cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT DALAM PERANCANGAN FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI JOHAR BARU Margareta Viannie Herwanto; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10738

Abstract

Jakarta is a city that is growing rapidly with the development of settlements and infrastructure that continues to develop. A situation that demands an increase in the density of the city, as if leaving no place for its residents to breathe. People tend to be motivated to move functionally without having time to think about other activities such as interacting or socializing. There is an increasing number of cases of stress and depression experienced by residents of the city of Jakarta, especially those in low-income groups who live in dense settlements, such as in Johar Baru, Central Jakarta. While there is a close relationship between space and human psychological health, and how architecture can play a role in helping a person's healing process, through stimulation that triggers the release of hormones from the human brain as brain pharmaceuticals. This study aims to produce a concept and design of mental health facility buildings that can assist the community in preventing and coping with stress both on a community and individual scale. By using an environmental healing approach, the design will emphasize the direct and indirect connectivity between the environment, buildings and humans. So that it can support the healing process from feeling depressed, depressed and stressed by users.Keywords:  healing architecture; urban stress; natural environment; public space Abstrak Jakarta merupakan kota yang berkembang pesat dengan pembangunan permukiman dan  infrastruktur yang berkelanjutan. Suatu keadaan yang menuntut peningkatan kepadatan kota, seakan tidak menyisakan tempat bagi penduduknya untuk bernafas. Masyarakat cenderung beraktivitas secara fungsional tanpa sempat memikirkan aktivitas lain seperti berinteraksi atau bersosialisasi. Penduduk Kota Jakarta, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah dan tinggal di permukiman padat, sebagaimana di Kelurahan Johar Baru Jakarta Pusat terdapat peningkatan jumlah kasus stress dan depresi. Antara ruang dan kesehatan psikologis manusia memiliki hubungan yang erat dalam proses pemulihan. Bagaimana arsitektur dapat berperan dalam membantu proses penyembuhan seseorang, melalui stimulasi yang mentrigger pelepasan hormon dari otak manusia sebagai brain pharmaceuticals. Studi ini bertujuan menghasilkan suatu konsep dan rancangan bangunan fasilitas kesehatan mental yang dapat membantu masyarakat dalam mencegah dan mengatasi stress baik dalam skala komunitas maupun individu. Dengan menggunakan metode healing environment, desain akan menekankan konektivitas baik secara langsung dan tidak langsung antara lingkungan, bangunan dan manusia. Sehingga dapat menunjang proses healing dari perasaan tertekan, depresi dan stress penggunanya.
ARENA FUTSAL DAN SEPAKBOLA GAYA BEBAS Albert Halim; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3960

Abstract

Olahraga merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Selain untuk menyehatkan tubuh, olahraga juga banyak manfaat dan fungsi lain. Antara lain sebagai penghilang stress, sumber penghasilan, penunjuk strata sosial, dan lain-lain. Kota Jakarta sebagai ibukota dan merupakan kota terbesar di Indonesia tentunya sudah menjadi pusat perkembangan olahraga. Perkembangan sepakbola di Jakarta yang sangat pesat saat ini, juga diikuti dengan perkembangan olahraga lain namun masih menggunakan teknik dasar sepakbola dalam permainannya, yaitu olahraga Futsal. Saat ini Kota Jakarta memiliki satu kawasan pusat olahraga yang memiliki berbagai fasilitas cabang olahraga. Dari Antusias warga Kota Jakarta terhadap olahraga seperti futsal dan sepakbola gaya bebas dan sejenisnya yang sangat tinggi namun belum adanya tempat atau wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan hobinya dalam bidang olahraga tersebut dengan mencoba mengangkat suatu kawasan tematik yang menggabungkan antara olahraga dan rekreasi yang nantinya kawasan ini dapat menjadi wadah menyalurkan bakat dan prestasi dalam bidang olahraga juga menjadi taman terbuka bagi masyarakat kota Jakarta.
KANTOR DIGITAL KREATIF STARTUP Timothy Timothy; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4517

Abstract

 In this industrial revolution 4.0 era, digital technology has become a necessity for millennials. Through the internet, everyone can be connected to each other making it a new business opportunity, namely startup. The presence of a startup business based on digital business is now a trend among millennials. However, building a startup business is not easy. Many startup businesses that are falling apart in running their businesses are even unable to compete with larger startup. Offices with old systems are no longer in accordance with millennial behaviors and this startup business needs more creative and innovative ideas. Millennials need a place to work with new concepts in increasing their creativity and productivity at work. The proposed program 'Creative Startup Digital Office' aims to present an office program with a new concept for millennials in running a startup business in today's digital era. The office is no longer just a place to work but a place to find experience, learn new things, socialize and community. Millennial requires an interactive, relaxed, fun, flexible and collaborative work environment to support productivity performance in the office. With the presence of this startup office, it is hoped that it will be able to improve the economy of the people especially millenials  in entrepreneurship through a growing startup business.          AbstrakDi era revolusi industri 4.0, teknologi digital sudah menjadi kebutuhan bagi para milenial. Melalui internet semua bisa saling terhubung satu dengan yang lain menjadikannya sebuah peluang bisnis baru yaitu startup. Kehadiran startup bisnis yang berbasis bisnis digital ini sekarang menjadi trend bisnis di kalangan milenial. Akan tetapi, membangun sebuah bisnis startup tidaklah mudah. Banyak bisnis startup yang jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya bahkan kalah bersaing dengan startup yang lebih besar. Kantor dengan sistem lama tidaklah sesuai dengan perilaku milenial dan bisnis startup ini yang lebih banyak membutuhkan ide-ide kreatif dan inovatif. Para milenial membutuhkan sebuah tempat bekerja dengan konsep baru dalam meningkatkan kreatifitas dan produktivitas mereka dalam bekerja. Pengusulan program “Kantor Digital Kreatif Startup” memiliki tujuan untuk menghadirkan program kantor dengan konsep yang baru untuk para milenial dalam menjalankan bisnis startup di era serba digital saat ini. Kantor bukan lagi sebagai tempat untuk bekerja saja melainkan tempat untuk mencari pengalaman, belajar hal baru, bersosialisasi dan berkomunitas. Milenial membutuhkan lingkungan kerja yang interaktif, santai, menyenangkan, fleksibel dan kolaboratif untuk mendukung performa produktivitas di dalam kantor. Dengan hadirnya kantor startup, diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat terutama kaum milenial dalam berwirausaha melalui bisnis startup yang sedang berkembang.
PENERAPAN METODE DIAGRAM SEBAGAI BAHASA PADA TRANSFORMASI GUBAHAN MASSA RUANG SOSIAL INTERKULTURAL SEBAGAI TEMPAT KETIGA DI KELURAHAN SELONG Rivanto Rivanto; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8620

Abstract

Intercultural Social Space is a space that designed in response to the social distance that occurs in the Selong Village, Kebayoran Baru, South Jakarta. It's located on Senopati street. Demographically, this site divides the dominance of function and figures within the area. This increasing the social distance between the neighborhood and the character of the people who have the cultural diversity. So, this needs a space as a dwelling in the area.  So that, it increase relations and social interactions activities between neighborhood in the Selong Village. This project was designed for a space that facilitate the ongoing social interaction activities between neighborhood in the Selong Village. Performing arts is used as a program, whether it's for learning or for watching theatre , dance or music performances. Which, indirectly will bring up the method of trialogical learning of interactions that occur between figures in the Intercultural Social Space. The performing arts program was appointed as a concept of shape transformation. Specifically, the ballet that is used as a medium for the formation of mass compositions. This because, dance in the design project program is the basis of the performing arts, namely motion. Ballet used as a form of medium shape transformation because ballet is a dance that influences other dances globally and it's related to intercultural issues. The motion in the dance is translated into Laban notation, then it's deconstructed, superimposed, and it's adjusted with the program, to get a mass composition that has a suitability of sturdiness, and the success of the building in fulfilling the function of it's activities, as well as it's aesthetics. Therefore, the diagram method is used to facilitate the delivery of information from the elaboration of the shape transformation process that occurs in the Intercultural Social Space project as a third place in Selong Village.Keywords: dance; demographic; diagram; dwelling; neighborhoodAbstrakRuang Sosial Interkultural merupakan suatu wadah yang dirancang sebagai respon dari adanya jarak sosial yang terjadi di Kelurahan Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lokasi tapak perancangan berada di jalan Senopati. Secara demografis, jalan ini “membagi” dominasi fungsi dan figur di dalam kawasan tersebut. Hal ini membuat jarak sosial yang semakin meningkat antar neighborhood dengan karakter masyarakat yang memiliki keberagaman budaya. Sehingga, diperlukannya suatu wadah sebagai dwelling pada kawasan tersebut. Agar, meningkatnya relasi dan kegiatan interaksi sosial antar neighborhood di Kelurahan Selong. Proyek ini dirancang sebagai wadah yang memudahkan berlangsungnya kegiatan interaksi sosial antar neighborhood di Kelurahan Selong. Media seni pertunjukan digunakan sebagai program, baik itu pembelajaran maupun menyaksikan pertunjukan teater, tari maupun musik. Dimana, secara tidak langsung akan memunculkan metode pembelajaran trialogis dari interaksi yang terjadi antar figur di dalam Ruang Sosial Interkultural. Program seni pertunjukan diangkat sebagai konsep transformasi bentuk. Yaitu, tarian balet yang digunakan sebagai media pembentukan komposisi massa. Hal ini dikarenakan, tarian dalam program proyek perancangan menjadi dasar dari program seni pertunjukan, yaitu gerak. Tarian balet digunakan sebagai media transformasi bentuk dikarenakan balet menjadi tari yang berpengaruh pada tarian lain secara global dan kaitannya dengan isu interkultural. Gerak dalam tarian diterjemahkan kedalam notasi laban, kemudian dilakukan dekonstruksi, superimposisi, dan penyesuaian dengan program, hingga mendapatkan komposisi massa yang memiliki kesesuaian kekokohan, keberhasilan bangunan dalam memenuhi fungsi kegiatannya, serta aspek keindahannya. Oleh karena itu, metode diagram digunakan untuk mempermudah penyampaian informasi dari proses transformasi bentuk yang terjadi pada proyek Ruang Sosial Interkultural sebagi tempat ketiga di Kelurahan Selong.
KOMUNITAS UNTUK ALAM: INOVASI LIMBAH AMPAS KOPI DAN EKSTRIM GYM Vanessa Natanael; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4359

Abstract

The need for employment among the milenial generation is increasing, along with the age of milenials who are in the productive age stage. Not only that changes in the characteristics of the milenial generation are faster to enjoy and love coffee. Not only the needs of the milenial generation, but the principle of sustainable development is a consideration. The project aims as a means to open up business opportunities and foster intimacy especially for coffee lovers and nature lovers who are united through the movement "Forests That Indonesia" (HII). Where the businesses formed make waste coffee waste (basic material), a form of sustainable development effort. The method used is descriptive, direct observation in the field and analysis of data - data to determine the space requirements to obtain the relationship of space and circulation in the site. The concept used is Contrast - Harmonious, the union between office typology (the depiction of innovative coffee grounds waste) and the gym (extreme depiction of the gym). The form that is displayed through a combination of massing (rigid) with curves (dynamic). Artificial application can feel the nature in an indirect manner, being in a coffee plantation is artificial through its aroma (sense of smell) visually with greening (sense of sight). AbstrakKebutuhan akan lapangan kerja dikalangan generasi milenial kian meningkat, seiring dengan usia generasi millenial yang berada pada tahap usia produktif. Tak hanya itu perubahan karakteristik generasi millenial yang lebih cepat untuk menikmati dan mencintai kopi. Tak hanya kebutuhan generasi milenial, melainkan prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi pertimbangan. Proyek ini bertujuan sebagai sarana untuk membuka lapangan usaha dan membina keakraban khususnya bagi pecinta kopi dan pecinta alam yang dipersatukan melalui gerakan “Hutan Itu Indonesia” (HII). Dimana usaha yang terbentuk memperdayakan limbah ampas kopi (bahan dasar) menjadi wujud usaha pembangunan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah deksriptif, dilakukan pengamatan langsung di lapangan dan analisis data – data untuk menentukan kebutuhan ruang hingga didapatkan hubungan ruang serta sirkulasi di dalam tapak. Konsep yang digunakan adalah Kontras - Harmonis, penyatuan antara tipologi kantor (pengambaran inovasi limbah ampas kopi) dan gym (pengambaran ekstrim gym). Wujud yang tampilkan melalui perpaduan massing kotak (kaku) dengan lengkung (dinamis). Penerapan secara artifisial dapat merasakan alam secara tidak langsung, berada di kebun kopi diartifisialkan melalui aromanya (indera penciuman) secara penglihatan dengan penghijauan (indera penglihatan).
RANCANGAN DENGAN METODE HEALING, METAFOR, DAN BIOPHILIC PADA WADAH PENYEMBUHAN KESEHATAN MENTAL Fiolincia Fiolincia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10763

Abstract

The level of stress or depression began to increase due to the emergence of the COVID 19 virus pandemic. Lockdown and PSBB (Large-Scale Social Restrictions) were taken by several countries including Indonesia.This step was taken to prevent the spread of COVID 19 but this step does not seem to take into account the impact.They cannot socialize with others and can only stay at home with the same and repetitive activities that occur for a long time and they can only explore the outside by looking at news programs that provide updates on additional cases of COVID around the world.Who would have thought behind it all there is a big impact that occurs, the act of staying in this house will cause considerable stress or depression. This huge impact indirectly makes people start to fret and fear.In addressing this huge impact, this project is designed to provide healing containers that can help sufferers release stress or depression and can also relax. Therefore to get the results as expected, designed using the following stages, namely; a) Selection of Pantai Indah Kapuk Area; b) Issue Resolution; c) Design Analysis; d) Zoning; e) Façade, Exterior and Interior. This design provides a Mental Health Environment by using or applying Healing methods in the form of Healing Garden and Online Theraphy (to keep creating a social communication). Keywords: Biophilic Design; Depression; Healing Garden; Methapore; Stress Abstrak Tingkat stress atau depresi mulai mengalami peningkatan karena dipicu munculnya pandemi virus COVID 19. Langkah Lockdown dan PSBB (Pembatasan Soaial Berskala Besar) di ambil oleh beberapa Negara termasuk Indonesia. Langkah ini diambil untuk pencegahan penyebaran COVID 19 tetapi pengambilan langkah ini sepertinya tidak memperhitungkan dampak yang ditimbulkan. Mereka tidak dapat melakukan tindakan bersosialisasi dengan orang lain dan hanya dapat berdiam diri di dalam rumah dengan aktifitas yang sama dan berulang yang terjadi dalam waktu yang cukup lama dan mereka hanya dapat mengetahaui dunia luar dengan melihat program berita yang memberikan update tentang kasus penambahan COVID diseluruh dunia. Siapa sangka di balik itu semua ada dampak besar yang terjadi, tindakkan tetap berada di rumah ini akan menimbulkan stress atau depresi yang cukup besar. Dampak besar ini secara tidak langsung membuat masyarakat mulai resah dan takut. Dalam mengatasi dampak besar ini maka proyek ini di desain mengarah kepada penyediaan wadah penyembuhan yang dapat membantu penderita melepaskan stress atau depresi dan juga dapat rileks. Maka dari itu untuk mendapatkan hasil yang sesuai harapan, perancangan di rancang menggunakan tahapan sebagi berikut, yaitu; a) Pemilihan Kawasan Pantai Indah Kapuk; b) Penyelesaian Isu; c) Analisis Perancangan; d) Zoning; e) Façade, Eksterior dan Interior. Perancangan ini memberikan sebuah Mental Health Environment dengan menggunakan atau menerapkan metode Healing berupa Healing Garden dan Online Theraphy (untuk tetap menciptakan sebuah komunikasi sosial).
EVALUASI PENERAPAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (RTBL) KAWASAN WISATA PANTAI TELUK PENYU DAN BENTENG PENDEM Eka Lusiana; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7291

Abstract

The Teluk Penyu Beach and Benteng Pendem tourism areas, are two different tours in one area, located in South Cilacap Subdistrict, Cilacap Regency, Central Java. Document of Building and Environmental Planning (RTBL) of the area in its implementation are some  compatible plans that will be compared with the general guideline factors of the RTBL and the needs of the community, traders and visitors. So the authors will Evaluate the Implementation of Building and Environmental Planning (RTBL) in the Teluk Penyu Beach and Benteng Pendem tourism area. The purpose of this study is to evaluate the RTBL of the Teluk Penyu Beach and Benteng Pendem viewed from the document physical plan of the RTBL, policies or laws related to the RTBL guidelines, existing attractiveness, and perceptions and satisfaction from the visitors and community side to facilities and plans on the Teluk Penyu Beach, and the suitability to RTBL guiding factors. To achieve these objectives, several analyzes were using analytical tools such as descriptive, cartesian diagrams, and CSI. So the results of the analysis can be used to assess how to the suitability of the physical plan of the RTBL. Keywords: Building and Environmental Planning (RTBL); physical plan; rtbl general guidelinesAbstrakKawasan wisata Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem, merupakan dua jenis wisata berbeda yang berada pada satu kawasan, yang terletak di Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) pada kawasan ini dalam penerapannya terdapat beberapa rencana yang tidak sesuai baik dengan kebutuhan masyarakat dan pengunjung, maupun dengan kebijakannya, yang kemudian akan dibandingkan dengan beberapa faktor-faktor pedoman umum RTBL dan kebutuhan masyarakat sekitar, pedagang/pelaku usaha dan pengunjung. Sehingga penulis akan melakukan Evaluasi Penerapan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan wisata Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengevaluasi RTBL Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem dilihat dari dokumen rencana fisik RTBL, kebijakan atau undang-undang terkait Pedoman RTBL, daya tarik eksisting, dan persepsi dan kepuasan dari sisi pengunjung dan masyarakat/pelaku usaha terhadap fasilitas dan rencana di Pantai Teluk Penyu, dan kesesuaian dengan faktor-faktor pedoman umum RTBL. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan beberapa analisis dengan menggunakan alat analisis seperti deskriptif, diagram kartesisus, dan csi. Sehingga hasil dari analisis yang dilakukan tersebut dapat digunakan untuk menilai bagaimana kesesuaian rencana fisik dari RTBL dengan pedoman umum dan kebutuhan masyarakat.
KAJIAN DESAIN KANTOR UNTUK GENERASI MILENIAL DENGAN KONSEP PERKAMPUNGAN SEBAGAI PENGEMBANGAN DARI TIPOLOGI KANTOR Felicia Melina Ismanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4488

Abstract

Along with the changing times, technological developments and changes in human attitudes, new fields of work began to develop, especially in the field of creative industries. This field is increasingly in demand by Millennials, people born in the late 1990s until the beginning of 2000. Flexible working hours and the dynamic nature of work are the main attractions of the industry. Besides, the initial capital that is not too large is also the main attraction for Millennials to open new creative industry startups. For this reason, new spaces are needed to work by the needs or habits of Millennials, but still pay attention to the standards of office regulatory requirements. The author examines and analyzes the behavior of millennial generations in the world of work to find new typologies, programs, and appropriate architectural designs. The program presented is the need for the millennial generation to work, a forum for developing entrepreneurs to become good entrepreneurs and able to respond to the outside world. In it, this building has spaces as a place to the community for workers, which is one of the behaviors of the millennial generation to develop better. AbstrakSeiring dengan perubahan zaman, perkembangan teknologi dan perubahan sikap manusia, bidang-bidang pekerjaan baru mulai berkembang, terutama bidang industri kreatif. Bidang ini semakin diminati oleh para Millennials yaitu orang yang lahir pada akhir tahun 1990 sampai awal tahun 2000. Jam kerja yang fleksibel dan sifat pekerjaan yang dinamis menjadi daya tarik utama dari bidang industri tersebut. Selain itu, modal awal yang tidak terlalu besar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para Millennials untuk membuka startup-startup industri kreatif baru. Untuk itu dibutuhkan ruang-ruang baru untuk bekerja yang sesuai dengan kebutuhan atau kebiasaan Millennials akan tetapi tetap memperhatikan standar-standar kebutuhan peraturan kantor. Penulis mengkaji dan menganalisis tentang perilaku generasi milenial didalam dunia kerja untuk menemukan tipologi baru, program serta desain arsitektural yang tepat. Program yang disajikan merupakan kebutuhan generasi millennial didalam bekerja yaitu sebuah wadah bagi para entrepreneur yang sedang berkembang agar menjadi entrepreneur yang baik dan mampu menyikapi dunia luar. Didalamnya, bangunan ini memiliki ruang-ruang sebagai wadah untuk berkomunitas bagi para pekerja, yang mana hal ini merupakan salah satu perilaku dari generasi millennial untuk berkembang menjadi lebih baik.
FASILITAS KEBUGARAN AKUATIK DI SUNTER Arifia Arifia; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4451

Abstract

One of the contemporaneity issues of millenials is the lifestyle or millenial’s unhealthy lifestyle because they are unable to control their lifestyle. These lifestyles are influenced by advances in technology that increase the influence of globalization such as fast food and ease of fulfillment of needs such as application-based inter-service namely online motorcycle taxi and other features. These factors directly or indirectly cause millennial’s behavior patterns to be unhealthy, passive (in-active), decreased mental conditions, and much more. These behaviors have many negative effects on the physical and spiritual health conditions of millennials.Wellness aimed at the impact of 'well-being' or individual well-being. According to the CDC (Centers for Disease Control and Prevention), 'Well-being' can improve individuals or groups physical and spiritual health due to the results from who know how to live well. Therefore, 'Wellness' can provide a change towards a healthier lifestyle by presenting a pleasant and interesting impression of the mainly millennial community, the Aquatic Wellness Facility. The element of water from aquatic aspect  provides relaxation, calmness, recreational atmosphere and so on that can provide a healing environment. Aquatic Wellness facilities are given the impression of recreation so that the community and millennials do physical activities with a feeling of pleasure. To get the concept of the program, the author uses the wellness criteria of Tchiki Davis, PH.D. and questionnaires that produce aquatic programs both in terms of physical and spiritual as well as social activities and lifestyle improvements through monitoring habits. The concept of mass composition is formed from 4 character elements of healing environment, namely water, stone, cave, and mountain. AbstrakSalah satu isu kesejamanan kaum milenial yakni gaya hidup atau lifestyle kaum milenial yang tidak sehat karena tidak mampu mengendalikan gaya hidup mereka. Gaya hidup tersebut dipengaruhi oleh kemajuannya teknologi, pengaruh globalisasi seperti  makanan cepat saji dan kemudahan pemenuhan kebutuhan seperti pelayanan antar berbasis aplikasi yakni ojek online dan features lainnya. Faktor-faktor tersebut secara langsung atau tidak langsung menyebabkan pola perilaku kaum Milenial menjadi tidak sehat, pasif (in-active), kondisi mental yang menurun, dan masih banyak lagi. Dengan begitu, perilaku tersebut memberikan banyak dampak negatif terhadap kondisi kesehatan jasmani dan rohani kaum milenial.  Wellness  berfokus pada dampak dari ‘well-being’ atau kesejahteraan individu. Menurut CDC (Centers for Disease Control dan Prevention), ‘Well-being’ dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani individu atau kelompok akibat hasil dari menjalani kehidupan dengan baik. Oleh karena itu, ‘Wellness’ dapat memberikan pergeseran terhadap gaya hidup menjadi lebih sehat dengan menghadirkan kesan menyenangkan dan menarik masyarakat terutama milenial yakni Fasilitas Kebugaran Akuatik. Unsur air dari segi akuatik memberikan relaksasi, ketenangan, suasana rekreasi yang dapat memberikan lingkungan menyenangkan untuk penyembuhan. Fasilitas kebugaran akuatik diberikan kesan rekreasi sehingga masyarakat maupun kaum milenial melakukan kegiatan kebugaran dengan perasaan senang. Untuk mendapatkan konsep program tersebut, penulis menggunakan kriteria wellness dari Tchiki Davis,PH.D. dan kuesioner yang menghasilkan program akuatik baik dari segi jasmani dan rohani serta kegiatan sosial dan perbaikan gaya hidup melalui monitoring habits. Konsep gubahan massa terbentuk dari 4 karakter unsur healing environment yakni air, batu, goa, dan gunung.
SARANA OLAHRAGA INTERAKTIF DI JATINEGARA Natasha Monica; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8551

Abstract

Fighting becomes a problem in social life, which can be categorized as juvenile delinquency. The issue of juvenile delinquency in society is currently increasing, this causes unrest in the community. The environment, place of residence, and friends in relationships have a big influence on the formation of identity and self-development. Juvenile delinquency needs to be addressed and prevention efforts need to be done, this is necessary to avoid wider impacts that can threaten the security of the community. By using juvenile delinquency theory according to Dr. Kartini Kartono in examining the forms of juvenile delinquency and the prevention of juvenile delinquency. Researchers used the Dis-programming design method for combining several programs according to community needs. Keywords: juvenile deliquency; third placeAbstrak Tawuran menjadi sebuah permasalahan yang ada di kehidupan sosial, yang dapat  dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Isu kenakalan remaja pada masyarakat saat ini semakin bertambah, hal ini menyebabkan keresahan pada masyarakat. Lingkungan, tempat tinggal, dan teman dalam pergaulan berpengaruh besar dalam pembentukkan jati  diri  serta perkembangan diri. Kenakalan remaja perlu ditangani serta perlu dilakukan upaya pencegahan, hal ini diperlukan untuk menghindari dampak yang lebih luas yang dapat mengancam keamanan masyarakat. Dengan menggunakan teori kenakalan remaja menurut Dr. Kartini Kartono dalam meneliti bentuk kenakalan remaja dan penanggulangan kenakalan remaja. Peneliti menggunakan metode perancangan Dis-programming untuk penggabungan beberapa program sesuai kebutuhan masyarakat.  

Page 50 of 134 | Total Record : 1332