cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
AMALGAMASI RUANG FISIK DAN DIGITAL Megawati Putri; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10757

Abstract

Martin Heidegger describes dwelling as every process by marking the earth that transforms space into place. Dwelling begins with man observing his environment and collecting the surrounding information. The information is saved in his memory which ignites the thought of building. Today, we continuously surround ourselves with screens that feeds us many information we can think of. Information are displayed to humans in such little time and very minimum ways to comprehend by making the process of dwelling cannot be properly experienced. We still need to translate what is intangible to be tangible because humans are so interdependent with the artefacts that they create This project will show how architecture will occur when humans inhabit after experiencing an information. The point that will be focused on is how digital information will become more experiential information that requires more than our eyes to receive it. With this architectural design and the aid  of the technological advancement within the past year to truly incorporate the two realities, the physical and digital.Keywords:  dwelling; experential; information; two realities AbstrakMenurut Martin Heidegger, berhuni adalah segala proses menandai bumi yang mengubah ruang menjadi tempat. Awal dari proses berhuni ditandai dengan manusia mengenali lingkungannya dalam bentuk informasi. Informasi tersebut disimpan dalam bentuk memori. Lalu dilanjutkan dengan proses membangun yang didasari oleh memori tersebut.  Saat ini, manusia terus menerus mengelilingi diri dengan layar yang memberikan semua informasi yang dapat kita pikirkan. Kecepatan kita menerima infromasi dan cara kita menerimanya hanya memberi rangsangan bagi indera visual kita sehingga terkadang menyebabkan informasi tersebut tidak memberi kesan mendalam di benak kita. Akibat dari terjadinya hal tersebut, proses berhuni tidak dapat berlangsung dengan baik. Pada kenyataannya manusia masih perlu menerjemahkan apa yang tidak berwujud menjadi berwujud karena manusia sangat bergantung dengan artefak yang mereka buat. Proyek ini akan menampilkan bagaimana arsitektur akan terjadi saat manusia berhuni setelah mengalami sebuah informasi. Poin yang akan ditekankan adalah bagaimana informasi digital akan diterjemahkan menjadi informasi yang lebih eksperiensial yang membutuhkan lebih dari mata kita untuk menerimanya. Dengan bantuan kemajuan teknologi terakhir untuk benar-benar menggabungkan dua realitas, fisik dan digital.  berhuni; dua realitas; eksperensial; informasi
FASILITAS KEBUGARAN DENGAN PENGALAMAN GYM VIRTUAL Jessica Luckminto; Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4501

Abstract

Jakarta is an ever-growing, high economy city. The generation of millenials as its productive workforce tends to experience stress, pressure, boredom, and even depression due to competition and fulfilling demands. A few measures of prevention against individual's rising stress level may be done by self-relaxation, recreation, hobby, and exercising. Unfortunately, millenials have little to no time to relax and enjoy themselves. They are faced with strenuous lifestyle at the expense of their own health, which include the lack of physical activities and balanced nutrition. Some millenials had become aware of the importance to living healthy and obsessed themselves with a proper lifestyle. While some others still hold onto the perception that exercising is difficult, time-wasting, and boring. With the advance of technology like virtual reality, as not only being used in entertainment, research and education, it is applied in gyms to provide a fun and thrilling exercise. Exercising felt like playing games inside a virtual world, while still burning calories. This creates a new scope of experience to millenials who tend to seek something new, technological, and trend-following. Fitness Center with Virtual Gym Experience implements virtual reality technology as its trademark, and as opposed to conventional gyms. This project aims to elevate the lifestyle quality of community as means of stress-prevention against working demands. The method of design applied is typology. Other than gym, several supporting facilities are present such as food court, communal areas, jogging & cycling track, spa, and retail. AbstrakJakarta memiliki tingkat ekonomi yang tinggi dan terus meningkat. Generasi millennial sebagai masyarakat usia produktif bekerja mulai merasa stress, tertekan, jenuh, emosi, bahkan depresi akibat persaingan ekonomi dan tuntutan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa tindakan pencegahan tingkat stress seseorang dapat dilakukan dengan cara relaksasi diri, rekreasi/ berlibur, melakukan hobi, dan berolahraga. Sayangnya, generasi millennial hanya memiliki sedikit waktu untuk relaksasi dan bersenang-senang. Mereka dihadapkan pada gaya hidup yang sibuk, sehingga mengabaikan kesehatan dirinya, termasuk aktivitas fisik dan kecukupan asupan nutrisi. Dengan adanya kemajuan teknologi, seperti virtual reality tidak hanya sekedar dimanfaatkan dalam dunia hiburan, pendidikan, dan penelitian. Virtual reality ini dapat diterapkan dalam gym, menjadi suatu kegiatan olahraga yang menyenangkan, menantang, dan adiktif. Gym yang dilakukan akan terasa seperti bermain games, seolah-olah berada di dunia penuh imajinasi, padahal secara tidak langsung mereka sudah membakar kalori saat aktif bergerak, sehingga membuat sehat dan bugar. Hal ini tentunya memberi pengalaman baru bagi generasi millennial yang bersifat suka mencoba sesuatu yang baru, mengikuti tren, dan teknologi. Sehingga munculah proyek Fasilitas Kebugaran dengan Pengalaman Gym Virtual. Tujuan proyek untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya sebagai salah satu cara pencegahan stress di tengah kesibukan tuntutan pekerjaan. Metode desain yang digunakan yaitu tipologi. Selain dalam hal gym, di proyek ini juga dilengkapi fasilitas penunjangnya, seperti food court yang menyediakan makanan-makanan sehat, area-area komunal untuk masyarakat bersosialisasi (jogging & bicycle track), dan untuk spa, relaksasi, hiburan, hingga retail.
URBAN TERABITHIA, RUANG RETREAT KAWASAN TAMBORA Edrik Tasbun; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8618

Abstract

Tambora District, which is the most densely populated region in Southeast Asia, is one of the informal sectors in the city of Jakarta. The development of an increasingly capitalist city, so that there are imbalances in the formal and informal sectors, causing social, mental, and other problems. Tambora Retreat Spaces with the Urban Accupunchture architecture approach becomes a forum by creating a new environmental reality for the informal sector to help them strengthen their role in the inner city. This project presents Urban zen garden and biophilic design as a passive media retreat and technology retreat for active media retreats. This place also plays a role in replacing the role of open space and third-places facilities for those who are lost are replaced by residential settlements that are increasingly congested every year. The project also focuses on creating a media for community growth space of all ages and social status in community life, based on the Ville Spatiale concept of Yona Friedman to become a forum for interaction, rehabilitation, and inspirationKeywords: Growth Spaces; Nature; Rehabilitation; Technology AbstrakKecamatan Tambora yang menjadi kawasan dengan tingkat penduduk paling padat se-Asia Tenggara ini, merupakan salah satu area yang didominasi permukiman informal di kota Jakarta. Perkembangan kota yang semakin kapitalis membuat adanya ketimpangan pada sektor formal dan informal, sehingga menimbulkan permasalahan sosial, mental, dan lainnya. Tambora Retreat Spaces dengan pendekatan arsitektur Urban Accupuncture  menjadi  wadah dengan menciptakan sebuah realita lingkungan baru bagi informalitas untuk membantu mereka memperkuat perannya pada bagian di dalam kota. Proyek ini menghadirkan Urban zen garden dan biophilic design sebagai media retreat pasif dan technology retreatment untuk media retreat aktif. Tempat ini juga berperan dalam menggantikan peran ruang terbuka serta fasilitas ruang ketiga bagi mereka yang hilang digantikan oleh permukiman warga yang semakin padat setiap tahunnya. Proyek ini juga berfokus untuk menciptakan sebuah media  ruang tumbuh masyarakat dari segala umur dan status sosialnya dalam kehidupan masyarakat, dengan berlandaskan konsep Ville Spatiale dari Yona Friedman untuk menjadi wadah interaksi, rehabilitasi, dan terinspirasi.
NESTER - WADAH REKREASI DAN KEBUGARAN Jesslyn Sulaiman; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6756

Abstract

According to Ray Oldenburg Third Place, refers to the place where people spend time between home ('first place') and place of work ('second place'). One example of a third place is a recreation center. According to Daniel D. Mclean, recreation can include a very wide variety of activities, including sports. Sports recreation is a type of sport that is intentionally done for personal gain, for fun. Life in a big city, like Jakarta, which is full of activities and routines can cause boredom and mental stress on the community. Based on data from the International Labor Organization, total working hours in a week in Jakarta increased in 2016 with a total of 32 hours compared to total working hours in 2006 of 27 hours and based on research from the Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD), Indonesia was in position 3 with the country with the worst balance between work and life with a figure reaching 14.3%. According to a psychologist, Kartasasmita, M. Psi, work is the highest cause of stress on a person. With Jakarta's condition like that, needed a facility that can accommodate the recreational and fitness needs of the community in the form of Third Place. The aim of this project is to improve the quality of life of urban communities, in terms of physical and psychological health and fitness. The design method used is comparison which refers to the Place theory in Architecture according to Christian Norberg Schulz. The main programs offered in this project include a fitness area, sports studio, spa, sauna, hydrotherapy pool, jogging track, bicycle track, yoga & meditation park, and supporting areas such as sports retail and dining areas. AbstrakMenurut Ray Oldenburg tempat ketiga (Third Place), mengacu pada tempat di mana orang menghabiskan waktu antara rumah ('tempat pertama') dan tempat bekerja (tempat 'kedua'). Salah satu contoh tempat ketiga adalah pusat rekreasi. Menurut Daniel D. Mclean, rekreasi dapat mencakup berbagai kegiatan yang sangat luas, termasuk olahraga. Rekreasi olahraga merupakan jenis olahraga yang sengaja dilakukan untuk kepentingan pribadi, untuk bersenang-senang. Kehidupan di kota besar, seperti Jakarta yang penuh dengan aktivitas dan rutinitas dapat menimbulkan kejenuhan dan tekanan mental pada masyarakatnya. Berdasarkan data dari International Labour Organization, total jam kerja dalam seminggu di Jakarta meningkat pada tahun 2016 dengan total 32 jam dibandingkan dengan total jam kerja pada tahun 2006 yaitu 27 jam dan berdasarkan penelitian dari Organisation For Economic Co-Operation And Development (OECD), Indonesia berada di posisi 3 dengan negara yang paling buruk keseimbangan antara kerja dan kehidupan dengan angka mencapai 14,3%. Menurut seorang psikolog, Kartasasmita, M. Psi, pekerjaan merupakan penyebab stress tertinggi pada seseorang. Dengan kondisi Jakarta yang seperti itu, diperlukan sarana yang dapat mewadahi kebutuhan rekreasi dan kebugaran masyarakat berupa Third Place. Tujuan proyek ini untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan, dalam hal kesehatan dan kebugaran baik fisik maupun psikis tubuh. Metode desain yang digunakan yaitu komparasi yang mengacu kepada teori Place dalam Arsitektur menurut Christian Norberg Schulz. Program utama yang ditawarkan pada proyek ini terdapat area fitness, studio olahraga, spa, sauna, hydrotherapy pool, jogging track, bicycle track, yoga & meditation park, dan area penunjang seperti sport retail dan tempat makan. 
MUSEUM ARSITEKTUR JAKARTA DI KAWASAN MEDAN MERDEKA TIMUR Nicholas Nicholas; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4405

Abstract

As time went on, the Museum in the city of Jakarta was still limited. The works exhibited remain the same and tend not to be interactive. Most museums in Jakarta try to show the historical side of Dutch colonialism and their heritage. but there is no museum that discusses how architecture in the city of Jakarta has developed rapidly until now and left its story or history. In the historical exposures of its growth, where the city government alternates and the conditions of its society are very diverse. But in its journey to a more modern era, there needs to be a change to the concept of the museum. The decline in the number of visits to the museum should be a concern that the millennial generation has begun to abandon the trend of traveling to museums because the museum is considered too old and undeveloped. The presence of the Jakarta architecture museum tells the story of the architectural journey of the city of Jakarta which has developed since the Dutch colonial era to the present. The design of the Museum which is located in the East Merdeka area is directly adjacent to the old building which has historical value, the Immannuel Church and the National Gallery; In addition, this region is connected in one tourism path that is being developed, from the Istiqlal Mosque and the Cathedral Church (which has historical architectural value) to the Proclamation Monument on the Proclamation Road. With a relationship between two destination points. The project also interacts with its surroundings as a comfortable place with open space for the surrounding community. The general program is supported by space 3.0 in the form of amphitheater, which can be accessed by various groups both horizontally and vertically. This project is expected to increase the insight and interest of visitors to study architecture and its role in building cities. AbstrakSeiring berjalanya waktu, Museum di kota Jakarta masih tetap terbatas. Karya karya yang dipamerkan tetap sama dan cenderung tidak interaktif. Kebanyakan museum di Jakarta mencoba menampilkan sisi historis dari penjajahan Belanda dan peninggalannya. namun belum ada museum yang membahas bagaimana arsitektur di kota Jakarta berkembang pesat sampai sekarang dan meninggalkan cerita atau sejarahnya. Dalam paparan sejarah pertumbuhannya, dimana pemerintah kotanya silih berganti dan kondisi masyarakatnya sangat majemuk. Namun dalam perjalanannya menuju era yang lebih modern, perlu adanya sebuah perubahan terhadap konsep museum. Menurunya angka kunjungan ke museum harus menjadi perhatian bahwasanya generasi milenial mulai meninggalkan tren berwisata ke museum karena museum dinilai terlalu tua dan tidak berkembang. Hadirnya museum arsitektur Jakarta bercerita gambaran perjalanan arsitektur kota Jakarta yang berkembang sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Perancangan Museum yang terletak di kawasan Merdeka Timur berbatasan langsung dengan bangunan tua yang memiliki nilai sejarah, Gereja Immannuel dan Galeri Nasional; Selain itu kawasan ini terhubung dalam satu jalur pariwisata yang sedang di kembangkan, dari Masjid Istiqlal dan Gereja katedral (yang mana memiliki nilai historis arsitektur) hingga Tugu Proklamasi di jalan Proklamasi. Dengan adanya satu hubungan lingkage antar dua titik tujuan. Proyek ini juga berinteraksi dengan sekitarnya sebagai tempat yang nyaman dengan ruang terbuka untuk masyarakat sekitar. Program kemduian didukung dengan ruang 3.0 yang berupa amphiteather, dimana dapat di akses oleh berbagai kalangan baik secara kelas horizontal maupun vertikal. Proyek ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun minat pengunjung untuk mempelajari arsitektur dan peranannya dalam membangun kota.
STUDI PROGRAM BANGUNAN BERDASARKAN KARAKTER KAWASAN DAN PENGARUH CAHAYA PADA MASSA BANGUNAN Andreas Christian; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8558

Abstract

The era of disruption has made it easier to live individually. The city center is a place of rapid development. Life that has a dense activity and individualistic society reduces the quality of social interaction in society. Kelurahan Rawa Barat, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan is an area that is filled with formal working communities. Boarding houses that are the first place for the community become the character of the region. Lack of interaction space makes society individualistic and stressful due to the poor quality of social interaction. Stress Relief Light House as a third place to relieve stress for the people of Kelurahan Rawa Barat. The building uses light as a support element to form spaces for therapy and as part of the third space for socializing. Communities can release stress and express themselves in buildings to improve the quality of socialization in the area. Workers can use the building as a place to work as well as a place to gather and play so that the building can be an antidote to busy lives in urban areas and create a warm relationship in the community. Keywords: Individualistic; interaction; light; quality; stress AbstrakPerkembangan jaman yang begitu pesat mengakibatkan semakin mudahnya untuk hidup secara individualistis. Pusat kota menjadi tempat yang sangat cepat perkembangannya. Kehidupan yang memiliki aktivitas padat dan masyarakat yang individualistis mengakibatkan kurangnya dan menurunnya kualitas interaksi sosial pada masyarakat. Kelurahan Rawa Barat, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan merupakan kawasan yang dipenuhi dengan masyarakat pekerja formal. Kost-kostan yang menjadi tempat pertama bagi masyakrakat ini menjadi karakter dari kawasan. Kurangnya ruang interaksi menjadikan masyarakat yang individualistis dan stress akibat kualitas interaksi sosial yang buruk. Rumah Cahaya Pelepas Stress hadir sebagai tempat ketiga untuk melepaskan stress bagi masyarakat Kelurahan Rawa Barat. Bangunan menggunakan bantuan cahaya sebagai elemen yang mendukung terbentuknya ruang-ruang untuk terapi dan sebagai bagian dari ruang ketiga untuk bersosialisasi. Masyarakat dapat melepaskan stress serta berekspresi di dalam bangunan untuk meningkatkan kualitas sosialisasi di dalam kawasan. Para pekerja juga dapat menjadikan bangunan sebagai tempat bekerja serta tempat berkumpul dan bermain sehingga bangunan dapat menjadi penawar kehidupan yang sibuk di perkotaan dan menciptakan hubungan yang hangat dalam masyarakat.
PUSAT KEGIATAN MANUFAKTUR BERSAMA Pascalis Arya; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4461

Abstract

Millennials are the dominant generation population in today's productive age. After conducting a study of this generation, one of the prominent characteristics of millennial is its interest in climate change and the environment. Another prominent characteristic is entrepreneurship as the fourth most important priority for millennials in the future. Current environmental issues are still a topic for discussion, especially the problem of plastic waste. According to data stated in the 2018 Indonesian Environment Statistics, DKI Jakarta produces 7,165.53-tonnes of waste in 2018. According to the DKI Jakarta Provincial Sanitation Office, organic waste, paper and plastic are the largest compositions produced with a percentage of each, 53.75 %, 14.92% and 14.02%. This shows that the use of plastic is still dominant in Jakarta. The Head of the DKI Jakarta Environment Agency also stated that the TPST Bantargebang will be full in 2011, so reducing the amount of waste is an urgency in Jakarta. Responding to this, the Shared Manufactory Hub, became a vessel to increase awareness of non-wasteful lifestyles and reduce waste, as well as awareness to use recycled materials. The Shared Manufactory Hub is also a place for millennials, individuals and communities, to collaborate in designing and building innovative products made from recycled plastic. Shared Manufactory Hub is located close to the DKI Jakarta Waste Bank as a supplier of raw plastic waste. This manufacturing center provides a variety of related facilities, ranging from idea search, design, production, to publication. The synergy between industry and manufacturing allows the development of manufacturing businesses to become easier because of the ease of obtaining the basic ingredients for making innovative products.AbstrakGenerasi milenial merupakan populasi generasi yang dominan di usia produktif saat ini. Setelah melakukan studi mengenai generasi ini, salah satu karakterisik yang menonjol dari milenial adalah minatnya terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Karakterisik yang menonjol lainnya adalah kewiraswastawan sebagai prioritas peringkat keempat terpenting bagi milenial di masa depan. Isu lingkungan saat ini masih menjadi topik hangat untuk dibicarakan, terutama masalah sampah plastik. Menurut data yang tertera pada Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2018, DKI Jakarta memproduksi 7.165,53 ton sampah pada tahun 2018. Menurut Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, sampah organik, kertas dan plastik merupakan komposisi paling besar yang diproduksi dengan persentasi masing-masing, 53.75%, 14.92%, dan 14.02%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan plastik masih dominan di Jakarta. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga menyatakan bahwa TPST Bantargebang akan penuh pada tahun 2011, maka pengurangan jumlah sampah merupakan sebuah urgensi di Jakarta. Menanggapi hal tersebut, Pusat Kegiatan Manufaktur Bersama, menjadi sebuah wadah untuk meningkatkan kepedulian akan pola hidup yang tidak boros dan mengurangi sampah, serta kesadaran untuk memakai bahan daur ulang. Pusat kegiatan ini juga menjadi wadah bagi generasi milenial, individu maupun komunitas, untuk berkolaborasi dalam merancang dan membangun produk inovatif berbahan dasar plastik daur ulang. Pusat Kegiatan Manufaktur Bersama berlokasi dekat dengan Bank Sampah Induk DKI Jakarta sebagai supplier sampah plastik mentah. Pusat kegiatan manufaktur ini menyediakan berbagai macam fasilitas yang berhubungan, mulai dari pencarian ide, perancangan, produksi, hingga publikasi. Adanya sinergi antara industri dengan manufaktur memungkinkan pengembangan usaha manufaktur menjadi lebih mudah karena kemudahan memperolah bahan dasar pembuatan produk inovatif.
GENERASI ALPHA : TINGGAL DIANTARA Raymond Arnold Manuel; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10468

Abstract

The current Alpha generation is the youngest generation born in 2011 with an increasingly advanced technological approach, its familiarity with the world of technology is inseparable, but the Alpha generation classification does not materialize because there is no equitable distribution of education, facilities, and systems that are left behind. The urban village community experiences gaps so that some have to adapt to their abilities. This study uses an experimental material method using nails and magnets to create a unique spatial space. The resulting reaction becomes a metaphor for the movement of the Kampung Kota community in Jakarta which interacts with each other as a value for information exchange and the closeness that occurs. This is the basic concept of the experiment that has succeeded in making organic spaces for urban villagers, especially the Alpha generation who have adapted to the times.The experience that the author shares is a thought of planning for the future as an answer to "The future of living based on today". Typology of buildings designed and using material for design becomes learning material for future Living Architecture. Where technological advances create new problems about the disorder behind the modern city.  Keywords:  Alpha; Experiment; Urban Village AbstrakGenerasi Alpha saat ini merupakan generasi termuda lahir di tahun 2011 dengan pendekatan teknologi yang sudah semakin maju, kebiasaanya yang lekat dengan dunia teknologi sudah tidak bisa dipisahkan, namun klasifikasi generasi Alpha tidak terwujud karena tidak adanya pemerataan pendidikan, fasilitas, serta sistem yang tertinggal. Masyarakat kampung kota mengalami kesenjangan sehingga sebagian harus beradaptasi dengan kemampuannya. Penelitian ini menggunakan metode experiment material menggunakan paku dan magnet sehingga membuat spatial ruang yang unik. Reaksi yang dihasilkan menjadi metafor pergerakan masyarakat Kampung Kota di Jakarta yang saling berinteraksi sebagai nilai tukar informasi serta kedekatan yang terjadi. Hal ini sebagai konsep dasar experiment yang berhasil membuat ruang organik untuk masyarakat kampung kota khususnya generasi Alpha yang telah beradaptasi dengan perkembangan jaman. Pengalaman yang penulis bagikan merupakan sebuah pemikiran perencanaan dimasa mendatang sebagai jawaban dari “Masa depan berhuni berbasis hari ini”. Tipologi bangunan yang dirancang dan penggunaan material terhadap perancangan menjadi bahan pembelajaran terhadap Arsitektur Berhuni dimasa depan. Dimana kemajuan teknologi menimbulkan masalah baru tentang disorder (kekacauan) dibalik kota modern.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN OBJEK WISATA PANTAI PANDAWA OLEH BUMDA KUTUH Ryan Andhikautami Oktadesia; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7292

Abstract

The location of this study is in Pandawa Beach, Kutuh Village, Kuta Selatan District, Badung Regency, Bali Province. Pandawa Beach which is carried out by a community-owned traditional village institution, BUMDA Kutuh. To get the success factors in managing Pandawa Beach tourism object by BUMDA Kutuh, it is done through analyzes. This analysis includes policy analysis from the Government and from the Customary Village related to the management of Pandawa Beach, analysis of the existing attraction that is owned by Pandawa Beach, analysis of the conditions of the management and assessment as well as satisfaction of visitors coming to Pandawa Beach, analysis of providers and local communities of management carried out at Pandawa Beach, analysis of the benchmarks of successful management based on community-based tourism, and analysis of the appropriateness of the factors of success management with community-based research related to research supported by Pandawa Beach attractions. To achieve these objectives, an analysis is carried out using analytical tools such as descriptive analysis, analysis diagram of the Cartesian analysis, and CSI. Pandawa Beach by BUMDA Kutuh is owned by Kutuh Customary Village. Keywords: benchmarks of success; community based tourism; success factors Abstrak Lokasi penelitian ini berada di Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari faktor – faktor keberhasilan dari pada pengelolaan objek wisata Pantai Pandawa yang dilakukan oleh lembaga Desa Adat milik masyarakat yaitu BUMDA Kutuh. Untuk mendapatkan faktor – faktor keberhasilan pengelolaan objek wisata Pantai Pandawa oleh BUMDA Kutuh dilakukan melalui analisis – analisis. Analisis tersebut antara lain analisis kebijakan dari Pemerintah maupun dari Desa Adat terkait pengelolaan Pantai Pandawa, analisis daya tarik eksisting yang dimiliki oleh Pantai Pandawa, analisis kondisi dari pada pengelolaan dan persepsi serta kepuasan dari sisi pengunjung yang datang ke Pantai Pandawa, analisis pengelola dan masyarakat lokal terhadap pengelolaan yang dilakukan di Pantai Pandawa, analisis tolok ukur keberhasilan pengelolaan berbasis community based tourism, dan analisis kesesuaian antara faktor - faktor keberhasilan pengelolaan dengan pariwisata berbasis masyarakat berdasarkan penelitian terdahulu dengan pengelolaan yang dimiliki oleh objek wisata Pantai Pandawa. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan beberapa analisis dengan menggunakan alat analisis seperti alat analisis deskriptif, alat analisis diagram kartesisus, dan CSI. Sehingga hasil dari analisis tersebut dapat digunakan untuk membuat rekomendasi faktor – faktor yang menentukan keberhasilan dari pengelolaan objek wisata Pantai Pandawa oleh BUMDA Kutuh milik Desa Adat Kutuh.
ARSITEKTUR PANGGUNG DAN PERMAKULTUR DEKAT KAMPUNG MARLINA Nicholaus Stefanus; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10898

Abstract

In 2050, several areas in Jakarta are predicted to sink, especially in the Northern, that have experienced significant subsidence in the ground level. One of the inhabited areas that need to be considered in the future is Kampung Kota in a coastal area. Most of the Kampung Kota currently have a high building density and minimal green space. Here, the place to face the overflowing water from the sea, Kampung Marlina. Marlina is an extension of the residential area for people working in the Sunda Kelapa and Kota Tua areas (1980). In the past, the residents' houses were the Stilt Houses, residents can preserve fish under the house and it became the habit of the residents there, then it dissapear by time. Stilt Architecture is designed to accommodate the activities of the citizens of Jakarta in facing the phenomenon of the Jakarta Sinking in 2050 with the issue of tidal flooding from the sea. Using permaculture design theory, the site pattern was studied and then placed the waterways to adjust to the drainage in Kampung Marlina. Then using the Urbanism Landscape Method, Program Method and raising the habits of the residents, the building is designed like a stage by presenting the concept of a pond below, so that it serves to anticipate flooding from the sea, as well as a means for residents to cultivate seagrass beds and small fish and shrimp. In areas equipped with permaculture gardens on the edges of these airways. The garden is planted with plants with high water absorption. In the area there is a research building and lodging for researchers or students.Keywords:  coastal; kampung kota residents; kampung marlina; permaculture; rob floodAbstrakPada tahun 2050, beberapa daerah di Jakarta diprediksi akan tenggelam, khususnya pada bagian Utara. Hal ini ditandai oleh daerah-daerah yang telah mengalami turunnya permukaan tanah secara signifikan. Salah satu kawasan berhuni yang perlu diperhatikan di masa depan adalah Kampung Kota di daerah pesisir. Sebagian besar Kampung Kota saat ini memiliki kepadatan bangunan yang tinggi serta minim ruang hijau. Di sini, tempat yang pertama kali akan menghadapi luapan air dari arah laut, Kampung Marlina. Kampung Marlina merupakan perluasan daerah bermukim untuk masyarakat yang bekerja di daerah Sunda Kelapa dan Kota Tua (1980). Dahulu rumah-rumah warga merupakan Rumah Panggung, yang di bawah rumah tersebut warga dapat memelihara ikan dan menjadi suatu kebiasaan warga di sana, kemudian ditinggalkan seiring berjalannya waktu. Arsitektur Panggung ini dirancang demi tujuan mewadahi aktivitas warga Jakarta dalam menghadapi fenomena Tenggelamnya Jakarta di tahun 2050 dengan isu luapan air/banjir rob dari arah laut. Menggunakan teori desain permakultur, pola tapak distudi dan kemudian menempatkan jalur-jalur air menyesuaikan dengan drainase pada Kampung Marlina. Kemudian menggunakan metode Landscape Urbanism, metode Program dan mengangkat kebiasaan dahulu warga, bangunan dirancang seperti panggung dengan menghadirkan konsep kolam di bawahnya, sehingga selain berfungsi mengantisipasi banjir rob dari laut, juga sebagai sarana warga membudidayakan padang lamun serta ikan kecil dan udang. Pada kawasan dilengkapi dengan kebun permakultur pada tepi jalur-jalur air tersebut. Kebun tersebut ditanami tanaman dengan penyerapan air yang tinggi. Pada kawasan terdapat bangunan riset serta tempat penginapan untuk para periset ataupun pelajar.

Page 28 of 134 | Total Record : 1332