cover
Contact Name
Irma Yuliani
Contact Email
ijougs@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285854981814
Journal Mail Official
ijougs@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Pramuka, No. 156, Ronowijayan, Siman, Ponorogo
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies
ISSN : 27457397     EISSN : 2745861X     DOI : https://doi.org/10.21154/ijougs
Core Subject : Humanities, Social,
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies is a bilingual journal that published in June and December by The Institute for Research and Community Services of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Ponorogo. The Journal is focus on the result from researches and studies of gender equities or inequities through in civil society, culture, education, lenguange, religions etc.
Articles 77 Documents
Women's Right and Alternative Solutions to Prevent Violence for Muslim Marriage Dispensation Couples in Ponorogo Fatmawati, Indah; Nur Armada, Ritus; Astono, Agustinus
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11600

Abstract

Of the many cases of dispensation from marriage, it is known that the bride-to-be is already pregnant, while the man as the groom-to-be is willing to marry for responsible reasons. Of course, this is considered morally right, but if viewed from a gender perspective, even if the marriage takes place, a series of accompanying problems will arise, including divorce, violence and gender injustice against women. From the data that the researchers found at the Religious Court class 1A in Ponorogo Regency, from 2021 to 2022 there were 345 cases of dispensation of marriage, of which more than 125 cases were filed because the prospective bride was pregnant. Furthermore, from the reports of the Women and Children Protection Unit (PPA) POLRES Ponorogo, it was also found that there were approximately 9 cases of violence against female partners who did dispensation of marriage. This is certainly interesting to study considering the cases that occurred showed that there was both physical and sexual violence that occurred in underage marriages. This study aims to examine women's rights by looking at the role of men and alternative solutions in preventing acts of violence against women in marriage dispensation couples with a gender perspective. Furthermore, the research was carried out by interviews and direct observation and also supported by existing secondary data. From this research, it can be concluded that the role of men must be taken into account by being responsible for marrying the woman they are pregnant with in preventing violence, while alternative solutions must continue to be actualized by maximizing the role of stakeholders in preventing violence against women.
Rekonstruksi Gender Dalam Islam : Studi Kritis Atas Tafsir Tradisional Perspektif Feminisme Sholikhah, Zumrotus
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11623

Abstract

Penafsiran tradisional terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perempuan seringkali mencerminkan bias gender yang dihilangkan pada struktur sosial patriarki tempat para mufassir klasik hidup dan bekerja. Secara historis, penafsiran ini telah menempatkan perempuan dalam peran subordinat, baik di ranah domestik maupun publik, yang menyebabkan kewajaran dalam pemahaman Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan rekonstruksi penafsiran Al-Qur'an berdasarkan feminisme Islam sebagai pengembangan pemahaman Islam yang berkeadilan gender. Dengan menggunakan metode observasi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi karya-karya feminis Muslim kontemporer seperti Amina Wadud, Asma Barlas, dan Fatima Mernissi, serta menganalisis ulang ayat-ayat Al-Qur'an yang secara tradisional dihasilkan melalui lensa patriarki. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan feminis Islam dapat mendekonstruksi penafsiran yang bias melalui kritik epistemologis dan hermeneutika kontekstual yang menekankan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan pengalaman hidup perempuan. Implikasinya meliputi perubahan paradigma dalam hubungan gender dalam keluarga, penguatan peran perempuan dalam pendidikan dan keilmuan Islam, serta reformasi hukum Islam agar lebih responsif terhadap keadilan sosial. Rekonstruksi ini berfungsi sebagai langkah krusial melepaskan nilai-nilai Al-Qur'an menuju masyarakat Muslim modern yang berkeadilan gender.
Apakah Ayat Nāsikh Lebih Menjamin Keadilan Gender Ketimbang Ayat Mansūkh? Pendekatan Uṣūl Fiqh dan Maqāṣid al-Sharī‘ah terhadap QS al-Baqarah (2): 234 dan 240 Idzharul Haq, Kukuh Prasetyo
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i1.11628

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji ulang hubungan antara QS. Al-Baqarah: 234 dan QS. Al-Baqarah: 240 dalam konteks teori nasakh-mansukh. Mayoritas ulama klasik menyatakan bahwa QS. 2:240 telah dimansukh oleh QS. 2:234, karena adanya perbedaan dalam penetapan masa ‘iddah bagi perempuan yang ditinggal wafat suaminya. Namun demikian, ayat 240 secara substantif justru menawarkan perlindungan lebih besar bagi perempuan melalui anjuran pemberian nafkah dan tempat tinggal selama satu tahun. Dari perspektif keadilan gender, ayat ini lebih berpihak kepada perempuan dibanding ayat 234 yang hanya menetapkan masa tunggu empat bulan sepuluh hari tanpa jaminan nafkah. Fakhruddin al-Rāzī dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb menolak anggapan adanya nasakh antara dua ayat tersebut dan memilih pendekatan harmonisasi hukum. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan usul fikih yang responsif terhadap maqāṣid al-sharī‘ah dan keadilan sosial, guna mengkaji ulang klaim nasakh dan mempertimbangkan maslahat kelompok rentan dalam konstruksi hukum Islam.
Aleniasi Kesadaran Perempuan Dalam Tren Busana Syar’i Luthfi Hadi Aminuddin, Luthfi Hadi Aminuddin; Isnatin Ulfah, Isnatin Ulfah
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i2.9747

Abstract

Fenomena sosial busana syar’i dengan style baju dan hijab yang besar, lebar, dan panjang menjuntai yang masih menjadi tren hingga saat ini menjadi kajian serius banyak kalangan dengan berbagai sudut pandang. Hal itu karena fenomena tersebut tidaklah hadir dalam ruang hampa. Ada ideologi tertentu yang mempengaruhi fenomena tersebut, sehingga mengatakan satu-satunya alasan tren tersebut karena perwujudan meningkatnya kesadaran religius para muslimah, tentu tidak sepenuhnya benar. Busana syar’i menjadi cerminan bagaimana ideologi saling bertarung medefinisikan makna busana syar’i bagi kehidupan perempuan muslim yang dinegosiasikan dalam ruang publik lewat pemilihan fashion atau model busana tertentu. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan perspektif patriarkisme dan kapitalisme secara interdisipliner, penelitian ini menemukan bahwa pilihan busana syar’i masih berupa sistem penampakan berupa fashion dan simbol kepatuhan terhadap pihak yang mendominasi tubuhnya. Pada tataran itu, konstruksi ideologis yang berpengaruh di balik busana syar’i adalah ideologi kapitalis-patriarkis, di mana informan teraleniasi kesadarannya karena harus mengikuti apa yang didefinisikan pihak lain tentang busana yang ideal.
Tawaran Ekofeminisme untuk Mengatasi Pelanggaran HAM yang Dialami Perempuan dalam Konflik Agaria di Wadas Pramono, Muhamad Sidik; Ludji, Irene
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i02.9790

Abstract

Penelitian ini ditulis guna memaparkan tawaran dalam ekofeminisme untuk melihat pelanggaran HAM yang dialami oleh para perempuan pada saat konflik agraria di Wadas. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka atas penelitian yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan cara etnografi digital. Kemudian, dianalisis dengan pendekatan studi kritis. Di dalam penelitian ini, teori yang dipakai ialah ekofeminisme klasik atau kultural dan ekofeminisme sosialis yang digagas oleh Vandana Shiva. Penelitian ini coba menjawab bagaimana ekofeminisme dapat menjadi salah satu tawaran atas kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap pereempuan. Setidaknya, terdapat beberapa hasil dari penelitian ini yakni pertama, perempuan di Wadas mengalami kekerasan dan pelanggaran HAM baik dalam hak sipil politik maupun hak ekonomi, sosial, budaya. Kedua, penelitian ini menunjukan bahwa ekofeminisme dapat menjadi tawaran atas adanya kekerasan fisik maupun psikis dan pelanggaran HAM karena negara abai dalam menjamin hak-hak perempuan di Wadas. Melalui ekofeminisme perempuan diposisikan setara dan menjadi subjek yang dipertimbangkan dalam setiap isu agraria atau ekologi. Dengan menggunakan ekofeminisme, pertimbangan negara dalam isu agraria tidak selalu berpihak pada kepentingan kapitalis saja, namun juga mempertimbangkan perempuan. Ekofeminisme sebagai tawaran ini dimaksudkan untuk merubah paradigma yang dipakai negara dalam isu agraria. Dengan paradigma ekofeminisme yang memiliki nilai etika kepedulian dan perdamaian, maka kekerasan terhadap perempuan dapat dihilangkan. Selain itu, negara juga akan dapat melakukan kewajibannya untuk memenuhi (to fulfill), melindungi (to protect), dan menghormati (to respect) HAM.
Konsep Nafkah Menurut Faqihudin Abdul kodir Perspektif Teori Keadilan John Rowls Fikriyah, Nabilah; Ulya, Zakiyatul
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i02.11688

Abstract

The concept of nafkah (financial support) in marriage remains a debated issue, particularly in relation to gender equality and the role of women in the modern era. Law No. 1 of 1974 on Marriage stipulates that the husband is obliged to meet household needs according to his ability. However, some feminists propose a mubadalah (reciprocal) approach to nafkah, emphasizing cooperation between husband and wife. This study aims to explore the concept of nafkah in the mubadalah theory introduced by Faqihuddin Abdul Kodir and its relevance to John Rawls' theory of justice. The article is the result of library research employing a qualitative approach. Collected data was analyzed descriptively using deductive reasoning. The findings indicate that the nafkah concept proposed by Faqihuddin Abdul Kodir offers a more just and proportional approach to sharing family responsibilities, grounded in the principle of reciprocity. It highlights the importance of providing space for women to contribute to family income, ensuring that financial responsibilities are not solely borne by the husband but involve harmonious mutual contributions. Consequently, the role of women, through freedom and opportunity, complements family dynamics, fostering balanced, supportive relationships and strengthening family cohesion. This allows both husband and wife equal opportunities for personal growth while maintaining their essential responsibilities within the family.
Pangan Lokal, Ibu, Dan Stunting: Studi Kasus Praktik Pemberdayaan Gizi Keluarga Di Kupang Bire Manoe, Lenny Sofia; Pellu, Susana Cecilia Lestyani; Ndandara, Aelsthri
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i02.12251

Abstract

The adaptation of nutrition policies in East Nusa Tenggara (NTT) has so far been largely focused on technical aspects such as supplementary food distribution, fortification, and medical interventions, while paying little attention to the social and cultural practices that underpin nutritional resilience at the family level. This article explores how mothers in Kupang City have developed empowerment practices based on local food as a strategy to address stunting problems. The study employed a qualitative approach with a case study design, involving in-depth interviews with ten housewives, two posyandu (community health post) cadres, and field observations of local food processing practices. The results revealed that mothers in Kupang play not only the role of child caregivers but also serve as agents of social change in ensuring family nutrition through innovative menus based on local food ingredients such as jagung bose (corn porridge), moringa (kelor), and various tubers. These practices demonstrate the interconnection between local knowledge, gender roles, and efforts toward nutritional resilience—elements often overlooked in formal interventions. This study emphasizes that integrating local wisdom into nutrition policies can enhance the effectiveness of stunting reduction programs in food-insecure regions such as NTT.
Dari Dapur Ke Komunitas: Peran Kader Perempuan Dalam Membangun Ketahanan Gizi Anak Di Desa Lahan Kering Nusa Tenggara Timur Bire Manoe, Lenny Sofia; Roen, Yeheskial Adrian; Sabariman, Hoiril; Perangin Angin, Imanta I.
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i2.12252

Abstract

Malnutrition, particularly stunting, remains a major challenge in dryland regions such as East Nusa Tenggara (NTT). This area faces a range of constraints, including structural issues, limited access to nutritious food, a clean water crisis, restricted access to health services, and a lack of education and proper parenting practices—especially among women. This article analyzes the crucial role of women cadres, particularly those involved in Posyandu (Integrated Health Posts), Women Farmers Groups (KWT), and the Family Welfare Empowerment movement (PKK), as key agents of change in improving children's nutritional resilience, which in turn contributes to reducing stunting rates. This study employs a descriptive qualitative approach, using literature review as the primary data collection method. Data were gathered from journal articles, books, and research reports, which were then synthesized and presented narratively. The findings reveal that, despite the ecological limitations of dryland areas like NTT—characterized by short planting seasons, low rainfall, and limited water and food resources—village women cadres play a strategically significant dual role in improving child nutrition. Based on their dual function as managers of both the household "kitchen" and the village "community," these women transform local knowledge, dryland food resources, and nutrition education into sustainable daily practices. Their roles encompass nutrition and health education, local food-based dietary diversification, and advocacy at the village level. Empowering women cadres has proven to be an effective adaptive strategy to address nutritional vulnerabilities driven by the ecological challenges of dryland areas.
Suara Dari Perantauan: Narasi Digital Pekerja Migran Perempuan Ntt Dan Jejaring Dukungan Daring Bire Manoe, Lenny Sofia; Gero, Helga Maria Evarista; Kolianan, Jim Briand
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i02.12253

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana pekerja migran perempuan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) membangun narasi digital dan jejaring dukungan daring melalui platform Facebook dan Instagram. Berangkat dari pendekatan kajian literatur yang diperkaya dengan wawancara daring terhadap delapan pekerja migran perempuan di Hong Kong, Malaysia, dan Singapura, artikel ini menyoroti bagaimana ruang digital menjadi arena artikulasi identitas, pengalaman, dan resistensi terhadap struktur ketimpangan gender dan ekonomi global. Analisis menggunakan teori kritis (Habermas, Horkheimer) dan poststruktural (Foucault, Butler, Derrida) menunjukkan bahwa praktik komunikasi digital para pekerja migran perempuan tidak sekadar ekspresi pribadi, tetapi juga bentuk produksi pengetahuan dan perlawanan simbolik terhadap relasi kekuasaan patriarkal, negara, dan kapitalisme migrasi. Narasi digital mereka menghadirkan “ruang kesadaran” baru di mana solidaritas, trauma, dan pengalaman ketertindasan diartikulasikan secara kolektif. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya membaca media sosial sebagai arena politik emansipasi, bukan hanya medium hiburan atau curahan emosi personal.
Model Intervensi Komunitas Amita WCC Ponorogo Pada Penanganan Korban Kekerasan Seksual Albarri, Adzka Haniina; Sofiana, Neng Eri
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v4i1.5416

Abstract

Selama satu dekade terakhir, kasus kekerasan seksual di Indonesia telah meningkat sebanyak 100%. Komnas Perempuan mencatat terdapat 1.887 kasus Kekerasan Seksual di tahun 2021. Pemerintah dan berbagai organisasi masyarakat memiliki caranya sendiri untuk mencegah, menangani, serta menanggulangi kasus kekerasan seksual. Amita WCC Ponorogo, sebagai salah satu lembaga pendampingan korban kekerasan seksual yang ada di area Ponorogo, Tulungagung, Madiun, Magetan, Trenggalek dan sekitarnya mengambil peran sebagai lembaga non-pemerintah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan penggalian data melalui wawancara, observasi, dan penelitian dokumen. Penelitian ini ingin melihat bagaimana metode intervensi komunitas yang dipraktekkan oleh Amita WCC Ponorogo dalam menangani kasus kekerasan seksual di Ponorogo. Hipotesa dalam penelitian ini yakni Amita WCC menggunakan metode intervensi komunitas Social Action/aksi sosial. Hal ini didasari pada penanganan kasus kekerasan seksual Amita WCC yang lebih diberikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, yakni korban kekerasan seksual. Namun, Amita WCC juga mempraktekkan model pengembangan masyarakat lokal dan aksi sosial ketika melakukan sosialisasi ke desa dan institusi pendidikan.