakukan secara sekunder di mana memiliki kecenderungan untuk memancing perubahan moral ke arah individualistis. Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era digital tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah yang tidak membiarkan arus era digital mengalir begitu saja, tetapi berbicara mengenai bagaimana cara mengontrol arus digital itu sendiri. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas digital sebagai sarana eksistensi mereka. Karena bagaimanapun juga manusia tetap membutuhkan sifat komunikasi face-to-face yang melalui proses secara primer. Digital Hub hadir sebagai ruang interaksi secara primer pada era digital. Secara lebih spesifik, kehadiran proyek juga dimaksudkan untuk menghadirkan komunitas-komunitas digital di mana individu tidak terisolasi dari kehidupan sosial, melainkan memperoleh nilai eksistensi dari adanya keseimbangan antara kebutuhan interaksi primernya dengan kebutuhan digital yang bertumbuh di dalamnya. Hal tersebut menjadi relevan seiring dengan masyarakat yang sedang terus berkembang, di mana terdapat perubahan kebutuhan secara terus-menerus untuk mengganti cara-cara lama dengan teknik yang baru.
RUMAH SINGGAH DIGITAL KOMUNITAS DESAIN Rakha Winggal Prafitrarto; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10913

Abstract

Alternative forms of housing continue to develop along with the emergence of various problems from the massive vertical housing development in cities today, ranging from physical problems to the area to social problems among residents of vertical housing themselves. The domination of private space and the lack of public space has created a passive residential environment with minimal interaction. This has resulted in a lack of social control among residents who have made vertical housing a place that is prone to crime, such as several apartments in Jakarta which are known as locations for hidden prostitution, and even suicides. The city of Jakarta is one of the cities that has experienced massive vertical housing development. There needs to be a solution to solve settlement problems in the city of Jakarta through the scientific field of architecture with the concept of digital housing for communities. The purpose of this study is to implement the concept of digital shelter for communities supported by supporting theories oriented to human interaction in an architectural design object system in the form of vertical housing supported by digital equipment or technology. Keywords: Digital; Interactive; Living AbstrakAlternatif bentuk hunian terus berkembang seiring dengan timbulnya beragam permasalahan dari pembangunan hunian vertikal yang masif di perkotaan saat ini, mulai dari permasalahan fisik bangunan terhadap kawasan hingga permasalahan sosial di antara penghuni hunian vertikal sendiri. Dominasi ruang privat dan minimnya ruang publik telah menciptakan lingkungan hunian yang pasif dan minim interaksi. Hal ini menimbulkan kurangnya kontrol sosial di antara penghuni yang telah menjadikan hunian vertikal sebagai tempat yang rawan akan tindak kriminalitas, seperti beberapa apartemen di Kota Jakarta yang dikenal sebagai lokasi prostitusi terselubung, bahkan kasus bunuh diri. Kota Jakarta merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan hunian vertikal yang cukup massif. Perlu adanya solusi untuk menyelesaikan permasalahan permukiman di Kota Jakarta melalui bidang keilmuan arsitektur dengan konsep hunian digital untuk komunitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengimplementasikan konsep Hunian digital untuk Komunitas yang didukung oleh teori-teori pendukung yang berorientasi pada interaksi manusia di dalam sistem objek perancangan arsitektur berupa hunian vertikal yang di dukung dengan peralatan atau teknologi digital.
TEMPAT RELAKSASI DI JALAN JAKSA, JAKARTA Fransiscus Jason
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6839

Abstract

Life in a big and crowded city, like Jakarta, can sometimes affect the physical, emotional and mental conditions of the community. With intense economic competition, people are increasingly busy with all routine activities in order to be able to fulfill their lives. Work routines and population density resulting in a lack of vacant land and green land, can psychologically cause boredom, increased stress levels and emotional instability. Stress not only have a direct impact on society but also impacts on the environment. High level stress can cause psychological, physiological and behavioral disorders. Creating an architectural work that raises the theme of the third place as a container that provides a means of recreation, relaxation and mental healing, urban communities are expected to be able to improve the quality of life of people physically and mentally. The theme of the third place in this case functions as a meeting room (communal space) which is protective and includes all levels of society to meet and exchange ideas, share and be a place of recreation integrated with health and fitness programs for workers and the community. The presence of this recreation and health container can benefit the community to improve physical and mental conditions and can eliminate daily fatigue. Abstrak Menjalani kehidupan di kota yang besar dan padat, seperti Jakarta, terkadang dapat mempengaruhi kondisi fisik, perasaan serta mental dari masyarakatnya. Dengan persaingan ekonomi yang ketat, masyarakat semakin sibuk dengan segala rutinitas aktivitas yang dilakukannya untuk dapat memenuhi kehidupannya. Rutinitas kerja dan kepadatan penduduk yang berakibat kurangnya lahan kosong serta lahan hijau, secara psikis dapat menimbulkan kejenuhan, tingkat stres meningkat dan emosi yang tidak stabil. Stres tidak hanya berdampak secara langsung terhadap masyarakat namun juga berdampak terhadap lingkungan. Akibat dari tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan gangguan psikologis, fisiologis dan perilaku. Dengan menghadirkan sebuah karya arsitektur yang mengangkat tema third place sebagai sebuah wadah yang menyediakan sarana rekreasi, relaksasi dan penyembuhan mental masyarakat kota diharapkan dapat terjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat secara fisik dan mental. Tema third place dalam hal ini difungsikan sebagai ruang temu (communal space) yang bersifat mengayomi dan mencakup seluruh lapisan masyarakat untuk saling bertemu dan bertukar pikiran, berbagi serta menjadi wadah rekreasional yang dipadukan dengan program kesehatan dan kebugaran bagi para pekerja maupun masyarakat. Dihadirkannya wadah rekreasi dan kesehatan ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat untuk membantu meningkatkan kondisi fisik dan mental serta dapat menghilangkan kepenatan sehari-hari.  
PUSAT MEDITASI Anisa Sisca Rahmariyanti; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3810

Abstract

Kota Jakarta sebagai Kota Metropolis terbesar di Asia Tenggara menimbulkan banyak permasalahan didalamnya. Antara lain tingginya jumlah penduduk, kegiatan yang padat, pergerakan yang cepat. Dengan adanya pola hidup penduduk kota seperti itu menjadikan masyarakat kota rentan stres. Jakarta sebagai ibu kota 14% penduduknya juga mengalami stres. Banyak cara untuk menghilangkan stres, salah satunya dengan wisata. Diperlukan adanya wisata arsitektur yang dapat menjadi atraksi wisata dengan bentuk yang dapat merespon lingkungan sekitar. Wisata arsitektur dapat diartikan sebagai objek yang menjadi atraksi dan pusat pandangan para pengunjung. Meditasi merupakan salah satu teknik untuk merileksasi tubuh, mengosongkan pikiran, dan membangkitkan semangat kembali. Pusat meditasi dapat menjadi destinasi dan atraksi baru ditengah kepadatan dan dinamika ruang metropolis. Sebagai ruang pelarian dari kepadatan kegiatan sehingga pengunjung dapat menjadikan tempat ini sebagai sarana transit, sarana beristirahat sejenak lalu kembali lagi beraktivitas.
TEMPAT JAJANAN MAKANAN TERAPUNG DI KAPUK Natasha Intania; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8513

Abstract

Creating a gathering place, activities and interacting should pay attention to the needs of the surrounding environment and also the residents who will visit. By looking at the needs around, the village of Kapuk becomes a place that needs a container to meet the needs of gathering, activities and interacting and also by increasing the economic needs of the surrounding community.The floating food street where it is located in the floating village area is a place of the need. This food place can be used from people who need a workplace, especially housewives who are idle and for anyone who wants to visit. With the iconic shape of the building that divides the road, open in the middle and floating that can give the impression as if emerge from the water surface with a shell-like shape. With the choice of eateries that can be moved differently can make this place has its own uniqueness. The building has a main building that serves as a food retail and is also provided with several eateries and also has a supporting building as a dining option called a boat pod which contains a dining area, a pantry area and also a fishing area. The main building is glass coated for open view. The main structure is supported by curved steel ellipses and tied by floor plates. While supporting buildings can move with the help of solar panels and driven by generators. Keywords: culinary; floating; move; needs; neighbourhoodsAbstrakMewujudkan tempat berkumpul, beraktivitas dan berinteraksi harus memperhatikan kebutuhan lingkungan sekitar dan juga penghuni yang akan berkunjung. Dengan melihat kebutuhan sekitar, maka Kelurahan Kapuk menjadi tempat yang membutuhkan sebuah wadah untuk memenuhi kebutuhan berkumpul, beraktivitas dan berinteraksi dan juga dengan meningkatkan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar.Tempat Jajanan Makanan Terapung yang letaknya masih berada di dalam Kawasan Kampung Apung merupakan wujud tempat dari sebuah kebutuhan tersebut. Tempat Jajanan Makanan ini dapat digunakan dari masyarakat yang membutuhkan tempat kerja terutama ibu rumah tangga yang menganggur dan untuk siapa saja yang hendak berkunjung. Dengan bentuk bangunan yang ikonis yang membelah jalan, terbuka dibagian tengah dan terapung yang dapat memberikan kesan seakan muncul dari permukaan air dengan bentuk seperti kerang. Dengan adanya pilihan tempat makan yang dapat berpindah- pindah berbeda dapat menjadikan tempat makan ini memiliki keunikan tersendiri. Bangunan memiliki bangunan utama yang berfungsi sebagai retail makanan dan disediakan juga beberapa tempat makan dan juga memiliki bangunan pendukung sebagai pilihan tempat makan yang disebut pod perahu yang dimana berisi area makan, area pantry dan juga area memancing. Bangunan utama dilapisi kaca agar pandangan terbuka. Struktur utama didukung oleh elips baja lengkung dan diikat oleh plat lantai. Sedangkan bangunan pendukung dapat bergerak dengan bantuan panel surya dan digerakkan oleh generator.  
RUANG ASIMILASI BUDAYA JEPANG TRADISIONAL DAN MODERN Meinius Erwin; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6875

Abstract

Japanese culture is a Indonesian colonizer’s culture that most stand out and preffered than other Indonesian colonizer’s culture like Netherlands, England, Spanish, and Portuguese. In the other hand, the local value of Indonesia preffered to be left out because Indonesian preffered the foreign culture. The Japanese that followed modern western culture without leaving their original culture can be an example for Indonesian not to lose their local values so that this project designed for Indonesian still can consume and learn Japanese Culture without forget their local culture. The space for make that happen starts from the daily life of people related to third place. The design method for this design based on the site existing as a basic for building mass with the purpose of using the existing one like as thought by Louis Isadore Kahn. Edutown BSD is the right location to design a proposed project entitled Japan Cultural Hybrid Space because there are various buildings with different functions like shopping centers, entertainment, and education, and culturally there are Japan and Indonesia; Edutown BSD is planned to be an education and research center that is integrated with shopping centers, recreation, and other needs so that it supports the project design in the form of assimilation space. The design results in the form of buildings with material and physical form follow Japan / modern while non-physical is more on Indonesian culture because locality is not merely displaying physical form, so that the meaning of design title does not reflect Japanese culture exclusively.  AbstrakKebudayaan Jepang adalah kebudayaan negara penjajah Indonesia yang paling menonjol dan cukup diminati dibanding dengan negara penjajah Indonesia lainnya seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis sementara nilai-nilai lokal Indonesia cenderung ditinggalkan karena orang Indonesia lebih cenderung memilih budaya luar dibanding budaya lokal. Sikap Jepang yang mengikuti budaya modern dari barat tanpa meninggalkan budaya asal mereka menjadi contoh untuk Indonesia agar tidak kehilangan nilai-nilai lokalnya sehingga proyek ini bertujuan agar Indonesia tetap dapat menikmati dan mempelajari kebudayaan Jepang tanpa melupakan kebudayaan lokal. Wadah untuk mewujudkan hal tersebut dimulai dari keseharian orang-orang terkait third place. Metode perancangan yang digunakan adalah dengan memanfaatkan kondisi eksisting tapak perancangan sebagai dasar pembentukkan massa bangunan dengan maksud memanfaatkan yang sudah ada seperti yang dipikirkan oleh Louis Isadore Kahn. Edutown BSD menjadi lokasi yang tepat untuk dirancang sebuah proyek yang diusulkan yang berjudul Ruang Asimilasi Budaya Jepang Tradisional dan Modern karena terdapat berbagai bangunan dengan fungsi berbeda-beda seperti pusat perbelanjaan, hiburan, dan pendidikan serta secara kebudayaan terdapat Jepang dan Indonesia; Edutown BSD direncanakan untuk menjadi pusat pendidikan dan riset yang diintegrasikan dengan pusat perbelanjaan, rekreasi, dan kebutuhan lainnya sehingga ikut mendukung perancangan proyek berupa ruang asimilasi. Hasil perancangan berupa bangunan dengan material dan bentuk fisik mengikuti Jepang / modern sementara non fisik lebih kepada budaya Indonesia karena lokalitas tidak hanya sekedar menampilkan wujud fisik saja, sehingga pengertian judul perancangan bukan mencerminkan kebudayaan Jepang secara eksklusif.
ARSITEKTUR SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KECERDASAN ANAK Nathania Shareen Rimbani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10726

Abstract

Kehidupan manusia di dunia tidak bisa terlepas dari lingkungannya yang terus berkembang seiring berkembangnya teknologi. Pendidikan menjadi salah satu cara dalam meningkatkan kualitas sumber daya yang mampu beradaptasi dan berkompetisi dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup dalam perkembangan lingkungan di dunia. Tujuan pendidikan nasional jelas menyampaikan bahwa pendidikan dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan rakyatnya baik itu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EI) dan kecerdasan spiritual (SI). Namun dalam praktiknya, institusi pendidikan lebih mengarah pada peningkatan IQ, melupakan EI dan SI yang sebenarnya tidak bisa terlepaskan satu dengan yang lainnya. Perubahan akibat digitalisasi dalam konsep pendidikan ini memunculkan suatu permasalahan dasar secara spasial yaitu perubahan tipologi sekolah atau ruang kegiatan sebagai lingkungan belajar. Bentuk arsitektur pendidikan anak yang dapat mengakomodasi kebutuhan emosional dan akademis anak berdasarkan kecerdasannya menjadi permasalahan desain utama. Sekolah Pukka Cisauk merupakan fasilitas pendidikan untuk anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dalam mendukung peningkatan kecerdasan pada anak demi kualitas kehidupan yang lebih baik. Sistem pendidikan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek (PBL) dengan proses pembelajaran menitikberatkan pada siswa. Perbedaan identitas setiap individu diakomodasi dalam pembentukan ruang berdasarkan 8 kecerdasan majemuk yang diintegrasikan dengan prinsip belajar kolaboratif, kreatif, partisipatif, pengalaman, multiliterasi, personalisasi, menyenangkan dan interdisiplin dalam mencapai tujuan membentuk anak yang produktif, afektif dan kreatif.
RUMAH ABU MUARA KARANG Oscarius Lufti; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8501

Abstract

Starting from the issue where there is a physical boundary that separates the world of life and the world of death which gives a bad impression of death. Living humans can perform rituals to interact spiritually with the world of the dead. From this it can be said that there are still opportunities for interaction between the living world and the world of death. Utilization of technology is applied in the design of projects to create architecture that becomes a container where interactions occur between the living world and the world of death. The world of death will mingle with visitors and vice versa so that interaction occurs. Carrying the theme ‘Third Place” in the proposed project design concept, the design of the columbarium will not be closed. Columbarium can be used as an architectural space that can be enjoyed by the community without exception. Interaction not only occurs with fellow human beings who are still alive, but also can occur with those who have died with the help of existing technology. With this view of the closed columbarium  can be removed. Keywords:  Columbarium; Death; Interaction; Life Abstrak Berawal dari isu dimana terdapat sebuah batasan secara fisik yang memisahkan antara dunia kehidupan dan dunia kematian yang menimbulkan kesan yang tidak baik terhadap kematian. Manusia yang masih hidup dapat melakukan ritual untuk berinteraksi secara rohani dengan dunia kematian. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa masih terdapat peluang untuk terjadinya interaksi antara dunia kehidupan dan dunia kematian. Pemanfaatan teknologi diterapkan dalam perancangan proyek untuk menciptakan arsitektur yang menjadi wadah dimana terjadi interaksi antara dunia kehidupan dan dunia kematian. Dunia kematian akan berbaur dengan pengunjung dan sebaliknya sehingga terjadi interaksi. Membawa tema “Third Place” dalam konsep perancangan proyek yang diusulkan, perancangan rumah abu tidak akan bersifat tertutup. Rumah abu dapat dijadikan sebagai ruang arsitektur yang dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa terkecuali. Interaksi tidak hanya terjadi dengan sesama manusia yang masih hidup, tetapi juga dapat terjadi dengan mereka yang sudah meninggal dengan bantuan teknologi yang ada. Dengan ini pandangan terhadap rumah abu yang bersifat tertutup dapat dihilangkan.
RUANG KOMUNITAS IBU DAN PASAR DI KRENDANG Thao Phing; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6755

Abstract

The city has traces of human civilization from time to time with various phenomena that occur. As time goes by, the existence of Third Place in Jakarta remains limited. The activities among those Third Places tend to be less interactive. Most of Third Places aim to address the concept of green and open space, but it fails to communicate its crucial purposes as platfrom activities for the community. In this modern era, the concept is change necessary where it accomodates public needs and no longer be depicted a mere open space. Krendang needs a facility to accommodate motherhood and children activities as the third place. As the people become more individualistic and don't want to socialize, it is more difficult to find leisure and creativity facilities. Motherhood Community and Social Market in Krendang was designed to facilitate the activities of mother and children in the middle of densely population in Krendang, Tambora, West Jakarta.  Abstrak Kota memiliki rekam jejak peradaban manusia dari waktu ke waktu dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Seiring berjalanya waktu, Third Place di kota Jakarta masih terbatas. Kegiatan yang ditawarkan didalamnya cenderung tidak interaktif. Kebanyakan Third Place di Jakarta mencoba menampilkan sisi ruang terbuka dan penghijauan saja namun tidak berbicara mengenai kegiatan atau wadah bagi masyarakat itu sendiri. Dalam perjalanannya menuju era yang lebih modern, perlu adanya sebuah perubahan terhadap konsep Third Place dimana konsep ini tidak hanya sebagai ruang terbuka saja atau mall melainkan harus dapat mewadahi kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat disekitarnya. Fasilitas bagi kaum ibu yakni memasak dan bagi anak – anak yakni bermain dan berkreativitas harus menjadi perhatian utama Third Place pada kawasan Krendang. Pada era modern ini masyarakat mulai cenderung menjadi kaum yang individualistis dan terkesan tidak ingin bersosialisasi. Motherhood Community and Social Market in Krendang diciptakan karena adanya fenomena kepadatan yang terjadi dan menyebabkan manusia tidak lagi memiliki wadah untuk mereka beraktivitas dengan baik pada kehidupa sehari – hari mereka. Selain itu hal ini juga terjadi karena sering adanya masalah seperti kebakaran di kawasan Krendang. Maka dari itu Motherhood Community and Social Market in Krendang di harapkan dapat menghadirkan fasilitas bagi kaum ibu dan anak yang layak dan juga agar terciptanya suatu kondisi sosial yang baik pada Third Place. 

Page 16 of 134 | Total Record : 1332