cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MENGEMBALIKAN MEMORI KAMPUNG TUGU MELALUI RUANG KEBUDAYAAN KAMPUNG TUGU, JAKARTA Feris Misael Trifosa; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22605

Abstract

Kampung Tugu area is a cultural heritage area. The Tugu Church, the Portuguese Village, the Rabo-Rabo Tradition, Mande-Mande as well as the Keroncong and Tugu dances are regional characters that are reflected in the Tugu Village. The area has undergone environmental changes, where village land use is currently mostly used as container and industrial parking lots which has caused the character of the Kampung Tugu area to slowly disappear, Kampung Tugu has become an intangible memory. Urban acupuncture is a strategy in placing cultural activity points as an effort to cure diseases in the area. Using everyday methods and typologies in the design can connect the needs of the area to the project to become a continuation of existence and revive the character of the Kampung Tugu area. Rabonde Toegoe is a new face for Kampung Tugu, a living tourism of Portuguese and Betawi culture that Tugu has. The design is carried out with adaptive reuse for the Tugu community in maintaining culture and opening up space to become an attraction for outsiders. Keywords:  acupuncture; architecture; character; city; degradation; region Abstrak Kawasan Kampung Tugu merupakan kawasan cagar budaya. Gereja Tugu, Kampung Portugis, Tradisi Rabo-Rabo, Mande-Mande serta Keroncong dan tarian Tugu, merupakan karakter kawasan yang tergambar dari Kampung Tugu. Kawasan mengalami perubahan secara lingkungan, dimana penggunaan lahan kampung, saat ini mayoritas digunakan sebagai lahan parkir kontainer dan industri yang menyebabkan karakter kawasan Kampung Tugu perlahan hilang, Kampung Tugu menjadi sebuah memori yang tidak berwujud. Akupunktur perkotaan menjadi sebuah strategi dalam menempatkan titik - titik aktivitas budaya sebagai upaya penyembuhan terhadap penyakit pada kawasan. Dengan menggunakan metode keseharian dan tipologi pada perancangan dapat mengkoneksikan kebutuhan kawasan terhadap proyek untuk menjadi sebuah kelanjutan dari eksistensi dan menghidupkan karakter kawasan Kampung Tugu. Rabonde Toegoe menjadi wajah baru bagi Kampung Tugu menjadi wisata hidup kebudayaan Portugis dan Betawi yang Tugu miliki. Perancangan dilakukan dengan penggunaan kembali secara adaptif bagi komunitas Tugu dalam mempertahankan kebudayaan serta membuka ruang untuk menjadi daya tarik bagi masyarakat luar.
MENGANGKAT BUDAYA PECINAN YANG MELEBUR SEBAGAI ATTRACTOR BARU YANG MENUNJANG KAWASAN DAN SEBAGAI IDENTITAS KAWASAN PASAR LAMA TANGERANG Galant Giatica Eka Surya; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22606

Abstract

The Pasar Lama Tangerang Chinatown area is an area that became the forerunner to the formation of the City of Tangerang. Historic sites such as typical Chinatown buildings are evidence of the spread of the Confucian religion and Chinese settlements, the Jami' Kalipasir Mosque as the oldest mosque is evidence of the spread of Islam, and the Cisadane River as a transportation and trade route at its time. This area is also one of the Chinatown areas with the uniqueness that produced a new breed, the Benteng Chinese tribe (a fusion of Chinese, Betawi and Sudanese tribes). But unfortunately the local historical and cultural sites are now starting to disappear along with the times. This area is now better known as a traditional market and culinary center at night. The development of the area which is focused on traditional markets and culinary centers has resulted in a compaction of activities at one point which causes the surrounding points to become dead spaces and undeveloped. Now this area is very clearly seen as a market area and a culinary center, the uniqueness of the Chinatown village is starting to disappear with the typical Chinatown houses that are damaged, abandoned. The culinary center is driving a change in the area to become more modern as new, more modern eateries and retail emerge that take advantage of several Chinatown shophouses to be renovated as a modern design or cover the original building with a modern façade design. In dealing with these problems, local cultures that merge with each other are brought back which are interpreted in the form of activity programs so that the area has new activities that support existing activities. Utilization of dead areas due to lack of development is used as design points that accommodate new activities so that they are active as a whole. The goal is that each dot can be active and offer a variety of activities so as to create a space travel experience for visitors. The design of the cultural center and the rearrangement of the riverside area are used as the first step as a generator of regional development with the characteristics of local culture. Keywords: Chinatown culture; cultural centers; identity; regional rearrangement; supporting activities Abstrak Kawasan Pecinan Pasar Lama Tangerang merupakan daerah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Tangerang. Situs bersejarah seperti bangunan khas Pecinan menjadi bukti penyebaran agama Konghucu dan Pemukiman Tionghoa, Masjid Jami’ Kalipasir sebagai masjid tertua bukti dari penyebaran agama islam, dan Sungai Cisadane sebagai jalur transportasi dan perdagangan pada masanya. Kawasan ini juga merupakan salah satu daerah Pecinan dengan keunikannya yang menghasilkan peranakan baru, suku Cina Benteng (Peleburan suku Tionghoa, Betawi dan Sunda). Namun sayangnya situs sejarah dan kebudayaan setempat sekarang mulai hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Kawasan ini sekarang lebih dikenal sebagai pasar tradisional dan pusat kuliner pada malam hari. Pengembangan kawasan yang terfokus pada pasar tradisional dan pusat kuliner menyebabkan terjadinya pemadatan aktivitas di satu titik yang menyebabkan titik-titik sekitarnya menjadi ruang mati dan tidak ikut berkembang. Sekarang ini kawasan sangat jelas terlihat sebagai daerah pasar dan pusat kuliner, kekhasannya akan kampung pecinan mulai hilang dengan rumah-rumah khas pecinan yang rusak, ditinggalkan, dan terbengkalai. Pusat kuliner mendorong perubahan kawasan yang lebih modern seiring munculnya tempat makan baru yang lebih modern yang memanfaatkan beberapa bangunan ruko khas pecinan yang direnovasi atau menutupi bangunan aslinya dengan desain fasad yang modern. Dalam menangani permasalahan tersebut, kebudayaan lokal yang saling melebur diangkat kembali yang diinterpretasikan dalam bentuk program aktivitas sehingga kawasan memiliki aktivitas baru yang mendukung atau menunjang aktivitas yang sudah ada. Pemanfaatan daerah-daerah yang mati karena kurang berkembang dijadikan sebagai titik-titik perancangan yang mewadahi aktivitas baru sehingga aktif secara menyeluruh. Tujuannya setiap titik-titik dapat aktif dan menawarkan variasi aktivitas sehingga menciptakan sebuah perjalanan pengalaman ruang untuk pengunjung. Perancangan pusat kebudayaan dan penataan ulang kawasan pinggiran sungai dijadikan langkah awal sebagai generator pengembangan kawasan dengan sifat-sifat kebudaan lokalnya.
REBRANDING TERMINAL GROGOL: WAJAH BARU TERMINAL GROGOL Regan Vicgor Wijaya; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22607

Abstract

The terminal is well known to all Jakartans as a public facility for finding public transportation modes according to their destination. Public transportation such as city buses and angkots use the terminal as a starting point and take passengers to other terminals and stopping points. Judging from the current conditions, public transportation modes at the terminal are less in demand as a result of technological developments in the transportation sector which make it easier for them to use other modes of transportation, for example, online taxis. This causes functional degradation at the terminal which can slowly disappear. The degradation that occurs in the terminal then has an impact on the environment which also becomes quieter and "dead". One of the terminals that has experienced the impact of this development is the Grogol Terminal. The narrow and elongated shape of Grogol Terminal also allows for congestion due to buses and angkots. This can be a source of air pollution for the surrounding environment because Grogol Terminal also lacks green space. This design is proposed with the Urban Acupuncture approach, namely utilizing points in cities that are less active to revive the surrounding environment and the Biophilic Architecture approach to create a healthy environment. The results obtained through this design are to bring out a new face for Grogol Terminal and maximize the potential of facilities at Grogol Terminal as a transit point. Keywords:  biophilic architecture; degradation; environment; facilities; Grogol terminal; urban acupuncture Abstrak Terminal sudah dikenal oleh semua masyarakat Jakarta sebagai fasilitas publik untuk mencari moda transportasi umum sesuai titik tujuannya. Angkutan umum seperti bus kota dan angkot menjadikan terminal sebagai tempat pangkal dan mengantar penumpang menuju terminal dan titik perhentian lain. Melihat dari kondisi yang berlangsung, moda transportasi umum di terminal berkurang peminatnya sebagai dampak dari perkembangan teknologi di bidang transportasi yang memudahkan mereka untuk menggunakan moda transportasi lainnya sebagai contoh ojek online. Hal ini menimbulkan degradasi fungsi pada terminal yang perlahan-lahan dapat menghilang. Degradasi yang terjadi pada terminal kemudian berdampak pada lingkungannya yang juga menjadi lebih sepi dan “mati”. Salah satu terminal yang telah mengalami dampak dari perkembangan tersebut adalah Terminal Grogol. Bentuk lahan Terminal Grogol yang sempit dan memanjang juga memungkinkan terjadinya kepadatan akibat bus dan angkot. Hal ini dapat menjadi sumber polusi udara bagi lingkungan sekitarnya karena Terminal Grogol juga minim ruang hijau. Perancangan ini diusulkan dengan pendekatan Akupunktur Perkotaan yaitu memanfaatkan titik pada kota yang kurang aktif untuk menghidupkan lingkungan sekitarnya dan pendekatan Arsitektur Biofilik untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Hasil yang diperoleh melalui perancangan ini adalah memunculkan wajah baru dari Terminal Grogol serta memaksimalkan potensi fasilitas pada Terminal Grogol sebagai titik transit.
PENYEDIAAN HUNIAN YANG LAYAK BAGI LANSIA SEBAGAI PELAYANAN MENGHADAPI AGEING POPULATION DI JAKARTA Hansen Leonardo; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22609

Abstract

Population growth in Indonesia is a concern to prevent population growth. The elderly community is targeted because the number of elderly people can bring Indonesia into the era of the Ageing Population. This study discusses solutions to deal with the increasing elderly population in the next few years by providing decent housing and improving the quality of life of the elderly. By using a qualitative method which is realized in the form of a design, it is hoped that it can be a solution to the existing problems. Of course, by not forgetting several factors that must be considered in maintaining and improving the quality of life of the elderly. Keywords: Elderly Population; population density; elderly; population growth; housing provision Abstrak Pertumbuhan penduduk di Indonesia menjadi perhatian untuk mencegah terjadinya lonjakan jumlah penduduk. Masyarakat lansia menjadi sasaran dikarenakan jumlah masyarakat lansia dapat membawa negara Indonesia memasuki era Ageing Population. Dalam penelitian ini membahas solusi untuk menghadapi pertambahan penduduk lansia dalam beberapa tahun kedepan dengan memberikan hunian yang layak serta meningkatkan kualitas hidup lansia. Dengan menggunakan metode kualitatif yang diwujudkan dalam bentuk desain diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Tentu saja dengan tidak melupakan beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup para masyarakat lansia.
PEMROGRAMAN KEMBALI PASAR BUAH TRADISIONAL PASAR MINGGU DENGAN KONSEP TERRACE + SHARING Dinda Nabilah; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22617

Abstract

Pasar Minggu is one of the largest traditional markets in South Jakarta, with a strategic location with transportation nodes, namely Pasar Minggu Station and Pasar Minggu Terminal. However, the attractiveness of Pasar Minggu has decreased due to the disorder caused by street vendors and public transportation. The purpose of this study is to redefine the Sunday Market programming as a traditional market so as not to lose its attractiveness and identity, as well as save the condition of the Sunday Market as a whole in accordance with the principles of urban acupuncture. This study uses a qualitative method by conducting a literature review, especially related to urban acupuncture theory and programming principles in architecture. This research also analyzes the space requirements that occur in the market as an effort to redefine the relationship between humans and fruit as a commodity in a new market concept. The concept of terrace + sharing is one of the efforts to redefine Pasar Minggu programming as a traditional fruit market. In this concept, new programs such as hydroponic and organic fruit and vegetable planting workshops, so that the results of the training can be traded, then programs to restore social spaces from the Sunday Market with hydroponic plant exhibitions and fruit restaurants that indirectly will immediately present social spaces. Keywords: Degradation; Pasar Minggu; traditional market; urban acupuncture Abstrak Pasar Minggu merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Jakarta Selatan, dengan letaknya yang strategis dengan dengan titik simpul transportasi, yaitu Stasiun Pasar Minggu dan Terminal Pasar Minggu. Namun demikian, daya tarik Pasar Minggu mengalami penurunan akibat ketidakteraturan yang disebabkan oleh pedagang kaki lima dan angkutan umum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendefinisikan kembali pemrograman Pasar Minggu sebagai pasar tradisional agar tidak kehilangan daya tarik dan identitasnya, serta menyelamatkan kondisi Pasar Minggu secara keseluruhan sesuai dengan prinsip akupuntur urban. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan penelusuran kajian pustaka, terutama terkait teori akupuntur urban dan prinsip – prinsip pemrograman dalam arsitektur. Penelitian ini juga melakukan analisis kebutuhan ruang yang terjadi di pasar sebagai usaha mendefinisikan kembali hubungan antar manusia dengan buah sebagai komoditas dalam konsep pasar yang baru. Konsep terrace + sharing merupakan salah satu usaha dalam pendefinIsian kembali pemrograman Pasar Minggu sebagai pasar buah tradisional. Dalam konsep ini, program – program baru seperti workshop penanaman buah dan sayur secara hidroponik dan organik, sehingga dari pelatihan tersebut hasilnya dapat diperjual belikan, lalu program untuk mengembalikan ruang – ruang sosial dari Pasar Minggu dengan adanya pameran tanaman hidroponik dan resto buah yang secara tidak langsung akan menghadirkan ruang – ruang sosial.
PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE MELALUI PROYEK PADEPOKAN SENI SRENGSENG Juan Felix Harly Helga; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22619

Abstract

In Jakarta there are zones that have their respective land use functions, such as economic zones, government zones, cultural zones, green zones, etc. However, many people do not know about these zones, such as Jalan Merdeka Gambir as the government zone, and the Cikini area as one of the "cultural" zones. Apart from Cikini, there are many other areas which are cultural zones, but these "cultural" zones have been forgotten by the community due to the times. As a result, public interest in the cultures owned by the Indonesian state is reduced. The loss of public interest in culture will gradually make the culture that is owned disappear being consumed by the progress of time. Even though a country or region can be known by the public both at home and abroad because it has a unique culture. Therefore, this project aims to revive a culture that has faded, so that it can be remembered by the community and can continue to maintain cultural preservation. The method that the author uses is to collect information that can support the design title, such as collecting data on schools around the site that still maintain culture so that it can support the author's theme. The goal that the author wants to achieve is that the culture of the nation does not disappear, and also provides a place for people who are still interested in culture, so that culture does not disappear with time. Keywords:  culture; culture zone; progress of times Abstrak Di Jakarta terdapat zona-zona yang memiliki fungsi tata guna lahan masing-masing, seperti zona perekonomian, zona pemerintahan, zona budaya, zona hijau, dll. Namun, banyak masyarakat yang tidak mengetahui zona-zona tersebut, seperti jalan Merdeka Gambir sebagai zona pemerintahan, dan daerah Cikini sebagai salah satu zona “budaya”. Selain Cikini, masih terdapat banyak daerah lain yang merupakan zona budaya, tetapi zona “budaya” tersebut sudah dilupakan oleh masyarakat karena perkembangan zaman. Akibatnya, ketertarikan masyarakat terhadap kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki oleh negara Indonesia berkurang. Hilangnya ketertarikan masyarakat terhadap kebudayaan lambat laun akan membuat budaya yang dimiliki hilang termakan oleh kemajuan zaman. Padahal suatu negara atau daerah dapat dikenal oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri karena memiliki kebudayaan yang unik. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali budaya yang sudah pudar, agar dapat diingat kembali oleh masyarakat dan dapat terus menjaga kelestarian budaya. Metode yang penulis gunakan dalah mengumpulkan informasi-informasi yang dapat mendukung judul perancangan seperti, mengumpulkan data sekolah-sekolah disekitar tapak yang masih melestarikan kebudayaan sehingga dapat mendukung tema penulis. Tujuan yang ingin diraih penulis adalah agar kebudayaan yang dimiliki bangsa tidak menghilang, dan juga memberikan wadah kepada para masyarakat yang masih tertarik terhadap budaya, sehingga budaya tidak menghilang termakan zaman.
MEMORI KOLEKTIF KAWASAN “LITTLE TOKYO” PADA “TEMPAT KETIGA” BLOK M Michael Hutagalung; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22621

Abstract

Blok M area is a part of Jakarta that is very popular with visitors and known for its endless activities. Because the Blok M area is an office and commercial area to meet daily primary and secondary needs. As a result of intense activity, the area of ​​Blok M has undergone some degradation of the region, such as physical, social, and spiritual degradation, which has changed the image of the place. Blok M area, known as "Little Tokyo", has its own regional identity due to its strong appeal. Known as "Little Tokyo" because various Japanese people live, work and socialize with the locals around Blok M. The research method in this case is a qualitative descriptive method using pictures, maps and diagrams, supported by identifying the relationship between regional degradation and urban space and designing using the urban acupuncture method with a contextual approach. The literature review concerns the identity of Little Tokyo, the collective memory of the Block M area, and the concept of the third place. This study aims to identify and revive the local values ​​of Blok M “Little Tokyo”, which are now disappearing. The development of this area does not destroy the existing story of “Little Tokyo”, so the concept of “Third Place” in “Little Tokyo” Blok M creates a new attraction with new efforts to open up opportunities to increase the value of the location and the investment value. In the ability to restore the collective memory of the Blok M region. Keywords:  Blok M;  colletive memories; “Little Tokyo”; locality; ‘Third Place’ Abstrak Kawasan Blok M merupakan bagian dari Jakarta yang sangat padat pengunjung dan terkenal dengan aktivitas yang tidak pernah berhenti. Karena Kawasan Blok M merupakan kawasan perkantoran dan komersial untuk memenuhi kebutuhan utama untuk kesehariannya. Akibat aktivitas yang intens, Kawasan Blok M terjadi degradasi kawasan tertentu, seperti degradasi fisik, sosial dan spiritual, yang mengubah citra tempat ini. Kawasan Blok M yang dikenal dengan sebutan "Little Tokyo" memiliki identitas kedaerahan tersendiri karena daya tariknya yang begitu kuat. Dikenal sebagai "Little Tokyo" karena banyak orang Jepang yang tinggal, bekerja, dan bersosialisasi dengan penduduk setempat di sekitar Blok M. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan gambar, peta dan diagram, didukung dengan mengidentifikasi keterkaitan degradasi kawasan dengan ruang kota dan perancangan menggunakan metode urban akupunktur dengan pendekatan kontekstual. Tinjauan literatur yang mendasari penelitian ini adalah identitas “Little Tokyo”, memori kolektif Kawasan Blok M, dan konsep tempat ketiga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal kawasan Blok M "Little Tokyo" yang kini mulai menghilang. Pengembangan kawasan ini tidak merusak sejarah "Little Tokyo" yang ada, sehingga konsep "Tempat Ketiga" di "Little Tokyo" Blok M menciptakan daya tarik baru dengan upaya baru untuk membuka peluang peningkatan nilai tempat dan nilai investasi yang mampu mengembalikan memori kolektif Kawasan Blok M.
METODE CROSS-PROGRAMING SEBAGAI PENDEKATAN DALAM PERANCANGAN DI SIMPUL PANGERAN JAYAKARTA DAN TIANGSENG, JAKARTA Canguandha Yudha Prasetyo; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22622

Abstract

Pangeran Jayakarta is an active area for almost 24 hours. From morning to noon, this area is dominated by activities related to offices and the sale of various housing and construction needs such as the sale of iron, furniture, spare parts, and others. In the afternoon, we can find a night market at the end of Jalan Pangeran Jayakarta and Tiangseng. In addition, this area is also very strategic because it is located on the main road, close to the Mangga Dua Mall shopping center, and the train station. However, several shop houses in this area are abandoned buildings even though they are located very strategically. Misuse of green open space as a base for street carts is also a problem in itself. The purpose of this research is to explore and find appropriate design methods in improving the quality of the area, both programmatically and spatially, according to the principles of urban acupuncture. This study uses a qualitative research method, namely phenomenology by conducting a search of the literature regarding theories related to the principles of urban acupuncture and programming in architecture. Observation of a place is carried out by mapping the activities in this place, observing the crowded points and the flow of activities according to the time and also looking at the pain points around the place. This study found that the cross-programming method is the most suitable design method to be applied in this context, namely by combining Industrial and road programs. In this context, the cross-programming design method can improve spatial quality and activate programs in that place. Keywords: cross-programing; programing; Tiangseng; the Prince of Jayakarta Abstrak Pangeran Jayakarta merupakan kawasan yang aktif hampir 24 jam. Pada pagi sampai siang hari, kawasan ini didominasi oleh kegiatan - kegiatan yang berhubungan dengan perkantoran dan penjualan berbagai barang kebutuhan rumah dan konstruksi seperti penjualan besi, furniture, onderdil, dan lainnya. Saat sore sampai malam hari, kita dapat menemukan pasar malam di simpul Jalan Pangeran Jayakarta dan Tiangseng. Selain itu, kawasan ini juga sangat strategis karena letaknya berada pada jalan utama, dekat dengan pusat belanja Mangga Dua Mall, dan stasiun kereta. Namun demikian, beberapa ruko di kawasan ini menjadi bangunan terbengkalai walaupun letaknya sangat strategis. Penyalahgunaan ruang terbuka hijau sebagai pangkalan gerobak kaki lima juga menjadi salah satu permasalahan tersendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelusuri dan menemukan metode perancangan yang sesuai dalam meningkatkan kualitas kawasan, baik secara program maupun spasial, sesuai dengan prinsip – prinsip akupuntur urban. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu Fenomologi dengan melakukan penelusuran terhadap kajian pustaka terkait teori yang berhubungan dengan prinsip – prinsip akupuntur urban dan pemrograman dalam arsitektur. Pengamatan terhadap kawasan dilakukan dengan memetakan kegiatan di kawasan ini, mengamati titik keramaiannya dan alur kegiatan sesuai dengan waktunya dan juga melihat titik-titik sakit di sekitar kawasan. Penelitian ini menemukan bahwa metode cross programming merupakan metode perancangan yang paling sesuai untuk diterapkan dalam konteks ini, yaitu dengan menggabungkan program Industri dan street Dalam konteks ini, metode perancangan cross – programming dapat meningkatkan kualitas spasial dan mengaktifkan program di kawasan tersebut.
PERAN ARSITEKTUR DALAM PERENCANAAN SIRKULASI TERMINAL BUS BLOK M Clarameivia Beldicta; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22623

Abstract

Bus Station is a point with a very high circulation flow, both passengers and operating vehicles. In a bus terminal or similar building, an excellent design is needed, especially a circulation for the convenience of passengers, managers, and operating transportation. Often in several bus station there is poor circulation, which has an effect from several aspects. Blok M Bus Station is one of the bus station with poor circulation in terms of passengers and operating buses. Following the standardization of good terminal design, the re-planning of Blok M Bus Station requires wider and more organized circulation especially to support passenger comfort. Using the existing Blok M Mall is a useful reciprocal method for expanding circulation and increasing store visitors. Apart from the main program of a bus station, program expansion is also used to cover a wider range of visitors from various parts of the region, especially in Jabodetabek area. Connection also applies to terminals and several other nearby TOD points. Keywords:  activity; bus station; circulation; passenger; Transit Oriented Development Abstrak Terminal Bus merupakan sebuah titik dengan alur sirkulasi yang sangat tinggi, baik penumpang maupun kendaraan yang beroperasi. Dalam sebuah terminal bus atau bangunan sejenisnya, dibutuhkan sebuah perancangan yang sangat baik terutama sebuah sirkulasi untuk kenyamanan para penumpang, pengelola, dan transportasi yang beroperasi. Seringkali di beberapa terminal bus memiliki sirkulasi yang kurang baik sehingga memberikan efek dari beberapa segi. Terminal Blok M merupakan salah satu terminal dengan sirkulasi yang kurang baik bagi segi penumpang dan bus yang beroperasi. Mengikuti standarisasi akan perancangan terminal yang baik, perencanaan ulang Terminal Blok M membutuhkan sirkulasi yang lebih luas dan tertata terutama untuk mendukung kenyamanan penumpang. Penggunaan Blok M Mall pada eksisting merupakan metode timbal balik yang berguna untuk memperluas sirkulasi dan peningkatan pengunjung toko. Selain program utama sebuah terminal, perluasan program juga digunakan untuk mencakup pengunjung lebih luas dari berbagai penjuruh wilayah khususnya di Jabodetabek. Penyambungan juga berlaku terhadap terminal dan beberapa titik TOD terdekat lainnya.
REVITALISASI PECINAN GLODOK Atiqah Nabilah; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22624

Abstract

Glodok Chinatown area is one of the oldest Chinatowns in Jakarta. Glodok Chinatown is an area known for its distinctive image which is thick with Chinese cultural elements. Glodok Chinatown used to be a popular tourist area to visit. However, due to the transition of generations, the aging of the area and its conventional system and lack of novelty or uniqueness, the vitality of this area has decreased. This in the long-term scenario will have an impact on the economy of the surrounding community. Using qualitative research methods using urban acupuncture and contextual theory is expected to help increase the vitality of the area. Keywords: area; contextual; Chinatown; revitalization  Abstrak Kawasan Pecinan Glodok merupakan salah satu Pecinan tertua di Jakarta. Pecinan Glodok merupakan kawasan yang terkenal akan citra khas yang kental dengan unsur budaya. Pecinan Glodok dulu merupakan salah satu kawasan wisata yang populer untuk dikunjungi. Namun akibat peralihan generasi, aging kawasan serta sistemnya yang konvensional dan kurang memiliki kebaruan atau keunikan membuat vitalitas kawasan ini semakin menurun. Hal ini pada skenario jangka panjang akan berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. Dengan menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan menggunakan teori urban acupuncture dan kontekstual diharapkan dapat membantu meningkatkan vitalitas kawasan.

Page 95 of 134 | Total Record : 1332