cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MALL SUKARAMI PALEMBANG Alvin Gozali; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10852

Abstract

Humans are social creatures, therefore humans really need public space to interact with one another. Apart from being useful for interaction, public spaces can also be used to meet the needs of habitation and become the background for the development of human life, both in social, economic, cultural and entertainment activities. However, the lack of adequate public space in an area will make the area underdeveloped and make it difficult for the people of the area to meet the needs of the community. The design of the Sukarami Mall program is a public space divided into 2 main programs which are shopping to meet needs and supporting programs that are recreational in nature, where the main program is a shopping program that accommodates people's needs in the form of clothing, food, shelter, while recreational support is used for meet the needs of society. Where this program is the background of regional development in terms of regional, socio-economic and entertainment. in the shopping space program, it focuses more on daily shopping needs, while the recreational support program is oriented towards culinary and hangout recreation. Keywords: mall; sukarami palembang; shopping center AbstrakManusia merupakan makhluk sosial maka dari itu manusia sangat membutuhkan ruang publik untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya. Selain  berguna untuk berinteraksi, ruang publik juga bisa untuk memenuhi kebutuhan berhuni dan menjadi latar belakang perkembangan kehidupan manusia, baik  dalam kegiatan sosial ,ekonomi , budaya maupun hiburan. Namun kurangnya ruang publik yang memadahi disebuah kawasan akan membuat kawasan tersebut menjadi keterbelakangan dan membuat masyarakat kawasan tersebut menjadi sulit untuk memenuhi kebutuhan berhuni masyarakat. Rancangan program Sukarami Mall ini merupakan ruang publik yang dibagi menjadi 2 program utama yang bersifat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan dan program penunjang yang bersifat rekreasi, dimana program utama merupakan program perbelanjaan yang mengakomodir kebutuhan masyarakat berupa kebutuhan sandang ,pangan, papan, sedangkan penunjang rekreasi guna  untuk memehuni kebutuhan bersosisali masyarakat. Dimana program ini kan menjadi latar belakang perkembangan kawasan dari segi, sosial ekonomi dan hiburan kawasan. pada program ruang perbelanjaan lebih memfokuskan kepada kebutuhan berbelanja harian, sedangkan program penunjang rekreasi berorientasi ke rekreasi bidang kuliner dan  tongkrongan.
WISATA REKREASI AIR DAN KEBUGARAN DI ANCOL Irene Melisa; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3990

Abstract

Tingkat stress yang tinggi di Jakarta membuat kebutuhan akan rekreasi meningkat. Proyek ini memiliki tujuan untuk mewadahi olahraga air di Ancol sekaligus menjadi tempat wisata baru bagi kota Jakarta. Metode yang digunakan adalah deksriptif dimana dilakukan pengamatan langsung di lapangan dan analisis data – data untuk menentukan kebutuhan ruang hingga didapatkan hubungan ruang serta sirkulasi di dalam tapak. Konsep yang digunakan adalah Shelter - Inside out dimana bangunan yang terletak pinggir pantai bisa mengakomodasi orang – orang yang ingin bermain olahraga air tanpa menghilangkan esensi dari wisata pantai nya itu sendiri. Sehingga bangunan di desain memilik ruang dalam yang bersifat semi terbuka dan selalu mendapatkan view ke laut. Selain itu, bangunan juga bersifat sebagai shelter untuk melindungi dari panas dan teriknya matahari. Kelompok kegiatan dibuat berdasarkan zoning dan memperhatikan privasi dari tiap kegiatan. Olahraga air yang diwadahi adalah perahu dayung, jet ski, perahu layar, dan canoe. Dengan adanya bangunan ini diharapkan dapat menghidupkan kawasan dan menarik pengunjung untuk datang.
HUNIAN CERDAS Malvin Ng; Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4512

Abstract

At this time humans have a pattern of activities that prioritize all things instantaneously. Hard and Full Environmental Life. Because it fits their work, it makes time so valuable for all. Efficient in action is mandatory at this time. Decision making in any case becomes a responsibility that tries to be easy in doing activities. Even if the type of work area wants to be implemented instantly and the results are visible. Man is a creation that wants to know everything. Everything will never be satisfied. People must work to answer the big one. But many people choose their own instant way without knowing how to get around. Not only in work but the human lifestyle is preferred to look more innovative, creative, independent, and definitely instant. AbstrakPada saat ini manusia memilki suatu pola kegiatan yang mengutamakan serba instan. Kehidupan lingkungan keras dan penuh ambisi. Karena hal itu menurut mereka suatu pekerjaan keras itu yang membuat waktu begitu berharga buat semua nya. Efisien dalam bertindak merupakan tindakan yang wajib saat ini. Pemiihan keputusan dalam hal apapun menjadi pertanggung yang mencoba kegampangan dalam beraktivitas. Seagala macam bidang pekerjaan ingin di laksanakan dengan instan dan terlihat hasil nya.  Manusia adalah suatu ciptaan yang ingin mengetahui segala sesuatu nya. Segala sesuatu nya tak akan pernah puas. Manusia harus bekerja jawaban yg besar. Namun banyak orang yang memilih cara nya sendiri yang instan tanpa mengetahui dampak untuk sekitar nya. Bukan hanya dalam pekerjaan namun gaya hidup manusia lebih cenderung untuk terlihat lebih inovatif, kreatif, independent, dan pasti nya instan.
RUANG KETIGA DAN KONSEP KONTEKSTUAL PERANCANGAN RUANG SENI DI SENEN Fille Tamalazare Yuma; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8614

Abstract

In the modern era, the loss of third place in the city center, such as the city of Jakarta, has resulted in increasingly mushrooming shopping centers and increasing market gimmicks. This causes the level of social interaction between fellow humans decreases so that exclusivity is formed in each individual. In meeting social needs in that era, a social forum is needed as a place for communities to eliminate exclusivity and restore human nature which is basically a social creature that needs to interact. From this, architecture talks about ways to meet the needs of the community in the third place as a means of community existence. The presence of Art Space is intended to present communities where individuals can fuse and increase social interaction. Art Space raised the topic of art which is one of the characteristics of the Senen Kelurahan, Senen District, Central Jakarta. Art will be used as a medium and a tool to interact and communicate with each other. Making an entertainment center for art that is inclusive so that it can be enjoyed by all groups of people both artists, connoisseurs of art or the general public. The choice of performing arts is based on the high public interest in the Senen Village. The design of Art Space is designed with site analysis method so that the building pays attention to the surrounding context so as to strengthen the contextual concept. Combining typologies adapted from the habits or approaches of the needs of the surrounding community. Bluring boundaries between private closeness and public opensess. It is expected that Art Space can attract people to visit so that it presents social interaction. Keywords: Art Space; Social Interaction; Third Place Abstrak Pada era yang serba modern hilangnya third place pada pusat kota seperti kota Jakarta mengakibatkan pusat perbelanjaan semakin menjamur dan market gimmick yang terus meningkat. Hal tersebut menyebabkan tingkat interaksi sosial antara sesama manusia menurun sehingga terbentuklah eksklusifitas pada setiap individu. Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah komunitas-komunitas untuk menghilangkan ekslusifitas dan mengembalikan hakekat manusia yang pada dasarnya adalah mahluk sosial yang perlu berinteraksi. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas pada third place sebagai sarana eksistensi masyarakat. Kehadiran Art Space dimaksudkan untuk menghadirkan komunitas-komunitas  di mana individu dapat melebur dan meningkatkan interaksi sosial. Art Space  mengangkat topik seni yang merupakan salah satu karakteristik kawasan Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Seni akan digunakan sebagai media dan alat untuk berinteraksi serta berkomunikasi antara sesama manusia. Menjadikan pusat hiburan seni yang inklusif sehingga dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat baik seniman, penikmat seni atau khalayak umum. Pemilihan jenis seni pertunjukan didasarkan oleh tingginya animo masyarakat pada Kelurahan Senen. Perancangan Art Space didesain dengan metode site analysis agar bangunan memperhatikan konteks sekitar sehingga memperkuat konsep kontekstual. Mengkombinasikan tipologi yang diadaptasi dari kebiasaan atau pendekatan kebutuhan masyarakat sekitar. Meleburkan batasan diantara private closeness dan public opensess. Diharapkan Art Space dapat menarik masyarakat untuk berkunjung sehingga menghadirkan interaksi sosial.
PUSAT PELATIHAN KARAKTER UNTUK MILENIAL Venessa Handiwinata; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4513

Abstract

Millennial generation is the generation of births around 1980 to 2000 and in productive age. This generation has a problem, where they tend to be lazy, out of focus and narcissistic. There are 4 factors that cause it. First, this generation becomes depressed when in the workforce because there is no help from their parents and does not get what they want; second, this generation requires an addiction to the response of social media, which causes the absence of relations that improve between individuals; third, they do not last long in a company because they do not get what they want and want everything to be instant (inpatient); fourth, environmental participation that creates character of the individuals, where the environment at this time is more concerned with numbers than a community needs and only focus on short-term needs. In addition, the companies where they work don’t help/provide facilities to build cooperation and character development skills. Of all these problems, the millennial generation needs a facilities to develop their social skills, which can improve their ability to develop visions related to the development of their potential and innovation. Therefore, they need a character training center, with supporting facilities such as foodhall, shared work space, and gym facilities, where those supporting facilities can help the process of character training. This character training center has a concept that prioritizes togetherness and sociability with the "the c’s" method. AbstrakGenerasi millennial adalah generasi kelahiran sekitar tahun 1980 sampai dengan 2000 dan sedang dalam usia produktif. Generasi ini memiliki sebuah isu, dimana mereka cenderung malas, tidak fokus dan narsis. Terdapat 4 faktor penyebabnya. Pertama, generasi ini menjadi depresi saat di dunia kerja karena tidak adanya bantuan dari orangtua dan tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan; kedua, generasi ini cenderung kecanduan akan respon dari media sosial, dimana hal tersebut menyebabkan tidak adanya relasi yang kuat antar individu; ketiga, mereka cenderung tidak bertahan lama dalam suatu perusahaan karena mereka merasa tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dan ingin semuanya serba instan (tidak sabaran); keempat, lingkungan hidup yang membentuk karakter dari individu, dimana lingkungan hidup pada saat ini lebih mementingkan angka dibandingkan kebutuhan masyarakat dan hanya memikirkan kebutuhan jangka pendek. Selain itu, perusahaan tempat mereka bekerja cenderung tidak membantu/menyediakan fasilitas untuk membangun skill kerjasama dan pembangunan karakter. Dari semua isu tersebut, generasi millennial membutuhkan sebuah fasilitas untuk mengembangkan social skills mereka, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi mereka dalam pembentukan visi hidup yang berhubungan dalam pengembangan potensi dan inovasi mereka. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan suatu Character Training Center, dengan fasilitas pendukung seperti foodhall, co-working space dan fasilitas gym, dimana fasilitas pendukung tersebut dapat membantu sebuah proses character training. Character Training Center ini memiliki konsep dimana mengutamakan togetherness and sociability dengan metode  “the c’s”.
KEBERSIHAN DAN KESEHATAN PADA KEPADATAN TINGGI Glenda Wongso; Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10718

Abstract

The world was shaken at the beginning of 2020 with the news of Covid-19 Virus. Indonesia is one of the countries affected by the impact, especially in Jakarta, that is still in a red zone area, which is one of the areas with the highest Covid-19 cases in Jakarta is West Pademangan in North Jakarta. West Pademangan is one of residential area with the highest population density, with a lot of slum settlements and limited public facilites to support that area. This design aims to reduce the density of buildings in order to create a distance of contact between communities in Pademangan. The presence of public facilities and green spaces also creates contact distance between communities in addition to reducing the level of density. This study used a qualitative descriptive approach, with primary data in the form of survey results and field studies as well as secondary data obtained from government data, research journals, and books. The data collection technique uses the comparative method, the overlay method, and the analysis method using the Solid-Void concept and Organic Architecture. The concept of health and hygiene in the building is inspired by a concept of a medical mask which consists of 3 layers but still can "breathe" consisting of breath brick layer and TiO2 layer. In addition, a space for interaction between communities is also created on the ground floor of the flats which is used as a public area consisting of a garden, canteen, gym, market and retail shop as a place for buying and selling transactions. Keywords: dwelling; health; high density; hygiene  AbstrakDunia diguncang pada awal tahun 2020 dengan berita Virus Covid-19.  Indonesia menjadi salah satunya negara yang terkena dampaknya, terutama di Jakarta yang sampai saat ini masih menjadi kawasan zona merah, dimana salah satunya adalah kawasan Pademangan Barat di Jakarta Utara yang merupakan salah satu kawasan dengan kasus Covid-19 tertinggi di Jakarta. Pademangan Barat merupakan kawasan permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi, kumuh dan fasilitas umum yang terbatas untuk menunjang kawasan tersebut. Rancangan ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan bangunan agar tercipta adanya jarak kontak antarmasyarakat di Pademangan. Kehadiran fasilitas umum dan ruang hijau turut serta menciptakan jarak kontak antar masyarakat di samping menurunkan tingkat kepadatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan jenis data primer berupa hasil survey dan studi lapangan juga data sekunder yang diperoleh dari data pemerintah, jurnal penelitian, dan buku. Teknik pengumpulan data menggunakan metode komparasi, metode penampalan, dan metode analisis dengan menggunakan konsep Solid-Void dan Arsitektur Organik. Konsep hidup bersih dan sehat tercipta pada bangunan dengan konsep yang terilhami dari masker yang terdiri dari 3 lapisan tetapi masih bisa “bernafas” yang terdiri dari breath brick dan lapisan TiO2. Selain itu, ruang interaksi antar masyarakat juga tercipta pada lantai dasar rumah susun yang dijadikan sebagai area publik yang terdiri dari taman, kantin, gym, market, dan retail shop sebagai tempat transaksi jual-beli.
PERANCANGAN SARANA KEBUGARAN DAN KESEHATAN SEBAGAI THIRD PLACE BAGI KAWASAN SUNTER AGUNG Kornelius Yonathan; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6891

Abstract

Third place is a place that brings various kinds of people together, where their activities are not related to home routines (1st place) and work routines (2nd place). Third place is needed for everyone because it is a place where people can release the fatigue that occurs in their daily activities. Third place is an important part in the formation of a community that provides alignment and harmony, where people who are known can be found. The most important part of third place, is guiding happiness, where people can feel the presence of others, a place for interaction that is filled with excitement. The lack of third place as a result of development that is only oriented to the interests of capital, causes the community to overcome it independently. They held their own third place in their residential area with the possibility of greater access. This also happens in the Sunter Agung area which is the most dominant productive age in education, so social bonds are more easily formed. Through literature studies and observational studies that have been carried out, it is known that the needs of the community of Sunter Agung Village in the third place are very high and need to be anticipated immediately in order to avoid environmental and social degradation. To make this happen, facilities are needed that can facilitate the community to interact, which is suitable for all walks of life. By paying attention to public - private, closeness - openness, natural - artificial etc., the design is tailored to the needs of the community. In this case, the intended facilities are not yet available in Sunter Agung Village, so that it becomes an urgency for the area. AbstrakRuang ketiga (third place) merupakan tempat yang mempertemukan berbagai macam masyarakat, dimana kegiatannya tidak terkait dengan rutinitas rumah (1st place) dan rutinitas pekerjaan (2nd place). Third place diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Third place adalah bagian penting dalam pembentukan suatu komunitas yang memberikan kesejajaran dan keselarasan, dimana orang-orang yang dikenal dapat ditemukan. Bagian terpenting dari third place, adalah menuntun kebahagiaan, dimana orang dapat merasakan kehadiran sesama dan merupakan tempat untuk berinteraksi yang dipenuhi dengan kegembiraan. Namun karena minimnya ruang ketiga (third place) sebagai akibat pengembangan yang hanya berorientasi pada kepentingan kapital, masyarakat mengatasinya secara mandiri. Mereka mengadakan sendiri ruang ketiga (third place) di lingkungan pemukimannya dengan kemungkinan akses yang lebih besar. Hal ini juga terjadi di kawasan Sunter Agung yang merupakan kawasan pendidikan dengan jumlah usia produktif paling dominan, sehingga ikatan sosial lebih mudah terbentuk. Melalui studi literatur dan studi observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat Kelurahan Sunter Agung akan third place sangat tinggi dan perlu segera diantisipasi agar tidak terjadi degradasi lingkungan dan sosial. Untuk mewujudkannya, diperlukan fasilitas yang dapat mewadahi masyarakat untuk berinteraksi, yang sesuai dengan semua kalangan masyarakat. Dengan memperhatikan public – private, closeness – openness, natural – artificial dll,  perancangan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, fasilitas yang dimaksudkan belum tersedia di Kelurahan Sunter Agung, sehingga menjadi urgensi bagi kawasan tersebut.
WAHANA DUNIA PERMAINAN TRADISIONAL DAN MODERN Pretty Angel Duxanda; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3955

Abstract

Kota Jakarta merupakan kota Metropolis. Pada suatu kota pentingnya adanya suatu tempat wisata yang dimana dapat berfungsi untuk menghibur masyarakat untuk menghilangkan kepenatan, meningkatkan daya tarik suatu kota dan juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat sekitar. Wisata rekreasi merupakan salah satu jenis wisata yang cocok di kota Jakarta, karena wisata rekreasi merupakan tempat wisata yang dimana pengunjung yang datang mengikuti aktivitas program didalamnya. Program yang diangkat pada wisata ini berupa kegiatan yang sering dilakukan orang-orang yaitu game/permainan. Permainan yang disediakan adalah permainan tradisional dan modern yang dimana supaya permainan tradisional kembali dikenal dan permainan modernpun juga tetap berkembang dan bisa dinikmati semua kalangan. Konsep perancangan adalah transformasi yang dimana dari program disusun mulai dari permainan tradisional ke modern dan juga pada pengunanaan material dan pada tiap zona pun berbeda. Zona terbagi menjadi dua yaitu zona permainan tradisional dan zona permainan modern. 
SIMPUL TEKNOLOGI AKTIF DAN KREATIF Emanuel Christian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8607

Abstract

Living and growing up in urban areas with various pressures, both from home or work/school, makes people have a higher stress level. People whom lives in the city need a space in between home (first place) and a place of work / study (second place), namely the third place. Third place is important for the people because it is a place where they can be themselves, freely channel their talents and interests, as well as socializing and maintaining fitness in the midst of the busy city. Therefore, a need rises for an architectural manifestation in the form of a third place with a creative hub to channel ideas, creativity, talents, and interests and active space to maintain fitness, socialize, and build community. Penjaringan is also home to various types of communities, ranging from people with gardening activity units communities. The location of the site which is located in Penjaringan surrounded by agribusiness industrial buildings, and residential areas makes the Active Creative Technology  Hub a strategic third place and able to accommodate various needs of the third activities of Penjaringan community and its surroundings. The design methodology used is trans-programming method by Bernard Tshumi which places two programmes that are not normally associated with each other together.  Active Creative Technology Hub as a third place project is designed to be a place for sustainable community development, a place in between for the people of Penjaringan, and to make the environment more lively and pleasant. Keywords:  Active; Activity; Community; Creative; SocialAbstrakTinggal di daerah kota membuat masyarakat memiliki tingkat stres yang tinggi yang disebabkan oleh berbagai tekanan, baik dari rumah maupun tempat kerja atau sekolah. Masyarakat kota membutuhkan ruang antara tempat tinggal (first place) dan tempat kerja/ belajar (second place) yaitu third place. Kehadiran sebuah third place penting bagi masyarakat kota untuk menjadi tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bebas menyalurkan bakat dan minat. Oleh karena itu, muncul kebutuhan akan sebuah perwujudan arsitektur berupa third place dengan creative hub untuk menyalurkan ide, kreativitas, bakat, dan minat serta active space untuk menjaga kebugaran, bersosialisasi, dan membangun komunitas. Kelurahan Penjaringan merupakan wilayah bagian dari Jakarta Utara yang berkembang dan memiliki kawasan yang sangat ramai. Selain itu di Kelurahan Penjaringan juga terdapat kawasan rumah tinggal dengan keterbatasan lahan sehingga tidak ada wadah bagi kegiatan hobi dari masyarakat. Lokasi tapak juga dikelilingi oleh bangunan dengan fungsi industri terkait mesin terkait agrobisnis, termasuk industri berskala kecil yang dijalankan oleh masyarakat sekitar. Metode perancangan yang digunakan adalah metode trans-programming oleh Bernard Tschumi yang mengkombinasikan dua program yang sifat dan konfigurasi spasialnya berbeda tanpa melihat kecocokannya. Proyek  Simpul Teknologi Aktif & Kreatif sebagai sebuah third place  berusaha untuk menjadi wadah bagi pembangunan komunitas, sebagai pendukung bagi masyarakat sekitar melalui penyediaan fasilitas edukatif, menjadi tempat perantara bagi masyarakat Kelurahan Penjaringan, serta membuat suasana semakin hidup dan menyenangkan.
FASILITAS KEBUGARAN DAN REKREASI DI SETIABUDI Setiawan, Ariwibowo; Ratnaningrum, Dewi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6752

Abstract

Humans are highly social beings with great desire for social belonging and interpersonal exchange in their life. Public space has become a cornerstone of public growth consisting economic, social, entertainment, and political enterprise. Therefore, the continuation of public interaction become very dependent on both public space existence and growth.  The inadequacy of public space in Setiabudi has provoked the community to create public spaces in their residential roads to socialize and do various activities. Nonetheless, using roads as public infrastructure for daily activities and socializing may resulted in inconvenience and hazardous situation. In addition, most inhabitants in Setiabudi are migrants with the incentive to work and settle which resulted in social discrepancy. If this problem is not anticipated immediately, social and environmental degradation may arise. From these issues, we can conclude that Setiabudi need some facilities to fulfill the social needs of inhabitants and migrants secondary needs to work and settle. The research method conducted is through literature studies, precedent studies. In addition, direct observation techniques were also carried out namely interviews and observations to several settlements, social and public facilities. Therefore, facilities such as flexible space, gym, kid’s play area, bar, and recreational space for food court and co-working space are essential. Along with the oasis-maker concept, Setiabudi Wellness and Recreation Facility undertake inclusivity of human, neutrality, and playfulness. AbstrakManusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan interaksi sosial dengan sesamanya dalam daur hidupnya. Ruang publik telah menjadi latar bagi perkembangan kehidupan publik, baik dalam kegiatan ekonomi, sosial, hiburan, hingga politik. Berlangsungnya kehidupan publik dengan interaksi sosial menjadi salah satu faktor yang sangat bergantung pada keberadaan dan perkembangan ruang publik. Minimnya ruang publik di kawasan Setiabudi mengakibatkan masyarakat menciptakan ruang publik di jalan lingkungan permukimannya sebagai tempat untuk bersosialisasi dan beraktivitas. Kegiatan-kegiatan yang menggunakan jalan sebagai media beraktivitas dan bersosialiasi sehari-hari cenderung mengganggu serta berbahaya bagi warga. Selain itu, sebagian penghuni di kawasan Setiabudi merupakan pendatang dari luar kawasan tersebut yang ingin bekerja dan bermukim sehingga menyebabkan kesenggangan sosial antara pendatang dan penduduk Setiabudi. Tujuan proyek adalah mengurangi degradasi sosial dan lingkungan antara pendatang dan penghuni Setiabudi. Dari isu-isu  tersebut, dapat disimpulkan bahwa kawasan Setiabudi membutuhkan fasilitas-fasilitas untuk melengkapi kebutuhan sosial harian penduduk dan kebutuhan sekunder pendatang yang bekerja sekaligus bermukim di kawasan Setiabudi. Metode penelitian yang digunakan adalah melalui studi literatur, studi preseden. Selain itu, dilakukan juga teknik pengamatan langsung yaitu wawancara dan dan observasi ke beberapa permukiman, fasilitas sosial dan umum. Oleh karena itu, mereka membutuhkan fasilitas seperti flexible space (ruang serbaguna), gym, kid’s play area, bar dan ruang rekreasi dengan fasilitas pendukung seperti food court dan co-working space. Fasilitas Kebugaran dan Rekreasi ini memiliki konsep oasis-maker yang mengutamakan inklusivitas antar sesama manusia serta bersifat netral dan memiliki kesan playful.

Page 49 of 134 | Total Record : 1332