cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN TEORI SUPERIMPOSITION METHODS BERNARD TSCHUMI PADA PENGOLAHAN SAMPAH DAN SARANA EDUKASINYA Adriel Gandhi; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12428

Abstract

Indonesia is the largest waste-producing country in the world after China, this affects marine ecosystems and the human environment itself. Jakarta is one of the largest contributors of waste, therefore efforts are needed to overcome this waste problem which can be started from an area, namely North Jakarta. North Jakarta is the estuary of 13 rivers in Jakarta which makes this area one of the largest waste producers in Jakarta. The waste processing facility in North Jakarta is a facility that introduces the waste processing process in Jakarta with an environmental perspective to the public. This facility is located in the Penjaringan sub-district, where in this area a waste processing site will be built to overcome the surrounding waste problem and is expected to be used by residents as a means of education. This facility can be a tourist destination for the community in recognizing the types, processes and results of waste processing. This facility will also introduce the impact and information about waste and the community can be directly involved in the waste processing process. In addition, this facility is equipped with supporting facilities, namely an exhibition area and a souvenir shop. The architectural design approach uses Bernard Tschumi's superimposition methods which were chosen with the aim of overcoming design problems. This project is expected to be able to overcome the waste problem that exists in Indonesia and remove the name of Indonesia from the list of the largest waste producers in the world starting from an area, namely North Jakarta. Keywords: education; garbage; Indonesia;  Jakarta; Waste processing Abstrak Indonesia merupakan negara penghasil sampah terbanyak di dunia setelah Cina, hal ini mempengaruhi ekosistem laut dan lingkungan hidup manusia itu sendiri. Jakarta merupakan salah satu penyumbang sampah terbanyak, oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mengatasi masalah sampah ini yang dapat dimulai dari suatu daerah yaitu Jakarta Utara. Jakarta Utara merupakan muara dari 13 sungai di Jakarta yang menjadikan daerah ini salah satu penghasil sampah terbanyak di Jakarta. Fasilitas pengolahan sampah di Jakarta Utara merupakan fasilitas yang memperkenalkan proses pengolahan sampah di Jakarta dengan berwawasan lingkungan kepada masyarakat. Fasilitas ini terletak di kawasan Kecamatan Penjaringan, dimana pada kawasan ini akan dibangun tempat pengolahan sampah untuk mengatasi permasalahan sampah sekitar dan diharapkan dapat digunakan warga sebagai sarana edukasi. Fasilitas ini dapat menjadi tujuan wisata bagi masyarakat dalam mengenal jenis-jenis, proses dan hasil pengolahan sampah. Fasilitas ini juga akan mengenalkan dampak dan informasi tentang sampah serta masyarakat dapat terjun langsung dalam proses pengolahan sampah. Selain itu, fasilitas ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung, yaitu area eksibisi dan toko souvenir. Pendekatan perancangan arsitektur menggunakan superimposition methods Bernard Tschumi yang dipilih dengan tujuan untuk mengatasi masalah perancangan. Proyek ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah yang ada di Indonesia dan menghapus nama Indonesia dari daftar penghasil sampah terbanyak di dunia yang dimulai dari suatu daerah yaitu Jakarta Utara. 
PENGAPLIKASIAN SIMBIOSIS DAN ARSITEKTUR RESILIENSI DALAM DESAIN SENTRA BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN BANDENG ADAPTIF DI TAMBAKREJO Marcellin Gaby Sunyoto; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12460

Abstract

The reciprocal relationship between humans and nature has an inseparable bond between one another. Human dependence on using natural resources causes ecosystem imbalances and raises problems such as tidal flooding in coastal areas. “Tanadah” is an adaptive cultivation and processing center project in Tambakrejo, North Semarang which is known for their Milkfish cultivation. Then, Its located near the Java Sea, so this area is also known for the intensity of tidal floods that often occur. The purpose of this project is to increase creativity and stabilize the economy of the Tambakrejo, so they don’t have to worry about the threat of tidal flooding every month. Thus, the community is expected to continue to work effectively and productively in both dry and flood conditions, as well as can still get a proper place of refuge in flood conditions. The method used is qualitative research and surveys, with referencing to several design principles such as Symbiosis by Kisho Kurokawa, Resilience Architecture and Ecology. The conclusion of this project study is to accommodate the Tambakrejo community so that they are not disturbed by the presence of tidal flooding in their activities such in economic, cultural or social aspects. The novelty is an adaptive buildings designs that can still be used during dry (market) or flooded (shelter) conditions. Keywords:  adaptive; ecology; resilience architecture; symbiosis; tidal floodAbstrakHubungan timbal balik antara manusia dan alam memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ketergantungan manusia terhadap pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem dan memunculkan permasalahan seperti salah satunya banjir rob di area pesisir. “Tanadah” merupakan sebuah proyek sentra budidaya dan pengolahan adaptif di Tambakrejo, Semarang Utara yang merupakan kawasan yang dikenal karna budidaya dan pengolahan Ikan Bandeng (ikon oleh-oleh Kota Semarang). Selain itu, letaknya yang berbatasan dengan Laut Jawa menyebabkan kawasan ini juga dikenal karna intensitas banjir rob yang sering terjadi. Tujuan kehadiran proyek ini adalah untuk meningkatkan kreativitas dan menstabilkan perekonomian masyarakat Tambakrejo tanpa harus mengkhawatirkan ancaman bencana banjir rob setiap bulannya.  Sehingga, masyarakat diharapkan tetap dapat bekerja dengan efektif dan produktif baik dalam kondisi kering maupun kondisi banjir sekalipun, serta tetap mendapatkan tempat pengsungsian yang layak dalam kondisi banjir.Metode yang digunakan yaitu dengan penelitian kualitatif dan survey dengan memperhatikan beberapa prinsip perancangan seperti Simbiosis oleh Kisho Kurokawa,  dan Arsitektur Resiliensi yang mengacu pada ekologi. Kesimpulan dari proyek penelitian ini adalah untuk mewadahi masyarakat Tambakrejo agar tidak terhambat oleh kehadiran banjir rob dalam berkegiatan dan beraktivitas baik dalam aspek ekonomi, budaya maupun sosial. Temuan yang dihasilkan yaitu menghasilkan bangunan yang adaptif sehingga tetap dapat digunakan saat kondisi kering (pasar) maupun banjir (shelter).
STRATEGI PENGELOLAAN TAMAN KOTA SEBAGAI DESTINASI WISATA (OBJEK STUDI : TAMAN KOTA 2 BSD, KOTA TANGERANG SELATAN) Alya Permata Asti; Sylvie Wirawati; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12899

Abstract

Taman Kota 2 BSD is one of the public spaces in South Tangerang City that functions as a green open space which has a land area of 69,834 m2 and provides various kinds of facilities and natural and artificial beauty to overcome environmental problems in urban areas. Taman Kota 2 BSD has been operating since 2006 which was initially developed by PT. Bumi Serpong Damai Tbk, and given to the Tangerang Regency Government which was then given to the South Tangerang City Government after becoming an autonomous region as one of the regional assets. Taman Kota 2 BSD is one of the locations that is expected to become a city tourist destination, which provides sports, recreation, education and culinary facilities. However, in reality the management of this park has not been able to meet the needs of the community and cannot carry out its role properly as a public and social facility. The purpose of this study was to determine the potential and problems contained in the park, to determine the performance of park management and to propose management strategies for Taman Kota 2 BSD. Data collection in this study was carried out by means of field surveys, interviews, distributing questionnaires and literature studies. To find out how management strategies can be applied, the authors use analysis (location, physical condition, attractiveness, best practice, visitor perceptions and preferences, management strategy). The results of the author's research are in the form of a proposed strategy for the management of Taman Kota 2 BSD in order to achieve sustainable conservation.Keywords: Management; Strategy; Urban ParkAbstrak Taman Kota 2 BSD merupakan salah satu ruang publik di Kota Tangerang Selatan yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang memiliki luas lahan sebesar 69.834 m2 dan menyediakan berbagai macam fasilitas serta keindahan alam maupun buatan untuk mengatasi permasalahan lingkungan di kawasan perkotaan. Taman Kota 2 BSD telah beroperasi sejak tahun 2006 yang dikembangkan pada awal mula oleh PT. Bumi Serpong Damai Tbk, dan diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang yang kemudian diberikan kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan setelah menjadi daerah otonom sebagai salah satu aset daerah. Taman Kota 2 BSD merupakan salah satu lokasi yang diharapkan dapat menjadi destinasi wisata kota, yang menyediakan fasilitas olahraga, rekreasi, edukasi dan kuliner. Namun pada kenyataan pengelolaan taman ini belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat melaksanakan perannya dengan baik sebagai fasilitas umum dan sosial. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi dan masalah yang terdapat pada taman, mengetahui kinerja pengelolaan taman dan memberikan usulan strategi pengelolaan untuk Taman Kota 2 BSD. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara survei lapangan, wawancara, penyebaran kuesioner dan studi pustaka. Untuk mengetahui bagaimana strategi pengelolaan yang dapat diterapkan, penulis menggunakan analisis (lokasi, kondisi fisik, daya tarik, best practice, persepsi dan preferensi pengunjung, strategi pengelolaan). Hasil penelitian penulis yaitu berupa usulan strategi terhadap kegiatan pengelolaan Taman Kota 2 BSD agar tercapai konservasi berkelanjutan. 
BANGUNAN PENGOLAHAN AIR SEBAGAI SOLUSI KETERBATASAN AIR BERSIH DI MUARA BARU Johnson Wijaya; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12366

Abstract

Muara Baru region is well known as the area with clean water scarcity. The locals tried to adapt by fulfilling the daily needs of water with purchasing water on wheels.  RE.TREAT Water Treatment Project involves rainwater harvesting and dam water treatment and process them as clean water supply in Muara Baru. By definition, RE.TREAT Water Treatment Project would be defined as a place to process and treat water as a clean water supply to the neighbourhood and provides recreational space to self sooth. The research began with mapping the affected area of the clean water scarcity. Thus the best possible location was chosen and analyzed with the principles of landscape urbanism to create the base design guideline. Being the result of the concept, the base design guideline is applied in the massing study and thus created the RE.TREAT Water Treatment Project. With the purpose of water treatment and supporting recreational functions, the residents of Muara Baru will have a steady clean water source with a more affordable price and a public space to get away from the crowd and daily routine. Keywords : clean water scarcity; water treatment; Muara Baru AbstrakDaerah Muara Baru dikenal sebagai daerah yang kekurangan air bersih. Penduduk setempat mencoba beradaptasi dan memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan membeli air pikulan. Proyek Pengolahan Air RE.TREAT merupakan proyek pengolahan air hujan dan air waduk yang dimanfaatkan kembali menjadi suplai air bersih di Muara Baru. Berdasarkan definisinya, Proyek Pengolahan Air RE.TREAT memiliki makna sebagai tempat memproses dan memelihara air untuk suplai air bersih yang dipakai kembali dan rekreasi untuk mencari ketenangan batin. Proses penelitian diawali dari langkah pemetaan daerah terdampak krisis air bersih. Kemudian site dengan potensi terbaik dianalisis lingkungan sekitarnya melalui prinsip landscape urbanism untuk menghasilkan pedoman mendesain. Pedoman mendesain kemudian dituangkan melalui studi gubahan massa dalam menciptakan bangunan Pengolahan Air RE.TREAT. Dengan RE.TREAT sebagai hasil arsitektur pengolahan air dan fungsi penunjang rekreasi setempat, maka penduduk Muara Baru akan memiliki sumber air bersih baru dengan harga yang lebih terjangkau dan ruang terbuka publik untuk melepas penat di tengah area pelabuhan dan perkampungan yang hiruk pikuk.
METODE SPATIAL MACHINE ANTARA MENCIPTAKAN KONSERVASI KOMODO DAN MENJALIN KEMBALI SAUDARA SEDARAH LEGENDA PUTRI NAJO DI PULAU KOMODO Joshua Keefe; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12329

Abstract

Starting from a happy life where the human settlement and Komodo dragons live side by side. Generation to another generation, the people of Komodo village have believed in totemism from the legend of Princess Najo who gave birth to two male twins, one in the form of a human and one in the form of a Komodo dragon. At that time, humans shared their prey with the Komodo dragons. Now the Komodo village, whose life is in the tourism sector, will be allocated to another island by the government. When the Komodo people are restless, many dragons swim everywhere. There is a flesh and blood relationship between the Komodo dragon and humans. The residents balked and would rather die than have to move from the village which they called their "spilled blood". Plus the threat of a break in the Komodo dragon's food chain due to illegal poaching of Timor deer by illegal communities. The purpose of this research focuses on raising the nobility value of the Komodo village with the existence of the Komodo dragon due to the breaking of the traditional totemism chain and the scarcity of the Komodo dragon. This research uses a spatial machine method which aims to turn on the Komodo dragon's breathing space which is mutualized with the daily life of the village based on the legend of Putri Najo to its original locus in the past. The experience that the author shares is a thought in planning social systems and ecosystems on Komodo Island in response to "Beyond Ecology". A typology of conservation buildings that aims to protect, care for, breed where the Komodo dragon is not just an animal, but is a blood relative. Keywords: Komodo dragon; Putri Najo; Spatial Machine AbstrakBerawal dari kehidupan yang bahagia dimana perkampungan manusia dengan komodo hidup saling berdampingan. Secara turun-temurun, masyarakat desa Komodo memiliki kepercayaan totemisme dari kisah legenda Putri Najo yang melahirkan dua anak kembar laki-laki, yang satu berwujud manusia dan satu lagi berwujud komodo. Pada masa itu, manusia saling membagikan hasil buruannya kepada komodo. Sekarang kampung Komodo yang hidupnya pada sektor pariwisata akan dialokasikan ke pulau lain oleh pemerintah. Ketika orang Komodo gelisah, banyak komodo berenang kemana-mana. Terasa ada hubungan darah daging dan batin antara komodo dengan manusia. Warga menolak keras dan lebih baik mati daripada harus pindah dari desa yang mereka sebut ‘tumpah darah’ mereka. Ditambah ancaman putusnya rantai makanan komodo akibat perburuan liar rusa Timor oleh masyarakat ilegal. Tujuan dari penelitian ini berfokus dalam mengangkat nilai keluhuran desa Komodo dengan keberadaan komodo akibat putusnya rantai tradisi totemisme dan kelangkaan komodo. Penelitian ini menggunakan metode mesin keruangan bertujuan menghidupkan ruang nafas komodo yang bermutualisasi dengan keseharian desa diangkat dari kisah legenda Putri Najo ke lokus aslinya di masa lampau. Pengalaman yang penulis bagikan merupakan sebuah pemikiran perencanaan sistem sosial dan ekosistem di Pulau Komodo sebagai jawaban dari “Melampaui Ekologi”. Tipologi bangunan konservasi yang bertujuan melindungi, merawat, mengembangbiakkan dimana komodo bukan sekadar hewan, tetapi saudara sedarah.
EVALUASI REVITALISASI KAWASAN EKOWISATA WADUK DARMA (STUDI KASUS : REVITALISASI TAHAP 1 WISATA WADUK DARMA DESA JAGARA KECAMATAN DARMA KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT) Dhisa Putriady; B. Irwan Wipranata; I G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12911

Abstract

West Java with its potential has launched tourism development based on the RIPDA of West Java Province which focuses on planning one or more tourist destinations that have been or will become the flagship of the province. As the main guideline, the tourism revitalization of the Waduk Darma is a manifestation of full support for the preservation of tourism objects as well as efforts to empower potential so that they can make a more significant contribution to the implementation, development and empowerment of the Kuningan Regency Government assets. Ecotourism is environmentally oriented tourism to bridge the interests of natural resource protection and the tourism industry. Evaluation is a process of providing information about the extent to which certain activities have been achieved, how the achievement differs from a certain standard to find out whether there is a difference between the two, and how the benefits that have been carried out are compared to the expectations to be obtained. The objectives are: 1) Knowing the ecotourism potential that can be developed in the Waduk Darma tourist area 2) Analyzing the impact of revitalization activities on socio-cultural aspects around the Darma Reservoir and 3) Evaluating the suitability of the first phase revitalization program for Waduk Darma tourism. The methods used are 1) Policy analysis, 2) Location and site analysis, 3) Tourism analysis and, 4) Best Practice analysis. Research results 1) The potential for ecotourism in the Darma Reservoir area is in the form of natural panoramas, trees, rice fields, forests, reservoir waters. Many tourists come to enjoy ecotourism, 2) After being analyzed, it can be seen that the revitalization of the Darma Reservoir has a greater and positive influence on the socio- cultural life of the community, and 3) The first phase of revitalization is in accordance with the planning, the comparison of the tourism conditions of the Darma Reservoir before and now is experiencing differences. of tourism facilities/infrastructure. Keywords: Ecotourism; Evaluation; Revitalization; Waduk DarmaAbstrakJawa Barat dengan potensinya telah mencanangkan pengembangan pariwisata, berdasarkan RIPDA Provinsi Jawa Barat yang menitikberatkan pada perencanaan satu atau lebih destinasi wisata yang telah atau akan menjadi unggulan provinsi tersebut (BAPPEDA Provinsi Jawa Barat, 2018). Sebagai pedoman utama, Revitalisasi wisata Waduk Darma merupakan perwujudan dukungan sepenuhnya terhadap pelestarian obyek wisata sekaligus upaya pemberdayaan potensi sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan pada penyelenggaraan, pengembangan dan pemberdayaan aset Pemerintah Kabupaten Kuningan. Ekowisata merupakan wisata berorientasi pada lingkungan untuk menjembatani kepentingan perlindungan sumberdaya alam dan industri kepariwisataan. Evaluasi merupakan suatu proses penyediaan informasi mengenai sejauh mana kegiatan tertentu telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian tersebut dengan suatu standar tertentu untuk mengetahui apakah ada selisih diantara keduanya, serta bagaimana manfaat yang telah dikerjakan bila dibandingkan dengan harapan-harapan yang ingin diperoleh. Tujuannya: 1) Mengetahui potensi ekowisata yang dapat dikembangkan di kawasan wisata Waduk Darma 2) Menganalisis dampak kegiatan revitalisasi terhadap aspek sosial budaya di sekitar Waduk Darma dan 3) Mengevaluasi kesesuaian program revitalisasi tahap pertama wisata Waduk Darma. Metode yang digunakan adalah 1) Analisis kebijakan, 2) Analisis lokasi dan tapak, 3) Analisis wisata dan, 4) Analisis Best Practice. Hasil penelitian 1) Potensi ekowisata di kawasan Waduk Darma berupa panorama alam, pepohonan, areal persawahan, hutan, perairan waduk. Banyak wisatawan berdatangan menikmati ekowisata, 2) Setelah dianalisis, terlihat bahwa revitalisasi Waduk Darma lebih memiliki pengaruh yang besar dan positif terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat, dan 3) Revitalisasi tahap pertama sudah sesuai dengan perencanaan, perbandingan kondisi wisata Waduk Darma dahulu dengan sekarang mengalami perbedaan dari sarana/prasarana pariwisata.
MUSEUM GARIS WAKTU TERUMBU KARANG Carolina Tedjapranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12292

Abstract

Climate change causes global warming on earth. This event was preceded by the start of the Industrial Revolution, a shift in the production system from human power to machine power, which encouraged the construction of factories and the transportation system to support manufactured goods. This thing increases the carbon emission gas in the air. Coastal areas are the regions generally defenseless against the adverse consequences of climate change. Coral reefs are oceanic environments that are influenced by environmental change. The condition of coral reefs is getting worse along with the earth's rising temperature and can cause death. This cause affects not only humans but also marine life. Gili Matra is a diving and snorkeling tourism destination that is rich in coral reefs. Supported by the development of a coral garden by the government in Gili Meno fits perfectly with the purpose of this project. By using experimental methods and the technology to build the "Museum of Coral Reef Timeline" project, this project aims to educate, maintain, and research coral reefs that are exhibited as tourist objects to attract tourists and the public, which are expected to increase public awareness and maintain the marine ecosystem, so that it can contribute or make efforts in conserving coral reefs, as well as providing education to the public or tourists to know the richness of coral reefs in Indonesia. Keywords: Coral Reefs; Gili Meno; Museum AbstrakPerubahan iklim menyebabkan terjadinya pemanasan global di bumi. Peristiwa ini diawali dengan dimulainya Revolusi Industri, sebuah peralihan proses produksi dari tenaga manusia ke sistem mekanis yang mendorong pembangunan pabrik-pabrik dan juga sistem transportasi untuk mendukung distribusi barang-barang hasil produksi. Hal ini tentunya meningkatkan gas emisi karbon di udara. Daerah pesisir adalah daerah yang paling rentan terkena dampak negatif perubahan iklim. Naiknya temperatur bumi berdampak juga pada kenaikan temperatur perairan. Terumbu karang merupakan ekosistem perairan yang terkena dampak dari perubahan iklim. Kondisi terumbu karang kian memburuk seiring dengan naiknya temperatur bumi dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada manusia, tetapi juga biota laut. Gili Matra adalah kawasan destinasi wisata diving dan snorkeling yang kaya akan terumbu karang. Didukung dengan adanya pembangunan kebun karang oleh pemerintah di Gili Meno sangat cocok dengan tujuan dari proyek ini. Dengan melalui metode eksperimental dan penggunaan teknologi membangun proyek “Museum Garis Waktu Terumbu Karang”, proyek ini bertujuan untuk edukasi, pemeliharaan, dan penelitian terumbu karang, serta dipamerkan sebagai objek wisata untuk menarik wisatawan dan masyarakat, yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mempertahankan ekosistem laut, sehingga dapat memberikan sumbangan atau upaya dalam melestarikan terumbu karang, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat atau wisatawan untuk mengenal kekayaan terumbu karang di Indonesia.
DESIGN LANDSCAPE URBANISM PADA TAMAN HORTIKULTURA TROPIS WADUK PLUIT Fransiska Lasriama; F. Tatang H Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12338

Abstract

Plants are living things, plants can affect the lives of other living things, so it can be said that plants can affect an ecosystem. Horticulture is one of the most diverse types of plants in Indonesia, and can be grown in urban areas such as Jakarta. The ecology of horticultural plants must be studied to complement the urban landscape design of urban green open spaces and can also be consumed by the community. However, people's knowledge about horticultural plants that can be consumed is very lacking, especially the habits of urban people who tend to consume fast food, where this habit is actually not good for the body and the ecosystem. Therefore, we need a container that is able to revive and be able to develop horticultural plants that blend with the existing site conditions. Thus, the presence of an architectural container for growing horticultural crops does not damage the existing ecosystem conditions. The combination of ecological science, architectural technology, architectural methods, and technology for growing horticultural plants is expected to create an architectural container for horticultural plants to develop well and can attract people's interest to know several types of horticultural plants. Because knowledge and human health greatly affect the quality of an ecosystem. The horticulture that is planted is also a plant that can grow in the tropics, especially the selected site area, namely in North Jakarta. Thus, horticulture not only provides education to the public, but can grow, and fill urban public spaces, such as parks. Thus, a new ecosystem is created that is beneficial to fellow living things. Keywords: Ecology; Horticulture; Urbanism LandscapeAbstrakTumbuhan adalah makhluk hidup, tumbuhan dapat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup lainnya, sehingga dapat dikatakan tumbuhan dapat mempengaruhi suatu ekosistem. Hortikultura merupakan salah satu jenis tanaman yang sangat beragam di Indonesia, dan dapat tumbuh di daerah perkotaan seperti Jakarta. Ekologi tanaman hortikultura harus dipelajari untuk melengkapi design landskap urbanisme ruang terbuka hijau kota dan juga dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Namun, pengetahuan masyarakat tentang tanaman hortikultura yang bisa dikonsumsi sangat kurang, terutama kebiasaan masyarakat kota yang lebih cenderung mengkonsumsi makanan cepat saji, dimana kebiasaan ini sebenarnya tidak baik untuk tubuh dan ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan suatu wadah yang mampu menghidupkan dan mampu mengembangkan tanaman hortikultura yang menyatu dengan kondisi tapak eksisting. Sehingga, kehadiran wadah arsitektur untuk menanam tanaman hortikultura tidak merusak kondisi ekosistem yang sudah ada. Perpaduan antara ilmu ekologi,  teknologi arsitektur, metode arsitektur, dan teknologi menanam tanaman hortikultura diharapkan dapat menciptakan wadah arsitektur untuk tanaman hortikultura berkembang baik dan dapat menarik minat masyarakat untuk mengenal beberapa jenis tanaman hortikultura. Sebab, pengetahuan dan kesehatan manusia pun sangat mempengaruhi kualitas suatu ekosistem. Hortikultura yang ditanam juga merupakan tanaman yang dapat tumbuh didaerah tropis, terutama daerah tapak terpilih, yaitu di Jakarta Utara. Dengan demikian, hortikultura tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat, tetapi dapat tumbuh, dan mengisi ruang publik perkotaan, seperti taman. Sehingga, tercipta ekosistem baru yang bermanfaat bagi sesama makhluk hidup. 
PUSAT KOMUNITAS ADAPTIF KEMANG KEMANG ADAPTIVE COMMUNITY HUB Diego Mozes Leong; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12463

Abstract

Beyond Ecology is the result of the acceleration of ecology so that the relationship between Biotic and Abiotic is no longer only Plants or Animals or Humans with where they interact but can also develop like Humans and behavior. Humans and behavior are things that are less viewed at this time, both fellow humans and humans towards the surrounding environment. During the Covid-19 pandemic, which forces people to live more disciplined lives, implementing health protocols will have an impact on humans and their behavior in the community or society together. Along with these needs, the community in Kemang with various interests in activities requires the existence of a community that is able to answer these needs. In meeting the needs of designing the Kemang community container with various interests, activities and behaviors. The approach used is the transprogramming method, Bernard Tschumi. With this design method, it is expected to be able to answer the needs of not only interest in activities that can be accommodated but also the surrounding community who live in the Kemang area. The design of the Kemang Adaptive Community Center uses a mutually supportive and complementary pattern, so that it can be used simultaneously or alternately according to a flexibly designed schedule of activities. The existence of a high level of mobility is expected to be able to answer the issues raised in increasing public awareness of behavior in their community. Keywords: Adaptive; Environment; Human; Interest; Behavior AbstrakMelampaui Ekologi merupakan hasil dari percepatan ekologi sehingga hubungan antara Biotik dan Abiotik tidak lagi hanya Tumbuhan atau Hewan atau Manusia dengan tempat mereka melakukan interaksi tetapi bisa juga berkembang seperti Manusia dan perilaku. Manusia dan perilaku pun merupakan hal yang kurang dipandang pada masa ini, baik sesama manusia maupun manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Dimasa pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat untuk hidup lebih berdisiplin melakukan protokol kesehatan akan memberikan dampak pada manusia dan perilakunya berkomunitas atau bermasyarakat secara bersama-sama. Seiring dengan kebutuhan tersebut komunitas di Kemang yang memiliki berbagai minat aktivitas memerlukan adanya sebuah komunitas yang mampu menjawab kebutuhan tersebut.  Dalam memenuhi kebutuhan perancangan wadah komunitas Kemang dengan berbagai minat aktivitas serta perilakunya. Dilakukan pendekatan yang menggunakan metode transprogramming, Bernard Tschumi. Dengan metode perancangan tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan  tidak hanya minat aktivitas yang dapat diwadahi tetapi juga masyarakat sekitar yang tinggal di daerah Kemang. Rancangan Pusat Komunitas Adaptif Kemang yang menggunakan pola saling menunjang dan melengkapi, sehingga dapat digunakan secara bersamaan atau bergantian sesuai skedul kegiatan yang dirancang secara fleksibel. Adanya tingkat mobilitas yang tinggi diharapkan mampu menjawab isu yang diangkat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan berperilaku di komunitas lingkungan hidupnya. 
REVITALISASI HUNIAN KAMPUNG NELAYAN BERBASIS PADA KEHIDUPAN KESEHARIAN NELAYAN Ryan Hartadi Hiumawan; Samsu Hendra Siwi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12355

Abstract

This article learns about the revitalization of the fishing village residential area. As a village area, fishing villages have many problems ranging from villages that continue to grow organically, to housing conditions that tend to be unfit. In the process of improving the quality of the fishermen's housing, we have been made various efforts, starting from provisioning flats and so on. However, this effort tends to only focus on providing mass residential areas without paying attention to the characteristics of the fishermen. This fishing village revitalization project in Kalibaru Area is designed to be an option in providing more decent residential for fishermen with deep attention to the fishermen's characteristics and daily activities. This projects also  providing various programs and facilities based on the fishermen's needs, both their daily and work-related needs, to get various things that suit the needs of fishermen, this research uses qualitative methods based on the daily behavior of fishermen in Kalibaru. The design process of this projects began with the behavior of fishermen's life which next was explored deeper by exploring through various sources from the internet and related literature. It aims to produce buildings and programs under the context and needs of fishermen and the village area itself. Several programs are being tried in this project, such as fish market, dock, food court, and so on. The exciting village atmosphere is also trying to be presented by leaving the vertical circulation open as if it were an alley in the village. This project might build a vertical village area that is more comfortable and liveable, so the village can be a sustainable inhabited area. Keywords: characteristics; fishermen;  fishermen behavior; fishermen’s village; residential. Abstrak Artikel ini mempelajari tentang revitalisasi kawasan hunian kampung nelayan. Sebagai sebuah kawasan kampung, kampung nelayan memiliki banyak permasalahan mulai dari pemukiman yang tumbuh secara organik, hingga kondisi hunian yang cenderung tidak layak. Dalam proses dan usaha peningkatan kualitas hunian para nelayan, telah dilakukan berbagai usaha mulai dari penyediaan rusun dan lain sebagainya. Namun usaha ini cenderung hanya berfokus pada penyediaan hunian secara massal tanpa memperhatikan karakteristik kehidupan nelayan itu sendiri. Proyek revitalisasi kampung nelayan di kawasan Kalibaru ini dirancang untuk menjadi opsi penyediaan hunian yang lebih layak bagi nelayan dengan tetap memperhatikan karakteristik dan aktivitas sehari-hari nelayan. Selain melakukan penyediaan hunian, proyek ini juga berusaha menghadirkan berbagai program dan fasilitas berdasarkan pada kebutuhan nelayan baik dalam kehidupan sehari hari maupun yang mendukung pekerjaannya, untuk mendapatkan berbagai hal yang sesuai dengan kebutuhan nelayan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berbasis pada perilaku keseharian nelayan Kalibaru. Proses perancangan pada proyek ini diawali dari perilaku kehidupan nelayan kemudian dieksplorasi lebih dalam dengan menggali lapisan kehidupan nelayan melalui berbagai sumber di internet dan literatur terkait.  Hal ini bertujuan agar desain bangunan serta program yang dihasilkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan nelayan serta kawasan kampung nelayan. Beberapa program yang coba dihadirkan pada proyek ini seperti pasar ikan, dermaga, pujasera, dan lain sebagainya. Suasana kampung exciting juga berusaha dihadirkan dengan membiarkan sirkulasi vertikal terbuka seolah adalah gang di perkampungan.   Sehingga diharapkan Proyek ini dapat menjadi sebuah kawasan kampung vertikal yang nyaman untuk ditinggali dan bersifat lebih liveable dan dapat menjadi sebuah kawasan berhuni yang berkelanjutan.

Page 59 of 134 | Total Record : 1332