cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PUSAT PENGETAHUAN ALAM SEMESTA DI KOTA TUA Wedo Thiodanu; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4006

Abstract

Pesatnya perkembangan industri pariwisata di Jakarta membuat kriteria-kriteria yang diperlukan dalam sebuah objek wisata semakin lama semakin banyak, apa lagi Jakarta sebagai kota metropolitan yang menjadi pusat dari segala aktivitas dengan hiruk-pikuknya memerlukan objek wisata yang dibuat khusus dengan kriteria-kriteria masyarakat metropolis. Kriteria yang paling nampak dan sesuai dengan keseharian masyarakat metropolis adalah penggunaan teknologi. Teknologi hadir di hampir setiap aspek kehidupan masyarakat kota termasuk di bidang ilmu pengetahuan. Belum lagi dengan bertambah banyaknya jumlah generasi millennials yang hidup di Jakarta, membuat kriteria ini semakin lama semakin jelas dan dibutuhkan. Untuk itu, penulis mengkaji dan menganalisis tentang kawasan Kota Tua yang rata-rata penggunanya adalah generasi millennials dalam merancang objek wisata edukasi berbasis teknologi augmented reality (AR) dengan teori dasar tentang architourism oleh Jan Spect, teori psikologis generasi millennials, serta teori pendukung lainnya. Selain menghadirkan pengalaman belajar yang baru berbasis teknologi, proyek ini juga dapat menjadi bagian dari kawasan Kota Tua yang mengedukasi penggunanya dengan gaya modern.
WADAH KERAJINAN TANGAN MAKANAN DAN MINUMAN DI JUANDA Marvel Buhamir; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8565

Abstract

Cities are centers of settlements and activities of residents who have administrative boundaries that are regulated in laws and regulations as well as settlements that have displayed the character and characteristics of urban life. Humans also needs of daily life. And also humanity has its own family, then each human being also needs an economy to maintain human life. In everyday human needs the main staple, namely eating to revive humans. And also some people need pleasure, enjoyment, such as releasing negative things like faith, natural disturbances and so on. In this research, humans always think about life, namely hunger to eat something for human life. Also there are also some food and beverage sales such as restaurants, kiosks, supermarkets, markets and so on. So humans also daily activities will definitely go to a place that needs daily life. And also want to follow to make something creative. In logic, today many young people often hang out at coffee shops and also only order coffee and chat with other people. Well so this must also provide to know the process of food and drink, even the public also wants to bring happiness and pleasure. Food and beverage handicrafts are for the people. Providing buildings that we plan to craft food and drinks on the premises for the community. Being a food and beverage craftsman is an innate happiness and pleasure for the community, that is social justice for all people respectively. Example of food: Bread that is cut into pieces to form animals or caricatures themselves. As well as examples of drinks: coffee drinks have their own consumer photos on it. So this is a place where the transfer of something new is a third place for the community, we plan this for a business startup or popularly called a stub. Keywords: architecture; drinks; food; humanity; lifeprocesses AbstrakKota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batas wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Manusia  sebagai warga kota membutuhkan pemenuhan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari, manusia membutuhkan makanan sebagai kebutuhan utama. Selain makanan, manusia juga memiliki kebutuhan akan kesenangan, kenikmatan, seperti melepaskan dari hal-hal negatif seperti stress dsb. Studi ini bertujuan untuk memikirkan tentang bagaimana aktivitas mencari makanan menjadi sesuatu yang menarik dan dikolaborasikan dengan aktivitas lainnya. Dimana proses mencari makanan dan minuman pun seyogyanya membawa kebahagiaan dan kesenangan. Kerajinan tangan makanan dan minuman menjadi sebuah usulan proyek dan terobosan baru bagi masyarakat. Program dan aktivitas untuk kerajinan tangan makanan dan minuman, pengrajin makanan dan minuman itu merupakan bawaan kebahagiaan dan kesenangan untuk masyarakat. Proyek diharapkan menjadi sebuah tempat yang perpindahan sesuatu yang baru merupakan third place bagi masyarakat, Kami rencanakan ini untuk sebuah rintisan bisnis atau populer disebut start up.
BALAI BENIH IKAN DI CENGKARENG Jihand Setyani Rakafsya; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8502

Abstract

Technological advancements that were followed by millennial era made people start busy with their respective activities, while humans are social creatures who need each other and cannot live alone. The city began to congested along with its human growth, as if it were not allowed to rest. The skyscrapers and the density that piled up seemed to be a witness to the development of the city itself. People who are busy in their activities begin to lose time to rest for a moment, the density on the road and the route of the road that is passed every day starts to make people tired, bored, and often become stressed. This study aims to reduce the level of individualism in urban society with the role of architecture that can accommodate activities of chatting, with places that have an open system in general, safe, and comfortable without having to distinguish social strata. With the descriptive analysis design method,”Fish Farming in Cengkareng” tries to fill the third space for the West Cengkareng Village. Contribute to the government activities of the West Jakarta Office in improving the quality of freshwater ornamental fisheries production, and making it an open place for new people and enthusiasts of ornamental fish, making it an educational content and improving the local economy. Keywords: architecture; decorative fish; human; production; third place; troutAbstrakKemajuan teknologi yang diikuti oleh dominasi generasi milenial membuat manusia mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sementara manusia sendiri merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan dan tidak dapat hidup sendiri. Kota mulai padat beriringan dengan pertumbuhan manusianya, seolah-olah tidak diizinkan beristirahat. Gedung-gedung pencakar langit dan kepadatan yang menumpuk seolah menjadi saksi bagi perkembangan kota itu sendiri. Masyarakat yang sibuk dalam kegiatannya mulai kehilangan waktu untuk beristirahat sejenak. Kepadatan di jalan dan rute perjalanan harian yang setiap hari dilalui terasa membuat penat, bosan, dan tak jarang mengakibatkan stress. Studi ini bertujuan untuk mengurangi tingkat individualis dalam masyarakat kota dengan peran arsitektur yang dapat mewadahi kegiatan bercengkrama, dengan tempat yang memiliki sistem terbuka secara umum, aman, dan nyaman tanpa harus membedakan strata sosial. Dengan metode perancangan analisis deskriptif, “Balai Benih Ikan di Cengkareng” berusaha memenuhi ruang ketiga bagi Kelurahan Cengkareng Barat. Usulan proyek ini berupaya untuk memberikan kontribusi dalam kolaborasi kegiatan pemeritah Suku Dinas Jakarta Barat dalam meningkatkan kualitas produksi perikanan hias air tawar dan menjadikannya tempat terbuka bagi masyarakat umum atau penggemar ikan hias. Harapannya usulan proyek ini turut menjadi wadah edukasi serta peningkatan ekonomi daerah.
RUANG FOTOGRAFI DI KEDOYA SELATAN Naomi Patricia; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6777

Abstract

Third place is a place other than home (first place) or office/school (second place), where visitors can spend time and feel welcomed. Third place is no longer just a relaxing recreation place; third place has become part of our overall lifestyle. In that case, we need to realize that for some people, especially those in the creative class, third place is actually an non-negotiable asset. The development of photography in Indonesia is currently experiencing rapid development, both in terms of economic and community growth. This development began in the early 2000s, with the start of film cameras with digital sensors. This certainly makes it easier for camera users to not bother to print photos just to see the work that has been captured.Photography is one of the mass media that has become popular among teenagers. The existence of technological changes that make it easier for humans to demonstrate their artistic skills by using photography, so that photography can affect the lives of people throughout the world. Photography itself has always been inseparable from human life, other than as a documentary, photography itself is art, the art of creativity using light. So no wonder many rapid developments. This third place project aims to facilitate people who have an interest in photography, provide facilities in the form of a gathering place that can function as a channel for visitors' interest and creativity, and increase the Creative Economy’s sector. AbstrakThird place (tempat ketiga) adalah tempat selain rumah (first place/tempat pertama) atau kantor maupun sekolah (second place/tempat kedua), di mana pengunjung dapat menghabiskan waktu dan merasa disambut. Third place tidak lagi hanya berupa tempat rekreasi santai; third place telah menjadi bagian dari gaya hidup kita secara keseluruhan. Dalam hal itu kita perlu menyadari bahwa bagi sebagian orang, terutama yang berada di kelas kreatif, third place sebenarnya menjadi aset yang tidak bisa dinegosiasikan. Perkembangan fotografi di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang pesat, baik dari segi ekonomis dan pertumbuhan komunitasnya. Perkembangan tersebut dimulai sejak era awal tahun 2000-an, dengan mulainya kamera berfilmkan menggunakan sensor digital. Hal ini tentu memudahkan pengguna kamera untuk tidak bersusah payah mencetak foto hanya untuk sekedar melihat karya yang telah diabadikan. Fotografi merupakan salah satu media massa yang menjadi populer di kalangan remaja. Adanya perubahan teknologi yang memudahkan manusia untuk menunjukkan keterampilan seninya dengan menggunakan fotografi, sehingga fotografi dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Fotografi itu sendiri memang sejak dulu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, selain sebagai dokumenter, fotografi itu sendiri adalah seni, seni kreatifitas menggunakan cahaya. Maka tak heran banyak perkembangan yang pesat. Proyek third place ini memiliki tujuan untuk memfasilitasi masyarakat yang memiliki minat terhadap fotografi, menyediakan fasilitas berupa tempat untuk berkumpul yang dapat berfungsi sebagai penyalur minat-bakat dan kreatifitas pengunjung, serta meningkatkan sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf).
LAYANAN TANPA TURUN SERPONG Peter Lay; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10707

Abstract

According to Martin Heidegger, dwelling is an individual activity on this earth. Shopping is one of important activity for surviving. In early 2020, COVID-19 occurred so that the government issued a policy to carry out social distancing. The policy damages the dwelling activities that occur. In general, every individual must maintain a distance but this is often violated. Vehicles can solve this problem where each individual is forced to make a distance. The site was chosen based on Jalan Raya Serpong, where it connects South Tanggerang and Bogor. The site was chosen close to the entrance of Alam Sutera because the designation was predominantly residential. More road users on the site use vehicles while pedestrians are minimal. The lack of pedestrians is due to poor public facilities. After the government issued a policy for social distancing, the public preferred to use the drive-thru facility for shopping. So that the design uses the concept of service without going down. The service without getting down here talks about 3 things, namely drive-in, drive-thru, and pickup point. Where the main programs are dine-in and drive-thru supermarkets. With the concept dwelling activity can still run. The concept is also not bound by time so that there is no expiration date because vehicles will always exist in the future. The project aims to maintain the existing lifestyle. Keywords:  Dwelling; Lifestyle; Service without going down;  Social Distancing; Transportation. AbstrakMenurut Martin Heidegger dwelling adalah sebuah aktivitas individu di dalam bumi ini. Aktivitas manusia yang paling penting adalah berbelanja dimana berfungsi untuk memenuhi kebutuhan. Pada awal tahun 2020 COVID-19 terjadi sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan social distancing. Kebijakan tersebut merusak kegiatan dwelling yang terjadi. Secara umum setiap individu harus menjaga jarak namun hal tersebut sering dilanggar. Kendaraan bermotor dapat menyelesaikan masalah tersebut dimana setiap individu dipaksa membuat jarak. Tapak dipilih berdasarkan Jalan Raya Serpong, dimana jalan tersebut menghubungi Tanggerang Selatan dan Bogor. Tapak terpilih dekat dengan entrance Alam Sutera karena peruntukkan lebih dominan hunian. Pengguna jalan pada tapak lebih banyak menggunakan kendaraan bermotor sedangkan pejalan kaki sangat minim. Kurangnya pejalan kaki diakibatkan fasilitas umum yang kurang baik. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk social distancing masyarakat lebih senang menggunakan fasilitas drive-thru untuk berbelanja. Sehingga dalam rancangan menggunakan konsep layanan tanpa turun. Layanan tanpa turun disini berbicara 3 hal yaitu drive-in, drive-thru, dan pickup point. Dimana program utama  berupa dine-in dan drive-thru supermarket. Dengan adanya konsep layanan tanpa turun aktivitas dwelling masih dapat berjalan . Konsep tersebut juga tidak terikat dengan waktu sehingga tidak ada masa kadaluarsa karena kendaraan akan selalu ada di masa depan. Proyek tersebut bertujuan untuk mempertahankan gaya hidup yang ada.
TAMAN REKREASI DAN PUSAT INFORMASI PARIWISATA DI JAKARTA Henry Suryadi Arthen; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4019

Abstract

Kota Jakarta memiliki sejarah yang panjang yang membuat Jakarta memiliki banyak objek wisata seperti Monumen Nasional, Gelora Bung Karno, Kota tua. tetapi di antara lokasi wisata itu terdapat banyak objek wisata lainnya yang sudah hilang atau ditinggalkan, salah satunya adalah Taman Ria Senayan. Taman Ria Senayan merupakan salah satu ruang terbuka yang sangat diminati di tahun 70an, tetapi ruang publik ini hanya tersisa di ingatan masyarakat walau pun dia berada di tengah perkotaan yang padat ini. untuk dapat mengembalikan wisata alam yang hilang ini diperlukan sebuah aristektur yang dapat memfasilitasi keinginan dan kebutuhan para wisatawan.Architourism merupakan sebuah istilah baru di dunia arsitektur, dengan menjadikan arsitektur sebagai  wadah bagi objek wisata, dampak yang diberikan dari Architourism ini dapat mempengaruhi tingkat ekonomi sebuah perkotaan. Bentuk pendekatan yang diambil ini dengan membuat program wisata baru yang daapt meningkatkan aktifitas wisatawan di kawasan tersebut. Dengan melakukan analisis dan mempelajari antara arsitektur dan wisata ini makan diusulkan proyek sebuah Taman Rekreasi dan Visitor Center di tapak Taman Ria Senayan ini. Visitor Center ini akan berfungsi sebagai pusat informasi mengenai pariwisata dan menjadi pintu masuk dalam sebuah kawasana wisata. Dengan adanya Visitor Center ini diharapkan agar baik masyarakat dan wistawan dapat mengetahui lebih banyak tentang tujuan wisata yang ada di Jakarta dan membantu dalam upaya konservasinya. 
EDU-AGRIKULTURAL DI CENGKARENG Abiel Kristianto; Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4546

Abstract

The development of increasingly sophisticated internet technology makes the spread of information faster, this makes it easy for people to know many things, one of which is the danger of the "industrial food system" for climate and human health. Industrial food uses fossil fuels that are post-use harmful to our atmosphere and lack nutrition in industrial food. this made people aware, especially millenials, of consuming more organic food than baby boomers. The highest population in this era is millenials, it can be concluded that the demand for organic food will increase. This phenomenon opens opportunities for farmers and entrepreneurs to do business, but cities are growing and land for farming is also decreasing. Edu-Agriculture in Cengkareng is a place for farmers and millennial generation entrepreneurs to learn about agriculture both in production, technology / research, and learning about the business of the agricultural model itself. with the approach of paying attention to millennial characteristics and behavior for this case is a way of learning. so that it produces space programs that are in accordance with the characteristics and behavior of millenials. The presence of this project is expected that cities can continue to develop without having to disrupt the power of food production, urban farmers can maximize their production on limited land. entrepreneurs can maximize market potential in this field, and are expected to cultivate a "real food" system that is good for the environment, farmers and consumers.AbstrakPerkembangan teknologi internet semakin canggih membuat penyebaran informasi semakin cepat hal ini membuat orang mudah mengetahui banyak hal, salah satunya adalah  bahaya nya “industrial food system” bagi iklim maupun kesehatan manusia. Industrial food menggunakan bahan bakar fosil yang pasca penggunaannya berbahaya bagi atmosphere kita serta kurangnya gizi pada makanan industrial food. hal ini menyadarkan masyarakat khususnya millenials sehingga lebih banyak mengkonsumsi makanan organik ketimbang baby boomers. Populasi tertingi di jaman ini adalah millenials, dapat disimpulkan demand makanan organik akan semakin meningkat. Fenomena ini membuka peluang bagi para petani dan entrepreneur untuk berbisnis, namun kota semakin berkembang dan lahan untuk bercocok tanam semakin berkurang juga. oleh karena itu perlu adanya teknologi di bidang agrikultur seperti teknologi vertical farming, pencahayaan buatan, nutrisi, dan sebagainya  untuk mengatasi perluasan wilayah kota tanpa menggangu daya produksi pangan. dengan demikian diperlukan wadah untuk mengedukasi  petani/masyarakat yang mayoritasnya millenials untuk menangapi peluang tersebut. baik secara bisnis model maupun teknologi seputar agrikultural. Edu-Agrikultural di Cengkareng merupakan wadah bagi para petani dan para entrepreneur generasi millenial untuk belajar seputar perihal agrikultur baik secara produksi, teknolgi/riset, hingga pembelajaran mengenai bisnis model agrikultur itu sendiri. dengan pendekatan memperhatikan karakteristik dan tingkah laku millenial untuk kasus ini adalah cara belajar. sehinga menghasilkan program ruang yang sesuai dengan karakteristik dan tingkah laku millenials. Hadirnya proyek ini diharapkan kota dapat terus berkembang tanpa harus mengganggu daya produksi pangan, urban farmers dapat memaksimalkan hasil produksinya di lahan yang terbatas. para entrepreneur dapat memaksimalkan potensi pasar dibidang ini, serta diharapkan dapat membudayakan “real food” system yang baik bagi lingkungan, petani, serta konsumen.
WADAH REKREASI BERBASIS OLAHRAGA SEBAGAI RUANG KETIGA DI TEBET TIMUR : RE- SPOT, TEBET Almira Livia Putri Laisa; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8583

Abstract

Since the 2000s, Tebet has been a gathering place for youngsters in Jakarta. Presently, Tebet continues to grow with shops, cafés, and restaurants. This area has the potential to become the Third Place for Tebet residents. However, with the lack of entertainment/recreation facilities in Tebet, it is able to diminish the concept of the Tebet area itself, because it creates moves of the visitors to become faster. Re-Spot, Tebet is one of the people's choices to be used as a neutral hang out space with a new injection program in it, namely Sport as Entertainment, where entertainment activities here are part of sports that consider aspects of user comfort by optimizing the potential of the local environment. By using a new injection program that fits the interests of youngsters in Tebet which is then elaborated with the concept of the Design by sports Movement in building circulation to create circulation which is part of the sports movement. Thus, Re-Spot will be an innovation for the Tebet Timur environment, and public space that can append a value to the activities that already exist in the Tebet Timur environment itself. By comparing indicators based on theories about the third space usedKeywords:  Hang out; Sports; Sports as Entertainment; Third PlaceAbstrakSejak tahun 2000-an, Tebet menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda di Jakarta. Hingga saat ini Tebet semakin berkembang dengan dipenuhi dengan gerai distro dan café-café maupun restoran. Kawasan ini berpotensi sebagai Third Places bagi warga Tebet. Akan tetapi, dengan kurangnya sarana hiburan/rekreasi di Tebet, mampu mengurangi citra dari kawasan Tebet itu sendiri, karena menyebabkan pergerakan pengunjung menjadi semakin cepat. Re-Spot, Tebet merupakan salah satu pilihan masyarakat untuk dijadikan tempat nongkrong yang bersifat netral dengan adanya injection program baru di dalamnya yaitu Sport as Entertainment, dimana kegiatan entertainment disini merupakan bagian dari olahraga yang mempertimbangkan aspek kenyamanan pengguna dengan memanfaatkan potensi lingkungan setempat secara optimal. Dengan menggunakan injection program baru yang menyesuaikan minat dari anak muda di Tebet yang kemudian dielaborasikan dengan konsep Design By Sport Movement pada sirkulasi bangunan untuk menghasilkan sirkulasi yang merupakan bagian dari gerakan olahraga. Sehingga Re-Spot mampu menjadi inovasi baru bagi lingkungan Tebet Timur, dan juga menjadi ruang publik yang dapat menambah nilai bagi kegiatan yang sudah ada lingkungan Tebet Timur itu sendiri. Dengan membandingkan indicator berdasarkan teori mengenai ruang ketiga yang dipakai.
FASILITAS ASRAMA DAN BELAJAR MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA Raphael Gusanto; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4577

Abstract

Millennials or Generation Y, known as the generation with the largest number of population. Growing up in two major phenomenas, namely : technology and terrorism, millennials has already formed new characteristics. These characteristics ultimately affect the way they live and respond to an architectural object. On this day, millennials choose to live in big cities, even though the price of home ownership tends to be expensive. This triggers urbanization, to pursue a greater level of education. Jakarta as the capital of the country, is one of the cities with the largest population in Indonesia with expensive living costs. Every year, there are student urbanizations, who pursue education in Tarumanagara University. However, due to limited land avilability and population density, student housing has become inefficient. Both in terms of distance, time, and energy to reach the university while doing daily activities. For this reason, Tarumanagara University needs a dormitory with learning center for students.AbstrakMillennial atau Generasi Y, dikenal sebagai generasi dengan jumlah terbesar. Terbentuk di tengah dua fenomena besar, yakni teknologi dan terorisme telah membentuk sejumlah karakteristik baru. Karakteristik inilah yang akhirnya mempengaruhi cara mereka hidup dan tinggal, bahkan merespon suatu objek arsitektur. Millennial memilih untuk tinggal di kota besar, meskipun harga kepemilikan rumah cenderung mahal. Hal ini memicu urbanisasi yang disebabkan oleh tingkat pendidikan lebih tinggi di kota. Jakarta sebagai ibukota negara merupakan salah satu kota dengan penduduk terbesar di Indonesia dengan biaya hidup yang mahal. Setiap tahunnya, terjadi urbanisasi mahasiswa yang mengejar pembelajaran di Universitas Tarumanagara, baik secara commuter maupun musiman. Namun dikarenakan keterbatasan lahan dan kepadatan penduduk membuat hunian mahasiswa menjadi tidak efisien. Baik dari segi jarak, waktu, maupun energi untuk mencapai tempat pembelajaran dan melakukan kegiatan sehari-hari. Untuk itu diperlukannya hunian bagi mahasiswa yang efisien dan dapat menunjang pembelajarannya, berbentuk fasilitas asrama dan belajar Universitas Tarumanagara.
CAKUNG - PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DIKAWASAN PERKOTAAN Joshua Keeve Tandra; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10754

Abstract

In 2020, mankind throughout the world will be shaken by the Covid-19 which greatly affected people's lives and caused a lot of unrest. The Indonesian government implements a "at home" system. And with this regulation, many workers and factory workers have their salaries reduced, and some are given a termination policy even though they are still productive for work. So that the impact of Covid-19 will not only have an impact on health, the economy, but also on the workforce and also disrupt food security. The food sector is one of the sectors that is resilient in every crisis and as we know food is the main need of every society. Project "Eco-friendly Agriculture in the Cakung area" as a productive forum to accommodate the unemployed in the surrounding area due to layoffs so that they can get a job, learn, and improve their skills. Therefore this project is located in Cakung District, East Jakarta. This project is designed based on urban farming, which means farming in an urban environment using a hydroponic planting system for healthier production results. And through the results of field surveys and internet research, the site is close to PIK (Small Industry Center) which is an area that is a shopping center for people in the surrounding area which is dominated by the textile and food industry. So this building will also support the surrounding area, namely the PIK (Small Industry Center) by producing plants that can produce cloth fibers and also some staple and supporting foods that have fast harvest times so that they can produce quickly given the pandemic conditions that have resulted in increased demand. Therefore, this project is expected to minimize the issues raised. Keywords:  Covid-19; Urban Farming; Work Termination AbstrakTahun 2020 ini umat manusia diseluruh dunia digoncang dengan adanya pandemi Covid-19 yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan menimbulkan banyak keresahan. Pemerintah Indonesia menerapkan sistem “dirumah aja”. Dan dengan adanya aturan ini membuat para pekerja dan buruh pabrik banyak yang dikurangi gajinya, dan beberapa diberi kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja padahal masih produktif untuk bekerja. Sehingga dampak Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, perekonomian, tetapi juga pada Tenaga Kerja dan juga mengganggu ketahanan pangan. Sektor pangan merupakan salah satu sektor yang tahan disetiap krisis dan seperti yang kita tahu pangan merupakan kebutuhan utama setiap masyarakat. Proyek “Pertanian Ramah Lingkungan dikawasan Cakung” sebagai wadah produktif untuk menampung para pengangguran dikawasan sekitar akibat PHK agar mereka mendapat pekerjaan, belajar, dan meningkatkan keterampilan mereka. Maka dari itu proyek ini berlokasi di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Proyek ini dirancang berbasis urban farming yang dalam arti bercocok tanam dilingkungan perkotaan dengan menggunakan sistem tanam hidroponik agar hasil produksi lebih sehat. Dan melalui hasil survei lapangan dan riset internet, lokasi tapak berdekatan dengan PIK (Pusat Industri Kecil) yang merupakan area yang menjadi pusat perbelanjaan orang-orang dikawasan sekitar yang didominasi dengan industri tekstil dan makanan. Maka bangunan ini juga akan mendukung kawasan sekitar yaitu PIK (Pusat Industri Kecil) dengan memproduksi tanaman yang dapat menghasilkan serat kain dan juga beberapa makanan pokok dan pendukung yang memiliki waktu panen yang cepat agar dapat produksi dengan cepat mengingat kondisi pandemi yang mengakibatkan peningkatkan kebutuhan. Oleh sebab itu proyek ini diharapkan dapat menimalisir isu yang diangkat.

Page 38 of 134 | Total Record : 1332