cover
Contact Name
Irma Yuliani
Contact Email
ijougs@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285854981814
Journal Mail Official
ijougs@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Pramuka, No. 156, Ronowijayan, Siman, Ponorogo
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies
ISSN : 27457397     EISSN : 2745861X     DOI : https://doi.org/10.21154/ijougs
Core Subject : Humanities, Social,
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies is a bilingual journal that published in June and December by The Institute for Research and Community Services of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Ponorogo. The Journal is focus on the result from researches and studies of gender equities or inequities through in civil society, culture, education, lenguange, religions etc.
Articles 77 Documents
Implementasi Kebijakan Kesetaraan dan Pengarusutamaan Gender pada Fakultas Syariah dan Hukum ulya, zakiyatul
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i2.7146

Abstract

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan baru terkait Merdeka belajar-Kampus Merdeka (MB-KM) yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya No. 729 Tahun 2021 yang menjadikan Peraturan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya No. Un.07/1/PP.00.9/SK/809/P/2016 sebagai salah satu landasan hukumnya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan kesetaraan dan pengarusutamaan gender UIN Sunan Ampel Surabaya di bidang pendidikan dan pengajaran, faktor pendukung dan penghambat serta dampaknya. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik deskriptif analisis dengan pola pikir deduktif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Kebijakan kesetaraan dan pengarusutamaan gender telah diimplementasikan dengan beragam cara pada Fakultas Syariah dan Hukum, yaitu dengan membuat mata kuliah gender secara mandiri, memasukkan dalam RPS dan menerapkan metode pembelajaran sensitif gender. Akan tetapi, dalam hal ini, prodi belum melakukan review dan redesain kurikulum berperspektif gender secara berkala dan menguatkan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan dan lembaga di masyarakat serta tidak secara penuh melaksanakan pengarusutamaan gender pada mata kuliah yang mengintegrasikan komponen pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Terdapat faktor pendukung dan penghambat, baik internal maupun eksternal, beserta dampak positif atas pengimplementasian kebijakan tersebut.
Coping Strategi Perempuan Lajang Terhadap Stigma Perawan Tua Anisya, Nabila; Heniyati, Heniyati; Kamalia, Erly Rizky
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i2.7513

Abstract

Anggapan masyarakat bahwa seseorang harus menikah pada usia tertentu telah mendorong perkembangan stigma terhadap perempuan tua yang semakin merebak. Perempuan yang dianggap berada pada ”usia krisi menikah”, mengejar pendidikan, memprioritaskan karir dan ingin lebih dulu membahagiakan orang tua malah diberi label perawan tua. Penelitian ini akan mengungkap bagaimana bentuk coping strategi yang dilakukan para wanita lajang dalam menghadapi stigma perawan tua. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis dengan sumber data 15 perempuan lajang usia 25 tahun atau lebih dan didukung beberapa hasil penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat enam strategi coping yang digunakan oleh para perempuan lajang dalam menghadapi stigma perawan tua yaitu: Planful Problem Solving dengan cara pembuktian diri, melakukan berbagai kegiatan yang positif dan bermanfaat, serta menjaga hubungan dengan masyarakat; pengendalian diri; penilaian kembali positif dengan menerima takdir Tuhan; memusatkan perhatian pada candaan; menghindari topik dan mengekspresikan emosi.
Pengaruh Budaya Nasrani terhadap Diskriminasi Kelompok Queer dalam Islam Khaiya, Ersa Elfira; Ferdiansah, Ferdiansah
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i1.7659

Abstract

Diskriminasi terhadap kelompok Queer dalam komunitas Muslim seringkali dilatarbelakangi oleh alasan agama. Sebagian Muslim menganggap kelompok Queer adalah orang-orang yang menyimpang, berdosa dan jauh dari syariah Islam. Hal tersebut ditengarai oleh banyaknya misinterpretasi kisah nabi Luth di dalam Al-Quran serta hadits-hadits yang juga digunakan sebagai pembenaran atas diskriminasi kelompok Queer. Padahal, terdapat tafsiran-tafsiran kontemporer mengenai kisah Luth yang seringkali luput diikutsertakan dalam pembahasan mengenai konteks mengapa Allah menurunkan azab untuk kaum Luth. Terdapat dua pertanyaan yang mendasari penelitian ini. Pertama, bagaimana asal-usul kemunculan ujaran diskriminasi kelompok Queer dalam kisah nabi Luth dalam Al-Quran? Kedua, adakah pengaruh lain yang mendukung terjadinya diskriminasi tersebut? Penulis mendapati bahwa tafsiran mengenai kisah nabi Luth tidaklah tunggal dan terdapat faktor lain yang mempengaruhi pelanggengan diskriminasi terhadap kelompok Queer dalam Islam. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh budaya sebelum Islam mengenai diskriminasi kelompok Queer. Terdapat ayat-ayat di dalam Injil yang secara eksplisit menjelaskan hukuman kepada orang yang melakukan homoseksual dan disinyalir terdapat ketumpang-tindihan pemahaman antara budaya Islam dan juga budaya pra-Islam (dalam hal ini Nasrani) dalam pembangunan narasi kisah nabi Luth. 
Dinamika Peran Media Sosial dalam Konstruksi Identitas dan Penyimpangan Gender Permana, Rifky
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8291

Abstract

Media sosial telah menjadi fenomena yang mendalam, mengubah cara individu dan kelompok berinteraksi, berbagi konten, dan membentuk komunitas daring. Dalam ekosistem media sosial, terjadi pertukaran informasi, ide, dan pengalaman, menciptakan ruang virtual yang dinamis dan interaktif. Konsep media sosial melibatkan proses mendalam di mana makna dibangun, norma-norma sosial digagas, dan identitas dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap media sosial dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat menarik perhatian dan memicu refleksi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas gender, Teori Konstruksi Realitas Sosial memberikan wawasan yang relevan, menekankan bahwa identitas gender adalah konstruksi sosial yang terus-menerus diperbarui melalui interaksi manusia. Melalui media sosial, individu secara aktif terlibat dalam proses konstruksi identitas gender, menciptakan narasi kolektif yang memengaruhi pandangan masyarakat terhadap gender. Fenomena penyimpangan gender di media sosial mencerminkan perbedaan antara norma sosial dan identitas individu, dan dapat dijelaskan melalui teori penyimpangan sosial. Permasalahan ini membutuhkan pendekatan lintas sektor. Penguatan pendidikan seks dan gender inklusif, kampanye kesadaran, dukungan psikososial, pelatihan kesetaraan gender, dan advokasi representasi gender positif dalam media sosial diperlukan, dukungan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas juga penting. Upaya ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua identitas gender, mengatasi penyimpangan gender, dan membentuk konstruksi identitas gender yang lebih terarah.
Fatima Mernissi's Criticism of Misogynistic Hadiths Related to Gender Equality in The Modern Era Syafitri, Fauziah
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8427

Abstract

The researcher aims to present a paper related to the criticisms raised by Fatima Mernissi against gender-biased misogyny traditions in accordance with her thoughts. Gender equality is a very hot issue discussed today. Equality of rights between men and women is increasingly being voiced. This also happens within the scope of Islam. The emergence of discussions about misogynistic traditions is also increasingly highlighted, especially by Fatima Mernissi who focuses on issues of gender equality. This research method uses a literature review of various relevant articles. The results of this study show that Fatima Mernissi criticizes gender-biased hadiths to be contextualized according to the conditions and situations of the times. This is to provide space for women to be more free in running their lives without being intervened by patriarchy. The importance of contextualization in understanding traditions is very important, so that all Muslims can live life better and there are no practices that override women's rights.
Peran Strategis Fatwa MUI dan Pengkaderan Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Umat dan Perlindungan Perempuan Muthmainnah, Yulianti -
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8680

Abstract

AbstrackThe Indonesian Ulema Council (MUI) has three strategic roles: khodimul ummah, himayatul ummah, and shodiqul hukumah. Carrying out these three roles, MUI formulates religious fatwas that are also related to women's issues. Such as fatwa on halal ingredients for cosmetics and dress code, sexuality (abortion, female circumcision), and marriage (children and family relations). The two questions of this paper are whether women's life experiences are taken into consideration in the formulation and decision of fatwas? Why does MUI fatwa in fact get rejection from women's groups? To answer them, this paper uses a qualitative study, describing and analyzing MUI fatwas for the period 2010-2020 and several selected fatwas outside those years that are in accordance with the theme. This paper departs from the assumption that Indonesian society (including women's groups) actually needs MUI fatwas. This paper contributes to provide information on the strategic role of MUI for the protection of women through its fatwas and at the same time MUI still needs public input, especially women scholars, so that the fatwas produced are in favor, protecting women. And the importance of MUI making women as the subject of fatwa and not the object of fatwa, getting closer to women's experience; hearing and asking women's opinions or considering fatwas from women scholars, so that the fatwa produced by MUI suits women's needs and does not cause rejection. Key words: MUI fatwas, women ulama, women experiences AbstrakMajelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki tiga peran strategis yakni khodimul ummah, himayatul ummah, dan shodiqul hukumah. Menjalankan ketiga peran tersebut, MUI merumuskan fatwa keagamaan yang juga terkait isu perempuan. Seperti fatwa bahan halal untuk kosmetika dan tata cara berpakaian, seksualitas (aborsi, sunat perempuan), dan perkawinan (anak dan hubungan keluarga). Dua pertanyaan tulisan ini adalah apakah pengalaman hidup perempuan menjadi pertimbangan dalam perumusan dan keputusan fatwa? Mengapa fatwa MUI kenyataannya mendapatkan penolakan dari kelompok perempuan? Untuk menjawabnya, tulisan ini menggunakan kajian kualitatif, mendeskripsikan sekaligus menganalisis fatwa MUI periode tahun 2010-2020 dan beberapa fatwa terpilih di luar tahun tersebut yang sesuai tema. Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa masyarakat Indonesia (termasuk kelompok perempuan) sejatinya membutuhkan fatwa MUI. Tulisan ini berkontribusi memberikan informasi peran strategis MUI untuk perlindungan perempuan melalui fatwa-fatwanya dan pada saat yang sama MUI tetap membutuhkan masukan masyarakat, terutama ulama perempuan, agar fatwa yang dihasilkan berpihak, melindungi perempuan. Dan pentingnya MUI menjadikan perempuan sebagai subyek fatwa dan bukan objek fatwa, mendekatkan diri pada pengalaman perempuan; mendengar dan meminta pendapat perempuan atau mempertimbangkan fatwa-fatwa dari ulama perempuan, agar fatwa yang dihasilkan MUI sesuai kebutuhan perempuan dan tidak menimbulkan penolakan Kata kunci: fatwa MUI, ulama perempuan, pengalaman perempuan
Transgender Survival Strategy Amidst Discrimination to Meet Economic Needs in Jayapura City Amila, Amila; Abidin, Muhammad Zainal
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9110

Abstract

This research aims to uncover the experiences and strategies of transgender individuals (waria) in facing economic challenges and social discrimination. The method employed is descriptive qualitative, utilizing data collection techniques including observation, interviews, and documentation. Analysis involves data reduction, presentation, and drawing conclusions.The findings reveal that waria often face discrimination in exercising their rights as citizens, encountering difficulties in obtaining employment, education, and healthcare. They frequently experience mockery and ridicule from their surroundings, even becoming subjects of online harassment. This arises due to a lack of societal awareness regarding the existence of waria, which is perceived as different from societal norms. Despite these challenges, waria employ various strategies to meet their economic needs. They engage not only in sex work or beauty industry management but, under necessity, seek assistance from their community that understands their circumstances. Notably, previous studies have yet to address the strategies employed by waria in meeting their needs amidst the discrimination they face.
Relevansi Konsep Kesetaraan Gender Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Menurut Husein Muhammad Dan M. Quraish Shihab Mayasari, Lutfiana Dwi; Juwita Eka Prasasti
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9649

Abstract

Kesetaraan gender dalam pendidikan Islam merupakan sesuatu yang urgen guna mengembangkan masyarakat yang inklusif dan adil. Budaya patriarki yang ada di masyarakat menjadikan perempuan dipandang sebagai manusia kelas dua yang tidak memiliki kesamaan hak dengan laki-laki. Dalam konteks mendapatkan hak, seharusnya perempuan memiliki hak yang sama terlebih dalam hak mendapatkan pendidikan. Karena itu, peneliti bertujuan untuk menganalisis bagaimana relevansi konsep kesetaraan gender dengan nilai-nilai pendidikan islam. Metode yang digunakan adalah penelitian ini adalah kepustakaan (library research), dengan mengacu pada karya-karya penting kedua tokoh yaitu "Islam Agama Ramah Perempuan, Perempuan Islam dan Negara" karya Hussein Muhammad dan "Perempuan" karya M. Quraish Shihab. Adapun teknik analis data, peneliti menggunakan teknik kajian isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pemikiran Husein Muhammad dan M. Quraish Shihab, kesetaraan gender merupakan ajaran esensial dalam Islam karena didalamnya terdapat penghormatan terhadap manusia. Hak dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan berlaku di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Mereka meyakini bahwa konsep kesetaraan gender sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam, seperti nilai amaliyah (praktik), khuluqiyah (akhlak), dan i'tiqodiyah (keyakinan). Kata Kunci : Gender, Kesetaraan Gender, Nilai-nilai Pendidikan Islam
Aleniasi Kesadaran Perempuan Dalam Tren Busana Syar’i Luthfi Hadi Aminuddin, Luthfi Hadi Aminuddin; Isnatin Ulfah, Isnatin Ulfah
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i2.9747

Abstract

Fenomena sosial busana syar’i dengan style baju dan hijab yang besar, lebar, dan panjang menjuntai yang masih menjadi tren hingga saat ini menjadi kajian serius banyak kalangan dengan berbagai sudut pandang. Hal itu karena fenomena tersebut tidaklah hadir dalam ruang hampa. Ada ideologi tertentu yang mempengaruhi fenomena tersebut, sehingga mengatakan satu-satunya alasan tren tersebut karena perwujudan meningkatnya kesadaran religius para muslimah, tentu tidak sepenuhnya benar. Busana syar’i menjadi cerminan bagaimana ideologi saling bertarung medefinisikan makna busana syar’i bagi kehidupan perempuan muslim yang dinegosiasikan dalam ruang publik lewat pemilihan fashion atau model busana tertentu. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan perspektif patriarkisme dan kapitalisme secara interdisipliner, penelitian ini menemukan bahwa pilihan busana syar’i masih berupa sistem penampakan berupa fashion dan simbol kepatuhan terhadap pihak yang mendominasi tubuhnya. Pada tataran itu, konstruksi ideologis yang berpengaruh di balik busana syar’i adalah ideologi kapitalis-patriarkis, di mana informan teraleniasi kesadarannya karena harus mengikuti apa yang didefinisikan pihak lain tentang busana yang ideal.
Dinamika Peran Media Sosial dalam Konstruksi Identitas dan Penyimpangan Gender Permana, Rifky
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8291

Abstract

Media sosial telah menjadi fenomena yang mendalam, mengubah cara individu dan kelompok berinteraksi, berbagi konten, dan membentuk komunitas daring. Dalam ekosistem media sosial, terjadi pertukaran informasi, ide, dan pengalaman, menciptakan ruang virtual yang dinamis dan interaktif. Konsep media sosial melibatkan proses mendalam di mana makna dibangun, norma-norma sosial digagas, dan identitas dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap media sosial dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat menarik perhatian dan memicu refleksi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas gender, Teori Konstruksi Realitas Sosial memberikan wawasan yang relevan, menekankan bahwa identitas gender adalah konstruksi sosial yang terus-menerus diperbarui melalui interaksi manusia. Melalui media sosial, individu secara aktif terlibat dalam proses konstruksi identitas gender, menciptakan narasi kolektif yang memengaruhi pandangan masyarakat terhadap gender. Fenomena penyimpangan gender di media sosial mencerminkan perbedaan antara norma sosial dan identitas individu, dan dapat dijelaskan melalui teori penyimpangan sosial. Permasalahan ini membutuhkan pendekatan lintas sektor. Penguatan pendidikan seks dan gender inklusif, kampanye kesadaran, dukungan psikososial, pelatihan kesetaraan gender, dan advokasi representasi gender positif dalam media sosial diperlukan, dukungan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas juga penting. Upaya ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua identitas gender, mengatasi penyimpangan gender, dan membentuk konstruksi identitas gender yang lebih terarah.