cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PERANCANGAN WADAH KREATIF DAN EDUKATIF REMAJA DENGAN METODE ARSITEKTUR KESEHARIAN DAN RESPOND TO SITE DI JOHAR BARU Jennifer Eugenia; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10749

Abstract

The high level of population density in DKI Jakarta affects the level of population welfare, so that it can trigger various forms of social conflict, such as crime, high unemployment, environmental damage and poverty. Johar Baru Subdistrict was chosen because it is an area that is often involved in brawls between teenagers and adults. To get around this situation, a change is needed by changing daily patterns with activities that are expected to form a positive character and can give hope to Johar Baru youth so that they can improve the quality of life. This study uses everydayness architectural methods and respond to site methods as a basis for producing creative and educational design concepts that can provide hope for Johar Baru youth so that they can have big dreams and strong motivation, become productive, open, dynamic, and creative individuals as awareness, empowerment and fostering of communities in densely populated areas in the framework of creating security, preventing brawls, strengthening brotherhood, mutual cooperation and a clean and healthy environment. So that in the future it can become a facilities for positive activities to improve character, maximize potential, and increase productivity through skills training workshops, motivational activities, and art deepening activities according to talent interests. Keywords:  brawls; population density; social interaction; youth AbstrakTingginya tingkat kepadatan penduduk di DKI Jakarta dapat memicu berbagai bentuk konflik sosial yang mempengaruhi kesejahteraan penduduk seperti tindak kriminalitas, tingkat pengangguran yang tinggi, kerusakan lingkungan serta kemiskinan. Kecamatan Johar Baru dipilih karena merupakan wilayah yang sering terlibat dalam aksi tawuran antar warga baik remaja maupun orang dewasa. Untuk menyiasati keadaan ini perlu dilakukan perubahan dengan cara mengubah pola keseharian dengan kegiatan yang dapat membentuk karakter yang positif dan dapat memberi harapan bagi remaja Johar Baru sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Studi ini menggunakan metode arsitektur keseharian dan respond to site sebagai dasar untuk menghasilkan konsep perancangan wadah kreatif dan edukatif yang dapat memberikan harapan untuk remaja Johar Baru. Melalui konsep tersebut remaja Johar Baru dapat mempunyai mimpi besar dan motivasi yang kuat, menjadi pribadi yang produktif, terbuka, dinamis, dan kreatif sebagai penyadaran, pemberdayaan dan pembinaan terhadap masyarakat di kawasan padat penduduk dalam rangka menciptakan keamanan, mencegah tawuran, mempererat persaudaraan, gotong-royong serta lingkungan yang bersih dan sehat.  Wadah ini kedepannya dapat menjadi sarana kegiatan positif untuk memperbaiki karakter, memaksimalkan potensi, serta meningkatkan produktivitas melalui kegiatan workshop pelatihan keahlian, kegiatan motivasi, dan kegiatan pendalaman seni sesuai minat bakat.
Galeri Obat Tradisional dan SPA Anastasia Wijayaputri; Eduard Tjahjadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3985

Abstract

Dalam buku Architectural Tourism - Building for Urban Travel Destinations oleh Jan Specht, dikatakan bahwa arsitektur memiliki di peran berbeda dalam pariwisata di perkotaan, yaitu sebagai arsitektur wisata (tourism architecture) dan wisata arsitektur (architectural Tourism). Wisata arsitektur mengacu pada arsitektur sebagai daya tarik wisata. Menurut World Health Organization (WHO), masyarakat dunia saat ini memiliki kecenderungan untuk kembali ke alam (back to nature) dalam hal menjaga, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya,  dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional yang salah satunya adalah pijat. Pijat sendiri sudah dikenal di Indonesia sejak berabad-abad lalu. Pijat merupakan pengobatan tradisional Indonesia yang dilakukan turun temurun berdasarkan warisan leluhur, tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Selain dengan pijat tradisional, peningkatan kecantikan dan kesehatan juga dapat dilakukan melalui konsumsi obat tradisional, yang dikenal di Indonesia sebagai jamu. Dari hasil survei yang dilakukan oleh kementerian perdagangan, dapat dilihat bahwa masyarakat dan pemerintah sependapat bahwa jamu merupakan produk budaya bangsa Indonesia yang patut dilestarikan. Proyek ini sejalan dengan program Kementerian Perdagangan “Jamu Indonesia Maju 2020” untuk meningkatkan pasar jamu di Indonesia dan mewujudkan jamu brand Indonesia serta peningkatan bisnis SPA di Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat menjadi wisata arsitektur di Jakarta yang dapat menarik turis maupun warga Jakarta, sebagai tempat rekreasi dan relaksasi yang dapat mengedukasi dan meningkatkan kecintaan mereka terhadap Obat Tradisional Indonesia.
TAMAN BELAJAR MAHASISWA DI GROGOL Devina Nathania; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6844

Abstract

Technology has been advancing at an incredible pace and has been affecting many things, including the education system. Grogol ,as an education area, is the place where there are three Campus: TRISAKTI, UNTAR, UKRIDA. The students that have lived with advanced technology have a different education system and studying pattern if we compare it with the older generation. The shifting ways of how these students learn require facility to support the transformation. The existing facilities are limited in numbers, type of spaces, and access which requires a flexible learning space that has many varieties and can be accessible at all times. Learning Commons at Grogol provides some facilities that supports the student's learning process. This building form consists of circles and curves as its basic shape to reduce the image of boring and unattractive learning process that is usually done in the square-shaped classrooms in the area. The Learning Commons area, workshop area, library, dance studio, theater, presentation room, etc are designed based on that changing pattern. Studying together is substantial, where students can study by doing presentation/ sharing, discussions, and tutoring. There are also other supporting facilities such as copy machine and printing area, canteen, and stationary store. AbstrakSeiring berjalannya waktu, kita dapat melihat bahwa teknologi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan teknologi ini membawa banyak perubahan pada berbagai bidang, salah satunya pada bidang pendidikan. Grogol merupakan sebuah kawasan pendidikan, tempat berdirinya tiga perguruan tinggi yaitu TRISAKTI, UNTAR, dan UKRIDA. Para mahasiswa yang mengemban pendidikan di kampus-kampus ini memiliki pola belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya karena kemudahan akses informasi. Namun, di dalam kawasan Grogol sendiri masih memiliki keterbatasan fasilitas belajar. Keterbatasan jumlah, jenis, dan aksesibilitas tempat belajar serta perubahan sistem pendidikan menuntut sebuah tempat belajar fleksibel yang dengan mudah dapat diakses kapan saja. Taman Belajar Mahasiswa di Grogol menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar mahasiswa yang ada pada kawasan Grogol. Bangunan ini didesain dengan bentuk dasar lingkaran untuk mengubah pandangan para mahasiswa terhadap ruang belajar yang membosankan (ruang kelas yang tersedia di dalam kawasan kebanyakan bersifat monoton dengan bentuk kotak dan pola yang serupa). Ruangan - ruangan seperti ruang kerja bersama, ruang workshop, perpustakaan, Studio dansa, theater, ruang presentasi, dll didesain berdasarkan pola belajar mahasiswa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Banyaknya kebutuhan berkumpul untuk belajar menjadi salah satu aspek yang ditekankan dalam proyek ini (belajar bersama dengan cara presentasi, berdiskusi, dan tutoring). Selain itu, disediakan juga beberapa fasilitas penunjang berupa alat fotocopy dan print, kantin, dan juga toko perlengkapan untuk mendukung kegiatan belajar mahasiswa di dalam kawasan. 
PENERAPAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN BELAJAR YANG IDEAL PADA TEMPAT BELAJAR BIO-TEK KEBON JERUK Nicholas Denny Dharmawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10872

Abstract

The world is currently faced with an era of technological disruption in the 4.0 industrial revolution which is marked by the emergence of Big Data, Artificial Intelligence, industrial autonomization, IoT, and others. Those things bring benefits and problems that must be overcome. The impact of this innovation can be felt by all groups, not only adults, rich people, entrepreneurs, people expert in technology, teenagers, and even children today. Humans need to adapt and mitigate these changes in order to survive in this condition, one of which is through education. The world of education needs to shift the education system because currently the condition of education, especially schools, is still using learning methods like the 2.0 era so that is is not suitable in this 4.0 era. The education strategy to face the era of the industrial revolution 4.0 is to immediately increase the capabilities and skills of human resources, equipped with invisible abilities, such as personal skills, global thinking, digital literacy, critical thinking, problem solving, communication, collaboration and. Advancement of information technology-based education will answer the challenges of industry 4.0. Kebon Jeruk Bio-Tech Learning space is a place for learning that is more flexible and suitable for building student character and creativity. Room quality, configuration and facilities must be adapted to the us of technology that is currently increasing. There is also need of special guidance from the community in responding to the increasing popularity of technology  in this era of disruption, increase the closeness between general citizens in anticipating the negative effects of technology. Keywords:  dwell; education ; industrial revolution 4.0 ; learning space    AbstrakDunia saat ini tengah dihadapkan dengane era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan munculnya Big Data, Aritificial Intelligence, otonomisasi industri, IoT, dan lain-lain. Hal tersebut membawa segala kemajuan dan masalah yang harus dilalui. Dampak kecanggihan ini dapat dirasakan semua kalangan, bukan hanya orang dewasa, orang kaya, pengusaha, orang-orang ahli bidang teknologi, remaja bahkan anak-anak saat ini. Manusia perlu beradaptasi dan mitigasi di tengah perubahan ini agar tetap dapat dwell di kondisi ini, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan perlu menggeser sistem pendidikannya karena saat ini kondisi pendidikan khususnya sekolah masih menggunakan metode belajar seperti era 2.0 sehingga dirasa kurang sesuai di era 4.0 ini. Strategi pendidikan menghadapi era revolusi industri 4.0 adalah segera meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dilengkapi dengan kemampuan tak kasat mata, seperti keterampilan interpersonal, berpikir global, literasi digital, berpikir kritis, pemecahan masalah, kemampuan berkomunikasi, kolaborasi dan kreativitas. Kemajuan pendidikan berbasis teknologi informasi akan menjawab tantangan industri 4.0. Kebon Jeruk Bio-Tech Learning space merupakan tempat belajar yang dirancang dengan metode linkungan belajar yang ideal, ruang sebagai guru ke-3, neuroarsitektur, dan biofilik desain dimana menghasilkan ruangan  lebih fleksibel, kolaboratif dan sesuai untuk membangun karakter dan kreativitas para murid. Kualitas ruang, konfigurasi ruang, dan fasilitas juga disesuaikan dengan penggunaan teknologi yang akan semakin berkembang.  Perlu juga adanya bimbingan khusus dari masyarakat dalam menyikapi semakin maraknya teknologi di era disrupsi ini, meningkatkan kedekatan antar warga umum dalam mengantisipasi dampak buruk teknologi.
RESORT BERBASIS KAWASAN KONSERVASI Gerald Grimaldy; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3975

Abstract

Di era kota metropolitan yang terus terjadi pembangunan di segala hal yang tak terhentikan ini, dampak negatif mulai bermunculan, daerah-daerah yang harusnya di pertahankan pun habis bila kepentingannya tidak di anggap penting lagi,peraturan tentang daerah konservasi telah dibuat namun tetap tidak memberhentikan laju pengembangan tersebut. Daerah hijau yang menjadi paru-paru kota metropolitan pun sedikit demi sedikit habis menunggu waktu. Selain habisnya paru-paru kota, masyarakat sekitar baru menyadari bahwa pentingnya ruang hijau untuk melegakan pikiran,dengan sifat masyarakat kota yang memiliki mobilitas tinggi terhadap pekerjaaan,kurangnya hiburan untuk refreshing sangatlah kurang. Dari masalah-masalah yang di temukan penulis,proyek ini penulis usulkan,yaitu tentang Daerah Konservasi Berbasis Resort. Konservasi mangrove pun menjadi pilihan utama karena dilihat dari sejarahnya,hutan mangrove yang sebenarnya memiliki banyak manfaat akan habis jika tidak di konservasi yang dapat menghilangkan paru-paru kota ini.  Pemecahan masalah terhadap rusaknya ekosistem mangrove pun di akali dengan kegiatan konservasi yang harus di dukung oleh berbagai pihak,dari pemerintah,swasta,masyarakat kota jakarta sampai unit terkecil,yaitu masyarakat daerah sekitar.
TEMPAT BEKERJA DAN TINGGAL UNTUK KAUM MILENIAL Arvian Arvian; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4449

Abstract

The problem of stress on the Generation of Milenial in Jakarta which is caused by the problems of conventional work space and also the problem of commuter has been very much. But there is no good solution to solving the problem. Therefore this study chose a Co-Living facility. This study aims to produce sensual space that can bring the atmosphere of facility users to get a feeling that is suitable for doing activities. This study uses a literature typology method on spatial psychology and architectural dimensions that affect the human senses in a space. This Co-Living facility includes Co-Living area facilities to be a solution for Commuters who live far away or want to get a cheap and affordable temporary resting place. Co-Working Space for Generations of Milenial who want to have a start-up or even become a place to do activities together. Learning Center to meet the needs of those who want to learn certain soft skills to fulfill each individual's skills. Each room also concerns other architectural elements such as material and lighting.AbstrakPermasalahan tentang stress terhadap Generasi Milenial di Jakarta yang di sebabkan oleh masalah ruang kerja yang konvensional dan juga masalah commuter sudah sangat banyak. Namun belum ada solusi yang baik terhadap penyelesaian masalah tersebut. Karena itu penelitian ini memilih sebuah fasilitas Co-Living. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan ruang sensual yang dapat membawa atmosfer pengguna fasilitas mendapatkan perasaan yang cocok untuk melakukan aktivitas. Penelitian ini menggunakan metode tipologi literatur tentang psikologi keruangan dan dimensi – dimensi arsitektural yang mempengaruhi indera manusia di dalam sebuah ruang. Fasilitas Co-Living ini meliputi fasilitas Co-Living area untuk menjadi solusi bagi para commuter yang tinggal jauh atau ingin mendapat tempat istirahat sementara yang murah dan terjangkau. Co-Working Space untuk Generasi Milenial yang ingin memiliki start-up atau sekerdar menjadi tempat untuk beraktifitas bersama. Learning Center untuk memenuhi kebutuhan mereka yang ingin mempelajari soft-skill tertentu untuk memenuhi skill masing – masing setiap individu. Pada setiap ruang juga memperhatikan elemen – elemen arsitektural lainnya seperti material dan pencahayaan.  
EKSPLORASI RUANG EDUKASI KREATIF DALAM WUJUD THIRD PLACE DENGAN METODE KONTEKSTUAL DI KAWASAN HUNIAN PADAT MANGGARAI Cakra Wirabuana Shelo; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8536

Abstract

Excessive population growth and urbanization to the city are causing a dense residential area in the city of Jakarta. In this discussion, the area that is the center of attention is Manggarai, South Jakarta, seen from the number of dense residential that stands along the banks of the river and around the station. The problem of limited area in the residential causes terraces and the local road to be used as a place of interaction between citizens, which can cause disturbance to the area of residential privacy and resident movement. Garbage collection facilities in the area are also not well managed in terms of the number of garbage piles in residential areas. The study of the discussion is a recreational public building that can accommodate the interaction of dense residential communities. The purpose and benefits of this project are to create a form of space to interact and release stress between communities by responding to the issue of waste management in the form of Open Architecture and Third Place. Data methods were obtained from field observations, as well as literature studies on contextual architecture as a response to design in dense residential areas. The results of this study produced an architectural building with a program of a creative workshop from waste recycling that could accommodate community interactions in a creative way as well as waste management education for the community. Keywords:  contextual; creative; dense residential; education; recreation Abstrak Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi ke pusat kota yang berlebih menyebabkan terjadinya area hunian padat di Kota Jakarta. Dalam pembahasan ini, wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan, terlihat dari banyaknya hunian padat kumuh yang berdiri di sepanjang pinggiran sungai dan sekitar stasiun. Permasalahan keterbatasan lahan pada permukiman menyebabkan teras hunian serta jalan lalu lintas setempat dijadikan tempat berinteraksi antar warganya yang dapat menimbulkan gangguan terhadap area privasi hunian maupun lalu lintas pergerakan warga. Fasilitas penampungan sampah pada kawasan padat juga belum terkelola dengan baik ditinjau dari banyaknya titik penumpukan sampah pada kawasan hunian padat. Lingkup pembahasannya adalah mengenai bangunan publik rekreatif yang dapat menampung interaksi masyarakat hunian padat. Tujuan dan manfaat dari proyek ini, adalah menciptakan wujud ruang antara untuk berinteraksi dan melepas penat antar masyarakat dengan merespon isu manajemen sampah pada kawasan dalam wujud Open Architecture dan Third Place. Metode pengumpulan data diperoleh dari observasi lapangan, serta studi literatur mengenai arsitektur kontekstual sebagai respon perancangan desain pada kawasan hunian padat. Hasil dari penelitian ini sendiri menghasilkan suatu bangunan arsitektur dengan program fungsi lokakarya kreatif dari daur ulang sampah yang dapat menampung interaksi warga secara rekreatif sekaligus edukasi manajemen sampah bagi masyarakat.
INKUBATOR KOTA Marcellus Rafi; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4580

Abstract

Social relation in human life fades subconsciously. Millennial which known for its tendency to always collaborate, is also not even try to synergize the compartmentalized way of life in a contrasted social-economic class. Even architects, most prefer to wrestle with fantastic designs rather than inovate the social interrelation. As a result, the city of Jakarta is filled with magnificent buildings with the principle of "Follow Finance Form". Responding to the issue, this project has a vision to see architecture from another perspective by putting forward the idea of "Sustainability in Society". Through research methods, 'Spatial Agency' and 'Everyday Urbanism', accompanied by a design method 'Hybridization of Architectural Programming'; The type of building is expected to be able to represent the sensitivity of an architect in seeing socio-spatiality with the depth of thinking. The content is correspondingly which consists of: public space, food market, community learning space, and living food farming. The four programs emerged from research results and methodologies, based on collaborative and synergy principles, become a  prototype of new city elements integrated with old elements around it. Able to contribute fully to the community to foster a balance between the natural environment that has been dominated and contaminated by manmade environment. The results of this project show that with the sharpness of thinking and sensitivity, architecture can contribute to the efforts of human welfare in different social and economic conditions while maintaining environmental sustainability for the better sustainability of the city in the future.AbstrakKeterhubungan sosial dalam kehidupan manusia semakin memudar dalam alam bawah sadar. Generasi Milenial yang dikenal dengan kecenderungan selalu berkolaborasi, pun tidak acuh untuk menyinergikan berbagai golongan ekonomi-sosial yang kontras. Begitpun arsitek, sebagian besar lebih memilih untuk menggeluti desain yang fantastis dengan bentukan yang melintir daripada interelasi terhadap sosial. Alhasil Kota Jakarta saat ini yang dipenuhi dengan bangunan pencakar langit dan mal megah dengan asas “Form Follow Finance”. Menanggapi isu tersebut, proyek ini memiliki visi untuk melihat arsitektur dengan mengedepankan ide “Sustainability in Society”. Melalui metode riset ‘agen keruangan’ dan ‘keseharian berurbanisme’, disertai metode desain ‘Hybridization of Architectural Programming’; Jenis bangunan yang dirancang diharap mampu merepresentasi kepekaan seorang arsitek dalam melihat socio-spatialitas dengan kedalaman berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan. Hingga doperoleh kontent ruang yang terdiri dari: Public space, food market, community learning space, dan living food farming. Keempat program tersebut muncul atas hasil penelitian dan metodologi yang didasari atas prinsip kolaboratif dan sinergi, menjadi sebuah ‘prototipe’ elemen kota baru yang terintegrasi dengan elemen lama disekelilingnya. Mampu berkontribusi bagi masyarakat untuk mengupayakan keseimbangan antara lingkungan alam yang sudah terdominasi dan terkontaminasi oleh lingkungan buatan. Hasil proyek ini menunjukan bahwa dengan ketajaman berpikir dan kepekaannya, arsitektur dapat turut serta berkontribusi dalam mengupayakan kesejahteraan manusia dalam sosial dan ekonomi yang berbeda sekaligus menjaga kelestarian lingkungan demi lebih baiknya keberlangsungan kota di masa mendatang. 
PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNITAS TEKSTIL DI PIK PULO GADUNG DENGAN PENDEKATAN SISTEM PRODUKSI Vincentius Daniel Christianto; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10723

Abstract

Pulo Gadung industrial area is an industrial area located in East Jakarta, Jatinegara sub-district, Cakung sub-district, East Jakarta city. The PIK Pulo Gadung area was the result of the small industry relocation program in 1981 because in 1966 the industry in the Jakarta area was unable to operate optimally due to the economic situation that occurred at that time. The relocation is in the Pulo Gadung area because of its strategic location and close to major roads such as the Klender-Bekasi highway which makes it easy to access raw materials and the process of marketing industrial products. Along with the increase in immigrants and the lack of control in managing small industries, many people cannot take advantage of the existing potential and lack of training so that it ends with increasing unemployment in big cities. The problem encountered in the Pulogadung Small Industrial Village industrial area is the absence of training institutions around the industry and facilities such as galleries or places to present industrial products so that newcomers cannot find out more about matters surrounding the industry and the final results of the industry. Domination of the Small Industrial Village Zone area and its influence. Judging from the map of the PIK Zone its existing condition, the PIK Pulo Gadung area is dominated by small industry entrepreneurs and milling villages, with many small industrial entrepreneurs in the textile sector, responding to the surrounding area, it is necessary to provide a forum to show the work of small industries and attract local visitors. AreaKeywords : PIK pulogadung, small industry, textile AbstrakKawasan industri Pulo Gadung adalah sebuah Kawasan industri yang berlokasi di Kota Jakarta Timur, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung , Kota Jakarta Timur. Kawasan Perkampungan Industri Kecil Pulo Gadung merupakan hasil dari program relokasi industri kecil pada tahun 1981 dikarenakan pada tahun 1966 industri di wilayah Jakarta tidak mampu beroperasi secara maksimal karena situasi ekonomi yang terjadi pada jaman itu. Relokasi berada di Kawasan Pulo Gadung karena letak wilayahnya yang strategis dan dekat dengan jalan besar seperti jalan raya Klender-Bekasi yang memudahkan akses dalam memperoleh bahan baku dan proses pemasaran produk industri. Seiring meningkatnya para pendatang dan kurangnya pengendalian dalam pengelola industry kecil maka banyak orang tidak dapat memanfaatkan potensi yang ada dan kurangnya pelatihan sehingga berakhir dengan meningkatny pengangguran di kota kota besar. Permasalahan yang dijumpai dalam Kawasan industri Perkampungan Industri Kecil Pulogadung adalah tidak adanya lembaga pelatihan seputar industri dan sarana seperti galeri atau tempat untuk mempresentasikan produk industri tersebut sehingga para pendatang tidak dapat mengetahui lebih dalam mengenai hal hal seputar industri dan hasil akhir dari industri tersebut. Dominasi area Kawasan Perkampungan Industri Kecil dan pengaruhnya. Dilihat dari peta Kawasan PIK keadaan eksistingnya, Kawasan PIK Pulo Gadung didominasi oleh para pengusaha industri kecil dan perkampungan wilayah penggilingan, dengan banyaknya pengusaha industri kecil pada bidang tekstil maka untuk merespon wilayah sekitar perlu menyediakan wadah untuk memperlhatkan karya karya industri kecil dan menarik para pengunjung sekitar Kawasan.
WADAH AKTIFITAS KREATIF DI MARUNDA, JAKARTA UTARA Syamil Mumtaz; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6846

Abstract

Marunda North Jakarta is known as a fisherman settlement area that has been aged for hundreds of years, besides that this area is also the location of low-income housing construction for Low-Income Community Groups (MBR) whose residents are residents who are relocated from various villages in Jakarta, so that the residents of the flat are very heterogeneous. The diverse backgrounds of the Marunda people cause differences in culture and daily habits that create the creation of social boundaries that result in a lack of harmony in the social sphere between residents of Rusunawa and Kampung Nelayan communities, in the process of relocating some residents to lose their jobs. Apart from that, the difference in the shape of the dwellings that were different from those previously densely landed and now are now vertical which causes the formation of spatial boundaries that did not exist before. There is a need that can support the community to create harmony in the diversity of the Marunda community in social, economic and cultural aspects. This study aims to develop a Marunda Activity Center design concept as a third place to accommodate the activities of Marunda residents using the Transprogramming method. The building is designed by combining programs that are spatially different, with the aim of producing programs that are fit to the community so that they can build social interaction and can support the economy to improve the quality of life which will have an impact on the welfare of the people of Marunda. AbstrakMarunda Jakarta Utara dikenal sebagai kawasan pemukiman nelayan yang telah berusia ratusan tahun. Selain itu kawasan ini juga merupakan lokasi dibangunnya rusunawa bagi kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang sebagian penduduknya adalah warga yang direlokasi dari berbagai kampung di Jakarta, sehingga penghuni rusun bersifat sangat heterogen. Beragamnya latar belakang warga Marunda menyebabkan terjadinya perbedaan dalam budaya dan kebiasaan sehari-hari yang menjadikan terciptanya batas sosial yang mengakibatkan kurangnya keharmonisan dalam lingkup sosial baik antar penghuni Rusunawa maupun masyarakat Kampung Nelayan. Dalam proses relokasi sebagian warga kehilangan pekerjaannya. Selain hal tersebut perbedaan bentuk tempat tinggal yang berbeda dari yang sebelumnya padat landed lalu sekarang menjadi vertikal yang menyebkan terbentuknya batas spasial yang sebelumnya tidak ada. Terdapat kebutuhan yang dapat menunjang masyarakat untuk mewujudkan keharmonisan dalam keberagaman masyarakat Marunda pada aspek sosial, ekonomi dan seni budaya. Kajian ini bertujuan untuk menyusun suatu konsep perancangan Marunda Activity Center sebagai third place untuk mewadahi kegiatan warga Marunda dengan menggunakan metode Transprogramming. Bangunan dirancang dengan menggabungkan program-program yang berbeda secara spasialnya, dengan tujuan untuk menghasilkan program yang fit kepada masyarakat sehingga dapat membangun interaksi sosial dan dapat menunjang perekonomian untuk meningkatkan kualitas hidup yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat Marunda.

Page 37 of 134 | Total Record : 1332