cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,573 Documents
Natural Disaster Preparedness for People with Disabillities: A Scoping Review Saputra, Rizky Lukman; Yuflih, Athaya Zafira; Nurasiah, Nurasiah; Dewi, Rita; Apriyali, Apriyali; Baihaki, Baihaki; Pitoyo, Joko
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21252

Abstract

ABSTRACTNatural disasters are a global threat that significantly impacts vulnerable populations, including people with disabilities. Data from the United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) indicates that people with disabilities face a two to four times higher risk of injury or death during disasters due to systemic barriers, such as inaccessible emergency information, non-inclusive early warning systems, and inadequate evacuation services. Indonesia, as a country with high disaster risk, underscores the urgency of addressing this issue, especially for the 23.3 million people with disabilities who often face obstacles in accessing disaster preparedness resources. This scoping review aims to explore the literature related to disaster preparedness for people with disabilities, focusing on three main aspects: challenges faced, strategies for enhancing preparedness, and identified research gaps. This study uses the framework. using the Arksey and O’Malley (2005) framework with PRISMA-ScR guidelines. A systematic search was conducted in the PubMed, Scopus, and Sage Journal databases using keywords related to disability and disaster preparedness. Inclusion criteria included English-language articles published between 2015–2025 that focused on disaster preparedness for individuals with physical or mental disabilities. This scoping review identified that people with disabilities face multidimensional challenges in disaster preparedness, including physical barriers (such as mobility and accessibility), social barriers (reliance on caregivers), and systemic barriers (lack of inclusive policies). The analyzed studies indicate that certain types of disabilities—physical, sensory, intellectual/cognitive, and medical dependencies—require different approaches in preparedness interventions. medical dependency—requires a different approach in preparedness interventions. For example, individuals with sensory disabilities need accessible early warning systems, while those with medical dependencies require emergency healthcare infrastructure. Effective intervention strategies include family-based approaches (preparedness toolkits), community preparedness training for people with disabilities, and the development of inclusive evacuation facilities. However, policy implementation remains weak, with minimal involvement of people with disabilities in disaster risk reduction (DRR) planning. Multi-sectoral collaboration is also needed, including the role of community health workers as facilitators and advocates for inclusive policies. Disaster preparedness for people with disabilities requires a multidimensional approach that integrates physical, social, and policy aspects. Targeted strategies, inclusive policy reforms, and community-based interventions are essential to reduce vulnerability. The role of nursing and community health practices is important in building a fair and inclusive preparedness system. Keywords: Disaster Preparedness, People with Disabilities, Emergency Management.  ABSTRAK Bencana alam merupakan ancaman global yang berdampak signifikan terhadap populasi rentan, termasuk penyandang disabilitas. Data dari United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki risiko cedera atau kematian dua hingga empat kali lebih tinggi saat bencana akibat hambatan sistemik, seperti informasi darurat yang tidak aksesibel, sistem peringatan dini yang tidak inklusif, dan layanan evakuasi yang kurang memadai. Indonesia sebagai negara dengan risiko bencana tinggi mempertegas urgensi penanganan isu ini, terutama bagi 23,3 juta penyandang disabilitas yang sering menghadapi kendala dalam mengakses sumber daya kesiapsiagaan bencana. Scoping review ini bertujuan untuk mengeksplorasi literatur terkait kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas, dengan fokus pada tiga aspek utama: tantangan yang dihadapi, strategi peningkatan kesiapsiagaan, serta kesenjangan riset yang teridentifikasi. Studi ini menggunakan kerangka kerja Arksey dan O’Malley (2005) dengan panduan PRISMA-ScR. Pencarian sistematis dilakukan di database PubMed, Scopus, dan Sage Journal menggunakan kata kunci terkait disabilitas dan kesiapsiagaan bencana. Kriteria inklusi meliputi artikel berbahasa Inggris terbitan tahun 2015–2025 yang berfokus pada kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas fisik atau mental. Scoping review ini mengidentifikasi bahwa penyandang disabilitas menghadapi tantangan multidimensi dalam kesiapsiagaan bencana, meliputi hambatan fisik (seperti mobilitas dan aksesibilitas), sosial (ketergantungan pada caregiver), dan sistemik (kurangnya kebijakan inklusif). Studi-studi yang dianalisis menunjukkan bahwa jenis disabilitas tertentu—fisik, sensorik, intelektual/kognitif, dan ketergantungan medis—memerlukan pendekatan berbeda dalam intervensi kesiapsiagaan. Misalnya, penyandang disabilitas sensorik membutuhkan sistem peringatan dini yang aksesibel, sementara mereka dengan ketergantungan medis memerlukan infrastruktur kesehatan darurat. Strategi intervensi yang efektif meliputi pendekatan berbasis keluarga (toolkit kesiapsiagaan), pelatihan komunitas kesiapsiagaan bagi penyandang disabilitas, dan pengembangan fasilitas evakuasi inklusif. Namun, implementasi kebijakan masih lemah, dengan minimnya pelibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan pengurangan risiko bencana (DRR). Diperlukan juga kolaborasi multisektoral, termasuk peran tenaga kesehatan komunitas sebagai fasilitator dan advokat kebijakan inklusif. Kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas memerlukan pendekatan multidimensi yang mengintegrasikan aspek fisik, sosial, dan kebijakan. Strategi yang tepat sasaran, reformasi kebijakan inklusif, serta intervensi berbasis komunitas sangat penting untuk mengurangi kerentanan. Pentingnya peran keperawatan dan praktik kesehatan komunitas dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang adil dan inklusif. Kata Kunci: Kesiapsiagaan Bencana, Penyandang Disabilitas, Manajemen Darurat.
Hubungan Perubahan Anti-Mullerian Hormone (AMH) Setelah Laparoscopic Ovarian Driling dengan Keberhasilan Ovulasi dan Kehamilan pada Pasien Pcos: Suatu Meta-Analisis Khairunnisa, Nadhia; Wijaya, Ody; Syachrani, Fayza; Putri, Abrila Tamara
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i2.24302

Abstract

ABSTRACT Elevated Anti-Müllerian Hormone (AMH) levels, caused by the buildup of immature antral follicles, define Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), the leading cause of anovulatory infertility in reproductive-aged women. When other treatments for polycystic ovary syndrome (PCOS) fail to induce ovulation, laparoscopic ovarian drilling (LOD) is considered a second line of defense. The question of whether the decrease in AMH following LOD represents diminished ovarian reserve or normalization of previously dysregulated follicular function arises because, interestingly, ovulation and pregnancy rates rise and AMH levels fall significantly, according to multiple studies. The quantitative relationship between changes in AMH and reproductive outcomes after LOD remains inconsistent and warrants further investigation. This meta-analysis aimed to evaluate changes in AMH levels following LOD and their association with ovulation and pregnancy outcomes in patients with PCOS. Results from cohort, prospective, and meta-analytic studies reporting AMH levels, ovulation, and pregnancy outcomes both before and after Laparoscopic Ovarian Drilling were included in a comprehensive literature search that was carried out using PubMed and Google Scholar. A total of nine studies involving 366 patients were included. Meta-analysis demonstrated that LOD was consistently associated with a significant reduction in AMH levels (mean decrease: 2.28 ng/mL; 95% CI 1.62–2.95; p 0.001). Substantial heterogeneity was observed (I² = 76.4%), and therefore a random-effects model was applied. The prediction interval suggested that AMH reduction is likely to persist across different populations. Additionally, seven studies comprising 279 patients were analyzed to assess spontaneous ovulation following LOD. The pooled ovulation rate was approximately 70% (random-effects model: 69.5%; 95% CI 60.9–77.0), with moderate heterogeneity (I² = 32%). Meta-regression analysis revealed a significant inverse relationship between baseline AMH levels and the likelihood of ovulation after LOD (β = −0.207; p = 0.018), indicating that each 1 ng/mL increase in baseline AMH was associated with an 18.7% reduction in the odds of ovulation. Overall, LOD effectively reduced AMH levels and improved ovulation rates in PCOS patients, particularly in those with lower baseline AMH. Further studies with more homogeneous designs and long-term follow-up are required to strengthen these findings. Patients with Polycystic Ovary Syndrome may have improved ovulation rates and a significant decrease in Anti-Müllerian Hormone levels with Laparoscopic Ovarian Drilling, according to this meta-analysis. It seems that the decrease in AMH after LOD is due to restored ovulation and increased follicular function, rather than decreased ovarian reserve. Baseline AMH levels were identified as an important predictor of ovulatory response, with higher AMH levels associated with a reduced likelihood of ovulation following LOD. These findings support the role of LOD as an effective therapeutic option for PCOS patients who are resistant to ovulation induction, particularly among those with lower baseline AMH levels. Nevertheless, the substantial heterogeneity across studies highlights the need for further research with more homogeneous study designs and long-term follow-up to confirm the effects of LOD on ovarian function and reproductive outcomes. Keywords: Polycystic Ovary Syndrome, Laparoscopic Ovarian Drilling, Anti-Müllerian Hormone, Ovulation, Pregnancy.  ABSTRAK Kadar Anti-Müllerian Hormone (AMH) yang tinggi, yang disebabkan oleh penumpukan folikel antral yang belum matang, mendefinisikan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS), penyebab utama infertilitas anovulasi pada wanita usia reproduksi. Ketika pengobatan lain untuk sindrom ovarium polikistik (PCOS) gagal menginduksi ovulasi, Laparoscopic Ovarian Drilling (LOD) dianggap sebagai lini pertahanan kedua. Pertanyaan apakah penurunan AMH setelah LOD menunjukkan penurunan cadangan ovarium atau normalisasi fungsi folikel yang sebelumnya terganggu muncul karena, menariknya, tingkat ovulasi dan kehamilan meningkat dan kadar AMH menurun secara signifikan, menurut beberapa penelitian. Hubungan kuantitatif antara perubahan AMH dan keberhasilan reproduksi pasca-LOD belum konsisten, sehingga perlu dikaji lebih lanjut. Meta-analisis ini bertujuan mengevaluasi perubahan AMH setelah LOD dan hubungannya dengan keberhasilan ovulasi serta kehamilan pada pasien PCOS.: Hasil dari studi kohort, prospektif, dan meta-analitik yang melaporkan kadar AMH, ovulasi, dan hasil kehamilan baik sebelum maupun setelah Laparoscopic Ovarian Drilling dimasukkan dalam pencarian literatur komprehensif yang dilakukan menggunakan PubMed dan Google Scholar. Sebanyak sembilan studi dengan total 366 pasien dianalisis. Meta-analisis menunjukkan bahwa LOD secara konsisten menurunkan kadar AMH secara signifikan (penurunan rata-rata 2,28 ng/mL; 95% CI 1,62–2,95; p 0,001), meskipun terdapat heterogenitas tinggi (I² = 76,4%), sehingga digunakan model random-effects. Prediction interval mengindikasikan penurunan AMH tetap mungkin terjadi pada populasi berbeda. Selain itu, tujuh studi dengan 279 pasien menunjukkan bahwa proporsi ovulasi spontan pasca-LOD mencapai sekitar 70% (random-effects 69,5%; 95% CI 60,9–77,0) dengan heterogenitas moderat (I² = 32%). Meta-regression menunjukkan hubungan negatif yang bermakna antara kadar AMH baseline dan peluang ovulasi setelah LOD (β = –0,207; p = 0,018), di mana setiap peningkatan 1 ng/mL AMH menurunkan peluang ovulasi sebesar 18,7%. Secara keseluruhan, LOD efektif menurunkan kadar AMH dan meningkatkan ovulasi pada pasien PCOS, terutama pada mereka dengan AMH awal yang lebih rendah. Studi lanjutan dengan desain lebih homogen dan follow-up jangka panjang masih diperlukan. Menurut meta-analisis ini, pasien dengan Sindrom Ovarium Polikistik mungkin mengalami peningkatan tingkat ovulasi dan penurunan kadar Hormon Anti-Müllerian (AMH) yang signifikan dengan Laparoskopi Ovarian Drilling (LOD). Tampaknya penurunan AMH setelah LOD disebabkan oleh pemulihan ovulasi dan peningkatan fungsi folikel, bukan karena penurunan cadangan ovarium. Penurunan AMH pasca-LOD tidak mengindikasikan penurunan cadangan ovarium, melainkan berhubungan dengan perbaikan fungsi folikular dan pemulihan ovulasi sehingga dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan. Kadar AMH baseline terbukti menjadi prediktor penting keberhasilan ovulasi, di mana kadar yang lebih tinggi berkaitan dengan respons ovulasi yang lebih rendah setelah LOD. Temuan ini mendukung peran LOD sebagai terapi efektif pada pasien PCOS yang resisten terhadap induksi ovulasi, khususnya pada kelompok dengan kadar AMH awal yang lebih rendah. Namun, tingginya heterogenitas antar studi menegaskan perlunya penelitian lanjutan dengan desain yang lebih homogen dan tindak lanjut jangka panjang untuk mengonfirmasi dampak LOD terhadap fungsi ovarium dan luaran reproduksi. Kata Kunci: Polycystic Ovary Syndrome, Laparoscopic Ovarian Drilling, Anti-Müllerian Hormone, Ovulasi, Kehamilan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keterlambatan Kedatangan Pasien Penyakit Jantung Koroner: Sebuah Scoping Review Ali, Samin M.; Anna, Anastasia; Emaliyawati, Etika
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21140

Abstract

ABSTRAK Keterlambatan kedatangan pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) ke rumah sakit menjadi masalah utama dalam penanganan medis yang tepat waktu. Keterlambatan ini dapat mengakibatkan kerusakan jantung permanen, tingginya angka kematian, dan morbiditas jangka panjang. Namun, faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan ini sering kali kompleks dan berkaitan dengan berbagai aspek seperti sosial demografis, akses ke layanan kesehatan, dan perilaku kesehatan pasien. Untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan kedatangan pasien penyakit jantung koroner.  Penelitian ini menggunakan scoping review berdasarkan kerangka Arksey dan O’Malley serta panduan PRISMA-ScR. pencarian artikel yang dilakukan di tiga database yaitu CINAHL, PubMed, Scopusdan search engine google scholar. Kata kunci yang digunakan meliputi "factors", "delay", "coronary heart disease", "myocardial infarction", dan "pre-hospital delay". Kriteria inklusi mencakup artikel yang diterbitkan dalam bahasa Inggris atau bahasa indonesia antara tahun 2015-2025 dan membahas faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan kedatangan pasien dengan penyakit jantung koroner. Pertanyaan penelitian utama adalah; Apa saja faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan kedatangan pasien dengan penyakit jantung koroner?. Terdapat 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan membahas faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan kedatangan pasien dengan penyakit jantung koroner. Temanya meliputi sosial demografis, gejala klinis, akses ke layanan kesehatan, perilaku kesehatan, dan faktor budaya. Faktor-faktor utama yang ditemukan meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, akses transportasi, serta kesadaran gejala penyakit jantung. Faktor-faktor ini berhubungan dengan kurangnya pemahaman tentang gejala atau peran gender dalam pengambilan keputusan medis, serta keterbatasan akses ke layanan medis yang memadai, terutama di daerah pedesaan. Keterlambatan kedatangan pasien dengan penyakit jantung koroner dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Untuk mengurangi keterlambatan, diperlukan pendidikan masyarakat tentang gejala penyakit jantung, serta peningkatan akses ke layanan kesehatan dan perbaikan sistem transportasi medis. Kata Kunci: Faktor, Keterlambatan Kedatangan, Penyakit Jantung Coroner. ABSTRACT Delayed hospitalization of patients with coronary heart disease (CHD) is a major obstacle to timely medical care. This delay can result in permanent heart damage, high mortality, and long-term morbidity. However, the factors causing this delay are often complex and related to various aspects such as sociodemographics, access to healthcare, and patient health behaviors. To explore factors associated with delayed hospitalization for patients with coronary heart disease, this study used a scoping review based on the Arksey and O'Malley framework and the PRISMA-ScR guidelines. Articles were searched in three databases: CINAHL, PubMed, Scopus, and the Google Scholar search engine. Keywords used included "factors," "delay," "coronary heart disease," "myocardial infarction," and "prehospital delay." Inclusion criteria included articles published in English or Indonesian between 2015 and 2025 that discussed factors influencing delayed hospitalization for patients with coronary heart disease. The primary research question was: What are the factors associated with late arrival of patients with coronary heart disease?. Twelve articles met the inclusion criteria and discussed factors associated with delayed arrivals for patients with coronary heart disease. The topics covered sociodemographics, clinical symptoms, access to healthcare, health behaviors, and cultural factors. Key factors identified included gender, age, education level, socioeconomic status, access to transportation, and awareness of heart disease symptoms. These factors are associated with a lack of understanding of symptoms or the role of gender in medical decision-making, as well as limited access to adequate medical services, particularly in rural areas. Delayed arrivals for patients with coronary heart disease are influenced by various interrelated factors. To reduce delays, public education about heart disease symptoms, increased access to healthcare, and improvements to medical transportation systems are needed. Keywords: Factors, Delayed Arrivals, Coronary Heart Disease.
Dukungan Faktor Lingkungan dalam Keberhasilan Rehabilitasi Penyalah Guna Narkotika Erliyani, Novi; Sriatmi, Ayun; Adi, Mateus Sakundarno
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i2.20701

Abstract

ABSTRACT Rehabilitation of drug abusers is an effort to recover drug abusers from addictive substance dependence, which includes initial reception, medical rehabilitation, and/or social rehabilitation, and post-rehabilitation. Environmental support factors that influence the success of rehabilitation include the economic, social, and political environment. The purpose of this study was to determine the economic, social, and political support in the successful rehabilitation of drug abusers at the National Narcotics Agency Clinic in Central Java Province. This research method is qualitative research with a case study research type. The research uses Van Horn Van Metter analysis with an environmental variable approach. The informants in this study included 8 main informants and 6 triangulation informants. The results of the study stated that economic, social, and political environmental support influenced the successful implementation of sustainable rehabilitation. Client economic support influences the client's willingness to access rehabilitation services. Social support that affects rehabilitation can be from family and the community. Meanwhile, political support both in terms of budget, regulations, and regulations that facilitate the implementation of drug rehabilitation services. The results of this research can be the basis for policy improvement and strengthening environmental support from all stakeholders. Keywords: Policy, Economic, Social, Political, Narcotic.  ABSTRAK Rehabilitasi penyalah guna narkotika merupakan upaya pemulihan penyalah guna narkotika dari ketergantungan zat adiktif yang mencakup penerimaan awal, rehabilitasi medis, dan/ atau rehabilitasi sosial, serta pasca rehabilitasi. Dukungan faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan rehabilitasi meliputi lingkungan ekonomi, sosial, dan politik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dukungan ekonomi, sosial, dan politik dalam keberhasilan rehabilitasi penyalah guna narkotika di Klinik Badan Narkotika Nasional Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian menggunakan analisis Van Horn Van Metter dengan pendekatan variabel lingkungan. Informan dalam penelitian ini meliputi 8 informan utama dan 6 informan triangulasi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa dukungan lingkungan ekonomi, sosial, dan politik mempengaruhi keberhasilan implementasi rehabilitasi berkelanjutan. Dukungan ekonomi klien mempengaruhi kemauan klien untuk mengakses layanan rehabilitasi. Dukungan sosial yang mempengaruhi rehabilitasi dapat dari keluarga dan masyarakat. Sedangkan dukungan politik baik secara anggaran, peraturan, maupun regulasi yang memfasilitasi penyelenggaraan layanan rehabilitasi narkotika. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar perbaikan kebijakan serta penguatan dukungan lingkungan dari seluruh stakelholer. Kata Kunci: Kebijakan, Ekonomi, Sosial, Politik, Narkotika.
Efektivitas Intervensi Lenina (Lung Function Evaluation and Nursing Intervention for Non-Pharmacological Asthma Management) terhadap Kemampuan Pengendalian Asma Pada Balita Nurani, Lenina; Mendrofa, Fery Agusman Motuho; Iswanti, Dwi Indah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i2.20438

Abstract

ABSTRACT Asthma is a chronic inflammatory disease of the respiratory tract with increasing prevalence in toddlers. Inadequate asthma control can lead to decreased quality of life, activity limitations, and increased risk of hospitalization. The LENINA (Lung function Evaluation and Nursing Intervention for Non-pharmacological Asthma management) intervention was designed as a comprehensive non-pharmacological approach to improve asthma control abilities. To analyze the effectiveness of LENINA intervention on asthma control abilities in toddlers, including lung function, frequency of asthma attacks, and family asthma management abilities. A quasi-experimental study with pretest-posttest with control group design was conducted on 42 toddlers with asthma in the working area of Nagrak Health Center, Cianjur Regency. The sample was divided into an intervention group (n=21) receiving LENINA intervention and a control group (n=21) receiving standard care. Lung function was measured using Peak Expiratory Flow Rate (PEFR), frequency of asthma attacks using observation sheets, and family asthma management abilities using questionnaires. Data were analyzed using paired t-test and independent t-test. LENINA intervention significantly improved PEFR values (p=0.000), decreased the frequency of asthma attacks (p=0.000), and increased family asthma management abilities (p=0.000) in the intervention group compared to the control group. The difference in PEFR value improvement in the intervention group (13.38) was greater than the control group (2.76). The decrease in asthma attack frequency in the intervention group (2.53 times/month) was more significant than the control group (0.38 times/month). The increase in family asthma management ability scores in the intervention group (20.67) was much greater than the control group (2.14). LENINA intervention proved effective in improving asthma control abilities in toddlers through improved lung function, decreased frequency of asthma attacks, and increased family asthma management abilities. The results recommend implementing LENINA intervention in asthma control programs for toddlers in primary healthcare facilities. Keywords: Toddler Asthma, Non-Pharmacological Intervention, LENINA, Asthma Control, Family Role.   ABSTRAK Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang prevalensinya terus meningkat pada balita. Pengendalian asma yang tidak adekuat dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, keterbatasan aktivitas, dan peningkatan risiko rawat inap. Intervensi LENINA (Lung function Evaluation and Nursing Intervention for Non-pharmacological Asthma management) dirancang sebagai pendekatan non-farmakologis komprehensif untuk meningkatkan kemampuan pengendalian asma. Menganalisis efektivitas intervensi LENINA terhadap kemampuan pengendalian asma pada balita yang meliputi fungsi paru, frekuensi serangan asma, dan kemampuan manajemen asma keluarga. Penelitian quasi-eksperimental dengan desain pretest-posttest with control group dilakukan pada 42 balita dengan asma di wilayah kerja Puskesmas Nagrak, Kabupaten Cianjur. Sampel dibagi menjadi kelompok intervensi (n=21) yang menerima intervensi LENINA dan kelompok kontrol (n=21) yang menerima perawatan standar. Pengukuran fungsi paru menggunakan Peak Expiratory Flow Rate (PEFR), frekuensi serangan asma menggunakan lembar observasi, dan kemampuan manajemen asma keluarga menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test dan independent t-test. Intervensi LENINA secara signifikan meningkatkan nilai PEFR (p=0,000), menurunkan frekuensi serangan asma (p=0,000), dan meningkatkan kemampuan manajemen asma keluarga (p=0,000) pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Selisih peningkatan nilai PEFR pada kelompok intervensi (13,38) lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (2,76). Penurunan frekuensi serangan asma pada kelompok intervensi (2,53 kali/bulan) lebih signifikan dibandingkan kelompok kontrol (0,38 kali/bulan). Peningkatan skor kemampuan manajemen asma keluarga pada kelompok intervensi (20,67) jauh lebih besar dibandingkan kelompok kontrol (2,14). Intervensi LENINA terbukti efektif meningkatkan kemampuan pengendalian asma pada balita melalui peningkatan fungsi paru, penurunan frekuensi serangan asma, dan peningkatan kemampuan manajemen asma keluarga. Hasil penelitian ini merekomendasikan implementasi intervensi LENINA dalam program pengendalian asma pada balita di fasilitas kesehatan primer. Kata Kunci: Asma Balita, Intervensi Non-Farmakologis, LENINA, Pengendalian Asma, Peran Keluarga.
Efektivitas Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah terhadap Pencegahan Merokok pada Pelajar di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sistematis Arimurti, Zhafira Ramadhani; Saharudin, Al Muntazar Bin
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.20895

Abstract

ABSTRAK Perilaku merokok di kalangan pelajar Indonesia terus meningkat dan menjadi isu kesehatan serius. Sekolah sebagai lingkungan belajar yang seharusnya aman justru sering menjadi titik awal anak-anak mengenal rokok. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah diharapkan dapat mencegah perilaku merokok sejak dini. Penelitian ini bertujuan meninjau efektivitas kebijakan KTR dalam mencegah merokok pada pelajar melalui systematic review.Artikel yang diterbitkan pada tahun 2019–2025 dalam database Google Scholar, GARUDA, dan Neliti ditinjau secara sistematis. Lima belas artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, diikut sertakan sebagai sample untuk ditinjau lebih lanjut. Hasil-hasil mengenai efektivitas kebijakan KTR dalam mencegah merokok pada pelajar disintesis secara sistematik. KTR di sekolah mampu meningkatkan kesadaran pelajar terhadap bahaya merokok, menurunkan jumlah pelajar yang merokok, dan membentuk norma sosial anti-rokok. Namun, efektivitasnya masih dipengaruhi oleh faktor seperti pengawasan, dukungan keluarga, serta konteks sosial dan budaya. Ditemukan juga keterbatasan dalam monitoring dan evaluasi kebijakan secara berkelanjutan. Tinjauan ini mengidentifikasi kebijakan KTR terbukti memiliki potensi sebagai intervensi pencegahan primer, namun membutuhkan penguatan implementasi dan keterlibatan semua pihak, termasuk sekolah, pemerintah, dan keluarga. Kata Kunci: Kawasan Tanpa Rokok, Pelajar, Sekolah, Merokok, Kebijakan Kesehatan, Indonesia.  ABSTRACT Smoking behavior among Indonesian students continues to rise and has become a serious public health issue. Schools, which are supposed to be safe learning environments, often become the initial setting where children are exposed to cigarettes. The Smoke-Free Area policy in schools is expected to prevent smoking behavior from an early age. This study aims to assess the effectiveness of Smoke-Free Area policies in preventing student smoking behavior through a systematic review. Articles published between 2019 and 2025 from Google Scholar, GARUDA, and Neliti databases were systematically reviewed. Fifteen articles that met the inclusion and exclusion criteria were included for further analysis. Findings on the effectiveness of school-based Smoke-Free Area policies in preventing student smoking were synthesized systematically. School-based Smoke-Free Area policies have been shown to increase students' awareness of the dangers of smoking, reduce the number of student smokers, and help establish anti-smoking social norms. However, their effectiveness is still influenced by factors such as enforcement, family support, and the surrounding socio-cultural context. Limitations were also found in terms of ongoing policy monitoring and evaluation. This review identifies that the Smoke-Free Area policy has significant potential as a primary prevention intervention. However, its success depends on stronger implementation and the involvement of multiple stakeholders, including schools, government bodies, and families. Keywords: Smoke-Free Area, Students, School, Smoking, Health Policy, Indonesia.
Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Tingkat 1 pada Integrasi Layanan Kesehatan Primer Di Kota Pekalongan Abdi, Imanul; Surjoputro, Antono; Jati, Sutopo Patria
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21409

Abstract

ABSTRACT A Public Health Laboratory (Labkesmas) is a health laboratory that provides clinical specimen examination and sample testing services to support disease prevention and control efforts and improve public health, adhering to WHO standards. This research is motivated by the importance of laboratory service requirements in the integration of primary health care services, where community health center laboratories serve as Level 1 Labkesmas in Pekalongan City. This study aims to analyze the implementation of the Level 1 Labkesmas implementation policy in Pekalongan City. Grindle's (1980) policy model theory is used as a research framework to assess the extent of implementation of the Level 1 Labkesmas implementation policy in Pekalongan City. This research method used a qualitative approach through in-depth interviews with respondents representing those who were "ready to implement a health laboratory" and those who were "not ready to implement a health laboratory." This research was conducted at Community Health Center (Puskesmas) units (UPT) throughout Pekalongan City, with a population of 14 respondents. The results showed that the policy for implementing a Level 1 Health Laboratory (Labkesmas) within the integration of primary health services was ready to be implemented by the Community Health Centers in Pekalongan City in accordance with health laboratory standards. Data analysis concluded that the policy for implementing a Level 1 Health Laboratory in Pekalongan City has been implemented in accordance with the mandate of the Ministry of Health's policy on implementing a health laboratory according to standards. Keywords: Readiness, Standards Compliance, Public Health Laboratory, Community Health Center.  ABSTRAK Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) merupakan laboratorium kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik dan pengujian sampel untuk menunjang upaya pencegahan dan pengendalian penyakit serta peningkatan kesehatan Masyarakat dengan mengacu pada standar WHO. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya persyaratan pelayanan laboratorium dalam integrasi layanan kesehatan primer dimana laboratorium puskesmas menjadi Labkesmas Tingkat 1 di Kota Pekalongan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan penyelenggaraan Labkesmas tingkat 1 di Kota Pekalongan. Teori kebijakan model grindle (1980) digunakan sebagai kerangka penelitian untuk menilai sejauh mana implementasi kebijakan penyelenggaraan Labkesmas Tingkat 1 di Kota Pekalongan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dengan responden yang mewakili hasil wawancara “siap impelementasi labkesmas” dan “tidak siap implementasi labkesmas”. Penelitian ini dilakukan di UPT Puskesmas se-Kota Pekalongan dengan populasi seluruh puskesmas sebanyak 14 responden. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa Kebijakan penyelenggaraan Labkesmas tingkat 1 dalam integrasi layanan kesehatan primer sudah siap dilaksanakan oleh Puskesmas di Kota Pekalongan sesuai standar laboratorium kesehatan. Hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa kebijakan penyelenggaraan labkesmas Tingkat 1 di Kota Pekalongan sudah diimplementasikan sesuai dengan amanat kebijakan Kementerian Kesehatan tentang penyelenggaraan labkesmas sesuai standar. Kata Kunci: Kesiapan, Pemenuhan Standar, Laboratorium Kesehatan Masyarakat, Puskesmas.
Analisis Kecelakaan Kerja pada Pekerja Tambang Batubara : LITERATURE REVIEW Permatasari, Dyah Tri; Setyaningsih, Yuliani; Lestantyo, Daru
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i2.20923

Abstract

ABSTRACT Through accident analysis, we can design effective measures to prevent accidents. Therefore, this study aims to analyze occupational accidents in coal mining workers. This study adopted a literature study approach, in which the data search process was carried out systematically referring to the PRISMA guidelines. Information retrieval encompasses not only the use of keywords but also Boolean operators in order to enhance the results of the search: “coal” AND “mining” AND “workers” AND “workplace accident”, Inclusion criteria of the articles were those published between the years 2019 to 2024. This study identified that the risk of accidents in coal mining is mainly caused by physical hazards such as roof collapse, fire, and gas explosion, as well as exposure to hazardous chemicals. In addition, human factors such as lack of safety awareness and weaknesses in management systems also contribute significantly to the high accident rate. The results show that the risk of accidents in coal mining is caused by physical hazards such as roof collapse, fire, gas explosion and chemical hazards such as toxic gases as well as human factors. These findings therefore underline the need for comprehensive measures that would improve occupational safety in coal mines. This will include improved safety management systems, more awareness of the workers themselves, and better regulation of physical hazards. These measures consequently offer protection not only to the employees but also present tokens of the organization towards being socially and ecologically responsible. Keywords: Coal, Mining, Workers, Workplace Accidents.
Pengaruh Pemberian Intervensi Pernafasan Purshed Lip Breathing pada Pasien PPOK di Ruang Kelas 3 RS Bhayangkara Bandar Lampung Sasmita, Febri; Susanto, Giri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i2.20276

Abstract

ABSTRACT The number of people with COPD in Indonesia is 4.8 million with a prevalence of 5.6%, this number will continue to increase along with the growth of smokers and poor air quality in the Indonesian region. COPD is a narrowing or blockage of the airway that causes limited airflow to the lungs. Problems often experienced by patients with COPD are coughing up phlegm and shortness of breath. Pursed lips breathing exercise is an effective breathing control exercise program that is applied to regulate and improve breath frequency patterns, improve oxygenation fulfilment. The writing of this scientific work aims to carry out nursing care for COPD patients with pursed lip breathing interventions in Classroom 3 of Bhayangkara Police Hospital Lampung. Methods of writing In this scientific paper the author uses a nursing care approach that focuses on nursing actions, the nursing action chosen is the provision of pursed lip breathing therapy in COPD patients. Nursing care focused on nursing actions was carried out in October 2024 at Bayangkara Police Hospital Lampung. Data collection using informed consent physical examination tools and KMB assessment format, and ethical principles in making this scientific paper is the principle of nursing ethics. The evaluation results obtained were that the nursing problems that arose on the subject of ineffective airway care showed improvement. The results of the patient showed improvement with shortness and coughing phlegm reduced and from the results of SPO2 90% to SPO2 97% while patient 2 showed improvement in shortness and coughing phlegm from the results of spo2 92% to SPO2 99%. It can be concluded that there is an increase in SPO2 in COPD patients after being given pursed lip breathing therapy. Keywords: PPOK, Pursed Lip Breathing.  ABSTRAK PPOK merupakan penyempitan atau penyumbatan jalan napas dan  Masalah yang sering dialami pasien adalah batuk berdahak dan sesak nafas. Salah satu cara menanganinya dengan Latihan pernapasan pursed lips breathing yang efektif diterapkan untuk mengatur dan memperbaiki pola frekuensi napas, meningkatkan pemenuhan oksigenasi.Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk Melakukan Asuhan Keperawatan Pada Pasien  PPOK dengan intervensi pursed lip breathing di Ruang Kelas 3 RS Bhayangkara Polda Lampung. Metode yang digunakan berupa Deskriptif dengan pendekatan studi kasus mengenai penerapan pursed lip breathing Pada Pasien  PPOK. Populasi dalam studi kasus ini adalah pasien PPOK sebanyak 2 pasien. Kegiatan studi kasus ini dilaksanakan pada Oktober 2024. Intervensi yang diberikan adalah pursed lip breathing. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan menggunakan lembar observasi pemeriksaan kapasitas fungsional paru, format pengkajian dan alat pengukur saturasi oksigen (oxymetri). Hasil evaluasi yang diperoleh yaitu masalah keperawatan yang muncul pada subyek asuhan bersihan jalan napas tidak efektif  menunjukkan perbaikan. Dengan hasil pasien menunjukkan perbaikan dengan sesak dan batuk berdahak berkurang dan dari hasil SPO2 90% ke SPO2 97% sedangkan pada pasien 2 menunjukkan perbaikan sesak dan batuk berdahak dari hasil spo2 92% ke SPO2 99%. Dapat disimpulkan terdapat peningkatan SPO2 pada pasien PPOK setelah diberikan terapi pursed lip breathing. Kata Kunci: PPOK, Pursed Lip Breathing
Hydrogel Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum Burmanni) sebagai Terapi Alternatif dalam Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Postpartum: Pengaruh terhadap Kadar Il-6 Putri, Feby Septania; Sunarjo, Lanny; Suwondo, Ari
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i3.21218

Abstract

ABSTRACT Postpartum mothers often face various problems in the healing process of perineal wounds such as prolonged pain, swelling and slowing of the healing process. Researchers innovate in minimizing perineal wound infection and increasing the acceleration of wound healing by providing cinnamon extract Hydrogel as one of the non-pharmacological therapies containing active compounds such as flavonoids, tannins and alkaloids that have antibacterial properties. Analyze the effectiveness of cinnamon extract hydrogel (cinnamomum burmannii) on healing second degree perineal wounds in postpartum mothers. Quasy experimental study with pretest-posttest control group design, consisting of 2 groups. The population was all postpartum mothers at the Eka Setyowati Midwife Practice, S.Tr.Keb, Sendangmulya Village, Tembalang District, Semarang, Central Java with a sample size of 18 respondents in each group. The intervention was given cinnamon extract hydrogel (cinnamomum burmannii) for 7 days. Bivariate analysis using Friedman and Wilcoxon. Cinnamon extract hydrogel (cinnamomum burmannii) is effective in healing perineal wounds in postpartum mothers based on REEDA category (P=0.013), and Cinnamon extract hydrogel (cinnamomum burmannii) is effective in healing perineal wounds in postpartum mothers based on Interleukin-6 level measurement (P=0.004). Cinnamon extract hydrogel has been proven as an intervention that can be used to accelerate the healing of second degree perineal wounds in postpartum mothers. Keywords: Cinnamon Extract, Hydrogel, Perineal Wound, Postpartum.  ABSTRAK Ibu postpartum sering menghadapi berbagai masalah dalam proses penyembuhan luka perineum seperti nyeri berkepanjangan, pembengkakan dan perlambatan proses penyembuhan. Peneliti berinovasi dalam meminimalisir infeksi luka perineum dan meningkatkan percepatan penyembuhan luka dengan memberikan Hydrogel ekstrak kayu manis sebagai salah satu terapi non farmakologis yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tannin dan alkaloida yang memiliki sifat antibakteri. Menganalisis efektivitas hydrogel ekstrak kayu manis (cinnamomum burmannii) terhadap penyembuhan luka perineum derajat dua ibu postpartum. Penelitian Quasy experimental denganpretest-postest control group design, terdiri dari 2 kelompok. Populasi adalah seluruh ibu postpartum dengan robekan derajat dua di Praktik Bidan Eka Setyowati, S.Tr.Keb, Kelurahan Sendangmulya Kecamatan Tembalang, Semarang Jawa Tengah dengan jumlah sampel 18 responden setiap kelompok. Intervensi diberikan hydrogel ekstrak kayu manis (cinnamomum burmannii) selama 7 hari. Analisis Bivariate mengunakan Friedman dan Wilcoxon. Hydrogel ekstrak kayu manis (cinnamomum burmannii) efektif terhadap penyembuhan luka perineum ibu postpartum berdasarkan kategori REEDA (P=0.013), dan Hydrogel ekstrak kayu manis (cinnamomum burmannii) efektif terhadap penyembuhan luka perineum ibu postpartum berdasarkan pengukuran kadar Interleukin-6 (P=0.004). Hydrogel ekstrak kayu manis terbukti sebagai intervensi yang dapat digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka perinium derajat dua ibu postpartum. Kata Kunci: Ekstrak Kayu Manis, Hydrogel, Luka Perineum, Postpartum.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue