cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
WADAH KOMUNITAS MUSIK DI KEMBANGAN SELATAN Abram Reinhold; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6889

Abstract

This study aims to explore the third place as a place of community in the South Kembangan Village which is a social environment separate from the two social environments namely home and workplace. Where in this study aims to discuss about the third place of the music community in the South Kembangan Village. The problem that occurs in the South Kembangan Village is the current condition of the community to carry out various routines so that it causes saturation of each individual, the night market and malls become a separator between the lower middle and upper middle classes, the unavailability of places to be able to interact and communicate with each other regardless of social background, lack of space for the music community to be able to interact from the music field. In executing the design in this project, a symbiosis is carried out, which is between emptiness and existence, so that it reflects the condition of the South Kembangan community where there is a separation between the middle and lower classes, so that this project has a meaning of the condition of the South Kembangan community. Because of that, this Community Music Venue is very much needed to be able to influence South Kembangan Village with the aim of providing positive emotions through music, so that each community can interact and communicate well. In conclusion, this music community forum provides education about positive emotions from music, so that it can unite various layers of society, creating a pleasant atmosphere. It integrates with nature and achieves sustainability development goals, so that a healthy environment is created to achieve a good quality of life for the community, and positively influences the growth of the city's economy. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menulusuri tentang tempat ketiga sebagai tempat komunitas di Kelurahan Kembangan Selatan dimana merupakan lingkungan sosial yang terpisah dari dua lingkungan sosial yakni rumah dan tempat kerja. Dimana dalam penelitian ini bertujuan membahas tentang tempat ketiga komunitas musik di Kelurahan Kembangan Selatan. Permasalahan yang terjadi pada Kelurahan Kembangan Selatan adalah kondisi masyarakat saat ini melakukan berbagai rutinitas sehingga mengakibatkan kejenuhan terhadap setiap individu, pasar malam dan mall menjadi pemisah antara kalangan menengah kebawah dan menengah keatas,  ketidaktersediaan tempat untuk dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi tanpa memandang latar belakang sosial, kurangnya tempat untuk komunitas musik agar dapat melakukan interaksi dari bidang musik. Dalam mengeksekusi desain dalam proyek ini, dilakukan simbiosis, yaitu antara kekosongan dan keberadaan, sehingga mencerminkan kondisi masyarakat Kembangan Selatan dimana ada pemisah antara kalangan menengah kebawah dan menengah keatas,  sehingga proyek ini memiliki makna arti kondisi masyarakat Kembangan Selatan. Karena itu Wadah Komunitas Musik ini sangat diperlukan untuk dapat berpengaruh terhadap Kelurahan Kembangan Selatan dengan tujuan memberikan emosi positif melalui musik, agar setiap masyarakat dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik. Kesimpulannya wadah komunitas musik ini, memberikan edukasi tentang emosi positif dari musik, sehingga dapat menyatukan berbagai lapisan masyarakat, menciptakan suasana yang menyenangkan. Menyatu dengan alam dan mencapai sustainability development goals, sehingga tercipta lingkungan yang sehat untuk mencapai kualitas hidup yang baik bagi masyarakat, dan memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan perekonomian kota.
TAMAN KOMUNITAS BSD: UPAYA KEMBALI PADA ALAM BACK TO NATURE: COMMUNITY GARDEN Fulgentius Rodney; J.M. Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10853

Abstract

The West BSD area is an area that will become CBD BSD where most of the land use is commercial and residential. In this area, if it becomes a CBD area, it will have few green spaces. With circumstances like this can trigger stress in the community. This project seeks to reduce stress as well as provide a new green space for this area where later in this project has a place for interaction between people as well as interactions with nature (plants). Using the self-sustaining method is a big concept of this project. This concept is applied to urban farming activities where people can grow crops, care for plants until harvesting, then the harvest can be sold or used as ingredients in restaurants. The remaining seeds can be planted again to make new crops. Using a program of activities like this can reduce human stress which at the same time enlivens nature (green). By using the application of the biophilic design method in the Back To Nature: Community Garden project, efforts are made to create a good communal space for people who can carry out activities such as planting plants, working, gathering, etc. And with this it is hoped that the project can provide a forum for the community to carry out activities in the fields of interest, especially planting plants, caring for plants, as well as activities around them. Keywords: Back To Nature: Community Garden; provision of green space; reducing stress; interaction; biophilic designAbstrakKawasan BSD Barat adalah kawasan yang akan menjadi CBD BSD dimana kebanyakan tata guna lahannya adalah komersial dan perumahan. Pada kawasan ini jika nantinya menjadi kawasan CBD akan memiliki sedikit ruang-ruang hijau. Dengan keaadaan seperti ini dapat memicu stres pada masyarakatnya. Proyek ini berusaha untuk mengurangi stres juga menyediakan ruang hijau baru bagi kawasan ini dimana nanti didalam proyek ini memiliki tempat interaksi antara sesama manusai juga interaksi dengan alam(tanaman). Dengan menggunakan metode Self sustaining adalah konsep besar dari proyek ini. Konsep tersebut diterapkan pada kegiatan urban farmingnya dimana masyarakatnya dapat menanam tanaman, merawat tanaman hingga panen, kemudian hasil panennya pun dapat dijual atau digunakan sebagai bahan-bahan didalam restoran. Sisa-sisa benihnya pun bisa kembali ditanam untuk menjadikan hasil tanaman yang baru. Dengan penggunaan program kegiatan seperti ini dapat mereduksi stress manusia yang sekaligus menghidupkan alam(hijau). Dengan menggunakan penerapan metode biophilic design pada proyek Back To Nature: Community Garden ini diusahakan menciptakan ruang komunal yang baik bagi masyarakat yang dapat menjalankan aktifitasnya seperti menanam tanaman, bekerja, berkumpul, dsb. Dan dengan ini diharapakan proyek dapat menyediakan wadah untuk masyarakat bisa melakukan aktifitasnya pada bidang yang diminatinya khususnya menanam tanaman, merawat tanaman, juga beraktifitas disekitarnya.
ARENA OLAHRAGA KECEPATAN DAN AKSELERASI DI JAKARTA Olivia Tjahyadi; Sutrisnowati Machdijar Odang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3961

Abstract

DKI Jakarta sebagai kota metropolis memiliki kepadatan penduduk yang besar, aktivitas yang tinggi, dan pergerakan yang kuat. Kehidupan di kota besar seperti DKI Jakarta yang penuh dengan aktivitas dan rutinitas dapat menimbulkan kejenuhan dan tekanan mental pada masyarakatnya. Hal ini juga menyebabkan keterbatasan waktu luang mereka untuk bersantai guna melepas kejenuhan akan rutinitas yang dijalankan setiap harinya. Dalam kondisi seperti inilah dibutuhkan suatu prasarana untuk mendapatkan perubahan suasana dan menjadi suatu rekreasi yang dapat memulihkan dan menyegarkan kembali jiwa dan raga. Kegiatan masyarakat dalam hal melakukan olahraga rekreasi saat ini masih sangatlah kurang. Selain faktor kesadaran akan pentingnya olahraga yang berasal dari dalam diri sendiri, faktor lain yang menghambat masyarakat untuk melakukan olahraga rekreasi adalah mengenai sarana dan prasarana yang tersedia untuk mendukung kegiatan tersebut. Kawasan Wijayakusuma merupakan sebuah kawasan di Jakarta Barat yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi tetapi tidak banyak memiliki ruang publik dan sarana olahraga untuk berekreasi, kawasan ini memiliki site yang sangat strategis untuk dibangunnya sebuah sarana olahraga rekreasi yang juga akan berperan sebagai sebuah ruang penyambung dalam kawasan tersebut. Sarana olahraga yang akan dibuat akan memfasilitasi olahraga rekreasi yaitu olahraga bowling, sepatu roda dan go-kart indoor, serta akan menambahkan fungsi lain yaitu sebagai penyatu kawasan yang bersifat bangunan sebagai sirkulasi publik dan ruang terbuka.
LEMBAGA PEMASYARAKATAN BERBASIS KOMUNITAS DAN TEKNOLOGI Emanuel Erian; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4445

Abstract

A country will not be separated from security issues which can not escape to criminality. The form of crime that occurs in the neighborhood will in fact follow community behavior from the evolution of generations. Reality in Indonesia does not have type of prison building yet that accordance with the of millennial prisoners behavior in terms of their coaching and personality formation. This project tries to develop prisons based on technology and communities that follow prisoner behavior and comtemporaneity in the millennial era. The design method used in designing this project is typology method. The design of Correctional Facility produced is in the form of vertical buildings with the application of many communal spaces and technology used that suitable with current millennial prisoners.  AbstrakSebuah Negara tidak akan terlepas dari isu keamanan dimana tidak akan luput dari kriminalitas. Bentuk kriminalitas yang terjadi di lingkungan masyarakat pada kenyataannya akan mengikuti perilaku masyarakat dari perkembangan generasi. Kenyataan di Indonesia sendiri belum memiliki tipe bangunan Lembaga Pemasyarakatan yang sesuai dengan perilaku narapidana millennial dalam hal pembinaan dan pembentukkan kepribadiannya. Proyek ini mencoba untuk mengembangkan penjara yang berbasis kepada teknologi dan komunitas yang mengikuti perilaku narapidana dan kesejamanan di era millennial. Metode desain yang digunakan dalam perancangan proyek ini yaitu metode tipologi. Desain Lembaga Pemasyarakatan yang dihasilkan adalah berupa bangunan vertikal dengan penerapan banyak ruang komunal dan penggunaan teknologi yang sesuai dengan narapidana millennial saat ini. 
RUANG KREATIF DAN REKREASI DI PASAR BARU Kevin Liong; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8482

Abstract

 As social beings, humans really need space for interaction. This interaction space can be a background for the development of life, both in economic, social and entertainment activities. Lack of appropriate interaction space causes the community to handle it independently. In the Pasar Baru community there are problems in terms of providing interaction space facilities as well as problems in the productive age unemployment. So in this project will focus on these two problems. The program design in the Creative Recreative Place is divided into two, recreational program and educational support program, where the recreational program accommodates the community's need for social interaction space which also accommodates micro, small and medium businesses undertaken by the community in culinary business sector by creating a culinary area. Then the support program which consists of education, will facilitate the public access to informal education that will increase community expertise through creative industry training, especially in fashion and handicraft which is based on the concentration of industries in Pasar Baru where fashion and handicraft products can be easily found here. In addition, the education program also places the film industry as one of the educational programs offered. Keywords:  economy; expertise; interaction AbstrakSebagai makhluk sosial, manusia amatlah membutuhkan ruang interaksi. Dimana ruang interaksi ini dapat menjadi latar bagi perkembangan kehidupan, baik dalam kegiatan ekonomi, sosial dan juga hiburan. Kurangnya ruang interaksi yang layak mengakibatkan masyarakat mengatasinya secara mandiri. Pada Kelurahan Pasar Baru didapati permasalahan dalam hal penyediaan fasilitas ruang interaksi serta permasalahan pada pengangguran usia produktif. Sehingga dalam rancangan akan fokus pada kedua permasalahan tersebut. Secara garis besar rancangan program pada Ruang Kreatif dan Rekreasi dibagi menjadi dua yaitu program utama yang bersifat rekreasi dan program penunjang yang bersifat edukasi, dimana program utama merupakan program rekreasi yang mengakomodir kebutuhan masyarakat akan ruang interasksi sosial yang juga mewadahi usaha mikro kecil menengah yang dijalani masyarakat pada sektor usaha kuliner dengan membuat area kuliner. Kemudian program penunjang yang berupa fasilitas edukasi, akan memfasilitasi masyarakat terhadap akses pendidikan informal yang akan menambah keahlian masyarakat melalui pelatihan industri kreatif terutama bidang fashion dan kria yang didasarkan pada konsentrasi industri yang ada di Pasar Baru dimana produk fashion dan kria ini dapat mudah ditemui disini. Selain itu program edukasi juga menawarkan industri perfilman sebagai salah satu program edukasi yang ditawarkan.
RUANG KREATIF DIGITAL Cindy Valenci; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4435

Abstract

Millennial are considered as a generation that could integrate with technology better than previous generation. The presence of technology is something that can’t be removed in this generation. They live a life which always have been connected with technology, and also entitled as net generation that has the ability to be connected with various worlds. With today’s advancement, presence of technology in millennial generation affect workshop machinery with digital technology. The formed program is expected to be able to answer the characteristics of the millennial generation in the digital technology sector by providing workshops with education and training space for start-ups. The designed space system consists of several programs combined based on analysis of Millennial generation needs and workspace typology analysis. The choice of location is chosen based on several criteria; based on the location of the city center, close to many presences of the millennial, and located in where public transportation is easily accessible. The design created will have the concept of a digitally made product, so that it attracts visitors. The rental system is applied in buildings based on the following spaces with supporting facilities. Placement and orientation will be adjusted according to the results of the site analysis, and to create an environmentally friendly building, the ground floor building will be half open and greenery concept around the site.       AbstrakGenerasi milenial termasuk generasi yang bisa berintegrasi dengan teknologi dari generasi sebelumnya. Hadirnya teknologi bagaikan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan generasi ini. Semasa hidup yang selalu terkoneksi dengan digital online maka generasi ini disebut juga net generation yang dapat terkoneksi dengan berbagai dunia. Secara perkembangan zaman, hadirnya teknologi dalam generasi milenial mempengaruhi mesin peralatan bengkel kerja dengan teknologi digital. Program yang terbentuk diharapkan dapat menjawab karakteristik generasi milenial dalam sektor teknologi digital dengan penyediaan bengkel kerja serta memberikan ruang edukasi dan pelatihan bagi start-up. Sistem ruang yang dirancang terdiri dari beberapa program yang digabungkan berdasarkan analisa kebutuhan generasi milenial serta berdasarkan analisa tipologi ruang kerja. Pemilihan lokasi dipilih berdasarkan beberapa kriteria; berdasarkan peletakannya di pusat kota, dekat dengan banyaknya keberadaan generasi milenial, serta peletakannya yang mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Desain yang dibuat akan memiliki konsep suatu hasil produk dari digital, sehingga menarik pengunjung. Sistem sewa yang diberlakukan dalam bangunan berdasarkan ruang-ruang berikut dengan fasilitas penunjangnya. Penempatan dan orientasi akan disesuaikan oleh hasil analisa tapak dan untuk menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, lantai dasar dibuat setengah terbuka dan adanya penghijauan disekitar tapak.
PERANCANGAN RUANG BERMAIN DAN BERSANTAI YANG MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN Illona Delarosa Widjaja; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10733

Abstract

As the time goes by, humans’ daily activities predicted will be denser and could inflict some problems which built by negative emotion that occurs form human stress. This matter become concerned in a concept of dwelling in the future, which is how human survive. Humans in matter of survival, need some necessities. Those needs are fulfilled by human for releasing any negative emotions and gainning positive emotions or happiness. Therefore, this project is intended to fulfill happiness by proposing programs for playing and relaxing in leisure time for people around or outside the area. Those programs are based by some theories and understandings about happiness and which are being applied into architecture. In this case, placing and function of the space and also circulation are being thought out dynamically and based on hierarchy on the mass with the point of interest in playing and relaxing. This project is hoped for visitors who are coming could release stress and feeling happy. Keywords:  dwelling; emotion; happiness; play; relaxing AbstrakSeiring berkembangnya zaman, rutinitas manusia akan semakin padat dan dapat menimbulkan masalah dalam hal ini emosi negatif yaitu stres dalam diri manusia. Hal ini menjadi perhatian dalam konsep berhuni di masa depan, yaitu bagaimana manusia bertahan hidup. Manusia bertahan hidup memerlukan beberapa kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dipenuhi manusia untuk mengeluarkan emosi negatif dan mendapatkan emosi positif. Karena itulah proyek ini bertujuan untuk memenuhi rasa bahagia tersebut dengan menyuguhi program-program untuk bermain dan bersantai di waktu luang bagi masyarakat sekitar kawasan atau luar kawasan. Program-program tersebut diwujudkan dari beberapa teori dan pemahaman tentang kebahagiaan yang lalu diaplikasikan ke dalam arsitektur. Dalam hal ini, penempatan dan fungsi ruang dan juga sirkulasi diciptakan secara dinamis dan berdasarkan hierarki pada massa bangunan dengan berlandaskan tujuan untuk bermain dan bersantai. Proyek ini diharapkan agar dapat membuat pengunjung melepas stres dan merasa bahagia.
PASAR PUBLIK MAYESTIK Sebastian Tanuwidjaja; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8582

Abstract

A third place is needed by various groups of human. This serves as entertainment for the routine of human activity in the modern times. Where Their lives are divided by the first place that becomes their home and the second place where they running daily work activities. The Project is located on Jalan Tebah, Kebayoran Baru which is famous for its trading. Activities around the site are dominated by trade activities, other activities are school, office and housing activities. The purpose of this project is to facilitate the community to socialize from all groups of people through trading activities, the role of the community in this project is as a user who is divided into the role of traders who work as entrepreneurs and buyers. It also aims to support the Sustainable Development Goals program regarding equality of social status. With an individualist lifestyle due to demands of time-consuming work and humans need primary needs, therefore the Mayestik Public Market was formed to accommodate the needs of clothing and food and recreation with a third place concept. The market program is divided into 2 parts, namely wet and dry areas. In the wet area there are Food Street, Fresh Market, Mini Market and Bar, while in the dry area there are Bazaar, Online Marketplace, and Barbershop. There are also other programs to support the third place and self-development activities with Library, Artspace, Culinary Workshop, and Public Space. This place can be used for all people without paying, hoping to unite people from all groups of people without looking at each other's social status and interacting with one another as they should. Keywords:  Kebayoran Baru; Market; Needs; Third Place AbstrakSebuah tempat ketiga sangat dibutuhkan oleh berbagai kalangan manusia. Hal ini berfungsi sebagai hiburan terhadap rutinitas kegiatan manusia pada masa modern. Dimana kehidupan mereka terpecah pada sebuah tempat pertama yang menjadi rumah dan tempat kedua yang menjadi tempat kegiatan bekerja mereka sehari-hari. Lokasi Proyek terletak di Jalan Tebah, Kebayoran Baru yang terkenal dengan area perdagangan. Aktivitas di sekitar tapak didominasi aktivitas perdagangan, aktivitas lainnya terdapat aktivitas sekolah, perkantoran dan perumahan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memfasilitasi masyarakat untuk bersosialisasi dari semua kalangan melalui aktivitas perdagangan, peran masyarakat pada proyek ini adalah sebagai user yang terbagi menjadi peran pedagang yang bekerja sebagai wirausaha yang dan pembeli. Hal ini juga bertujuan mendukung program Sustainable Development Goals perihal kesetaraan status sosial. Manusia membutuhkan kebutuhan primer dan dengan gaya hidup manusia modern yang individualis akibat tuntutan pekerjaan yang memakan waktu, oleh sebab itu dibuatlah sebuah Pasar Publik Mayestik yang dapat mewadahi kebutuhan sandang dan pangan serta rekreasi dengan konsep tempat ketiga. Program pasar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu area basah dan area kering. Dalam area basah terdapat program Food Street, Fresh Market, Mini Market, dan Bar, sedangkan pada area kering terdapat program Bazaar, Online Marketplace, dan Barbershop. Terdapat juga program lainnya untuk mendukung konsep tempat ketiga dan aktivitas pengembangan diri berupa Library, Artspace, Culinary Workshop, dan Public Space. Tempat ini dapat digunakan untuk semua kalangan manusia tanpa harus berbayar, dengan harapan dapat menyatukan manusia dari semua kalangan tanpa melihat status sosial masing-masing dan berinteraksi satu dengan lainnya seperti seharusnya.
RENCANA PENGELOLAAN KAWASAN WISATA PULAU TIDUNG, KELURAHAN PULAU TIDUNG, KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN Garry Jeremiah Anthony Rey; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4584

Abstract

Tidung Island Tourism Area is a natural tourist attraction located in the Tidung Island Village, Seribu Islands District which offers Beach and Underwater Beauty as the attraction of Small Island Tourism. In addition, the large number of homestays is the difference between Tidung Island and other small islands in Kepulaun Thousand. The high number of tourists each year is a marker that Tidung Island Tourism Area is one of the options for the community to spend their vacation time. Along with the increasing number of tourists, it is necessary to repair and improve the quality of management and also the physical condition of existing facilities so that small island management can be maintained. Virtual Hotel Operator is a system that can be an answer in managing existing homestays. In addition, there is still a lack of direct community involvement in the management of the Island which is also a serious concern. The purpose of this study is to find out the management system in Small Island, especially Tidung Island, visitors' perceptions and preferences regarding the Tourist Area and propose a plan for managing the Tidung Island Tourism Area. To achieve these objectives, several analyzes were carried out, namely: policy analysis, physical conditions and management analysis, distribution, conditions and management of accommodation analysis, perception and visitor preferences analysis; carrying capacity analysis management plans and strategies analysis. These analysis were done using descriptive analysis tool, SWOT, calculation of carrying capacity, likert scale and cartesius.  AbstrakKawasan Wisata Pulau Tidung adalah objek wisata alam yang berada di Kelurahan Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu yang menawarkan Pantai dan Keindahan bawah laut sebagai daya tarik Pariwisata Pulau Kecil. Selain itu jumlah homestay yang banyak merupakan pembeda Pulau Tidung dengan Pulau-Pulau Kecil lainnya di Kepulaun seribu.  Jumlah wisatawan yang tinggi tiap tahunnya menjadi penanda bahwa Kawasan Wisata Pulau Tidung menjadi salah satu opsi masyarakat dalam menghabiskan waktu berlibur yang ada. Seiring dengan bertambah banyaknya wisatawan maka perlu dilakukaan perbaikan dan peningkatan kualitas terhadap manajemen dan juga kondisi fisik fasilitas yang ada sehingga pengelolaan pulau kecil dapat terjaga. Virtual Hotel Operator merupakan suatu sistem yang bisa menjadi jawaban dalam pengelolaan homestay yang ada. Selain itu, masih kurangnya keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan Pulau yang ada juga menjadi perhatian yang serius. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui sistem pengelolaan yang ada di Pulau Kecil khususnya Pulau Tidung, persepsi dan preferensi pengunjung mengenai Kawasan Wisata serta mengusulkan rencana pengelolaan Kawasan Wisata Pulau Tidung. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan beberapa analisis yaitu : analisis kebijakan, analisis kondisi fisik dan pengelolaan, analisis persebaran, kondisi dan pengelolaan akomodasi, analisis persepsi dan preferensi pengunjung, analisis daya dukung dan analisis rencana dan strategi pengelolaan. Analisis yang dilakukan menggunakan alat analisis yaitu deksriptif , SWOT, perhitungan daya dukung, skala likert dan diagram cartesius.
PENERAPAN KONSEP BANGUNAN CERDAS PADA DESAIN HUNIAN PADAT DI KAPUK Nickolaus Reinaldy Lizar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10910

Abstract

The project is located in the Kapuk area, Cengkareng District, West Jakarta. This project was motivated by population density problems which created a land and energy crisis in this area. So, with that, this smart building project was created with the aim of forming a compact residential unit that can accommodate many residents and creating a smart building system that can make energy independently for residential needs. In designing this project a contextual method was used to position the building so that it was in harmony with the existing environmental conditions. Where the original site and environmental conditions will form the basis of the concept in building the project. The smart building design strategy uses the concept of compact units to maximize efficient land use. And in answering the energy crisis problem, a building with a smart building concept is needed, which is needed to ease the use of natural resources with self-recycled energy in the project. So that the project does not depend on energy from outside, but can create its own energy through recycling systems, such as water filtration systems, solar power systems, and biogas systems. Keywords : Compact Residential Unit; Smart Building; Smart Energy System AbstrakProyek berada di kawasan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Proyek ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kepadatan penduduk yang menciptakan krisis lahan dan energi di kawasan tersebut. Proyek bangunan cerdas ini bertujuan untuk membentuk sebuah hunian unit padat yang dapat menampung banyak penghuni dan menciptakan sistem bangunan cerdas yang dapat membuat energi mandiri untuk kebutuhan berhuni. Dalam merancang proyek ini metode kontekstual digunakan untuk memposisikan bangunan agar selaras dengan kondisi lingkungan yang sudah lebih dulu ada. Dimana kondisi asal tapak dan lingkungan akan menjadi dasar konsep dalam membangun proyek. Strategi desain bangunan cerdas menggunakan konsep unit padat untuk memaksimalkan penggunaan lahan hunian secara efisien. Dalam menjawab masalah krisis energi digunakan konsep bangunan cerdas untuk meringankan penggunaan sumber daya alam dengan energi daur ulang mandiri di dalam proyek. Sehingga bangunan tidak bergantung terhadap energi dari luar, melainkan dapat menciptakan energinya sendiri melalui sistem-sistem daur ulang, seperti sistem filtrasi air, sistem tenaga surya, dan sistem biogas.

Page 52 of 134 | Total Record : 1332